BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal Volume 2 Nomor 1. January 2023 E-ISSN: 2807-7857. P-ISSN: 2807-9078 Kemampuan Bercerita Anak Usia 5 Tahun (Aspek Semantik: Kajian Psikolinguisti. Khairun Nisyah1*. Helvika Desmilianti2. Susilo3 1,2,3 Universitas Mulawarman Received: January 8th, 2023. Revised: January 13th, 2023. Accepted: January 14th, 2023. Published: January 15th, 2023 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan bercerita pada anak berusia 5 tahun pada aspek struktur kalimat yang diujarkan anak dilihat dari kajian psikolinguistik. Anak Indonesia pada umumnya mendapat pendidikan formal pada usia 6 tahun. Maka antara umur 0 sampai 5 tahun anak lebih banyak berinteraksi dengan keluarga dan lingkungan sekitar. Pada saat itu pula proses pemerolehan Bahasa Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah rekaman suara anak berusia 5 tahun bernama Zubair. Teknik pengambilan data dilakukan dengan cara dialog atau wawancara untuk mengetahui kemampuan bercerita pada anak tersebut. Dalam hal ini, data yang diperolah adalah hasil rekaman yang ditranskrip untuk mendapatkan catatan tertulis dari subjek. Teknik analisis data yang digunakan yaitu melalui tiga alur tahapan yaitu reduksi data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak bernama Zubair memiliki kemampuan bercerita cukup baik. Terlihat dari pola kalimat yang utuh digunakan penutur. Dari aspek semantik, yang pertama Zubair mengalami tahap medan sematik. Dimana anak mampu mengelompokkan kata sesuai dengan medan semantik tersebut. Aspek kedua yang dialami Zubair yaitu tahap penyempitan makna, dimana tahap ini terjadi karena hasil dari pemikiran kritis seorang anak/manusia dalam bertutur. Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan dan stimulasi yang diberikan orang tua untuk meningkatkan kemampuan berbahasa pada anak tersebut, dimana orang tua sering membacakan buku cerita kepada anak sejak anak masih bayi. Kata kunci: kemampuan bercerita, anak berusia 5 tahun, semantik, psikolinguistik Abstract This study aimed to determine the storytelling ability of a 5-year-old kid in the aspect of sentence structure that the child uttered from a psycholinguistic study. Indonesian kids generally receive formal education at the age of 6, so between the ages of 0 to 5, they interact more with their families and the surrounding environment. At that time the language acquisition process occurs. The research approach used was qualitative. The data source used in this study was a voice recording of a 5-year-old kid named Zubair. Data collection techniques involved dialogue or interviews in determining the kid's storytelling In this case, the data resulted from transcribed recordings to obtain written notes from the subject. Data analysis used three stages: data reduction, data display, and conclusion drawing. The study results show that a kid named Zubair has a fairly good storytelling ability. It can be seen from the complete sentence pattern used. From the semantic aspect. Zubair first experienced the semantic field stage when kids are able to group words according to the semantic field. The second aspect experienced by Zubair is the stage of narrowing meaning, which occurs because of the results of a child/human's critical thinking in speaking. This is influenced by the environment and stimulation provided by parents to improve language skills in these kids, in which parents often read story books to children since the child was a baby. Keywords: storytelling ability, a 5-year-old kid, sematic, psycholinguistic Copyright . 2023 Khairun Nisyah. Helvika Desmilianti. Susilo * Correspondence Address: Email Address: khairunnisya42@yahoo. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 1. January 2023 Khairun Nisyah. Helvika Desmilianti, & Susilo Pendahuluan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengatakan bahwa bahasa adalah lambang bunyi bersifat manasuka yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi dan Menurut Yanti . bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam menguasai bahasa. Proses kemampuan berbahasa setiap orang terjadi secara Dalam hal ini dikenal dua istilah, yaitu pemerolehan bahasa dan pembelajaran Sahril Nfn . juga mengatakan dalam penelitiannya bahwa pemerolehan bahasa biasanya tidak sadar bahwa mereka sedang belajar bahasa, tetapi hanya sadar bahwa mereka menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Bahasa yang digunakan manusia merupakan ciri pembeda dari makhluk lain ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. Bahasa menjadi pondasi bagi manusia dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial. Seorang anak dapat memperoleh bahasa, yaitu bahasa pertama dan bahasa kedua. pemerolehan bahasa pertama seorang anak dimulai dengan bahasa yang sederhana hingga bentuk bahasa yang lebih kompleks. Pemerolehan bahasa seorang anak sesuai dengan perkembangan biologisnya. Terutama yang berkaitan dengan pengucapan, hal ini yang menjadi dasar perbedaan kemampuan berbahasa anak meskipun usianya sama. Mudopar . juga mengatakan hal yang sama bahwa pemerolehan kompetensi dan proses performansi terjadi perlahan seiring perkembangan diri dan perkembangan sosial seorang Anak-anak memiliki perbedaan dengan orang dewasa dalam hal menggunakan Dimulai dengan menyusun kosakata kemudian menjadi kata itu sendiri. Seiring dengan bertambahnya usia maka bahasa pada anak akan ikut berkembang. Namun, perkembangan yang luar bisa terjadi pada anak usia dini dari usia 0-9 tahun. Oleh karena itu, stimulus positif yang selalu dilakukan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya (Aprilia, 2. Krashen dalam Setiyadi dan Salim (Salim, 2. mengatakan bahwa akuisi adalah proses yang disadari sepenuhnya oleh seseorang, identik dengan proses yang dilalui anakanak dalam mempelajari bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa dapat dilihat dari banyak sudut pandang yakni dari segi fonologi, sintaksis dan semantik. Kemampuan Berbahasa anak-anak usia 4-5 tahun pada umumnya mulai menggunakan kalimat yang tersusun dengan baik sesuai aturan tata bahasa. Anak usia 4-5 tahun diharapkan mampu mengungkapkan berbagai hal Kata 7-10 kata dan dapat menggabungkan 4-5 kata menjadi kalimat, dapat mereproduksi dengan benar baik urutan kata maupun pengucapan kata atau kalimat (Atik, 2. Cruttenden. Reich, dan Clark dalam Purwanto . mengatakan bahwa makna kata dalam semantik dapat disimpulkan menjadi empat bagian, yaitu . Tahap Penyempitan Makna Kata yaitu penyempitan kata disebut juga spesialisasi, karena terjadinya perubahan arti, maknanya adalah dulu memiliki arti banyak berubah menjadi penyempitan makna. Tahap Perluasan Berlebihan atau Generalisasi Berlebihan yaitu terjadinya pergeseran makna dari yang lebih sempit/khusus pada makna yang lebih luas/ umum. Tahap Medan Semantik yaitu pada tahap ini anak mulai mengelompokkan kata pada medan semantic. Tahap Generalisasi yaitu pernyataan atau ide umum yang diterapkan pada sekelompok orang atau benda (Purwanto, 2. Berdasarkan observasi awal menunjukkan bahwa anak yang bernama Zubair dapat dengan cepat menangkap stimulus bahasa dari lingkungannya, baik dengan lawan bicara maupun lewat media. Hal ini didukung oleh latar belakang orang tua Zubair yang selalu berusaha menggunakan tuturan yang baik, sehingga Zubair berbicara sehari-hari menggunakan bahasa ibu yang baik pula. Sejalan dengan hasil penelitian Anggraini . menyatakan bahwa pola asuh yang dilakukan orang tua dalam lingkungan keluarga BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 1. January 2023 Kemampuan Bercerita Anak Usia 5 Tahun (Aspek Semantik: Kajian Psikolinguisti. memberikan dampak positif terhadap tumbuh kembang bahasa pada anak. Zubair juga sering berinteraksi sosial dengan lingkungan seperti teman-teman bermainnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa bagaimana kemampuan bercerita anak pada umur 5 tahun. Hal yang menjadi pembeda penelitian ini dengan penelitian lain adalah penelitian ini berfokus pada aspek semantik dengan menggunakan kajian Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis. secara teori bermanfaat untuk menambah informasi tentang penguasaan bahasa ibu seorang anak khususnya bercerita. Studi ini juga dapat bermanfaat bagi orang tua untuk memahami apa yang dikatakan anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga diharapkan komunikasi akan terjalin dengan baik antara orang tua dan anak yang berpengaruh terhadap aspek psikologis anak pada saat berinteraksi. Tinjauan Pustaka Tarigan mengatakan bahwa berbicara merupakan kemampuan mengucapkan artikulasi atau kata-kata untuk mengeekspresikan serta menyampaikan perasaan, pikiran, dan gagasan (Gea, 2. Sedangan kemampuan menjawab pertanyaan kongkrit merupakan kemampuan seorang anak dalam menjawab pertanyaan dan setiap jawaban yang diucapkan merupakan susunan kata yang terdiri dari subjek-predikat-objek-pelengkap (Yuliani, 2. Hurlock mengatakan bahwa anak usia dini menggunakan 4-5 kata dalam kalimat negatif, tanya, dan perintah. Mereka sering mengulang kosakata unik walau mereka belum memahami maknanya (Putri, 2. Ketika seorang anak mulai berbicara, secara langsung mereka juga mengembangkan pengetahuan tentang semantik. Parera mengatakan bahwa semantic adalah analisis tentang makna-makna linguistic, dengan kata lain semantik merupakan ilmu yang mempelajari makna dalam bahasa (Tuti et al. , 2. Menurut Santrock perkembangan Bahasa anak usia dini meliputi: . memahami fonologi dan morfologi, . perkembangan sintaksis dan semantik, dan . perkembangan pragmatic. Seiring dengan bertambahnya usia, anak akan semakin bisa berbicara dengan tepat (Mulyaningtyas, 2. Metode Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan penelitian kualitatif merupakan penelitian yang prosesnya dilakukan dengan setting atau aturan tertentu dalam kehidupan nyaman . untuk mempelajari dan memahami suatu kejadian (Fadli, 2. Sumber data penelitian ini adalah rekaman suara anak berusia 5 tahun bernama Zubair. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara yaitu peneliti langsung melakukan dialog dengan pengguna bahasa sebagai informan dengan bersumber pada pancingan yang sudah disiapkan . erupa daftar pertanyaa. atau secara spontan. Dalam hal ini, peneliti mencoba melakukan dialog dengan anak tersebut guna mendapatkan jawaban dari cerita anak tersebut dari beberapa pertanyaan yang sudah Setelah pertanyaan diajukan, kemudian direkam menggunakan aplikasi perekam suara untuk mendapatkan jawaban dari anak. Kemudian teknik catat merupakan tahapan berikutnya yang dilakukan saat menerapkan metode simak yaitu dengan mencatat data yang diperoleh. Dalam hal ini, data yang diperolah adalah hasil rekaman yang ditranskrip untuk mendapatkan catatan tertulis dari subjek. Misalnya tuturan anak saat menyanyikan lagu berbahasa asing yang terdapat dalam data rekaman. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis Miles dan Huberman bahwa terdiri dari tiga tahap kegiatan yang terjadi saat penelitain berlangsung yaitu kondensasi data, penyajian data, dan kesimpulan dari data yang ditemukan (Miles et BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 1. January 2023 Khairun Nisyah. Helvika Desmilianti, & Susilo , 2. Dalam hal ini, peneliti secara objektif mengumpulkan data penelitian berupa Reduksi data mengacu pada proses pemilihan yang berfokus pada penyederhanaan, abstraksi, dan transformasi data "mentah" dalam catatan lapangan tertulis. Pengurangan data berlanjut sepanjang proyek kualitatif hingga laporan dihasilkan. Proses terpenting kedua dari analisis data adalah penyajian data. Selanjutnya yang terakhir pada analisis data ini adalah penarikan kesimpulan, kesimpulannya bisa berupa penjelasan atau gambaran suatu objek yang sebelum tidak jelas menjadi jelas (Wandi, 2. Pada penelitian ini, penulis menggunakan objek penelitian anak berusia 5 tahun bernama Zubair. Anak tersebut merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan bapak dan ibu yang aktif di bidang pendidikan. Hal ini membuat Zubair memiliki kebiasankebiasan baik yang menjadi salah satu aspek mengapa anak tersebut memiliki kemampuan bercerita yang baik. Salah satu stimulus yang diberikan orang tua adalah selalu membacakan buku sejak usia dini dan berbicara dengan anak menggunakan bahasa selayaknya sedang berbicara dengan orang dewasa. Hasil dan Pembahasan Dari pengumpulan data yang dilakukan pada anak umur 5 tahun yang bernama Zubair, dengan menggunakan berbagai metode dan teknik pengumpulan data yang telah dijabarkan sebelumnya. Ditemukan bahwa anak Bernama Zubair memiliki kemampuan bercerita cukup baik berdasarkan hasil kumpulan data berupa rekaman. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya anak usis 4-5 tahun telah mampu menggunakan kalimat sesuai dengan aturan tata bahasa. Sejalan dengan Hurlock yang mengatakan bahwa pada usia ini anak mampu mengucapkan 4-5 kata dalam satu kalimat yang berbentuk kalimat negatif (Putri, 2. DATA 1 Umi: Zubair senang? Zubair: ya umi. Zubair senang berenang dikolam. Ini Zubair dapat ikan banyak umi. Data lain yang memiliki kesamaan pada rekaman 1 Umi: adek Zubair, tolong bantu umi jagain adek asma ya Zubair: Zubair bukan adek umi, tapi abang karena adek asma sudah lahir jadi sekarang Zubair jadi abang bukan adek lagi. Zubair umurnya sudah 5 tahun jadi dipanggil abang bukan adek. Umi bagaimana sih, kok lupa. Bahasa yang diujarkan Zubair cukup baik. Zubair merespon pertanyaan uminya dengan baik, dapat diartikan bahwa anak memahami kalimat tanya diberikan. Anak bahkan memberikan jawaban lebih lanjut terkait pertanyaan dengan mengatakan bahwa dia mendapatkan ikan saat berenang. Putri . mengatakan dalam penelitiannya bahwa anak berusia 5-6 tahun dapat berkomunikasi/bercerita secara lisan, mencerikan pengalaman/kejadian yang dialami secara sederhana. Data kedua sama halnya dengan yang pertama, dimana Zubair memahami dengan baik pertanyan umi dan mampu menjelaskan mengapa ia tidak lagi dipanggil adik. Yuliani . mengatakan bahwa jika anak mampu menjawab pertanyaan dengan benar, berani untuk mengungkapkan pikirannya. Maka dapat disimpulkan bahwa anak memahami dan menguasai materi yang ditanyakan. BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 1. January 2023 Kemampuan Bercerita Anak Usia 5 Tahun (Aspek Semantik: Kajian Psikolinguisti. DATA 2 Berikut adalah data saat Zubair menyanyikan lagu berbahasa arab. Zubair: ya man sholaita hayata bikullin ambiyat. Ya man fii qolbika rohmatun linnas . ahai engkau yang menjadi imam semua nabi dalam sholat. Wahai engkau yang hatinya berisi rahmat untuk semua manusi. Ameh: zubair hafal lagu itu? Zubair: iya, zubair lihat youtube ameh. Terdapat data yang sama pada rekaman 1 saat anak bernyanyi menggunakan Bahasa asing yaitu bahaa inggris. Zubair: look around your self, canAot you see this wonder, spread in front of you . ihat sekitarmu, tak bisakah kau lihat keheranan ini, tersebar didepanm. Umi: Terus habis itu apa lagi lanjutannya nak? Zubair: the clouds floating by, the sky so clear and blue . wan mengembang berlalu, langit yang jelas dan bir. Umi: wah bener. Zubair pinter Berdasarkan data di atas, anak berbicara dalam Bahasa Arab dan Bahasa Inggris dalam bentuk lagu. Meskipun anak menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa ibu, tetapi apa yang didengar anak itulah yang ia tiru. Di sini sang anak sering menirukan nyayian yang dilihatnya dari youtube. Meski anak belum mengerti cara membaca namun tuturannya sangat jelas. Hal ini terjadi karena adanya proses anak menyimak dan meniru hal-hal yang ia dengar dan lihat. Anak juga menjawab pertanyaan dengan baik dan memberikan penjelasan bahwa anak sering mendengarkan lagu tersebut dari aplikasi Kemampuan meniru ini sejalan dengan teori Piaget, bahwa segala sesuatu di dunia ini melalui tindakan dan perilaku dan setelah itu melalui bahasa. Perilaku kanak-kanak merupakan manipulasi dunia pada satu waktu dan tempat tertentu dan bahas merupakan alat untuk memberikan kemampuan kanak-kanak untuk menuju arah yang lebih jauh dari waktu dan tempat tertentu (Nuryati & Darsinah, 2. DATA 3 Ameh: zubair tau ga ciri-ciri kucing? Zubair: ada bulunya ameh, suaranya meong-mengong, ada ekornya juga Ameh: kalau kodokpunya ekor ga Zubair Zubair: ga ada ameh, kodok ga punya ekor tapi kodok jalannya lompat-lompat ameh Pada percakapan di atas, anak sedang mengalami fase pemerolehan medan semantik. Pada tahap ini, anak mulai mengelompokkan kata mengacu pada bidang semantik. Nafinuddin . mengatakan bahwa fase ini berlangsung dari usia dua setengah sampai lima tahun. Pada tahap ini, anak-anak mulai mengelompokkan kata-kata terkait ke dalam bidang semantik. Pada percakapan di atas ketika ameh . menanyakan tentang Anak sudah mengetahui ciri-ciri kucing memiliki ekor dan suara meong-meong, begitupun dengan kodok anak juga mampu menyebutkan ciri-cirinya yang memiliki perbedaan dengan kucing. Percakapan lainnya disaat anak mengelompokkan kata juga yang terdapat pada rekaman 1. Umi: Zubair, kucing itu melahirkan atau bertelur Zubair: melahirkan umi, kalau yang bertelur itu ada ayam, terus bebek, terus semut juga bertelurkan umi? BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanity Journal. Volume 2 Nomor 1. January 2023 Khairun Nisyah. Helvika Desmilianti, & Susilo Umi: iya bener, semut juga salah satu hewan yang bertelur Pada percakapan di atas anak juga mampu mengelompokkan kata nama-nana hewan yang bertelur dan hewan yang melahirkan. DATA 4 Umi: wah. Zubair pakai baju loreng-loreng mirip dengan baju dokter ya? Zubair: bukan umi. Zubair loh ini jadi tentara Umi: bukan yang biasa ada di rumah sakit? Zubair: bukan umi, loreng-loreng itu bajunya tentara loh Tahap pemerolehan semantic yang terdapat pada percakapan di atas adalah tahap penyempitan makna, disaat umi menyebutkan baju loreng adalah bajunya dokter, tetapi Zubair mengatakan bahwa loreng itu bajunya tantara. Ardiansyah . menjelaskan bahwa penyempitan makna merupakan gejala linguistik yang dilandasi pemikiran kritis dan perubahan cara berpikir masyarakat bahasa pada umumnya. Simpulan Berdasarkan pembahasan diatas peneliti menyimpulkan bahwa kemampuan bercerita pada anak bernama Zubair memiliki kemampuan bercerita yang baik. Terlihat pola kalimat yang digunakan penutur. Zubair menggunakan kalimat yang memiliki pola yang utuh. Zubair mampu memberikan respon yang baik terhadap setiap pertanyaan yang diberikan. Dari aspek semantik, yang pertama Zubair mengalami tahap medan sematik. Dimana anak mampu mengelompokkan kata sesuai dengan medan semantik tersebut. Aspek kedua yang dialami Zubair yaitu tahap penyempitan makna, dimana tahap ini terjadi karena hasil dari pemikiran kritis seorang anak/manusia dalam bertutur. Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoritis dan praktis. Secara teori bermanfaat untuk menambah informasi tentang penguasaan bahasa ibu seorang anak khususnya bercerita. Studi ini juga dapat bermanfaat bagi orang tua untuk memahami apa yang dikatakan anak-anak mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga diharapkan komunikasi akan terjalin dengan baik antara orang tua dan anak. Hal tersebut tentu akan berpengaruh pada aspek psikologis anak yang akan menjadi lebih baik dalam berinteraksi. Pada penelitian ini memiliki keterbatasan obyek penelitian yang hanya menggunakan satu anak saja semoga kedepannya para peneliti bisa mengembangkan penelitian serupa dengan obyek yang lebih banyak atau kajian yang lebih luas lagi. Referensi