JURNAL SKRIPSI UJI LENTUR BALOK BETON BERTULANG BENTANG 60 CM DENGAN BAHAN SPLIT PALU DAN PASIR MAHAKAM AuDisusun sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Strata Satu (S. Ay Diajukan oleh : Erwinsyah Usman JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945 SAMARINDA SAMARINDA RANCANGAN BETON NORMAL DAN BETON SERAT ROVING DENGAN PASIR TANAH MERAH SERTA BATU PECAH KUTAI BARAT Erwinsyah Usman . Purwanto Sularno. ST. MT . Syahrul. ST. Eng . Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda TEST OF FLEXIBLE BEAMS REINFORCED CONCRETE LANDSCAPE 60 CM SPLIT WITH HAMMER AND SAND MAHAKAM ABSTRACT Final Faculty of Civil Engineering Department of the University of August 17, 1945 Samarinda. Normal concrete is concrete beams that have a weight of 2200 - 2500 kg / m3 using natural aggregates were broken or without broken. Concrete Beams Using a mixture of concrete reinforcement steel reinforcement plus series ,. The reinforcement in the concrete prevents cracks making the concrete more ductile than ordinary concrete. The purpose of this study to determine the comparative value of the resulting flexural strength of normal concrete beams and concrete beams using reinforcement using coarse aggregate EX. Palu and fine aggregate from Samarinda Mahakam river. This study using the test method (Indonesian National Standar. SNI 4431: 2011 were performed in the laboratory using a maximum size of coarse aggregate is 30 mm. The sample used for normal concrete beams and concrete beams using reinforcing each using 18 samples and the total number of samples is 36 samples. From the test results of concrete beam flexural strength of normal at 28 days average value of flexural strength . 'c. 556 Kg / cmA or 4. 356 MPa. Flexural strength testing using a reinforced concrete beam at 28 days the value of the average flexural strength . 'c. 000 kg / cm2 or 9. 200 MPa. Keywords: Concrete Beams Concrete Beams Using Normal and Reinforcement. Karya Siswa Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Dosen Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. Dosen Jurusan Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda. PENGANTAR Beton merupakan bahan kontruksi yang sangat penting. Contohnya seperti beton bertulang banyak digunakan hampir diseluruh lini pembangunan seperti bangunan, jembatan, perkerasan jalan, bendungan, trowongan, dan sebagainya. Batu pecah merupakan agregat kasar yag diperoleh dari batu alam yang dipecah, dan batu pecah yang digunaakan dalam penelitan ini berasal dari Kota Palu. Letak geografis Kota Palu yaitu 02A 22Ao 00" Lintang Utara - 04A 48Ao 00" Lintang Selatan, 119A 22Ao 00" - 124A 22Ao00" Bujur Timur. (Sumber : org/wiki/Kota_Pal. Pasir merupakan material yang sangat penting dalam campuran beton karena sifatnya pengikat, umumnya ukuran pasir antara 0,0625 Ae 2 mm. (Sumber : Wikipedia, 2. Dan dalam penelitian ini saya menggunakan pasir dari sungai Mahakam Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur. Letak geografis Kota Samarinda 0A21'81"Ae1A09'16" Lintang Selatan dan 116A15'16"Ae117A24'16" Bujur Timur. (Sumber : map-bms. org/wiki/Kota_Samarind. Banyak metode yang bisa digunakan dalam perhitungan perancangan beton namun penelitian ini penulisan menggunakan metode sesuai Standar Nasional Indonesia yaitu SNI 4431:2011. Standar Nasional Indonesia ini adalah metode yang saat ini digunakan di Indonesia. Berdasarkan latar belakang di atas, maka akan difokuskan pada proporsi campuran beton dengan split palu dan pasir mahakam, berapa nilai kuat lentur pada beton balok normal dan beton balok memakai tulangan, dan bagaimana perilaku beton balok normal dan beton balok memakai tulangan. Adapun maksud dan tujuan dalam penelitian ini adalah Untuk mengetahui proporsi campuran beton yang menggunakan split palu dengan campuran pasir mahakam. Untuk mengetahui nilai kuat lentur pada beton balok normal dan beton balok memakai tulangan, dan Untuk Mengetahui perilaku beton balok normal dan beton balok memakai tulangan Untuk membatasi luasnya ruang lingkp pembahasan dalam suatu penelitian, maka dalam penelitian ini lebih mengacu pada metode pencampuran 1:2:3 dan metode pengujian mengacu pada SNI 4431 : 2011. CARA PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Lokasi penelitian berada di Laboratorium Beton PT. DAYA BETON MANDIRI, dan pengumpulan data juga diperoleh dari hasil pengujian dan penelitian di laboratoriun tersebut. menggunakan 36 benda uji bentuk balok 60 cm y 15 cm y 15 cm. Spesifikasi agregat diperoleh dari hasil pengujian di laboratorium, kemudian dilakukan penyusunan mix design untuk pembuatan benda uji, kemudian dari benda uji diperoleh kuat lentur. Dari hasil pengujian laboratorium telah diperoleh spesifikasi agregat kasar dan agregat halus seperti disajikan dalam table-tabel berikut ini : Tabel 1 Hasil pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat kasar Uraian Berat sampel Berat sampel SSD Berat gelas air A Berat gelas air Penyerapan (Absorptio. Specific Gravity (SSD) Rata-rata Penyerapan B gram A gram C gram = D gram = (A-B) : B x 100 Berat jenis (G. = A : (D A-C) Tabel 2 Hasil pengujian kadar lumpur agregat kasar Uraian Berat sampel kering . A gram Berat sampel kering . B gram Kadar lumpur dan lempung (A-B) : A x 100 % Kadar lumpur dan lempung Rata-rata (%) Tabel 3 Hasil analisa saringan agregat kasar Berat bahan kering : Jumlah Berat Jumlah Persen Berat Tertahan Tertahan Tertahan Lewat Saringan 37,5 ( 1 1/2" ) 9,52 ( 3/8" ) No. ,75 m. No. ,36 m. No. ,18 m. No. ,6 m. No. ,3 m. No. ,15 m. No. ,075 Pan Berat Butir yang Lewat Ayakan (%) Lubang Ayakan . SNI 03 - 1968 - 1990 50,8 ( 2" ) 19,1 . /4") Spesifikasi Agregat lewat Ayakan Gambar 1 Grafik analisa saringan agregat kasar Berat Butir yang Lewat Ayakan (%) Lubang Ayakan . Batas Agregat Kasar 40 mm Batas Agregat Kasar 40 mm Agregat Kasar 20 mm Gambar 2 Batas gradasi agregat kasar 40 mm dan agregat 20 mm Tabel 4 Hasil pemeriksaan berat isi agregat kasar Lepas Uraian Batu Pecah Kutai Barat Berat silinder sampel A gram Berat silinder air B gram Berat silinder kosong C gram Berat isi rata-rata (A-C) / (B-C) gr/cmA Berat isi rata-rata Tabel 5 Hasil pengujian abrasi agregat kasar Gradasi Saringan Lewat 76,2 mm ( 3" ) 63,5 mm ( 2 1/2" ) 50,8 mm ( 2" ) 37, 5 mm ( 1 1/2" ) 25,4 mm ( 1" ) 19,1 mm ( 3/4" ) 12,7 mm ( 1/2" ) 9,52 mm ( 3/8" ) 6,35 mm ( No. 4,76 mm ( No. Jumlah Berat Berat tertahan saringan no. Tertahan 63,5 mm ( 2 1/2" ) 50,8 mm ( 2" ) 37,5 mm ( 1 1/2" ) 25,4 mm ( 1" ) 19,1 mm ( 3/4" ) 12,7 mm ( 1/2" ) 9,52 mm ( 3/8" ) 6,35 mm ( No. 4,76 mm ( No. 2,38 mm ( No. (A) (B) Berat sebelum . Berat sesudah Keausan I. A-B Keausan I A-B x 100 % = 19. Tabel 7 Hasil pengujian analisa saringan agregat halus Berat bahan kering : 1500 Gr Saringan Jumlah Berat Tertahan Berat Tertahan Jumlah Persen Tertahan Lewat Spesifikasi SNI 03 - 1968 - 1990 No. ,18 m. No. ,6 m. No. ,3 m. No. ,15 m. No. ,075 m. 50,8 ( 2" ) 37,5 ( 1 1/2" ) 25,4 . ") 19,1 . /4") 9,52 ( 3/8" ) No. ,75 m. No. ,36 m. Pan Berat Butir Yang Lewat Ayakan (%) AgregaA Lubang Ayakan . Gambar 3 Grafik hasil pengujian analisa saringan agregat halus Berat Butir Yang Lewat Ayakan (%) Batas Pasir Sangat Batas Pasir Sangat Kasar Batas Pasir Kasar Batas Pasir Kasar Batas Pasir Halus Lubang Ayakan . Gambar 4 Batas gradasi untuk agregat halus Tabel 8 Hasil pengujian berat jenis dan penyerapan air agregat halus Uraian Penyerapan Berat sampel kering B gram Berat sampel SSD A gram Berat gelas air Berat jenis (G. C gram D gram Penyerapan (Absorptio. (A-B) : B x 100 % Specific Gravity (SSD) A : (D A-C) Rata-rata Dari perhitungan proporsi campuran yang dilakukan dengan menggunakan metode 1:2:3, dari penggunaan agregat kasar EX. palu dan agregat halus pasir mahakam adalah sebagai berikut : Tabel 11 Proporsi campuran beton berdasarkan metode 1:2:3 Jenis Beton Beton Balok No. Bahan Yang Digunakan Beton Balok Normal Menggunakan Tulangan Semen (K. 335 Kg/ m3 335 Kg/ m3 Air (Lite. 168 Kg/ m3 168 Kg/ m3 Agregat Halus (K. 733 Kg/ m3 733 Kg/ m3 Agregat Kasar (K. 1243 Kg/ m3 1243 Kg/ m3 Besi Tulangan 18 buah Kekuatan Lentur Beton yang Diperoleh Nilai kuat lentur beton didapatkan melalui tata cara pengujian standa, menggunakan mesin uji dengan cara memberikan beban tekan bertingkat dengan kecepatan peningkatan beban tertentu atas benda uji balok beton sampai patah Kuat lentur beton balok diperoleh dengan rumus di bawah ini : EI= EI= Keterangan: = kuat lentur dalam MPa = beban maksimum yang mengakibatkan keruntuhan balok uji, dalam newton = jarak . antara dua gari perletakan . = lebar tampang lintang patah arah horizontal . = lebar tampang lintang patah arah vertikal . = jarak rata Ae rata antara tampang lintang patah dan tumpuan luar yang Kuat tekan beton normal pada umur 228 hari Tabel 13 Proporsi campuran beton yang digunakan berdasarkan hasil perhitungan faktor koreksi Jenis Beton No. Bahan Yang Digunakan Beton Balok Normal Beton Balok Menggunakan Tulangan Semen (K. 340 Kg/ m3 340 Kg/ m3 Air (Lite. 165 Kg/ m3 165 Kg/ m3 Agregat Halus (K. 740 Kg/ m3 740 Kg/ m3 Agregat Kasar (K. 1250 Kg/ m3 1250 Kg/ m3 Besi Tulangan 18 buah Tabel 14 Hasil kuat tekan beton yang dicapai Hasil Pengujian No. Pengujian kg/cmA Mpa Beton balok normal 43,556 4,356 Beton balok menggunakn tulangan 92,000 9,200 Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka saran yang dapat diberikan adalah : Perlu ketelitian dalam pemilihan material, menganalisa material, dan perawatan semple sebelum diaplikasikan ke lapangan. Perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan variasi berbandingan ukuran agregat dan kuat tekan rencana yang lebih beragam untuk mengetahui prilaku karekteristik tekan di berbagai usia beton. Hindari penggunaan pasir yang mengandung kadar lumpur terlalu tinggi karena sangat berpengaruh terhadap kekuatan dan mutu beton. Kepada peneliti-peneliti menyempurnakan penelitian ini dan lebih di kembangkan.