Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 Profil Darah Ikan Nila (Oreochromis niloticu. pada Pemberian Pakan dengan Fortifikasi Tepung Rumput Laut Eucheuma cottonii Neni Ismaini1. Salnida Yuniarti Lumbessy1*. Dewi Putri Lestari 1 Program Studi Budidaya Perairan. Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram INFO NASKAH Kata Kunci: Eucheuma cottonii. Fortifikasi Ikan Nila. Profil Darah. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa profil darah ikan nila (O. pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung rumput laut E. Penelitian ini dilaksanakan selama 50 hari di Laboratorium Program Studi Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Unuversitas Mataram. Metode yang digunakan eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga kali ulangan, yaitu P1 . P2 . epung E. cottonii 4%). P3 . epung E. cottonii 8%). P4 . epung E. cottonii 12%). Parameter yang diukur hematokrit, hemoglobin,eritrosit, leukosit, bobot mutlak, panjang mutlak. SR dan kualitas air meliputi suhu. DO, dan Data dianalisa secara statistik pada taraf nyata 5% dengan tingkat kepercayaan 95% menggunakan analisis ANOVA dan dilanjutkan dengan uji DuncanAos Multiple Range. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai hematokrit berkisar antara 10,6713,67%, hemoglobin berkisar antara 5,1-9,1G%, eritrosit berkisar antara 2,2x1069,9 x106 sel/mm. leukosit berkisar antara 11,4 x104-17,6 x104sel/mm, bobot mutlak berkisar antara 16,26 -18,6 g, panjang mutlak berkisar antara 5,08A0,505,91A0,27cm dan kelangsungan hidup (SR) berkisar antara 86,7A11,5593,3A5,77%. Pengukuran kualitas air, suhu 28-28,8 oC. DO 6,8-7,5, dan pH 7,437,99. Penambahan tepung E. cottonii yang berbeda pada pakan ikan nila mempengaruhi kadar hemoglobin, eritrosit, leukosit dan pertumbuhan, namun tidak mempengaruhi kadar hematokrit dan tingkat kelangsungan hidup. Suplementasi tepung E. cottonii hingga konsentrasi 12% pada pakan dapat meningkatkan kadar hemoglobin, eritrosit, dan leukosit sehingga mendukung performa pertumbuhan ikan nila yang lebih baik Jl. Pendidikan No 37. Kota Email:*salnidayuniarti@unram. Mataram. Nusa Tenggara Barat. Blood Profile Of Tilapia (Oreochromis niloticu. On Feeding With Fortification Of Sea Weed Flour Eucheuma cottonii Neni Ismaini1. Salnida Yuniarti Lumbessy1*. Dewi Putri Lestari 1 Aquaculture Study Program. Department of Fisheries and Marine Science. Faculty of Agriculture. University of Mataram ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords Eucheuma cottonii. Fortification. Tilapia. Blood Profile This study aimed to analyze the blood profile of tilapia (O. on fortified feed with E. cottonii seaweed flour. This research was conducted for 50 days at the Laboratory of the Aquaculture Study Program. Faculty of Agriculture. University of Mataram. The method used was Completely Randomized Design (CRD) experiment with four treatments and three replications, namely P1 . P2 (E. cottonii flour 4%). P3 (E. cottonii flour 8%). P4 (E. cottonii flour 12%). The parameters measured were hematocrit, hemoglobin, erythrocytes, leukocytes, absolute weight, absolute length. SR and water quality including temperature. DO, and pH. Statistically analyzed at 5% significance level with 95% confidence level using ANOVA analysis and further test using Duncan's Multiple Range test. The results showed that the hematocrit value ranged from 10. 67%, hemoglobin ranged from 5. 1G%, erythrocytes ranged from 2. 9 x106 cells/mm. leukocytes ranged from 11. 4 x104-17. 6 x104 cells/mm, absolute weight ranged 6 g, absolute length ranged from 5. 08A0. 91A0. 27cm and survival (SR) ranged from 86. 7A11. 3A5. Measurement of water quality, temperature 28-28. 8 oC. DO 6. 5, and pH 7. The addition of different E. cottonii flour to tilapia feed affected hemoglobin, erythrocyte, leukocyte and growth levels, but did not affect hematocrit levels and survival rates. Supplementation of E. cottonii flour to a concentration of 12% in feed can increase Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 hemoglobin, erythrocyte, and leukocyte levels so as to support better growth performance of tilapia Jl. Pendidikan No 37. Kota Mataram. Nusa Tenggara Barat. Email: neniismaini46@gmail. salnidayuniarti@unram. dewiputrilestari@uram. PENDAHULUAN Salah satu faktor penting dalam budidaya ikan nila adalah ketersediaan Pakan merupakan salah satu komponen yang mencapai 60-70% dari total biaya produksi serta menjadi salah satu penentu keberhasilan usaha budidaya, sehingga perlu pengelolaan yang efektif dan efisien. Rumput laut E. memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi . Menurut Kawaroe et al. bahwa E. cottonii mengandung 16,39% air, 14,39% kadar abu, 1,03% lemak, 63,17% karbohidrat 5,33% protein 2,77% lignin, 26,14% total karbonogranik dan 1,13% nitrogen, serta memiliki total asam amino esensial hampir mencapai 50% serta kaya akan asam amino aromatik yaitu treonin dan memiliki asam amino sulfur yang terbatas, yaitu lisin (Lumbessy et al. , 2. Salah satu pemanfaatan rumput laut adalah dapat dijadikan salah satu alternatif bahan baku pakan ikan dalam bentuk tepung rumput laut (Endraswari et , 2021 . Putri et al. , 2021 dan Irmadiati et al. , 2. Rumput laut E. cottonii juga kaya akan karoten, fikobilin, neozantin dan zeantin (Luning, 1. Kandungan senyawa bioaktif pada E. cottonii terdiri dari flavonoid, fenol, hidrokuinon Rumput laut E. cottonii mengandung fenolik 141,00 mg GAE/g dan flavonoid 35,1771 mg QE/g yang dapat digunakan sebagai immunostimulan untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan berupa stress. (Yanuari, 2. Selain itu rumput laut E. cottonii juga mengandung pigmen fikoeritrin yang berpotensi sebagai antioksidan. Hasil penelitian Lumbessy et al . menunjukkan bahwa rumput laut E. cottonii memiliki kandungan fikoeritrin sebesar 42,88 mg/g. Kemampuan immonustimulan suatu bahan pakan dapat dilihat melalui profil darah yang merupakan respon fisiologi pada ikan. Darah merupakan salah satu komponen pada ikan yang dapat digunakan sebagai indikator untuk mengetahui tingkat kesehatan ikan. Sesuai dengan pernyataan Salasia et al, . bahwa gambaran normal darah ikan diperlukan untuk menentukan status kesehatan dan membantu diagnose penyakit pada ikan. Respon stress pada hewan dapat diukur dari perubahan kadar hormone kortisol, glukosa darah, hemoglobin, dan Dalam kondisi stres terjadi perubahan jumlah eritrosit, nilai hematokrit dan kadar hemoglobin, sedangkan jumlah leukosit cenderung meningkat (Royan et ,2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa profil darah ikan nila (O. yang diberikan pakan dengan fortifikasi tepung rumput laut E. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan selama 50 hari dimulai dari bulan AgustusSeptember 2021 di Laboratorium Basah Program studi Budidaya Perairan. Fakultas Pertanian. Universitas Mataram. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 perlakuan dengan 3 pengulangan. Perlakuan yang diujicobakan adalah konsentrasi tepung E. cottonii yang berbeda, terdiri atas: P 1 : 0% (Kontro. P 2 : 4% Tepung E. P 3 : 8% Tepung E. P 4 : 12% Tepung E. PROSEDUR PENELITIAN Persiapan Wadah Pemeliharaan dan Biota Uji Pemeliharaan ikan nila menggunakan wadah berupa container sebanyak 12 buah berkapasitas 40x35x30 cm dengan volume air 20 L dan terlebih dahulu dicuci Biota uji berupa ikan Nila (O, niloticus )sebanyak 120 ekor berukuran Panjang 8-10 cm dan berat 15-17 g/ekor, padat tebar ikan pada masing-masing perlakuan sebanyak 10 ekor/kontainer. Persiapan Pakan Uji Bahan pakan yang telah tersedia dalam bentuk tepung diaduk sesuai takaran yang sebelumnya telah diformulasi (Tabel . Pengadukan dimulai dari sumber bahan dalam jumlah sedikit hingga jumlah besar. Kemudian bahan yang sudah tercampur rata diberi air panas sekitar 200 ml dan diaduk. Selanjutnya bahan yang tercampur rata dikukus selama 20 menit. Pakan yang telah dikukus tersebut kemudian di cetak menggunakan alat penggiling pakan hingga berbentuk pellet. Selanjutnya pakan dijemur dibawah sinar matahari hingga kering Tabel 1. Formulasi Pakan yang digunakan selama penelitian dalam 200 g Pakan . Bahan Pakan Tepung ikan Tepung rumput laut Tepung kedelai Tepung jagung Tepung terigu Minyak ikan Minyak jagung Premix Jumlah Manajemen Pemberian Pakan Selama pemeliharaan, pakan diberikan sebanyak 5% dari biomassa ikan nila pada setiap kontainer. Pemberian pakan dilakukan sebanyak 3 kali sehari yaitu pagi pada pukul 07. 00 dan sore hari pada pukul 17. 00 dan malam hari pada pukul 21. Sampling Pengambilan darah ikan nila dilakukan pada awal dan akhir pemeliharaan. Parameter performa darah yang diamati adalah hematokrit, hemoglobin, eritrosit Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 dan leukosit. Untuk menjaga kualitas air selama penelitian dilakukan penyiponan setiap hari sebanyak 20% dari volume total air. Pengukuran kualitas air dilakukan setiap 10 hari selama 50 hari masa pemeliharaan. Kualitas air yang diukur berupa, derajad keasaman . H), suhu dan oksigen terlarut. Parameter Penelitian Hemoglobin Prosedur perhitungan kadar hemofglobin dilakukan dengan mengacu pada metode Sahli. Pertama, darah sampel dihisap dengan menggunakan pipet Sahli hingga skala 20 mm3 atau pada skala 0,2 ml. Lalu ujung pipet dibersihkan dengan kertas tisu. Kemudian, darah dalam pipet dipindahkan ke dalam tabung Hb-meter yang telah diisi HCl 0,1 N hingga skala 10 . Setelah itu, darah tersebut lalu diaduk dengan batang pengaduk selama 3 hingga 5 menit. Setelah itu, akuades ditambahkan ke dalam tabung tersebut hingga warna darah tersebut menjadi seperti warna larutan standar yang ada dalam Hb-meter. Kadar hemoglobin dinyatakan dalam g% (Hartika et al. , 2. Hematokrit Kadar hematokrit dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut (Hartika et al. , 2. Eritrosit Jumlah eritrosit total dihitung sebanyak 5 kotak kecil dan jumlahnya dihitung menurut rumus sebagai berikut (Insivitawati et al. , 2. Leukosit Jumlah leukosit total dihitung dengan cara menghitung sel yang terdapat dalam 5 kotak kecil, dan jumlahnya dihitung menurut rumus sebagai berikut (Insivitawati et al. , 2. Bobot Mutlak (Bond, 2. Bobot mutlah dihitung dengan rumus sebagai berikut. W = Wt Ae W0 Keterangan: W = Bobot mutlak . Wt = Biomassa akhir . W0 = Biomassa awal . Panjang Mutlak (Bond, 2. Panjang mutlak dihitung dengan rumus sebagai berikut. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 Keterangan: L : Pertumbuhan Mutlak . Lt : Panjang rata-rata ikan diakhir pemeliharaan . Lo : Panjang rata-rata ikan diawal pemeliharaan . : Waktu pemeliharaan . Tingkat Kelangsungan Hidup (Effendi, 2. Tingkat kelangsungan hidup selama penelitian dihitung dengan rumus Keterangan: SR : Tingkat kelangsungan hidup Lt : Jumlah ikan di akhir pemeliharaan . Lo : Jumlah ikan di awal pemeliharaan . Kualitas Air Kualitas air media yang diamati adalah oksigen terlarut (DO), suhu dan derajad keasaman . H). Pengamatan dilakukan setiap 10 hari selama 50 hari Analisis data Data kadar hemoglobin, hematokrit, eritrosit, dan leukosit serta kualitas air dianalisa secara statistik pada taraf nyata 5% dengan tingkat kepercayaan 95% menggunakan analisis ANOVA, dan dilanjutkan dengan uji DuncanAos Multiple Range. HASIL DAN PEMBAHASAN Hemoglobin Rata-rata jumlah hemoglobin ikan nila pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung E. cottonii setelah pemeliharaan 50 hari berkisar antara 5,19,1G% (Gambar . HEMOGLOBIN (G%) 9,1A3,37b 6,8A1,31ab 5,1A0,80a 5,1A0,80a 4,1A1,20a 5,1A1,02a 4,9A2,01a 3,3A0,57a P1 . %) P2 . %) P3 . %) P4 . %) KONSENTRASI TEPUNG E. Gambar 2. Rata-rata Nilai Hemoglobin Ikan Nila (O. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 Gambar 2. menunjukkan bahwa nilai kadar hemoglobin ikan nila yang tertinggi terdapat pada penambahan tepung E. cottonii 8% (P. sebesar 9,1G%, sementara kadar hemoglobin ikan nila yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol (P. dan penambahan tepung E. cottonii 4% (P. dengan nilai yang samasebesar 5,1G%. Hemoglobin merupakan bagian dari eritrosit, dimana fungsi hemoglobin adalah sebagai pengangkut oksigen dan karbondioksida (Susandi et al. Kadar hemoglobin ikan nila sebelum diberikan perlakuan pada penelitian ini berkisar antara 3. 9 G%. Menurut Royan et al. , . , bahwa kisaran normal kadar hemoglobin pada ikan nila adalah 5,05-8,33 G%. Rendahnya nilai hemoglobin ikan pada awal pemeliharaan juga diduga disebabkan karena ikan mengalami stress. Namun setelah diberikan perlakuan penambahan tepung E. cottonii dengan konsentrasi yang berbeda pada pakan selama 50 hari pemeliharaan maka terjadi peningkatan kadar hemoglobin ikan nila yang bervariasi pada setiap perlakuan. Hasil penelitian ini lebih baik jika dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya dengan menggunakan tepung rumput laut Gracilaria sp. , dimana memberikan hasil yang tidak berbeda nyata terhadap kadar hemoglobin ikan nila (Linda et al. , 2. Hasil analisa secara statistik menunjukkan bahwa pakan ikan nila yang ditambahkan konsentrasi tepung rumput laut E. Cottonii 4% (P. dan 12% (P. memberikan kemampuan yang sama dengan perlakuan kontrol (P. dalam meningkatkan kadar hemoglobin ikan nila, dan kadar hemoglobin tersebut masih tergolong normal sehingga dapat dikatakan keadaan fisiologi ikan cukup baik pada ketiga perlakuan tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan tepung E. cottonii 4% (P. dan 12% (P. pada pakan penelitian ini diduga tidak mengganggu kecepatan sintesa hemoglobin. Hal sebaliknya terjadi pada perlakuan penambahan konsentrasi tepung rumput laut E. cottonii 8% (P. yang memberikan peningkatan kadar hemoglobin ikan nila yang paling tinggi dan sedikit melebihi batas kisaran normal hemoglobin ikan serta memberikan kemampuan yang sama dengan penambahan tepung E. cottonii 12% (P. dalam meningkatkan kadar hemoglobin ikan nila. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan tepung E. cottonii pada kedua perlakuan ini dapat meningkatkan sintesa hemoglobin yang lebih baik. Sebagaimana diketahui bahwa tepung E. cottonii merupakan bahan makanan sumber mineral yang tinggi, termasuk zat besi (F. yang berperan sebagai komponen utama dalam proses pembentukan hemoglobin. Menurut Handayani et , . bahwa kadar besi (F. rumput laut ini adalah 132,65 mg/100 g berat Zat besi (F. juga memiliki berbagai kandungan vitamin diantaranya B12 dan B6 yang diperlukan untuk mensintesis hemoglobin. Dimana vitamin B6, asam amimo serta glisin berperan pada reaksi diawal pembentukan heme. Sedangkan, untuk mensintesis globin dibutuhkan vitamin. Hematokrit Rata-rata jumlah hematokrit ikan nila pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung E. cottonii setelah pemeliharaan 50 hari berkisar antara 10,6713,67% (Gambar . HEMATOKRIT (%) Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 13,67A4,93a 12,33A6,65a 12,00A1,73a 10,67A6,34a 10,00A7,21a 8,67A5,68a 8,00A1,73a 5,33A1,15a P1 . %) P2 . %) P3 . %) P4 . %) KONSENTRASI TEPUNG E. Gambar 1. Rata-rata Nilai Hematokrit Ikan Nila (O. Gambar 1. menunjukkan bahwa hematokrit ikan nila yang tertinggi terdapat pada perlakuan kontrol (P. yaitu sebesar 13,67% dan hematokrit ikan nila yang terendah terdapat pada perlakuan penambahan tepung E. cottonii12% (P. sebesar 10,67%. Hematokrit merupakan perbandingan antara volume sel darah merah dengan plasma darah (Utami et al 2. Kadar hematokrit ikan nila sebelum diberi perlakuan pada penelitian ini berkisar antara 5. 33-10%. Menurut Utami et al . , bahwa kisaran kadar hematokrit pada ikan nila adalah 27,3%-37,8%. Rendahnya nilai hematokrit ikan pada awal pemeliharaan diduga disebabkan karena ikan mengalami stress karena terjadi proses pemindahan ikan dari bak adaptasi ke bak Lestari dan Syukriah . menyatakan bahwa stress pada ikan umumnya merupakan suatu keadaan terganggunya homeostasis tubuh ikan yang menghasilkan suatu respons adaptif untuk mengkompensasi adanya gangguan/stresor yang dapat menyebabkan gangguan fisiologis, penyakit hingga kematian pada ikan Namun setelah diberikan perlakuan pakan dengan penambahan tepung E. cottonii pada konsetrasi yang berbeda selama 50 hari pemeliharaan maka terjadi peningkatan kadar hematokrit ikan nila yang bervariasi pada setiap perlakuan. Peningkatan kadar hematokrit pada semua perlakuan penambahan tepung E. cottonii tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Hasil analisa statistik menunjukkan bahwa semua perlakuan konsentrasi penambahan tepung E. cottonii pada pakan memberikan kemampuan yang sama dengan perlakuan kontrol dalam meningkatkan nilai hematokrit ikan nila. Hal ini membuktikan bahwa pemberian tepung E. cottonii pada pakan ini tidak memberikan dampak yang buruk terhadap ikan walaupun kisaran nilai tersebut masih berada dibawah rata-rata kisaran nilai hematokrit normal pada ikan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya dengan menggunakan tepung rumput laut Gracilaria sp. , dimana memberikan hasil yang tidak berbeda nyata juga terhadap kadar hematokrit ikan nila (Linda et al. , 2. Eritrosit Rata-rata jumlah Eritrosit ikan nila pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung E. cottoniisetelah pemeliharaan 50 hari berkisar antara 2,2x106-9,9x106 sel/mm (Gambar . ERITROSIT . sel/m. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 9,9A3,1b 5,8A2,5ab 4,1A0,6a 2,2A1,2a 1,1A0,5a 1,4A0,3ab 1,5A0,3ab P1 . %) P2 . %) P3 . %) 2,2A0,3b P4 . %) FORMULASI TEPUNG E. Gambar 3. Rata-rata Nilai Eritrosit Ikan Nila (O. Gambar 3. menunjukkan bahwa nilai eritrosit ikan nila yang tertinggi terdapat pada penambahan tepung E. cottonii12% (P. sebesar 9,9x106 sel/mm, sementara jumlah eritrosit ikan nila yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol (P. sebesar 2,2 x106 sel/mm. Sel darah merah merupakan sel darah yang paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan sel lainnya Yuni et al. Kadar eritrosit ikan nila sebelum diberikan perlakuan pada penelitian ini berkisar antara 1,1x106- 2,2x106sel/mm. Kisaran normal jumlah eritrosit ikan pada umumnya yaitu 000 sel/mmA (Marthen 2. Dengan demikian maka kisaran nilai eritrosit ikan nila pada awal pemeliharaan masih dalam kisaran eritrosit yang Namun setelah diberikan dengan penambahan tepung E. cottonii dengan konsentrasi yang berbeda pada pakan selama 50 hari pemeliharaan maka terjadi peningkatan kadar eritrosit ikan nila yang bervariasi pada setiap perlakuan dan . peningkatan tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P. Hal ini diduga terjadi karena ikan nila mendapat tambahan nutrisi berupa mineral, yaitu zat besi (F. yang terkandung dalam rumput laut yang sangat berguna untuk memproduksi haemoglobin dan menaikkan jumlah sel darah merah . dalam Zat besi dibutuhkan dalam proses pembentukan eritrosit karena zat besi berfungsi dalam proses oksidasi reduksi dalam sel yang berhubungan dengan pembentukan eritrosit. Mutiara et al . menyatakan bahwa dalam proses pembentukan darah . seperti sintesa hemoglobin dibutuhkan zat besi (F. , dan zat besi juga berperan dalam berbagai aktivitas biokimia seperti produksi eritrosit. Prekusor yang dibutuhkan dalam pembentukan eritrosit antara lain zat besi, vitamin, asam amino, dan hormon. Reron et al. juga menyatakan bahwa kurangnya prekusor seperti zat besi dan asam amino yang membantu proses pembentukan eritrosit akan menyebabkan penurunan jumlah eritrosit. Peningkatan total eritrosit pada semua perlakuan penambahan tepung E. cottonii pada penelitian ini bahkan bisa lebih dari dua kali lipat dibanding dengan perlakuan kontrol (P. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kemampuan ikan nila dalam menyesuaikan diri pada media pemeliharaan dan pemberian perlakuan karena kandungan nutrisi dalam tepung E. cottonii secara tidak langsung dapat mendukung proses pembentukan sel Hasil penelitian Azizah et al. menunjukkan bahwa penggunaan tepung rumput laut hingga taraf 10% dalam ransum puyuh jantan, memperbaiki Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 jumlah eritrosit dan kadar hemoglobin, serta tetap menjaga stabilitas volume Hasil analisa secara statistik menunjukkan bahwa pakan ikan nila yang ditambahkan konsentrasi tepung E. cottonii 4% (P. dan 8% (P. memberikan kemampuan yang sama dengan pelakuan kontrol (P. dalam meningkatkan kadar eritrosit ikan nila. Hal lain menunjukkan bahwa peningkatan kadar eritrosit yang terjadi pada perlakuan penambahan konsentrasi tepung E. cottonii 4% (P. dan 8% (P. tidak mengganggu fisiologis ikan. Sementara itu, perlakuan penambahan konsentrasi tepung E. cottonii 12% (P. memberikan peningkatan nilai eritrosit ikan nila jauh melebihi batas kisaran normal yaitu sebesar 9,9x106sel/mm. Hal ini diduga bahwa ikan nila mengalami stress akibat konsentrasi penambahan tepung E. cottonii yang terlalu tinggi pada perlakuan tersebut sehingga pencernaan ikan tidak dapat mentolerir kondisi pakan dengan kandungan serat yang terlalu tinggi tersebut (Tasrudin dan Erwin, 2. Serat merupakan bagian dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna dan dapat mengotori wadah akan tetapi serat tetap diperlukan untuk memudahkan pengeluaran feses ikan. Haerudin et al. , . menyatakan bahwa pakan yang mengandung serat yang tinggi (>10%) akan mengakibatkan daya cerna menurun dan penyerapan menurun. LEUKOSIT . mm/se. Leukosit Rata-rata jumlah leukosit ikan nila pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung E. cottonii selama pemeliharaan 50 hari berkisar antara11,4x10417,6x104sel/mm (Gambar . 17,6A0,9b 15,3A1,8b 16,5A2,8b 11,4A1,6a 6,0A1,4a P1 . %) 6,8A0,5ab 8,1A0,05b 7,1A1,1ab P2 . %) P3 . %) P4 . %) KONSENTRASI TEPUNG E. Gambar 4. Rata-rata Nilai Leukosit Ikan Nila (O. Gambar 4. menunjukkan bahwa nilai leukosit ikan nila yang tertinggi terdapat pada penambahan tepung E. cottonii (P. sebesar 17,6x104 mm/sel sementara jumlah leukosit ikan nila yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 11,4x104 mm/sel. Leukosit merupakan unit sistem pertahanan tubuh paling aktif dan beredar di dalam sirkulasi darah dalam berbagai tipe. Fungsi utama leukosit adalah merusak bahan-bahan infeksius dan toksik melalui proses fagositosis dengan membentuk antibodi (Rustikawati, 2. Kadar leukosit ikan nila sebelum diberikan perlakuan pada penelitian inni berkisar antara 6,0x104 Ae 8,1x104 sel/mm. Menurut Fauzan et al. , . bahwa jumlah leukosit normal pada ikan nila berkisar antara 20. 000 - 150. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 sel/mm3. Dengan demikian maka kisaran nilai leukosit ikan nila pada awal pemeliharaan masih normal. Namun setelah diberikan perlakuan penambahan tepung E. cottonii dengan konsentrasi yang berbeda pada pakan selama 50 hari pemeliharaan maka terjadi peningkatan kadar leukosit ikan nila yang bervariasi pada setiap perlakuan. Peningkatan kadar leukosit pada semua perlakuan penambahan tepung E. cottonini lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol (P. Dengan demikian maka penambahan tepung rumput laut E. cottonii pada pakan diduga mampu mengontrol peningkatan jumlah leukosit ikan nila sesuai dengan frekuensi yang diberikan. Kemampuan untuk meningkatkan jumlah leukosit secara terkontrol ini dikarenakan dalam rumput laut E. cottonii terdapat kandungan senyawa aktif berupa flavonoid, fenol, hidrokuinon triterpenoid. Yanuari . menyatakan bahwa E. cottonii mengandung fenolik 141,00 mg GAE/g dan flavonoid 35,1771 mg QE/g yang mana senyawa tersebut merupakan senyawa yang mampu meningkatkan sistem imun. Flavonoid berperan sebagai antimikroba, antivirus dan immunostimulan dan memiliki sifat mudah larut dalam air (Widiawati et al. ,2. Tingginya kadar leukosit diduga mempengaruhi kesehatan ikan, karena dengan adanya peningkatan kadar leukosit yang terjadi pada ikan menandakan ikan melakukan pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri yang ada didalam tubuh. Zainun . menambahkan bahwa leukosit merupakan salah satu komponen sel darah yang berfungsi sebagai pertahanan non spesifik yang akan melokalisasi dan mengeliminasi pathogen. Hal ini berkaitan dengan fungsi sel darah putih sebagai alat pertahanan tubuh. BOBOT MUTLAK . Bobot Mutlak Rata-rata nilai pertumbuhan bobot mutlak ikan nila pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung E. cottonii selama pemeliharaan 50 hari berkisar antara 16,26 -18,6 g (Gambar . 18,60A1,05b 17,41A0,28ab 17,39A0,75ab 16,26A1,31a P1 . %) P2 . %) P3 . %) P4 . %) KONSENTRASI TEPUNG E. COTTONII Gambar 5. Rata-rata Bobot Mutlak Ikan Nila (O. Gambar 5. menunjukkan bahwa bobot berat mutlak ikan nila yang tertinggi terdapat pada penambahan tepung E. cottonii 12% (P. sebesar 18,6 g, sementara bobot berat mutlak terendah terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 16,26 g. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semua perlakuan penambahan tepung E. pada pakan ikan `nila dapat memberikan berat mutlak ikan nila yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol (P. dan secara statistik penambahan tepung Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 rumput laut E. cottonii pada semua konsentrasi yang berbeda mempunyai kemampuan yang sama dalam meningkatkan berat mutlak ikan nila Dengan demikian maka pemberian pakan dengan penambahan tepung E. cottoniisampai dengan konsentrasi 12% masih dapat ditolerir dengan baik oleh ikan nila pada penelitian ini. Hal ini diduga disebabkan karena karbohidrat pada pakan dengan penambahan tepung E. cottonii dapat dimanfaatkan dengan lebih optimal sebagai sumber energi sehingga protein yang ada dapat digunakan untuk pertumbuhan ikan secara optimal juga. Mekanisme ini dikenal dengan istilah Auprotein sparing effectAy yang berarti bahwa karbohidrat dan lemak dapat menyamakan pemakaian dari protein dalam melakukan metabolisme dan pemeliharaan tubuh sehingga proses tersebut tidak hanya berpangkal pada protein dan fokus protein lebih banyak pada pertumbuhan (Sanjayasari dan Kasprijo. Dengan demikian maka pemberian tepung E. cottonii secara keseluruhan pada semua konsentrasi dapat memberikan pengaruh positif terhadap performa pertumbuhan ikan nila. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian tepung E. cottoniisampai dengan konsentrasi 12% masih dapat memperkaya nutrisi yang mendukung respon kekebalan tubuh sehingga akan meningkatkan kesehatan ikan yang berkorelasi pada pertumbuhan ikan yang lebih baik. Panjang Mutlak Rata-rata nilai pertumbuhan panjang mutlak ikan nila pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung E. cottonii selama pemeliharaan 50 hari berkisar antara 5,08A0,50-5,91A0,27cm (Gambar . PANJANG MUTLAK (C. 5,91A0,27b 5,67A0,13ab 5,49A0,25ab 5,08A0,50a P1 . %) P2 . %) P3 . %) P4 . %) KONSENTRASI TEPUNG E. Gambar 6. Rata-rata Panjang Mutlak Ikan Nila (O. Gambar 6. menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang mutlak tertinggi terdapat pada penambahan tepung E. cottonii 2% (P. sebesar 5,91 cm sementara pertumbuhan panjang mutlak ikan nila yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 5,08 cm. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa semua perlakuan penambahan tepung E. cottonii pada pakan ikan `nila dapat memberikan panjnag mutlak ikan nila yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol (P. dan secara statistik penambahan tepung rumput laut E. cottonii pada semua konsentrasi yang berbeda mempunyai kemampuan yang sama dalam meningkatkan panjang mutlak ikan nila. Hal ini menunjukkan bahwa pemberian pakan dengan Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 penambahan tepung rumput laut memberikan efek positif terhadap pertumbuhan ikan nila. Pertumbuhan merupakan penambahan ukuran berat atau panjang dalam kurun waktu tertentu (Effendie, 2. Tingkat Kelangsungan Hidup Rata-rata nilai kelansungan hidup ikan nila pada pemberian pakan dengan fortifikasi tepung E. cottonii selama pemeliharaan 50 hari berkisar antara86,7A11,55-93,3A5,77% (Gambar . 93,3A5,77a SR (%) 90A10,00a 9010,00a P2 . %) P3 . %) 86,7A11,5 P1 . %) P4 . %) KONSENTRASI TEPUNG E. Gambar 7. Rata-rata Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan Nila (O. Gambar 7. Menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup ikan yang tertinggi terdapat pada penambahan tepung E. cottonii 12% (P. sebesar 93,3%, sementara tingkat kelansungan hidup ikan nila yang terendah terdapat pada perlakuan kontrol sebesar 86. Tingkat kelansungan hidup ikan nila pada semua perlakuan tergolong baik karena masih diatas 80%. Hal ini sesuai dengan pendapat Simanullang . , bahwa tingkat kelangsungan hidup >50% tergolong baik, kelangsungan hidup 30-50% sedang dan kelangsungan hidup kurang dari 30% tidak Semua perlakuan penambahan tepung E. cottonii pada pakan ikan nila dapat memberikan tingkat kelangsungan hidup ikan nila yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan kontrol (P. namun memberikan kemampuan yang sama dengan perlakuan kontrol (P. dalam meningkatkan survival rate ikan nila. Tingkat kelangsungan hidup pada perlakuan penambahan tepung E. cottonini diduga berhubungan juga dengan kandungan senyawa flavonoid padatepung E. yang dapat berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi tubuh dari radikal bebas, sebagaimana yang ditunjukkan pada hasil analisa kandungan leukosit. Kualitas Air Hasil pengamatan kualitas air selama pemeliharaan disajikan dalam bentuk kisaran serta referensi sebagai pembandingannya (Tabel 2. Tabel 2. Kualitas air Parameter Kisaran Nilai Suhu ( AC ) 28 Ae 28,8 DO . g/L) 6,8 Ae 7,5 7,43 Ae 7,99 Referensi 25-30oC (Agustin, 2. >5 mg/L (Sucipto dan Prihartono, 2. 6-8,5 (Kordi, 2. Intek Akuakultur. Volume 6. Nomor 2. Tahun 2022. E-ISSN 2579-6291. Halaman 179-194 Tabel 2. menunjukkan bahwa nilai kualitas air yang meliputi suhu. DO, dan pH masih dalam batas kelayakan untuk pemeliharaan ikan nila. Kualitas air yang baik akan meningkatkan nafsu makan dan feed intake serta laju metabolisme dan asimilasi energi untuk pertumbuhan (Putra et al. ,2. Parameter kualitas air yang diukur selama penelitian ini adalah suhu. DO dan pH. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan nilai suhu berkisar antara 28-28,8AC dan nilai tersebut masih tergolong normal. Menurut Agustin . bahwa suhu atau temperatur air sangat berpengaruh terhadap metabolisme dan pertumbuhan organisme serta mempengaruhi jumlah pakan yang dikonsumsi organisme perairan. Suhu optimal untuk pertumbuhan ikan nila adalah 25-30AC. Suhu kolam atau perairan yang masih bisa di tolerir ikan nila adalah 15-37AC. Nilai (DO) pada air media pemeliharaan ikan nila berkisar antara 6,8-7,5 mg/L dimana nilai DO ini menunjukkan nilai yang optimal untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Sucipto dan Prihartono . bahwa untuk meningkatkan produktivitas ikan, kandungan oksigen terlarut dalam air sebaiknya dijaga pada level diatas 5 mg/L, sementara jika kandungan oksigen terlarut berada dibawah 3 mg/L dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan ikan. Nilai pH pada air media pemeliharaan ikan nila berkisar antara 7,43-7,99 Nilai pH tersebut masih terbilang normal dalam budidaya ikan. Menurut Salsabila dan Suprapto . bahwa nilai yang optimal untuk mendukung kehidupan ikan nila ialah sekitar 6,5-8,5. Nilai pH yang asam pada media air dapat menimbulkan stress, gangguan fisiologis, mudah diserang penyakit, rendahnya produktivitas dan pertumbuhan bahkan sampai menyebabkan kematian. KESIMPULAN Penambahan tepung E. cottonii yang berbeda pada pakan ikan nila dapat mempengaruhi kadar hemoglobin, eritrosit, leukosit dan pertumbuhan, namun tidak mempengaruhi kadar hematokrit dan tingkat kelangsungan hidup. Suplementasi tepung E. cottonii hingga konsentrasi 12% pada pakan dapat meningkatkan kadar hemoglobin, eritrosit, dan leukosit sehingga mendukung performa pertumbuhan ikan nila yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA