ISSN : 2721-074X (Onlin. - 2301-6698 (Prin. Homepage : http://ejournal. id/index. php/AFP/index Research Article DOI : 10. 36728/afp. BEAUVERIA BASSIANA. INSECT PATHOGEN BIOPESTICIDE PRODUCER AS AN EFFECTIVE ENVIRONMENTALLY FRIENDLY ALTERNATIVE BIOLOGICAL CONTROL AND AND FOR Tri Eko Wahjono. Yeni Yuliani. Hadiyanto*. Direktorat Pengelola Koleksi Ilmiah (BRIN) Universitas Diponegoro Semarang * Email: trie005@brin. ABSTRACT Beauveria bassiana is one of the insect pathogens that can be used as a biological control agent. The interaction between Beauveria bassiana and other natural enemies in biological control can affect the effectiveness of pest control as a biopesticide. The efficacy of these fungi was also influenced by the toxin produced . eauvericin, bassianin, bassiacridin, beauvericin, bassianolide, cyclosporine, oosporein, and tenelli. which may interfere the nervous system and kill the target insects. The use of chemical pesticides, which has been one of the farmersAo choices in pest control, has negative impacts on the environment, human health, and pest resistance therefore. bassiana as an alternative, biological pest control and biological control are increasingly considered as environmentally friendly and sustainable control methods, so that biological control can become an important alternative to reduce the use of chemical pesticides. Facing this problem, alternative methods including the use of entomopathogenic fungi as biopesticide could be a sound measure to preserve the environment, biodiversity and ensure good quality of crops. KEYWORD Key words: Beauveria bassiana, biological control, biopesticide, chemical pesticides INFORMATION Received : 7 November 2023 Revised : 12 Desember 2023 Accepted : 10 Januari 2024 Volume: 24 Number: 1 Year: 2024 Copyright A 2024 This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International Licence PENDAHULUAN Kebanyakkan produk pertanian rusak disebabkan oleh hama tanaman, sehingga mereka membuat agensia hayati yang paling penting (Heydari dan Mohammad 2. Hama serangga dapat menyebabkan kerusakan secara keseluruhan sekitar 42% (Oerke dan Dehne 2. Berbagai penyakit disebabkan oleh hama-hama ini yang umumnya dikendalikan oleh pestisida kimia (Cook 1. Namun, penggunaan berulang pestisida kimia untuck JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . | 97 pengendalian hama serangga telah menimbulkan berbagai efek berbahaya pada lingkungan, hewan, manusia, dan organisme non-target selama bertahun-tahun (Mahr et al. 2001 dalam Sandhu et al. Selama beberapa dekade terakhir, pestisida kimia sintetis telah banyak digunakan untuk pengendalian hama. Namun, efek mereka pada organisme nontarget, residu pada tanaman, resistensi hama, dan kekhawatiran atas dampak lingkungan dari hasil pertanian memberikan penanganan khusus untuk mencari bentuk pengendalian hama alternatif yang berbasis biologi (Kulu et al. Meskipun insektisida kimia telah sangat efektif melawan hama pertanian dan artropoda yang penting secara medis, seringkali memiliki masalah resistensi insektisida dan kerusakan lingkungan (Naqqash et al. , 2. Serangkaian studi mengkonfirmasi efek negatif lain dari penggunaan bahan kimia termasuk pengurangan biodiversitas, resistensi hama, peningkatan populasi hama, serta adanya residu senyawa berbahaya (Ondiaka et al. , 2. Bioinsektisida yang terbuat dari jamur entomopatogen, seperti Beauveria bassiana, terbukti efektif dalam mengendalikan berbagai spesies serangga hama. Fungi B. bassiana adalah salah satu jamur entomopatogen yang dikenal karena efektivitasnya sebagai pengendali hama tanaman (Anggarawati et al. , 2. Koloni jamur ini pada media in vitro akan berwarna putih tepung. Koloni-koloni akan berubah menjadi warna kekuningan atau kemerahan setelah menua (Effendy et al. , 2. Oleh karena itu, penggunaan pengendalian hayati menjadi alternatif penting, terutama agensia hayati yang dapat diterapkan dengan alat-alat aplikasi insektisida yang sama . enyemprotan dan pengembura. , seperti virus, bakteri, dan jamur entomopatogen. Jamur Beauveria bassiana (Balsam. Vuillemin dikenal sebagai jamur entomopatogen yang sangat virulen (EPF) yang memiliki sebaran inang serangga yang sangat luas, terutama hama pertanian (Tanada dan Kaya 1. Tinjauan tulisan ini menggambarkan urgensi menemukan metode pengendalian hama alternatif yang berbasis hayati karena kekhawatiran tentang residu pestisida, resistensi hama, dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh pestisida kimia sintetis. sebagai alternatif yang efektif dan ramah lingkungan untuk mengendalikan berbagai hama serangga dan dikenal karena virulensinya dan kemampuannya untuk menargetkan berbagai serangga hama pertanian. SEJARAH BEAUVERIA BASSIANA (BALS. -CRIV. ) VUILL Asal-usul pengendalian hama oleh mikroba bermula pada awal abad kesembilan belas, ketika ilmuwan Italia. Agostino Bassi, menghabiskan lebih dari 30 tahun mempelajari penyakit muscardine putih pada ulat sutra (Bombyx mori L. Dia mengidentifikasi Beauveria bassiana (Bals. -Cri. Vuill. , untuk menghormatinya jasanya namanya dicantumkan sebagai penyebab penyakit itu. Penemuannya tidak hanya membentuk dasar untuk pengendalian hama dengan mikroba, tetapi juga secara signifikan mempengaruhi karya Louis Pasteur. Robert Koch, dan para perintis mikrobiologi lainnya (Ainsworth, 1956. Porter, 1973 dalam Van Driesche & Bellows, 1. Bassi sendiri mengakui potensi untuk menggunakan organisme seperti B. bassiana untuk mengendalikan hama serangga (Bassi, 1836. di kutip dalam Van Driesche & Bellows, 1. KARAKTERISASI MORFOLOGIS B. BASSIANA Beauveria bassiana adalah salah satu jamur entomopatogen yang termasuk dalam divisi Ascomycota, kelas Sordariomycetes, ordo Hypocreales, dan famili Clavicipitaceae. bersifat toksik bagi semua tahap serangga dari ordo Homoptera. Hemiptera. Coleoptera. Lepidoptera. Orthoptera. Isoptera. Diptera, dan Hymenoptera. Karakterisasi morfologis isolat bassiana telah menunjukkan bahwa warna koloninya putih dan teksturnya halus seperti bedak, dan identik ketika pertumbuhan koloni lebih lanjut, spora aseksual B. bassiana adalah konidia berwarna putih hingga kekuningan yang dibawa oleh filamen transparan dan septal 98 | JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . yang zigzag panjang. Diameter hifa bervariasi antara 2,5 m dan 25 m (Sabbahi 2008. Li et 2001 dalam Dannon et al. (Gambar . Konidia tersebut berbentuk bulat hingga oval, bersel tunggal, hyaline, dengan ukuran konidia berkisar antara 2 hingga 3 mm, terbentuk di ujung setiap konidiophore. Hifa B. bassiana memiliki ukuran 1,5-2,1 mm, hyaline, septat, dan Miselium terdiri dari benang-benang putih halus, tetapi saat matang, warnanya berubah menjadi kuning pucat (Kumar et al. bassiana dapat tumbuh optimal dalam rentang suhu 15-30AC. Namun, untuk isolat virulen B. bassiana dengan penambahan minyak, umumnya lebih toleran terhadap suhu di atas 32AC (Ugine 2011. Oliveira et al. Gambar 1. Karakteristik morgologi B. bassiana isolation. A) Morfologi koloni B. B) Konidiaspora C) Konidia (Foto Pribad. METABOLIT SEKUNDER DARI JAMUR ENTOMOPATOGEN SEBAGAI AGENSIA INSEKTISIDA POTENSIAL Metabolit sekunder adalah senyawa organik yang tidak berperan langsung dalam pertumbuhan dan metabolisme organisme (Andersson 2012 dalam S. Sandhu et al. Jamur entomopatogen telah diteliti sebagai sumber berbagai metabolit sekunder yang memiliki bioaktivitas besar terhadap berbagai hama serangga. Berbagai metabolit toksik telah dideskripsikan yang menunjukkan sifat insektisida terhadap hama serangga (Khan et al. Destruxins (A&B) yang dihasilkan oleh beauvercins, beauverolides, destruxins . , bassianolides, bassianin, dan oosporein yang dihasilkan oleh B. bassiana merupakan contohcontoh metabolit insektisida dari jamur entomopatogen (Kodaira 1. Beberapa enzim penting adalah kitinase, protease, dan lipase. Produksi enzim-enzim ini telah dilaporkan pada jamur entomopatogen seperti B. Nomuraea rileyi, dan M. anisopliae (Ali et al. AKTIVITAS ANTIMIKROBA DARI PIGMEN YANG DIHASILKAN OLEH B. BASSIANA bassiana dianggap sebagai agensia pengendalian Hayati (APH) untuk mengendalikan hama utama tanaman yang mempengaruhi secara ekonomi di seluruh dunia . isalnya, kopi, kapas, ) (Strasser et al. , 2. bassiana menghasilkan beberapa metabolit sekunder dengan sifat antibiotik, antijamur, dan bahkan insektisida yang luar biasa terhadap beberapa penyakit pada hama serangga (Sahab, 2. Bassiacridin, bassianolide, beauvericin, bassianin, tenellin, oosporein, antara lain, telah menunjukkan aktivitas antimikroba dan antijamur in vitro, dan beberapa telah dihubungkan dengan spesifisitas dan virulensi karena beberapa dapat menekan reaksi ketahanan tubuh dari inangnya, yaitu imunomodulator (Butt et al. (Gambar . Menurut Fan et al. 2017 dalam yAvila-Hernyndez et al. 2020, oosporein memiliki peran penting sebagai senyawa antibakteri pada akhir proses infeksi B. dengan mengurangi mikrobiota inang dan membantu jamur menyelesaikan siklus infeksinya. JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . | 99 Oosporein: Pigmen dengan Sifat Benzoquinone Saat menginfeksi pada inang. bassiana dimulai secara bertahap mulai melepaskan pigmen merah ke dalam hemokol yang kemudian menyebabkan serangga sakit karena aktivitas biologisnya sebagai mediator patogenesis (Mosqueira et al. , 2015. Liu et al. , 2. Oosporein adalah molekul yang berasal dari 2,5-dihidroksibenzoquinon simetris C2, ditemukan dalam beberapa jamur tanah, biasanya pada beberapa spesies Beauveria (Luo et al. , 2. seperti B. bassiana, dan B. caledonica (Zimmermann, 2007. Mc Namara et al. , 2. selain beberapa jamur yang dianggap sebagai agen pengendalian hayati (Love et al. , 2. Tenellin dan Bassianin: Pigmen yang berasal dari 2-pyridone Tenellin dan bassianin adalah pigmen 1,4-dihidroksi-2-piridin berwarna kuning yang diisolasi dari beberapa spesies Beauveria. Mereka terbentuk dari turunan rantai poliketida . entaketida dalam kasus tenellin dan heksaketida untuk bassiani. , dengan bagian amida dari tirosin (Molnyr et al. , 2. Pigmen-pigmen ini diproduksi oleh B. bassiana dan B. (Patocka, 2. Pigmen kuning tenellin dapat diisolasi dari miselium Beauveria spp. memiliki rumus empiris C21H23NO5 (Jirakkakul et al. , 2. Beauvericin: Siklodepsipeptida Beauvericin adalah siklodepsipeptida trimetrik yang terdiri dari residu metilfenilalanil dan Memiliki berat molekul 783,9 g/mol. Dianggap sebagai mikotoksin dengan aktivitas antara lain seperti antibiotik, insektisida, penghambat apoptosis, agensia antijamur, agensia antineoplastik. Molekul ini dianggap sebagai ionofor dengan kemampuan untuk mengangkut ion-ion kecil melintasi membran lipid (Mallebrera et al. , 2. Toksisitas utama yang dihasilkan oleh beauvericin disebabkan oleh aktivitas ionofornya. Beauvericin dapat membentuk saluran selektif kation dalam sel-sel mamalia dan membran sintetis (Kouri et al. Mempunyai efek langsung pada konsentrasi ion intraseluler. Gambar 2. Rumus bangun A) oosporein. B) tenellin. C) bassianin and D) beauvericin, produced by Beauveria spp. (Source yAvila-Hernyndez et al. 100 |JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . BEAUVERIA BASSIANA. SEJENIS JAMUR ENDOFIT Jamur endofit adalah sejenis jamur yang dapat hidup pada jaringan tumbuhan tanpa menyebabkan kerusakan selain mendapatkan manfaat, baik nutrisi untuk pertumbuhan maupun kekebalan terhadap patogen serta dapat hidup di jaringan dalam dan luar tumbuhan . kar, kulit batang, batang, dan dau. (Hu & Bidochka, 2. bassiana adalah endofit pada lebih dari 20 tanaman, termasuk Zea mays. Solanum lycopersicum, dan Phaseolus vulgaris (McKinnon et al. , 2. Keberadaan B. bassiana terdapat pada daun, batang, dan akar serta jaringan daun bagian dalam, xilem, pembukaan stomata, parenkim, dan jaringan vaskular (Vega, 2. BASSIANA SEBAGAI PENGENDALIAN SECARA BIOLOGIS Istilah jamur patogen serangga merujuk pada jamur yang menyebabkan gejala penyakit pada serangga inang. Domain ini mencakup jangkauan jamur yang dapat membunuh secara cepat hingga mutlak sebagai parasit yang menyebabkan gejala penyakit pada inang dan mendapatkan manfaat dari inang tanpa mengurangi masa hidup inang. Dari 700 spesies fungi, sekitar 90 genus adalah entomopatogen (Khachatourians and Sohail 2. pertama kali diisolasi dari bangkai ulat sutera oleh Agostino Bassi pada abad ke-19, dapat menginfeksi lebih dari 200 spesies serangga dalam enam ordo dan 15 famili (Nakahara et al. Ia berkembang biak dengan cepat, menghasilkan berbagai racun yang menyebabkan penyakit ketika menginfeksi (Chelico and Khachatourians, 2008. Naqqash et al. , 2016 dalam Wang et al. bassiana adalah salah satu fungi entomopatogen yang paling banyak diteliti dan diterapkan dalam bidang pengendalian hama, dengan lebih dari 360 spesies. memiliki keunggulan toksisitas tinggi, aplikasi yang luas, dan tidak mencemari lingkungan (Mascarin and Jaronski, 2016. Liu et al. , 2021. Tomson et al. , 2021 dalam Wang et. Dalam kelompok Beauveria, sekitar 25 spesies telah dijelaskan, sebagian besar berasal dari Asia sebagai pusat asal spesies ini (Xiao et al. Beauveria bassiana (Bals. ) Vuill (Ascomycota. Hypocreale. adalah mikroorganisme skala luas yang mampu membunuh serangga, dapat bertahan sebagai saprofit di tanah, dan membentuk suatu ikatan saling menguntungkan dengan tanaman sebagai endofit (Ownley et al. Jaber et al. bassiana memiliki penyebaran skala luas dan dapat menginfeksi sekitar 700 spesies serangga . e Faria et al. Sejak penemuan dan pengaruhnya pada ulat sutera oleh Vuillemin. 1912 dalam Stefany Solano et al. Beauveria telah digunakan dalam pengendalian hayati berbagai hama pertanian (McGuire et al. Jaber et al. CARA KERJA B. BASSIANA TERHADAP SERANGGA Proses infeksi B. bassiana pada serangga inang terjadi melalui empat tahap: inokulasi, perkecambahan, penetrasi, penyebaran, dan kolonisasi (Dannon et al. Tahap inokulasi melibatkan kontak antara organ infektif dan integumen serangga inang. Organ infektif dari jamur B. bassiana adalah konidia, jadi selama aplikasi di lapangan, suspensi konidia harus kontak dengan tubuh serangga, terutama lapisan integumen. Selanjutnya, konidia melekat pada integumen serangga, dan untuk proses ini, zat perekat diperlukan untuk memastikan konidia melekat pada integumen sebagai organ infektif. Tahap kedua adalah perkecambahan. Konidia membentuk tabung kecambah, memerlukan kelembaban tinggi di atas 90%. Tahap ketiga adalah penetrasi. Pada titik ini, jamur membentuk blastospora di ujung appresorium atau haustorium, siap untuk menembus lapisan kutikula serangga, yang mengarah pada pembentukan hifa primer di dalam tubuh serangga (Ortiz-Urquiza dan Keyhani 2016. Saranraj dan Jayaprakash 2017 yang dikutip dalam Marida et al. , 2. Tahap berikutnya | 101 JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . adalah penyebaran, di mana blastospora menghasilkan berbagai jenis toksin, termasuk beauvericin, beaverolide, bassianin, bassianolide, bassiacridin, tenelin, dan cyclosporin, yang beredar dalam darah serangga . , mengakibatkan peningkatan pH darah serangga dan gangguan pada sistem saraf, menyebabkan serangga menjadi lesu dengan penurunan nafsu makan, akhirnya menyebabkan kematian (Altinok et al. (Gambar . Gambar 3. Serangga-serangga hama yang terinfeksi oleh B. bassiana : (A) Lophobaris piperis, (B) Helopeltis antonii, dan (C) Nilaparvata lugens . ereng cokla. POTENSI JAMUR ENTOMOPATOGEN UNTUK PENGENDALIAN HAYATI Jamur entomopatogen B. bassiana adalah salah satu agensia paling efektif dalam pengendalian secara biologi yang banyak dideskripsikan dalam literatur. Jamur ini ditemukan di semua jenis tanah (Jamal 2008. Lambert 2010 dalam Dannon et. Jamur patogen serangga (JPS) memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan dalam pengendalian dengan menggunakan mikro organisme. Keunggulan penggunaan jamur sebagai insektisida adalah bahwa mereka memiliki selektivitas tinggi terhadap inang dalam beberapa kasus pengendalian hama: JPS dapat digunakan dalam pengendalian serangga berbahaya tanpa mempengaruhi populasi parasitoid dan serangga berguna. Mereka tidak memiliki pengaruh negatif pada mamalia dan oleh karena itu, mengurangi kerusakan yang diakibatkan oleh aplikasi insektisida seperti polusi lingkungan. JPS dapat digunakan untuk mengurangi masalah seperti resistensi insektisida, menyediakan pengendalian jangka panjang, dikembangkan dengan penelitian bioteknologi, dan tetap berada di lingkungan untuk waktu yang lama setelah aplikasi (Lengai et al. , 2020. Fenibo et al. , 2021 dalam Gyner et. , 2. Kelemahannya, ada beberapa kekurangan penggunaan jamur sebagai insektisida. Mereka memerlukan waktu yang lebih lama untuk membunuh serangga dibandingkan insektisida kimia . adang-kadang 10-15 har. JPS lebih selektif daripada insektisida kimia yang berarti bahwa mereka mungkin tidak efektif membunuh semua hama. Memerlukan biaya produksi yang cukup tinggi dan memerlukan penyimpanan dengan kondisi dingin dibandingkan dengan insektisida kimia. Keefektifan dan ketahanan jamur terhadap populasi hama dapat bervariasi tergantung pada serangga inang yang memerlukan penelitian jangka panjang dan penelitian untuk mengoptimalkan teknik aplikasi yang khusus terhadap serangga. Selain itu. JPS dapat menimbulkan risiko potensial bagi manusia yang memiliki sistem kekebalan tubuh rendah karena beberapa fungi mengeluarkan berbagai toksin untuk membunuh serangga target dan efek toksin ini pada organisme lain belum sepenuhnya diketahui (Lengai et al. Fenibo et al. , 2021 dalam Gyner et al. , 2. 102 |JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . HASIL UJI KEEFEKTIFAN B. BASSIANA TERHADAP DASYNUS PIPERIS DAN LOPHOBARIS PIPERIS DI LABORATORIUM DAN LAPANGAN Penentuan konsentrasi formula B. bassiana pada L. piperis dan D. piperis dewasa dilakukan di Uji pendahuluan menunjukkan bahwa pengaruh dari B. bassiana terhadap L. piperis terlihat 5 minggu setelah aplikasi, dengan dosis 25 g adalah paling efektif (Wiratno et (Gambar 4 dan . Gambar 4. Tingkat kematian L. piperis pada perlakuan dengan B. bassiana (%) (Sumber : Wiratno et al. Berdasarkan hasil uji pendahuluan, dosis untuk dilapangan dari formula B. ditetapkan menjadi 20 gr/l. Hasil uji menunjukkan bahwa tingkat kematian pada L. dan D. piperis setelah aplikasi jamur sangat rendah, berbeda dengan hasil yang diperoleh dalam uji pendahuluan di laboratorium. Tingkat kematian pada L. piperis dan D. piperis pada minggu ke-4 pengamatan adalah 20 dan 33. 3%, secara berturut-turut. Tingkat kematian rendah pada serangga uji mungkin disebabkan oleh perlakuan yang dilakukan selama musim kemarau, sehingga spora B. bassiana tidak bertahan lama dan mati karena terpapar sinar Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil maksimal, aplikasi formula ini sebaiknya dilakukan beberapa kali dengan tenggang waktu 1 atau 2 bulan (Wiratno et al. Perlu dilakukan perlakuan berkelanjutan diharapkan dalam jangka panjang untuk dapat menekan populasi dan serangan hama pada tanaman lada hitam. Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap keefektifan B. bassiana, sebagian besar konidia dapat terurai dengan cepat di lingkungan dan hanya sebagian kecil yang berhasil menginfeksi inang baru (Meyling dan Eilenberg. | 103 JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . % mORTALITY OF d. PIPERIS Tingkat Kematian D. piperis pada perlakuan B. bassiana (%) dOSages Formulasi g/l Gambar 5. Tingkat kematian D. piperis pada perlakuan dengan B. bassiana (%) . ource: Wiratno et al. Efektivitas B. bassiana sangat bergantung pada faktor-faktor abiotik lingkungan, termasuk kelembaban, suhu, curah hujan, dan radiasi ultraviolet (UV) (Jaronski 2010. Fernandes et al. McCoy et al. untuk pertumbuhan dan penyimpanan inokulum. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Teng . dalam Dannon et. mengenai biologi B. bassiana, suhu yang mendukung pertumbuhan miselium berkisar antara 13 AC dan 36 AC. Perkembangan miselium berhenti pada suhu 8 AC dan 40 AC. Suhu optimal untuk perkecambahan spora dan pertumbuhan miselium adalah 24 AC, yang, dengan uji laboratorium menurut Dendrolimus punctatus Walker . dalam Dannon et. juga mendukung proses infeksi. Batas suhu secara umum untuk pertumbuhan adalah antara 34 AC dan 36 AC. Suhu yang lebih tinggi dapat secara signifikan mengurangi efisiensi produksi jamur (Noma dan Strickler 1999. Ugine 2011 dalam Dannon et. KOMPATIBILITAS B. BASSIANA DENGAN PESTISIDA KIMIA Efektivitas agensia pengendalian mikroba dapat ditingkatkan dengan menggabungkannya dengan pestisida dosis rendah (Islam dan Omar 2. Ketika interaksi menjadi sinergis, kombinasi tersebut akan meningkatkan efektivitas agensia pengendalian secara biologi untuk mengurangi pengaruh samping pestisida. Namun, mencapai interaksi sinergis tidak selalu mudah sehingga dalam kasus B. bassiana, mungkin terjadi pengaruh antagonis. Beberapa pestisida juga dapat memengaruhi kelangsungan hidup B. bassiana bergantung pada Sebagai contoh, lufenuron bahkan dalam dosis rendah ditemukan tidak kompatibel dengan B. train MTCC-. (Purwar dan Sachan 2. Kendala lain terkait dengan waktu dan sinkronisasi aplikasi B. bassiana dengan beberapa pestisida kimia. Herbisida dan zat pengatur pertumbuhan tanaman telah digunakan secara luas dalam sebagian besar agrosistem, dan kompatibilitasnya dengan jamur patogen seringkali belum berdiri sendiri (Sabbahi 2. Namun, pestisda dengan berbahan aktif glufosinate ammonium tidak kompatibel dengan B. bassiana yang diterapkan untuk mengendalikan kumbang kentang (Todorova et al. 104 |JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . KOMPATIBILITAS APLIKASI B. BASSIANA DENGAN PESTISIDA BOTANI Kompatibilitas aplikasi B. bassiana dengan beberapa pestisida botani dapat dilihat dari waktu kematian yang lebih singkat pada Riptortus linearis dan tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan aplikasi terpisah. Hal ini disebabkan oleh pestisida botani yang mengandung minyak, yang dapat berfungsi sebagai racun atau menghalangi spirakel di bagian perut serangga (Odibo dan Ojianwuna 2020. Okweche et al. 2021 dalam Marida et al. Menurut Al-Mazra'awi et al. , efektivitas jamur B. bassiana akan meningkat ketika dikombinasikan dengan pestisida botani dari biji nimba karena pestisida botani ini mengandung senyawa minyak yang dapat meningkatkan perkecambahan konidia. KOMPATIBILITAS B. BASSIANA DENGAN PREDATOR Menurut laporan Zaki . , aplikasi B. bassiana pada dosis rendah tidak memiliki dampak negatif pada kelangsungan hidup predator Coccinella undecimpunctata. Namun, pada dosis tinggi . , hal itu memengaruhi kelangsungan hidup predator dewasa. Huang et al. juga menjelaskan bahwa mortalitas predator dari kelompok Coccinellidae mencapai 28,2% akibat aplikasi B. bassiana dengan kepadatan konidia 10^9/ml. Selain itu. Jarrold et al. dan Zhang et al. menyatakan bahwa lapisan lilin tebal dan lipid memiliki dampak negatif pada perkecambahan konidia B. bassiana, mencegah mereka menembus integumen PRODUKSI MASSAL JAMUR UNTUK KOMERSIALISASI Penggunaan komersial jamur entomopatogenik untuk pengendalian dengan mikroba terhadap hama serangga memerlukan pemahaman akan aspek fisiologis pertumbuhan, aktivitas metabolik, dasar genetik dari virulensi, dan spesifitas terhadap inang. Beberapa teknik untuk produksi massal jamur entomopatogenik tersedia, sebagian besar dirancang untuk menghasilkan konidia yang infektif. konidia tersebut diambil dan diformulasikan untuk penyimpanan dan penggunaan lapangan (S. Sandhu et al. Kesulitan terkait dengan formulasi biopestisida berbasis B. bassiana termasuk dalam menemukan bahan-bahan yang dapat digabungkan, untuk mendapatkan tidak hanya viabilitas konidia tetapi juga stabilitas mereka . isalnya, toleransi terhadap pengeringan, perlindungan UV, masa simpan, dll. ) dan keefektifannya (Dannon et. bassiana, sebagai biopestisida, dapat diproduksi menggunakan media cair maupun padat. Ketika dipropagasi dalam media cair . iphasic liqui. , menghasilkan miselium dan blastospora, sementara pada media padat menghasilkan Produksi konidia umumnya digunakan untuk merumuskan agen dalam media bubuk atau granul, formulasi dengan larutan minyak, atau media lainnya (Wiratno et al. Formulasi granul dapat diperoleh baik dengan melapisi spora yang sudah dipanen sebelumnya (Leland dan Behle 2005. Sabbahi 2. atau dengan pertumbuhan dan sporulasi jamur pada permukaan pembawa nutrisi granular. Virulensi tinggi dan efisiensi epizootik jamur entomopatogenik terhadap hama serangga (Agarwal et al. , tingkat sporulasi tinggi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi lingkungan membuat jamur menjadi organisme yang lebih bermanfaat untuk produksi biopestisida (Sharififard et al. Mwamburi et al. Lecouna et al. Kaufman et al. 2005 dalam S. Sandhu et al. | 105 JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . Gambar 6. Produksi massal jamur B. bassiana dalam bentuk granul (A) dan media cair Granul dan media cair (B). Beberapa jamur yang dikembangkan untuk pengendalian hama serangga ditampilkan dalam Tabel 1. Pasar biopestisida masih dalam tahap awal perkembangannya karena tingkat penjualan biopestisida dibandingkan dengan pestisida kimia hanya sebesar 0,25% . an Lenteren 2000 yang dikutip oleh Caron . Tabel 1. Perkembangan Mikoinsektisida Fungus Product Target Producer Beauveria bassiana Conidia Coffee berry borer Live System Technology. Colombia Beauveria bassiana Ostrinil Corn borer Natural Plant Protection (NPP). France Beauveria bassiana Corn Guard European corn borer Mycotech. USA Beauveria bassiana Mycotrol GH Grasshoppers. Locusts Mycotech. USA Beauveria bassiana Mycotrol WP and BotaniGard Whitefly. Aphids. Thrips Mycotech. USA Beauveria bassiana Naturalis-L Cotton pests including Troybiosciences. USA Beauveria bassiana Naturalis White flies. Thrips, white grubs Troybiosciences. US Beauveria bassiana Proecol Army worm Probioagro. Venezuela Beauveria bassiana Boverin Colorado beetle Former USSR Beauveria bassiana Bio-power Mite, coffee green bug Stanes Beauveria bassiana Racer BB Aphids spittle bug. SOM phytopharma Beauveria bassiana Trichobass- L Trichobass- P Aphids spittle bug. AMC Chemical/Trichodex Beauveria brongniartii Engerlingspilz Cockchafer . Andermatt. Switzerland Beauveria brongniartii Schweizer Cockchafer . Eric Schweizer. Switzerland Sumber : S. Sandhu et al. 106 |JURNAL ILMIAH AGRINECA A VOL 24 NO 1 . KESIMPULAN Penggunaan B. bassiana sebagai biopestisida memiliki sejumlah manfaat signifikan, seperti efektivitas tinggi dalam mengendalikan hama tanaman, keamanan bagi manusia dan hewan peliharaan, serta sifat ramah lingkungan. Meskipun terdapat beberapa kekurangan, seperti efektivitas yang kurang optimal dalam pengendalian hama dan daya tahan yang lebih rendah dibandingkan dengan pestisida kimia. bassiana memiliki potensi untuk pengembangan teknologi produksi biopestisida yang lebih efektif dan terjangkau. Meskipun ada persepsi bahwa pestisida kimia lebih efektif dan adanya persaingan dari produsen pestisida kimia dalam skala besar. bassiana tetap memiliki harapan untuk pengembangan lebih lanjut. Selain itu, perubahan iklim dan kondisi lingkungan yang tidak stabil juga dapat memengaruhi produksi dan kualitas biopestisida yang berasal dari B. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan efektivitas dan daya tahan biopestisida B. serta meningkatkan kesadaran pasar dan penerimaan produk pertanian yang ramah lingkungan, yang bebas dari residu pestisida kimia. REKOMENDASI Potensi B. bassiana sebagai salah satu biopestisida sangat besar, oleh karena itu disarankan, antara lain: Meningkatkan efektivitas dan daya tahan biopestisida B. bassiana melalui penelitian dan pengembangan teknologi produksi yang ditingkatkan. Memperkuat wawasan dan kesadaran tentang keunggulan dan keamanan penggunaan biopestisida, terutama bagi mereka yang masih menganggap pestisida kimia lebih efektif. Meningkatkan dukungan pemerintah dan industri pertanian untuk penggunaan metode pengendalian hayati alternatif dengan mengenalkan kebijakan yang mempromosikan penggunaan biopestisida. Berkolaborasi dengan petani dan produsen biopestisida lainnya untuk meningkatkan distribusi dan memperluas pasar. Memperhatikan kondisi lingkungan dan perubahan iklim yang dapat memengaruhi produksi dan kualitas biopestisida, sehingga memerlukan pemantauan dan adaptasi terhadap kondisi tersebut. DAFTAR PUSTAKA