Jurnal Kesehatan Marendeng http://e-jurnal. id/index Vol. IX. No. Maret 2025, pp 21-28 p-ISSN: 2580-0329 dan e-ISSN: 2809-2813 DOI:https://doi. org/jkm. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan Ibu yang Memiliki Balita dengan Gizi Kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata Immawanti1. Imran Yaman2. Pattola3. Nurdiana4 1 Program Studi Profesi Ners. STIKes Marendeng Majene Email: immawanti. ch@gmail. 2,3 Program Studi Ilmu Keperawatan. STIKes Marendeng Majene Artikel info Artikel history: Received. 12 Februari 2025 Revised: 12 Februari 2025 Accepted. 19 Februari 2025 Kata Kunci: Kata Kunci satu. Balita Gizi Kata Kunci dua. Pendidikan Kesehatan Kata Kunci Pengetahuan Ibu Keyword: Keyword satu. Malnourished Children Keyword dua. Health Keyword tiga : Mother's Knowledge Abstract. Young children are at high risk of malnutrition, which can lead to growth problems such as wasting, stunting, and mental development disorders if it persists for a long time. Based on nutritional status monitoring, the percentage of malnourished children under five in Polewali Mandar Regency in 2024 is 6. This study aims to determine the effect of health education on the knowledge of mothers with malnourished children in the working area of Puskesmas Pekkabata. Polewali Mandar Regency. This research uses a Quasi-Experimental Study method with a One Group Pre-Test Post-Test design. The instruments used were questionnaires and leaflets as media for health education. The study was conducted in Takatidung Village. Polewali Subdistrict. Polewali Mandar Regency. West Sulawesi Province. The sample was selected using Purposive Sampling, with a total sample of 31 mothers of malnourished children. Data analysis was performed using paired t-test. The results of the study show an increase in the knowledge of mothers regarding malnutrition after receiving health education, with a p-value of 0. < 0. This indicates that health education has a positive effect on the knowledge of mothers and can be an important strategy in improving family health. It is expected that each mother will be proactive in obtaining information about the nutritional needs, particularly of young Abstrak. Anak balita berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi, yang dapat menyebabkan masalah pertumbuhan seperti wasting, stunting, dan gangguan perkembangan mental jika terjadi dalam jangka panjang. Berdasarkan pemantauan status gizi, di Kabupaten Polewali Mandar pada 2024, persentase balita gizi kurang sebesar 6,96%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu yang memiliki balita dengan gizi kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata. Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian ini menggunakan metode Stikes Marendeng Majene | 21 Quasi Experimental Study dengan desain One Group Pre-Test Post Test. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dan leaflet sebagai media pendidikan kesehatan. Penelitian dilakukan di Kelurahan Takatidung. Kecamatan Polewali. Kabupaten Polewali Mandar. Provinsi Sulawesi Barat. Sampel diambil dengan teknik Purposive Sampling, dengan jumlah sampel 31 ibu balita yang mengalami gizi kurang. Analisis data dengan uji T berpasangan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan ibu balita mengenai gizi kurang setelah diberikan pendidikan kesehatan, dengan nilai p = 0,000 . < 0,. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan memiliki pengaruh positif terhadap pengetahuan ibu, dan dapat menjadi strategi penting dalam meningkatkan kesehatan keluarga. Diharapkan setiap ibu agar aktif dalam memperoleh informasi tentang kebutuhan gizi khususnya pada anak balita. Coresponden author: Email: immawanti. ch@gmail. artikel dengan akses terbuka dibawah lisensi CC BY-4. PENDAHULUAN Balita berisiko tinggi mengalami kekurangan gizi yang dapat memengaruhi status gizinya, yang berpotensi menimbulkan masalah pertumbuhan seperti wasting, stunting, dan gangguan perkembangan mental (Nugrahaeni, 2. Selain itu, anak yang tidak memperoleh nutrisi cukup juga rentan terhadap penurunan sistem kekebalan tubuh, meningkatkan kerentanannya terhadap infeksi, yang akhirnya mengarah pada masalah gizi lebih lanjut (Istianty dan Rusilanti. Secara global, sekitar 104 juta anak mengalami kekurangan gizi, yang menjadi penyebab sepertiga kematian anak. Di Indonesia, prevalensi kekurangan gizi pada balita tercatat sebesar 13,9% tahun 2013, meningkat 18,9% pada 2017, dan mencapai 26,98% pada 2024 (Kementerian Kesehatan, 2014. Surveilans Gizi Indonesia, 2. Kekurangan gizi pada balita dipengaruhi oleh berbagai faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung meliputi asupan makanan dan keberadaan penyakit, sementara faktor tidak langsung mencakup ketersediaan pangan, pola pengasuhan, akses layanan kesehatan, serta kondisi lingkungan. Salah satu faktor utama yang memengaruhi gizi anak adalah pemahaman ibu mengenai nutrisi. Pengetahuan ibu tentang gizi sangat berperan dalam menentukan jenis dan kualitas makanan yang diberikan kepada anak (Setyaningsih, 2. Pendidikan kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan ibu mengenai gizi anak. Program edukasi kesehatan yang efektif dapat mendorong perubahan perilaku yang mendukung pemenuhan gizi yang optimal bagi balita (Iftika, 2017. Puspitasari, 2. Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang gizi meningkat setelah mengikuti program edukasi kesehatan, yang berdampak pada pola makan yang lebih baik bagi anak (Fredy. Darmiati, & Ikhsan, 2. Meskipun penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu mengenai gizi telah dilakukan sebelumnya, masih terdapat perbedaan dalam penelitian terkait implementasi program edukasi kesehatan secara spesifik di wiilayah kerja Puskesmas Stikes Marendeng Majene | 22 Pekkabata. Prevalensi kekurangan gizi pada balita di daerah ini yang mencapai 26,98% pada tahun 2024 menunjukkan bahwa masalah ini masih menjadi tantangan besar yang perlu diatasi secara lebih efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menilai sejauh mana peningkatan pengetahuan ibu dapat berdampak pada perbaikan status gizi anak. Selain itu, penelitian ini menggunakan media leaflet sebagai alat penyuluhan. Leaflet adalah salah satu media yang murah, mudah disebarkan, dan informasi yang disampaikan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tidak memiliki akses internet atau perangkat digital. Penelitian yang menggunakan media leaflet sangat penting karena dapat mengukur sejauh mana media ini mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi yang optimal pada anak. METODE Penelitian ini merupakan studi quasi eksperimental dengan menggunakan one group pretestposttest design, yang bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan ibu mengenai gizi pada balita. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu yang memiliki balita dengan status gizi kurang. Berdasarkan perhitungan dengan rumus Lemeshow dan menggunakan teknik purposive sampling, diperoleh sampel sebanyak 31 Kriteria inklusi dalam penelitian ini meliputi ibu yang memiliki anak dengan status gizi kurang berusia 1 hingga 5 tahun, tinggal bersama anaknya, dan bersedia mengikuti seluruh proses penelitian. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner untuk mengukur pengetahuan ibu tentang gizi pada anak dan lembaran leaflet sebagai media dalam melakukan Pendidikan Metode pengolahan data dilakukan melalui tahap editing, coding, entry, dan Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik variabel, dan bivariat untuk menganalisis hubungan antara variabel independen dan dependen. Semua responden dalam penelitian terlibat secara sukarela dengan tetap memperhatikan aspek etika penelitian, dengan prinsip yang diterapkan mencakup respect for persons, beneficence, nonmaleficence, dan justice. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1. Karakteristik Responden berdasarkan Usia. Pendidikan. Pekerjaan Karakteristik Usia Total Pendidikan SMP SMA Total Pekerjaan IRT Buruh Tani Total Frekuensi Persentase (%) Stikes Marendeng Majene | 23 Berdasarkan Tabel 1 diatas, diperoleh data sejumlah sampel 31 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Berdasarkan usia, mayoritas responden berada pada kelompok usia 26-35 tahun yaitu 17 responden . 8%). Pada tingkat pendidikan, mayoritas responden memiliki pendidikan rendah yaitu SD sebanyak 14 responden . 2%). Untuk pekerjaan, sebagian besar adalah ibu rumah tangga sebanyak 29 responden . 5%), dan sebagian kecil bekerja sebagai buruh tani yaitu 2 responden . 5%). Tabel 2. Pengetahuan Responden Sebelum dan Setelah diberikan Pendidikan Kesehatan Tingkat Pengetahuan Baik Kurang baik Total Pengetahuan sebelum Pengetahuan setelah p-value 0,000 Berdasarkan Tabel 2, hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi, sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang kurang . ,8%), sementara hanya 45,2% yang memiliki pengetahuan baik. Setelah intervensi, terjadi peningkatan signifikan, di mana 80,6% responden memiliki pengetahuan baik, dan hanya 19,4% yang masih memiliki pengetahuan kurang. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p-value 0,000, yang lebih kecil dari alpha 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan tingkat pengetahuan responden sebelum dan setelah diberikan intervensi. Pembahasan . Karakteristik Responden Penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok usia responden yang paling banyak adalah antara 26-35 tahun, dengan proporsi 54,8%. Usia mempengaruhi pengetahuan seseorang, bersama dengan faktor lain seperti pendidikan, pekerjaan, dan pengalaman (Mubarak, 2. Seiring bertambahnya usia, kemampuan dan motivasi untuk mencari informasi cenderung menurun, terutama dalam hal memori dan kecepatan memproses informasi. Hasil distribusi frekuensi menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki pendidikan terakhir SD . ,2%), diikuti SMP . ,5%). SMA . ,1%), dan S1 . ,2%). Mayoritas responden berpendidikan SD, yang membatasi pengetahuan mereka. Penelitian oleh Suwanti dan Wahyuni . menunjukkan bahwa tingkat pendidikan memengaruhi pengetahuan, sikap, dan respons terhadap informasi. Analisis pekerjaan menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah ibu rumah tangga . ,5%), sementara hanya 6,5% yang bekerja sebagai petani. Mayoritas ibu rumah tangga memiliki akses informasi yang lebih terbatas dibandingkan mereka yang bekerja di luar rumah, karena pekerjaan dapat memberikan pengalaman dan pengetahuan tambahan. Pengetahuan Responden sebelum dan setelah diberikan Pendidikan Kesehatan Tingkat pengetahuan responden sebelum diberikan pendidikan kesehatan tentang gizi menunjukkan bahwa 54,8% . berada pada kategori kurang. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak responden memiliki pemahaman yang rendah tentang gizi kurang pada anak Faktor-faktor seperti latar belakang pendidikan, status pekerjaan, dan usia responden turut berperan dalam hasil ini, di mana mayoritas responden memiliki pendidikan rendah, yaitu SD . dan SMP . Stikes Marendeng Majene | 24 Penelitian ini juga menemukan bahwa ibu dari balita dengan masalah gizi umumnya berusia 35 tahun atau lebih muda (O35 tahu. Winarti . menyebutkan bahwa ibu-ibu yang berusia antara 26-45 tahun termasuk dalam kelompok usia dewasa, yang menunjukkan bahwa mereka sudah memiliki pengalaman dalam menyiapkan makanan untuk keluarga. Dengan demikian, usia ibu dapat mempengaruhi kemampuan mereka dalam memberikan makanan yang bergizi kepada keluarga, selain faktor pendidikan. Kesimpulannya, usia menjadi faktor yang mempengaruhi perilaku dan kemampuan seseorang dalam menerima informasi. Usia juga berperan penting dalam menentukan tingkat pengetahuan, pengalaman, keyakinan, dan motivasi, yang akhirnya memengaruhi perilaku seseorang dalam memenuhi kebutuhannya. Seiring bertambahnya usia, seseorang cenderung mengakumulasi lebih banyak pengetahuan. Selain itu, tingkat pendidikan juga memainkan peran penting dalam mempengaruhi perilaku. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin luas pengetahuannya. Namun, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden . ,8%) hanya memiliki pendidikan terakhir di tingkat Sekolah Dasar, dengan total 14 responden. Pendidikan ibu sangat berperan dalam mendukung perkembangan anak secara holistik, yang mencakup potensi fisik, emosional, moral, pengetahuan, dan keterampilan (Almushawwir, 2. Tingkat pendidikan juga mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menyerap dan memahami informasi yang Penelitian sebelumnya juga menunjukkan adanya hubungan antara pendidikan ibu dan status gizi anak balita (Dwi Ertiana dan Shafira Berliana Zain, 2023. Josri Mandiangan. Marsella D. Amisi, & Nova H. Kapantow, 2. Setelah diberikan pendidikan kesehatan, tingkat pengetahuan responden meningkat signifikan, dengan persentase mencapai 80,6% . Hal ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan setelah intervensi pendidikan kesehatan. Faktor yang mempengaruhi peningkatan ini adalah usia rata-rata ibu yang berada dalam rentang 26-35 tahun, yang mencerminkan kematangan secara rasional dan motorik. Penelitian oleh Rahmawati. Dasuki, & Candrasari . menyatakan bahwa usia 26-35 tahun adalah masa produktif, di mana individu dalam kelompok usia ini cenderung lebih mudah menerima informasi baru yang berkaitan dengan kesehatan anak mereka. Penelitian ini menunjukkan peningkatan pengetahuan ibu tentang masalah gizi balita, dari 45,2% menjadi 80,6%, dengan peningkatan sebesar 35,4%. Menurut Notoadmojo . , pengetahuan diperoleh tidak hanya melalui panca indera, tetapi juga melalui proses pembelajaran, baik formal maupun informal. Dalam proses pembelajaran ini, individu akan merespons stimulus yang diterima, baik dengan menerima maupun menolak informasi tersebut. Dalam penelitian ini, responden memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran informal, yang diperoleh dari pendidikan kesehatan tentang gizi kurang menggunakan media leaflet. Salah satu keunggulan leaflet adalah kemampuannya dalam membantu pembaca memahami atau menguasai materi yang disajikan. Temuan ini sejalan dengan penelitian Dessy Hidayati Fajrin . , yang menunjukkan bahwa media leaflet memiliki pengaruh positif dalam pendidikan kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan ibu. Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Pengetahuan Ibu tentang Gizi Kurang Pada tabel 2, berdasarkan analisis statistik dengan menggunakan uji T berpasangan, diperoleh nilai p-value = 0,000, yang menunjukkan bahwa ada pengaruh signifikan pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan ibu yang memiliki balita dengan gizi kurang di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata, khususnya di Kelurahan Takatidung. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan Stikes Marendeng Majene | 25 adanya pengaruh yang signifikan antara pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan (Akbar K. Darmiati, dan Ikhsan, 2021. Fitria dan Trini Sudarti, 2. Keberhasilan penyuluhan sangat bergantung pada metode dan media yang digunakan. Dalam penelitian ini, metode yang diterapkan adalah ceramah dan sesi tanya jawab, yang memungkinkan komunikasi dua arah antara narasumber dan peserta. Adapun media yang digunakan adalah leaflet, yang menyajikan materi secara singkat dan jelas, sehingga meningkatkan efektivitas penyuluhan. Leaflet adalah salah satu alat yang murah, mudah disebarkan, dan dapat menjangkau audiens yang luas. Penelitian tentang efektivitas leaflet dalam menyampaikan informasi atau pendidikan sangat penting karena dapat mengukur sejauh mana media ini mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi pada anak. Hasil penelitian ini sejalan dengan beberapa penelitian yang telah ada Penelitian Ariyani. Pertiwi, dan Sari, tahun 2018, menunjukkan bahwa penyuluhan menggunakan media leaflet mengenai gizi balita dapat meningkatkan pengetahuan ibu tentang pentingnya pemenuhan gizi yang optimal bagi anak. Penelitian lain menunjukkan bahwa pemberian edukasi kesehatan dengan media leaflet berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap ibu tentang gizi balita di wilayah pesisir Pekanbaru (Johari. Agrina, dan Putri, tahun 2. Studi oleh Dinanda. Manikam. Angesti tahun 2024, juga menemukan bahwa pemberian edukasi gizi menggunakan media leaflet secara signifikan meningkatkan pengetahuan ibu mengenai gizi seimbang pada anak. Leaflet adalah materi pembelajaran cetak yang mencakup inti dari suatu topik. Informasi dalam leaflet bisa berasal dari berbagai sumber, seperti buku atau internet, dan disusun secara Leaflet yang baik memiliki desain menarik, dilengkapi dengan ilustrasi atau gambar yang relevan, serta menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Fungsi leaflet adalah untuk menyampaikan informasi secara singkat dan padat, dengan teks, gambar, atau keduanya, yang membuatnya mudah dipahami oleh pembaca (Rachman, 2. Keunggulan leaflet adalah kemampuannya memungkinkan setiap individu belajar sesuai dengan kecepatan pemahaman masing-masing. Leaflet dapat disesuaikan dengan berbagai tingkat pemahaman pembaca, baik yang cepat maupun yang lebih lambat. Penelitian oleh Nola Tila A. NiAomah Hidayatul L. Christina Roosarjani, dan Titis Wahyuono . menunjukkan bahwa media leaflet lebih efektif dalam meningkatkan pemahaman. Namun, leaflet juga memiliki kelemahan, seperti rentan terhadap kerusakan dan kehilangan, serta tidak dapat menyajikan konten yang dinamis. Selain itu, percetakan leaflet memerlukan biaya tinggi, terutama jika ingin menyertakan gambar atau ilustrasi berwarna. Proses percetakan juga memakan waktu lama, dan jika desain leaflet tidak menarik, orang cenderung tidak menyimpannya sebagai referensi. Meski demikian, kelebihan leaflet dalam meningkatkan pemahaman menjadikannya media yang efektif untuk pendidikan kesehatan. SIMPULAN Sebelum mengikuti program pendidikan kesehatan , pengetahuan ibu tentang gizi kurang pada balita menunjukkan persentase yang cukup. Setelah pendidikan kesehatan dilaksanakan, pengetahuan ibu tentang gizi kurang pada balita, mengalami peningkatan dengan persentase pengetahuan ibu dalam kategori baik. Terdapat pengaruh yang signifikan terhadap pengetahuan ibu balita sebelum dan setelah diberikan pendidikan kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pekkabata khususnya di Kelurahan Takatidung. Stikes Marendeng Majene | 26 SARAN Program pendidikan kesehatan yang diberikan kepada peserta agar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari untuk membantu mengatasi masalah gizi, khususnya bagi ibu yang memiliki anak balita dengan kondisi gizi kurang. Puskesmas Pekkabata diharapkan dapat terus berperan aktif dalam memberikan informasi kepada masyarakat mengenai status gizi anak balita, dengan mengemb angkan media yang sesuai dan efektif untuk menyampaikan informasi. UCAPAN TERIMA KASIH Terimakasih kepada semua responden khususnya ibu dengan status gizi anak kurang yang telah ikut berpartisipasi secara sukeralea dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA