JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 8 No. 2 Tahun 2023 | 76 Ae 86 JPK : Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan http://journal. id/index. php/JPK/index ISSN 2527-7057 (Onlin. ISSN 2549-2683 (Prin. Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka Siswa Kelas IB SDN 02 Girimoyo Malang Melalui Problem Based Learning Nur Fatimah A 1. Gigit Mujianto A 2 . Kholiq Yudiantoro A 3 Informasi artikel Sejarah Artikel : Diterima Mei 2023 Revisi Juni 2023 Dipublikasikan Juli 2023 Keywords : Model Problem Based Learning. Hasil Belajar. Pendidikan Pancasila. Kurikulum Merdeka How to Cite : Fatimah. Mujianto, , & Yudiantoro. Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila Kurikulum Merdeka Siswa Kelas IB SDN 02 Girimoyo Malang Melalui Problem Based Learning. Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 8. DOI: http://dx. org/10. 9/jpk. ABSTRAK Hasil belajar pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila yang dimiliki oleh siswa kelas 1 SDN 02 Girimoyo Malang nemiliki hasil yang sangat rendah, perihal tersebut di akibatkan karena adanya penerapan kurikulum Merdeka. Penelitian dilakukan untuk dapat menerapkan metode pembelajaran Problem Based Learning dengan tujuan untuk memberikan peningkatan pada hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Pancasila pada siswa Kelas 1 SDN 02 Girimoyo malang. Pengumpulan data dilaksanakan dengan menggunakan Teknik perbandingan dan deskripsi. Terdapat beberapa langkah untuk menerapkan proses pembelajaran yaitu dengan merencanakan, melaksanakan, menganalisis. Berdasarkan hasil dari penelitian di dapatkan bahwa terdapat kenaikan rata-rata sebesar 68,7 dari 14,1 menjadi 82,8. Peningkatan nilai berhasil mencapai 91,3. Berdasarkan hasil penelitian dinyatakan bahwa metode pembelajaran Problem Based Learning akan menjadikan siswa memiliki semangat yang tinggi dalam belajar dan siswa menjadi dapat meahami materi yang diberikan oleh guru. Hasil penelitian menunjukkan metode pembelajaran Problem Based Learning dapat menungkatkan hasil belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di SDN 02 Girimoyo Malang. ABSTRACT Improving Learning Outcomes of Pancasila Education Independent Curriculum for Class I Students Through Problem Based Learning SDN 02 Girimoyo Malang. Learning outcomes in the Pancasila Education subject owned by grade 1 students at SDN 02 Girimoyo Malang have very low results, this matter is due to the implementation of the Merdeka curriculum. The research was conducted to be able to apply the Problem Based Learning learning method with the aim of providing an increase in learning outcomes in the Pancasila Education subject for Class 1 students at SDN 02 Girimoyo Malang. Data collection was carried out using comparison and description techniques. There are several steps to implementing the learning process, namely by planning, implementing, analyzing. Based on the results of the study, it was found that there was an average increase of 68. 7 from 14. 1 to 82. The increase in value managed to reach 91. Based on the results of the study it was stated that the Problem Based Learning learning method would make students have high enthusiasm in learning and students could understand the material provided by the The results showed that the Problem Based Learning learning method could improve the learning outcomes of grade 1 students in the Pancasila Education subject at SDN 02 Girimoyo Malang. Alamat korespondensi: PPG Prajabatan. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang. Indonesia E-mail: nurrfatimah2012@gmail. gigit@umm. kholiqyudiantoro@gmail. Copyright A 2023 Universitas Muhammadiyah Ponorogo PENDAHULUAN Seiring dengan sistem pendidikan Nasional, kurikulum menjadi seperangkat rambu-rambu yang dapat membantu dan mempermudah pendidikan mencapai tujuannya. Hal ini juga tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum Dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran. Kurikulum Merdeka Materi akan lebih baik sehingga siswa memiliki cukup waktu untuk belajar tentang ide-ide dan menjadi lebih baik. Guru dapat memilih dari berbagai cara untuk DOI: http://dx. org/ 10. 24269/jpk. email: jpk@umpo. Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. mengajar, sehingga siswa dapat belajar dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan hobinya. Sebuah tema yang ditetapkan oleh pemerintah digunakan untuk membuat proyek yang membantu siswa memenuhi profil siswa Pancasila. Proyek tidak dimaksudkan untuk memenuhi tujuan pembelajaran tertentu, jadi proyek tidak harus tentang subjek tertentu (Suryani, 2. Pendidikan Pancasila merupakan sebuah Mata pelajaran yang digunakan di kelas mulai tahun pelajaran 2022Ae2023, bersamaan dengan Kurikulum Merdeka yang sebelumnya memiliki nama PPKN. Mata pelajaran Pendidikan Pancasila anak-anak mengembangkan moral dan menunjukkan kepada mereka bagaimana menggunakannya di rumah dan di sekolah. Cara orang mendidik dan dididik dipengaruhi oleh dua faktor. Komponen pertama adalah sesuatu yang dibawa siswa ke meja, dan komponen yang kedua adalah komponen yang di bawa dari luar. Salah satu faktor yang berada di luar pembelajaran adalah pendekatan yang diambil. Jika Anda menggunakannya dengan benar, itu dapat sangat meningkatkan hasil pendidikan Anda. Namun dalam praktiknya, banyak pendidik yang tetap menggunakan format perkuliahan (Hakim & Totalia, 2. Artikel AuPeningkatan Disiplin dan Hasil Belajar PKn Siswa Kelas II Sekolah Dasar Melalui Model Problem Based LearningAy (Prayogo, 2. mengkaji penelitian PBL Temuan investigasi ini diterbitkan dalam Edisi 5 Basicedu. Gagasan di balik pernyataan ini tercermin dalam fakta bahwa ratarata telah meningkat. Dua puluh siswa menyelesaikan siklus I dengan skor 89,95, sedangkan tiga siswa tidak menyelesaikannya dan memperoleh skor 13,15%. Persentase siswa yang berhasil menyelesaikan semua 23 tugas dengan nilai sempurna 100 meningkat dari 87,17 PBL adalah metode pembelajaran yang memfokuskan pada pengalaman belajar yang diarahkan pada pemecahan masalah atau situasi Dalam PBL, siswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah atau situasi nyata melalui diskusi, penelitian, dan refleksi. Dalam konteks pembelajaran Pendidikan Pancasila. PBL dapat membantu siswa memahami materi pelajaran Pancasila secara lebih menyeluruh dan Dalam PBL, siswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah atau situasi nyata yang berkaitan dengan nilai-nilai Pancasila, mengembangkan pemahaman nilai kehidupan dengan baik. (Septiana & Kurniawan, 2. menyatakan bahwa di SD Muhammadiyah Kauman Tahun 2016/2. telah dilaksanakan penelitian tentang model pembelajaran PBL. Kajian ini dipublikasikan dalam Jurnal Fundadikdas (Dasar-Dasar Pendidikan Dasa. Vol. Hasil Pembelajaran No. 1 menunjukkan bahwa siswa kelas 5 berpikir lebih kritis dari sebelumnya. Rata-rata skor sebelum tindakan 12,90%, skor setelah siklus I 51,61% . , dan skor setelah siklus II 70,96% yang menunjukkan hasil yang Ketika siswa diberi tugas yang mengharuskan mereka untuk menggunakan dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis mereka, mereka lebih cenderung mengambil peran aktif dalam pendidikan mereka, keluar dan mencari informasi yang mereka butuhkan, dan bekerja dengan teman sekelas mereka dalam penelitian mereka. Berdasarkan pengamatan dan perbincangan penulis dengan rekan-rekan, khususnya yang mengajar di kelas satu SDN 2 Girimoyo Malang, kenyataan di lapangan pembelajaran tidak berjalan sebagaimana mestinya. Orang berpikir bahwa situasi belajar mengajar seperti ini tidak membantu siswa belajar sebanyak yang mereka Karena permasalahan tersebut, anak-anak Pendidikan Pancasila kelas IB di SDN 2 Girimoyo Malang tidak belajar dengan sebaikbaiknya. Hal ini terlihat dari kriteria ketetapan maksimal (KKM) untuk mata pelajaran Pendidikan Pancasila yaitu 75, dan 55,6% siswa belum mencapai KKM, sedangkan 44,4% sudah. Mengingat kendala ini, sangat penting untuk menerapkan model pendidikan baru dan imajinatif untuk meningkatkan pembelajaran Kreativitas seorang guru bersinar ketika dia memilih pendekatan instruksional yang menarik yang membuat siswanya tertarik dan Siswa yang bersemangat untuk bertanya dan berpartisipasi akan mendapat manfaat terbesar dari model pendidikan yang menekankan kualitas-kualitas ini (Zahra & Widiyanto, 2. PBL adalah metode pengajaran dan pembelajaran keterampilan penting untuk dunia modern, seperti berpikir kritis (Masrinah. Aripin, & Gaffar, 2. Pembelajaran dengan metode PBL merupakan pilihan tepat bagi guru yang ingin meningkatkan pembelajaran siswanya dengan mengajak mereka berpikir kritis dan kreatif tentang cara memecahkan suatu masalah di JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan . Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. Sejalan dengan definisi PBL (Tyas, 2. , yang menggambarkan pendekatan sebagai "metode pengajaran yang memanfaatkan masalah dunia nyata, keterampilan memecahkan masalah, dan pengetahuan dasar dan konsep tentang suatu topik," kita dapat mengatakan bahwa ini pernyataan itu akurat. Penulismenyimpulkan dari data bahwa tujuan akhir model pembelajaran PBL adalah untuk memberikan bekal terhadap siswa dengan perangkat mental yang semakin kompleks. Siswa dapat menjadi lebih terlibat dan akhirnya lebih sukses sebagai hasil dari ini. Dalam prosesnya, siswa ditantang untuk memberikan pandangannya, bekerjasama dengan siswa lain untuk memecahkan masalah dalam kelompok, mengembangkan rasa kepemimpinan, dan mempelajari keterampilan berpikir analitis yang dapat membantu mereka mengembangkan kemampuan penalarannya. Output dari belajar mandiri adalah hasil dari sesuatu yang telah dilakukan, dibuat, atau didapat melalui kerja keras, baik sendiri maupun bersama orang lain, setelah melalui proses (Komariyah Laili. Keterampilan dan keinginan siswa untuk belajar, serta lingkungan sosialnya dan keadaan yang diatur oleh guru, memengaruhi seberapa baik mereka belajar (Christina & Kristin, 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat belajar lebih banyak tentang bidang pendidikan, terutama tentang bagaimana memilih cara belajar yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Memudahkan untuk belajar tentang sains, dan dapat digunakan di area yang tepat. Sebagai untuk belajar keterampilan proses dan mendapatkan hasil yang baik pada akhirnya. Ini juga dapat digunakan sebagai cara yang menyenangkan dan mudah untuk mengajarkan informasi. Hasil penelitian ini dimaksudkan untuk membantu meningkatkan pembelajaran di kelas, mengangkat derajat sekolah yang dipelajari, dan membantu sekolah lain melakukan hal yang sama. Seorang guru dapat memperhatikan langkah-langkah dalam proses pembelajaran, melaksanakannya, mengamati dan menemukan apa yang terjadi, serta menganalisis dan Dalam melaksanakan pembelajaran, guru dapat mengaplikasikan teknik Problem Based Learning sehingga siswa dapat terlibat aktif . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan dalam pembelajaran. Dalam mengamati dan menemukan apa yang terjadi, guru dapat melakukan observasi terhadap siswa dalam Kemudian, guru dapat melakukan analisis dan merefleksi apa yang terjadi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. METODE Penelitian tindakan kelas merupakan jenis penelitian praktis yang melihat permasalahan yang dihadapi guru di kelas dan mengambil langkah-langkah untuk memperbaikinya. Hasil belajar dapat langsung digunakan oleh guru untuk memecahkan masalah belajar mengajar dan menjadikan guru lebih profesional dalam proses belajar mengajar (Farhana & Awiria. Penulis melakukan penelitian tindakan kelas di SDN 2 Girimoyo Malang. Sebanyak 27 siswa yang mengikuti penelitian ini merupakan siswa kelas IB dan berada pada semester gasal tahun ajaran 2022Ae2023. Fokus kajiannya adalah seberapa baik siswa mempelajari Pendidikan Pancasila dan mata pelajaran lain dalam kurikulum merdeka. Pada penlitian ini menggunakan tahap menjadi 2 siklus yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus memiliki empat melaksanakan tindakan, mengamati tindakan, dan memikirkan tindakan. Penelitian ini menggunakan dua metode: . Pada siklus berkelompok, sedangkan pada siklus kedua indikator dimaksudkan untuk mendorong masyarakat untuk belajar sendiri. metode yang tidak menggunakan tes, seperti mengamati siswa dan berbicara dengan mereka dan gurunya. Lembar pengamatan merupakan tempat informasi dari temuan akan ditulis. Observasi terstruktur digunakan, yang berarti bahwa semua upaya penelitian telah menetapkan kerangka kerja dengan faktor-faktor yang telah dimasukkan ke dalam kelompok. Area di mana informasi pengamatan dapat digunakan telah ditetapkan dan sangat kecil. Manfaatnya adalah: Data hasil pengamatan lebih akurat karena berasal dari pengukuran langsung. Data observasi ini menunjukkan hal yang berbeda tentang siswa. Penulisberusaha membuat lembar pertanyaan dan observasi agar dapat memperoleh informasi yang benar. Pertanyaan berdasarkan apa yang menjadi tujuan Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. pembelajaran, dan lembar observasi berdasarkan apa yang dilihat. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil dari penelitian meliputi dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Siklus I Siklus I berjalan seperti yang diharapkan, sekitar pertengahan November 2022 di ruang kelas IB SDN 02 Girimoyo Malang. Ada dua pertemuan 30 menit, yang diatur berdasarkan situasi pembelajaran dan modul pengajaran. Halhal materi yang dimiliki keluarga dan teman di rumah dan di sekolah menunjukkan siapa diri Tindakan dari Siklus I yang berkaitan dengan pemahaman keluarga dan teman Kemudian, siswa diberi tahu apa yang perlu mereka ketahui dengan menunjukkan materi dan memasukkan mereka ke dalam kelompok belajar. Penulis dan guru model mengamati bagaimana siswa mempelajari Pendidikan Pancasila melalui metode Problem Based Learning di kelas IB SDN 02 Girimoyo Malang selama di kelas dan melakukan kegiatan Kemudian, siswa disuruh pergi ke kelompoknya dan mengerjakan soal bersama. Setiap kelompok nantinya harus menunjukkan hasil pekerjaannya. Kemudian diadakan evaluasi bagi siklus I. Melalui kegiatan ini digunakan metode Problem Based Learning untuk menunjukkan bagaimana proses pembelajaran Pendidikan Pancasila berjalan dan bagaimana tindakan yang harus dilakukan. Berdasarkan hasil kajian tentang bagaimana proses belajar mengajar itu dilaksanakan, diperoleh informasi sebagai berikut tentang apa yang dilakukan siswa selama belajar mengajar: 74% siswa benar-benar terlibat dalam tugas pertama dalam memberikan persepsi, sedangkan 27% dari siswa lain tidak dapat berkonsentrasi pada awal pembelajaran. 77% siswa dapat bekerja sama dalam tugas inti selama kerja kelompok, sedangkan 22% tidak dapat Ini karena siswa merasa harus bergantung pada siswa lain untuk mencari tahu bagaimana menyelesaikan masalah, dan karena siswa tidak termotivasi. 66,67% siswa terlibat dalam pembelajaran dengan memberikan pandangan dan mengajukan pertanyaan. Sedangkan 33,33% lainnya tidak terlalu memperhatikan dan tidak banyak memahami apa yang diajarkan. Berdasarkan apa yang telah dilakukan siswa, terlihat bahwa 81,48% sudah paham dan dapat mengerjakan soal pada lembar kerja siswa (LKPD) dan mendapat nilai KKM 75 ke atas, 18,52% menyelesaikan soal pada soal. diberikan LKPD. Dan dari hasil observasi dan analisis yang telah dilakukan, terlihat jelas bahwa metode Problem Based Learning merupakan cara terbaik untuk membantu siswa belajar pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Fakta bahwa nilai ratarata ulasan kelas meningkat dari pra-siklus ke siklus I menunjukkan hal ini. Sebelum digunakan metode Problem Based Learning di kelas Pendidikan Pancasila, rata-rata nilai evaluasi kelas adalah 68,7. Setelah metode ini digunakan, rata-rata evaluasi kelas naik menjadi 82,8. Dari total 27 siswa, 21 mendapat skor lebih tinggi dari bilah 75 poin untuk ketuntasan. Namun indikator keberhasilan siklus I belum mencapai target 85%, hanya 77,7% siswa yang mendapat nilai di atas 75, sedangkan 22,3% siswa lainnya masih belum tuntas. Hal ini terjadi karena sebagian siswa masih belum paham dan pembelajaran sehingga beberapa hal harus disampaikan kembali. Berdasarkan penelitian yang terdapat pada siklus I masih terdapat beberapa permasalahan. Masalah-masalah ini dibicarakan dengan para pengamat, dan mereka semua sepakat bahwa siklus II harus dilakukan sebagai tindak lanjut. Melalui metode Problem-Based Learning, dapat dikatakan bagaimana pelaksanaan tugas proses belajar mengajar pada siklus II. Siklus II Kegiatan perencanaan tindakan siklus II akan dilaksanakan pada akhir November 2022 di ruang kelas IB SDN 02 Girimoyo Malang. Tindakan dari siklus II dilakukan sesuai rencana. Ada dua pertemuan 30 menit, yang diatur berdasarkan situasi pembelajaran dan modul Menerapkan tindakan dari siklus II hampir sama dengan menerapkan tindakan dari siklus I. Bedanya hanya masih ada yang perlu diperbaiki dari tindakan I pada tindakan II. Pada pertemuan siklus II, siswa diberi tahu tentang materi dan diperlihatkan cara kerjanya dengan mengajukan pertanyaan dan mendapatkan Video pembelajaran juga ditampilkan. Setelah itu, siswa mengerjakan soal secara terpisah dan berkelompok dengan menggunakan metode yang sama seperti pada siklus I. Kegiatan diskusi dan presentasi juga dilakukan berdasarkan hasil kerja kelompok, dengan siswa dari kelompok lain memberikan tanggapan. Kegiatan ini dipadankan dengan sesi tanya JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan . Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. jawab yang lebih efektif untuk membantu pemahaman siswa, dan Siklus II diakhiri dengan evaluasi akhir agar hasil pembelajaran dapat langsung terlihat. Dalam pelaksanaan tindakan II, telah dijelaskan secara rinci jalannya proses pembelajaran Pendidikan Pancasila melalui metode Problem Based Learning. Terdapat 92,60% siswa benar-benar terlibat dalam tugas pertama dalam memberikan persepsi, sedangkan 7,4% siswa kurang memperhatikan pada awal Selama tugas kerja kelompok, 88,89% siswa bekerja sama pada kegiatan inti, sedangkan 11,1% tidak dapat bekerja sama. Ini karena siswa merasa harus bergantung pada siswa lain untuk mencari tahu bagaimana menyelesaikan masalah, dan karena siswa tidak 85,18% siswa terlibat dalam pandangan dan mengajukan pertanyaan. Sejumlah 14,82% memiliki sifat yang pasif. Berdasarkan hasil pekerjaan siswa terlihat bahwa 92,6% siswa atau sebanyak 25 dari 27 siswa dapat memahami dan mengerjakan soal LKPD serta mendapatkan nilai berdasarkan KKM dengan skor 75 ke atas. Sisanya 7,4% siswa belum mampu menyelesaikan soal LKPD yang diberikan. Berdasarkan hasil observasi dan analisis siklus kedua, jelas bahwa dengan menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) dapat membantu siswa belajar lebih banyak dan lebih baik dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila. Pada siklus II rata-rata nilai evaluasi anak kelas IB naik dari 82,8 menjadi 91,3. Pada siklus I menjadi 82,8. Sebanyak 25 dari 27 siswa dinyatakan selesai karena memenuhi hasil belajar di atas kriteria standar jumlah siswa maksimal kelompok tuntas yaitu 75. Hal ini tentunya memudahkan dalam penggunaan Soal Metode Pembelajaran Berbasis (PBL) dalam tugas belajar mengajar karena siswa tahu cara menggunakannya dan sudah terbiasa. Dari hasil review tersebut terlihat jelas bahwa metode Problem Based Learning (PBL) digunakan dengan sukses dan memuaskan pada siklus II, sehingga tidak perlu melanjutkan ke siklus berikutnya. Pengamat melakukan analisis berikut berdasarkan apa yang dia lihat dan bagaimana dia memahami apa yang terjadi pada siklus II: Saat mengajar, guru lebih menguasai kelas dan dapat memberikan perhatian penuh kepada semua siswa. Jumlah siswa yang tertarik dan berkontribusi pada pendidikan mereka terus . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan Siswa telah berhenti terlibat dalam perilaku tidak sehat dan lebih banyak terlibat dalam proyek dan presentasi kelompok. Tindakan berbasis refleksi didasarkan pada apa yang telah diamati dan dipertimbangkan. Hal ini terlihat dari tabel 1: Tabel 1. Penerapan Model PBL Presentase Capaian Aspek yang Peningka Siklus Siklus Pemberian Masalah Pembagian Kelompok Pengarahan Diskusi Kelompok Penyelesaian Masalah Refleksi atau Evaluasi Rata Ae rata 94,4% 13,4% (Sumber: Data primer yang diolah, 2. Tabel 1 menunjukkan bahwa selama siklus I, guru menghabiskan 74% waktunya untuk mengajukan masalah kepada siswa, 88% waktunya membagi siswa ke dalam kelompok, 85% waktunya membimbing siswa melalui diskusi, 81% waktunya memecahkan masalah, dan 81 % dari waktu mereka mencerminkan atau mengevaluasi kinerja mereka. Proporsi pertanyaan yang diajukan naik 22% menjadi 96% pada siklus kedua. aspek pembagian kelompok mengalami peningkatan sebesar 8% menjadi 96%, aspek pengarahan diskusi kelompok mengalami peningkatan sebesar 7% menjadi 92%, aspek penyelesaian masalah mengalami peningkatan sebesar 15% menjadi 94,4% dan aspek refleksi atau evaluasi mengalami peningkatan pula sebesar 15% menjadi 92%. Hasil data pada tabel 1 dapat digambarkan pada gambar 1 sebagai berikut: Siklus I Siklus II Gambar 1. Diagram Penerapan Model PBL Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. Berdasarkan diagram tindakan guru di atas terlihat bahwa dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan pemberian soal sebesar 22%, dari 74% menjadi 95%, dan peningkatan pembagian kelompok sebesar 8%, dari 88% menjadi 96%. Dari siklus I ke siklus II persentase orang yang dapat memimpin diskusi kelompok meningkat sebesar 7%, dari 85% menjadi 92%. Persentase orang yang bisa menyelesaikan masalah naik 15%, dari 81% menjadi 96%, dan persentase orang yang bisa merefleksi atau mengevaluasi naik 15%, dari 77% menjadi 95%. Minat Tabel 2. Minat Belajar Siswa Presentase Peningkatan Capaian Aspek yang Siklus Siklus Perasaan Senang Ketertarikan Belajar Rasa Keterlibatan Rasa Perhatian Rata Ae rata (Sumber: Data primer yang diolah, 2. Berdasarkan hasil tabel 2 minat belajar siswa terlihat bahwa pada siklus I 81% siswa senang, 85% tertarik belajar, 77% terlibat, dan 74% khawatir. Pada siklus II persentase siswa yang senang naik 11% menjadi 92%, persentase yang berminat belajar naik 11% menjadi 96%, persentase yang terlibat naik 15% menjadi 92%, dan persentase yang khawatir turun 11% menjadi 74% Gambar tersebut menunjukkan bagaimana hasil data pada Tabel 2 ternyata: Siklus I Siklus II Gambar 2. Diagram Minat Belajar Siswa Keterangan: A. Perasaan senang. Ketertarikan belajar. Rasa keterlibatan Rasa perhatian tekun. Berdasarkan gambaran minat belajar siswa di atas terlihat bahwa dari siklus I ke siklus II kebahagiaan siswa naik 11%, dari 81% menjadi 91%, dan minat belajar siswa naik 11%, dari 85% hingga 96%. Dari siklus I ke siklus II persentase orang yang merasa terlibat naik 15% dari 77% menjadi 92% dan persentase orang yang merasa khawatir naik 22% dari 74% menjadi 96%. Tabel 3. Motivasi Siswa Presentase Capaian Aspek yang Peningka Siklus Siklus Tanggung Kolaborasi Kemauan Memecahkan Mandiri Kreatif Tekun Rata Ae rata (Sumber: Data primer yang diolah, 2. Tabel 3 menunjukkan bahwa pada siklus I siswa termotivasi oleh faktor-faktor sebagai berikut: tanggung jawab 74%, kerjasama kelompok 88%, kemauan belajar 85%, pemecahan masalah 88%, kemandirian 74%, kreativitas 86%, dan kreativitas 88%. keras 81% sedangkan pada Siklus II aspek tanggung jawab mengalami peningkatan sebesar 18% menjadi 92%, aspek kolaborasi kelompok mengalami peningkatan sebesar 4% menjadi 92%, aspek kemauan belajar peningkatan sebesar 7% menjadi 92%, aspek memecahkan masalah mengalami peningkatan sebesar 4% menjadi 92%, aspek mandiri mengalami peningkatan sebesar 22% menjadi 96%, aspek kreatif mengalami peningkatan sebesar 11% menjadi 96%, dan aspek tekun mengalami peningkatan pula sebesar 7% menjadi 88%. Hasil data pada tabel 3 dapat digambarkan pada diagram sebagai berikut: JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan . Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. Siklus I Siklus II A B C D E F G Gambar 3. Diagram Motivasi Siswa Keterangan: A. Tanggungjawab. Kolaborasi kelompok. Kemauan belajar. Memecahkan masalah. Mandiri. Kreatif. Tekun Dari diagram motivasi siswa di atas dapat dilihat bahwa dari siklus I ke siklus II rasa tanggung jawab siswa tumbuh sebesar 18%, dari 74% menjadi 92%, dan rasa kerjasama kelompok tumbuh sebesar 4%, dari 88% menjadi Proporsi orang yang ingin belajar naik dari 86% menjadi 92% antara siklus pertama dan Persentase soal yang diselesaikan dengan benar meningkat dari 88% pada siklus pertama menjadi 92% pada siklus kedua. Persentase kemandirian penduduk siklus II meningkat dari 74% pada siklus I menjadi 96% pada siklus II. Kreativitas naik 11% dari siklus I ke siklus II, dari 85% menjadi 96%, dan etos kerja naik 7%, dari 81% menjadi 88%. Berdasarkan hasil Tabel 4 Partisipasi Belajar Siswa terlihat bahwa pada Siklus I aspek komunikasi dan persepsi 74%, aspek kerjasama dan diskusi kelompok 77%, aspek presentasi 85%, aspek mengungkapkan. pendapat 70%, aspek bertanya 74%, dan aspek mengerjakan soal/tugas 85%. Pada Siklus II aspek komunikasi dan persepsi 74%, aspek kerjasama dan diskusi kelompok 77%, dan aspek presentasi 85%. komunikasi dan apersepsi peningkatan sebesar 11% menjadi 88%, aspek kerjasama dan diskusi kelompok mengalami peningkatan sebesar 15% menjadi 92%, aspek presentasi mengalami peningkatan sebesar 11% menjadi 96%, aspek mengemukakan pendapat mengalami peningkatan sebesar 15% menjadi 85%, aspek mengajukan pertanyaan mengalami peningkatan sebesar 14% menjadi 88%, dan mengerjakan soal/tugas mengalami peningkatan pula sebesar 11% menjadi 96%. Hasil data pada tabel 4 dapat digambarkan pada diagram sebagai Siklus I Siklus II Tabel 4. Partisipasi Belajar Siswa Presentase Capaian Aspek yang Peningka Siklus Siklus Komunikasi dan apersepsi Kerjasama dan diskusi Presentasi Mengemuka kan pendapat Mengajukan Mengerjakan soal/tugas Rata Ae rata 5% 90. (Sumber: Data primer yang diolah, 2. JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan A B C D E F Gambar 4. Partisipasi Belajar Siswa Keterangan: A. Komunikasi dan apersepsi. Kerjasama dan diskusi kelompok. Presentasi. Mengemukakan pendapat. Mengajukan pertanyaan. Mengerjakan soal/tugas Diagram partisipasi belajar siswa di atas menunjukkan bahwa antara siklus I dan II, komunikasi dan persepsi siswa meningkat sebesar 11% . % menjadi 88%) dan kerja sama serta diskusi kelompok meningkat sebesar 15% . % menjadi 92%). Presentasi meningkat sebesar 11% antara siklus I dan II, meningkat dari 85% menjadi 96%. Lima belas persen meningkatkan kemampuan membaca pikiran mereka dari siklus I ke siklus II, dari 70 persen menjadi 85 persen. Dari siklus I ke siklus II, persentase orang yang bertanya naik 14%, dari Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. 74% menjadi 88%, dan persentase orang yang mengerjakan soal atau tugas naik 11%, dari 85% menjadi 96%. Tabel 5. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Presentase Capaian Aspek yang Siklus I Siklus II Tuntas Tidak tuntas Jumlah (Sumber: data primer yang diolah, 2. 21 dari 27 siswa sudah menyelesaikan semua kegiatan pada siklus I seperti terlihat pada tabel ketuntasan siswa 5 di atas, sedangkan 6 dari 27 siswa belum menyelesaikan semua kegiatan pada siklus I. Dua puluh lima dari 27 siswa sudah menyelesaikan semua tindakan yang diperlukan untuk siklus II, sementara hanya dua yang belum. Berikut adalah penjelasan skematis dari informasi yang disajikan pada tabel Tuntas Tidak tuntas siklus I siklus II Gambar 5. Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Gambar 5 menunjukkan hasil seberapa banyak siswa telah belajar. Pada siklus I, 21 siswa sudah menyelesaikan tindakannya, sedangkan 6 dari total 27 siswa belum selesai. Pada siklus II, 25 siswa sudah menyelesaikan tindakannya, sedangkan 2 dari total 27 siswa belum selesai. Pembahasan Dengan menggunakan model ProblemBased Learning (PBL), pembelajaran tindakan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dengan cara yang unik dan kreatif serta membuat para guru menjadi lebih inovati dalam memberikan pembelajaran bermakna bagi para anak didiknya. Penelitian ini terdiri dari tiga iterasi yang masing-masing mengikuti prosedur yang sama. Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari dua tahap. Merencanakan, melaksanakan, mengamati, dan menganalisis serta merefleksi hasil siklus adalah empat bagian penyusunnya. Para siswa adalah titik fokus dari desain instruksional ini. Tugas guru adalah membantu dan mendorong siswa agar mereka berperan aktif dalam pembelajaran di kelas. Cara baru untuk mengajar dan belajar adalah melalui pembelajaran berbasis masalah. Ketika seorang guru bertindak sebagai pemandu dan motivator di kelas, siswa lebih mungkin untuk belajar. Hal ini dikarenakan siswa akan lebih peduli terhadap pendidikannya sendiri dan lebih cenderung berperan aktif dalam setiap langkah proses Temuan penelitian ini memberikan dukungan teoretis pada klaim bahwa Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) adalah pendekatan pendidikan berdasarkan keyakinan bahwa pertanyaan memberikan lahan subur untuk elaborasi, kolaborasi, berfikir kritis dan konsolidasi pengetahuan (Cahyo, 2. Siswa dapat memecahkan masalah dan memperoleh pengetahuan baru melalui pembelajaran berbasis masalah (PBL). Menurut (Nuraini, 2. , siswa PBL pengetahuannya dalam situasi dunia nyata. Secara individu atau kelompok, siswa berlatih membingkai masalah, organisasi masalah, penyelidikan masalah, pengumpulan dan analisis data, penataan fakta, dan argumentasi. Siswa didorong untuk berpikir kritis dan berkolaborasi dengan teman sebayanya melalui penggunaan model pembelajaran yang nyata. Siswa mendapatkan kepercayaan diri dan lebih mampu mengatasi masalah sebagai hasilnya. Jika siswa memiliki lebih banyak keyakinan pada diri mereka sendiri, mereka akan lebih mungkin untuk berperan serta dalam kelas dan menerapkan apa yang mereka pelajari. Mereka akan termotivasi untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah mereka dan sebagai hasilnya, mereka merasa bisa melakukan lebih baik dari sebelumnya di kelas. Persentase siswa mencapai hasil belajar yang diinginkan meningkat dari 77,7% pada siklus I . tau sebanyak 21 dari 27 yang tunta. menjadi 92,5% pada siklus II . tau sebanyak 25 siswa dari 17 siswa yang tunta. Berdasarkan langkah-langkah membuat pembelajaran Pendidikan Pancasila menjadi relevan dan menyenangkan sehingga siswa dapat belajar lebih banyak pada mata JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan . Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. pelajaran Pendidikan Pancasila. Ini juga dapat membantu guru melakukan pekerjaan mengajar yang lebih baik dengan cara yang sukses dan SIMPULAN Dalam penelitian ini, model Problem Based Learning digunakan dalam dua cara yang Setiap siklus memiliki dua pertemuan, dan setiap pertemuan memiliki empat kelompok 30 menit. Pembelajaran berbasis masalah telah terbukti meningkatkan seberapa baik siswa belajar secara umum. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya siswa yang memperoleh nilai Selama siklus I, rata-rata seluruh kelas adalah 82,8. Rata-rata sebelum siklus I adalah 68,7 sehingga terjadi peningkatan sebesar 14,1. Dua puluh satu dari dua puluh tujuh siswa pada siklus I membuat keputusan setinggi mungkin sebesar 77%. Jumlah siswa yang mencapai kriteria penentuan maksimal meningkat sebesar 8,5 poin persentase, dan nilai rata-rata kelas meningkat sebesar 8,5 poin persentase, baik pada siklus II. Dua puluh lima dari dua puluh tujuh . tau 92,5% dari tota. siswa memenuhi standar tertinggi. Siswa dapat menjadi lebih terlibat, termotivasi, dan berinvestasi dalam pendidikan mereka sendiri ketika model Pembelajaran Berbasis Masalah diterapkan secara metodis. Siswa dihimbau untuk berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan Siswa percaya bahwa mereka belajar lebih banyak ketika mereka berpartisipasi menggabungkan diskusi kelompok, pemecahan masalah, dan presentasi. Siswa akan lebih terlibat, termotivasi, dan aktif di kelas jika mereka diminta untuk memecahkan masalah berdasarkan materi yang dibahas. Konsep pendidikan Pancasila yang ideal dalam meningkatkan hasil belajar melalui model PBL adalah pendidikan yang mengembangkan pemahaman yang mendalam tentang nilai-nilai Pancasila dan kemampuan siswa untuk menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini, model PBL dapat menjadi metode pembelajaran yang efektif untuk Perencanaan pembelajaran dengan model PBL dalam konteks pendidikan Pancasila dapat dilakukan dengan mengikuti langkah-langkah berikut: Pertama. Menentukan masalah atau situasi nyata yang relevan dengan materi Pancasila yang akan dipelajari. Masalah atau situasi tersebut harus menarik perhatian siswa dan dapat . JPK: Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan mengarahkan siswa pada pemahaman nilai-nilai Pancasila yang relevan. Kedua. Mengorganisir siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Setiap kelompok diberikan tugas untuk menyelesaikan masalah atau situasi nyata yang diberikan. Ketiga. Memberikan panduan tentang cara menyelesaikan masalah atau situasi tersebut dan memberikan bahan pembelajaran yang relevan tentang nilai-nilai Pancasila yang terkait dengan masalah atau situasi tersebut. Keempat. Mengawasi dan membimbing siswa dalam proses pembelajaran. Guru harus memastikan bahwa siswa bekerja dengan baik dan memahami materi pembelajaran. Kelima. Mengadakan diskusi kelompok dan presentasi hasil pembelajaran. Setelah siswa memperjelas pemahaman siswa tentang materi Selain itu, guru juga dapat mempresentasikan hasil pembelajaran mereka. Keenam. Evaluasi hasil pembelajaran. Guru harus mengevaluasi hasil pembelajaran siswa dan memberikan umpan balik yang memotivasi siswa untuk belajar lebih baik lagi. Dalam perencanaan pembelajaran dengan model PBL, penting untuk memperhatikan pemilihan masalah atau situasi nyata yang relevan dengan materi pembelajaran Pancasila, serta memberikan panduan yang jelas dan bahan pembelajaran yang relevan. Selain itu, pengawasan dan bimbingan dari guru juga sangat diperlukan untuk memastikan bahwa siswa dapat memahami dan menerapkan nilainilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari Berikut adalah kendala-kendala yang dapat diidentifikasi dalam proses penelitian dan dapat dijadikan dasar untuk merekomendasikan penelitian berikutnya: Pertama. Variabilitas dalam karakteristik siswa: Meskipun penelitian ini dilakukan pada siswa kelas IB SDN 02 Girimoyo Malang, namun karakteristik siswa mungkin berbeda-beda pada kelas dan sekolah Hal ini dapat mempengaruhi hasil belajar siswa dan perlu diperhatikan dalam penelitian selanjutnya. Kedua. Pengaruh variabel luar: Terdapat faktor-faktor luar yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa, seperti lingkungan keluarga dan kondisi kesehatan. Hal ini perlu diperhatikan dan diidentifikasi dalam penelitian selanjutnya agar dapat dihitung pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa. Fatimah, dkk | Peningkatakan Hasil Belajar Pendidikan Pancasila. Ketiga. Keterbatasan jumlah sampel: Penelitian ini dilakukan pada satu kelas saja dengan jumlah siswa yang terbatas. Hal ini dapat membatasi generalisasi hasil penelitian pada populasi yang lebih luas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan jumlah sampel yang lebih banyak atau pada beberapa sekolah yang berbeda untuk memperluas generalisasi hasil penelitian. Dalam penelitian selanjutnya, hendaknya diupayakan untuk mengatasi kendala-kendala yang ditemukan dalam penelitian sebelumnya agar hasil penelitian lebih akurat dan UCAPAN TERIMA KASIH Puji dan syukur Penulis berdoa semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati saya dan para penulislain membantu menyelesaikan jurnal artikel penelitian tindakan kelas ini. Studi tindakan di kelas ini sudah selesai, tapi ini bukan Sebaliknya, itu adalah pelajaran untuk awal yang baik dalam hidup. Hal terbaik yang dapat dilakukan penulis untuk orang-orang yang telah banyak membantunya adalah menunjukkan rasa terima kasih. Jadi, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada: Pertama. Kepada Allah SWT, sumber rahmat dan karunia yang tiada hentinya, yang telah memungkinkan penulismenyelesaikan penelitian tindakan kelas ini dengan menjadikan segala sesuatunya lebih sederhana, kuat, dan nyaman. Kedua, kepada keluarga, terutama orang tua dan saudara yang selalu mendukung saya dan mendorong untuk melanjutkan pendidikan. Sehingga sampai pada titik ini. Ketiga, penelitian tindakan kelas ini tidak akan terwujud tanpa bimbingan dan masukan dari Drs. Gigit Mujianto. Si. , sebagai Pembimbing. Keempat. Dr. Iin Hindun. Kes selaku Ketua Program PPG Universitas Muhammadiyah Malang. Kelima. Dr. Trisakti Handayani. MM. selaku Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Malang. Keenam. Dra. Emy Sulistyaningsih selaku Kepala SDN 2 Girimoyo Malang yang telah mengizinkan kami para mahasiswa PPL PPG Prajabatan gelombang 1 melaukan kegiatan praktik pembelajaran di seolah Ketujuh. Kholiq Yudiantoro. Pd, selaku pembimbing penelitian ini yang banyak sekali membantu dan membimbing sehingga penelitian berjalan sebagai mana mestinya Kedelapan. Lusiana. Pd selaku Guru Kelas IB SDN 2 Girimoyo Malang. yang telah memberi banyak masukan untuk kegiatan selama mengajar siswa kelas IB. Kesembilan. Kepada Sulthan Haidar Rivqi selaku calon suami saya yang selalu memberikan dukungan dan baik secara finansial maupun dukungan moral sehingga saya semangat dalam menyelesaikan penelitian ini Kesepuluh, seluruh rekan kerja Prajabatan PPG 2022 yang selalu memberikan nasehat, motivasi, semangat, dan dukungan dalam kehidupan dan studi sehingga penulisdapat menyelesaikan penelitian. Dengan kekurangan dalam penelitian ini, penulis sangat ingin mendengar masukan, kritik, dan ide-ide bagus untuk pembuatan artikel jurnal yang lebih baik dan lebih baik lagi. Penulis mengalami banyak kesulitan dalam menyusun artikel jurnal ini, namun dengan rahmat Allah SWT, penelitian ini dapat dilakukan dengan baik dan artikel tersebut dapat diterbitkan. Akhir kata, penulis berharap penelitian ini dapat membantu semua orang, dan semoga Allah SWT membalas kebaikan yang telah dilakukan. DAFTAR PUSTAKA