Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Dinamika Penalaran Moral pada Pendidikan Militer Indonesia. Sebuah Studi Kualitatif Indriyani Santoso1. Satria2. Aneiza3 Universitas Negeri Padang indriyani@fpk. Abstract: The purpose of this study is to examine the dynamics of moral reasoning and deference to authority in people with military training. 21 respondents completed an open-ended questionnaire as part of an exploratory qualitative method. The data were analyzed using Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) and triangulated to guarantee the validity of the results. Three primary themes emerged from the study's findings: . the conflict between personal morals and career sustainability, where some respondents chose to uphold moral integrity despite the risk to professional stability, while others were willing to sacrifice personal values for loyalty. obedience as identity and loyalty, where obedience has been internalized as an expression of institutional loyalty and part of collective moral identity. the decision-making process and moral moral disengagement, where the mechanism of shifting responsibility to superiors emerged, but some also showed moral engagement through consideration of intention and context. These results emphasize how crucial ethics education is for security institutions to strike a balance between moral duty and authoritarian discipline. The study's findings suggest that moral courage-based ethics education should strike a balance between moral responsibility and authoritarian discipline. Keywords: obedience, authority, third, moral disengagement, military, moral courage Abstrak (Indonesi. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika moral reasoning dan kepatuhan terhadap otoritas pada individu dengan latar belakang pendidikan militer. Menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif melalui kuesioner terbuka yang diisi oleh 21 responden, data dianalisis dengan Interpretative Phenomenological Analysis (IPA) dan ditriangulasi untuk memastikan keabsahan temuan. Hasil penelitian mengungkap tiga tema utama: . kepatuhan sebagai identitas dan loyalitas di mana kepatuhan telah diinternalisasi sebagai ekspresi kesetiaan institusional dan bagian dari collective moral identity. konflik antara moral pribadi dan keberlangsungan karier di mana beberapa responden memilih mempertahankan integritas moral meski berisiko pada stabilitas profesi, sementara yang lain bersedia mengesampingkan nilai pribadi demi loyalitas. proses pengambilan keputusan dan moral disengagement, di mana mekanisme pengalihan tanggung jawab ke atasan muncul, tetapi sebagian juga menunjukkan moral engagement melalui Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 pertimbangan niat, konteks. Temuan ini menyoroti pentingnya pendidikan etika dalam institusi keamanan untuk menyeimbangkan disiplin otoriter dan tanggung jawab moral. Rekomendasi dari hasil penelitian ini penyeimbangan disiplin otoriter dan tanggung jawab moral melalui pendidikan etika berdasarkan moral courage. Kata kunci: kepatuhan, otoritas, moral disengagement, militer, moral courage Pendahuluan Kepatuhan terhadap otoritas merupakan fondasi utama dalam menuntaskan tugastugas militer. Struktur hirarkis dalam organisasinya dirancang secara rigid dengan sistem komando berlapis, untuk memastikan efektivitas kerja terkait pertahanan negara. Oleh karena itu, kedisiplinan menjadi mutlak dan tidak dapat diganggu gugat. Kepatuhan sendiri didefinisikan sebagai suatu bentuk pengaruh sosial yang diperoleh sebagai respons terhadap perintah langsung dari figur otoritas (Gibson, 2. Dalam dunia militer, tidak ada batasan atau alasan yang dapat mematahkan kepatuhan tersebut, sehingga kepatuhan mutlak terhadap otoritas dapat menimbulkan konsekuensi etis yang serius. Indonesia digemparkan oleh meninggalnya Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J) di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo, yang kemudian terungkap sebagai pembunuhan berencana yang melibatkan ajudannya. Bharada E (Richard Elieze. Richard Eliezer mengakui bahwa aksinya menembak rekannya dilakukan atas dasar mematuhi perintah dari atasannya. Ferdi Sambo (Tim Detik News, 2. Ia menyatakan bahwa dirinya berada dalam tekanan hierarkis, di mana kepatuhan kepada atasan adalah bagian dari kewajiban profesional, meskipun perintah tersebut bertentangan dengan hati nurani dan nilai moralnya. Peristiwa ini menegaskan bahwa kepatuhan struktural memengaruhi tindakan individu dan turut memunculkan konsekuensi etis dari segi institusional. Isu tentang kepatuhan Aututup mataAy menjadi kompleks karena doktrin loyalitas tanpa syarat pada budaya militer dan kepolisian. Sumber daya manusia dalam institusi pertahanan dan keamanan Indonesia berasal dari latar belakang yang beragam. Tidak semua calon perwira berasal dari akademi militer. sebagian direkrut dari masyarakat sipil terdidik melalui jalur Perwira Prajurit Karier (Pa PK) atau Perwira Sumber (Pasi. Dalam rekrutmen TNI Angkatan Darat (TNI AD), jalur Pa PK tetap signifikan: menurut laporan SINDO, sekitar 130 perwira baru di setiap periode penerimaan berasal dari Pa PK reguler, sementara 400 berasal dari Akademi Militer (Sandra Desi Caesaria, 2. Berbeda dengan taruna yang sejak awal dibentuk dalam lingkungan disiplin militer, kelompok ini telah mengalami sosialisasi sipil yang menekankan otonomi intelektual dan kebebasan berpikir. Ketika mereka memasuki dunia militer, terjadi proses transformasi identitas dari civilian self menjadi military self yang sering kali diwarnai konflik nilai (Higate et al. , 2. Beberapa studi menunjukkan bahwa individu dari latar sipil mengalami moral shock pada masa pendidikan dasar militer, terutama ketika Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 dihadapkan pada larangan menolak perintah atau ketika nilai-nilai moral pribadi berbenturan dengan tuntutan loyalitas buta. Selain pendidikan formal militer, terdapat pendidikan militer yang dipraktikkan di lingkungan kampus, dengan tujuan yang sama terkait pertahanan negara. Unit ini dikenal sebagai Resimen Mahasiswa (Menw. Resimen Mahasiswa merupakan salah satu komponen Cadangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang terdiri atas mahasiswa aktif perguruan tinggi di Indonesia, mengikuti pendidikan dan pelatihan militer secara sukarela di luar kurikulum akademik formal (Iskandar & Jacky, 2. Menwa berada di bawah pembinaan Menteri Pertahanan, operasional harian dibina oleh Kodam/Korem setempat, dan secara administratif berkoordinasi dengan rektor atau pimpinan perguruan tinggi. Dari penelitian sebelumnya, disebutkan bahwa latihan-latihan dalam Menwa membentuk karakter mahasiswa dengan disiplin tinggi yang merupakan bagian dari sikap warga negara yang memiliki kesiapan membela negara (Amin, 2021. Faisal & Sulkipani, 2. Pelaksanaan pendidikan militer umumnya memasukkan proses pembentukan ulang identitas seseorang (Kouri, 2. Proses rekonstruksi identitas ini dapat menjadikan individu memiliki kepatuhan buta dan deindividuasi melalui penanaman nilai-nilai baru terkait militerisme, termasuk yang terkait dengan pengambilan keputusan atas nama kepatuhan mutlak. Hal ini menjadi penting, karena sebagai manusia, seseorang perlu mempertimbangkan hati nurani, juga menggunakan akal untuk penerapan moralnya dalam pekerjaan yang sebaiknya dilakukan untuk melandasi keputusannya. Menurut Rest . dalam Moral Development in the Professions, penalaran moral dalam profesi seperti militer atau kepolisian sering kali dipengaruhi oleh norma-norma organisasi yang menekankan efisiensi, loyalitas, dan hierarki (AuMoral Development in the Professions: Psychology and Applied Ethics,Ay 1. Individu dengan pendidikan militer mengembangkan bentuk moralitas profesional yang berbeda dari moralitas sipil. Bila seorang individu patuh pada otoritas, belum tentu ia memiliki pasivitas moral. Kepatuhan berkelanjutan hanya terjadi dalam situasi atau sistem yang mempertahankan otoritas prosedural dan normatif (Finckenauer, 2. Konsep kepatuhan terhadap otoritas telah lama menjadi pusat kajian psikologi sosial, terutama sejak eksperimen (Milgram, 1. yang menunjukkan sejauh mana individu bersedia menaati perintah yang bertentangan dengan nurani mereka. Indonesia, institusi TNI dan Polri dikenal memiliki budaya hierarkis yang kuat, di mana loyalitas terhadap atasan sering kali dianggap sebagai nilai utama. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah bagaimana personel keamanan menyeimbangkan tuntutan kepatuhan dengan pertimbangan moral pribadi dalam situasi dilematis. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Penelitian ini menganalisis bagaimana individu mempertimbangkan perintah atasan dalam situasi dilematis. Hasil menunjukkan adanya ketegangan antara loyalitas institusional dan prinsip moral pribadi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif menggunakan kuesioner open-ended yang diisi secara anonim. Data kuesioner terbuka diisi oleh 21 responden yang berasal dari masyarakat dengan pendidikan militer, yang terdiri dari TNI AU. AL. AD, taruna kepolisian, serta resimen mahasiswa. Adapun responden telah menyatakan kesediaannya menjawab 8 pertanyaan, yang terdiri dari 3 pertanyaan inti. Kuesioner mencakup pertanyaan terbuka seperti: AuBagaimana pendapat Anda dengan kasus Richard Eliezer?Ay AuApa yang Anda lakukan bila berada di posisi seperti pada artikel tersebut?Ay AuSebutkan apa yang menjadi pertimbangan Anda dalam mengambil keputusan untuk mematuhi perintah atasan?Ay Selain pertanyaan inti, terdapat 5 pertanyaan lanjutan atau pelengkap interaktif, seperti mengurutkan kemungkinan respons dan penilaian perilaku diri. Analisis dan interpretasi data pada penelitian ini menggunakan teknik Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Peneliti mengumpulkan semua jawaban responden, kemudian membuat tema superordinate dari kumpulan tema emergen yang memiliki kemiripan makna (Harimurti, 2. Peneliti melakukan triangulasi untuk memastikan keabsahan data dengan membandingkan hasil kuesioner, catatan lapangan, dan literatur terkait, sehingga interpretasi yang dihasilkan dapat dipertanggungjawabkan secara Pendekatan IPA dipilih karena memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap pengalaman hidup dan makna subjektif responden dalam konteks dilema moral (Biggerstaff & Thompson, 2. Metode ini cocok digunakan ketika peneliti ingin memahami bagaimana individu memaknai pengalaman pribadi yang kompleks melalui interpretasi ganda: pertama, responden berusaha memahami pengalamannya. peneliti menginterpretasi upaya pemaknaan tersebut. Hasil dan Diskusi Hasil penelitian menunjukkan bahwa dinamika nilai, kepatuhan, dan pertimbangan moral menjadi elemen sentral dalam proses pembentukan identitas peserta pendidikan Secara umum, responden menempatkan kepatuhan dan loyalitas sebagai bagian utama dari identitas profesional mereka, di mana menaati perintah atasan dianggap sebagai bentuk tanggung jawab moral dan simbol kesetiaan terhadap institusi. Temuan Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 juga mengindikasikan bahwa kepatuhan tersebut tidak bersifat pasif karena sebagian responden menunjukkan refleksi kritis terhadap makna kepatuhan dan batas moral dalam menjalankan perintah. Hal ini memperlihatkan adanya dialektika antara loyalitas institusional dan kesadaran moral personal yang menjadi fondasi penting dalam pembentukan karakter militer modern. Hasil kuisioner terbuka memperlihatkan adanya ketegangan antara nilai disiplin yang menuntut ketaatan penuh dengan nilai moral individu yang mendorong refleksi dan penilaian etis terhadap perintah atau kebijakan. Dalam konteks ini, proses pengambilan keputusan sering kali dipengaruhi oleh interaksi antara faktor struktural . eperti hierarki dan doktrin loyalita. dengan faktor psikologis . aitu integritas moral dan nurani Responden menunjukkan beragam cara dalam menavigasi konflik ini, mulai dari kepatuhan penuh demi keberlangsungan karier, memilih moral dan spiritualitas sebagai pedoman, hingga mengembangkan kriteria moral pribadi dalam menentukan tindakan yang dianggap benar. Keseluruhan hasil ini mengindikasikan bahwa pembentukan etika profesional dalam pendidikan militer tidak hanya bergantung pada doktrin kedisiplinan, tetapi juga pada pembinaan kesadaran reflektif agar individu mampu mengambil keputusan etis secara mandiri tanpa kehilangan loyalitas terhadap institusi. Tema 1: Kepatuhan sebagai Identitas dan Loyalitas Sebagian besar responden mengekspresikan kepatuhan sebagai bagian utama dalam pendidikan militer. Patuh berarti loyal, respek, dan menjunjung tinggi sistem hirarki pada P8 . Mahasisw. AuMenurut saya jika saya di posisi richard saya mungkin akan melakukan hal yang serupa di mana perintah atasan adalah merupakan suatu hal yang mutlakAy. Kemudian P17 . Tentar. memberi pernyataan dengan nada yang kurang lebih sama. AuMenaati perintah atasan walaupun salah karena yang bertanggung jawab adalah atasanAy. P4 . TNI AL) juga menyebutkan doktrin pada jawaabannya. AuKembalikan lagi pada doktrin loyalitas yang saya pegangAy. Kajian tentang loyalitas militer menunjukkan bahwa loyalitas di kalangan mereka dirasakan dan dipahami bersama sebagai emosi moral yang mengikat, di mana anggota merasa memiliki kewajiban timbal-balik terhadap organisasi dan rekan-rekannya (Connor et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa kepatuhan telah diinternalisasi dalam identitas individu dengan pendidikan militer. Proses ini selaras dengan konsep internalized obedience di mana individu mematuhi perintah bukan karena takut hukuman, melainkan karena percaya bahwa ketaatan adalah ekspresi tertinggi dari loyalitas dan penghormatan dalam menjalankan tugas (Whitmeyer et al. , 1. Pemahaman ini kemudian diperkaya oleh (Kelman, 2. , yang menekankan bahwa internalized obedience merupakan hasil dari identifikasi diri yang mendalam dengan nilai-nilai institusi. Hal ini menguatkan perwujudan identitas moral kolektif . ollective moral identit. pada sebuah institusi. Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Teori organisasi menyebut bahwa obedient behaviour atau kepatuhan adalah dimensi dari perilaku warga organisasi (Organizational Obedienc. yang meliputi penerimaan aturan, menghormati struktur, dan menyelesaikan tugas sesuai perintah (AuThe Influence of Loyalty. Participation and Obedience on Organizational Citizenship Behavior,Ay 2. Sedangkan loyalitas organisasi (Organizational Loyalt. memuat identifikasi terhadap organisasi, pembelaan terhadap reputasi organisasi, dan kerjasama untuk tujuan kolektif. Dalam lingkungan pendidikan militer, kepatuhan menjadi perilaku utama yang mencerminkan loyalitas dan respek terhadap institusi, atasan, dan sistem. Bersikap loyal dengan mengikuti perintah menjadi bagian dari identitas diri sebagai anggota institusi. Loyalitas bisa memicu sikap patuh yang cenderung negatif karena dapat mengabaikan tanggung jawab individu yang berlindung di balik organisasinya. Oleh karena itu, institusi pendidikan militer perlu memiliki program untuk menyeimbangkan budaya kepatuhan yang berasal dari loyalitas dengan pembentukan kesadaran kritis terhadap nilai dan norma luhur. Tema 2: Konflik Moral versus Keberlangsungan Karier Tema ini mengungkap dilema moral yang dialami individu ketika nilai-nilai pribadi bertentangan dengan tuntutan disiplin dan keberlangsungan karier dalam institusi yang sangat hierarkis seperti militer. Responden memperlihatkan orientasi moral yang kuat, misalnya P8 . Mahasisw. AuSaya lebih memilih memprioritaskan nilai-nilai moral karena saya yakin apa yang saya tanam itu yang saya tuaiAy. P12 . Polr. dan P20 . Mahasisw. memilih berdoa sebagai bentuk refleksi batin, serta P1 . Gur. AuSaya akan memilih berhenti dari pekerjaanAy jika terjadi konflik nilai. Berarti, bagi sebagian individu, integritas moral memiliki bobot yang lebih besar dibandingkan stabilitas karier atau kepatuhan formal terhadap sistem. Hal ini dapat dijelaskan melalui teori konflik peran (Levinson et al. , 1. , yang menyebutkan bahwa konflik muncul ketika seseorang menghadapi dua tuntutan peran yang tidak dapat dipenuhi secara bersamaan (Stordeur et al. , 2. Dalam konteks ini, anggota institusi berada di antara peran profesional yang menuntut disiplin dan kepatuhan terhadap perintah, serta peran moral yang menuntut kesetiaan terhadap nurani dan prinsip etis pribadi. Konflik nilai seperti ini sering memunculkan moral distress yang didefinisikan sebagai tekanan psikologis yang timbul ketika seseorang tahu apa yang benar, namun terhalang untuk bertindak sesuai keyakinannya (Fourie, 2. Kondisi ini mendorong munculnya pilihan ekstrem seperti berhenti bekerja sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidaksesuaian antara nilai diri dan nilai organisasi. Dari sudut pandang etika kerja dan identitas moral, pada individu berlatar belakang pendidikan militer, penting memiliki kemampuan untuk bertindak berdasarkan pertimbangan moral dalam konteks tertentu (Hussain et al. , 2. Pernyataan P8 . Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 Mahasisw. dan P12 . Polr. menunjukkan proses internalisasi nilai tersebut, di mana keputusan mereka berakar pada keyakinan etis dan spiritual, bukan sekadar pada regulasi eksternal. Tema ini mencerminkan dinamika antara kedisiplinan dalam institusi versus penerapan moral terkait dengan hati nurani. Ketegangan ini mengisyaratkan perlunya keseimbangan antara pembentukan karakter disiplin dan penanaman kesadaran etika reflektif dalam pendidikan militer. Institusi perlu mengintegrasikan pelatihan moral-etik dalam kurikulum agar loyalitas dan kepatuhan tidak menegasikan kemanusiaan. Responden lebih menekankan nilai pribadi. P8 . Mahasisw. AuJika saya berada dalam posisi seperti ini saya lebih memilih memprioritaskan nilai-nilai moral yang ada karena saya yakin apa yang saya tanam itu yang saya tuaiAy. P20 . Mahasisw. dan P12 . Polr. memilih untuk berdoa, dan P12 . Polr. menambahkan bahwa ia akan menyesal karena tidak dapat membanggakan orang tua. Hal tersebut juga dapat dipahami melalui konsep moral identity centrality, yaitu sejauh mana seseorang mendefinisikan dirinya sebagai makhluk moral yang secara intrinsik berkomitmen pada prinsip keadilan, kejujuran, dan kepedulian (Aquino & Americus, 2. Ketika moralitas menjadi bagian sentral dari identitas diri . elf-schem. , individu cenderung mempertahankan integritas etis meskipun dihadapkan pada tekanan sosial atau risiko karier. Sebaliknya, responden mengesampingkan moral atau hati nurani kemungkinan memiliki moral identity yang lebih periferal, di mana nilai moral tidak menduduki posisi inti dalam konstruksi identitasnya, sehingga lebih mudah dikorbankan demi kepentingan instrumental. Tema 3: Decision Making dan Moral Disengagement Proses pengambilan keputusan moral dalam organisasi dapat dikaitkan dengan model empat-langkah dalam etika profesi yang terdiri dari moral awareness, moral judgment, moral intention, dan moral action (Bandura, 1. Ketika responden mempertanyakan AuApakah itu benar untuk dilakukan?Ay P6 . Polis. atau ketika seorang responden tentara mempertimbangkan niat, waktu, tempat, dan cara (P2, 23 tahun. Tentar. , mereka berada dalam tahap moral awareness dan moral judgment. Dalam struktur hierarki militer, tahap moral intention dapat tertahan oleh tekanan struktur. Munculnya konsep moral disengagement (Bandur. relevan karena menjelaskan bagaimana seseorang dapat menonaktifkan pengawasan moral internalnya untuk menjustifikasi perilaku yang bertentangan dengan norma moral. Dalam struktur hierarkis, tekanan untuk tunduk kepada otoritas dapat mengikis kapasitas refleksi moral individu. Moral disengagement dapat muncul ketika individu mengalihkan tanggung jawab ke atasan. P17 . Tentar. AuAperintah atasan A jadi ya ikut saja meskipun tidak sesuai dengan idealismeAy. Ini adalah bentuk displacement of responsibility di mana aktor meyakini bahwa ia hanya melaksanakan Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 perintah dan tidak bertanggung jawab atas hasilnya. Sebaliknya. P2 . Tentar. mempertimbangkan empat hal yaitu niat, waktu, tempat, dan cara yang benar, menunjukkan upaya untuk tetap berada dalam zona moral engagement. P6 . Polis. dan P7 . Mahasisw. mempertanyakan apakah hal itu benar atau masuk Temuan ini mencerminkan dualitas budaya institusi keamanan, di mana kepatuhan menjadi fondasi disiplin tetapi kesadaran akan perlunya akuntabilitas moral tetap ada. Loyalitas kepada atasan dipandang sebagai nomor satu dan kewajiban mutlak, selaras dengan konsep internalized obedience (Whitmeyer et al. , 1. Doktrin seperti Sapta Marga dan Sumpah Prajurit menjadi fondasi etika yang menguatkan norma ini. Hal ini juga selaras dengan argumen dalam buku The Righteous Mind, yang menyatakan bahwa penalaran moral manusia bersifat intuisi-dahulu, alasan-kemudian . ntuition first, reasoning secon. (Haidt, 2. Dalam konteks hierarkis militer, intuisi moral respondenAiseperti loyalty dan authorityAisering kali teraktivasi secara otomatis oleh simbol dan struktur institusi, sehingga menutup ruang bagi pertimbangan rasional berbasis care atau fairness. Misalnya. P17 yang menyatakan Aoikut saja meskipun tidak sesuai dengan idealismeAo kemungkinan mengalami moral dumbfounding: ia tahu ada ketidaksesuaian dengan nilai pribadinya, namun tekanan intuisi kolektif . oyalty to group, respect for authorit. membuat justifikasi moral tetap dirasakan AobenarAo. Sebaliknya. P2 . Tentar. dan P6 . Polis. , yang mempertimbangkan Aoniat, waktu, tempat, caraAo atau mempertanyakan Aoapakah ini benar?Ao, menunjukkan bahwa fondasi care/harm dan fairness/cheating masih aktif dan mampu menantang dominasi intuisi otoritas. Dengan demikian, keputusan etis dalam militer bukan hanya hasil pertimbangan kognitif . oral judgmen. , tetapi juga pertarungan antara sistem intuisi moral yang telah terbentuk Kesimpulan Analisis terhadap 21 responden dari TNI. Polri, dan Menwa menunjukkan tiga pola utama: . kepatuhan sebagai identitas kolektif yang diinternalisasi melalui doktrin dan sosialisasi institusional. konflik antara nilai moral pribadi dan stabilitas karier, di mana sebagian individu mempertahankan moral identity centrality meski berisiko keluar dari serta . variasi dalam proses pengambilan keputusan, mulai dari moral disengagement . isalnya pengalihan tanggung jawab ke atasa. hingga moral engagement . ertimbangan niat, konteks, dan keadilan prosedura. Temuan ini menegaskan bahwa kepatuhan bukan sekadar pasivitas, melainkan sebuah praktik yang dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara struktur hierarkis, tahap perkembangan moral, dan kekuatan identitas moral individu. Temuan ini menyoroti pentingnya pendidikan etika dalam institusi keamanan untuk menyeimbangkan disiplin otoriter dan tanggung jawab moral. Sehingga salah satu strategi efektif adalah penerapan pelatihan moral courage, (Hannah et al. , 2011. Olsthoorn, 2. berbasis simulasi dilema etis kontekstual, di mana calon personel dihadapkan pada Journal of Citizenship Volume 4. Issue 2. November 2025 E-ISSN 2829-6028 skenario nyata dan diminta memutuskan tindakan sambil mempertimbangkan konsekuensi hukum, moral, dan psikologis. Referensi