Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan Kinerja Guru di SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein Kota Kupang Asbin Umbu Deta*. Heryon Bernard Mbuik. Kristina E. Nahak PGSD. Universitas Citra Bangsa. Indonesia *Coresponding Author: umbudeta677@gmail. Dikirim: 19-05-2025. Direvisi: 21-06-2025. Diterima: 23-06-2025 Abstrak: Penelitian ini didasari oleh urgensi dalam meningkatkan mutu kinerja guru melalui penerapan sistem manajemen sekolah yang efisien dan melibatkan partisipasi aktif. Pendekatan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memberikan kewenangan kepada sekolah untuk mengatur sumber daya secara mandiri serta melibatkan guru dalam proses pengambilan Tujuan utama dari penelitian ini adalah menganalisis sejauh mana pengaruh penerapan MBS terhadap kinerja guru di SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein di Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif kausal. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran angket dengan teknik sampling jenuh, yang melibatkan seluruh populasi berjumlah 30 guru. Hasil analisis menunjukkan adanya korelasi yang sangat kuat antara implementasi MBS dan peningkatan kinerja guru. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan MBS menjelaskan 97,7% variasi dalam kinerja guru, meliputi aspek perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan MBS yang optimal secara langsung mendorong peningkatan profesionalitas dan performa guru di tingkat sekolah dasar. Penguatan prinsip manajemen partisipatif menjadi langkah strategis untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan secara konsisten dan berkelanjutan. Kata Kunci: Manajemen Berbasis Sekolah. Kinerja Guru. Sekolah Dasar Abstract: This study is grounded in the urgent need to enhance the quality of teacher performance through the implementation of an efficient and participatory school management The School-Based Management (SBM) approach grants autonomy to schools in managing their resources independently while actively involving teachers in the decisionmaking process. The primary objective of this research is to examine the extent to which SBM implementation influences teacher performance at SDI Kuanino 3 and SDN 2 Fontein in Kupang City. This research adopts a quantitative approach with a causal associative research Data were collected using a saturated sampling technique through the distribution of questionnaires to the entire population of 30 teachers. The results of the analysis reveal a very strong correlation between SBM implementation and improved teacher performance. The findings indicate that SBM accounts for 97. 7% of the variance in teacher performance, encompassing planning, implementation, and evaluation of learning activities. Therefore, the study concludes that optimal implementation of SBM directly contributes to enhancing teacher professionalism and performance at the elementary school level. Strengthening participatory management principles is thus identified as a strategic step toward consistently and sustainably improving the quality of education. Keywords: School Based Management. Teacher Performance. Elementary School @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA PENDAHULUAN Pendidikan merupakan faktor strategis dalam pembangunan sumber daya Di era saat ini, kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh sarana dan prasarana, melainkan lebih pada kemampuan institusi pendidikan dalam mengembangkan kompetensi dan profesionalisme sumber daya manusianya, khususnya guru. Guru memiliki peran sentral dalam membentuk generasi penerus yang unggul dan berdaya saing, sehingga peningkatan kinerja guru menjadi kunci bagi peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh (Nitte & Bulu, 2. Kinerja guru dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal seperti motivasi dan kompetensi, maupun eksternal seperti dukungan manajemen sekolah (Mulyasa, 2. Salah satu strategi manajerial yang digunakan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan di sekolah adalah penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) memberikan otonomi yang lebih besar kepada satuan pendidikan dalam mengelola sumber daya secara mandiri dan efisien. Pendekatan ini menekankan pengambilan keputusan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai unsur penting dalam komunitas sekolah, termasuk guru, kepala sekolah, orang tua, serta pemangku kepentingan lainnya. Keterlibatan multipihak ini memungkinkan terwujudnya sistem manajemen yang partisipatif dan responsif terhadap kebutuhan lokal (Nahak et al. MBS merupakan bentuk desentralisasi dalam sistem pendidikan yang bertujuan untuk memperkuat efisiensi operasional, relevansi program, dan akuntabilitas institusi pendidikan (Caldwell & Spinks, 2. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkholis . , pendekatan ini memungkinkan pengelolaan sekolah dilakukan secara lebih adaptif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat setempat. Dengan menerapkan MBS, sekolah diharapkan mampu menyesuaikan kebijakan, pengembangan kurikulum, serta metode pembelajaran sesuai dengan kondisi lokal dan karakteristik siswa (Fina, 2. Implementasi MBS di berbagai satuan pendidikan masih menghadapi beragam Rendahnya partisipasi warga sekolah dalam pengambilan keputusan, keterbatasan pelatihan guru, serta kurangnya inovasi dalam proses pembelajaran menjadi hambatan signifikan (Amiruddin & Munirah, 2. Penelitian oleh Faiz et , . menunjukkan bahwa penerapan MBS seringkali belum diiringi dengan peningkatan kapasitas manajerial kepala sekolah dan pemberdayaan guru secara Selain itu, kepala sekolah sebagai pemimpin manajerial sekolah belum sepenuhnya menjalankan peran strategisnya secara optimal, termasuk dalam mendukung peningkatan kapasitas dan motivasi guru. Menurut Mbuik . , kepemimpinan sekolah yang efektif merupakan faktor kunci dalam keberhasilan implementasi MBS, terutama dalam mengelola perubahan dan meningkatkan kualitas Peran kepala sekolah dalam kerangka MBS tidak terbatas pada fungsi administratif semata, melainkan mencakup peran sebagai pemimpin visioner yang tidak hanya menetapkan arah strategis sekolah, tetapi juga mampu menginspirasi, memotivasi, dan membangun kolaborasi di antara seluruh warga sekolah (Setiawan et , 2. Kepala sekolah yang menjalankan kepemimpinan berbasis visi berperan penting dalam menciptakan iklim kerja yang kondusif, mendukung inovasi, serta mendorong guru untuk terus mengembangkan profesionalisme dan kualitas pembelajaran, membangun iklim pembelajaran yang sinergis dan produktif. Kualitas @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA kinerja guru sangat dipengaruhi oleh dukungan kepemimpinan kepala sekolah, termasuk dalam aspek perencanaan program peningkatan kompetensi, supervisi kegiatan pembelajaran, serta pembentukan budaya kerja yang kondusif. Gaya kepemimpinan transformatif yang dijalankan oleh kepala sekolah berkontribusi dalam memperkuat rasa percaya diri dan dedikasi guru terhadap tanggung jawab profesional mereka (Sianturi, 2. Meskipun sejumlah kebijakan telah diarahkan untuk mendukung MBS, bukti empiris mengenai hubungan antara penerapan MBS dan peningkatan kinerja guru masih terbatas. Banyak studi berfokus pada konsep dan kebijakan MBS, tetapi sedikit yang mengevaluasi dampaknya secara langsung terhadap aspek kinerja guru, seperti perencanaan, pelaksanaan, evaluasi pembelajaran, serta pengembangan profesional Di sisi lain, tantangan implementasi MBS sering kali terletak pada minimnya indikator yang terstandarisasi untuk menilai keberhasilan manajemen sekolah dalam mendukung kinerja guru (Hidayatullah, 2. Selain itu, belum ada ukuran atau indikator yang baku dan kontekstual untuk menilai keberhasilan implementasi MBS, khususnya dalam hubungannya dengan peningkatan kinerja guru. Hal ini menyulitkan proses evaluasi dan pengambilan keputusan di tingkat sekolah. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian yang secara khusus mengkaji sejauh mana penerapan MBS berpengaruh terhadap kinerja guru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap peningkatan kinerja guru di SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein Kota Kupang. Temuan dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi empiris dalam merumuskan kebijakan dan praktik manajerial sekolah yang lebih efektif dan berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan dasar. METODE PENELITIAN Penelitian ini mengadopsi pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian asosiatif kausal, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan sebab-akibat antara dua variabel, yakni penerapan dalam penelitian ini. MBS diposisikan sebagai variabel independen, sedangkan peningkatan kinerja guru berperan sebagai variabel dependen. Hubungan antara kedua variabel dianalisis untuk mengidentifikasi sejauh mana pelaksanaan MBS berkontribusi terhadap perubahan atau peningkatan dalam aspek kinerja profesional guru di lingkungan sekolah dasar. Pendekatan ini dinilai tepat untuk mengidentifikasi serta menganalisis secara langsung persepsi guru terhadap pelaksanaan MBS dan sejauh mana hal tersebut berkaitan dengan kualitas kinerja mereka di lingkungan sekolah (Aiman et al. , 2. Desain Penelitian dan Populasi Penelitian ini dilaksanakan di dua sekolah dasar yang berlokasi di Kota Kupang, yaitu SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein. Seluruh guru yang mengajar di kedua sekolah tersebut, berjumlah total 30 orang, dijadikan sebagai populasi penelitian. Karena ukuran populasi tergolong kecil, metode pengambilan sampel yang digunakan adalah sampling jenuh, di mana seluruh anggota populasi dijadikan sebagai responden dalam penelitian ini (Sugiyono, 2. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA Instrumen Pengumpulan Data Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup yang disusun secara sistematis berdasarkan indikator penerapan MBS dan indikator kinerja Angket dirancang menggunakan skala Likert dengan Skor alternatif jawaban dirinci dalam tabel 1. Tabel 1. Skor Alternatif Jawaban Instrumen Alternatif Jawaban Skor Pernyataan ( ) Lima Empat Tiga Dua Satu Skor Pernyataan (-) Satu Dua Tiga Empat Lima Sebelum diimplementasikan dalam proses pengumpulan data, instrumen angket terlebih dahulu melalui tahap uji validitas dan reliabilitas guna memastikan kualitas dan keandalan alat ukur. Uji validitas dilakukan dengan menganalisis korelasi antara setiap item pernyataan dengan skor total, untuk menilai sejauh mana butir tersebut mampu mengukur konstruk yang dimaksud. Adapun uji reliabilitas dilakukan dengan menerapkan analisis koefisien cronbachAos alpha, yang berfungsi untuk menilai tingkat konsistensi internal antarbutir dalam instrumen. Nilai koefisien ini mencerminkan sejauh mana item-item dalam angket secara konsisten mengukur konstruk yang sama, sehingga memastikan keandalan data yang dihasilkan dalam proses pengumpulan Teknik Analisis Data Data yang terkumpul dianalisis dengan memanfaatkan perangkat lunak SPSS Proses analisis dilakukan dalam dua tahap, yakni pertama, analisis statistik deskriptif digunakan untuk memaparkan distribusi nilai responden terhadap masingmasing variabel. Kedua, analisis statistik inferensial dilakukan melalui uji korelasi Pearson Product Moment guna menentukan sejauh mana hubungan antara variabel MBS dan kinerja guru diuji melalui pengujian hipotesis yang dilakukan pada tingkat signifikansi sebesar 5% ( = 0,. Pengujian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat pengaruh yang signifikan secara statistik antara implementasi MBS dan peningkatan kinerja guru di lingkungan sekolah dasar. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengolahan data dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menerapkan analisis statistik deskriptif dan inferensial guna menguraikan keterkaitan antara pelaksanaan MBS dan peningkatan kinerja guru. Analisis deskriptif meliputi penghitungan nilai rata-rata, median, standar deviasi, serta distribusi frekuensi. Seluruh tahapan analisis dilakukan menggunakan bantuan software SPSS versi 23. Untuk pengujian hipotesis, digunakan pendekatan analisis statistik inferensial melalui uji korelasi Pearson, yang bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan signifikan antara variabel independen (MBS) dan variabel dependen . inerja gur. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA Deskripsi Data Penerapan MBS (X) Hasil deskriptif untuk variabel penerapan MBS menunjukkan bahwa nilai ratarata . adalah 142,77 dan median sebesar 143, yang mencerminkan distribusi data yang relatif simetris. Nilai standar deviasi sebesar 4,37 menunjukkan penyebaran data yang tidak terlalu besar dari rata-rata. Nilai minimum dan maksimum masing-masing adalah 136 dan 156. Distribusi frekuensi skor penerapan MBS ditampilkan dalam Tabel ini menyajikan persebaran skor responden berdasarkan hasil pengukuran terhadap variabel MBS. Data yang ditampilkan mencerminkan tingkat penerapan prinsip-prinsip MBS di lingkungan sekolah, sebagaimana direspons oleh guru melalui instrumen angket. Tabel 2. Distribusi frekuensi data terkait penerapan MBS No. Kelas Interval 136 Ae 138 139 Ae 141 142 Ae 144 145 Ae 147 148 Ae 150 151 Ae 156 Jumlah Frequency Percent (%) Mayoritas responden . %) berada pada interval 142Ae144. Sebaliknya, interval dengan jumlah responden terendah adalah 151Ae156, yaitu 1 orang . ,3%). Secara umum, distribusi data menunjukkan kecenderungan pada kategori menengah hingga tinggi dalam hal penerapan MBS, seperti pada gambar 1. Gambar 1. Histogram distribusi frekuensi data mengenai penerapan MBS Deskripsi Data Variabel Kinerja Guru (Y) Hasil analisis deskriptif terhadap variabel kinerja guru menunjukkan bahwa nilai rata-rata . berada pada angka 144,73, dengan nilai median sebesar 145 dan standar deviasi sebesar 4,25. Skor kinerja guru berkisar antara nilai minimum 138 hingga maksimum 157. Temuan ini mengindikasikan bahwa distribusi kinerja guru relatif merata dan terkonsentrasi di sekitar nilai tengah, yang mencerminkan tingkat konsistensi kinerja yang baik di antara para responden. Detail lebih lanjut mengenai @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA distribusi frekuensi skor kinerja guru dapat dilihat pada table berikut, yang menyajikan persebaran skor kinerja guru berdasarkan hasil penilaian dari instrumen yang digunakan dalam penelitian. Data dalam tabel memberikan gambaran mengenai tingkat kinerja guru dalam berbagai aspek profesional, termasuk perencanaan, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi, dan tanggung jawab terhadap tugas-tugas Tabel 3. Distribusi frekuensi data terkait kinerja guru No. Kelas Interval 138 Ae 140 141 Ae 143 144 Ae 146 147 Ae 149 150 Ae 152 153 Ae 157 Jumlah Frequency Percent (%) Sebanyak 9 orang responden atau sebesar 30% berada pada rentang skor kinerja 144Ae146, menjadikannya kelompok terbanyak. Sementara itu, hanya 1 responden . ,3%) yang mencapai skor tertinggi dalam kisaran 153Ae157. Temuan ini menggambarkan bahwa mayoritas guru memiliki tingkat kinerja yang tergolong sedang hingga tinggi. Visualisasi distribusi skor kinerja guru berdasarkan data tersebut ditampilkan dalam bentuk histogram pada Gambar 2. Gambar 2. Visualisasi histogram distribusi frekuensi data variabel kinerja guru Analisis Inferensial (Hubungan antara MBS dan Kinerja Gur. Analisis hubungan antara variabel penerapan MBS dan kinerja guru dilakukan dengan menggunakan uji korelasi pearson product moment. Metode ini dipilih karena sesuai untuk data yang berskala interval atau rasio dan memiliki distribusi normal. Uji ini mampu menunjukkan arah . ositif atau negati. serta kekuatan hubungan linear antara dua variabel yang dianalisis. Perhitungan dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 23, dan hasil nilai koefisien korelasi ditampilkan pada Tabel 4. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA Tabel 4. Hasil Uji Korelasi Pearson antara MBS dan Kinerja Guru Hubungan Variabel X terhadap variable Y 0,988 0,361 0,977 Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (X) dan kinerja guru (Y), dengan nilai koefisien korelasi . sebesar 0,988. Nilai ini jauh melebihi rtabel sebesar 0,361 pada taraf signifikansi 5% dengan jumlah responden sebanyak 30 orang, yang berarti hubungan tersebut signifikan secara statistik. Selain itu, nilai koefisien determinasi (RA) sebesar 0,977 menunjukkan bahwa 97,7% variabilitas kinerja guru dapat dijelaskan oleh penerapan MBS, sementara sisanya sebesar 2,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dan cukup kuat antara pelaksanaan MBS dan tingkat kinerja guru di SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein. Kota Kupang. Koefisien korelasi sebesar 0,988 mengindikasikan adanya hubungan positif yang substansial, di mana peningkatan efektivitas penerapan MBS berbanding lurus dengan peningkatan kualitas kinerja guru. Artinya, semakin optimal implementasi prinsip-prinsip MBS di lingkungan sekolah, maka semakin tinggi pula profesionalisme dan capaian kerja yang ditunjukkan oleh para guru. Penerapan MBS yang Efektif Hasil penelitian ini mengindikasikan adanya hubungan positif dan signifikan antara implementasi MBS dan kinerja guru, dengan koefisien korelasi sebesar 0,988. Temuan ini menunjukkan bahwa semakin optimal penerapan MBS di suatu sekolah, maka kinerja guru yang terlibat cenderung semakin meningkat. Temuan ini sejalan dengan pendapat Mulyasa . yang menegaskan bahwa MBS memberikan keleluasaan yang lebih besar bagi sekolah dalam mengelola berbagai sumber daya, termasuk dalam meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik. Dalam implementasinya. MBS mendorong keterlibatan aktif guru tidak lagi terbatas sebagai pelaksana kebijakan semata, melainkan berkembang menjadi mitra strategis dalam proses perumusan kebijakan sekolah. Peran ini mencakup partisipasi dalam penyusunan program, pengembangan kurikulum, serta evaluasi dan perbaikan berkelanjutan terhadap kualitas pendidikan di satuan pendidikan masing-masing kebijakan, pengembangan kurikulum, serta evaluasi program-program sekolah. Keterlibatan tersebut berkontribusi pada munculnya rasa memiliki . ense of ownershi. dan tanggung jawab yang tinggi terhadap keberhasilan dan kemajuan institusi pendidikan. Menurut Mbuik . MBS merupakan bentuk manajemen otonom yang memungkinkan sekolah membuat keputusan secara otonom dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk guru, orang tua, dan unsur masyarakat. Keterlibatan kolektif ini memperkuat partisipasi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan, serta mendorong terciptanya lingkungan sekolah yang responsif terhadap kebutuhan lokal dan lebih berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan. Pendekatan ini mendukung terciptanya tata kelola pendidikan yang partisipatif dan transparan. Temuan penelitian ini memperlihatkan bahwa guru-guru di SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein yang dilibatkan secara aktif dalam proses manajerial sekolah @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA memperlihatkan kinerja yang lebih unggul, terutama dalam aspek pelaksanaan pembelajaran dan inovasi metode pengajaran. Senada dengan itu. Fina . menekankan bahwa penerapan MBS sebagai model manajemen otonom terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan kinerja tenaga pendidik. Otonomi yang diberikan kepada sekolah mendorong terciptanya iklim kerja yang dinamis, kreatif, dan berorientasi pada pencapaian mutu Dalam konteks penelitian ini, guru-guru yang bekerja di lingkungan MBS cenderung memiliki kebebasan untuk menyusun strategi pembelajaran, mengevaluasi efektivitas pengajaran, dan melakukan inovasi kelas tanpa beban birokrasi yang berlebihan. Secara empiris, temuan ini diperkuat oleh distribusi data skor variabel MBS yang sebagian besar berada pada kategori tinggi-menengah . ean = 142,. , yang beriringan dengan distribusi kinerja guru yang juga dominan pada kategori tinggi . ean = 144,. Korelasi antara keduanya menegaskan bahwa implementasi MBS yang baik secara langsung berdampak positif terhadap peningkatan kinerja guru, baik dalam aspek profesionalisme, komitmen, maupun kualitas pengajaran. Dengan demikian, implementasi prinsip-prinsip MBS secara berkelanjutan dan berbasis partisipasi terbukti menjadi pilar strategis dalam membangun iklim sekolah yang mendukung peningkatan profesionalisme guru. Sekolah yang menerapkan MBS tidak hanya memperoleh efisiensi dalam aspek tata kelola administratif, tetapi juga menyediakan ruang bagi guru untuk tampil sebagai agen transformasi yang proaktif, inovatif, dan kreatif dalam mengembangkan suasana belajar yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan peserta didik. Dampak terhadap Kinerja Guru Penilaian terhadap kinerja guru dalam penelitian ini didasarkan pada empat dimensi utama, yaitu: . perencanaan pembelajaran, . pelaksanaan kegiatan pembelajaran, . evaluasi hasil belajar peserta didik, dan . tanggung jawab dalam menjalankan tugas profesional. Berdasarkan hasil analisis deskriptif, diperoleh ratarata skor kinerja guru sebesar 144,73, yang mengindikasikan bahwa mayoritas guru telah menunjukkan performa kerja yang baik. Temuan ini mencerminkan penguasaan kompetensi pedagogis yang memadai serta komitmen yang kuat dalam mengimplementasikan kurikulum dan menjalankan proses pembelajaran secara efektif dan bertanggung jawab. Temuan ini konsisten dengan pandangan Sianturi . , yang menyoroti bahwa pemberian otonomi kepada sekolah melalui penerapan MBS berperan dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi pengembangan profesionalisme Dalam konteks kerja yang inklusif dan suportif, guru memiliki fleksibilitas untuk menentukan strategi pembelajaran yang paling relevan dengan karakteristik peserta didik dan dinamika kelas. Kondisi ini memungkinkan guru memberikan kontribusi yang lebih optimal terhadap peningkatan mutu proses dan hasil pendidikan. Temuan ini diperkuat oleh studi Faiz et al. , . yang menunjukkan bahwa implementasi MBS memberikan dampak positif terhadap efektivitas kerja guru. Hal ini terjadi karena adanya sistem manajerial sekolah yang transparan, pembagian peran yang jelas, serta dukungan kepemimpinan yang bersifat partisipatif. Dalam konteks tersebut, guru cenderung merasakan kepuasan kerja yang lebih tinggi, tercipta @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA kolaborasi yang kuat antar rekan sejawat, dan tersedianya mekanisme evaluasi kinerja yang sistematis dan konsisten. Konteks temuan penelitian ini, guru-guru di SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein yang berperan aktif dalam proses perencanaan program dan pengambilan keputusan sekolah menunjukkan tingkat kinerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekanrekan mereka yang hanya berfungsi sebagai pelaksana teknis. Fakta ini menegaskan bahwa kualitas kinerja guru tidak hanya ditentukan oleh aspek personal atau internal, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh struktur manajerial serta budaya organisasi sekolah yang mendorong keterlibatan, dukungan kolektif, dan prinsip transparansi dalam pengelolaan institusi pendidikan. Secara teoritis, hasil ini juga dapat dijelaskan melalui kerangka teori motivasi dua faktor Herzberg, di mana keberadaan faktor-faktor pendukung kerja . eperti sistem manajemen yang jelas, partisipasi dalam pengambilan keputusan, dan dukungan pimpina. mampu meningkatkan motivasi intrinsik guru dan mendorong mereka mencapai kinerja optimal. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan MBS tidak hanya berdampak pada aspek administratif sekolah, tetapi secara nyata berkontribusi terhadap peningkatan kinerja profesional guru, baik dalam hal teknis pembelajaran maupun tanggung jawab etik dan moral sebagai pendidik. Implikasi praktis dari temuan ini menekankan pentingnya peningkatan kapasitas kepala sekolah dalam menerapkan prinsip-prinsip MBS secara konsisten, agar tercipta ekosistem sekolah yang mendorong kinerja guru secara berkelanjutan. Implikasi Manajerial dan Akademik Temuan penelitian ini menegaskan bahwa peran kepemimpinan kepala sekolah menjadi faktor determinan dalam keberhasilan penerapan MBS. Kepala sekolah yang tidak hanya berfungsi sebagai pengelola administratif, tetapi juga sebagai pemimpin transformasional dan fasilitator, memiliki pengaruh besar terhadap peningkatan kinerja guru melalui pembentukan lingkungan kerja yang positif, terbuka, dan Kepemimpinan yang dijalankan secara transparan dan akuntabel turut memperkuat kepercayaan serta loyalitas guru terhadap institusi, yang selanjutnya berdampak pada meningkatnya kepuasan kerja, etos profesional, dan tanggung jawab dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Oleh karena itu, pengembangan budaya sekolah yang menekankan kerja sama dan partisipasi aktif sangat diperlukan, di mana guru dilibatkan secara langsung dalam perencanaan strategis, evaluasi program, dan pengambilan keputusan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan. Temuan ini selaras pada pendapat Nurkholis . , yang menyatakan bahwa efektivitas implementasi MBS sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang bersifat visioner dan partisipatif. Kepala sekolah yang mampu mengembangkan potensi guru, membangun komunikasi yang terbuka, serta melibatkan mereka sebagai mitra aktif dalam proses transformasi sekolah, akan mendorong terciptanya peningkatan kinerja secara kolektif di lingkungan pendidikan. Lebih lanjut, temuan ini juga diperkuat oleh hasil studi dari Nasarudin et al . yang menemukan bahwa sekolah dengan model kepemimpinan kolaboratif memiliki tingkat kepuasan kerja dan efektivitas guru yang lebih tinggi dibandingkan sekolah dengan model kepemimpinan otoriter. Dalam hal ini, kepala sekolah bukan @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA hanya pengambil keputusan tunggal, melainkan menjadi katalisator dalam proses dialog, pengembangan profesional, dan inovasi pembelajaran. Secara akademik, hasil ini memberikan kontribusi terhadap literatur manajemen pendidikan dengan menegaskan kembali bahwa pemberdayaan guru dan pelibatan mereka dalam pengambilan keputusan strategis sekolah merupakan kunci utama peningkatan kualitas pendidikan. Dalam perspektif teori kepemimpinan transformasional (Stewart, 2. , kepala sekolah yang mampu menginspirasi, memotivasi, dan memfasilitasi pengembangan guru akan menciptakan lingkungan pembelajaran yang berorientasi pada perbaikan berkelanjutan . ontinuous Dengan demikian. MBS bukan hanya kebijakan administratif, tetapi juga strategi penguatan ekosistem sekolah yang berpihak pada peningkatan kualitas SDM Maka dari itu, penting bagi pemangku kepentingan di bidang pendidikan untuk memperkuat program pelatihan dan pengembangan kepemimpinan kepala sekolah sebagai bagian dari reformasi manajemen pendidikan di tingkat dasar dan Pembentukan Budaya Sekolah Kolaboratif dalam MBS Salah satu dampak positif yang menonjol dari penerapan MBS adalah terbentuknya budaya kerja yang kolaboratif di lingkungan sekolah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif guru dalam berbagai proses mulai dari pengambilan keputusan, pengelolaan pembelajaran, hingga evaluasi program mendorong terciptanya atmosfer kerja yang terbuka, inklusif, dan saling mendukung. Budaya kolaboratif semacam ini berperan sebagai fondasi penting dalam membangun sinergi antarelemen sekolah, yang pada akhirnya memperkuat pencapaian tujuan pendidikan secara optima. Budaya kolaboratif yang berkembang dalam kerangka MBS mencakup beberapa karakteristik utama, antara lain: Komunikasi dua arah antara kepala sekolah dan guru. Pengambilan keputusan berbasis musyawarah. Pendelegasian tanggung jawab yang proporsional, dan Pengakuan terhadap kontribusi individu maupun kelompok dalam keberhasilan Temuan ini didukung oleh hasil penelitian Apriliani et al . yang menegaskan bahwa budaya sekolah yang bersifat kolaboratif dapat memperkuat rasa memiliki . ense of belongin. di kalangan guru. Rasa keterikatan ini berkontribusi positif terhadap peningkatan kinerja serta loyalitas guru terhadap institusi tempat mereka mengabdi. Dalam konteks tersebut, peran guru tidak lagi terbatas sebagai pelaksana kebijakan, melainkan berkembang menjadi agen perubahan yang memiliki peran strategis dan suara dalam proses pengembangan sekolah. Lebih lanjut. Amelia . menyatakan bahwa budaya kolaboratif berperan penting dalam memperkuat solidaritas profesional di kalangan pendidik, terutama dalam merancang inovasi pembelajaran dan strategi peningkatan mutu. Dalam konteks ini, penerapan MBS telah membuka ruang bagi guru untuk mengembangkan potensi diri secara kolektif, berbagi praktik baik, dan saling memberi umpan balik demi perbaikan yang berkelanjutan. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA Data hasil penelitian turut mengungkap bahwa guru yang merasa aspirasinya didengar, kontribusinya dihargai, dan keterlibatannya diakui dalam pengambilan kebijakan sekolah, menunjukkan tingkat komitmen yang lebih tinggi terhadap tanggung jawab profesional mereka. Selain itu, guru dalam lingkungan seperti ini lebih terbuka terhadap perubahan serta cenderung lebih inovatif dalam merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. Dengan demikian, budaya kolaboratif yang terbentuk melalui implementasi MBS tidak hanya menciptakan suasana kerja yang harmonis, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap peningkatan kinerja dan profesionalisme guru secara menyeluruh. Secara strategis, pembentukan budaya kolaboratif ini juga berimplikasi pada meningkatnya efisiensi manajerial sekolah. Kepala sekolah tidak perlu mengandalkan pendekatan top-down yang kaku, tetapi dapat mengembangkan kepemimpinan distribusi . istributed leadershi. yang lebih sesuai dengan konteks sekolah abad 21. Oleh karena itu, dalam kerangka penguatan MBS, penting bagi sekolah untuk: Menyusun struktur kerja yang mendukung kolaborasi lintas tim. Menyediakan waktu khusus untuk dialog profesional antarguru. Membangun sistem penghargaan yang adil bagi kerja kolektif, dan Menciptakan mekanisme umpan balik yang konstruktif dari semua pemangku Dengan membangun budaya sekolah yang kolaboratif. MBS tidak hanya menjadi kerangka manajerial, tetapi juga menjadi sarana pembinaan karakter organisasi pendidikan yang sehat, produktif, dan adaptif terhadap tantangan zaman KESIMPULAN Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi sejauh mana pengaruh penerapan MBS terhadap peningkatan kinerja guru di SDI Kuanino 3 dan SDN 2 Fontein. Kota Kupang. Berdasarkan hasil analisis kuantitatif menggunakan uji korelasi Pearson, ditemukan adanya hubungan yang positif dan signifikan antara penerapan MBS dan mutu kinerja guru. Artinya, semakin optimal implementasi prinsip-prinsip MBS dalam praktik manajerial sekolah, maka semakin tinggi pula kinerja guru dalam merancang pembelajaran, melaksanakan kegiatan mengajar, mengevaluasi hasil belajar peserta didik, serta menjalankan tanggung jawab profesional secara komprehensif. Temuan ini mengindikasikan bahwa MBS memberikan ruang otonomi yang konstruktif bagi sekolah dalam mengelola sumber daya serta mengambil keputusan strategis secara partisipatif, yang pada akhirnya berdampak pada peningkatan motivasi, dedikasi, dan tanggung jawab profesional guru. Lebih dari itu, implementasi MBS yang efektif turut membentuk budaya kerja yang kolaboratif dan sinergis, yang berkontribusi terhadap peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan. Secara teoritik, hasil penelitian ini menguatkan argumen para pakar pendidikan bahwa otonomi kelembagaan dan pelibatan aktif tenaga pendidik dalam manajemen sekolah merupakan faktor kunci dalam mendorong produktivitas dan efektivitas kerja Di sisi lain, temuan ini memberikan kontribusi empiris terhadap pengembangan kebijakan pendidikan dasar di Indonesia, khususnya dalam konteks penerapan model manajemen partisipatif di tingkat satuan pendidikan dasar. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Deta dkk. Pengaruh Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah terhadap Peningkatan KinerjaA DAFTAR PUSTAKA