SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan ISSN: 3047-8618 (Onlin. | DOI: 10. 31959/js. Volume 3 . No. June 2025 . Homepage: https://ejournal-polnam. id/index. php/JS/index Hubungan Antara Agama di Era Globalisasi dalam Perspektif Kristen Nexsien Richard Maitimu1. Imanuel Pandu2. Deasy Manutilaa3 1,2,3 Politeknik Negeri Ambon. Indonesia *Corresponding author email: nexsien@yahoo. Abstrak: Artikel ini membahas bagaimana globalisasi mempengaruhi hubungan antaragama dalam perspektif Kristen. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan, dengan menelaah buku, jurnal, dan dokumen terkait untuk memahami dinamika interaksi antaragama di era modern. Hasil analisis menunjukkan bahwa globalisasi mempercepat pertukaran informasi keagamaan, meningkatkan migrasi dan multikulturalisme, serta menghadirkan tantangan berupa konsumerisme dan relativisme yang dapat memengaruhi identitas keagamaan. Namun, globalisasi juga membuka peluang dialog antaragama, kerja sama lintas budaya, serta perluasan misi Kristen melalui teknologi digital. Perspektif Kristen menekankan pentingnya kasih, toleransi, dan kesaksian iman di tengah keragaman global. Artikel ini menyimpulkan bahwa globalisasi tidak hanya membawa tantangan, tetapi juga peluang bagi agama Kristen untuk memperkuat peran sosial dan spiritualnya melalui dialog antaragama yang konstruktif. Kata kunci: hubungan antaragama, globalisasi, perspektif Kristen, dialog antaragama yang Interfaith Relations in the Era of Globalization from a Christian Perspective Abstract: This article examines how globalization shapes interfaith relations from a Christian The study employs a library research method, analyzing books, journals, and relevant documents to understand the evolving dynamics of religious interaction in the modern era. The findings indicate that globalization accelerates the exchange of religious information, increases migration and multiculturalism, and introduces challenges such as consumerism and relativism that may affect religious identity. However, globalization also provides opportunities for interfaith dialogue, crosscultural collaboration, and the expansion of Christian mission efforts through digital technology. The Christian perspective highlights the importance of love, tolerance, and faithful witness amid global The article concludes that globalization presents both challenges and opportunities for Christianity to strengthen its social and spiritual roles through constructive interfaith engagement. Keywords: interfaith relations, globalization. Christian perspective, constructive interfaith dialogue PENDAHULUAN Globalisasi merupakan sebuah fenomena besar yang mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara individu dan kelompok memahami serta menjalankan ajaran agama. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menghilangkan batas-batas geografis, sehingga pertukaran budaya, ide, dan nilai berlangsung dengan sangat cepat. Dalam konteks ini, agama menjadi salah satu entitas yang turut mengalami transformasi, baik dari segi pemahaman teologis maupun praktik Lisensi Lisensi Internasional Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. Maitimu et al. AuHubungan Antara Agama di Era Globalisasi . Ay kehidupan beragama sehari-hari. Globalisasi bukan hanya mempertemukan berbagai budaya, tetapi juga mempertemukan berbagai keyakinan dan sistem keagamaan dalam ruang interaksi yang semakin intens. Di tengah arus global tersebut, agama-agama dunia menghadapi peluang sekaligus Di satu sisi, globalisasi membuka ruang dialog yang lebih luas antarumat Akses terhadap informasi memungkinkan umat beragama untuk saling memahami ajaran, nilai, dan praktik keagamaan yang berbeda. Namun di sisi lain, globalisasi juga memunculkan gesekan dan konflik ketika perbedaan keyakinan tidak dikelola dengan baik. Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan antaragama dalam era globalisasi membutuhkan pemahaman yang mendalam serta pendekatan yang lebih bijaksana dan inklusif. Bagi Indonesia sebagai negara multikultural, dinamika globalisasi memberikan dampak yang signifikan terhadap keragaman agama yang ada. Interaksi antaragama semakin kompleks, terutama ketika arus global membawa gagasan baru yang kadang tidak selaras dengan tradisi lokal. Tantangan seperti radikalisme, intoleransi, serta kesalahpahaman antarumat beragama kerap muncul sebagai konsekuensi dari interaksi global yang kurang terkelola. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana agama, khususnya Kristen sebagai salah satu agama besar dunia, merespons perkembangan ini. Kristen, yang sejak awal berdirinya telah tersebar secara global, memiliki sejarah panjang dalam berinteraksi dengan berbagai budaya dan agama lain. Dalam era globalisasi modern, gereja-gereja Kristen semakin dituntut untuk berperan aktif dalam membangun hubungan antaragama yang damai dan harmonis. Perspektif Kristen mengenai kasih, toleransi, dan penghargaan terhadap sesama manusia menjadi nilai dasar yang dapat berkontribusi dalam menciptakan interaksi antaragama yang sehat. Namun, globalisasi juga menguji keteguhan identitas dan ajaran iman Kristen di tengah derasnya tantangan relativisme dan pluralisme. Di sisi lain, kemajuan teknologi dan digitalisasi membuka peluang besar bagi Kristen untuk terus menghadirkan pesan kasih dan moralitas dalam dunia yang saling Media sosial, platform digital, dan jaringan global memungkinkan penyebaran nilai-nilai keagamaan secara lebih efektif dan luas. Hal ini menjadikan globalisasi bukan hanya sebagai tantangan, tetapi juga sebagai peluang bagi Kristen untuk memperkuat kontribusi spiritualnya dalam kehidupan masyarakat global yang semakin plural. Dengan demikian, pendahuluan ini menegaskan bahwa era globalisasi tidak hanya mengubah pola interaksi sosial dan budaya, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap hubungan antaragama. Artikel ini berupaya mengeksplorasi bagaimana globalisasi mempengaruhi hubungan antaragama dan bagaimana perspektif Kristen dapat memberikan pendekatan yang konstruktif, dialogis, dan penuh kasih dalam menghadapi dinamika tersebut. Pemahaman ini menjadi penting untuk menciptakan kerukunan yang berkelanjutan dalam masyarakat yang majemuk. SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Juni 2025 METODE PENELITIAN Penulisan ini menggunakan metode penelitan Kepustakaan. Dimana materi materi yang di telaha melalui buku-buku,Jurnal, catatan-catatan yang dapat menjawab persoalan-persoalan dalam penulisan ini. Metode kepustakaan menurut Sarjono. DD Ditinjau dari jenisnya, penelitian ini bersifat literatur, termasuk pada jenis penelitian pustaka . ibrary researc. Penelitian kepustakaan . ibrary researc. yaitu penelitian yang pengumpulan datanya dilakukan dengan menghimpun data dari berbagai literatur. Literatur yang diteliti tidak terbatas pada buku-buku tetapi dapat juga berupa bahan-bahan dokumentasi, majalah, jurnal, dan surat kabar. Penekanan penelitian kepustakaan adalah ingin menemukan berbagai teori, hukum, dalil, prinsip, pendapat, gagasan dan lain-lain yang dapat dipakai untuk menganaliis dan memecahkan masalah yang diteliti. Sarjono. DD 2008. HASIL DAN PEMBAHASAN Globalisasi dan Agama: Perspektif Umum Globalisasi sangat mempengaruhi banyak aspek dalam kehidupan, termasuk agama. globalisasi dalam hubungan dengan agama menjadi suatu keharusan untuk mempertanggung jawabkan moral, etika dan spiritual dari berbagai agama tentang ragam persoalan kemanusiaan dan lingkungan alam yang terjadi dewasa ini. Tentunya dukungan harus terus diberikan terhadap upaya-upaya yang dilakukan untuk pertemukan berbagai pandangan keagamaan sebagaimana yang ditempuh oleh Dewan Parlemen Agama - Agama Dunia, yaitu suatu dialog antar dan lintas agama dalam skala global dalam rangka menemukan dan menjelaskan prinsip-prinsip moral, perdamaian dan kemanusiaan, sebagaimana yang dirindukan oleh umat manusia. Tantangan nyata dunia pendidikan tinggi dewasa ini Ae khususnya bagi kaum muda Indonesia Ae adalah bagaimana mensenyawakan antara sains dan teknologi yang bernafaskan sekuler dengan secret science and technology yang bernafaskan spiritual-keagamaan, yang selama ini masih terkesan berjalan disharmoni, padahal secara metodologis keduanya tidak bertentangan. Faisal afif . Ada beberapa cara utama globalisasi mempengaruhi hubungan antara agama: Pertukaran Informasi dan Ide: Globalisasi mempermudah penyebaran ajaran agama dan ideologi melalui media sosial, internet, dan platform komunikasi lainnya. Ini membuka peluang untuk dialog antaragama yang lebih luas, namun juga bisa memperbesar perbedaan dan ketegangan. Namun dalam melakukan dialog antar agama maka yang harus diutamakan adalah bagaimana setiap agama harus dapat saling menerima apa yang disampaikan oleh agama yang lain terkait pemahaman mereka tentang agamanya. Migrasi dan Multikulturalisme: Secara etimologis multikultural terdiri atas kata multi yang berarti plural, kultural culture yang padanan kata dalam bahasa Indonesia ialah budaya. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta, berarti budi atau akal. Budaya menurut P. Zoetmulder sebagaimana yang dikutip oleh Koentjaraningrat adalah segala hasil dari segala cipta karsa dan rasa. Multikulturalisme merupakan kultur yang berbeda dapat eksis dalam lingkungan yang sama dan menguntungkan satu sama lain. Atau pengakuan dan Maitimu et al. AuHubungan Antara Agama di Era Globalisasi . Ay promosi terhadap pluralisme kultural. Sedang yang lain menyebutkan bahwa multikulturalisme menghargai dan berusaha melindungi keragaman kultural. Koentjaraningrat, . 2,hal. Sedangkan Suryadinata menyebutkan bahwa multikulturalisme menghargai dan berusaha melindungi keragaman kultural. Multikulturalisme bukan sebuah doktrin politik pragmatis, namun merupakan sebuah cara pandang kehidupan manusia . Migrasi, merujuk pada perpindahan individu dari satu negara ke negara lain. Seseorang yang telah melakukan perpindahan semacam ini dikenal sebagai migran. Migrasi dapat memiliki berbagai motif, termasuk pencarian pekerjaan, perlindungan, pendidikan, atau alasan lainnya. Pekerja migran, di sisi lain, adalah seorang migran yang melakukan perpindahan dengan tujuan bekerja atau menemukan pekerjaan di negara tujuan mereka. Migrasi adalah fenomena global yang telah berlangsung selama berabad-abad. Perpindahan manusia lintas batas negara sering kali merupakan respons terhadap perubahan ekonomi, politik, sosial, dan lingkungan di negara asal. Perpindahan ini dapat membawa dampak besar terhadap kehidupan migran dan masyarakat di negara tujuan mereka. Asia Tenggara adalah wilayah yang kaya akan keragaman budaya dan identitas etnis. Dalam konteks kebijakan migrasi di wilayah ini, integrasi budaya menjadi elemen penting dalam pengalaman migran. Kebijakan migrasi yang inklusif harus mempertimbangkan perlindungan budaya migran dengan memfasilitasi pemeliharaan tradisi, bahasa, dan nilainilai budaya mereka dalam lingkungan yang baru. Dukungan untuk kegiatan budaya komunitas migran menjadi esensial, memungkinkan migran untuk menjalani tradisi dan merayakan identitas budaya mereka. Id. Ekonomi dan Konsumerisme: Perilaku konsumtif menurut Sumartonon merupakan tindakan memakai produk secara tidak tuntas dimana sebuah produk yang dipakai belum habis, tetapi orang tersebut menggunakan produk dengan jenis yang sama namun berbeda merek. Konsumerisme dilatarbelakangi dengan munculnya era kapitalisme yang diungkapkan oleh Karl Marx. Kapitalisme didefinisikan oleh Marx sebagai alat produksi di mana kepemilikan pribadi digunakan sebagai alat produksi. Secara umum pengertian pangan bermula dari kenyataan sosial bahwa masyarakat ingin bebas dalam hidup. pandang ekonomi, kondisi kenyaman tersebut terdapat pada masyarakat mapan yang ditandai dengan banyaknya barang-barang manufaktur yang dijual dengan sistem tunai atau kredit, bahkan dengan pembayaran di tempat seperti kartu debit atau kartu kredit. Pengaruh budaya konsumerisme global dapat mempengaruhi praktik religius, di mana nilai-nilai materialisme dan individualisme bisa bertentangan dengan ajaran agama Pengaruh ekonomi dan konsumerisme pada perkembangan agama Kristen dapat bersifat kompleks dan bervariasi. Di satu sisi, ekonomi dapat mendorong pertumbuhan gereja dan memberikan kesempatan untuk melayani. Di sisi lain, konsumerisme dapat menjadi godaan yang merusak nilai-nilai keimanan dan mengalihkan fokus gereja dari misi utama. Kompasiana. Perspektif Kristen tentang Hubungan Antaragama di Era Globalisasi Panggilan untuk Dialog dan Pemahaman Dalam perspektif Kristen, globalisasi menawarkan kesempatan untuk dialog antaragama yang konstruktif. Alkitab mengajarkan pentingnya kasih dan pengertian terhadap sesama. Dalam Markus 12:31. Yesus menyuruh umat-Nya untuk Aumengasihi SCHOLARS: Jurnal Sosial Humaniora dan Pendidikan. Vol. No. Juni 2025 sesama manusia seperti diri sendiri,Ay yang dapat diterjemahkan dalam konteks globalisasi sebagai panggilan untuk menghargai dan memahami keyakinan orang lain. Tantangan terhadap Identitas Kristen Globalisasi membawa tantangan bagi identitas Kristen. Eksposur terhadap berbagai ideologi dan praktik agama dapat mempengaruhi keyakinan dan praktik Kristen. Herman P Panda . Namun, hal ini juga bisa menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman dan penghayatan iman Kristen secara lebih mendalam dan relevan dalam konteks global. Peluang untuk Misi dan Kesaksian Globalisasi juga membuka peluang baru untuk misi Kristen. Dengan adanya media global, pesan Injil dapat disebarluaskan lebih luas dan efektif. Gereja-gereja Kristen dapat menggunakan teknologi untuk mencapai orang-orang yang sebelumnya sulit dijangkau dan untuk berkontribusi dalam dialog global tentang nilai-nilai moral dan Stiller. Menghadapi Relativisme dan Pluralisme Salah satu tantangan besar dalam era globalisasi adalah meningkatnya relativisme dan pluralisme. Pandangan bahwa semua agama sama dan tidak ada kebenaran absolut dapat menantang doktrin Kristen yang percaya pada kebenaran absolut dalam Kristus. Kristen dipanggil untuk berdialog dengan penuh hormat sambil tetap berpegang pada keyakinan fundamental mereka. Herman P Panda( 2. Kasus Studi: Inisiatif Antaragama di Era Globalisasi Dialog Antaragama di Komunitas Multikultural Beberapa gereja Kristen terlibat dalam dialog antaragama untuk membangun jembatan dengan komunitas non-Kristen di kota-kota besar. Misalnya, inisiatif seperti AuHari Perdamaian AntaragamaAy yang diselenggarakan di banyak kota besar bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan toleransi antara berbagai kelompok agama. Penggunaan Media Sosial untuk Kesaksian Organisasi Kristen di seluruh dunia memanfaatkan media sosial untuk berbagi pesan Injil dan terlibat dalam diskusi global tentang isu-isu moral dan etika. Ini termasuk kampanye sosial dan diskusi yang membahas tantangan global melalui lensa Kristen. Johannis Siahaya ,cs . KESIMPULAN DAN SARAN Era globalisasi membawa banyak perubahan dalam cara agama-agama berinteraksi. Bagi Kristen, ini adalah kesempatan untuk terlibat dalam dialog antaragama, memperkuat identitas iman, dan memanfaatkan teknologi untuk penyebaran pesan Injil. Namun, globalisasi juga menantang Kristen untuk mempertahankan keyakinan mereka di tengah arus relativisme dan pluralisme. Pendekatan Kristen harus menggabungkan kasih dan pengertian dengan komitmen terhadap kebenaran Injil, menjadikannya relevan dalam konteks global yang terus berkembang. Dengan demikan maka sebagai agama Kristen dalam memaknai fungsi globalisasi dalam menjaga dan membina hubungan antara agama dengan menekankan nilai-nilai toleransi beragama dalam satu bangsa yang berbineka tunggal ika. Untuk menciptakan hubungan antara agama yang baik khusunya di Indonesia, maka perlu dilakukan dialog-dialog antar agama yang dapat memberikan dampak Maitimu et al. AuHubungan Antara Agama di Era Globalisasi . Ay posetif bagi bangsa dan negara. Era perkembangan teknologi yang sangat berkembang ini dapat menjadi media yang baik dalam memfasilitasi dialog antara agama. DAFTAR PUSTAKA