343 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 EKSPLORASI IMPLEMENTASI KONSEP GREEN HOTEL PADA INDUSTRI PERHOTELAN BINTANG 4 DI BALI Oleh I Wayan Karta Pengelolaan Perhotelan. Politeknik Omna Trisakti Chandra Email: rizkbrothers@yahoo. Article History: Received: 21-06-2025 Revised: 07-07-2025 Accepted: 24-07-2025 Keywords: Green Hotel. Sustainable Tourism. Bali. Green HRM. Implementation Abstract: This study aims to explore the implementation of the green hotel concept in the hospitality industry in South Kuta. Bali, which is recognized as one of the leading international tourism hubs with rapid visitor growth. The green hotel concept has become increasingly relevant since the hospitality sector contributes significantly to energy consumption, water use, waste generation, and carbon emissions, which, if not managed properly, may lead to environmental degradation and threaten destination competitiveness. With the growing global pressure for sustainable tourism practices, hotels in Bali are expected not only to deliver high-quality services but also to balance environmental, social, and economic aspects. This research employs a qualitative approach with a case study method conducted in several star-rated hotels in South Kuta. Data were collected through in-depth interviews with hotel managers, operational staff, and guests, supported by field observations and analysis of internal policy documents. The findings indicate that most hotels have adopted various eco-friendly initiatives, such as the use of energy-efficient technologies, solar panel installations, water recycling systems, solid and liquid waste management, and single-use plastic reduction policies. In addition. Green Human Resource Management (Green HRM) practices have been integrated through continuous training, employee recognition programs, and incentive systems for staff actively participating in green initiatives. The novelty of this study lies in the integration of the Theory of Planned Behavior (TPB), the Triple Bottom Line (TBL), and Green HRM perspectives in the Balinese hospitality context, as well as the direct comparison between management policies and practical implementation in the field. Theoretically, this research enriches the literature on green hotel practices in developing countries, particularly in tropical tourism Practically, the findings provide recommendations for hotel management, local government, and tourism stakeholders to strengthen collaboration, provide green investment incentives, and increase tourist education on sustainable behavior. Thus, the green hotel concept is not merely a global trend but a strategic necessity to preserve the a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 competitiveness of BaliAos tourism industry PENDAHULUAN Pariwisata Bali telah lama menjadi ikon utama Indonesia di mata dunia. Keindahan alam, kekayaan budaya, serta keramahtamahan masyarakat menjadikan Bali sebagai salah satu destinasi wisata unggulan yang menarik jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara setiap tahunnya. Industri perhotelan memegang peran vital dalam mendukung keberlangsungan pariwisata di Bali, karena hotel bukan hanya sebagai tempat akomodasi, tetapi juga bagian dari pengalaman wisatawan selama berlibur. Namun, perkembangan pesat industri pariwisata di Bali juga membawa tantangan serius, terutama terkait dengan tekanan Pertumbuhan jumlah hotel dan resort yang masif berimplikasi pada meningkatnya penggunaan energi, air, produksi limbah, serta degradasi lingkungan. Kondisi ini mendorong perlunya inovasi dalam pengelolaan perhotelan yang berorientasi pada keberlanjutan, salah satunya melalui penerapan konsep green hotel. Konsep green hotel merupakan pendekatan pengelolaan hotel yang ramah lingkungan dengan menekankan efisiensi energi, pengelolaan limbah, konservasi air, penggunaan produk ramah lingkungan, serta peningkatan kesadaran baik bagi karyawan maupun tamu Green hotel bukan sekadar tren, tetapi menjadi strategi penting untuk memastikan keberlanjutan pariwisata Bali sekaligus menjaga daya tariknya di tengah meningkatnya kesadaran wisatawan global terhadap isu lingkungan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali tahun 2023, jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Bali mencapai 5,37 juta orang, meningkat tajam dibandingkan tahun 2022 yang hanya 2,15 juta orang. Peningkatan ini tentu menjadi peluang sekaligus tantangan, karena semakin tinggi kunjungan wisatawan, semakin besar pula kebutuhan energi, air, serta potensi pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh aktivitas pariwisata, khususnya perhotelan. Sejalan dengan itu. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekra. juga menekankan pentingnya penerapan pariwisata berkelanjutan melalui sertifikasi Green Hotel. Bahkan, dalam ajang ASEAN Green Hotel Award 2022, sejumlah hotel di Bali berhasil meraih penghargaan atas komitmennya menerapkan prinsip ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa konsep green hotel semakin mendapat perhatian dan menjadi standar baru dalam industri perhotelan di Bali. Urgensi penerapan green hotel di Bali semakin tinggi seiring dengan meningkatnya tekanan ekologis akibat perkembangan pariwisata massal dan dampak perubahan iklim. Beberapa jaringan hotel global di Bali, seperti TUI Blue Berawa di Canggu, telah mulai menerapkan praktik ramah lingkungan, antara lain pemanfaatan cahaya alami, desain arsitektur yang mendukung sirkulasi udara, hingga pengurangan penggunaan pendingin ruangan di ruang publik dan vila (ANTARA, 2. Data lapangan juga menunjukkan variasi tingkat implementasi green hotel antar properti. Misalnya. Sarinbuana Eco Lodge mencapai tingkat penerapan 83,73% sesuai Pedoman Green Hotel Indonesia (Kemenparekraf, 2. , sementara Royal Kamuela Villas & Suites Ubud menerapkan prinsip 3R, pengelolaan limbah, serta efisiensi energi meski masih menghadapi kendala konsistensi dan kesadaran tamu. Studi di The Ritz-Carlton Bali pun mengungkap perilaku eco-friendly karyawan berada pada kategori sangat tinggi, walaupun beberapa aspek seperti pemilahan sampah dan penggunaan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 tangga masih belum optimal. Fakta-fakta tersebut memperlihatkan adanya komitmen yang cukup kuat, tetapi juga menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan, fasilitas pendukung, dan perilaku nyata di lapangan. Hal ini menegaskan pentingnya penelitian kualitatif untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana implementasi green hotel di Bali dijalankan, faktor yang mendukung maupun menghambat, serta dampaknya terhadap keberlanjutan pariwisata. Dari sisi teori, penelitian mengenai green hotel banyak menggunakan kerangka Theory of Planned Behavior (TPB) (Ajzen, 1. , yang menjelaskan bahwa keputusan wisatawan untuk memilih green hotel dipengaruhi oleh sikap, norma sosial, dan persepsi kontrol Teori ini sering dipadukan dengan Attitude-Behavior-Context (ABC) Theory yang menekankan pentingnya faktor kontekstual, seperti ketersediaan fasilitas ramah lingkungan dan regulasi. Selain itu. Contingency Theory menyoroti bahwa penerapan praktik hijau sangat dipengaruhi oleh ukuran hotel, teknologi, jenis tamu, hingga karakter pemilik atau Dalam konteks pengelolaan sumber daya manusia, konsep Green Human Resource Management (Green HRM) dan Environmentally-Specific Servant Leadership (Alyahya et al. , 2. menekankan peran kepemimpinan dan iklim psikologis hijau dalam mendorong kreativitas ramah lingkungan karyawan. Sementara itu, kerangka Triple Bottom Line (TBL) menjadi rujukan utama dalam menilai keberhasilan implementasi green hotel, dengan menekankan keseimbangan antara aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Berbagai teori tersebut tidak hanya memperkuat urgensi green hotel di Bali, tetapi juga memberikan dasar analitis untuk memahami kompleksitas penerapannya dalam industri perhotelan. Berdasarkan fenomena tersebut, penting dilakukan eksplorasi implementasi konsep green hotel pada industri perhotelan di Bali. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sejauh mana penerapan prinsip green hotel telah dilakukan, tantangan yang dihadapi, serta kontribusinya terhadap pariwisata berkelanjutan di Pulau Dewata. LANDASAN TEORI Konsep Green Hotel Green hotel merupakan pengembangan dari prinsip pariwisata berkelanjutan yang menekankan pada pengelolaan hotel secara ramah lingkungan dengan tetap memperhatikan aspek sosial dan ekonomi. Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif . , green hotel adalah hotel yang dalam operasionalnya menerapkan prinsip efisiensi energi, penghematan air, pengelolaan limbah, pengurangan bahan kimia berbahaya, serta penggunaan produk ramah lingkungan. Secara global, konsep green hotel sejalan dengan Global Sustainable Tourism Council (GSTC) Criteria yang mengacu pada empat dimensi, yaitu: manajemen berkelanjutan, manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat lokal, pelestarian warisan budaya, serta pengurangan dampak lingkungan (GSTC, 2. Implementasi Green Hotel Implementasi green hotel dalam industri perhotelan dapat dilihat dari berbagai Hsieh . menyebutkan bahwa praktik yang umum dilakukan meliputi penghematan energi . nergy efficienc. , konservasi air . ater conservatio. , pengelolaan limbah . aste managemen. , penggunaan bahan ramah lingkungan . co-material. , serta edukasi lingkungan bagi karyawan dan tamu. Penelitian Fitriani . menunjukkan bahwa hotel di Bali yang mengikuti pedoman Green Hotel Indonesia telah berhasil mengurangi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 konsumsi energi hingga 20% melalui penggunaan teknologi hemat energi. Namun, penelitian lain oleh Wibawa dan Putra . menemukan masih adanya gap antara kebijakan manajemen dengan implementasi nyata di lapangan, terutama dalam hal kesadaran tamu hotel terhadap perilaku ramah lingkungan. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan green hotel dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Berdasarkan Contingency Theory (Donaldson, 2. , keberhasilan strategi organisasi sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, teknologi, serta karakteristik manajemen. Dalam konteks hotel, dukungan regulasi pemerintah, sertifikasi, serta tren wisatawan yang semakin peduli lingkungan menjadi faktor pendorong utama (Rahmawati. Sebaliknya, keterbatasan biaya investasi, kurangnya sumber daya manusia terlatih, serta resistensi dari tamu atau karyawan dapat menjadi penghambat (Wijaya. Dampak Implementasi Green Hotel Implementasi green hotel memiliki dampak yang signifikan dalam tiga dimensi Triple Bottom Line (Elkington, 1. Dari sisi lingkungan, hotel mampu mengurangi konsumsi energi dan air, serta menekan timbulan sampah. Dari sisi sosial, penerapan green hotel dapat meningkatkan kesadaran lingkungan baik pada karyawan maupun tamu, serta menciptakan citra positif bagi hotel. Sedangkan dari sisi ekonomi, penelitian oleh Alyahya et al. menunjukkan bahwa green hotel dapat meningkatkan daya saing melalui efisiensi biaya operasional dan peningkatan loyalitas tamu yang peduli lingkungan. Di Bali, beberapa hotel yang menerapkan prinsip green berhasil meraih ASEAN Green Hotel Award 2022, yang tidak hanya meningkatkan reputasi tetapi juga mendukung positioning Bali sebagai destinasi pariwisata berkelanjutan. Teori Pendukung Penelitian mengenai implementasi green hotel banyak menggunakan Theory of Planned Behavior (Ajzen, 1. untuk menjelaskan perilaku wisatawan dalam memilih akomodasi ramah lingkungan. Selain itu. Attitude-Behavior-Context (ABC) Theory digunakan untuk menganalisis pengaruh faktor psikologis dan konteks eksternal terhadap perilaku ramah lingkungan wisatawan. Sementara dari sisi manajemen. Green Human Resource Management (Green HRM) (Renwick et al. , 2. menjadi acuan penting dalam memahami bagaimana praktik pengelolaan SDM dapat mendorong kreativitas hijau . reen creativit. dan perilaku pro-lingkungan karyawan hotel. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus untuk mengeksplorasi secara mendalam implementasi konsep green hotel pada industri perhotelan di wilayah Kuta Selatan. Bali. Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada fakta bahwa Kuta Selatan merupakan salah satu kawasan dengan konsentrasi hotel berbintang terbanyak di Bali, khususnya di daerah Nusa Dua. Jimbaran, dan Uluwatu, yang menjadi destinasi utama wisatawan mancanegara maupun domestik. Fokus penelitian diarahkan pada hotel berbintang yang telah mengadopsi, atau sedang dalam proses mengadopsi, prinsip-prinsip green hotel. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam . n-depth intervie. dengan manajer hotel, staf operasional, dan karyawan yang terlibat langsung a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 dalam program ramah lingkungan. Selain itu, wawancara juga dilakukan terhadap wisatawan yang menginap untuk mengetahui persepsi dan pengalaman mereka terkait praktik green Penelitian ini juga menggunakan observasi partisipatif untuk mencatat secara langsung implementasi program, seperti penggunaan energi terbarukan, pengelolaan limbah, konservasi air, dan penerapan prinsip 3R (Reduce. Reuse. Recycl. dalam operasional hotel. Sumber data sekunder berupa dokumen resmi, laporan keberlanjutan hotel, pedoman Green Hotel Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta literatur akademik terkait green hospitality turut digunakan untuk memperkuat analisis. Teknik triangulasi sumber dan metode diterapkan untuk meningkatkan validitas data. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik . hematic analysi. dengan tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan yang berorientasi pada pola, tema, dan kategori yang muncul dari hasil wawancara dan observasi. Dengan metodologi ini, penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif mengenai implementasi green hotel di kawasan Kuta Selatan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya, serta mengungkap dampaknya terhadap keberlanjutan pariwisata Bali. HASIL DAN PEMBAHASAN Secara umum, kawasan Kuta Selatan, yang meliputi Nusa Dua. Jimbaran, dan Uluwatu, merupakan salah satu pusat akomodasi pariwisata terbesar di Bali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Badung tahun 2023, terdapat lebih dari 450 unit akomodasi di wilayah ini, dengan dominasi hotel berbintang tiga hingga lima. Beberapa hotel besar di Nusa Dua bahkan telah memperoleh sertifikasi ramah lingkungan serta penghargaan ASEAN Green Hotel Award 2022, yang menunjukkan komitmen dalam mendukung pariwisata Gambaran umum ini menunjukkan bahwa Kuta Selatan tidak hanya menjadi jantung pariwisata Bali, tetapi juga menjadi etalase praktik keberlanjutan di sektor Hasil wawancara mendalam dengan manajer hotel di kawasan Nusa Dua menunjukkan bahwa sebagian besar hotel telah menerapkan program ramah lingkungan seperti efisiensi energi melalui penggunaan lampu LED, sensor gerak, serta pengaturan pendingin ruangan (AC) dengan standar tertentu. Selain itu, konservasi air juga dijalankan melalui penggunaan keran hemat air, sistem daur ulang air limbah . reywater syste. , dan program Autowel reuseAy untuk mengurangi konsumsi air laundry. Di salah satu hotel berbintang lima di Jimbaran, peneliti menemukan adanya program food waste management yang bekerja sama dengan komunitas lokal untuk mendistribusikan sisa makanan layak konsumsi kepada Namun, hasil observasi dan wawancara dengan karyawan menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan manajemen dan pelaksanaan di lapangan. Misalnya, meskipun hotel telah menyediakan tempat pemilahan sampah, masih banyak tamu yang tidak mengikuti aturan pemisahan, sehingga sampah organik dan anorganik bercampur kembali. Beberapa karyawan juga mengungkapkan bahwa pelatihan terkait green hotel belum dilakukan secara rutin, sehingga pemahaman antar staf tidak merata. Dalam praktik penghematan energi, sebagian wisatawan asing menunjukkan kepedulian tinggi dengan mematikan listrik saat meninggalkan kamar, tetapi wisatawan domestik cenderung kurang a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Temuan lapangan lainnya menunjukkan bahwa kendala utama dalam implementasi green hotel adalah tingginya biaya investasi awal, terutama untuk instalasi panel surya, sistem daur ulang air, dan teknologi ramah lingkungan lainnya. Selain itu, tidak semua hotel memiliki komitmen yang sama, terutama hotel skala menengah yang lebih fokus pada persaingan harga dibandingkan investasi jangka panjang untuk keberlanjutan. Hal ini memperlihatkan bahwa meskipun konsep green hotel telah menjadi tren dan sebagian hotel di Kuta Selatan berhasil menerapkannya dengan baik, namun dalam praktik nyata masih terdapat tantangan serius berupa konsistensi, biaya, kesadaran tamu, serta keterbatasan sumber daya manusia. Dalam wawancara dengan salah satu manajer hotel berbintang lima di kawasan Nusa Dua, ia menegaskan bahwa penerapan green hotel bukan sekadar tren, tetapi sudah menjadi standar baru dalam industri perhotelan. AuKami berusaha konsisten menerapkan konsep ramah lingkungan, mulai dari efisiensi energi hingga pengelolaan limbah. Bagi kami, ini bukan hanya soal sertifikasi, tapi juga menjaga Bali agar tetap menjadi destinasi unggulan dunia,Ay ungkapnyaAy (Wawancara, 12 Agustus 2. Sementara itu, seorang staf housekeeping di hotel yang sama mengungkapkan bahwa masih ada tantangan di lapangan. AuKadang tamu tidak peduli, misalnya membuang sampah plastik dan organik di tempat yang sama, padahal kami sudah siapkan tempat terpisah. Akhirnya, kami yang harus memilah ulang, dan itu cukup menyulitkanAy (Wawancara, 14 Agustus 2. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara fasilitas yang disediakan manajemen dengan perilaku tamu. Dari sisi wisatawan, seorang tamu asal Jerman menyampaikan pandangannya bahwa konsep green hotel menjadi salah satu alasan memilih menginap. AuSaya senang ketika hotel di Bali punya program ramah lingkungan, seperti hemat energi dan daur ulang air. Itu membuat saya merasa liburan saya tidak merusak alam BaliAy (Wawancara, 16 Agustus 2. Sebaliknya, seorang tamu domestik mengaku kurang memperhatikan aspek tersebut. AuJujur saya pilih hotel lebih karena harga dan fasilitas, bukan soal ramah lingkungan. Walaupun saya tahu itu penting, tapi saya tidak terlalu memperhatikanAy (Wawancara, 17 Agustus 2. Kutipan wawancara ini memperkuat temuan penelitian bahwa meskipun manajemen hotel sudah berkomitmen menjalankan prinsip green hotel, keberhasilan implementasi di lapangan masih sangat dipengaruhi oleh kesadaran karyawan dan perilaku tamu. Temuan penelitian di beberapa hotel kawasan Kuta Selatan menunjukkan bahwa penerapan konsep green hotel sudah mulai diintegrasikan dalam operasional, misalnya melalui penggunaan sistem penghematan energi, pengurangan plastik sekali pakai, serta pelatihan staf mengenai praktik ramah lingkungan. Namun, berdasarkan wawancara dengan salah satu manajer hotel, implementasi ini masih menghadapi tantangan dalam hal konsistensi serta biaya investasi awal. Hal ini sejalan dengan Theory of Planned Behavior (TPB), di mana niat . manajemen hotel untuk menerapkan green practice dipengaruhi oleh sikap terhadap lingkungan, norma sosial, serta persepsi kontrol atas sumber daya yang tersedia. Lebih jauh, praktik green hotel juga dapat dilihat dari perspektif Triple Bottom Line (TBL) yang menekankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Data lapangan menunjukkan bahwa hotel-hotel di Kuta Selatan mendapatkan keuntungan ekonomi dari efisiensi energi, membangun citra positif di mata wisatawan internasional, serta meningkatkan kepuasan tamu yang kini lebih sadar akan isu keberlanjutan. Dari sisi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 sosial, pelibatan karyawan melalui Green Human Resource Management (Green HRM), seperti pelatihan eco-awareness dan reward system bagi staf yang berhasil mengurangi limbah, terbukti meningkatkan partisipasi aktif dalam program hijau. Kenyataan di lapangan juga memperlihatkan adanya kesenjangan antara kebijakan manajemen dengan perilaku sehari-hari staf. Misalnya, meskipun ada instruksi untuk mengurangi penggunaan plastik, beberapa karyawan masih memberikan botol air sekali pakai karena keterbatasan fasilitas isi ulang. Kondisi ini memperkuat argumen bahwa penerapan green hotel bukan hanya membutuhkan investasi teknologi, tetapi juga perubahan budaya organisasi, sebagaimana ditegaskan oleh penelitian Jabbour & Renwick . yang menekankan peran Green HRM dalam membentuk perilaku berkelanjutan di industri perhotelan. Selain itu, jika dibandingkan dengan penelitian Han et al. dalam Journal of Sustainable Tourism, disebutkan bahwa faktor utama yang mendorong wisatawan memilih hotel hijau adalah kesadaran lingkungan . nvironmental awarenes. dan keinginan untuk berkontribusi pada keberlanjutan. Temuan ini sejalan dengan data lapangan di Kuta Selatan, di mana mayoritas wisatawan mancanegara menyatakan preferensi mereka terhadap hotel yang menerapkan praktik ramah lingkungan, terutama dalam hal pengelolaan limbah dan pengurangan emisi karbon. Namun, terdapat perbedaan dalam konteks lokal, karena sebagian wisatawan domestik masih lebih menekankan pada harga dan fasilitas daripada aspek ramah lingkungan. Penelitian Sari & Puspita . dalam Jurnal Kepariwisataan Indonesia menunjukkan bahwa penerapan green hotel di Bali seringkali terhambat oleh keterbatasan biaya investasi awal serta lemahnya regulasi pemerintah dalam memberikan insentif. Hal ini terbukti di lapangan, di mana beberapa hotel di kawasan Kuta Selatan mengakui bahwa meskipun mereka ingin mengganti seluruh peralatan dengan teknologi hemat energi, keterbatasan dana membuat implementasi hanya dilakukan secara bertahap. Kondisi ini memperlihatkan kesenjangan antara idealisme konsep green hotel dengan realitas operasional yang dihadapi pelaku industri. Lebih lanjut. Renwick et al. dalam International Journal of Hospitality Management menekankan peran Green Human Resource Management (Green HRM) dalam membentuk perilaku karyawan yang konsisten terhadap praktik hijau. Penelitian tersebut menemukan bahwa pelatihan berkelanjutan dan pemberian insentif dapat meningkatkan kepatuhan staf dalam menjalankan program ramah lingkungan. Temuan ini sejalan dengan wawancara di salah satu hotel bintang lima Kuta Selatan, di mana karyawan merasa lebih termotivasi menjalankan program eco-friendly setelah adanya penghargaan khusus bagi departemen yang berhasil menurunkan konsumsi listrik dan air. Dari sisi teori Triple Bottom Line (TBL) yang dikemukakan oleh Elkington . dan diperbarui dalam berbagai penelitian terkini, keberhasilan green hotel seharusnya diukur dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara bersamaan. Temuan lapangan di Kuta Selatan menunjukkan bahwa meskipun aspek lingkungan sudah cukup diperhatikan . isalnya pengurangan plastik dan penggunaan energi terbaruka. , aspek sosial seperti keterlibatan masyarakat lokal masih belum optimal. Misalnya, kerja sama hotel dengan komunitas lokal baru sebatas pengadaan produk organik, belum sampai pada pemberdayaan dalam bentuk pelatihan atau kemitraan jangka panjang. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. Juli 2025 Sebagai penutup dari hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa implementasi konsep green hotel di kawasan Kuta Selatan telah menunjukkan perkembangan positif, meskipun masih menghadapi sejumlah kendala. Data lapangan memperlihatkan adanya upaya nyata dalam penghematan energi, pengelolaan limbah, dan pelibatan karyawan melalui pendekatan Green HRM, yang sejalan dengan teori TPB dan TBL serta didukung oleh penelitian terdahulu. Namun, keterbatasan biaya, kesenjangan antara kebijakan manajemen dan praktik harian karyawan, serta rendahnya keterlibatan masyarakat lokal menjadi tantangan yang perlu diatasi. Dengan demikian, meskipun hotel-hotel di Kuta Selatan telah berada pada jalur yang tepat menuju keberlanjutan, optimalisasi penerapan green hotel masih membutuhkan strategi integratif yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga melibatkan dimensi sosial, budaya, dan regulasi yang lebih kuat. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa penerapan konsep green hotel di kawasan Kuta Selatan merupakan langkah strategis untuk mendukung pariwisata berkelanjutan di Bali. Implementasi yang sudah berjalan menunjukkan kesadaran lingkungan yang semakin meningkat dari pihak hotel maupun wisatawan, meski masih terdapat hambatan struktural dan kultural. Temuan ini memperlihatkan bahwa green hotel bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak dalam menjaga daya saing pariwisata Bali di pasar global. Agar konsep green hotel lebih optimal, diperlukan sinergi antara manajemen hotel, karyawan, wisatawan, dan pemerintah. Manajemen hotel perlu memperkuat program pelatihan berbasis Green HRM, pemerintah dapat memberikan insentif fiskal atau regulasi pendukung, sementara masyarakat lokal dapat lebih diberdayakan dalam rantai pasok ramah lingkungan. Dengan pendekatan kolaboratif tersebut, green hotel di Bali berpotensi menjadi model praktik pariwisata berkelanjutan yang mampu memberi manfaat jangka panjang bagi ekonomi, lingkungan, dan sosial. DAFTAR PUSTAKA