Dialektika: Jurnal Bahasa. Sastra, dan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia P-ISSN : 2407-506X E-ISSN : 2502-5201 https://journal. id/index. php/dialektika/index Vol. No 2. Desember 2025, pp 1939 https://doi. org/10. 15048/dialektika. KONSTRUKSI MAKNA PROFESIONALISME DOSEN MELALUI PRAKTIK EVALUASI PEMBELAJARAN BAHASA Abdul Hamid Aly1. Muchlas Suseno2. Samsi Setiadi3 1 Universitas Pakuan Bogor 2,3Universitas Negeri Jakarta 1abdulhamidaly@unpak. id, 2muchlas-suseno@unj. id, 3syamsi. setiadi@unj. Dikirim: 09 Desember 2025. Direvisi: 16 Desember 2025. Diterima: 23 Desember 2025 Keyword: Professionalism. Reflective Assessment. Language Education. Higher Education. Lecturer Identity. Pedagogical Ethics Abstract Kata Kunci: penilaian reflektif, etika pendidikan, dosen Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, pendidikan tinggi Abstrak This study investigates how English language lecturers construct the meaning of professionalism through their assessment practices in higher education. Amid growing emphasis on standardized and technology-based evaluation systems, the role of assessment as a site of ethical decision-making and pedagogical reflection remains underexplored. Drawing from a descriptive qualitative design with an interpretive paradigm, the study involved indepth interviews with five English lecturers from two universities in Indonesia, supported by documentation analysis and thematic coding. The findings reveal that assessment functions not only as a technical procedure but also as a medium through which lecturer express values such as fairness, empathy, and integrity. These values are negotiated within the tensions between institutional policy and personal ethical convictions. The study highlights how lecturers engage in ongoing reflection, balance objectivity with contextual judgment, and navigate evaluative dilemmas to sustain their professional identity. Assessment is thus understood as a dynamic and dialogical process that contributes to the construction of a humanistic and ethically grounded professionalism. This research contributes to the growing discourse on reflective assessment and provides implications for policy development, professional development programs, and institutional support mechanisms that promote meaningful and context-sensitive evaluation practices. Penelitian ini mengkaji bagaimana makna profesionalisme dosen dikonstruksi melalui praktik evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Fokus kajian menempatkan pembelajaran bahasa sebagai konteks utama, karena evaluasi bahasa berlangsung di dalam aktivitas performatif dan komunikatif . isalnya diskusi, presentasi, tugas berbasis proyek, serta pelibatan mahasiswa dalam memahami rubrik dan evaluasi dir. , sehingga keputusan penilaian tidak dapat dipisahkan dari dinamika kelas dan relasi pedagogis dosen dan mahasiswa. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif berparadigma interpretatif dengan partisipan dosen pengampu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dari dua perguruan tinggi . egeri dan swasta. identitas disamarka. Intrumen yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara, observasi kelas, dan analisis dokumentasi . ubrik penilaian dan catatan umpan bali. , kemudian dianalisis dengan thematic analysis serta diperkuat melalui triangulasi dan member checking. Temuan menunjukkan bahwa evaluasi pembelajaran bahasa berfungsi sebagai Ausitus praktikAy tempat dosen menegosiasikan nilai profesionalisme: . keadilan transparansi melalui penggunaan rubrik dan kriteria, . empati melalui perhatian pada proses, progres, dan kondisi mahasiswa, serta . refleksi sebagai mekanisme memperbaiki keputusan evaluatif dan menjaga integritas profesional. Di saat yang sama, muncul dilema etis ketika nilai personal dosen berhadapan dengan tuntutan standardisasi kebijakan institusi dan penggunaan sistem digital/LMS, sehingga dosen perlu menyeimbangkan objektivitas dengan pertimbangan kontekstual kelas. Studi ini menegaskan bahwa profesionalisme dosen dalam pembelajaran bahasa dibentuk melalui praktik evaluasi yang humanistik, reflektif, dan peka konteks, serta memberi implikasi bagi penguatan kebijakan dan pengembangan profesional dosen agar evaluasi tetap bermakna dan adil. Penulis Korespondensi: abdulhamidaly@unpak. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license Konstruksi Makna Profesionalisme A Pendahuluan Perubahan paradigma pendidikan abad ke-21 menekankan pentingnya pembelajaran berbasis kompetensi dan penilaian autentik, yang secara signifikan mempengaruhi peran dosen sebagai pengajar sekaligus evaluator. Pada dasarnya, paradigma ini berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih interaktif dan relevan, di mana tidak hanya pengetahuan, tetapi juga keterampilan dan sikap mahasiswa diukur secara holistik. Dalam konteks ini, penilaian autentik muncul sebagai metode yang efektif untuk menggali pemahaman mendalam mahasiswa dan menggambarkan keterampilan praktis mereka dalam situasi nyata (Hu & Liu, 2. (Vu & DallAoAlba, 2. Seiring dengan perkembangan teknologi pendidikan, ada dorongan yang lebih besar bagi pengajar untuk menerapkan pendekatan yang inovatif dalam evaluasi hasil belajar. Hal ini tercermin dalam penelitian yang menunjukkan bahwa penilaian berbasis kinerja (Performance-Based Assessmen. dan penilaian formatif dapat menghasilkan dampak positif terhadap pengalaman belajar (Duong et al. , 2. (Ortega-Auquilla et al. , 2. Penilaian autentik, yang melibatkan pengukuran keterampilan mahasiswa dalam konteks nyata, memungkinkan dosen untuk lebih reflektif dalam evaluasi mereka, serta membantu mahasiswa dalam memahami dan mengembangkan kompetensi yang relevan (Nguyen & Phan, 2. Dilihat dari perspektif kurikulum berbasis kompetensi, pendekatan ini tidak hanya mengubah cara dosen mengevaluasi pembelajaran tetapi juga menuntut mereka untuk beradaptasi dengan praktik baru dalam pengajaran. Hal ini mencakup penggunaan analitik pembelajaran untuk mengidentifikasi data kinerja mahasiswa pada tingkat mikro, yang memfasilitasi pemahaman yang lebih baik tentang kebutuhan individual mereka(Chou et al. , 2. (Winowatan, 2. Dalam konteks evaluasi, implementasi dari pendekatan ini memerlukan keterampilan dosen yang lebih mendalam terkait desain penilaian dan penggunaan alat digital yang mendukung pembelajaran(Egbert & Shahrokni, 2. Pada akhirnya, keberhasilan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi sangat tergantung pada kompetensi pedagogis dosen dalam menerapkan metodologi yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Penelitian menunjukkan bahwa pelatihan dan dukungan yang memadai untuk dosen dalam memahami dan mengimplementasikan penilaian autentik dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan secara keseluruhan (Harris & Clayton. Oleh karena itu, penting bagi lembaga pendidikan untuk memberikan kapasitas yang memadai bagi dosen dalam menghadapi tantangan ini agar profesionalisme mereka dapat terbangun dan terjaga melalui praktik evaluasi pembelajaran yang efektif dan inovatif. Evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di tingkat perguruan tinggi kini tidak hanya mengukur capaian linguistik, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi mahasiswa. Sejalan dengan konsep pembelajaran abad ke-21 yang menganjurkan pengembangan keterampilan hidup serta keterampilan inter-disipliner, evaluasi pembelajaran di perguruan tinggi perlu memperhatikan dimensi-dimensi tersebut untuk mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan di dunia kerja dan masyarakat yang semakin kompleks(Nugroho, 2. Ini menuntut dosen untuk beradaptasi dan mengimplementasikan metode evaluasi yang lebih komprehensif dan inovatif. Metode evaluasi yang mengintegrasikan berbagai keterampilan, terutama berpikir kritis dan kolaborasi, dapat berfungsi untuk menilai pemahaman mahasiswa secara lebih holistik. Model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learnin. misalnya, dapat meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam proses belajar serta keterampilan kolaborasi mereka, karena mahasiswa diharapkan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan proyek yang diarahkan oleh dosen(Meirawati & Kresnawati, 2. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan model tersebut tidak hanya meningkatkan hasil belajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia mahasiswa, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan praktis yang dibutuhkan DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 20 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi dalam situasi kehidupan nyata (Meirawati & Kresnawati, 2. Disisi lain, dalam konteks pengajaran bahasa, penting bagi dosen untuk membina keterampilan komunikasi yang efektif antara mahasiswa. Keterampilan komunikasi ini mencakup kemampuan berbicara, mendengarkan, berargumentasi, dan menyampaikan ide secara jelas dan terstruktur. Dalam hal ini, dosen perlu menggunakan penilaian autentik yang mencerminkan realitas komunikasi sehari-hari, sehingga mahasiswa dapat belajar untuk menerapkan keterampilan bahasa mereka dalam konteks yang lebih luas (Sapalakkai, 2. Penilaian yang berdasarkan pada pengamatan langsung, tugas kelompok, dan presentasi dapat memberikan gambaran yang lebih baik mengenai kemampuan mahasiswa dalam berkomunikasi secara efektif dan kritis. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa mendorong mahasiswa untuk terlibat dalam diskusi dan kolaborasi, baik secara luring maupun daring, dapat mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan (Hayu et al. , 2. Untuk itu, dosen perlu mengupayakan peningkatan profesionalisme dan pedagogi mereka agar mampu merespons tantangan ini dengan lebih baik, melalui pengembangan kapasitas dalam metode pengajaran yang mencakup penggunaan teknologi dalam Pendidikan (Idris, 2. Profesionalisme dosen sering direduksi pada aspek administratif dan keilmuan, padahal praktik evaluasi merupakan refleksi langsung dari nilai-nilai etis dan pedagogis yang mereka Biasanya, profesionalisme dosen diukur melalui kinerja akademis, keterlibatan dalam riset, dan penyelesaian administrasi pendidikan. Namun, hal ini tidak mencakup dimensi yang lebih luas yang sangat penting, yaitu bagaimana evaluasi pengajaran mereka mencerminkan prinsip moral dan pendekatan pedagogis yang dianut Sinambela . Dengan demikian, penyempitan pemahaman tentang profesionalisme dapat merugikan kualitas pendidikan itu sendiri (Sinambela, 2. Praktik evaluasi yang baik harus mencerminkan keadilan, transparansi, dan etika. Penelitian menunjukkan bahwa dosen yang menerapkan evaluasi berbasis nilai etis dan prinsip pedagogis dalam pengajaran dapat meningkatkan kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa(Ali & Syahri, 2. Misalnya, dosen harus menyusun metode evaluasi yang tidak hanya terfokus pada hasil akademis, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan karakter dan keterampilan sosial mahasiswa, seperti komunikasi dan kolaborasi (Wicaksono & Sembiring. Hal ini sejalan dengan visi pendidikan yang lebih komprehensif, di mana pembelajaran diharapkan membentuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki integritas dan kemampuan beradaptasi dalam berbagai situasi. Selain itu, pendekatan praktik evaluasi yang mengedepankan kolaborasi dan partisipasi mahasiswa merupakan cerminan dari profesionalisme yang sejati. Dalam penelitian ini. Auprofesionalisme dosenAy dipahami sebagai entitas dinamis yang terbentuk melalui interaksi antara nilai etispedagogis, refleksi, dan konteks institusional. Praktik evaluasi . isalnya perancangan penilaian, penggunaan rubrik, pemberian umpan balik, dan pertimbangan kontekstua. berfungsi sebagai Auarena praktikAy tempat dosen menegosiasikan nilai, mengambil keputusan etis, dan menjalankan agency profesional. Dengan kerangka konstruktivisme sosial, makna profesionalisme tidak dianggap hadir secara tetap, melainkan dikonstruksi melalui pengalaman evaluatif yang terusmenerus terutama ketika dosen berhadapan dengan tuntutan standardisasi/kebijakan Karena itu, keterkaitan utama penelitian ini adalah: praktik evaluasi . elalui refleks. ekspresi nilai profesional . eadilan, empati, integrita. konstruksi makna profesionalisme, yang berlangsung dalam tekanan dan dukungan konteks institusional. Dosen yang memfasilitasi diskusi kelompok, umpan balik konstruktif, dan penilaian diri lebih meningkatkan keterlibatan mahasiswa sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab mereka terhadap proses belajar (Wathoni, 2. Dalam konteks ini, penting bagi dosen untuk mendapatkan pelatihan dan dukungan yang memadai dalam pengembangan metodologi DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 21 - 38 Konstruksi Makna Profesionalisme A evaluasi sehingga dapat menerapkan nilai-nilai etis yang relevan dalam proses pengajaran mereka (Idris, 2. Oleh karena itu, penting untuk mengubah persepsi tentang profesionalisme dosen yang selama ini terfokus pada aspek administratif dan keilmuan saja. Praktik evaluasi seharusnya menjadi jendela bagi dosen untuk menunjukkan integritas dan komitmen terhadap pendidikan yang berkualitas, dengan mengevaluasi mahasiswa secara menyeluruh dan tidak hanya melalui aspek akademik, tetapi juga dari segi karakter dan kemampuan sosial mereka (Sapulette. Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil pendidikan dapat lebih baik mencerminkan tujuan pendidikan seutuhnya, yaitu untuk membentuk individu yang berintegritas dan kompeten di berbagai bidang kehidupan. Evaluasi dalam konteks pendidikan memiliki dimensi moral dan etis yang sangat penting, lebih dari sekedar aspek teknis. Keputusan dosen dalam memberi nilai, menyusun rubrik, atau memberikan umpan balik mencerminkan sikap dan standar akademik, serta integritas dan nilai profesionalisme mereka. Sebagai pihak yang bertanggung jawab atas perkembangan intelektual dan moral mahasiswa, dosen perlu mempertimbangkan arti dan dampak dari setiap keputusan yang diambil dalam proses evaluasi(Herianto & Marsigit, 2. Dengan memahami evaluasi sebagai sebuah proses yang mencerminkan nilai-nilai individual dan profesional, dosen dapat merumuskan cara untuk menilai mahasiswa secara adil dan objektif. Hal ini sangat penting dalam menjaga kepercayaan mahasiswa terhadap institusi pendidikan dan menumbuhkan rasa hormat antara dosen dan murid (Putra. Hidayatulloh, et , 2. Pertanyaan mengenai keadilan dalam evaluasi menjadi sangat relevan. Misalnya, apakah penilaian dilakukan secara transparan dan objektif, ataukah ada bias yang tidak disadari yang mungkin memengaruhi hasil evaluasi? Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan evaluatif yang komprehensif dapat membantu memastikan bahwa nilai-nilai etis diintegrasikan ke dalam proses evaluasi (Herianto & Marsigit, 2. Evaluasi juga harus dipandang sebagai suatu pembelajaran tiada henti, di mana umpan balik diberikan bukan hanya untuk menilai pencapaian akademik mahasiswa, tetapi juga untuk membantu mereka belajar dari kesalahan dan berkembang. Dengan demikian, praktik evaluasi harus mencerminkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pengukuran hasil, tetapi juga pada pengembangan potensi individu dan karakter mahasiswa di luar aspek akademis. Mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam evaluasi dapat menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif dan mendukung (Sutopo & Lukisworo, 2. Pentingnya integritas dalam praktik evaluasi tidak dapat dipungkiri, mengingat dampaknya terhadap persepsi mahasiswa mengenai profesionalisme dosen. Dosen yang menerapkan nilainilai etis dalam evaluasi secara konsisten tidak hanya menjadi panutan dalam konteks akademik, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan karakter mahasiswa sebagai individu yang bertanggung jawab dan beretika (Yunitasari et al. , 2. Oleh karena itu, ada kebutuhan mendesak untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengeksplorasi hubungan ini secara lebih mendalam, serta bagaimana institusi pendidikan dapat mendukung dosen dalam menginternalisasi nilai-nilai moral dalam praktik evaluasi mereka (Suci & Jamil, 2. Dengan demikian, menjadikan evaluasi sebagai ranah moral dan etis berarti mengedepankan integritas serta nilai-nilai profesionalisme dalam setiap aspek pendidikan. Oleh karena itu, evaluasi tidak hanya dilihat sebagai alat ukur akademis, tetapi juga sebagai proses pembelajaran yang menyeluruh, memberikan kontribusi pada pengembangan kepribadian dan karakter yang lebih baik bagi mahasiswa (Sari et al. , 2. Peran refleksi dalam pembentukan identitas profesional dosen semakin ditekankan dalam literatur global, tetapi belum banyak dikaji secara kontekstual dalam pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Refleksi merupakan proses kritis di mana dosen mengevaluasi pengalaman pengajaran mereka untuk meningkatkan praktik pembelajaran dan memahami DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 22 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi dampak yang ditimbulkan kepada mahasiswa (Hasmawaty et al. , 2. Dalam konteks ini, refleksi bukanlah sekadar alat untuk meningkatkan metode pengajaran, melainkan juga merupakan elemen kunci dalam membangun identitas profesional yang kuat di kalangan Dalam pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, praktik refleksi menjadi komponen penting yang membantu dosen dalam menilai jalannya pengalaman mengajar secara kritis. Melalui refleksi, dosen tidak hanya melihat pengalaman yang telah terjadi, tetapi juga mampu mengambil keputusan pedagogis dan evaluatif yang lebih peka terhadap konteks sosial dan budaya di kelas. Refleksi dalam konteks pendidikan sering dipahami sebagai proses sistematis yang melibatkan penilaian tindakan profesional serta perbaikan praktik melalui reflection-onaction dan reflection-in-action. Refleksi tidak hanya berfungsi dalam meningkatkan praktik mengajar, tetapi juga berperan penting dalam merancang evaluasi pembelajaran. Hal ini mengharuskan dosen untuk menciptakan penilaian yang tidak hanya berfokus pada pengetahuan linguistik, tetapi juga memperhatikan kualitas proses belajar, seperti berpikir kritis dan komunikasi. Dalam konteks ini, praktik asesmen formatif dan pemberian umpan balik yang konstruktif juga sangat penting. Ahsanu et al. menunjukkan bahwa praktik refleksi mendorong para pengajar untuk lebih memahami latar belakang dan kebutuhan siswa, demi menciptakan pengalaman belajar yang lebih efektif. Pengintegrasian refleksi ke dalam desain pengajaran dan penilaian adalah sangat relevan, terutama dalam kerangka pembelajaran bahasa yang menempatkan bahasa sebagai praktik sosial dan budaya. Dengan demikian, sensitivitas terhadap konteks berfungsi sebagai kunci agar proses pengajaran dan penilaian lebih selaras dengan pengalaman serta identitas Meskipun literatur internasional telah menegaskan pentingnya refleksi dalam membangun identitas profesional pendidik, kajian empiris yang berfokus pada integrasi struktur refleksi dalam praktik harian dosen bahasa di Indonesia masih relatif sedikit. Penelitian lebih lanjut memang perlu dilakukan untuk menggali secara lebih dalam bagaimana dosen mengonstruksi dan menerapkan refleksi dalam praktik evaluasi mereka. Kajian ini diharapkan dapat mengeksplorasi lebih lanjut implikasi dari praktik refleksi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran bahasa di konteks Indonesia. (Lisdiyanto, 2. Dalam rangka meningkatkan profesionalisme dosen dan kualitas pendidikan, diperlukan studi-studi kontekstual yang menggali pengalaman praktik refleksi dosen dalam pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dan bagaimana hal ini dapat meningkatkan hasil belajar Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi yang berarti bagi pengembangan pedagogi dan kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya dalam pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Penelitian ini tidak berfokus pada evaluasi kinerja dosen dalam arti penilaian performa SDM . isalnya penilaian atasan. BKD. KPI, atau evaluasi jabatan fungsiona. Fokus penelitian ini adalah evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia sebagaimana dipraktikkan dosen di kelas, yaitu proses penilaian terhadap capaian belajar mahasiswa melalui perancangan instrumen/asesmen, penggunaan rubrik, pemberian umpan balik, serta refleksi atas prinsip keadilan dan nilai etis dalam penilaian. Fokus ini selaras dengan rumusan masalah penelitian yang menempatkan praktik evaluasi sebagai Autitik masukAy untuk memahami konstruksi makna profesionalisme dosen dalam pengajaran Bahasa. Dalam kajian lain, ditemukan bahwa penggunaan sistem evaluasi otomatis dapat menimbulkan perasaan tekanan di kalangan dosen, karena mereka mungkin merasa terjebak di antara tuntutan birokrasi dan keinginan untuk memberikan penilaian yang lebih kontekstual dan manusiawi terhadap mahasiswa mereka (Lisdiyanto, 2. Dosen yang sebelumnya diberi kebebasan untuk menentukan cara mereka menilai mahasiswa kini terpaksa mengikuti format DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 23 - 38 Konstruksi Makna Profesionalisme A dan kriteria yang telah ditentukan sistem, yang mungkin tidak sepenuhnya mencerminkan pengalaman mereka atau pendekatan pedagogis yang mereka yakini. Oleh karena itu, penting bagi institusi pendidikan untuk mempertimbangkan kembali desain kebijakan penilaian yang menggabungkan teknologi dengan pendekatan yang lebih humanistik dan personal, memungkinkan dosen untuk tetap memiliki suara dalam proses penilaian (Anggela Oktaviana et al. , 2. Proses penilaian seharusnya dapat mencerminkan bukan hanya standar akademis mahasiswa, tetapi juga perkembangan karakter dan kemampuan interpersonal mereka, yang esensial dalam dunia pendidikan modern (Kusuma, 2. Dalam kesimpulannya, perkembangan otomatisasi dalam penilaian di lingkungan pendidikan tinggi harus dikelola dengan hati-hati agar tidak menghilangkan nilai-nilai personal yang diyakini oleh dosen, mengingat pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang holistik dan inklusif. Memastikan bahwa kebijakan penilaian tetap fleksibel dan responsif terhadap konteks pendidikan lokal akan sangat penting untuk menjaga komitmen dosen terhadap profesi mereka serta mencapai tujuan pendidikan secara keseluruhan. Gap yang ada dalam penelitian sebelumnya, yang lebih menyoroti teknik evaluasi daripada konstruksi makna profesionalisme melalui praktik evaluasi, menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mengarahkan perhatian lebih kepada konteks sosial dan identitas profesional dosen dalam pendidikan. Penelitian ini mengindikasikan bahwa meskipun banyak diskusi berfokus pada metodenya, ada kekurangan eksplorasi bagaimana praktik evaluasi berkontribusi pada pemahaman identitas profesional dosen dalam konteks pembelajaran Dalam konteks identitas profesional, penelitian oleh Huang et al. menunjukkan bahwa faktor-faktor konteks sosial dan dukungan institusi dapat memengaruhi pembentukan identitas dan keyakinan seorang guru. Penemuan tersebut menyoroti pentingnya dukungan institusional dalam pengembangan professional, yang memang diinginkan untuk diteliti lebih lanjut dalam hubungan dengan praktik evaluasi dan makna profesionalisme yang diadopsi oleh dosen (Huang, 2. Demikian pula, penelitian oleh Preston-Shoot dan McKimm menggarisbawahi pentingnya pemahaman hubungan antara pengajaran, penilaian, dan pengembangan identitas profesional, meskipun temuan mereka lebih berfokus pada pendidikan medis spesifik dan kemungkinan adanya kurikulum tersembunyi dalam konteks tersebut (Preston-Shoot & Mckimm, 2. Dalam konteks yang lebih umum, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menghubungkan aspek dukungan lingkungan belajar yang kolaboratif dengan praktik evaluasi dosen. Kajian oleh Knights dan Clarke juga menunjukkan bagaimana ketidakpastian dan ketegangan dalam identitas profesional di kalangan akademisi dapat dipengaruhi oleh faktor eksternal dalam dunia akademik, yang mungkin bertentangan dengan nilai pribadi mereka (Knights & Clarke, 2. Namun, penelitian mungkin akan lebih bermanfaat jika melibatkan perspektif sosial-konstruktivis yang mengeksplorasi bagaimana evaluasi dapat mencerminkan dan membentuk identitas profesional dosen. Oleh karena itu, penting untuk mendekatkan penelitian evaluasi dengan perspektif humanistik dan sosial-konstruktivis, yang membantu menjelaskan bagaimana penilaian dipahami sebagai proses dialogis. Penelitian ini berpotensi tidak hanya untuk meningkatkan pemahaman tentang praktik evaluasi, tetapi juga mengenai bagaimana evaluasi berperan dalam membentuk identitas dan peran pendidik dalam konteks pendidikan yang kompleks ini, meskipun perlu dicatat bahwa definisi dari evaluasi dan identitas profesional dapat beragam sesuai konteks (Guerrero-Nieto & Castayeda-Trujillo, 2. (Lanjewar et al. , 2. Dari semua perpektif tersebut, strategi evaluasi yang diterapkan dalam pendidikan perlu diteliti lebih jauh dalam kerangka memahaminya sebagai alat yang membentuk identitas dosen, bukan hanya sebagai teknik meraih hasil akademis. Hal ini tidak hanya diharapkan merangsang DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 24 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi perubahan dalam cara evaluasi dilakukan, tetapi juga menjadi dasar untuk mendiskusikan dan mengembangkan profesionalisme dalam Pendidikan (Li, 2. (Sultana & Shah, 2. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali secara mendalam bagaimana makna profesionalisme dosen dibentuk, dimaknai, dan diartikulasikan melalui praktik evaluasi dalam pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Praktik ini mencakup berbagai bentuk penilaian yang dilakukan dosen, mulai dari perancangan instrumen, pemberian umpan balik, hingga proses reflektif terhadap nilai dan keadilan penilaian. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dan kerangka interpretatif, penelitian ini ingin mengeksplorasi dimensi profesionalisme yang tidak terlihat secara eksplisit, namun sangat menentukan kualitas dan nilai pendidikan yang disampaikan dosen kepada mahasiswa Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan Deskriptif kualitatif yang berpijak pada paradigma interpretatif, yang dipilih untuk memahami makna profesionalisme dosen yang dikonstruksi melalui praktik evaluasi dalam pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menangkap pengalaman dan persepsi informan secara kontekstual tanpa mengurangi data ke dalam angka-angka statistik, sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih utuh dan mendalam mengenai realitas sosial yang berhubungan dengan evaluasi pedagogis (Burdine et al. , 2. Paradigma interpretatif memberikan kerangka filosofis untuk mengeksplorasi makna melalui interaksi dan pengalaman subjektif dosen, dengan fokus pada pemahaman mendalam, bukan generalisasi, sebagaimana juga diungkapkan oleh Gordon-Smith dalam kajian metodologi Pendidikan (VidalHall et al. , 2. Subjek penelitian terdiri dari dosen pengampu mata kuliah Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia dari dua perguruan tinggi, yang mewakili institusi negeri dan swasta. Memilih kedua jenis institusi ini bertujuan untuk memperoleh variasi konteks, mengingat dinamika birokrasi dan budaya akademik antara keduanya seringkali berbeda, yang dapat memberikan kontribusi terhadap pemahaman yang lebih komprehensif (Corry et al. , 2. Untuk menjaga kerahasiaan dan kepentingan blind review, identitas institusi disamarkan. Jumlah informan berkisar antara tiga hingga lima orang, dengan pertimbangan bahwa dalam penelitian kualitatif, kedalaman data lebih penting daripada jumlah partisipan. Kriteria inklusi bagi informan, yaitu pengalaman mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia minimal tiga tahun dan keterlibatan dalam perencanaan serta evaluasi pembelajaran, dipilih agar informan memiliki kapasitas reflektif yang relevan dengan fokus penelitian. Pengumpulan data dilakukan melalui tiga teknik utama: wawancara semi-terstruktur, observasi kelas, dan analisis dokumentasi. Wawancara semi-terstruktur menyediakan fleksibilitas untuk mengeksplorasi tema-tema makna dan pengalaman reflektif dosen. Dalam wawancara, peneliti menggali persepsi dosen tentang peran mereka sebagai evaluator dan prinsip-prinsip yang mereka pegang dalam proses penilaian. Observasi kelas ditujukan untuk mendapatkan pemahaman langsung mengenai praktik evaluasi, interaksi dosen-mahasiswa, dan konteks sosial yang mempengaruhi proses evaluatif. Sementara itu, dokumentasi termasuk rubrik penilaian dan catatan umpan balik yang akan menjadi sumber data pelengkap yang memperkuat temuan dari wawancara dan observasi (Ananth & Maistry, 2. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 25 - 38 Konstruksi Makna Profesionalisme A Analisis data menggunakan pendekatan Thematic Analysis, sebagaimana dikembangkan oleh Braun dan Clarke . , yang mengedepankan identifikasi kode-kode awal dari data mentah untuk mengategorikannya ke dalam tema-tema yang lebih luas terkait nilai profesionalisme, seperti keadilan dan reflektifitas (Land, 2. Dalam menjaga validitas data, penelitian ini menerapkan strategi triangulasi teknik dan sumber, melakukan member checking dengan informan, dan memastikan bahwa proses penelitian menjunjung tinggi prinsip etika, termasuk mendapatkan informed consent dan menjaga kerahasiaan identitas informan (Hinton et al. , 2. Metodologi penelitian yang dirancang ini bertujuan untuk menangkap dinamika reflektif dosen dalam proses evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, memberi pemahaman mendalam bahwa makna profesionalisme dibentuk tidak hanya oleh teori, tetapi juga oleh praktik nyata serta nilai-nilai pribadi dalam konteks sosial (Dueyas, 2. Hasil dan Pembahasan Studi ini mengungkap bahwa praktik evaluasi yang dilakukan oleh dosen dalam pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia bukan sekadar aktivitas teknis atau administratif, melainkan cerminan dari komitmen etika dan tanggung jawab profesional mereka. Dalam wawancara, mayoritas dosen menyatakan bahwa evaluasi merupakan representasi dari nilainilai yang mereka yakini, seperti integritas, keadilan, dan kepedulian terhadap perkembangan Sebagaimana ditegaskan oleh Brown dan Abeywickrama . , evaluasi yang bermakna harus dipandang sebagai bagian integral dari proses pembelajaran yang menciptakan pengalaman mendalam bagi mahasiswa. Hal ini tampak dari pernyataan salah satu dosen yang mengatakan. AuPenilaian itu ekspresi integritas saya,Ay menunjukkan bahwa evaluasi tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi perpanjangan dari identitas profesional dosen sebagai pendidik yang bertanggung jawab secara moral. Umpan balik yang diberikan dosen kepada mahasiswa juga ditemukan sebagai sarana penting untuk membangun hubungan empatik dan mendorong pengembangan diri mahasiswa. Dosen tidak hanya menilai dari hasil akhir, tetapi juga memperhatikan proses belajar, usaha, serta kondisi emosional mahasiswa. Umpan balik dalam bentuk komentar mendetail, diskusi satu-satu, atau pendekatan verbal di akhir presentasi merupakan bentuk keterlibatan emosional dan pedagogis yang menunjukkan empati. Seperti dinyatakan oleh seorang dosen. AuSaya juga pertimbangkan progres, bukan hanya hasil. Ay Hal ini sejalan dengan gagasan Vu dan DallAoAlba . yang menekankan pentingnya penilaian yang memfasilitasi pengembangan kapasitas mahasiswa, bukan semata-mata menghakimi performa akademis mereka. Nilai-nilai seperti kesabaran, kepedulian, dan penghargaan terhadap perjuangan mahasiswa menjadi bagian penting dari makna profesionalisme yang dikonstruksi dosen. Dalam praktiknya, dosen menghadapi dilema antara kebutuhan untuk menilai secara objektif dan kesadaran akan subjektivitas yang inheren dalam penilaian manusia. Mereka berupaya keras untuk menjaga keadilan dengan menggunakan rubrik yang eksplisit, keterbukaan kriteria, dan refleksi terhadap keputusan penilaian mereka. Namun demikian, ada pengakuan bahwa aspek kontekstual dan karakter individu mahasiswa juga memainkan peran dalam pengambilan keputusan. Salah satu dosen menyatakan. AuSaya pastikan nilai adil dengan rubrik dan refleksi ulang,Ay yang menandakan bahwa profesionalisme tidak hanya bersandar pada keakuratan teknik, tetapi juga pada pertimbangan nilai dan situasi yang kompleks. Hal ini mengafirmasi pandangan Day . tentang pentingnya profesionalisme reflektif, di mana pendidik mempertimbangkan dampak dari keputusan mereka dalam konteks yang lebih luas dari sekadar capaian akademik. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 26 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi Konflik nilai muncul ketika nilai-nilai personal yang diyakini dosen bertentangan dengan kebijakan institusional yang cenderung bersifat birokratis dan kaku. Beberapa dosen mengungkapkan ketidaknyamanan mereka terhadap sistem evaluasi otomatis atau penggunaan angka semata untuk merepresentasikan capaian mahasiswa. Mereka merasa sistem tersebut tidak cukup mewakili proses pembelajaran yang kompleks dan hubungan manusiawi antara dosen dan mahasiswa. Salah seorang dosen menyatakan. AuSering kali, tapi saya coba kompromi,Ay menunjukkan adanya ketegangan antara etika pribadi dan kepatuhan terhadap sistem. Lisdiyanto . juga mencatat bahwa tekanan dari sistem evaluasi otomatis dapat mengurangi agency dosen dalam mengambil keputusan evaluatif yang bersifat kontekstual (Lisdiyanto, 2. Maka dari itu, fleksibilitas kebijakan menjadi penting agar dosen tetap dapat mengimplementasikan pendekatan evaluasi yang lebih humanistik dan responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Refleksi menjadi fondasi dari seluruh proses evaluasi dan merupakan elemen penting dalam pembentukan identitas profesional dosen. Semua dosen yang diwawancarai mengakui bahwa refleksi terhadap praktik evaluasi adalah bagian yang tak terpisahkan dari upaya peningkatan diri mereka sebagai pendidik. Ada yang melakukan refleksi setelah tugas besar, setiap akhir semester, bahkan dalam proses evaluasi itu sendiri. Refleksi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh ranah nilai dan keyakinan profesional. Sebagaimana dikatakan oleh salah satu informan. AuSaya refleksi terus-menerus, bahkan dalam proses berlangsung,Ay yang menunjukkan adanya kesadaran tinggi terhadap pentingnya introspeksi dalam menjaga kualitas evaluasi. Pemikiran ini sejalan dengan teori Schyn . tentang reflection-in-action yang menjelaskan bahwa refleksi terjadi secara simultan saat praktik berlangsung, bukan hanya setelahnya. Refleksi memungkinkan dosen untuk mengevaluasi efektivitas pendekatan mereka, memahami dinamika kelas, dan memikirkan kembali strategi yang lebih adil, bermakna, dan sesuai konteks mahasiswa. Tabel 1. Kode Tema Kode Keadilan Deskripsi Penekanan pada keadilan dalam memberi nilai Empati Refleksi Perhatian terhadap kondisi emosional dan personal mahasiswa Proses mengevaluasi kembali praktik evaluasi Keterbukaan Transparansi dalam kriteria penilaian Dilema Etis Ketegangan antara kebijakan dan nilai pribadi Teknologi Bantu Identitas Profesional Partisipasi Mahasiswa Penggunaan LMS dan sistem digital untuk mendukung evaluasi Evaluasi sebagai refleksi peran dan nilai Pelibatan mahasiswa dalam evaluasi Contoh Narasi "Saya pastikan nilai adil dengan rubrik dan refleksi ulang" "Saya menilai juga berdasarkan usaha dan "Setelah setiap tugas besar saya refleksi "Saya selalu gunakan rubrik agar mahasiswa tahu ekspektasi" "Kadang sistem terlalu kaku, saya ingin lebih manusiawi" "Saya pakai LMS, tapi tetap perlu sentuhan "Penilaian itu ekspresi integritas saya sebagai dosen" "Saya libatkan mereka dalam diskusi rubrik dan evaluasi diri" Tabel koding tematik yang telah dikembangkan dari hasil wawancara lima dosen pengampu Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia mencerminkan kedalaman dan keragaman nilai-nilai yang membentuk konstruksi profesionalisme mereka dalam praktik evaluasi. Berdasarkan pendekatan thematic analysis (Knights & Clarke, 2. , setiap tema yang muncul telah dikategorikan dari pola naratif dan makna yang sering berulang dalam tanggapan informan. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 27 - 38 Konstruksi Makna Profesionalisme A Berikut ini adalah penjelasan sistematis untuk masing-masing kode yang muncul dalam tabel, disertai keterkaitannya dengan teori dan literatur. Pertama, tema keadilan mencerminkan komitmen dosen terhadap evaluasi yang tidak bias dan transparan. Para dosen berusaha menyeimbangkan antara penggunaan rubrik objektif dan pemahaman konteks mahasiswa. Hal ini sejalan dengan pandangan Brown & Abeywickrama . yang menekankan bahwa evaluasi dalam pengajaran bahasa seharusnya bersifat adil, etis, dan bermakna. Dalam konteks ini, profesionalisme ditunjukkan melalui usaha dosen memastikan bahwa setiap mahasiswa dinilai berdasarkan kriteria yang jelas dan diterapkan secara konsisten. Praktik ini juga menguatkan prinsip pedagogis yang disebutkan dalam artikel sebagai bagian dari dimensi etis profesinoalisme (Bissembayeva et al. , 2. Kedua, tema empati menunjukkan bahwa dosen tidak hanya mempertimbangkan hasil akademik semata, tetapi juga proses, usaha, dan keadaan emosional mahasiswa. Seperti dinyatakan dalam file artikel mentah, profesionalisme dalam evaluasi tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga afektif, di mana kepekaan terhadap kondisi mahasiswa menjadi indikator penting dari etika pengajaran (Ali & Syahri, 2. Empati muncul sebagai fondasi dalam membangun evaluasi yang mendukung perkembangan karakter dan motivasi belajar mahasiswa, sebagaimana ditegaskan dalam pendekatan pendidikan humanistik dan pembelajaran holistik (Wathoni, 2. Ketiga, refleksi menjadi tema sentral dalam membentuk identitas profesional dosen. Kode ini menandakan bahwa banyak dosen secara sadar melakukan refleksi terhadap metode, hasil, dan dampak evaluasi yang mereka lakukan. Konsep ini berkorelasi dengan gagasan Schyn . tentang reflective practitioner serta Sachs . mengenai identitas profesional yang bersifat dinamis dan berkembang melalui refleksi kritis terhadap praktik. Dalam artikel mentah disebutkan bahwa refleksi memungkinkan dosen memahami nilai-nilai yang mereka anut dan memperbaiki metode pengajaran serta penilaian yang digunakan. Refleksi juga menjadi instrumen introspektif dalam proses penguatan nilai-nilai etis dan pedagogis yang menjadi basis profesionalisme sejati. Keempat, keterbukaan atau transparansi muncul sebagai nilai yang dijunjung tinggi oleh para dosen, yang terlihat dari penggunaan rubrik dan komunikasi terbuka mengenai kriteria Hal ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan mahasiswa, tetapi juga memperkuat integritas dosen sebagai evaluator. Dalam artikel, praktik keterbukaan ini sejalan dengan pentingnya menciptakan iklim pembelajaran yang adil dan kolaboratif, yang mencerminkan profesionalisme yang bersifat partisipatoris dan etis (Idris, 2. (Andini et al. , 2. (Putra. Yuhana, et al. , 2. Kelima, dilema etis menggambarkan ketegangan antara nilai-nilai pribadi dosen dan tuntutan kebijakan institusional, seperti sistem penilaian berbasis angka atau evaluasi Tema ini mencerminkan tantangan profesional yang kompleks, di mana dosen harus menavigasi sistem yang mungkin tidak sepenuhnya selaras dengan pendekatan pedagogis Artikel menyoroti masalah ini sebagai hasil dari kebijakan birokratis yang kurang fleksibel dan tidak sensitif terhadap kompleksitas pembelajaran (Jordan et al. , 2. (Lisdiyanto, 2. Dalam kerangka teori konstruktivisme sosial (Wang, 2. , konflik nilai ini mencerminkan pentingnya agency dosen dalam mempertahankan nilai-nilai profesional di tengah sistem pendidikan yang terus berubah. Keenam, teknologi bantu mengacu pada pemanfaatan Learning Management System (LMS) dan alat digital lainnya yang digunakan dalam evaluasi. Meskipun sebagian besar dosen mengakui manfaat efisiensi dari teknologi, mereka juga menekankan bahwa penilaian tetap membutuhkan sentuhan manusia dan pertimbangan kontekstual. Ini menggarisbawahi poin dalam artikel bahwa teknologi seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengganti nilai-nilai pedagogis dalam evaluasi (Egbert & Shahrokni, 2. (Winowatan, 2. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 28 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi Ketujuh, identitas profesional menekankan bahwa evaluasi dipahami dosen sebagai bagian penting dari siapa mereka sebagai pendidik. Konstruksi identitas profesional melalui praktik evaluasi tampak dari pernyataan seperti AuPenilaian itu ekspresi integritas saya. Ay Hal ini sejalan dengan kerangka Sachs . dan Beijaard et al. yang menyatakan bahwa identitas profesional dosen dibentuk melalui proses sosial dan reflektif, termasuk dalam praktik evaluasi yang sarat nilai (Wicaksono & Sembiring, 2. Terakhir, partisipasi mahasiswa menyoroti keterlibatan aktif mahasiswa dalam proses evaluasi, misalnya melalui diskusi rubrik, evaluasi sejawat, atau refleksi diri. Pendekatan ini menunjukkan bahwa profesionalisme dosen juga mencakup kemampuan untuk membangun ruang belajar yang demokratis dan inklusif, seperti disarankan oleh pendekatan learnercentered pedagogy yang disebutkan dalam artikel. Dapat disimpulkan bahwa tabel koding tematik ini tidak hanya memberikan gambaran naratif mengenai bagaimana dosen memaknai praktik evaluasi, tetapi juga memperkuat relevansi teoritis dari pendekatan etika-pedagogis, reflektif, dan sosial-konstruktivis dalam memahami profesionalisme dosen. Nilai-nilai yang muncul dari data lapangan tersebut sepenuhnya koheren dengan diskursus teoretis yang tercantum dalam file artikel mentah, yang menempatkan evaluasi sebagai pusat dari transformasi identitas dan tanggung jawab etis dalam pendidikan tinggi. Gambar 1 Evaluasi pembelajaran Bahasa DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 29 - 38 Konstruksi Makna Profesionalisme A Gambar 1 Frekuensi Tema Untuk memperjelas bahwa temuan penelitian ini berangkat dari evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia . ukan evaluasi kinerja dose. , visualisasi temuan disajikan melalui gambar 1 dan gambar 2. Gambar 1 memodelkan hubungan konseptual bahwa praktik evaluasi di kelas bahasaAiseperti penggunaan rubrik/kriteria, pemberian umpan balik . ertulis maupun lisa. , penilaian tugas berbasis proyek, diskusi/presentasi, refleksi dan pengecekan ulang keputusan nilai, serta pelibatan mahasiswa dalam proses evaluasiAimenjadi Ausitus praktikAy tempat dosen membangun dan menegosiasikan makna profesionalisme. Model ini menunjukkan bahwa pengalaman menilai dalam pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia mendorong dosen untuk menerjemahkan nilai profesional ke dalam tindakan evaluatif yang konkret, sekaligus menciptakan feedback loop berupa perbaikan berkelanjutan pada strategi pengajaran dan asesmen. Secara empiris. Gambar 2 . rafik tema wawancar. memperlihatkan bahwa tema-tema yang paling dominan dalam data adalah rubrik/kriteria, keadilan/objektivitas, refleksi, empati/progres, dan identitas/integritas, diikuti oleh keterbukaan/transparansi, dilema/kompromi, teknologi (LMS), dan partisipasi mahasiswa. Pola ini menunjukkan bahwa narasi profesionalisme dosen tidak muncul sebagai konsep abstrak, tetapi berkaitan langsung dengan keputusan evaluatif yang mereka lakukan dalam pembelajaran bahasa. Misalnya, penggunaan rubrik dan keterbukaan kriteria merepresentasikan profesionalisme sebagai keadilan dan akuntabilitas dalam menilai keterampilan berbahasa. sementara umpan balik serta pertimbangan progres mahasiswa memperlihatkan profesionalisme sebagai empatipedagogis yang menjadikan evaluasi sebagai bagian dari pembinaan kompetensi berbahasa, bukan semata pemberian skor. Selain itu, kuatnya tema refleksi dan integritas menunjukkan bahwa dosen memaknai praktik evaluasi sebagai ruang pengambilan keputusan etis, khususnya ketika menghadapi situasi dilematis seperti standar institusi, keterbatasan waktu, atau tuntutan penggunaan sistem digital yang dapat memengaruhi cara penilaian dilakukan. Dengan demikian, kedua visualisasi tersebut menegaskan bahwa evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia merupakan faktor yang secara langsung membentuk makna profesionalisme dosen. Profesionalisme dipahami sebagai kombinasi dari . keadilan dan transparansi . elalui rubrik/kriteria dan konsistensi penilaia. , . empati dan orientasi pengembangan . elalui umpan balik dan pertimbangan progre. , serta . agency reflektif dan integritas . elalui refleksi berkelanjutan dan kehati-hatian dalam keputusan nila. Temuan ini memperkuat argumen bahwa evaluasi pembelajaran bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 30 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi ukur capaian, tetapi juga sebagai praktik sosial-etis yang secara nyata membentuk identitas profesional dosen dalam mengajar Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana dosen mengonstruksi makna profesionalisme melalui praktik evaluasi dalam pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik evaluasi yang dilakukan para dosen bukanlah aktivitas teknis semata, tetapi merupakan ruang artikulasi nilai-nilai profesional, refleksi pedagogis, dan tanggung jawab moral. Dalam konteks ini, evaluasi dipahami sebagai praktik sosial dan etis yang membentuk serta mencerminkan identitas profesional dosen sebagai pendidik. Salah satu aspek penting dari konstruksi makna profesionalisme terlihat dari pandangan dosen mengenai evaluasi sebagai representasi etika pedagogis. Dosen tidak hanya menilai secara numerik, melainkan juga berusaha mempertimbangkan aspek afektif dan proses belajar Hal ini terlihat dari narasi seperti AuPenilaian itu ekspresi integritas sayaAy (Dosen . dan AuEvaluasi adalah wujud etika kerja sayaAy (Dosen . Pendapat ini sejalan dengan pandangan Brown dan Abeywickrama . , yang menyatakan bahwa evaluasi dalam pengajaran bahasa seharusnya mencerminkan nilai-nilai pedagogis, bukan sekadar administratif: "Evaluation is not merely an endpoint but a part of the instructional process that must be aligned with teaching values and ethical stance. Dosen juga menggunakan umpan balik sebagai sarana membangun hubungan empatik dengan mahasiswa. Praktik pemberian komentar mendalam, diskusi pribadi, hingga pujian atas progres, menjadi wujud nyata dari kepedulian terhadap perkembangan mahasiswa. Seperti dikatakan oleh Dosen 5: AuSaya juga pertimbangkan progres, bukan hanya hasil. Ay Ini menegaskan bahwa profesionalisme dosen tidak terbatas pada keahlian teknis, tetapi juga mencakup empati dan kepedulian emosional. Vu dan DallAoAlba . menekankan bahwa penilaian yang efektif dalam pendidikan tinggi harus berorientasi pada pengembangan pemahaman dan kapasitas mahasiswa secara utuh, bukan sekadar pengukuran kompetensi kognitif: AuAssessment should be seen as part of a larger process of understanding and fostering learnersAo capabilities in a holistic way. Ay Praktik evaluasi para dosen juga memperlihatkan adanya upaya menyeimbangkan subjektivitas dan objektivitas. Penggunaan rubrik dinilai penting untuk menjaga keadilan dan konsistensi, namun dalam kenyataannya dosen tetap mempertimbangkan konteks personal Seorang dosen mengungkapkan. AuSaya pastikan nilai adil dengan rubrik dan refleksi ulangAy (Dosen . Pernyataan ini memperkuat gagasan bahwa evaluasi harus mempertimbangkan aspek etika, proses belajar, serta kondisi sosial mahasiswa. Day . menyebut bahwa profesionalisme guru ditentukan oleh kemampuan untuk Aumenavigasi antara standar sistem dan nilai pribadi melalui praktik reflektif yang sadar konteks. Ay Namun demikian, proses ini tidak selalu mudah. Banyak dosen mengaku mengalami konflik nilai antara prinsip pribadi dan kebijakan institusi. Sistem evaluasi berbasis angka atau platform otomatis kadang dianggap tidak mewakili kompleksitas pembelajaran. Dosen 5 menyatakan. AuSering kali, tapi saya coba kompromi,Ay ketika diminta untuk menyesuaikan penilaian dengan sistem. Lisdiyanto . menunjukkan bahwa sistem penilaian otomatis dapat menimbulkan tekanan karena dosen merasa nilai-nilai personal mereka terabaikan. Ketegangan ini memperlihatkan dinamika antara struktur birokratik dan agency individu dosen, sebagaimana diulas oleh Jordan et al. , bahwa "Standardized assessment systems often undermine contextual judgment, resulting in ethical dissonance for instructors. Untuk memastikan temuan tidak semata bertumpu pada wawancara, penelitian ini juga menempatkan kelas pembelajaran bahasa sebagai konteks utama terbentuknya makna profesionalisme dosen. Karena fokus penelitian adalah praktik evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, observasi kelas dilakukan untuk menangkap bagaimana evaluasi DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 31 - 38 Konstruksi Makna Profesionalisme A benar-benar dijalankan dalam situasi pedagogis yang nyataAimeliputi pola interaksi dosenAe mahasiswa, momen pemberian umpan balik, penggunaan rubrik, serta dinamika sosial yang menyertai penilaian. Observasi ini dipadukan dengan analisis dokumentasi . isalnya rubrik, instruksi tugas, dan jejak umpan bali. sebagai data pelengkap yang memperkuat interpretasi dari wawancara. Secara umum, kondisi kelas bahasa yang diamati menunjukkan pembelajaran yang menekankan performa dan partisipasi: mahasiswa terlibat dalam aktivitas seperti diskusi, kerja kelompok, presentasi, dan tugas berbasis proyek, sehingga evaluasi tidak hadir sebagai AuakhirAy pembelajaran, melainkan melekat pada proses pembelajaran yang berlangsung. Dalam konteks pengajaran bahasa, praktik seperti pengamatan langsung terhadap performa berbahasa, tugas kolaboratif, dan presentasi menyediakan ruang bagi dosen untuk menilai kemampuan komunikasi dan berpikir kritis secara lebih kontekstual. Situasi kelas seperti ini menjadi arena utama tempat dosen menegosiasikan standar institusi dengan kebutuhan mahasiswa, sekaligus menampilkan nilai profesional yang mereka Dari catatan observasi kelas dan dokumen evaluasi yang dianalisis, tampak bahwa dosen secara konsisten menggunakan rubrik dan kriteria yang dijelaskan di awal atau selama proses tugas sebagai strategi menjaga transparansi dan akuntabilitas penilaian. Hal ini selaras dengan narasi dosen yang menekankan keterbukaan, misalnya: AuSaya selalu gunakan rubrik agar mahasiswa tahu ekspektasi. Ay Dalam praktik kelas, rubrik tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai perangkat pedagogis untuk mengarahkan performa mahasiswa dan meminimalkan bias Konsistensi penggunaan rubrik inilah yang kemudian menjadi salah satu dasar konstruksi makna profesionalisme sebagai keadilan . dan keterbukaan . dalam evaluasi. Selain itu, data kelas menunjukkan bahwa umpan balik muncul sebagai praktik evaluasi yang paling menonjol: dosen memberikan komentar lisan setelah presentasi, klarifikasi kriteria saat diskusi, serta arahan perbaikan ketika tugas berjalan. Umpan balik ini memperlihatkan bahwa evaluasi di kelas bahasa berfungsi sebagai proses pembelajaranAi dosen mempertimbangkan proses, usaha, dan progres mahasiswa, bukan hanya skor akhir. Hal ini konsisten dengan pernyataan: AuSaya menilai juga berdasarkan usaha dan progres. Ay Praktik tersebut memperkuat tema empati sebagai dimensi profesionalisme yang tampil di ruang kelas, karena dosen tidak memosisikan mahasiswa semata sebagai objek penilaian, melainkan sebagai pembelajar yang sedang berkembang. Kondisi kelas yang semakin terdigitalisasi juga tampak dari penggunaan LMS atau alat digital untuk mengelola tugas, mengumpulkan pekerjaan, dan merekam penilaian. Namun, data menunjukkan bahwa dosen tetap menegaskan perlunya penilaian yang AumanusiawiAy dan kontekstualAiterutama ketika berhadapan dengan variasi kemampuan, kendala teknis, atau dinamika partisipasi mahasiswa. Ini selaras dengan narasi: AuSaya pakai LMS, tapi tetap perlu sentuhan manusia. Ay Dengan demikian, kelas pembelajaran bahasa yang diamati memperlihatkan bahwa teknologi lebih banyak berfungsi sebagai media bantu evaluasi, sementara keputusan evaluatif tetap ditentukan oleh pertimbangan pedagogis dan etis dosen. Akhirnya, konteks dua institusi digunakan untuk menangkap variasi budaya akademik tanpa menyebut identitas kampus. Satu institusi merepresentasikan konteks perguruan tinggi negeri dan satu lainnya perguruan tinggi swasta, sehingga dinamika kebijakan dan praktik evaluasi dapat dibandingkan secara kontekstual tanpa melanggar kerahasiaan. Dalam keseluruhan temuan, data kelas . bservasi dan dokume. menegaskan bahwa profesionalisme dosen tidak terbentuk di ruang abstrak, melainkan diproduksi dan dinegosiasikan di ruang kelas melalui keputusan-keputusan evaluatif yang konkret: bagaimana rubrik dijelaskan, bagaimana umpan balik diberikan, bagaimana teknologi digunakan, dan DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 32 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi bagaimana keadilan serta empati dijalankan ketika menilai pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Untuk mengatasi ketegangan tersebut, refleksi menjadi sarana utama bagi dosen dalam membentuk dan menyesuaikan makna profesionalisme mereka. Dosen tidak hanya melakukan refleksi di akhir semester, tetapi juga di tengah proses evaluasi. AuSaya refleksi terus-menerus, bahkan dalam proses berlangsung,Ay kata Dosen 3. Hal ini sejalan dengan konsep reflection-inaction dari Schyn . , yang menyatakan bahwa praktisi profesional akan terus meninjau dan menyesuaikan tindakannya saat berada dalam situasi nyata. Refleksi bukan sekadar alat untuk meningkatkan metode pengajaran, melainkan juga merupakan elemen kunci dalam membangun identitas profesional yang kuat. Konstruksi profesionalisme juga terjadi melalui keterlibatan aktif dosen dalam mendesain Mereka tidak hanya menggunakan rubrik yang telah ada, tetapi sering memodifikasi atau merancang ulang kriteria penilaian sesuai konteks mahasiswa dan tujuan pembelajaran. Praktik ini mencerminkan apa yang disebut oleh Beijaard et al. sebagai Auidentity-inpractice,Ay yaitu bahwa identitas profesional tidak dibentuk oleh pelatihan formal semata, tetapi melalui praktik nyata yang penuh kesadaran dan nilai. Profesionalisme dosen sering direduksi pada aspek administratif dan keilmuan, padahal praktik evaluasi merupakan refleksi langsung dari nilai-nilai etis dan pedagogis yang mereka anut. Dalam konteks evaluasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia, profesionalisme juga mencakup kemampuan dosen dalam memfasilitasi komunikasi, kolaborasi, dan berpikir kritis. Penilaian berbasis proyek, diskusi kelompok, dan presentasi menjadi bentuk evaluasi yang menunjukkan nilai-nilai pedagogis kontemporer. Sapalakkai . menegaskan bahwa penilaian berbasis observasi dan partisipatif dapat memberikan gambaran yang lebih realistis terhadap kemampuan komunikasi mahasiswa. Oleh karena itu, makna profesionalisme tidak hanya dilihat dari kepatuhan terhadap prosedur evaluasi, tetapi dari upaya aktif dosen dalam mengadaptasi dan mendesain metode penilaian yang relevan dan Kerangka konstruktivisme sosial juga menjadi dasar penting dalam memahami bagaimana dosen membentuk makna profesionalismenya. Dalam pandangan Vygotsky . , makna tidak ditransmisikan, tetapi dikonstruksi secara sosial melalui interaksi. Praktik evaluasi yang dilakukan dosen dalam interaksi mereka dengan mahasiswa, kolega, dan sistem institusional merupakan bagian dari proses konstruksi identitas profesional. Dosen secara aktif menegosiasikan nilai-nilai pribadi dengan realitas institusional, yang pada akhirnya membentuk pemahaman baru mengenai peran mereka sebagai pendidik. Evaluasi dalam konteks pendidikan memiliki dimensi moral dan etis yang sangat penting, lebih dari sekadar aspek teknis. Hal ini diperkuat, integrasi teknologi dalam evaluasi menciptakan tantangan baru dalam mempertahankan nilai-nilai pedagogis. Meskipun teknologi seperti LMS dinilai membantu efisiensi, banyak dosen merasa bahwa interaksi langsung masih menjadi elemen penting dalam membentuk pemahaman dan hubungan profesional dengan mahasiswa. Penggunaan sistem evaluasi otomatis dapat menimbulkan perasaan tekanan di kalangan dosen karena mereka mungkin merasa terjebak di antara tuntutan birokrasi dan keinginan untuk memberikan penilaian yang lebih kontekstual dan manusiawi. Maka dari itu, penting untuk mendesain sistem evaluasi yang tetap memberi ruang bagi agensi dosen, baik dalam dimensi teknis maupun etis. Dapat disimpulkan bahwa makna profesionalisme yang dikonstruksi para dosen dalam praktik evaluasi pengajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia tidak bersifat tunggal atau Sebaliknya, makna ini terbangun dari refleksi etis, kesadaran kontekstual, dan relasi sosial yang mereka jalani setiap hari di ruang kelas. Evaluasi menjadi jendela sekaligus panggung bagi dosen untuk mengekspresikan nilai-nilai mereka, membentuk relasi pedagogis DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 33 - 38 Konstruksi Makna Profesionalisme A yang sehat, dan menunjukkan integritas profesional mereka. Dengan mengaitkan hasil penelitian ini dengan kerangka teoretis dari Sachs . Schyn . Vygotsky . , dan Beijaard et al. , maka dapat dipahami bahwa profesionalisme dosen adalah hasil dari interaksi yang kompleks antara nilai, praktik, kebijakan, dan refleksi kritis. Simpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik evaluasi yang dijalankan dosen pada pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia di perguruan tinggi bukan sekadar prosedur administratif, melainkan ruang utama pembentukan makna profesionalisme dosen sebagai pendidik. Profesionalisme dipahami sebagai praktik etisAepedagogis yang tampak ketika dosen merancang, melaksanakan, dan merefleksikan evaluasi pembelajaran secara berkelanjutan, terutama saat menetapkan kriteria dengan rubrik, memberi umpan balik, dan mengambil keputusan nilai secara reflektif. Makna profesionalisme yang paling dominan terbentuk melalui tiga dimensi: keadilan dan transparansi . itunjukkan melalui rubrik/kriteria yang jelas dan upaya menjaga objektivita. , empati . elalui perhatian pada proses belajar, usaha, serta kondisi afektif mahasisw. , dan refleksi . ebagai mekanisme untuk mengevaluasi ulang praktik penilaian dan memperdalam identitas profesiona. Temuan juga menunjukkan adanya tantangan struktural berupa ketegangan antara nilai personal dosen dan kebijakan institusional, khususnya ketika sistem yang kaku atau penekanan pada indikator kuantitatif berpotensi membatasi humanisasi Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merekomendasikan agar dosen memperkuat evaluasi pembelajaran bahasa yang adil, transparan, dan humanistik dengan memaksimalkan rubrik yang komunikatif, umpan balik yang membangun, serta refleksi sistematis atas keputusan penilaian agar evaluasi berfungsi sebagai proses pembinaan kemampuan berbahasa, bukan hanya pemberian skor. Pada level institusi, diperlukan dukungan kebijakan dan pengembangan profesional yang memberi ruang bagi professional judgment dosen, termasuk fasilitasi kolaborasi antar-dosen untuk menyelaraskan standar penilaian dengan dinamika kelas dan kebutuhan mahasiswa, sehingga evaluasi tetap kontekstual dan bermakna. Untuk penelitian lanjutan, disarankan memperluas konteks dan memperkaya bukti kelas melalui observasi yang lebih intensif dan dokumentasi asesmen . ubrik dan catatan umpan bali. agar mekanisme pembentukan profesionalisme melalui evaluasi dapat dipetakan lebih rinci dalam variasi pembelajaran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. DIALEKTIKA: jurnal bahasa, sastra, dan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, 12. , 2025 http://journal. id/index. php/dialektika | DOI: https://doi. org/10. 15408/dialektika. This is an open access article under CC-BY license 34 - 38 Abdul Hamid Aly. Muchlas Suseno, dan Samsi Setiadi Daftar Pustaka