Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DIFERENSIAL DALAM MENINGKATKAN AKTIVITAS BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI 5 GUNUNGSITOLI Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2. Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 Universitas Nias1. Universitas Nias2. Universitas Nias3. Universitas Nias4 pos-el: naomiwaruwu63@gmail. com1, ariantolahagu8084@gmail. bezisokhilaoli@gmail. com3 , septianti. laoli@gmail. ABSTRAK Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu di kelas Vi-C di UPTD SMP Negeri 5 Gunungsitoli, yang disebabkan karena kurangnya penggunaan metode pembelajaran yang beragam sehingga pembelajaran kurang efektif dan efesien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model pembelajaran diferensial dalam proses pembelajaran IPS dan untuk mengetahui peningkatan aktivitas belajar siswa di SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui lembar observasi, wawancara, dan dokumentasi foto. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan partisipasi siswa menjadi lebih aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran, peningkatan motivasi belajar siswa menjadi lebih termotivasi untuk belajar dan tercapai. Penelitian ini menyimpulkan bahwa model pembelajaran diferensial dapat menjadi salah satu strategi pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa di SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Kata Kunci: Model Pembelajaran Diferensial. Aktivitas Belajar Siswa. Pembelajaran IPS Terpadu. SMP Negeri 5 Gunungsitoli ABSTRACT This research was motivated by the low level of student learning activity in Integrated Social Studies in grade Vi-C at the Technical Implementation Unit (UPTD) of SMP Negeri 5 Gunungsitoli, which was caused by the lack of diverse learning methods, resulting in ineffective and inefficient learning. This study aimed to determine the application of the differential learning model in the social studies learning process and to determine the improvement in student learning activity at SMP Negeri 5 Gunungsitoli. The research method used was a qualitative approach. Data were collected through observation sheets, interviews, and photo documentation. The results showed that student participation increased, leading to more active and involved students in the learning process, and increased student motivation to learn, which was achieved. This study concluded that the differential learning model can be an effective learning strategy to improve student learning activity at SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Keywords: Differential Learning Model. Student Learning Activities. Integrated Social Studies Learning. SMP Negeri 5 Gunungsitoli PENDAHULUAN Pembelajaran adalah suatu usaha untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi aktivitas belajar siswa, (Nurfadhillah, 2. Dalam kegiatan belajar siswa dituntut aktif dalam pembelajaran artinya, bahwa didalam proses belajar sangat diperlukan aktivitas. Tanpa adanya aktivitas kegiatan belajar tidak dapat berjalan dengan baik. Oleh karena itu, aktivitas merupakan suatu prinsip yang sangat penting dalam proses belajar. Kegiatan belajar mengajar mengandung sejumlah komponen yang meliputi tujuan, bahan pelajaran, kegiatan belajar mengajar, metode, alat, dan sumber serta penilaian (Khoiri & Nopitasari. Dari komponen-komponen tersebut metode mengajar merupakan salah satu komponen penting dalam upaya pencapaian tujuan belajar. Karena pada hakikatnya proses belajar mengajar merupakan suatu upaya agar peserta didik mampu mengintegrasikan berbagai pengalaman sehingga dapat Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan emncapai tujuan belajar yang diinginkan, dan peserta didik diharapkan mampu memahami materi yang disampaikan, (Johar & Hanum. Aktivitas belajar menurut (Purhanudin , 2. merupakan keaktifan peserta didik dalam kegiatan belajar untuk mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri. Peserta didik aktif dalam membangun pemahaman atas persoalan dan segala sesuatu yang mereka hadapi dalam proses Aktivitas belajar adalah segala kegiatan yang dilakukan dalam proses pembelajaran, (Amiruddin, 2. Salah satu cara untuk membangkitkan aktivitas belajar siswa dalam proses pembelajaran adalah dengan menggunakan model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan pemandu untuk mengembangkan lingkungan dan aktivitas belajar yang kondusif, (Simeru dkk. Model pembelajaran mengacu pada pendekatakan yang digunakan dalam didalamnya tujuan pembelajaran, tahapan dalam kegiatan belajar, lingkungan pembelajaran, dan pengelolahan (Rahmaniati. Proses pendidikan dapat terselenggara dalam kegiatan pembelajaran karena adanya interaksi anatara guru dengan siswa yang salaing berienteraksi timbal balik untuk mencapai tujuan pendidikan secara umum dan tujuan pembelajaran secara khusus. Untuk nilai-nilai pendidikan kepada siswa, guru diharapkan memiliki kompotensi dalam menunjang tercapainya tujuan pembelajaran dan tujuan pendidikan secara umum diantaranya, adalah penguasan dalam menggunakan model pembelajaran, (Azizah dkk. , 2. Hal ini menggunakan model yang tepat dapat Menurut (Barella dkk. , 2. bahwa model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus antara lain : Rasional teoretik logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangannya. Landasan pemikirannya tentang apa dan bagaimana siswa belajar . ujuan pembelajaran yang akan dicapa. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat dilaksanakan dengan berhasil. Lingkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sehubungan dengan penggunaan model pembelajaran perlu diperhatikan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing serta tahapan pelaksanaan yang berbeda-beda. Sehingga guru ditunut untuk lebih profesional dalam menggunakan dan merepkan model pembelajaran sesuai dengan materi dan kebutuhan serta keadaan Pembelajaran IPS gabungan berbagai displin ilmu, yang tidak hanya berkaitan dengan masalah-masalah sosial yang ada dimasyarakat, tetapi mengembangkan murid memilki sikap ketimpangan yang terjadi, terampil dalam mengatasi masalah sehari-hari, (Putra, 2. Mata pelajaran IPS selain mempelajari ilmu sosial secara teoritis juga diharapkan mampu mentrasfer ilmu-ilmu sosial, menerapkan keterampilan belajar, dan menjadi pelajaran yang menyenangkan. Faktanya, mata pelajaran IPS seringkali dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang menarik bagi siswa, karena hanya disampaikan dengan ceramah dan menghafal, (Sudarsono, 2. Selain itu bagi siswa materi IPS dianggap sangat padat, namun tidak diimbangi dengan model pembelajaran yang beragam. Guru hanya Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan memberikan pembelajaran dengan model pembelajaran ceramah yang monoton untuk seluruh siswa. Pembelajaran dilakukan tanpa pernah memahami kesiapan siswa, gaya belajar siswa, dan juga minat siswa. Pembelajaran IPS pembelajaran tersebut pada akhirnya akan membuat siswa sulit mengeksplorasi, karena tidak adanya kebebasan yang diberikan oleh guru, atau secara tidak langsung pembelajaran hanya bersifat satu arah karena berasal dari guru saja (Parni, 2. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di SMP Negeri 5 Gunungsitoli diperoleh data sebagai berikut : Hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada guru mata pelajaran IPS Terpadu di SMP Negeri 5 Gunungsitoli yang menyatakan bahwa, kurangnya aktivitas belajar siswa dalam belajar, dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan tugas dan soal-soal IPS masih rendah, terlihat dari kurangnya aktivitas siswa dalam belajar. Peneliti juga mendapatkan informasi dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada siswa disekolah tersebut dari hasil wawancara dari beberapa siswa menyatakan bahwa : siswa merasa bosan dengan metode pembelajaran yag monoton seperti, guru yang hanya berceramah menyebabkan motivasi dan aktivitas belajar yang rendah dan menyebabkan situasi kelas yang tidak aktif. Dari hasil studi terdahulu diketahui bahwa hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu masih dikategorikan kurang. Hal ini diprediksi karena siswa yang tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran dan kebiasan guru yang hanya menggunakan metode pembelajaran konvesional. Hal ini yang menyebabkan peserta didik jenuh dan ketertarikan terhadap mata pelajaran IPS Berdasarkan pengamatan di lapangan, banyak peserta didik yang belum medapatkan pemahaman secara konkrit terhadap pentingnya mempelajari Pendidikan IPS. Pada dasarnya materi IPS yang memuat keterpaduan rumpun ilmu sosial, seyogyanya dapat di sampaikan secara kontekstual karena berhubungan langsung dengan masyarakat dalam kehidupan, (Isnaeni & Ningsih. Urgensi dari pendidikan IPS saat ini belum dapat dirasakan oleh peserta didik, dikarenakan maindset yang telah terbangun ialah Pendidikan IPS berisi materi hafalan bukan materi yang aplikatif. Tidak dipungkiri jika pembelajaran IPS hanya sekedar proses memperhatikan keterampilan bagi siswa untuk saat ini dan masa yang akan datang. Permasalahan yang muncul tersebut harus dilakukan penanganan secepatnya, karena jika tidak segera diatasi akan mempengaruhi pada tidak tercapainya tujuan pemebelajaran dan lulusan yang terampil (Kristin, 2. Adapun solusi yang tepat dengan Pembelajaran berdiferensiasi dianggap mampu membantu siswa dalam mencapai hasil belajar optimal, karena produk yang akan dihasilkan sesuai dengan minat (Sulistyosari Pembelajran diferensiasi adalah sebuah pembelajaran yang memfokuskan pada beberapa hal dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (Pertywy, 2. Adapun fokus yang tertuang dalam RPP, dapat dilihat dalam konten, proses, dan juga produk yang akan Adanya model pembelajaran berdiferensiasi dalam RPP bertujuan untuk guru memberikan pembelajaran dengan berbagai konten, proses, maupun produk sesuai dengan minat, gaya belajar, dan kesiapan siswa, (Kiswah dkk. , 2. Pembelajaran pembelajaran dalam rangka memfasilitasi minat dan bakat siswa dalam kelas dengan kebutuhan dan kemampuan yang beragam Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan (Junika Pembelajaran menyesuaikan proses pembelajaran di kelas dalam rangka memenuhi kebutuhan belajarindividu setiap murid, (Fina dkk. Sedangkan, (Startyaningsih, 2. mendefenisikan pembelajaran berdiferensiasi merupakan penyesuaian terhadap minat, kecenderungan belajar, kesiapan siswa agar tercapai peningkatan aktivitas belajar. Fokus perhatian dalam pembelajaran berdiferensiasi ini terletak pada cara guru dalam memperhatikan kekuatan dan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi sangat cocok di terapkan dalam mata pelajaran IPS, karena dalam mata pelajaran IPS mempunyai sumber belajar yang beranekaragam sehingga guru dapat mengembangkan materi IPS sesuai dengan minat dan profil belajar peserta didik, (Rovita. Menurut (Sartika dkk. , 2. berdiferensiasi dapat sebagai solusi untuk memecahkan masalah tentang keberagaman kemampuan peserta didik saat belajar dalam satu kelas yakni suasana belajar yang menyenangkan, praktik bicara, pembelajaran kolaboratif dan pemilihan materi dan proses Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti, terdapat penelitian terdahulu yang relevan diantaranya, penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Kamal, 2. dengan judul AuImplementasi Pembelajaran Berdiferensiasi dalam Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 8 BarabaiAy. Penelitian ini rendahnya aktivitas belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika, di mana metode pembelajaran yang digunakan cenderung bersifat konvensional dan tidak mengakomodasi perbedaan gaya belajar Dalam upaya menjawab permasalahan tersebut, peneliti menerapkan model menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan karakteristik siswa, baik dari segi kesiapan belajar, minat, maupun gaya belajar . isual, auditori, dan kinesteti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana penerapan model pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa serta hasil belajar mereka dalam mata pelajaran matematika. Hasil penelitian keaktifan siswa secara signifikan. Rata-rata skor aktivitas belajar meningkat dari 9,92 pada siklus pertama menjadi 16,80 pada siklus kedua. Selain itu, ketuntasan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan drastis, dari 51,72% menjadi 96,55%, dengan nilai rata-rata kelas naik dari 66,55 menjadi Hal ini membuktikan bahwa penerapan pembelajaran berdiferensiasi efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan pencapaian akademik siswa. Penelitian dilakukan oleh (Amini dkk. , 2. dari Universitas Sriwijaya pada tahun 2023 dengan judul AuPenerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Meningkatkan Partisipasi Aktif Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Palembang Pada Mata Pelajaran PPKnAy. Latar belakang penelitian ini adalah kurangnya partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran PPKn yang bersifat diskursif dan cenderung pasif, di mana banyak siswa hanya menjadi pendengar dalam kelas. Peneliti menyadari bahwa salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian metode pembelajaran dengan gaya dan kesiapan belajar siswa yang beragam. Untuk itu, berdiferensiasi, khususnya dalam aspek konten dan proses, untuk memberikan fleksibilitas kepada siswa dalam memilih cara belajar yang paling sesuai bagi mereka. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Tujuan penelitian ini adalah untuk partisipasi aktif siswa dalam mata pelajaran PPKn. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu memfasilitasi interaksi yang lebih aktif antara siswa dan guru, serta mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam diskusi dan kegiatan kelas. Siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi peserta aktif dalam proses pembelajaran, yang ditunjukkan dengan peningkatan frekuensi pertanyaan, komentar, serta partisipasi dalam diskusi kelompok. Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran berdiferensiasi efektif dalam meningkatkan partisipasi aktif siswa, khususnya dalam mata pelajaran yang menuntut keterlibatan berpikir kritis seperti PPKn. Penelitian berikutnya dilakuan oleh (Jannah dkk. , 2. dari Universitas Mataram pada tahun 2023 dengan judul AuPenerapan Pembelajaran Berdiferensiasi Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas X di SMAN 6 MataramAy. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya aktivitas belajar dan hasil akademik siswa dalam mata pelajaran kimia, terutama pada materi yang bersifat abstrak. Guru cenderung menggunakan pendekatan yang seragam, tanpa memperhatikan perbedaan karakteristik siswa, baik dari segi kesiapan belajar, minat, maupun gaya belajar Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar siswa melalui penerapan pembelajaran berdiferensiasi, di mana proses pembelajaran kemampuan siswa secara individual. Dalam pelaksanaannya, guru mengelompokkan siswa dan memberikan variasi metode, seperti eksperimen, diskusi, dan simulasi visual, agar siswa lebih terlibat aktif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan terhadap aktivitas belajar siswa, di mana ratarata skor aktivitas naik dari 11,25 pada siklus I menjadi 12,9 pada siklus II. Selain itu, ketuntasan hasil belajar siswa juga mengalami lonjakan dari 59,25% menjadi 85,3%. Hal ini lingkungan belajar yang lebih inklusif dan efektif dalam mendorong keterlibatan serta pencapaian akademik siswa. Ketiga penelitian terdahulu memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu sama-sama menerapkan model pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi untuk meningkatkan aktivitas belajar Kesamaan lainnya terletak pada fokus penelitian yang mengarah pada peningkatan partisipasi aktif siswa di kelas melalui penyesuaian metode belajar berdasarkan karakteristik individu, seperti kesiapan, minat, dan gaya belajar. Selain itu, ketiga penelitian juga menggunakan pendekatan tindakan kelas (PTK) dalam pelaksanaannya serta peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun perbedaannya, terletak pada subjek dan konteks penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti berfokus pada siswa tingkat SMP di SMP Negeri 5 Gunungsitoli, sedangkan dua dari tiga penelitian sebelumnya dilakukan di tingkat SMA, dan satu di SMP berbeda di daerah lain. Selain itu, masing-masing menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran berbeda, seperti Matematika. IPS, dan Kimia, sedangkan penelitian peneliti kemungkinan memiliki fokus mata pelajaran yang berbeda sesuai konteks sekolah. Dari sisi lokasi, penelitian peneliti berakar pada konteks lokal di Gunungsitoli, yang dapat memberikan kontribusi kontekstual terhadap efektivitas pembelajaran berdiferensiasi di wilayah Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan METODE PENELITIAN Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode (PTK). Penelitian tindakan kelas sebagai penyelidikan yang sistematis (Sistematic inquir. yang dilakukan oleh guru, kepala sekolah untuk mengetahui praktik Secara lebih luas penelitian tindakan kelas diartikan sebagai penelitian yang berorientasi pada penerapan tindakan dengan tujuan peningkatan mutu atau pemecahan masalah pada sekelompok subyek yang keberhasilan atau akibat tindakannya, untuk kemudian diberikan tindakan lanjutan yang bersifat penyempurnaan tindakan atau penyesuaian dengan kondisi dan situasi sehingga diperoleh hasil yang Prosedur penelitian tindakan kelas terbagi dalam 2 . siklus yaitu siklus I dan siklus II, serta terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas Vi-C SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran diferensial dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model pembelajaran diferensial, dan variabel terikatnya aktivitas belajar siswa. Lokasi dilaksanakan di SMP Negeri 5 Gunungsitoli Tahun Pelajaran 2024/2025. Jl. Pendidikan No. Ilir. Kec. Gunungsitoli. Sumatera Utara. Instrumen digunakan terdiri dari lembar observasi untuk guru dan lembar observasi siswa, serta dokumentasi. Teknik pengumpulan data dilakukan oleh guru sebagai peneliti selama proses tindakan. Data dikumpulkan dengan berbagai teknik yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi . Tahapan dalam pelaksanan penelitian tindakan kelas ini terbagi menjadi 4 bagian :perencanaan tindakan, pengamatan, refleksi. Perencanaan Tindakan Tahap perencanaan merupakan tahap awal untuk memulai kegiatan dalam menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk melaksanakan penelitian. Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan merupakan rancanagan, yaitu melakukan tindakan di kelas sesuai dengan rencana yang telah disusun pada tahap perencanaan. Pengamatan Pengamatan Pengamat bisa dari teman sejawat atau guru sendiri. Pada tahap ini, guru pelaksana mencatat sedikit demi sedikit apa yang terjadi agar memperoleh data yang akurat untuk perbaikan siklus Refleksi Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan kembali apa yang sudah Dalam tahap ini, guru berusaha untuk menemukan hal-hal yang sudah dirasakan memuaskan karena sudah sesuai dengan rancangan dan secara cermat mengnali hal-hal yang masih perlu Pada tahap refleksi peneliti juga perlu untuk mengungkapkan hasil kelebihan dan kekurangannya. Jika penelitian tindakan dilakukan melalui beberapa siklus, maka dalam refleksi terakhir, peneliti menyampaikan rencana Refleksi hendaknyamengungkapkan kendala pada tahap pertama dan kekurangannya sehingga pada tahap berikutnya bisa memperbaiki penelitian tindakan. Hasil refleksi digunakan untuk menerapkan langkah-langkah yang lebih lanjut sebagai dasar pada perbaikan dipembelajaran berikutnya, jika belum tercapai maka akan dilanjutkan pada siklus ke-II. Teknik analisis data digunakan untuk mengukur hasil dari penelitian Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 tindakan kelas. Data yang sudah dikumpulkan akan diolah didalam data Data kualiitatif diperoleh dari hasil observasi peserta didik dan guru. Hasil lembar observasi akan diolah dengan menggunakan rumus : ycIycoycuyc ycEyceycycuycoyceEaycaycu Hasil pengamatan = ycIycoycuyc yayccyceycayco ycu 100% Data dari lembar observasi untuk siswa yang tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran akan dideskripsikan dalam persen, dengan menggunakan rumus : Persentase pengamatan = jumlah hasil pengamatan C100% jumlah siswa Data dari lembar observasi untuk siswa yang terlibat aktif dan lembar pengamatan proses belajar mengajar responden guru . diolah dengan menggunakan skala Likert. Berdasarkan kategori dan skor yang yaitu : SB = Sangat Baik. B = Baik. C = Cukup. Skor 2. K = Kurang. Skor 1. Aktivitas belajar siswa dapat dilihat dari proses kegiatan belajar melalui pemberian lembar kerja siswa . embar observasi sisw. Untuk melihat tingkat aktivitas belajar siswa maka menggunakan rumus: JURNAL Edueco Universitas Balikpapan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Berdasarkan hasil pengamatan yang dilaksanakan pada tahap awal, ditemukan bahwa aktivitas belajar siswa masih tergolong kategori rendah. Sebagian besar siswa masih bersikap pasif pada saat proses belajar berlangsung. Siswa kurang memilki motivasi sendiri dalam belajar salah satunya mereka akan mencatat ketika disuruh saja tanpa adanya inisiatif dari diri sendiri, dan sangat jarang mengajukan Pada saat proses pembelajaran seperti diskusi kelompok hanya sebagian kecil siswa yang menunjukkan keaktifan sedangkan siswa yang lain hanya mengikuti tanpa adanya kontribusi berarti. Selain itu peneliti juga melihat bahwa guru pembelajaran yang bersifat satu arah atau mempertimbangkan perbedaan minat, gaya belajar, dan tingkat pemahaman setiap siswa. Berdasakan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran IPS bahwa aktivitas belajar siswa di kelas Vi-C SMP Negeri 5 Gunungsitoli masih kurang, antusiasme dalam proses belajar juga masih kurang. Hal tersebut diketahui oleh karena selama pembelajaran berlangsung kurangnya umpan balik siswa . masih banyak siswa yang tidak memperhatikan dan menunjukkan ketidakseriusan. Hasil wawancara dari guru mata pelajaran IPS, menambahkan bahwa ia pernah mencoba menggunakan metode pembelajaran lain selain metode ceramah yaitu metode tanya jawab namun masih menunjukkan hasil yang kurang maksimal. Hasil dari pelaksanaan metode tanya jawab tersebut masih dirasa kurang dan belum sepenuhnya memberikan perubahan menggunakan metode ceramah dalam proses belajar seperti biasa. Keberagaman kemampuan yang dimilki setiap siswa belum sepenuhnya terakomodasi, sehingga terdapat siswa yang merasa kesulitan dalam mengikuti pelajaran, sementara siswa yang lebih cepat akan merasa bosan. Hal ini menyebabkan kurangnya keterlibatan siswa secara menyeluruh dalam proses pembelajaran berlangsung. Sesuai dengan data hasil observasi yang didapat pada tahap pra siklus ini, selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa cendrung bersifat pasif, guru menggunakan metode pembelajaaran yang kurang bervariasi yakni dengan cara berceramah di depan Selama pembelajaran berlangsung sebagian dari siswa terlihat hanya duduk, dan tidak mau bertanya apabila ada materi yang kurang jelas. Usaha siswa dalam mengerjakan tugas dan aktivitas dalam kelas masih rendah. Pada pertemuan pertama, proses pembelajaran masih berjalan kurang Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 NA = yaycycoycoycaEa ycIycoycuyc ycEyceycycuycoyceEaycaycu ycIycnycycyca ycIycoycuyc ycAycaycoycycnycoycayco Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 Sebagian besar siswa terlihat belum antusias mengikuti kegiatan belajar, mereka terlihat masih bingung dengan alur cenderung hanya menunggu arahan tanpa inisiatif dari diri sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan belum sepenuhnya menjangkau kebutuhan dan gaya belajar siswa. Refleksi dari pertemuan ini menunjukkan bahwa guru perlu lebih mengenal karakter siswa dan menyusun kegiatan yang mampu menarik perhatian mereka sejak awal. Berdasarkan hasil pelaksanaan pembelajaran pada siklus I . ertemuan 1dan . dapat diketahui adanya peningkatan, dimana hasil lembar observasi guru pada pertemuan I sebesar 62,50% sementara pada pertemuan II sebesar 69,64% dengan rata-rata hasil observasi guru pertemuan I dan II sebesar 66,07%. JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Namun demikian, masih terdapat siswa yang tergolong kurang aktif dalam proses aktivitas belajar. Hal ini pembelajaran dengan menerapakan model disempurnakan, terutama dalam hal pemusatan yang lebih personal terhadap siswa yang pasif. Diagram hasil aktivitas siswa pada siklus I dapat dilihat sebagai Rata-Rata Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I 46,2485 41,497 Gambar 2. Diagram Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Siklus I Gambar 1. Diagram Rata-Rata hasil observasi guru Siklus I Berdasarkan hasil observasi yang sudah dilaksanakan pada siklus I yang dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan, terlihat bahwa dengan diterapkan nya menunjukkan dampak positif terhadap aktivitas belajar siswa. Pada pertemuan I 41,49%, pertemuan II sebesar 51% dengan rata-rata 46,24%. Peningkatan jumlah siswa dari pertemuan pertama dan kedua pada siklus I, menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran diferensial memberikan dampak yag baik dalam memenuhi karakteristik yang berbeda-beda. Siswa mulai menunjukkan minat dalam proses Hasil tersebut menunjukkan bahwa : Masih terdapat siswa yang kurang aktif pendekatan pembelajaran yang variatif dan berdasarkan kebutuhan individu. Guru masih perlu meningkatkan untuk kemampuan siswa. Waktu pembelajaran yang masih kurang optimal dalam meberikan ruang ekplorasi dalam proses pelaksanaannya Adapun sebagai tindak lanjut, pada siklus II yaitu : Optimalisasi pembelajaran dengan memperjelas diferensial sesuai dengan gaya belajar Aktivitas pembelajaran dibuat lebih interaktif dan berpusat pada siswa dan lebih memberikan kegiatan praktik, kuis, dan melibatkan siswa dalam penggunaan media belajar yang lebih bervariasi agar siswa terlibat aktif. Pada pertemuan pertama di siklus II menunjukkan semangat belajar yang lebih Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan tinggi dan menggembirakan. Siswa mulai menunjukkan semangat belajar yang lebih tinggi sehingga suasana kelas lebih interaktif dan kegiatan pembelajaran lebih Sebagian besar siswa terlihat aktif dan memberikan pendapat saat diminta. Ini menunjukkan bahwa perbaikan dalam metode dan bentuk kegiatan belajar memberikan dampak yang baik dan hasil yang positif. Refleksi pada pertemuan ini menegaskan pentingnya diferensiasi pembelajaran agar siswa merasa nyaman dan percaya diri untuk berpartisipasi. Pada pertemuan kedua disiklus II yang dimana pertemuan ini merupakan pertemuan terakhir, aktivitas siswa terlihat mengalami peningkatan yang signifikan. Hampir seluruh sisw terlibat aktif dalam proses belajar, baik secara individu maupun kelompok. Suasana kelas menjadi interaktif, terlihat dengan banyaknya siswa yang hampir memenuhi setiap indikator observasi dengan baik dan angka presentase yang memuaskan. Aktivitas belajar terlihat lebih bermakna karena siswa tidak hanya mengikuti kegiatan, mengembangkan materi yang dipelajari. Hasil akhir dari siklus II ini menunjukkan bahwa model pembelajaran diferensial yang telah diterapkan dan dilaksanakan telah berhasil meningkatkan keterlibatan siswa secara menyeluruh. Rata-rata hasil observasi hasil belajar siswa siklus II pertemuan 2 berada 90. 25% dan sudah tergolong dalam kategori sangat baik. Berdasarkan hasil observasi yang sudah dilaksanakan pada siklus II dimana observasi dilaksanakan dalam dua kali pertemuan terlihat adanya peningkatan yang signifikan dalam pelaksanaan aktivitas yang dilaksanakan oleh guru. Seluruh aspek penilaian terdiri dari 3 aspek utama yaitu aspek pembuka, aspek inti, dan aspek penutup. Hal ini menunjukkan bahwa guru telah mampu memperbaiki dibandingkan dengan siklus I. Pada siklus II terlihat guru sudah siap dan komunikatif serta mampu mengelola kelas secara Presentase pelaksanaan aktivitas guru dapat dikatakan sudah terlaksana dengan baik, penguasan strategi mengakomodasi kebutuhan setiap siswa secara menyeluruh. Pada pembelajaran siklus II pertemuan 1 maka diperoleh presentasi sebesar 89. 28% tergolong baik dan pada pertemuan kedua hasil presentase pengamatan meningkat menjadi 94. dengan kategori baik sekali. Berdasarkan data tersebut maka rata-rata presentase hasil observasi guru siklus II sebesar 96% dengan tingkat presentase sangat baik, dapat dilihat pada diagram berikut : Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Diagram Hasil Observasi Guru Siklus II 89,28 94,64 91,96 Gambar 3. Diagram Hasil observasi guru siklus II Berdasarkan hasil observasi yang sudah dilaksanakan pada siklus I yang dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan, terlihat bahwa dengan diterapkan nya menunjukkan dampak positif terhadap aktivitas belajar siswa. Pada pertemuan I pertemuan II sebesar 90. 25% dengan ratarata pertemuan I dan II sebesar 85. Diagram hasil aktivitas siswa pada siklus I dapat dilihat sebagai berikut : Rata-Rata Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siwa Siklus II Gambar 4 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Diagram Rata-rata hasil observasi aktivitas belajar siswa siklus II Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti temukan dilokasi penelitian di SMP Negeri 5 Gunungsitoli, diketahui bahwa : hasil observasi guru yang dilaksanaan siklus I yang dilaksanakan sebanyak 2 kali pertemuan diperoleh pada pertemuan I presentase sebesar 62,50%. Capaian ini mengalami peningkatan pada pertemuan II menjadi 69,64%, sehingga rata-rata capai hasil observasi guru siklus I pertemuan 1 dan 2 sebesar 66,07%. Sementara pada observasi siklus II pertemuan 1 memperoleh presentase sebesar 89,28%, mengalami peningkatan pada pertemuan 2 menjadi 94,64% dengan rata-rata capaian pada siklus 2 pertemuan 1 dan 2 sebesar 91,96%. Peningkatan hasil capaian yang diperoleh pada penelitian antara siklus I dan siklus II tersebut diatas peningkatan kemampuan guru dalam Berdasarkan hasil pengamatan lembar hasil observasi siswa pada siklus I dan siklus II ditemukan bahwa . Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I pertemuan 1 sebesar 41. 49% mengalami peningkatan pada pertemuan 2 menjadi 51% dengan rata-rata sebesar 46. Sementara pada siklus II pertemuan 1 diperoleh hasil observasi kegiatan siswa 37% mengalami peningkatan pada pertemuan 2 menjadi 90. 25% dengan rata-rata 31%Peningkatan antara siklus I dan siklus II menggambarkan bahwa tingkat keaktifan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dengan menerapakan model pembelajaran diferensial semakin efektif. Berdasarkan pemebelajaran maka peningkatan yang diperoleh aktivitas belajar siswa pada siklus I dan pada siklus II mengalami peningkatan dan sudah bisa dikatakan Peningkatan menggambarkan keberhasilan model meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas Vi di SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Dengan demikian penelitian ini dikatakan berhasil. Dalam penelitian ini diperoleh beberapa perbandingan teori, yaitu dengan penerapan model pembelajaran diferensial menyebabkan proses pembelajaran dapat terperbaiki, terjadinya hubungan timbal balik dalam proses pembelajaran dapat terperbaiki, (Pertywy, 2. Selain itu terjadinya hubungan timbal balik dalam proses pembelajaran, siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran, sehingga dalam proses pembelajaran rasa bosan dan jenuh yang selalu muncul dapat dibatasi dan siswa termotivasi untuk lebih aktif berpikir dalam mencari, menemukan sendiri jawaban dari suatu permasalahan yang ada, (Kiswah dkk. , 2. Dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti, terdapat penelitian terdahulu yang relevan diantaranya, penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Kamal, 2. pada tahun 2021 dengan judul AuImplementasi Pembelajaran Berdiferensiasi Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 8 BarabaiAy. Hasil penelitian berdiferensiasi mampu meningkatkan keaktifan siswa secara signifikan. Ratarata skor aktivitas belajar meningkat dari 9,92 pada siklus pertama menjadi 16,80 pada siklus kedua. Selain itu, ketuntasan hasil belajar siswa juga mengalami peningkatan drastis, dari 51,72% menjadi 96,55%, dengan nilai rata-rata kelas naik dari 66,55 menjadi 80. Hal ini pembelajaran berdiferensiasi efektif dalam meningkatkan keterlibatan dan pencapaian akademik siswa. Penelitian terdahulu berikutnya dilakukan oleh (Amini dkk. , 2. dari Universitas Sriwijaya pada tahun 2023 dengan judul AuPenerapan Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 JURNAL Edueco Universitas Balikpapan Partisipasi Aktif Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Palembang Pada Mata Pelajaran PPKnAy. Hasil penelitian menunjukkan memfasilitasi interaksi yang lebih aktif antara siswa dan guru, serta mendorong siswa untuk lebih terlibat dalam diskusi dan kegiatan kelas. Siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi peserta aktif dalam proses pembelajaran, yang ditunjukkan dengan komentar, serta partisipasi dalam diskusi Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa pembelajaran meningkatkan partisipasi aktif siswa, khususnya dalam mata pelajaran yang menuntut keterlibatan berpikir kritis seperti PPKn. Penelitian terdahulu selanjutnya dilakukan oleh (Jannah dkk. , 2. dari Universitas Mataram pada tahun 2023 dengan judul AuPenerapan Pembelajaran Berdiferensiasi untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Kimia Siswa Kelas X di SMAN 6 MataramAy. Hasil peningkatan signifikan terhadap aktivitas belajar siswa, di mana rata-rata skor aktivitas naik dari 11,25 pada siklus I menjadi 12,9 pada siklus II. Selain itu, ketuntasan hasil belajar siswa juga mengalami lonjakan dari 59,25% menjadi 85,3%. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran berdiferensiasi mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih inklusif dan efektif dalam mendorong keterlibatan serta pencapaian akademik siswa. Ketiga penelitian terdahulu memiliki kesamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, yaitu sama-sama berdiferensiasi sebagai strategi untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa. Kesamaan lainnya terletak pada fokus peningkatan partisipasi aktif siswa di kelas melalui penyesuaian metode belajar berdasarkan karakteristik individu, seperti kesiapan, minat, dan gaya belajar. Selain itu, ketiga penelitian juga menggunakan pendekatan tindakan kelas (PTK) dalam pelaksanaannya serta menunjukkan hasil positif berupa peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa. Adapun perbedaannya, terletak pada subjek dan konteks Penelitian yang dilakukan oleh peneliti berfokus pada siswa tingkat SMP di SMP Negeri 5 Gunungsitoli, sedangkan dua dari tiga penelitian sebelumnya dilakukan di tingkat SMA, dan satu di SMP berbeda di daerah lain. Jurnal Edueco Volume 8 Nomor 2. Desember 2025 KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan tentang penerapan model pembelajaran Diferensial dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu SMP Negeri 5 Gunungsitoli, dapat disimpulkan bahwa pada pelaksanaan proses pembelajaran, kemampuan guru dalam menerapkan model pembelajaran diferensial di kelas Vi SMP Negeri 5 Gunungsitoli telah terlaksana dengan baik. Hal ini ditandai dengan adanya peningkatan dari lembar observasi guru pada siklus I rata-rata 07%, sedangkan pada siklus II rata-rata presentase mencapai sebesar 96% tergolong baik sekali. Pada lembar observasi kegiatan siswa siklus I rata-rata presentase mencapai sebesar 46. 24% tergolong Sedangkan pada siklus II rata-rata presentase mencapai 85. 31% tergolong Melalui Diferensial meningkatkan aktivitas belajar siswa pada mata pelajaran IPS Terpadu kelas Vi-C di SMP Negeri 5 Gunungsitoli. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, penelitian hanya dilaksanakan pada satu kelas, yaitu kelas Vi-C SMP Naomi Rizka Theresya Waruwu1. Arianto Lahagu2 Bezisokhi Laoli3. Eka Septianti Laoli4 Negeri 5 Gunungsitoli, sehingga hasil penelitian belum dapat digeneralisasikan secara luas ke seluruh kelas atau sekolah lain dengan karakteristik peserta didik yang berbeda. Kedua, waktu pelaksanaan penelitian yang relatif singkat, yaitu hanya pembelajaran Diferensial belum dapat diamati secara mendalam dalam jangka panjang, terutama terhadap dampaknya pada hasil belajar secara berkelanjutan. Ketiga, aktivitas belajar siswa, sehingga belum sepenuhnya mengkaji aspek lain seperti perbedaan kemampuan individu siswa secara mendalam, minat belajar, maupun faktor eksternal yang dapat memengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Berdasarkan keterbatasan penelitian tersebut, disarankan agar penelitian selanjutnya dapat dilakukan pada lebih dari satu kelas atau sekolah yang berbeda agar hasil penelitian memiliki daya generalisasi yang lebih luas. Selain itu, penelitian di masa yang akan datang diharapkan dapat dilaksanakan dalam jangka waktu yang lebih panjang sehingga Diferensial dapat diamati secara lebih optimal dan berkelanjutan. Peneliti selanjutnya juga disarankan untuk mengkaji variabel lain, seperti hasil belajar kognitif, sikap, dan keterampilan siswa, karakteristik, minat, dan kebutuhan peserta didik agar proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan bermakna. JURNAL Edueco Universitas Balikpapan DAFTAR PUSTAKA