AHSANA MEDIA Jurnal Pemikiran. Pendidikan dan Penelitian Ke-Islaman P-ISSN : 2354-9424 E-ISSN : 2549-7642 Vol. No. 1 Februari 2024 http://journal. id/index. php/ahsanamedia RELEVANSI HADITS DALAM TRADISI KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA Ibnu Ali, 2Mujiburrohman ibnuali@uim. id, 2rohman311286@gmail. Universitas Islam Madura. Indonesia ABSTRAK Nabi Muhammad saw merupakan potret Al-QurAoan yang menjadi rujukan dalam menjalankan Islam. Sikap para sahabat setelah nabi juga mengambil peran penting. Maka Imam Malik mendefinisikan jejak perbuatan nabi dan para sahabat setelahnya dengan As-Sunnah. Sementara AsSyafiAoi lebih memberi konotasi sunnah hanya pada sunnah nabi. Sunnah dalam pengertian Imam Malik memiliki otoritas yang tinggi karena telah menjadi tradisi yang hidup dalam masyarakat Madinah sebagai refresentasi dari jejak nabi dan para sahabat yang mengetahui secara langsung cara hidup Nabi. Tradisi dalam pandangannya tidak memiliki sanad riwayat yang bisa dipertanggung jawabkan karena bisa jadi terkontaminasi dengan otoritas para khalifah yang berperan dalam tradisi agama. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis kajian Pustaka atau dikenal denga istilab library reseach. Hasil penelitian menujukkan bahwa tradisi yang hidup itulah yang lebih dikenal secara umum dalam masyarakat Islam. Sementara hadits lebih dikenal dan mendapat perhatian umat Islam secara cermat setelahnya. Sehingga tradisi itulah yang lebih mendominasi masyarakat muslim dalam kehidupan beragama. Dan dalam sejarahnya, tradisi itu berkembang dalam hidup dan budaya umat Islam. Maka tulisan ini ingin melihat relevansi antara jejak nabi dengan tradisi yang berkembang di tengah umat Islam. Implikasi penelitian ini adalah . Pemahaman yang Lebih Mendalam tentang Hadits, . Penerapan Hadits dalam Kehidupan Sehari-hari,. Pengembangan Etika dan Moral, . Pendidikan dan Dakwah, . Kerjasama antar-Umat Beragama. Kata kunci: Relevansi. Hadits-Sunnah, tradisi. ABSTRACT The Prophet Muhammad saw is a portrait of the Qur'an which is a reference in practicing Islam. The attitude of the companions after the prophet also plays an important role. So Imam Malik defines the traces of the actions of the Prophet and his companions after him with As-Sunnah. Meanwhile. As-Syafi'i gives more sunnah connotations only to the sunnah of the prophet. Sunnah in Imam Malik's understanding has high authority because it has become a living tradition in Medina society as a reflection of the footsteps of the Prophet and his companions who knew directly the Prophet's way of life. In his view, tradition does not have a reliable historical account because it could be contaminated with the authority of the caliphs who played a role in the religious tradition. This research method uses a qualitative approach with a type of library research or known as library The research results show that living traditions are more generally known in Islamic Meanwhile, the hadith became better known and received careful attention from Muslims So tradition dominates Muslim society in religious life. Historically, this tradition developed in the life and culture of Muslims. So this article wants to see the relevance between the prophet's footsteps and the traditions that developed among Muslims. The implications of this research are . Deeper Understanding of Hadith, . Application of Hadith in Daily Life, . Ethics and Moral Development, . Education and Da'wah, . Cooperation between Religious People. Keywords: Relevance. Hadith-Sunnah, tradition. Ibnu Ali. Mujiburrohman PENDAHULUAN Dalam kehidupan beragama, khususnya Islam seringkali terjadi situasi labelisasi antar paham atau aliran. Labelisasi itu berupa klaim benar dan saling menyesatkan, bahkan saling mengkafirkan antar kelompok dalam agama. Hal demikian karena Islam tidak hanya memberikan satu penafsiran, melainkan banyak penafsiran dan jalan tempuh yang bermacammacam. Permasalahan yang muncul di internal Islam dalam agama. Pada mulanya berupa kelompok politik, kemudian menjadi persoalan teologi, hukum dan kelompok dalam aliran yang lain. sama-sama melakukan penafsiran terhadap sejumlah teks berbau politik. Maka terkadang sebuah hadits dibuat-buat menyandarkan hadits tersebut pada nabi saw. Maka terjadilah apa yang disebut manipulasi atau kepalsuan yang menyebabkan keraguan dalam mengamalkannya. Dan ini dilahirkan dari produk peristiwa sejarah yang terjadi pada waktu itu. melahirkan banyak kelompok paham dan sekte Masing-masing Selain itu, konflik paham sering pula Sampai saat ini pun konflik paham masih memberikan pengaruhnya yang besar dalam tubuh umat Islam. Madzhab Sunni dan SyiAoah masih menempati kelompok yang paling besar. Dalam soal hadits keduanya sama-sama meliki rujukan dalam ilmu hadits. Jika dalam Sunni dikenal karya yang disebut dengan al-shihah al- Sehingga abad ke-3 H/ ke-9 M. Maka di golongan SyiAoah diketahui kelompoknya yang benar maka yang dikenal pula empat kita . l-kutubul arbaAoa. Tak dapat dipungkiri bahwa sejarah ini sittah atau enam kita shahih yang ditulis pada versi mereka yang ditulis setelah Sunni, yaitu pada abad ke-4 H/ke-10 sampai dengan abad ke5 H / ke-11 M. sudah pernah dilewati oleh kita umat Islam, dan bahkan sebelumnya nabi pun sudah pernah memprediksikan pecahnya umat Islam menjadi banyak kelompok dan aliran. Dalam keterangan hadits nabi tersebut hanya satu kelompok saja yang akan selamat. Yaitu kelompok yang beliau sebutkan sebagai ahlus sunnah wal jamaAoah . ang mengikuti sunnah nabi dan sahaba. Masalahnya semua kelompok mengaku ahlu sunnah wal jamaAoah. Bahkan ini juga terjadi dikalangan Sunni. Padahal belum tentu sepenuhnya sudah mengamalkan sunnah yang Nabi Karena adanya kontaminasi dalam konsep sunnah. Status ini menjadi rebutan dan semua kelompok sama-sama saling mengakuinya. Seyyed Hossein Nasr. Ensiklopedi Tematis Spritualitas Islam (Bandung: Mizan, 2. Hal 142 Ibnu Ali. Mujiburrohman Sehingga keotentikannya masih perlu dilihat merupakan uraian atau penjelasan dari yang dengan cermat dan teliti. telah tertulis dalam firman Allah itu, disamping Tulisan ini ingin mengetahui sejauh mana dalam posisi tertentu ia dapat melengkapi kehidupan umat beragama menjalani agamanya ketentuan yang tidak ditemukan didalam teks Al-QuAoran. sesungguhnya bersumber pada nabi saw. Dengan demikian sunnah adalah ulasan METODE PENELITIAN bagaimana kebenaran-kebenaran teks suci itu Metode enelitian ini menggunakan metode dihidupkan oleh makhluk Allah yang paling Pustaka atau library riseach, yaitu penelitian sempurna dalam kehidupan yang manusiawi. yang menggambarkan tentang ilmu pengetahuan Tentunya dalam menjalani kehidupan beragama yang berkaitan dengan tema penelitian dengan dalam berbagai aspek kehidupan yang lebih Maka sunnah merupakan warisan umat Pustaka atau kajian buku-buku ilmiah yang Islam (Isla. pengaplikasiannya dalam amal yang nyata. Pengertian selanjutnya menunjukkan bahwa HASIL DAN PEMBAHASAN amalan yang diduga kuat datang dari Nabi Menelaah Konsep Sunnah dan Hadits disebut dengan sunnah Nabi. Sunnah memiliki urgensi yang sangat Menurut Goldziher istilah sunnah pada penting sebagai pilar Islam dalam menentukan hukum dalam berbagai aspek kehidupan. kemudian disesuaikan oleh Islam. Sunnah pada diakui umat Islam sebagai posisi penting kedua mulanya tidak lebih dari preseden atau cara setelah Al-QurAoan, baik dalam masyarakat Margoliouth juga memberi kesimpulan Sunni maupun SyiAoah. Melalui Sunnah ini umat bahwa sunnah sebagai sumber hukum Islam Islam berusaha mencapai kebajikan-kebajikan masyarakat yang kemudian memiliki makna menjalankan agamanya sebagaimana yang telah yang terbatas pada tata cara dalam kehidupan dicontohkan oleh Nabi saw. Karena Nabi saw beragama sebagai yang telah diberikan oleh Nabi. 3 Makna yang terbatas itu kemudian yang mengamalkan firman Allah swt yang terwujud disebut dengan sunnah nabi, disamping kata Al-QurAoan. Dalam nilai-nilai Al-QurAoan contoh konkretnya bisa kita teladani melalui diri Rasulullah saw. Sehingga sunnah hakikatnya Islam Ibid. Joseph Schacht. The Origins Of Muhammadan Yurisprudence. Tentang Asal Usul Hukum Islam Dan Masalah Otentitas Sunah (Jakarta: Insane Madani, 2. , cet ke-1, hal 89 Ibnu Ali. Mujiburrohman sunnah yang bermakna lebih umum. Namun Sehingga dalam pengertian sunnah yang dalam teori hukum Islam klasik seperti yang diberikan oleh Malik ini, otoritas khalifah tentang amalan dan hukum yang ditradisikan sunnah dan sunnah nabi adalah sinonim. memiliki otoritas yang lebih tinggi daripada sebuah hadits Nabi. Dan itu juga yang dimaksud Makna As-SyafiAoi As-SyafiAoi kemudian yang kelihatan lebih menonjol dan dengan sunnah. mendominasi kajian hadits. As-SyafiAoi Jadi As-SyafiAoi membatasi sunnah pada konsep yang berbeda dengan konsep Malik yang lagsung bersumber pada diri Nabi saw, yang dimunculkan sebelumnya. Dia seperti juga dan bukan yang bersumber dari sahabat-sahabat Ibnu MuqoffaAo yang telah mendahuluinya dalam nabi maupun yang lainnya. Berbeda dengan As-SyafiAoi, kelompok sunnah yang dipahami pada masanya, pada hakikatnya tidak madzhab Madinah seperti yang dikemukakan oleh Malik Bin Anas mendifinisikan sunnah seperti yang telah diberikan oleh Nabi. Tetapi adalah amalan yang bersumber dari Nabi saw sebagaimana yang telah dipraktikkan dalam admistratif Dinasti Bani Umayyah. 5 Sehingga keotentikan sunnah seperti yang dipahami pada beranggapan bahwa tentunya apa yang telah masanya itu harus mendapatkan kritiknya yang menjadi tradisi masyarakat Madinah merupakan Madinah. Karena preseden-preseden otentik jejak-jejak dari amalan yang telah dipraktikkan Menurutnya, tradisi yang hidup dalam oleh Nabi saw. Bahkan menurutnya jika masyarakat Madinah yang disebut dengan kemudian ditemukan hadits terutama yang sunnah dalam konsep Malik tidak memiliki sanad riwayatnya berstatus ahad bertentangan isnad yang bisa dipertanggung jawabkan secara dengan tradisi yang telah berjalan dalam 6 Hadits-hadits dari Nabi, terutama masyarakat Madinah, maka tradisi itulah yang hadits ahad yang ada pada masanya dirasa Karena menurutnya tentu para sahabat masih mengganggu tradisi yang hidup. Padahal sudah mengetahuinya waktu itu seandainya ada menurutnya tradisi tidak otentik karena sebagian hadits yang demikian. Tetapi faktanya bahwa besar merupakan hasil regulasi administratif yang berjalan di masyarakat adalah yang sudah pemerintahan setelah Nabi mengenai sunnah. ditradisikan dan mendapat konsensus Dan ini juga terbukti tentang kasus Umar Bin Khattab Ibid. Ibid. Ibid. Ibnu Ali. Mujiburrohman keputusannya setelah beliau mendengar adanya Nabi, hadits dari Nabi. memiliki cakupan yang lebih luas mulai dari Dengan adanya kasus demikian dan kata-kata maupun tindakan dan amalan atau kasus-kasus lainnya yang serupa menunjukkan pengakuan yang semuanya bersumber dari Nabi bahwa hadits memiliki otoritasnya sendiri meski tidak didukung oleh tradisi yang hidup ataupun Perbedaan pengertian diatas berbeda lagi otoritas seorang khalifah. Inilah kemudian yang dengan tulisan Abuddin Nata. Dalam tulisannya tersebut, dia mengemukakan bahwa hadits Maka dia lebih mempersempit adalah segala peristiwa yang disandarkan makna sunnah. Sunnah dan sunnah Nabi adalah kepada Nabi saw. Walapun terjadi hanya satu kali dalam hidupnya dan walaupun hanya As-SyafiAoi Fakta lain yang memperjelas hal ini diriwayatkan oleh satu orang saja. Sedangkan adalah, bahwasanya tradisi yang hidup itu lebih sunnah adalah suatu istilah yang mengacu pada awal munculnya daripada persoalan hadits dan perbuatan yang mutawatir, yaitu bagaimana cara Nabi saw beribadah yang dinukilkan kepada Sehinga orang-orang lebih banyak mengetahui amalan dari tradisi kita dengan cara yang mutawatir pula. yang hidup itu. Karena hadits tak banyak Ringkasan Histori Perkembangan Hadits diketahui, meski sebuah hadits memang datang Sejarah dan perkembangan hadis dapat dari Nabi. Pengkondifikasian hadits terjadi dilihat dari dua aspek penting, yaitu periwayatan setelah sahabat dan ulama yang mengetahui dan penulisannya. Dari kedua aspek tersebut diketahui adanya proses transformasi hadits dari diberbagai daerah. Sehingga dirasa kondifikasi sumbernya, yaitu Nabi Muhammad Saw kepada hadits diperlukan untuk menjaga keasliannya. para sahabat dan seterusnya sampai munculnya Dalam Islam, kitab-kitab hadits yang dijadikan pedoman disamping sunnah juga dikenal kata hadits yang ajaran Islam. Hadits tumbuh berkembang pesat memiliki otoritas yang tinggi setelah Al-QurAoan. bersamaan dengan periode pewahyuan al- Dalam QurAoan dimana nabi Muhammad saw perlu menganggap keduanya bersinonim antara satu menyampaikan pemahaman dan penafsiran dengan yang lainnya. Sehingga tidak memiliki terhadap al-QurAoan. Sehingga para sahabat pun perbedaan yang berarti. dapat secara langsung memperoleh hadis dari Tetapi Seyyed Hossein Nasr memberikan Rasulullah SAW sebagai sumber hadis. Tempat perbedaan antara sunnah dan hadits yang seringkali disebut dalam sumber hukum Islam. Seyyed Hossein Nasr. Op. Hal 131-132 Abudin Nata. Metodologi Studi Islam (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2. Hal 237 Hadits kata-kata Ibnu Ali. Mujiburrohman Pada yang dijadikan Nabi dalam menyampaikan khulafaAour periwayatan hadits dilakukan dengan sangat disampaikan ketika Nabi bertemu dengan hati-hati. Periwayatan hadits sangat terbatas dan sahabatnya di masjid, pasar, ketika dalam perjalanan, di majlis-majlis ilmu dan terkadang terutama di masa Abu Bakar dan Umar yang juga di rumah Nabi sendiri. memang mengarahkan untuk berhati-hati dalam yang memerlukan saja Ada pun tentang penulisan hadits berbeda meriwayatkan hadits. Ada pun penulisannya dengan periwatannya. Semua penulis sejarah belum mendapat penanganan khusus karena Nabi, ulama hadits, dan ulama Islam sepakat bahwa pada masa Nabi, al-QurAoan memperoleh perhatian penuh dari Nabi maupun para mereka yang tidak menyukai penulisan hadits Nabi saw selalu memerintahkan tetapi ada pula yang memperbolehkannya. sahabat untuk menghafal dan menulis al- Bahkan diriwayatkan ada sebagian sahabat QurAoan. Ha ini berbeda dengan hadits meskipun melarang penulisan hadits tetapi akhirnya ia merupakan sumber yang penting namun tidak memperboehkan setelah alasan pelarangan itu mendapat perhatian demikian. Hadits tidak tidak ada. Al-QurAoan. Ada ditulis bahkan ada beberapa hadits yang isinya Penulisan hadits yang secara sungguh- melarang menulis hadits. Ada tiga sahabat yang sunguh terjadi baru 100 tahun setelah kenabian. terkenal meriwayatkan hadits-hadits nabi yang Penulisan hadits yang secara resmi yang menyatakan bahwa Nabi tidak suka hadits- dilakukan oleh pemerintah terjadi pada masa haditsnyta ditulis. Mereka ini adalah Abu khalifah Umar bin Abdul Aziz dari dinasti Hurairah. Abu Said Al-Khudri, dan Zaid bin Umayah. Dia menginstruksikan kepada Abu Tsabit. 10 Ibnu Hajar juga menyebutkan bahwa bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm Hadits Nabi belum disusun dan dibukukan pada (Gubernur Madina. dan para ulama Madinah masa sahabat dan tabiAoin senior. 11 Hal demikian semata-mata untuk menjaga kemurnian al- QurAoan dan menghindari percampuran tulisan ditujukan kepada Muhammad bin Syihab Al- dengan hadits. Zuhri yang dinilainya sebagai orang yang lebih Instruksi 13 Oleh karena itu para ahli sejarah dan Leni Andariati. Hadis dan Sejarah Perkembangan. Diroyah: Jurnal Ilmu Hadis. (Volume 4 No 2 Maret , 155 Zainul Arifin. Studi Kitab Hadits. (Surabaya: Al-Muna, 2. , 23-26 Zainul Arifin. Studi Kitab Hadits. (Surabaya: Al-Muna, 2. , 23 ulama mencatat mereka sebagai orang pertama Zainul Arifin. Studi Kitab Hadits. (Surabaya: Al-Muna, 2. , 32 Al-Khatib. Al-Sunnah Qobl al-Tadwin. (Kairo: Maktabah Wahdah, 1. , 33 Ibnu Ali. Mujiburrohman yang punya peran penting dalam membukukan Karena itu, banyak diantara tradisi agama yang hidup diwariskan kepada kita saat ini tidak Usaha penulisan hadits yang dirintis oleh relevan dengan hadits Nabi. Disebabkan karena Abu bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm penkondifikasian hadits terjadi belakangan. Al-Zuhri yaitu di masa akhir abad pertama Hijriyah. dilanjutkan oleh ulama-ulama hadits terutama Sementara penelitian secara radikal terjadi di pada pertengahan abad kedua hijriyah. Lalu dianjutkan lagi oleh generasi penulis-penulis memungkinkan tradisi yang datang baik dari hadits yang datang setelah mereka. Masa-masa nabi maupun sahabat yang lebih dikenal, apalagi ini disebut dengan masa pembukuan hadits. itu juga dinukilkan secara mutawatir. Muhammad Relevansi Sunnah Syihab Tengah Tradisi Kehidupan Beragama Hijriyah. Sehingga Sebagai salah satu contoh adalah apa yang dilakukan oleh khalifah Utsman dalam soal Sebagai sumber ajaran Islam penambahan adzan menjadi dua kali sebelum setelah Al-QurAoan, hadits juga telah mewarnai khatbah JumAoat dimulai. Padahal sebelumnya adzan di waktu JumAoat hanya dilakukan satu Darinya juga lahirlah corak penafsiran yang Hal ini kemudian menjadi sebuah tradisi berbeda-beda yang terus menerus hidup di kalangan umat aspek, baik Dari aspek keabsahannya hadits juga Islam dan diwariskan pada kita sampai sekarang memberikan pengaruh dalam aspek hukum. Dua konsep sunnah sebagaimana yang Dalam hal ini pula tidak berlebihan jika kita melihat relevansinya dengan apa yang telah dijelaskan diatas sungguh telah sampai pada kita, baik dalam pengertian perkataan yang Hidayat. Bahwasanya lebih dari sekedar sistem disandarkan kepada nabi ataupun berupa tradisi keyakinan. Islam yang kita kenal sekarang yang hidup yang diduga bersumber dari Nabi. adalah produk sejarah. Ia telah mengalami Pada kenyataannya, apa yang disebut tradisi penafsiran oleh para pemeluknya di setiap yang hidup itu merupakan yang pertama dikenal dikalangan umat Islam daripada perkataan Nabi. sepantasnya upaya yang perlu dilakukan dalam Tradisi agama itu kemudian diwariskan turun kehidupan beragama adalah memurnikan agama temurun sehingga akhirnya sampai kepada kita. dan bukannya melestarikan tradisi agama yang Bahkan sebagian diantaranya ada pula yang cenderung terkontaminasi oleh perkembangan bercampur dengan budaya dan tradisi daerah Maka umat Islam harus meninjau ulang Prof. Dr. Oleh Komaruddin Komaruddin Hidayat. Wahyu Di Langit Wahyu Di Bumi (Jakarta: Paramadina , 2. hal 15 Ibnu Ali. Mujiburrohman agamanya dan meninjau relevansinya kembali karya yang ditulis oleh enam imam hadits pada Al-QurAoan dan hadits. Nabi sendiri sudah semua aspek juga disinggungnya. mewanti-wanti Implikasi penelitian tentang relevansi diwaspadai dari yang diistilahkannya kemudian hadits dalam tradisi kehidupan umat beragama dengan bidAoah. Suatu doktrin dan amalan agama dapat mencakup berbagai aspek sebagai berikut: yang ketentuannya tidak pernah datang dari Pemahaman yang Lebih Mendalam Nabi saw. Dalam Islam orang yang hidup beragama Hadits: Penelitian tidak dipahami secara sempit. Pengertian agama terhadap hadits dan pentingnya memahami konteks, sanad . antai peraw. , dan matan . subyektif, dalam artian tergantung dari para hadits secara lebih mendalam. Implikasinya adalah penting bagi umat beragama untuk 15 Agama Islam sendiri dalam mempelajari hadits dengan cermat agar dapat sistem pemahamannya tidak hanya mempunyai mengambil hikmah dan petunjuk yang tepat dari sangkut paut dengan soal hubungan manusia ajaran Islam. dengan Tuhan. Tetapi seperti yang diakui juga Penerapan Hadits dalam Kehidupan oleh H. Gibb merupakan agama yang Sehari-hari: memiliki sistem kemasyarakatan yang berdiri pentingnya menerapkan ajaran-ajaran hadits sendiri dan mempunyai pemerintahan sendiri. dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini Maka Islam tidak hanya dipahami sebagai dapat menginspirasi umat beragama untuk agama tetapi juga pemerintahan dan tata cara menggunakan hadits sebagai pedoman dalam kehidupan manusia seluruhnya. Orang yang berperilaku, berinteraksi dengan sesama, dan menjalankan agamanya dalam Islam berarti menjalani kehidupan sehari-hari secara lebih menitikan seluruh aspek kehidupannya sesuai Islami. dengan nilai-nilai ajaran Islam. Implikasi Pengembangan Etika Moral: Hadits-hadits Nabi sebagaimana juga Al- Penelitian ini juga menyoroti nilai-nilai etika QurAoan membicarakan berbagai aspek dalam dan moral yang terkandung dalam hadits. Hadits merupakan ulasan dari Al-QurAoan Implikasinya adalah umat beragama dapat sebagai sumber utama dalam Islam. Pada saat mengembangkan karakter dan moral yang lebih yang sama ia melengkapi keterangan dalam Al- baik dengan mengikuti ajaran-ajaran hadits. QurAoan. Maka jika kita melihat kumpulan karya- seperti kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan kerja keras. Ibid. Harun Nasution. Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya, (Jakarta : UI Pres,1. jilid I hal 53 Pendidikan dan Dakwah: Penelitian ini dapat menjadi dasar untuk pengembangan Ibnu Ali. Mujiburrohman program pendidikan dan dakwah yang lebih dan perbuatan nabi dalam melaksanakan agama Islam atau berupa perkataan beliau sendiri. Sikap para berdasarkan hadits. Implikasinya adalah perlu sahabat setelah nabi juga mengambil peran adanya upaya untuk mengintegrasikan hadits dalam kurikulum pendidikan dan kegiatan mendefinisikan jejak perbuatan nabi dan jejak para sahabat setelahnya dengan As-Sunnah. pesan-pesan Islam Malik disampaikan dengan lebih efektif kepada umat Sedangkan pandangannya hanya pada sunnah nabi (As- Kerjasama antar-Umat Beragama: As-SyafiAoi Maka Sunnah An-Nabawiya. Implikasi lainnya adalah hadits dapat menjadi Sunnah dalam pandangan Malik memiliki titik persamaan antara umat beragama yang otoritas yang tinggi karena telah menjadi tradisi Penelitian ini dapat mempromosikan yang hidup dalam masyarakat Madinah sebagai refresentasi dari jejak nabi dan para sahabat memahami dan menghargai ajaran-ajaran Islam yang mengetahui secara langsung cara hidup Sementara As-SyafiAoi memiliki pandangan memperkuat toleransi dan kerukunan antar-umat yang berbeda bahwasanya hadits dalam makna sabda nabi memiliki otoritas yang lebih tinggi antar-umat Dengan daripada tradisi yang hidup di Madinah. Tradisi dalam pandangannya tidak memiliki sanad mengambil manfaat yang lebih besar dari riwayat yang bisa dipertanggung jawabkan ajaran-ajaran hadits dan menjadikannya sebagai karena bisa jadi terkontaminasi dengan otoritas panduan yang relevan dan berharga dalam para khalifah yang mengambil peran penting kehidupan mereka. dalam tradisi agama. Namun dalam faktanya, tradisi yang hidup KESIMPULAN itulah yang lebih dikenal secara umum dalam Bahwasanya dalam kehidupan beragama. Islam Rasulullah masyarakat Islam. Sementara hadits lebih dikenal dan mendapat perhatian umat Islam secara cermat setelahnya. Sehingga tradisi itulah tauladan sempurna yang bisa mengamalkan yang lebih mendominasi masyarakat muslim kandungan nilai-nilai Al-QurAoan dalam bentuk kehidupan yang benar-benar manusiawi. Maka sejarahnya, tradisi itu berkembang dalam hidup mengamalkan kehidupan beragama secara baik dan budaya umat Islam. Dan dan benar adalah dengan mengikuti langkah dan Oleh karenanya, kehidupan beragama bagi jejak nabi saw. Jejak-jejak itu bisa berupa sikap umat Islam saat ini merupakan produk sejarah Ibnu Ali. Mujiburrohman Sehingga relevansinya dengan hadits maupun sunnah nabi mesti dicertmati kembali. Fenomena macam-macam tradisi beragama di menunjukkan bahwa agama telah mengalami Umat Islam melihatnya sebagai sejarah agama dan bukan Schacht. Joseph. The Origins Of Muhammadan Jurisprudence. Tentang Asal Usul Hukum Islam Dan Masalah Otentitas Sunnah. Yogyakarta: Insane Madani. Leni Andariati. Hadis Sejarah Perkembangan. Diroyah: Jurnal Ilmu Hadis. Volume 4 No 2 Maret 2020. Zainul Arifin. Studi Kitab Hadits. Surabaya: AlMuna, 2010. doktrin agama. Maka terlalu dini jika salah satu kelompok mengaku golongon ahlus sunnah sebelum mencermati kembali nilai-nilai agama melalui jejak Rasul-Nya yang sempurna. Implikasi penelitian tentang relevansi hadits dalam tradisi kehidupan umat beragama dapat mencakup berbagai aspek sebagai berikut: Pemahaman yang Lebih Mendalam tentang Hadits. Penerapan Hadits dalam Kehidupan Seharihari. Pengembangan Etika dan Moral. Pendidikan dan Dakwah. Kerjasama antar-Umat Beragama. DAFTAR PUSTAKA