Simulasi Perancangan User Interface Aplikasi Mobile Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten Frandy Feliciano1. Tri Hadi Wahyudi2. Ruby Chrissandy3 Desain Komunikasi Visual. Fakultas Seni Rupa dan Desain. Universitas Tarumanagara. Jakarta 625170023@stu. id1, triw@fsrd. id, rubyc@fsrd. Abstrak Ai Kurangnya akses informasi pada internet dan kurang efektifnya upaya pemerintah setempat perihal informasi cagar budaya, gaya hidup masyarakat yang kian berubah dalam memenuhi kebutuhan informasi, dan belum tersedianya aplikasi khusus cagar budaya untuk Provinsi Banten merupakan kendala yang dialami oleh masyarakat Provinsi Banten dalam mengenal dan mempelajari cagar budaya yang terdapat di wilayah tempat tinggalnya. Sementara itu, mereka cukup memiliki ketertarikan sejarah, keinginan serta kemauan untuk mengenal dan mempelajari cagar budaya. Hal ini melatarbelakangi penulis guna merancang user interface aplikasi mobile pengenalan cagar budaya Provinsi Banten. Perancangan ini bertujuan menyediakan informasi mengenai seluruh cagar budaya di Provinsi Banten guna memudahkan masyarakat mencari dan/atau membaca informasi cagar budaya yang terdapat di wilayah tempat tinggalnya dengan menerapkan prinsip desain user interface. Metode perancangan dimulai dari tahap identifikasi masalah, menentukan tujuan perancangan, pengumpulan data . awancara, kuesioner, observasi, dan studi pustak. , menganalisis data, wireframe/-ing, desain, dan prototype-ing. Berdasarkan hasil analisis data, diketahui bahwa dengan kehadiran aplikasi mobile pengenalan cagar budaya Provinsi Banten dapat bermanfaat bagi masyarakat Provinsi Banten. Mereka juga berpendapat bahwa user interface daripada aplikasi mobile sangat penting dan berpengaruh saat mereka menggunakan sebuah aplikasi mobile. Demikian perancangan ini merupakan solusi tepat untuk permasalahan yang ada sesuai dengan kebutuhan dan gaya hidup mereka. Kata kunci: aplikasi mobile. cagar budaya. Provinsi Banten. user interface. PENDAHULUAN Tentang Cagar Budaya adalah warisan budaya Sejarah sejatinya merupakan identitas bersifat kebendaan yang perlu dilestarikan suatu bangsa yang tidak bisa ditinggalkan. karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu Sejarah telah mengakumulasikan hasil-hasil pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau perjuang-an di masa lampau membawa bangsa Menurut Balai Pelestarian Cagar Indonesia mencapai kemajuan di dewasa ini. Budaya (BPCB) Banten . apabila cagar Mengenali dan memaknai sejarah bangsa budaya dipahami secara mendalam melalui sendiri membuat setiap individu bahkan proses belajar yang tekun maka akan sangat bangsa mampu berdiri dengan kokoh dengan adiluhung . eperti: tata-krama, kesantunan Mempelajari sejarah dapat dilakukan salah dalam menempatkan diri pada keluarga, satunya dengan mempelajari sejarah atau asal- sekolah, serta pergaulan sehari-hari dalam usul cagar budaya yang terdapat di sekitar kita. hidup bermasyaraka. Melanjuti BPCB Banten. Cagar budaya menurut Undang-undang lebih luas lagi jika sejak dini para pelajar Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 ditanamkan nilai-nilai pribadi budaya bangsa, nilai-nilai maka semangat untuk ikut memiliki serta menjaga bangsa negara yang memiliki aneka Selain itu, belum tersedianya ragam budaya akan tercipta dengan baik. aplikasi mobile khusus cagar budaya juga Selain (Kompas. Dradjat menjadi kendala yang dialami Provinsi Banten. Demikian, hal-hal tersebut guna/fungsi, yakni: guna inspiratif, yakni dapat memberikan mengidentifikasi solusi terbaik, yakni sebuah inspirasi atau ilham kepada setiap orang perancangan desain user interface aplikasi yang berjuang memperbaiki kehidupan mobile pengenalan cagar budaya Provinsi masa kini dan masa yang akan datang. Banten. guna instruktif, yakni dapat memberikan Perancangan menyediakan informasi seluruh cagar budaya keterampilan atau pengetahuan yang dapat ditiru atau dicontoh oleh generasi masyarakat guna mencari dan/atau membaca informasi mengenai cagar budaya yang guna rekreatif, yakni dapat memberikan Banten terdapat di wilayah tempat tinggalnya dengan Provinsi prinsip-prinsip wawasan yang sifatnya mendidik. Dewasa ini, dengan perkembangan dunia METODE digital yang pesat seharusnya informasi mudah Adapun digunakan penulis dalam merancang user interface aplikasi mobile pengenalan cagar kurangnya akses informasi yang tersedia budaya Provinsi Banten memiliki tujuh alur, didapat untuk Namun, masyarakat Provinsi Banten tidak mengenal Identifikasi Masalah dan mengetahui nilai sejarah atau asal-usul Tahap ini merupakan tahap penguraian cagar budaya. Sementara itu, ketertarikan beberapa masalah yang terjadi yang didapat masyarakat terhadap sejarah, keinginan dan dari berbagai sumber sebagai langkah awal kemauan untuk mengenal dan mempelajari cagar budaya cukup tinggi, dan gaya hidup masyarakat Provinsi Banten dalam memenuhi kebutuhan informasinya juga kian cenderung Tujuan Perancangan Tahap ini merupakan tahap menguraikan dengan sederhana atau berupa sketsa yang masih dengan ketelitian rendah . ow-fidelit. perancangan guna melakukan tugas searah Desain dengan rencana yang telah disusun. Tahap ini merupakan tahap merealisasikan ide atau konsep pada tahap sebelumnya Pengumpulan Data Tahap ini merupakan tahap pengumpulan melalui mockup yang dibuat dengan ketelitian data guna memperkuat identifikasi masalah Adapun sumber data yang menggunakan beberapa elemen visual nyata, dikumpulkan, yakni berupa data kualitatif dan seperti warna, huruf, gambar, dan lainnya. Data kualitatif diperoleh dari Proses mockup perangkat lunak pengolah grafis. igh-fidelit. dibuat dengan bantuan berdomisili di Provinsi Banten dan observasi Google Play. Prototyping kuantitatif diperoleh dari kuesioner terhadap Tahap ini merupakan tahap pembuatan 53 responden Provinsi Banten. Selain itu, desain di tahap sebelumnya menjadi lebih pengumpulan data juga diperoleh melalui nyata yang lebih konkret melalui pembuatan studi pustaka berupa teori-teori berkaitan user prototype dengan bantuan perangkat lunak pengolah grafis. II. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Data Analisis Data Tahap ini merupakan tahap penganalisisan Berdasarkan hasil wawancara terhadap seluruh data yang diperoleh sebelumnya guna lima narasumber, kurangnya informasi dari mengambil keputusan yang tepat berdasarkan sebuah kesimpulan. ketidaktahuan narasumber terhadap cagar Narasumber mengatakan bahwa upaya pemerintah setempat hanya melalui Wireframing Tahap ini merupakan tahap perancangan pengenalan cagar budaya Provinsi Banten seminar-seminar yang dirasa kurang efektif Narasumber menyarankan agar transformasi ke bentuk digital seperti video atau aplikasi lebih menarik guna menjangkau masyarakat Selain itu, hasil wawancara menunjukkan menggunakan aplikasi mobile. Selain itu, bahwa masih kurangnya sumber informasi berdasarkan hasil observasi melalui Google pada internet. Kemudian, berdasarkan analisis Play, tidak ditemukannya aplikasi khusus cagar data hasil kuesioner terhadap 53 responden budaya untuk Provinsi Banten, sementara di masyarakat Provinsi Banten, sebanyak 73,6% beberapa wilayah Indonesia, seperti Provinsi tidak mengenal cagar budaya yang terdapat di Sumatera Barat. Provinsi Riau. Kepulauan Riau, wilayah tempat tinggalnya dan 92,5% tidak Kabupaten Tana Toraja, dan Kabupaten Klaten asal-usul telah memilikinya. Demikian, berdasarkan daripada cagar budaya tersebut. Terdapat hasil analisis data, dibutuhkan adanya sebuah perancangan media digital bersifat informatif menjangkau seluruh masyarakat Provinsi menemukan daftar cagar budaya setempat ketidaktahuan mereka, 66,7% responden tidak Banten. dan 92,5% tidak mengetahui nilai sejarah dan asal-usul cagar budaya karena kurangnya Kajian Teori Kajian Sementara itu, 83% responden cukup tertarik digunakan penulis guna menunjang proses terhadap sejarah dan 86,8% cukup memiliki keinginan dan kemauan untuk mengenal dan tersebut, antara lain: mempelajari cagar budaya. Data kuesioner prinsip-prinsip desain user interface. Provinsi Adapun proses desain user interface. Banten menciptakan ikon yang bermakna. memenuhi kebutuhan informasi cenderung Kajian teori prinsip-prinsip user interface lebih sering mengakses media digital dan menjadi dasar/fundamen bagi penulis dalam 58,5% sangat sering membaca dan/atau merancang user interface aplikasi mobile mencari informasi dengan internet mobile. pengenalan cagar budaya Provinsi Banten. Kemudian, 98,1% Prinsip-prinsip user interface menurut perancangan aplikasi mobile bermanfaat bagi Galitz . di antaranya adalah: accessibility 94,3% 69,8% berpendapat bahwa desain user interface merupakan aksesibilitas dalam desain guna membuat sistem dapat digunakan oleh . recovery merupakan kemudahan bagi pengguna penyandang disabilitas. berinteraksi dengan sistem . aesthetic merupakan estetika desain atau komposisi . responsiveness yang secara visual menyenangkan akan . dalam menanggapi permintaan menarik untuk dilihat . simplicity visual, konsep, dan penggunaan kata-kata terhadap user interface . consistency merupakan penekanan keseragaman dalam . structure penampilan, penempatan, dan perilaku guna membuat sistem mudah dipelajari dan diingat pengguna mengenai domain dan gambaran pengguna tentang bagaimana user interface . efficiency harus disusun. perhatian pengguna yang harus ditangkap oleh elemen layar yang relevan saat dibutuhkan Proses desain user interface menurut Wasil . terdapat lima alur kerja yang selalu dipakainya, yakni: familiarity merupakan pembangunan konsep user pengaturan spasial yang harus sudah dipahami merupakan penelitian guna mengumpulkan menggunakan suatu metode tertentu oleh pengguna . wireframe/-ing . forgiveness merupakan sistem pengampunan yang membuat orang terhindar dari masalah menurut UXPin . adalah kerangka kerja dari desain sederhana dengan ketelitian rendah . ow-fidelit. yang mengeksplorasi struktur konten selama masa awal proyek . simplicity berkaitan terhadap seberapa sederhananya . idak rumit/komplek. ikon dalam bentuk dan . desain merupakan tahap merealisasikan ide dalam . consistency bentuk desain mockup. konsistensinya ikon dalam bentuk dan struktur . prototype/-ing menurut Howard . 7, dalam Fauzan & berkaitan terhadap seberapa baiknya ikon Adiputri, 2. adalah pendekatan dalam menyampaikan makna yang dimaksudkan . efficiency berkaitan terhadap seberapa efektifnya sebuah perangkat lunak atau komponen- ikon tersedia dan diperlukan pengguna dalam komponen perangkat lunak akan bekerja beberapa situasi . discriminability konstruksi aktual dilakukan berkaitan terhadap seberapa baiknya setiap ikon dapat dibedakan secara visual. testing and launch merupakan tahap memvalidasi bahwa desain sudah sesuai dengan tujuan. Wireframing Adapun wireframe daripada penelitian ini adalah Dalam menciptakan ikon yang bermakna sebagai berikut: menurut Galitz . terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan ikon, yakni: familiarity berkaitan terhadap seberapa akrabnya ikon dengan yang biasa pengguna lihat . clarity berkaitan terhadap seberapa jelasnya . idak ambig. ikon dalam bentuk, struktur, dan teknik informasi pada layar . KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data, perlu adanya upaya yang dapat menjangkau seluruh masyarakat Provinsi Banten dalam memenuhi kebutuhan informasinya terkait cagar budaya. Demikian, dengan kebutuhan dan gaya hidup mereka yang sangat sering mengakses media pengenalan cagar budaya Provinsi Banten: . Beranda. digital, perancangan user interface aplikasi Cagar Budaya Ae Pelajari Lebih. Wilayah. mobile pengenalan cagar budaya Provinsi Gambar Beberapa (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2021. Banten menjadi solusi yang tepat guna menyediakan informasi. Desain Adapun beberapa hasil desain daripada penelitian ini adalah sebagai berikut: Penelitian perancangan ini merupakan bagian dari proses pembelajaran yang tidak lepas dari keterbatasan dan kekurangan. Adapun tersebut, yakni penelitian masih bersifat simulasi karena penulis tidak mendapatkan umpan balik . baik dari pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten maupun Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) . Banten guna melakukan wawancara. Oleh karena sebab itu, diharapkan pembaca mampu melakukan wawancara terhadap instansi atau lembaga tersebut guna menyempurnakan penelitian ini. Gambar 2: Beberapa desain halaman aplikasi mobile IV. UCAPAN TERIMA KASIH Adapun proses penyelesaian karya tulis pengenalan cagar budaya Provinsi Banten: . Beranda. ilmiah Tugas Akhir ini tidak lepas dari Cagar Budaya Ae Pelajari Lebih. Wilayah. dukungan, bimbingan, dan bantuan dari (Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2021. berbagai pihak yang dengan tulus dan ikhlas memberikan sumbangan pemikiran. Oleh November 2010. Lembaga Nasional karena sebab itu, dengan segala kerendahan Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor dan ketulusan hati, penulis mengucapkan Jakarta. terima kasih teriring doa kepada: Bapak Tri Hadi Wahyudi Drs. Sn. Ruby Chrissandy S. Sn. Ds. , selaku dosen saudara Aldo. Jovan. Irvan. Edward, dan Rizal UXPin. The Guide to Interactive Wireframing . -boo. https://w. diwawancarai di sela-sela kesibukannya para responden yang bersedia menjawab kuesioner dengan jujur dan teliti. Wasil. Petunjuk Memulai UX dari NOL . -boo. https://w. Daftar Pustaka