Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 Persepsi Siswa Bimbingan Belajar Luar Sekolah Terhadap Minat Melanjutkan Pendidikan Tinggi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (Studi Terhadap Siswa Bimbingan Belajar di Kota Pekalonga. Arditya Prayogi*, 2Nurul Husnah Mustika Sari. Fika Luthfia Sari UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan Email: arditya. prayogi@uingusdur. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi dengan adanya fenomena dimana siswa yang mengikuti bimbingan belajar luar sekolah secara umum menjadikan perguruan tinggi umum sebagai pilhan pertama dan utama mereka. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana persepsi siswa bimbingan belajar luar sekolah yang dikaitkan terhadap minat mereka untuk melanjutkan pendidikan tinggi di perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus dengan analisis deskriptif kualitatif. Subjek penelitian dalam penelitian ini ialah siswa/siswi bimbingan belajar yang ada di Kota Pekalongan. Sampel dalam penelitian diambil dengan menggunakan sampel berorientasi tujuan atau purposive sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dokumentasi, kuesioner/angket serta wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa bimbingan belajar di Pekalongan mempersepsikan PTKIN dengan positif. Mayoritas siswa bimbingan belajar ini memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik terhadap PTKIN. Namun demikian, meski mempersepsikan positif, hasil penelitian menunjukkan bahwasanya persepsi positif ini tidak mesti linier dengan minat. Kata Kunci: Bimbingan Belajar. Persepsi Siswa. Minat. PTKIN ABSTRACT This research is motivated by the existence of a phenomenon where students who take tutoring outside of school generally make public tertiary institutions their first and main choice. Thus, this study aims to find out how the perceptions of out-of-school tutoring students are related to their interest in continuing higher education at state Islamic religious universities (PTKIN). This research is a qualitative research using a case study approach with qualitative descriptive analysis. The research subjects in this study were tutoring students in Pekalongan City. The sample in the study was taken using a goal-oriented sample or purposive sampling. Data collection in this study was carried out through documentation, questionnaires/questions and interviews. The results showed that tutoring students in Pekalongan perceived PTKIN positively. The majority of these tutoring students have good knowledge and experience of PTKIN. However, despite having a positive perception, the results of the study show that this positive perception does not have to be linear with interest. Keywords: Tutoring. Student Perceptions. Interests. PTKIN Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 348 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 PENDAHULUAN Banyaknya perguruan tinggi yang terus bertambah, termasuk dengan dibukanya beberapa program studi baru pada perguruan tinggi yang telah existing menandai bahwasanya persaingan dalam dunia pendidikan terus meningkat. Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat 3. 957 perguruan tinggi di Indonesia pada tahun 2021. Dari jumlah itu, sebanyak 3. 115 perguruan tinggi berada di bawah Kementerian Pendidikan. Kebudayaan. Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Riste. dan 842 kampus di bawah Kementerian Agama (Kemena. Dengan banyaknya jumlah perguruan tinggi ini, menjadi keniscayaan terjadinya persaingan yang ketat dari perguruan tinggi untuk meningkatkan mutu dan citranya masing-masing. Fenomena persaingan ini tentu memunculkan kompetisi antar perguruan tinggi dimana hilir dari kompetisi ini ialah perguruan tinggi ingin menjadi yang terbaik. Dengan demikian, perguruan tinggi akan senantiasa menjaga nama baik, serta berupaya untuk terus meningkatkan mutu dan kualitas yang sudah ada. Perguruan tinggi dituntut untuk mampu memberikan yang terbaik pada masyarakat pada umumnya dan civitas academica-nya pada khususnya. Perguruan tinggi merupakan bentuk layanan pendidikan tinggi yang disediakan oleh peruguruan tinggi, baik dalam bentuk sekolah tinggi, institut, maupun universitas, yang merupakan tahapan pendidikan lanjutan yang ditempuh pasca menyelesaikan pendidikan menengah atas dan sederajat (SMA. SMK. MA sederaja. Terdapat sejumlah manfaat yang dapat diperoleh oleh siswa bila melanjutkan pendidikannya hingga ke perguruan tinggi. Beberapa manfaat tersebut seperti, pertama, memiliki pengetahuan yang lebih luas serta penguasaan akan bidang keahlian tertentu secara spesifik. Kedua, layanan pendidikan tinggi disediakan oleh perguruan tinggi yang merupakan jenjang pendidikan lanjutan setelah pendidikan menengah (SMA/SMK/MA/MAK). Sejumlah manfaat yang dapat diperoleh siswa bila melanjutkan studinya ke perguruan tinggi, diantaranya: . memiliki pengetahuan yang luas serta menguasai bidang keahlian tertentu. memperbesar peluang atau kesempatan . memperluas jaringan atau rekanan. mengubah pola pikir siswa menjadi lebih baik. Kecenderungan siswa dalam memilih perguruan tinggi menunjukkan minat dan motivasinya dalam meraih cita-cita. Hal ini akan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 349 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 menjadi faktor pendorong untuk mereka terus belajar dengan giat agar dapat bersaing dengan siswa lainnya. Sekolah Menengah Atas/sederajat menengah pada pendidikan formal di Indonesia yang dilaksanakan setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama atau sederajat. Tujuan dari lembaga pendidikan ini salah satunya adalah memberikan fasilitas wawasan serta pemahaman untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu perguruan Bagi siswa sekolah menengah sendiri, studi ke jenjang perguruan tinggi dianggap sebagai salah satu cara untuk mewujudkan cita-cita mereka. Mereka juga menyadari pentingnya kuliah dengan benar dan selesai tepat waktu. Bagi mereka, kuliah merupakan jaminan dan menjadi dasar bagi kesuksesan mereka di masa depan (Wibowo dan Widodo, 2. Melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di awali dengan adanya rasa ketetarikan dan kebutuhan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan. Dalam kaitannya dengan kecenderungan siswa dalam memilih pendidikan tinggi, hal ini ditunjukkan dari adanya keinginan diri untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi, adanya dorongan baik dari orangtua maupun lingkungan sosial kemasyarakatan, adanya perhatian siswa dan orangtua tentang pendidikan tinggi yang akan dipilih, serta adanya harapan baik dari siswa maupun orangtua terhadap pendidikan tinggi tersebut. Kecenderungan dalam memilih pendidikan tinggi tumbuh dari persepsi siswa dan orangtua mengenai pendidikan tinggi. Anggapan atau pengetahuan ini muncul dari hasil interaksi seseorang dengan lingkungan masyarakatnya. Bila masyarakat sekitar memiliki persepsi yang positif tentang suatu hal, maka hal tersebut akan dipandang baik dan positif untuk dilakukan. Setidaknya ada tiga hal yang membentuk persepsi seseorang tentang suatu pendidikan tinggi, diantaranya: . pengetahuan tentang pentingnya pendidikan tinggi. pengetahuan tentang manfaat pendidikan dan . akses informasi tentang suatu pendidikan tinggi. Persepsi positif siswa terhadap pendidikan tinggi akan memotivasinya untuk giat belajar agar dapat lulus di perguruan tinggi idamannya tersebut (Widarta, 2. Fenomena bimbingan belajar . non formal/luar sekolah adalah suatu hal yang cukup menarik untuk diperbincangkan di Indonesia, termasuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 350 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 pula di Kota Pekalongan. Banyak hal positif dan negatif yang dapat dipelajari dari hadirnya lembaga tersebut. Siswa kelas IX yang sebentar lagi akan lulus, mengikuti bimbel untuk bisa masuk SMA ternama. Begitu pula dengan siswa kelas XII berupaya untuk bisa melanjutkan studi di universitas ternama/favorit. Tumbuhnya berbagai bimbingan belajar non formal menjadi fenomena menarik dan menjadi catatan tersendiri bagi dunia pendidikan di Indonesia. Ketidakpuasan terhadap kondisi pembelajaran di sekolah diyakini sebagai salah satu penyebab tumbuh suburnya berbagai bimbingan belajar tersebut. Hal ini menyebabkan peran sekolah sangat dipertanyakan, karena siswa masih butuh mengikuti lembaga bimbingan diluar sekolah untuk menambah materi yang tidak diajarkan di sekolah. Lembaga bimbingan di luar sekolah menjadi alternatif para siswa di luar sekolah dan siswa menggantungkan harapannya pada bimbingan belajar untuk mendapatkan materi yang tidak diajarkan di sekolah, dengan adanya proses penerimaan di PTN melalui ujian tertulis semakin menambah daya tarik siswa terhadap bimbingan belajar. Di Indonesia, secara umum PTN dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti PTN umum. PTN kedinasan, hingga PTN Keagamaan. Dalam konteks ini. PTN keagamaan juga memiliki fokus pada beberapa agama resmi yang diakui di Indonesia, termasuk salah satunya berupa PTKIN. PTKIN atau bisa disebut juga dengan Perguruan Tinggi Agama Negeri adalah perguruan tinggi agama yang diselenggarakan oleh kementerian Agama. Perguruan Tinggi Keagamaan Islam yang merupakan bagian dari sistem pendidikan Islam yang kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam. Kondisi PTKIN sekarang terkadang masih dijadikan pilihan yang nomer dua setelah PTN . Hai ini juga ditegaskan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin periode 2014-2019, selalu menghimbau dan meminta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) untuk mengembangkan inovasi guna menjawab menurunnya minat mahasiswa yang belajar pada program studi agama. Menurutnya, penurunan ini menjadi tantangan PTKIN agar bisa segera diatasi. Sebab. PTKIN pada awalnya justru dibangun dengan ilmu-ilmu pokok keagamaan . "Justru saat ini banyak dibutuhkan expertise atau Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 351 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 ilmuwan yang ahli dalam bidang ilmu Hadis, perbandingan Madzhab dan Filsafat agama. " Namun lulusannya semakin menipin dan semakin menjadi jurusan yang langka peminat (Sholehuddin, 2. Secara karakteristik, mengacu pada penelitian Pradinasari . serta Karim . , karakteristik pribadi serta sosial siswa yang mengikuti bimbingan belajar luar sekolah dapat digambarkan berasal dari keluar berpendidikan tinggi, berekonomi menengah keatas, memiliki cita-cita besar terhadap pencapaiannya di masa depan, serta memiliki pengaruh positif dalam prestasi belajar. Dengan gambaran demikian, maka persepsi yang dihasilkan oleh siswa bimbingan belajar akan berkaitan dengan karakteristik yang mereka Dalam hal ini dengan karakteristik yang positif maka persepsi juga akan semakin positif, begitupun sebaliknya (Istighfarin dan Mulyana, 2. Dengan demikian menjadi menarik untuk mengetahui bagaimana persepsi yang dikaitkan dengan minat siswa bimbingan belajar terutama di Kota Pekalongan ini untuk meneruskan pendidikan tingginya, terutama bagaimana persepsi mereka terhadap PTKIN, mengingat sekali lagi, secara umum PTKIN sekarang terkadang masih dijadikan pilihan yang nomer dua setelah PTN . Dengan latar demikian maka, penelitian ini akan fokus pada persepsi siswa bimbingan belajar yang berpengaruh terhadap minat melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN. LANDASAN TEORI Pengertian dan Perkembangan Bimbingan Belajar Luar Sekolah Dalam sejarah perkembangan pendidikan non formal hingga saat ini, perkembangan pendidikan non formal di Indonesia terdiri atas beberapa periode, yakni periode masa sebelum pejajahan, masa penjajahan, masa awal kemerdekaan masa agresi, orde pembangunan dan masa reformasi. Adanya keperiodisasian waktu tentunya memaksa pendidikan non formal untuk terus berkembang mengikuti perkembangan yang telah ada sehingga yang pada akhirnya memunculkan beberapa lembaga bimbingan belajar di Indonesia. Kemunculan lembaga bimbingan belajar sesudah masa reformasi mendapat dukungan yang cukup besar dari masyarakat Indonesia yang ditandai dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 352 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 munculnya semangat dari para siswa yang berlomba-lomba untuk masuk dan duduk di PTN. Berbagai faktor tersebut menyebabkan banyak berdirinya lembaga pendidikan non formal seperti lembaga bimbingan belajar. Fenomena tumbuhnya banyak lembaga bimbel menjadi catatan tersendiri yang menarik bagi dunia pendidikan di Indonesia. Pertumbuhan lembaga bimbel yang makin marak ini selaras dengan keinginan siswa maupun orang tua siswa untuk mengikuti bimbingan belajar dengan tujuan agar meraih prestasi atau hasil belajar yang baik di sekolah. Maraknya pertumbuhan lembaga bimbel di tengah lingkungan masyarakat ini menyebabkan peran sekolah sangat dipertanyakan, karena masih banyak siswa yang mengikuti lembaga bimbel untuk memperdalam materi pelajaran atau untuk meningkatkan hasil belajarnya di Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang didapat siswa di sekolah itu masih dirasa kurang, sehingga siswa masih harus memenuhi rasa kurang tersebut dengan mengikuti lembaga bimbel. Di samping itu, bimbel juga seolah sudah menjadi tren di kalangan masyarakat. Pada kenyataannya siswa yang mengikuti bimbingan belajar bukan hanya untuk menambah materi yang belum diajarkan di sekolah, namun juga karena gengsi banyak teman-temannya yang mengikuti bimbingan belajar (Prastiwi, 2. Pada awalnya bimbingan belajar dibentuk untuk membantu siswa SMA yang baru lulus dalam menghadapi ujian masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Persaingan ketat untuk mendapatkan tempat di perguruan tinggi negeri memaksa para siswa untuk mempersiapkan diri secara ekstra. Pada masa itu perguruan tinggi negeri menjadi pilihan terbaik untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena belum banyak pilihan perguruan tinggi lain dan biaya pendidikan yang relatif lebih terjangkau. Keterbatasan sistem yang berlaku di sekolah juga ikut memicu tumbuhnya berbagai bimbingan belajar. Kemampuan guru yang terbatas, kurangnya fasilitas belajar yang memadai, serta tuntutan kurikulum yang tidak realistis menyebabkan siswa mencari alternatif lain untuk belajar di luar sekolah. Sekolah juga dianggap tidak mampu menyediakan semua kebutuhan yang diperlukan siswa terlebih lagi kesiapan untuk berebut kursi di PTN yang diidam-idamkan. Peluang ini yang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 353 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 dilihat oleh pengelola bimbel yang kemudian direspon dengan mendirikan Bimbingan Belajar. Lembaga bimbingan belajar di luar sekolah memberikan layanan jasa pendidikan berupa menambah frekuensi belajar yang bertujuan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa (Nusantari, 2. Dengan mengikuti bimbingan belajar siswa dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya dalam belajar sehingga setelah melalui proses belajar mereka dapat meningkatkan hasil belajar yang optimal sesuai dengan kemampuan yang Layanan bimbingan belajar di luar sekolah diselenggarakan untuk membantu siswa dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai macam permasalahan belajar yang ada (Nurlinggasari, 2. Bimbingan belajar di luar sekolah membahas materi-materi yang rata-rata masih belum dipahami oleh Bimbingan belajar di luar sekolah dilakukan dengan pemilihan metode dan strategi yang tepat dan menarik. Hal ini dilakukan agar semua permasalahan siswa dalam belajar dapat terselesaikan dengan baik sehingga hasil belajar yang dicapai oleh siswa akan maksimal (Sari, 2. Bimbingan belajar atau bimbel lahir sejak 1970 di Indonesia. Awalnya bimbel merupakan tempat latihan soal untuk sukses menempuh ujian masuk perguruan tinggi negri atau PTN, oleh karenanya sasarannya adalah anak SMA. Seiring dengan perkembangan waktu, bimbel mulai melebarkan cakupannya sehingga mulai dapat di ikuti oleh anak SD sampai SMA. Karenanya, jumlah bimbel di Indonesia semakin banyak setiap tahunnya. Jumlah bimbingan belajar di Indonesia terus meningkat (Subkhan, 2. Berdasarkan data Bank Indonesia . , dari hasil survei tahun 2007 yang diadakan oleh Direktorat Pembinaan Kursus dan Kelembagaan Ditjen Pendidikan Non formal dan Informal Kemendiknas, terdapat 11. 207 lembaga kursus yang tersebar di seluruh Indonesia telah memiliki izin operasi. Dari data tersebut 10,13% atau sekitar 1. 135 merupakan lembaga bimbel. Lembaga bimbel tumbuh berkembang di negara-negara yang menerapkan ujian skala nasional dalam menyeleksi siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi (Tansel & Bircan, 2. Banyaknya bimbel yang ada di Indonesia dipengaruhi oleh semakin sulit dan ketatnya persaingan masuk ke sekolah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 354 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 favorit dan tes masuk PTN (Perguruan Tinggi Neger. Hingga kini belum ada data definitif jumlah siswa yang ikut bimbel, tapi sebuah publikasi dari Bank Indonesia pada 2010 menyebutkan total peserta bimbel sekitar 950 ribu anak. Di tahun 2016 menurut BPS atau Badan Pusat Statistik jumlah tempat bimbel 866 tempat (Zaenudin, 2. Namun pada tahun 2019 meningkat mencapai kurang lebih 2000 tempat bimbingan belajar. Di pulau Jawa, jumlah bimbingan belajar mencapai 965 tempat yang dapat ditemukan di DKI Jakarta. Banten. Jawa Barat. Jawa Tengah, dan Jawa Timur (Zaenudin, 2. Konsep Persepsi dan Minat Persepsi adalah suatu proses dimana seseorang memilih atau menyeleksi, mengorganisasi dan mengintepretasikan rangsanganrangsangan yang diterima menjadi suatu gambaran keadaan dunianya yang utuh dan penuh arti. Persepsi dapat menghasilkan bayangan individu sehingga dapat mengenal suatu objek dengan jalan asosiasi pada suatu ingatan tertentu, baik secara indera penglihatan, indera perabaan dan sebagainya, sehingga bayangan itu dapat disadari (Schiffman & Kanuk, 1. Hal lain yang perlu dipahami bahwasanya persepsi dapat dipengaruhi oleh karakter seseorang (Tampubolon, 2. Karakter tersebut dipengaruhi diantaranya oleh: Attitudes. Hal ini berarti dua individu dapat mengartikan sesuatu yang dilihat itu berbeda satu dengan yang lain. Motives. Bahwasanya kebutuhan menjadi faktor yang mendorong individu dan mempengaruhi persepsi mereka. Interests. Fokus dari perhatian individu akan dipengaruhi oleh minat. Hal ini karena minat seseorang berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan oleh seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda dari apa yang dirasakan oleh orang lain. Minat merupakan faktor psikologis yang berhubungan dengan rohaniah manusia. Termasuk didalamnya emosi, bakat dan intelegensi yang dimiliki akan mendorong semangat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Bila minat seseorang sangat tinggi terhadap suatu obyek, maka ada kencenderungan hati untuk berusaha mendapatkannya. Minat dipengaruhi oleh beberapa faktor baik dari dalam diri individu maupun dari luar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 355 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 diri individu. Ditinjau dari segi pilihan masuk perguruan tinggi, terdapat banyak faktor yang memengaruhi minat masuk perguruan tinggi diantaranya motivasi dan cita-cita, kemauan, ketertarikan, lingkungan, teman, saudara, dan kondisi sekolah. Faktor yang mempengaruhi minat melanjutkan ke perguruan tinggi, secara umum adalah faktor internal dan faktor eksternal. Meski demikian, timbulnya minat paling tidak dapat diidentifikasi dari tiga faktor, antara lain: Faktor dorongan dari dalam. Hal ini berarti rasa ingin tahu atau dorongan untuk menghasilkan sesuatu yang baru dan berbeda. Dorongan ini dapat membuat seseorang berminat untuk mempelajari ilmu, melakukan penelitian ilmiah, atau aktivitas lainnya yang menantang. Faktor motif sosial. Hal ini berarti minat dalam upaya mengembangkan diri dari dan dalam ilmu pengetahuan yang mungkin diilhami oleh hasrat untuk mendapatkan kemampuan dalam bekerja atau adanya hasrat untuk memperoleh penghargaan dari keluarga atau teman. Faktor emosional. Hal ini berarti minat yang berkaitan dengan perasaan dan emosi, misalnya keberhasilan akan menimbulkan perasaan puas dan meningkatkan minat, sedangkan kegagalan dapat menghilangkan minat Minat sendiri sangat penting guna memenuhi harapan mereka melanjutkan ke perguruan tinggi. Apabila sesuatu didasari dengan minat maka seseorang akan termotivasi dalam melakukan kegiatannya. Minat yang ada pada individu masing-masing sangat berbeda sebab hal ini dipengaruhi oleh informasi dan pengalaman atau pengetahuan yang diperoleh oleh siswa Oleh karena itu perlu dibekali dengan informasi dan pengalaman mengenai perguruan tinggi. Minat siswa untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi perlu diketahui oleh guru maupun siswa itu sendiri mengingat minat ini dapat mengarahkan siswa untuk melakukan pilihan dalam menentukan cita-citanya. Experiences. Seorang individu merasakan pengalaman masa lalu pada sesuatu yang individu tersebut hubungkan dengan hal yang terjadi sekarang. Expectations. Ekspektasi bisa mengubah persepsi individu dimana individu tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 356 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 Kecenderungan dalam Melanjutkan Pendidikan Tinggi Adanya minat dalam diri individu akan menimbulkan keinginan untuk terlibat dalam aktivitas atau kegiatan yang diminatinya. Dalam hal studi di Perguruan Tinggi, minat adalah minat untuk menyediakan waktu, tenaga, usaha untuk menyerap dan menyatukan informasi, pengetahuan, dan kecakapan yang kita terima lewat berbagai cara (Hardjana, 1. Dengan demikian minat melanjutkan ke Perguruan Tinggi adalah kecenderungan yang mengandung unsur perasaan senang, keinginan, perhatian, ketertarikan untuk melanjutkan pendidikan pendidikan yang lebih tinggi setelah lulus sekolah menengah, yaitu perguruan Studi di perguruan tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal atau faktor diri terdiri dari bakat dan kecerdasan, kreativitas, motivasi, minat dan perhatian, serta kondisi jasmani dan Sedangkan faktor eksternal atau yang berasal dari luar yaitu lingkungan sosial, lingkungan fisik dan fasilitas belajar. Faktor internal sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam melanjutkan studinya. Jika faktor internal sudah mendukung maka kemungkinan besar seseorang akan berhasil dalam studinya. Karena seseorang yang bersungguh sungguh akan berupaya mengatasi faktor dari luar yang kurang mendukung. Minat tidak dibawa dari lahir dan muncul secara tiba-tiba, melainkan melalui suara proses. Dalam memilih tempat untuk melanjutkan pendidikan minat merupakan suatu hal penting yang akan menentukan keberhasilan dalam studinya (Ginting, 2. Minat melanjutkan ke perguruan tinggi yang berasal dari dalam diri siswa karena adanya keinginan untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih sehingga dapat berguna untuk bertahan hidup dan bersaing dengan dubia luar. Siswa yang memiliki minat yang besar untuk melanjutkan ke perguruan tinggi akan berusaha semaksimal mungkin agar dia dapat masuk ke perguruan tinggi. Siswa yang berasal dari lingkungan yang memiliki pendidikan yang tinggi akan cenderung memiliki minat yang tinggi pula terhadap pendidikan. Berdasarkan faktor di atas dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi minat seseorang untuk melanjutkan ke perguruan tinggi yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini faktor yang ada dalam diri setiap siswa. Persepsi siswa tentang Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 357 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 pendidikan memberikan dorongan yang besar bagi siswa terhadap minat untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Siswa yang memiliki persepsi yang baik tentang pendidikan yang layak, akan lebih giat belajar untuk dapat melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Faktor ekternal yang mempengaruhi siswa untuk melanjutkan kejejanjang yang lebih tinggi yaitu faktor lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena berusaha memahami . o understan. secara mendalam tentang persepsi siswa lembaga bimbingan belajar luar sekolah terhadap minat mereka melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN (Prayogi, 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan analisis deskriptif kualitatif. Studi kasus ialah serangkaian kegiatan ilmiah yang dilakukan secara intensif, terinci dan mendalam tentang suatu program, peristiwa, dan aktivitas, baik pada tingkat perorangan, sekelompok orang, lembaga, atau organisasi untuk memperoleh pengetahuan mendalam tentang peristiwa tersebut. Biasanya, peristiwa yang dipilih yang selanjutnya disebut kasus adalah hal yang aktual . eal-life event. , yang sedang berlangsung, bukan sesuatu yang sudah Pada umumnya, studi kasus dihubungkan dengan sebuah lokasi. Kasusnya mungkin sebuah organisasi, sekumpulan orang seperti kelompok kerja atau kelompok sosial, komunitas, proses, isu maupun kampanye (Daymon & Halloway. Dalam hal ini, penelitian ini bertujuan untuk melihat persepsi siswa bimbingan belajar luar sekolah di kota Pekalongan terhadap minat melanjutkan pendidikan lanjutan di PTKIN. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa yang menempuh pendidikan nonformal di bimbingan belajar di kota Pekalongan. Sampel bimbingan belajar yang diambil ialah bimbingan belajar Neutron. Sampel diambil dengan menggunakan sampel berorientasi tujuan atau purposive sampling. Dengan demikian, responden dalam penelitian ini merupakan siswa kelas XI dan XII di bimbingan belajar Neutron kota Pekalongan yang dipilih berdasarkan pertimbangan utama parameter waktu bahwa siswa kelas XI dan XII akan segera lulus dari sekolah dan mengakses bimbingan belajar karena telah merencanakan pendidikan lanjutannya. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 358 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 sumber data primer dan sekunder. Data Primer pada penelitian ini diperoleh langsung dari wawancara dan kuesioner/angket kepada kepala cabang bimbingan belajar serta siswa/i lembaga bimbingan belajar luar sekolah di kota Pekalongan. Wawancara dan kuisioner/angket ini digunakan untuk melihat bagaimana persepsi siswa bimbingan belajar, serta kaitannya dengan minat melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN. Sedangkan, data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumentasi terkait dengan persepsi siswa bimbingan belajar, serta kaitannya dengan minat melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dokumentasi, kuesioner/angket serta wawancara. Data yang telah terkumpul kemudian disusun secara sistematis sesuai dengan kaidah ilmiah yang baik, baik itu secara tekstual . eperti asliny. maupun secara kontekstual . emahaman terhadap dat. ke dalam Dalam penelitian ini karena menggunakan analisis data kualitatif. Teknik analisis data kualitatif dilakukan dengan menjalankan proses sistematis yang berlangsung terus menerus bersamaan dengan pengumpulan data (Prayogi, 2. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan mengikuti teknik analisis data Miles. Huberman, dan Saldana (Miles. Huberman, & Saldana, 2. berupa kondensasi dara, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. PEMBAHASAN Persepsi Siswa Bimbingan Belajar Terhadap PTKIN Pendidikan merupakan suatu hal yang penting bagi seseorang untuk kelangsungan hidup seseorang tersebut di masa yang akan datang. Namun tidak semua masyarakat menganggap bahwa Pendidikan itu sangatlah penting. Pandangan masyarakat terhadap pendidika memiliki keragaman dalam persepsinya terhadap Pendidikan formal khususnya Pendidikan di perguruan tinggi. Ulasan terkait persepsi dalam penelitian ini diartikan sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi setiap individu dapat sangat berbeda walaupun yang diamati benar-benar sama. Melalui persepsi manusia terus menerus mengadakan hubungan dengan lingkungannya. Hubungan ini dilakukan dengan melalui panca inderanya manusia yaitu penglihatan, pendengaran, peraba, perasa dan penciuman. Siswa bimbingan belajar luar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 359 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 sekolah yang memiliki pengetahuan atau informasi mengenai PTKIN maka siswa tersebut dapat menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan mengenai PTKIN dan bagi siswa bimbingan belajar luar sekolah yang tidak mendapatkan dan mencari informasi terkait PTKIN maka tidak mendapatkan informasi dan memiliki persepsi yang berbeda mengenai PTKIN. Dalam hal ini persepsi dapat dilihat dari beberapa aspek, yang pertama ialah Attitudes berarti dua individu/lebih dapat mengartikan sesuatu yang dilihat itu berbeda satu dengan yang lain. Dalam konteks pengelola bimbel, berdasar hasil wawancara, melihat PTKIN sama seperti perguruan tinggi yang lain. Yang terpenting adalah apakah siswa bimbel akan memilih PTKIN ataupun tidak tetap dikembalikan kepada keinginan siswa itu sendiri. Pihak bimbel kemudian tidak secara khusus memberi target/arahan pada siswanya untuk memilih salah satu dari perguruan tinggi yang ada baiik umum maupun tidak. Bimbel hanya menjalankan tugas untuk membantu siswa dalam mendapatkan pilihan perguruan tinggi yang diinginkan, memberikan opsi dan gambaran atas pilihan siswa, serta hal-hal yang mengarahkan pada kesuksesan siswanya. Dari gambaran ini kemudian dapat disimpulkan bahwasanya pihak bimbingan belajar menyikapi PTKIN dengan sesuatu yang netral. Dalam konteks siswa bimbel, berdasar hasil wawancara didapatkan gambaran bahwasanya masing-masing siswa memiliki sikap yang berbeda terhadap PTKIN. Secara garis besar, para siswa menyikapi PTKIN dengan positif, terutama jika berkaitan dengan prodi yang diinginkan serta jarak yang dekat. Sikap positif ini, untuk beberapa siswa juga berkaitan dengan peran PTKIN yang lekat dengan Meski positif, semua siswa yang diwawancara masih belum menjadikan PTKIN sebagai pilihan ketika melanjutkan studinya. Namun demikian, juga terdapat siswa yang memberikan sikap tak acuh terhadap PTKIN. Hal ini dilatarbelakangi karena siswa yang bersangkutan telah memiliki fokus terhadap perguruan tinggi yang diinginkannya . ang dalam hal ini perguruan tinggi Data hasil wawancara ini juga didukung dengan data angket yang disebar kepada siswa bimbel yang pada dasarnya menyatakan sikap yang positif terhadap PTKIN. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 360 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 Dalam aspek yang kedua, yaitu motives. Motives disini berarti bahwasanya kebutuhan menjadi faktor yang mendorong individu dan mempengaruhi persepsi Dalam konteks pengelola bimbel, berdasar hasil wawancara pihak bimbel menyatakan bahwasanya mereka tidak memiliki motif-motif khusus dalam kegiatan bimbingan belajar. Pihak bimbel melihat bahwasanya baik PTU maupun PTKIN merupakan wadah pendidikan yang dapat dipilih secara terbuka oleh siswa sesuai dengan keinginan/motif dari siswa itu sendiri. Pihak bimbel kemudian hanya melakukan upaya konseling agar para siswa yang memiliki motif tertentu terhadap pendidikan tingginya dapat tersalurkan dengan baik. Namun demikian, didapatkan gambaran bahwasanya pihak bimbel dalam batas-batas tertentu memiliki motif-dorongan berupa pemberian arahan pada siswa-siswa yang berasal dari madrasah untuk dapat melanjutkan pendidikan lanjutnya di PTKIN. Hal ini karena siswa-siswa dari madrasah dianggap telah memiliki dasar yang cukup untuk dapat melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN. Dalam konteks siswa bimbel, berdasar hasil wawancara didapatkan gambaran bahwasanya motif utama dalam melanjutkan pendidikan tinggi ialah motif terhadap pemilihan program studi . terlebih dahulu jika dibandingkan dengan pemilihan terhadap perguruan tinggi, baik PTU maupun PTKIN. Hal ini berkaitan erat dengan aspek attitudes sebelumnya, dimana pada dasarnya PTKIN dapat menjadi opsi mereka dalam melanjutkan pendidikan tinggi selama PTKIN tersebut menyediakan prodi yang mereka inginkan, meski dalam batas-batas tertentu mereka membatasi pilihan . alam hal ini berupa aspek orang tua dan Dalam hal ini kebanyakan siswa bimbel yang diwawancara menyatakan bahwasanya yang menjadi motif-dorongan utama mereka dalam melanjutkan pendidikan tinggi ialah program studi yang dipilih. Namun demikian, data hasil angket menunjukkan gambaran lain bahwasanya para siswa bimbel tidak memiliki dorongan untuk menjadikan PTKIN sebagai pilihan pertama dalam melanjutkan pendidikan tinggi, terutama jika dikaitkan dengan motif-dorongan berupa keinginan dari diri mereka sendiri. Darisini dapat disimpulkan bahwasanya jika dikaitkan dengan motif, maka para siswa bimbel di Pekalongan tidak memiliki motivasi yang kuat untuk menjadikan PTKIN sebagai pilihan pertama. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 361 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 terutama karena masih terbatasnya pilihan prodi yang mereka inginkan yang disediakan oleh PTKIN. Dalam aspek yang lainnya yaitu aspek experiences. Experiences berarti seorang individu merasakan pengalaman masa lalu pada sesuatu yang individu tersebut hubungkan dengan hal yang terjadi sekarang. Dalam konteks pengelola bimbel, berdasar hasil wawancara menyatakan bahwasanya belum pernah secara spesifik mendapatkan siswa yang dengan tegas menyatakan untuk menjadikan PTKIN sebagai pilihan pertama dan utama. Dalam hal ini, bimbel memiliki siswa yang mayoritas berasal dari sekolah umum . ukan berbasis madrasa. , sehingga secara pengalaman, pihak bimbel lebih banyak memiliki pengalaman untuk mengarahkan siswanya pada perguruan tinggi umum. Meski demikian, meskipun tidak secara spesifik, namun pernah ada siswa bimbel yang diterima di PTKIN. Namun pada kelanjutannya, siswa tersebut melepas kembali pilihannya karena merasa pilihan PTKIN hanya sebagai pilihan kedua. Dalam konteks siswa bimbel, berdasar hasil wawancara didapatkan gambaran bahwasanya tidak banyak siswa yang memiliki pengalaman masa lalu dengan PTKIN. Beberapa siswa yang diwawancara menyatakan memiliki keluarga, maupun lingkup pertemananan-sekolah yang merupakan alumni PTKIN. Lebih jauh, meskipun memiliki beberapa keluarga maupun teman yang merupakan alumni PTKIN, namun dalam kehidupan akademik di sekolah, mayoritas siswa bimbingan belajar yang diwanwancara menyatakan bahwa mereka tidak memiliki kenalan . eman, maupun kakak tingkat sekola. yang berkuliah di PTKIN. Data hasil wawancara ini didukung dengan data angket, meski data angket menunjukkan bahwasanya para siswa bimbel yang tidak memiliki kenalan yang merupakan lulusan PTKIN tidaklah menjadi mayoritas. Meski tidak memiliki pengalaman yang cukup, dari hasil angket didapatkan gambaran bahwasanya mayoritas siswa bimbel telah mengetahui apa itu PTKIN, meski tidak mengetahui dengan detail. Dengan demikian didapatkan gambaran bahwasanya siswa bimbel memiliki pengalaman yang minim dengan PTKIN yang dengannya mereka tidak memiliki informasi yang cukup terhadap PTKIN. Aspek lain yang juga terkait dengan persepsi dalam penelitian ini ialah Expectations sendiri berupa hal-hal yang dapat mengubah persepsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 362 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 individu dimana individu tersebut bisa melihat apa yang mereka harapkan dari apa yang terjadi sekarang. Dalam konteks pengelola bimbel, berdasar hasil wawancara menyatakan bahwasanya pihak bimbel mengharapkan agar siswa dapat dengan baik memilih, baik PTU maupun PTKIN. Lebih lanjut, pihak bimbel mengharapkan agar siswa untuk tidak menyia-nyiakan pilihan ketika siswa telah diterima di suatu perguruan tinggi. Hal ini didasarkan pada fakta adanya siswa bimbel yang telah diterima di PTKIN Aemeski dalam hal ini PTKIN dijadikan sebagai pilihan kedua namun masih mencoba untuk diterima di perguruan tinggi lain untuk memenuhi pilihan pertama yang diinginkan. Hal demikian menjadikan kursi/kesempatan yang sebelumnya telah didapatkan menjadi sesuatu yang disayangkan, meski pihak bimbel sendiri tidak secara tegas melakukan hal tersebut mengingat perannya sebagai fasilitator belajar siswa-siswanya. Dalam konteks siswa bimbel, berdasar hasil wawancara didapatkan gambaran bahwasanya terdapat siswa yang tidak memiliki sama sekali ekspektasi-harapan terhadap PTKIN. Hal ini dikarenakan siswa tersebut tidak memiliki gambaran yang jelas terkait PTKIN. Ketiadaan gambaran ini merupakan bagian dari persepsi yang juga dibangun dari aspek-aspek lainnya seperti yang telah Hasil wawancara mendeskripsikan bahwa beberapa siswa bimbel memiliki harapan agar PTKIN dapat membuka prodi-prodi umum maupun prodiprodi yang juga tidak dimiliki oleh perguruan tinggi umum. Hal ini sesuai dengan gambaran awal, mengingat yang pertama kali menjadi tujuan para siswa bimbel melanjutkan pendidikan tinggi ialah adanya prodi yang mereka inginkan. Selain itu, terdapat pula harapan dari siswa bimbel agar PTKIN tetap menjaga agar biaya pendidikannya dapat terjangkau oleh seluruh kalangan, terutama dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Hal-hal demikian memberikan gambaran bahwasanya, para siswa bimbel memiliki harapan yang cukup baik bagian dari persepsi mereka terhadap PTKIN Minat Siswa Bimbingan Belajar Melanjutkan Pendidikan di PTKIN Gambaran minat dalam penelitian ini ialah minat siswa bimbel di kota Pekalongan dalam melanjutkan pendidikan tingginya di PTKIN dilihat dari beberapa aspek, terutama faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor-faktor ini berpengaruh terhadap minat siswa bimbel ketika memunculkan minatnya Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 363 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 untuk melanjutan pendidikan tinggi di perguruan tinggi mana yang dituju. Perlu ditekankan bahwasanya minat dalam penelitian ini berkaitan erat sebagai salah satu aspek dalam membangun persepsi. Minat dalam hal ini turut menjadi aspek kepentingan yang berarti fokus dari perhatian individu akan dipengaruhi oleh Hal ini karena minat seseorang berbeda satu dengan yang lain. Apa yang diperhatikan oleh seseorang dalam suatu situasi bisa berbeda satu dengan yang Apa yang dirasakan seseorang dalam suatu situasi juga bisa berbeda dari apa yang dirasakan oleh orang lain. Mengacu pada data wawancara, dilihat dari aspek lembaga bimbingan belajar, mereka tidak memiliki kepentingan maupun minat apapun pada PTKIN. Hal terpenting yang dijadikan kepentingan oleh pihak bimbel ialah bagaimana mereka dapat memfasilitasi keinginan siswa untuk dapat melanjutkan pendidikan tinggi di perguruan tinggi yang mereka inginkan. Fasilitasi bimbel ini dilakukan dengan memberikan informasi sebaik dan sejelas mungkin kepada para siswanya agar para siswa dapat mempersiapkan diri dengan baik. Fasilitasi demikian jika ditelaah merupakan salah satu aspek yang dapat memunculkan minat siswa untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, dengan asumsi pada masa sebelumnya siswanya belum memiliki informasi yang detail terkait dengan perguruan tinggi. Yang menarik, pihak bimbel menerapkan semacam arahan bagi siswa dengan basis keagamaan . untuk dapat meningkatkan minatnya pada PTKIN. Hal ini didasari dengan alasan bahwasanya siswa tersebut telah memiliki dasar, terutama dasar akademis yang cukup untuk dapat melanjutkan kuliah di PTKIN. Pada aspek siswa, mengacu pada angket penelitian, maka didapatkan gambaran bahwasanya, mayoritas siswa bimbingan belajar tahu dan mengenal apa itu PTKIN. Mayoritas siswa dalam survei juga menyatakan bahwasanya mereka memiliki kenalan yang merupakan lulusan PTKIN. Namun demikian, secara khusus, melalui wawancara mereka tidak mengetahui kepanjangan dari PTKIN itu Ketika dilanjutkan dengan pertanyaan terkait dengan nama-nama PTKIN di kota-kota besar pun, dari hasil wawancara tidak banyak dari siswa bimbel yang Gambaran demikian dapat menjadi indikator awal yang menunjukkan bahwasanya siswa bimbel tidak terlalu memberikan minat mereka terhadap PTKIN. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 364 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 Dalam aspek dorongan dari dalam, aspek motif sosial, maupun aspek memunculkan minat para siswa di bimbel untuk melanjutkan pendidikan tinggi ialah pemilihan terhadap prodi. Para siswa bimbel secara bulat memilih prodiprodi umum. Pemilihan prodi juga lebih didahulukan dari pemilihan perguruan Pada beberapa kasus siswa, selain pemilihan prodi, faktor jarak dan izin keluarga juga menjadi pertimbangan dalam memilih perguruan tinggi. Namun demikian, terdapat temuan menarik bahwasanya mereka masih memiliki minat untuk dapat berkuliah di PTKIN dengan syarat mereka dapat diterima di prodi yang sesuai dengan keinginan mereka yang ada di PTKIN tanpa harus mengalami seleksi, terutama seleksi berupa ujian. Dalam hal ini dapat diartikan bahwasanya, faktor seleksi menjadi faktor yang besar bagi para siswa bimbel untuk memilih PTKIN. Dengan kata lain, minat mereka akan sangat besar untuk memilik PTKIN jika mereka dapat masuk PTKIN Aeutamanya di prodi yang mereka inginkan tanpa harus tes/ujian terlebih dahulu. Faktor seleksi nampaknya menjadi faktor yang menyumbang bobot besar dalam menumbuhkan minat siswa bimbel untuk menjadikan PTKIN sebagai lembaga pendidikan tinggi mereka. Hal ini karena ketatnya persaingan/kompetisi dalam menembus prodi-prodi yang mereka inginkan yang ada di perguruan tinggu umum, baik melalui seleksi tanpa tes maupun dengan tes. Pada aspek sosial, didapatkan pula gambaran bahwasanya siswa bimbel mempersepsikan PTKIN sebagai kampus dengan biaya yang terjangkau bagi semua kalangan. Hal ini diperkuat dengan data wawancara dimana salah seorang siswa yang menyatakan harapannya agar PTKIN dapat menjembatani berbagai kalangan untuk dapat mengenyam bangku kuliah. Selain itu, siswa bimbel juga mempersepsikan PTKIN memiliki kualitas yang bagus dan profesional, yang ditandai dengan pemahaman bahwasanya PTKIN bukanlah kampus yang 100% identik dengan agama karena turut menawarkan prodi-prodi di luar prodi keagamaan seperti pada perguruan tinggi umum. Namun demikian, keseluruhan aspek sosial ini sama sekali tidak menjadikan siswa bimbel memiliki minat untuk menjadikan PTKIN sebagai pilihan pertama dan utama mereka untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 365 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 Pada aspek emosional, didapatkan gambaran bahwa siswa bimbingan belajar memberi respon bahwasanya PTKIN menawarkan prodi yang menarik. Selain itu siswa bimbel menyatakan bahwa lulusan PTKIN dapat bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi umum serta memiliki peluang yang sama dalam mendapatkan pekerjaan. Siswa bimbel masih memiliki pandangan bahwasanya menjadi mahasiswa PTKIN juga dapat terlihat keren. Namun demikian, pandangan-pandangan positif ini tidak lah menjadikan siswa bimbel di Pekalongan tertarik/memiliki minat melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN. Mayoritas siswa, baik dari hasil angket dan wawancara masih menganggap perguruan tinggi umum lebih baik . alam hal ini lebih kere. dari PTKIN. Mereka tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN. PTKIN tidak dijadikan sebagai pilihan pertama dan utama oleh siswa bimbingan belajar. Aspek ini utamanya muncul karena dipengaruhi oleh aspek internal dari keluarga serta aspek eksternal dari lingkungan sekolah dan masyarakat. SIMPULAN Dari hasil penelitian dan ulasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan beberapa pertama, bahwasanya keberadaan bimbingan belajar luar sekolah di Pekalongan muncul dengan berbagai latar belakang yang pada dasarnya bermuara pada masih dianggap kurangnya penyampaian materi belajar pada sekolah formal. Kekurangan pada sekolah formal ini juga berkait dengan bagaimana sekolah formal membentuk persepsi dan minat siswanya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Kedua, ada beberapa profiling siswa yang mengikuti bimbingan belajar luar sekolah ini. Namun yang menjadi mayoritas ialah siswasiswa yang telah terbentuk pola pikirnya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang perguruan tinggi. Untuk itulah mereka memilih untuk belajar lebih di bimbingan belajar. Ketiga, terkait dengan pendidikan tinggi, siswa bimbingan belajar di Pekalongan mempersepsikan PTKIN dengan positif. Mayoritas siswa bimbingan belajar ini memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik terhadap PTKIN. Namun demikian, meski mempersepsikan positif, hasil penelitian menunjukkan bahwasanya persepsi positif ini tidak mesti linier dengan minat. Dalam hal ini didapatkan gambaran mayoritas siswa di bimbingan belajar masih belum . tau tida. berminat untuk menjadikan PTKIN sebagai pilihan ketika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Peradaban Website: https://fkip. id/sendik-2023/ Email/ surel: seminar. fkip@gmail. com | 366 Seminar Nasional Pendidikan "Pendidikan Karakter di Era Digital dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila" Nomer 1. Oktober 2023, hlm 348-368 melanjutkan studinya. Lebih jauh, juga terdapat siswa yang memberikan sikap tak acuh terhadap PTKIN karena telah memiliki fokus terhadap perguruan tinggi yang diinginkannya. Keempat. Secara keseluruhan, mayoritas siswa bimbingan belajar di Pekalongan tidak berminat untuk melanjutkan pendidikan tinggi di PTKIN. PTKIN tidak dijadikan sebagai pilihan pertama dan utama oleh siswa bimbingan belajar, meski mereka pada titik tertentu sejatinya tidak menolak jika memiliki kesempatan untuk dapat berkuliah di PTKIN. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan atas dukungan pendanaan pada penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada lembaga bimbingan belajar Neutron kota Pekalongan karena telah bersedia untuk memberikan izin dan kesediaan untuk menjadi objek dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya penelitian ini dari awal hingga selesai. DAFTAR PUSTAKA