Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Tinjauan Runway Occupancy Time Landing terhadap Konfigurasi Taxiway di Bandar Udara Haluoleo Kendari Overview of Occupancy Time Landing Runway to Taxiway Configuration in Haluoleo Kendari Airport Nining Idyaningsih ondeng77@gmail. Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan Makassar ABSTRAK Keteraturan Lalu lintas Udara di Bandar Udara Haluoleo Kendari belum sepenuhnya terpenuhi karena terbukti masih sering terjadi pesawat yang menggunakan opposite runway harus konflik antara depature and arrival aircraft pada kondisi dimana pesawat akan take-off dari runway 08 dan landing runway 26. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh Runway Occupancy Time landing setiap Pesawat yang beroperasi di Bandar Udara Haluoleo Kendari. Metode yang digunakan yaitu membandingkan antara konfigurasi taxiway dan Runway Occupancy Time landing dengan ICAo Doc 9157 - Aerodome design manual part 2 taxiway, keseimbangan antara kapasitas maksimum dan efisiensi dari sebuah aerodrome itu terletak pada balance between runway and apron is taxiway sebagai penghubung. Hasilnya ROTL pesawat yang beroperasi terlalu besar dan untuk efisiensi penerbangan harus dikurangi karena sering menghambat pesawat yang akan lepas landas. Kata kunci: Runway Occupancy Time Landing (ROTL). exit taxiway. Runway Occupancy Time (ROT) ABSTRACT The regularity of Air Traffic at Haluoleo Kendari Airport has not been fully fulfilled because it is proven that there are still frequent aircraft using the opposite runway must delay. conflict between aircraft and arrival aircraft in the condition where the aircraft will take off from runway 08 and landing runway 26. The purpose of the study was to determine the effect of each Flight Runway Occupancy Time landing on Haluoleo Kendari Airport. The method used is comparing the taxiway configuration and Runway Occupancy Time landing with ICAo Doc 9157 - Aerodome design manual part 2 taxiway, the balance between maximum capacity and efficiency of an aerodrome is located in the balance between runway and apron is taxiway as a link. The result is that ROTL aircraft that are operating too large and for flight efficiency must be reduced because they often prevent aircraft from taking off. Keywords: ROTL. exit taxiway configuration. Runway Occupancy Time (ROT) Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 PENDAHULUAN Bandar . isingkat: bandar. atau pelabuhan udara merupakan fasilitas tempat pesawat terbang dapat lepas landas dan mendarat. Bandar udara yang sebuah landas pacu namun bandara-bandara besar biasanya dilengkapi berbagai fasilitas lain, baik untuk operator layanan penerbangan maupun bagi penggunanya. Menurut Annex 14 dari ICAO (International Civil Aviation Organizatio. : Bandar udara adalah area tertentu di daratan atau perairan . ermasuk bangunan, instalasi dan peralata. yang diperuntukkan baik secara keseluruhan atau sebagian untuk kedatangan, keberangkatan dan pergerakan pesawat. Untuk meningkatkan pelayanan jasa penerbangan dibutuhkan fasilitas Bandar Udara yang memenuhi standar operasional baik untuk kebutuhan penumpang maupun operator penerbangan. Fasilitas Bandar Udara yang sangat strategis bagi operator adalah tersedianya fasilitas sisi udara yang mampu melayani berbagai jenis pesawat dan sangat efesien dari kalkulasi aspek ekonomi. Bagian dari fasilitas sisi udara adalah: Landasan pacu yang mutlak diperlukan Panjangnya landas pacu biasanya tergantung dari besarnya pesawat yang Untuk bandar udara perintis yang melayani pesawat kecil, landasan cukup dari rumput ataupun . Panjang landasan perintis 200 meter dengan lebar 20 meter, misal melayani Twin Otter. Cessna, pesawat kecil berbaling-baling dua . mumnya cukup 600-800 meter saj. Sedangkan untuk bandar udara yang agak ramai dipakai konstruksi aspal, dengan 800 meter dan lebar 30 meter. Pesawat yang dilayani adalah jenis turboprop atau jet kecil seperti Fokker-27. Tetuko 234. Fokker-28, dlsb. Pada bandar udara yang ramai, umumnya dengan konstruksi beton dengan panjang 3. meter dan lebar 45-60 meter. Pesawat yang dilayani adalah jet sedang seperti Fokker100. DC-10. B-747. Hercules, dlsb. Bandar udara international terdapat lebih dari satu landasan untuk antisipasi ramainya lalu Apron adalah tempat parkir pesawat yang denganbangunan terminal, sedangkan taxiway menghubungkan apron dan run-way. Konstruksi apron umumnya beton bertulang, karena memikul beban besar yang statis dari pesawat. Untuk terdapat Air Traffic Controller, berupa menara khusus pemantau yang dilengkapi radio control dan radar. Karena dalam bandar udara sering terjadi penanggulangan kecelakaan . ir rescue servic. berupa peleton penolong dan pemadam kebakaran, mobil pemadam kebakaran, tabung pemadam kebakaran, ambulance, dll. peralatan penolong dan pemadam kebakaran. Juga ada fuel service untuk mengisi bahan bakar avtur. Selain aspek fasilitas yang tidak kalah pentingnya adalah air traffic control atau pengaturan lalu lintas udara yangmemberikan pelayanan lalu lintas udara yang didukung oleh sarana dan prasarana yang lengkap, memadai, dan aman, serta memahami prosedur-prosedur Posisi fasilitas landasan pacu dan taxiway di bandar udara Holouleo kendariada pemasalahankonflik antara depature aircraft dan arrivalaircraft yang terbang menggunakan opposite runway, dimana pesawat yang akanberangkat . epature aircraf. yang sedang melakukan instrument approach procedure landing runway 26 di holding position taxiway alpha ataupun taxiway bravo, dikarenakan waktu yangditempuh pesawat dari holding position menuju ke line up position kurang lebih 3-4 menit sedangkan waktu yang dibutuhkan pesawat dari fase outbound heading, inbound heading, visual contact dan landing membutuhkan kurang lebih 6 menit. Untuk pesawat yang memilki Estimate yang berdekatan ataupun sama, harus diberikan separasi yang cukup jauh dan memungkinan akan terjadi holding pada salah satu pesawat karena pada saat landing pesawat akan melakukan oneeighty at theend of runway atau at turning area. Kondisiini akan berdampak terhadap time exitrunway pesawat Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 yang beroperasi danpesawat yang akan takeoff dengan layout Bandar Udara itu ditinjau dari aspek kalancaran dan keselamatan lalu lintas. Runway Occupancy Time LandingMerupakan waktu yang digunakan pesawat selama berada di atas Runway oleh pesawat Arrival dimulai dari saat pertama kali menyentuh Runway sampai dengan keluar dari Runway . rossed holdingpoin. dan untuk pesawat Departure dihitungsaat pertama kali pesawat masuk ke ActiveRunway . rossed holding poin. sampaidengan pesawat tersebut melakukan Airborne. Adapun kecepatan pesawat saat melakukan approach berdasarkan ICAO DOC. 8168 Aircraft operationAeFlightProcedure (Vol. I) membagi pesawat menjadi: A Category A: 91 knot IAS . mill/ja. A Category B: 91 knot atau lebih tapi kurang dari 121 knot IAS . mill/ja. A Category C: 121 knot atau lebih tapi kurang dari 141 knot IAS . mill/ja. A Category D: 141 knot atau lebih tapi kurang dari 166 knot IAS . A Category E: 166 knot atau lebih tapi kurang dari 211 knot IAS . mill/ja. Dengan asumsi 1 knot sama dengan 1151 mil/jam. Konfigurasi Taxiway merupakan bagian air side yangdipergunakan pesawat udara untuk berpindah dari runway ke apron atau . Untuk memberikan jalan masuk dari landasan pacu . ke tempat parkir . dan hangar pemeliharan atau . Taxiway rupasehingga pesawat yang baru mendarat tidak mengganggu pergerakan pesawat yang sedang bergerak perlahan untuk lepas landas . ake of. Taxiway harus satu arah dan sejajar satusama lainnya, karena pada Bandar udara yang sibuk dimana pesawat akan bergerak serantak dalam dua arah menuju landasan pacu . Taxiway harus terletak di berbagai tempatdi sepanjang landasan pacu . sehingga pesawat yang baru mendarat dapat meninggalkan landasan pacu . secepat mungkin sehingga landasan pacu . dapat digunakan oleh pesawat yang lain. Taxiway untukmengizinkan gerakan permukaan yang aman dan cepat dari pesawat. Fungsi dari exit taxiway atau turn off adalah menekan sekecilmungkin waktu penggunaan landasan pacu oleh pesawat mendarat. Gambar 1. Exit taxiway METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian Runway Ocuupancy Time Landing setiap pesawat yang beroperasi terhadap konfigurasi taxiway yang ada guna peningkatan pelayanan lalu lintas udara di Bandar Udara Halouleo Kendari, melalui pendekatan teori yang berpedoman pada annexes, dokumenAedokumen dan buku kenyamanan, keselamatan penerbangan di bidang transportasi udara dan keselamatan penerbangan menyangkut penyediaan fasilitas sisi udara yang memadai sehingga keselamatan dan kelancaran pelayanan jasa transportasi udara dapat diwujudkan. Pengolahan data dilakukan dengan meninjau ROLT terhadap konfigurasi Runway. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif berdasarkan data primer dan sekunder yang tersedia dengan langkah-langkah sebagai berikut: Menginventarisasi dan menggabungkan data pergerakan pesawat dari tahun 2013 Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 sampai dengan 2017 dengan metode AirTraffic Flow Management. Mencatat pergerakan pesawat yang menggunakan landasan pacu baik pada saat take off . Menganalisis Runway OccupancyTime Landing (ROTL) dan pesawatyang holding terhadap konfigurasi taxiway. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagai pusat pertumbuhan Transportasi Udara yang terbesar diwilayah Sulawesi Tenggara. Bandar Udara Haluoleo kendari setiap tahunnya selalu mengalami peningkatan. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir pertumbuhan pergerakan pesawat mengalami Pertumbuhan pergerakan pesawat di Bandar Udara Haluoleo Kendari pada tahun 2013 sebesar 10. 678 pergerakan dan pada tahun 2014 sebesar 10. 194 pergerakan atau mengalami penurunan sebesar 8. 54 %. pada tahun 2015 menurun menjadi 8. pergerakan atau mengalami penurunan sebesar Penurunan ini disebabkan karena beberapa airlines melakukan perubahan penggunaan tipe pesawat yang lebih besar beralih dari tipe medium menjadi tipe heavy dan adanya pembukaan bandara baru di sekitar kendari yaitu Bau Ae Bau. Matahora. Kolaka. Sugimanuru dan Marowali. Tahun 2016 768 pergerakan, mengalami 9 %. tahun 2017 dengan jumlah pertumbuhan sebesar 18. Dengan demikian, rata-rata pertumbuhan selama 5 tahun terakhir adalah sebesar 17. 91 % untuk jelasnya dapat dilihat pada table 1. Tabel 1. Pergerakan pesawat selama lima tahun Tahun Landing Takeoff Jumlah Sumber: Bandar Udara Haluoleo kendari 2018 Menurut ICAO dalam Doc 9157Aerodome design manual part 2 taxiway, keseimbangan antara kapasitas maksimum dan efisiensi dari sebuah aerodrome itu terletak pada balance between runway and apron is taxiway sebagai penghubung. Taxiway should bedesigned to minimize the restriction of aircraft movement to and from runway and apron, should be able to accommodate . ithout significant dela. the demands of aircraft arrivals and departures. Dalam penelitian ini, dibuat penelitian yang belum pernah dilakukan selama ini yaitu meninjau Runway Occupancy Time Landing pesawat di Bandar Udara Haluoleo Kendari. Di Bandar Udara Haluoleo Kendari ada 4 airlines yang aktif beroperasi yaitu Garuda. Lionair, dan Sriwijaya. Terlihat pada tabel 4 yang melakukan pergerakan di Bandar Udara Haluoleo Kendari terdapat 2 tipe pesawat yaitu pesawat B-738 dengan MaksimumTake off Weight (MTOW) dan termasuk dalampesawat bertipe Heavy, serta pesawat ATR72 dengan MTOW dan termasuk dalam pesawat bertipe Medium. Pesawat dengan tipe heavy melakukan 17 pergerakan untuk Arrival, dan 18 pergerakan untuk departure. Untuk pesawat dengan tipe medium melakukan 8 pergerakan untuk arrival, dan 13 pergerakan untuk Tabel 2. Pergerakan Arrival dan Departure Type of Aircraft Arrival Departure B-738 ATR-72 Sumber: Hasil dari data 2018 Untuk pesawat bertipe heavy lebih banyak melakukan pendaratan mengunakan runway 26 untuk arrival dan menggunakan runway 08 untuk departure, sedangkan untuk pesawat dengan tipe medium lebih memilih untuk melakukan visual approach untuk landing di runway 08 dan menggunakan runway 26 untuk departure. Ini disebabkan karena pesawat dapat menghemat fuelnya, dan Untuk taxiing pesawat dengan tipe heavy dan tipe medium dari kurang lebih 28 Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 pergerakan di taxiway, pesawat menggunakan taxiway alpha sebanyak 50 pergerakan dan 6 pergerakan menggunakan taxiway bravo. Untuk procedure exitrunway pun, tiap tipe pesawat memiliki perbedaan. Untuk pesawat dengan tipe heavy harus melakukan procedure exit runway dengan cara 180 turn at the and of runway barulah pesawat boleh exit dari tidakdiperbolehkan melakukan procedure 180 turn onrunway diakibatkan hanya pada tiap beginning runway saja yang memiliki struktur perkerasanyang baik untuk melakukan 180 turn dengan tipe tersebut. sedangkan untuk tipe medium diperbolehkan untuk melakukan procedure exitrunway dengan cara 180 turn on runway, inidisebabkan karena pesawat memiliki body yang kecil dan ringan serta perkerasan runway sangat kecil. Dari data penelitian, terlihat bahwa tiaptiap pesawat sesuai dengan tipenya memiliki runway occupancy time landing masingmasing, ini terjadi karena adanya perbedaan MTOW masing-masing pesawat dan cara mereka melakukan procedure exit dari runway. Di beberapa situasi pun didapatkan bahwa pesawat departure harus mengalami delay disebabkan pesawat departure harus menunggu pesawat arrival landing terlebih dahulu dan clearof Runway barulah pesawat departure boleh entering runway. Pada tabel 2 data yang telah dihitung dan sebagai sample. Tabel 3. Pergerakan Pesawat Type of RIU Exit Taxiway 26 Alpha B-738 ATR-72 Bravo Procedure Exit 180 on 180 at and of Sumber: Hasil Data Penggunaan Runway Dari data pergerakan pesawat yang ada dapat di lihat persentase penggunaan runway 08/26 di BandarUdara Haluoleo Kendari seperti pada tabel 4 dan tabel 5 untuk pesawat Arrival dan tabel 6 dan tabel 7 untuk Departure. Tabel 4. Arrival Runway 26 Sumber: Hasil data Table 5. Arrival Runway 08 Sumber: Hasil data Tabel 6. Departure Runway 26 Sumber: Hasil data Dari tabel 7 dapat terlihat bahwa penggunaan runway 26 untuk pesawat arrival lebih didominasi oleh pesawat bertipe Boeing. Terlihat pada tabel 8 pesawat yang bertipe ATR lebih mendominasi penggunaan runway 08 untuk pesawat arrival. Kedua tabel tersebut memperlihatkan bagaimana penggunaan runway pada pesawat arrival, dimana pesawat bertipe Boeing memiliki persentase approach menggunakan runway 26 disebabkankarena VOR Bandar Udara Haluoleo Kendari memudahkan mereka melakukan approach dibandingkan menggunakan runway 08 dimana pada perpanjangan runway 08 terdapat Sedangkan pada pesawat bertipe ATR memiliki persentase approach menggunakan runway 08 disebabkan karena ATR termasuk pada golonganpesawat bertipe medium sehingga bukit pada perpanjangan runway 08 bukan merupan rintagan yang berat ditambah lagi jika menggunakan runway 08 pesawat lebih menghemat fuel karenapesawat dapat melakukan Direct Visual Approach tanpa melewati VOR. Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 Tabel 9. ROTL Runway 26 Tabel 7. Departure Runway 08 Sumber: Hasil data Pada Tabel 6 dan tabel 7 memperlihatkan bagaimana pesawat bertipe Boeing dan Pesawat bertipe ATR menggunakan runway untuk takeoff. Terlihat jelas dalam tabel tersebut bahwa pesawat bertipe Boeing 84. memilih untuk menggunakan runway 08 untuk takeoff, ini disebabkan karena pada perpanjangan runway 26 terdapat bukit sehingga jika pesawat Boeing takeoff menggunakan runway 26 akan membuat airbone/mengangkat pesawat tersebut karena Maximum Take Off Weight( MTOW) pesawat bertipe Boeing ini relativecukup besar dan membuat pesawat harus memberi sedikit waktu untuk takeoff maneuver sampai betulbetul dapat establish rute. Sedangkan pada pesawat bertipe ATR pada Tabel 8 terlihat 1 % memilih untuk menggunakan runway 26, kecuali pada pesawat penerbangan menuju Untuk pesawat bertipe ATR karena memiliki MTOW yang kecil sehingga dapat dengan mudah mengangkat pesawat melewati bukit tanpa menjadikan bukit tersebut sebagai obstacle, dan membuat pesawat dapat langsung Direct menuju rute. Runway Occupancy Time Landing Berikut pada tabel 8 diperlihatkan runway occupancy time landing pada pesawat dengan tipe heavy dan tipe medium di Bandar Udara HaluoleoKendari. Tabel 8. ROTL Runway 08 Type of Aircraft B738 ATR72 B738 ATR72 RIU Exit Alpha Alpha Bravo Bravo Time 360 detik 180 detik 340 detik 165 detik Sumber: Berdasarkan perhitungan Type of Aircraft B738 ATR72 B738 ATR72 RIU Exit Alpha Alpha Bravo Bravo Time 300 detik 180 detik 320 detik 165 detik Sumber: Berdasarkan perhitungan Pada tabel 8 dan 9 terlihat bahwa waktu yang dibutuhkan pesawat Boeing yang termasuk dalam golongan bertipe heavy membutuhkan waktu untuk exit runway 08 selama 6 menit dengan mengunakan procedure 180 turn diujung runway 8 Sedangkan untuk pesawat ATR72 yang dimana termasuk dalam golongan bertipe medium membutuhkan waktu untuk exit runway 08 selama kurang lebih 3 menit tanpa harus 180 turn di ujung runway. Bandar UdaraHaluoleo Kendari pesawat bertipe medium seperti ATR diperbolehkan 180 turn ditengah runway. Pada pesawat bertipe heavy yang anding menggunakan runway 26 membutuhkan waktu exit taxiway selama 5 menit dengan procedure 180 turn diujung runway, sedangkan pesawat bertipe medium yang landing menggunakan runway 26 membutuhkan waktu exit taxiway 2 menit tanpa harus 180 turn diujung runway. Runway Occupancy Time Landing terhadap konfigurasi taxiway. Bandar Udara Haluoleo Kendari memiliki 2 taxiway yang saling parallel satu sama yang lain yaitu taxiway alpha dan taxiway bravo dengan jarak antar taxiway yaitu 352 meter. Untuk taxiwayalpha menuju runway 08 berjarak 992 meter, sedangkan untuk menuju runway 26 sendiri berjarak 510 meter. Untuk taxiway bravo menuju runway 08 berjarak 1. 344 meter, sedangkan untuk menuju runway 26 sendiri berjarak 158 meter. Konfigurasi suatu taxiway akan sangat menentukan efisiensi pergerakan suatu Sebagaimana pergerakan pesawat di Bandar Udara Haluoleo Kendari, untuk pesawat yang departure menggunakan opposite runway dibeberapa kejadian harus mengalami delay/keterlambatan dikeranakan Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 adanya pesawat arrival yang harus landing. Pada SOP . tandart operating procedur. Bandar Udara Haluoleo Kendari jika pesawat arrival sudah memasuki fase inbound, pesawat departure tidak dibolehkan untuk terbang. Ditambah dengan pesawat harus menunggu pesawat arrival keluar dari runway barulah pesawat dapat departure. Perbedaan ROTL disebabkan karena pesawat dengan tipe heavy ketika landing harus terlebih dulu melakukan procedure 180 turn at theend of runway barulah dapat keluar dari runway sedangkan pesawat dengan tipe medium jika melakukan procedure 180 turn dapat 180 turn on runway. Ini sudah melampaui batas normal ROTL yang Pada penelitian kali ini diketahui konfigurasi taxiway yang ada sekarang ini membuat ROTL dibandar Udara Haluoleo kendari kurang optimal sehingga terkadang membuat pesawat yang akan lepas landas harus delay dan kurang memperlancar keteraturan Lalu Lintas Udara di Bandar Udara Haluoleo Kendari. Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa penggunaan runway atau ROTL masing-masing pesawat harus dibuat seminimalisir mungkin agar tidak terjadi yang namanya delay pada pesawat yang lain dan taxiway harus diatur sedemikian rupa sehingga pesawat yang baru mendarat tidak mengganggu pergerakan pesawat yang sedang bergerak perlahan untuk lepas landas . ake of. Oleh karena itu, peneliti membuat 2 pemecahan masalah yaitu jangka pendek dan jangka panjang. Untuk jangka pendeknya dengan pembatasan ROT pada pesawat yang beroperasi di Bandar Udara Haluoleo Kendari yaitu tidak lebih dari 6 . menit dan dibuatkan procedure untuk memberikan kepastian kepada ATC untuk approach pesawat selanjutnya, diharapkan mampu memperlencar pergerakan pesawat yang akan lepas landas, sedangkan untuk jangka panjangnya merekonfigurasi taxiway yang sekarang diharapkan mampu memperlancar pergerakan pesawat yang akan lepas landas maupun yang akan landing seperti gambar 2 dibawah ini. Gambar 2. Perencanaan Layout untuk jangka KESIMPULAN Dari pembahasan dapat disimpulkan sebagai berikut: Runway Occupancy Time Landing (ROTL) pesawat yang beroperasi di Bandar Udara Haluoleo Kendari cukup mempunyai pengaruh terhadap pergerakan pesawat baik departure maupun arrival, dan setelah dilakukan penelitian hasilnya nilai Runway Occupancy Time Landing (ROTL) kurang Sering terjadi pesawat yang akan lepas landas harus hold . di taxiway alpha dikarenakan adanya pesawatyang akan landing dan menunggu pesawat hingga keluar dari taxiway bravo barulah pesawat dapat takeoff. SARAN Pembatasan Runway Occupancy TimeLanding (ROTL) untuk pesawat yangberoperasi di Bandar Udara Haluoleo kendari yaitu tidak lebih dari 6 . StandardOperasional Procedure (SOP) untukmemberikan kepastian kepada ATC untuk approach pesawat selanjutnya. Adanya rekonfigurasi taxiway di Bandar Udara Haluoleo Kendari pemecahan masalah jangka panjangnya dengan dibuat exit taxiway dikedua ujung runway danjika dimungkinkan dibuatkan rapid exit taxiway. Airman: Jurnal Teknik dan Keselamatan Transportasi Volume 1 Nomor 2 Desember 2018 P-ISSN 2622 Ae 0105 DAFTAR PUSTAKA