Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 PENDIDIKAN ISLAM DI ERA MILENIAL: UPAYA MEWUJUDKAN GENERASI UNGGUL DENGAN NILAI-NILAI ISLAM Moh Khorofi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang mkhorofi199@gmail. Abstrak: Era milenial yang sedang berlangsung saat ini merupakan fase kehidupan yang diperuntukkan bagi generasi yang lahir ketika teknologi dan internet berkembang pesat. Mereka dikenal sebagai generasi yang tidak hanya nyaman dengan teknologi, tetapi juga merasa tidak nyaman hidup tanpa teknologi. Kemajuan teknologi di satu sisi diakui semakin memudahkan siswa dalam mencari informasi dan ilmu pengetahuan, namun di sisi lain juga menyebabkan terjadinya pergeseran nilai dalam sikap hidup dan pengamalan agama yang bias menuju kebebasan dan hiper teknologi. Dalam menyikapi kondisi tersebut, pendidikan Islam harus dilibatkan dengan melakukan berbagai upaya strategis untuk mengubah tantangan yang dihadapi agar menjadi peluang sebagai upaya melahirkan generasi unggul yang cerdas dan berakhlak mulia. Artikel ini akan menjelaskan pentingnya peran pendidikan Islam untuk bertanggung jawab di tengah perubahan zaman yang mengedepankan pemanfaatan teknologi digital sebagai media komunikasi dan sumber Melalui penggunaan metode penelitian kepustakaan, artikel ini mengumpulkan berbagai ide, fakta, hasil penelitian dan pendapat dari para ahli disertai dengan analisis terkait, sehingga terlihat betapa pentingnya kontribusi pendidikan Islam dalam menciptakan generasi unggul yang tidak hanya memiliki intelektual dan potensi material, tetapi juga potensi moral dan spiritual. Kata kunci: Pendidikan Islam. Era Milenial. Generasi Unggul. Abstract The current millennial era is a phase of life intended for generations born when technology and the internet developed rapidly. They are known as a generation that is not only comfortable with technology, but also feels uncomfortable living without it. Technological advances on the one hand are recognized as making it easier for students to find information and knowledge, but on the other hand it has also caused a shift in values in attitudes to life and religious practices that are biased towards freedom and hyper-technology. In responding to these conditions. Islamic education must be involved by making various strategic efforts to change the challenges faced so that they become opportunities as an effort to give birth to a superior generation that is intelligent and has noble This article will explain the importance of the role of responsible Islamic education in the midst of changing times that prioritize the use of digital technology as a medium of communication Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 and learning resources. Through the use of library research methods, this article collects various ideas, facts, research results and opinions from experts accompanied by related analysis, so that it can be seen how important the contribution of Islamic education is in creating a superior generation who not only has intellectual and material potential, but also moral potential. and spiritual. Keywords: Islamic Education. Millennial Era. Superior Generation. Pendahuluan Kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi saat ini, telah membawa manusia pada suatu periode yang populer disebut sebagai AuEra MillenialAy. Era ini identik dengan penguasaan teknologi Post-Modern yang didominasi oleh anak muda yang lahir antara tahun 1980-2000 . sia rata-rata 20-40 tahu. dan dikenal sebagai generasi pertama yang memiliki akses internet dan menjadikan internet sebagai pasangan Generasi ini lahir ketika teknologi dan internet berkembang pesat yang membuat mereka berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Generasi Milenial tumbuh dan dewasa dalam masyarakat yang memiliki cara pandang dan gaya hidup baru, yang tidak sama dengan generasi-generasi sebelumnya. Pada dasarnya tidak ada standar resmi untuk menggambarkan kapan Generasi Milenial mulai dan berakhir. Peneliti dari berbagai negara memiliki rentang waktu yang berbeda dalam melihat kemunculan Generasi Milenial tersebut. Namun, mayoritas peneliti mengatakan bahwa Generasi Milenial lahir pada rentang tahun 1980-2000, dan mereka biasa disebut dengan Generasi Y atau juga sering disebut dengan Net Generation atau Warga Digital. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat canggih telah mempengaruhi karakter kaum Milenial yang memiliki keinginan untuk mengolah dan memperoleh hasil yang serba cepat. Salah satu contoh yang paling jelas adalah ketika mencari informasi tentang apa saja, mereka langsung mencarinya di Google dan dalam waktu singkat mereka dapat menemukan hasilnya. Tidak seperti generasi-generasi sebelumnya yang dalam mendapatkan informasi yang diinginkan terlebih dahulu harus membaca buku, majalah, koran, atau bertanya kanan kiri, dan seterusnya. Dalam mencari informasi. Generasi Milenial menemukan caranya sendiri untuk terhubung dengan orang lain melalui media sosial, seperti Twitter. Facebook. Path, atau Instagram, sehingga tidak ada jarak antara satu sama lain. Konektivitas ini membuat Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 sekat-sekat waktu dan jarak menghilang, dan Dunia seolah datar. Informasi dapat dibagikan dalam waktu yang sangat singkat melalui berbagai saluran. Meluasnya penggunaan internet membuat informasi yang dulu hanya dikuasai oleh segelintir orang, kini menjadi milik masyarakat luas (Publi. Seiring dengan itu, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dengan berbagai keunggulannya juga harus diakui di sisi lain telah menimbulkan berbagai dampak negatif yang tidak dapat dipungkiri. Di antara dampak negatif tersebut adalah semakin jauhnya praktik Generasi Milenial dari ajaran agamanya, kemerosotan moral, berkembangnya pola pergaulan bebas, kurangnya kepekaan sosial atau individualistik, dan sebagainya. Kondisi seperti itu tentunya tidak bisa dibiarkan begitu saja tanpa adanya upaya penanggulangan serta antisipasi di masa depan agar penyakit jiwa tidak menular kepada generasi muda pecinta teknologi yang belum terkontaminasi. Metode Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Library Research, yaitu penelitian yang objek utamanya adalah buku-buku atau sumber kepustakaan lain. ada pun sumber data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah buku-buku yang berubungan dengan pendidikan di era milenial seperti Rahmawati. Destiana. Kehidupan Milenial dan Generasi I: Pemahaman Lebih Dekat tentang Karakter dan Gaya Hidup Generasi Y dan Z. dan Ahyad. Ade dan Donna Widjajanto. Milenial Cerdas: Milenial Cerdas Generasi. Dan sumber data sekundernya adalah referensi-referensi yang masing dianggap relevan dengan judul Sedangkan Sumber data, baik data primer maupun data sekunder diperoleh melalui penelitian pustaka (Library Researc. yaitu dengan menelusuri buku-buku atau tulisan-tulisan yang relevan dengan judul penelitian. Selanjutnya metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi (Content Analisy. yaitu : teknik analisis data yang digunakan untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (Replicabe. , dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis ini menekankan pada proses melihat keajegan isi suatu komunikasi ( dalam sebuah bahasa tuli. secara kualitatif dan memaknakan isi komunikasi dan interaksi simbolik yang terjadi dalam komunikasi tersebut. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Pembahasan Istilah Milenial berasal dari bahasa inggris yang terbentuk dari kata AuMileniumAy atau Auribuan tahunAy yang artinya seribu tahun. 1 Dalam Kamus Bahasa Inggris Pelajar Tingkat Lanjut Merriam-Webster menjelaskan bahwa kata AuMileniumAy atau AuRibuan TahunAy menandakan periode seribu tahun dihitung dari awal tahun SM. Sedangkan istilah Auseribu tahunAy adalah tambahan . dari kata AumillenniumAy, seperti kalimat Auperayaan milenialAy yang berarti "perayaan seribu tahunAy. 2 Kata milenial kemudian menjadi istilah untuk suatu masa yang terjadi setelah era global atau era modern. Oleh karena itu, era milenial bisa juga disebut era post-modern. Oleh beberapa ahli. Era ini diartikan sebagai era kembali ke spiritual dan moral atau back to religi, yaitu masa kembali ke spiritual, moral, dan ajaran agama. Era Milenium Era Modern mengutamakan akal, empirisme, dan hal-hal yang materialistis, sekularistik, hedonistik, fragmatik, dan transaksional. Semua ini termasuk dalam paradigma hidup yang memisahkan urusan dunia dan akhirat. Sebagai konsekuensi dari paradigma berpikir ini, manusia bebas bertindak tanpa landasan spiritual, moral, maupun agama. Model tindakan dan sikap terhadap kehidupan ini telah membawa manusia pada karya dan kreativitas yang luar biasa . eperti teknologi digital, kloning, dl. , namun karena tidak dibarengi dengan landasan spiritual, moral, dan agama, semua temuan menakjubkan tersebut dapat disalahgunakan. Oleh manusia untuk menunjang kepuasan keinginannya yang berakhir dengan eksploitasi alam, sosial, maupun budaya. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi digital, para Generasi Milenial yang kreatif dapat memanfaatkan kesempatan itu untuk menyalurkan bakat dan kreativitas mereka menuju pintu gerbang pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran melalui ide, gagasan, dan kerja keras mereka. Melalui teknologi digital. Generasi Milenial dapat membangun bisnisnya sendiri. Generasi Milenial dikenal sebagai generasi yang tidak takut untuk mengikuti passionnya dan berusaha untuk terus mencari peluang. Itulah yang membuat mereka dapat memulai bisnis yang berkembang hari ini. Memulai bisnis Echols. John M. dan Hassan Shadily. Kamus bahasa inggris-indonesia. (Jakarta: Perpustakaan Utama Gramedia. Merriam-Webster. Kamus Bahasa Inggris Pembelajar Tingkat Lanjut Merriam-Webster. (AS: Springfield. Massachusetts. Nata. Abudin. Pendidikan Islam di Era Milenial. (Jurnal Islam Education Concencia. Vol. No. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 juga bukan sembarang bisnis yang hanya mengikuti langkah lama, melainkan bisnis yang melahirkan terobosan-terobosan baru yang memenuhi kebutuhan banyak orang. Generasi Milenial berpotensi menjadi intrapreneur, yaitu karyawan yang dapat mengembangkan inovasi-inovasi baru untuk kebaikan dan kemajuan perusahaan. Di sisi lain. Generasi Milenial juga bisa menjadi wirausahawan yang mengembangkan bisnis baru sesuai ide dan konsepnya. Namun, terlepas dari apakah mereka menjadi intrapreneur atau wirausahawan. Generasi Milenial harus padat mengubah arus informasi yang mereka peroleh menjadi pengetahuan. Bahkan. Generasi Milenial menganggap bahwa penguasaan informasi merupakan peluang besar dalam upaya pengembangan diri untuk memperoleh peningkatan kehidupan. Banyaknya informasi yang diperoleh, membuat mereka melihat banyak peluang yang menarik untuk mengembangkan dirinya. Karena itulah mereka lebih dulu mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka. Setelah mendapatkannya, mereka tidak segan-segan memberikan segala kemampuannya untuk aktualisasi diri serta mengharapkan gaji dan tunjangan yang besar. Kelompok milenial ini cenderung suka mencari pekerjaan yang menantang dan tidak membosankan. Selaras dengan kecanggihan teknologi yang semakin meningkat. Generasi Milenial juga memandang tingkat pendidikan sekaligus segmen peluang besar untuk mendukung pengembangan diri. Selain terbiasa menyerap banjir informasi melalui internet. Generasi Milenial berupaya meningkatkan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan generasi orang tua sebelumnya. Sebagian besar dari mereka telah mencapai jenjang pendidikan hingga Strata-2 (S. , bahkan tidak sedikit pula yang mencapai tingkat Strata-3 (S. Selain banyaknya peluang yang memiliki kemungkinan untuk diraih, era milenial juga dihadapkan pada tantangan yang cukup berat yang jika tidak dapat dikendalikan dapat berdampak fatal bagi kehidupan manusia. Di antara sejumlah tantangan yang dihadapi di era milenial ini adalah perluasan sikap cinta kebebasan, kepedulian sosial yang rendah, praktik ekonomi kapitalistik dan semangat predator, politik yang menghalalkan segala cara, maraknya peredaran narkoba, perdagangan manusia, korupsi, perusakan lingkungan. LGBT (Lesbian. Gay. Biseksual. Gay, dan Ahyad. Ade dan Donna Widjajanto. Milenial Cerdas: Milenial Cerdas Generasi. (Jakarta: Perpustakaan Utama Gramedia. Ibid. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Transgende. Semua perilaku buruk tersebut bisa lebih mudah dilakukan berkat dukungan teknologi digital yang banyak dimainkan oleh kaum Milenial. Sejumlah perilaku buruk yang muncul di era milenial secara alami lahir dari sikap mental yang jauh dari nilai moral dan spiritual, terlebih lagi mereka dipisahkan dari pemahaman dan pengamalan ajaran agamanya, karena setiap agama mengajarkan kebaikan dan sifat-sifat terpuji. yang jika benar benar secara konsisten diamalkan akan mampu menghindarkan diri dan jiwa manusia dari perbuatan tercela. Karakteristik Generasi Di Era Millenal Generasi milenial yang lahir dan hidup di tengah kemajuan teknologi yang pesat memiliki ciri khas tersendiri yang dapat mendorong mereka untuk berkembang mewujudkan cita-cita dan keinginan untuk hidup lebih maju dari generasi sebelumnya. Secara umum, ciriciri Generasi Milenial antara lain percaya diri, berorientasi pada kesuksesan, toleran, kompetitif, dan haus perhatian. Di era milenial ini, selain komputer sudah menjamur, internet juga sudah menjadi hal yang lumrah. Bahkan, generasi milenial bisa disebut tidak bisa hidup tanpa koneksi internet. Mereka sangat mudah mencari informasi, dan hal ini sangat berpengaruh pada pola pikir yang penuh dengan ide-ide visioner dan inovatif untuk melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selaras dengan kecanggihan teknologi, gaya belajar Generasi Milenial berbasis sensorik . isalnya visual, audio, dl. yang mempengaruhi perkembangan kepribadian dan bakat. Kehidupan sehari-hari yang sudah akrab dengan teknologi membuat cara belajar mereka lebih interaktif, antara lain melalui kerjasama tim, pengalaman, kolaborasi dan pemikiran kelompok, mandiri, dan terstruktur. Generasi Milenial menyadari bahwa mereka hidup di era pengetahuan. Tantangan mereka sekarang bukan lagi mencari informasi lebih banyak, tetapi bagaimana mengolah informasi yang diperoleh menjadi pengetahuan. Tantangan mereka bukan lagi mencari apa yang bisa membuat mereka tahu, tapi mencari apa yang bisa membuat mereka melakukan sesuatu. Pengetahuan yang mereka miliki memberi Dengan pengetahuan, mereka tidak takut akan perubahan, bahkan sangat menantikan Rahmawati. Destiana. Kehidupan Milenial dan Generasi I: Pemahaman Lebih Dekat tentang Karakter dan Gaya Hidup Generasi Y dan Z. (Yogyakarta: Laksana. Ibid. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Aset utama mereka di era pengetahuan adalah ide dan kreativitas, penelitian dan inovasi dengan dukungan pekerja pengetahuan. Miftah Mucharomah mengungkapkan bahwa Generasi Milenial memiliki beberapa ciri, antara lain:9 Generasi Milenial tidak lagi percaya pada distribusi informasi satu arah. Mereka lebih percaya pada konten dan informasi yang dibuat oleh individu. Dari segi pola konsumsi, banyak dari mereka yang memutuskan untuk membeli produk setelah melihat review atau testimoni yang dibuat oleh orang lain di internet. Mereka juga tidak segan-segan berbagi pengalaman buruknya dengan sebuah brand. Generasi Milenial lebih suka ponsel daripada TV. Televisi bukanlah prioritas bagi kaum Milenial untuk mendapatkan informasi atau melihat iklan. Milenial lebih suka mendapatkan informasi dari ponsel mereka, dengan mencarinya di Google atau berbicara di forum yang mereka ikuti. Generasi Milenial menganggap wajib memiliki media sosial. Komunikasi antar rekanrekan mereka sangat lancar, meskipun tidak selalu terjadi secara tatap muka. Banyak dari mereka berkomunikasi melalui pesan teks atau juga mengobrol di dunia maya, dengan membuat akun yang berisi profil mereka, seperti Twitter. Facebook, dan bahkan online. Mereka juga bisa menjadikan akun media sosial sebagai wadah aktualisasi dan ekspresi diri. Hampir semua Milenial dipastikan memiliki akun media sosial sebagai tempat berkomunikasi dan berekspresi. Generasi Milenial tidak suka membaca secara konvensional. Bagi generasi ini, menulis dianggap membuat frustrasi dan membosankan. Milenial bisa dikatakan lebih suka melihat gambar, apalagi jika gambarnya menarik dan berwarna. Hobi membaca buku tetap ada. Mereka lebih memilih membaca buku secara online . -boo. daripada harus repot membawa buku. Sekarang sudah banyak penerbit yang menyediakan format e-book untuk dijual, agar pembaca bisa membaca di ponsel pintarnya. Generasi Milenial tahu lebih banyak tentang teknologi daripada orang tua mereka. Sekarang semuanya serba digital dan online. Generasi ini melihat dunia tidak secara langsung, yaitu dengan berselancar di dunia maya. Milenial adalah generasi yang Ahyad. Ade dan Donna Widjajanto. Milenial Cerdas: Milenial Cerdas Generasi. Mucharomah. Miftah. Kisah sebagai Metode Pembentukan dan Penanaman Moral dalam Perspektif AlQur'an. (Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 2, 2. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 sangat modern, melebihi orang tuanya. Mereka sering mengajarkan teknologi kepada orang tua. Generasi Milenial cenderung tidak loyal tetapi bekerja secara efektif. Mereka juga tidak setia pada pekerjaan atau perusahaan, tetapi lebih setia pada merek. Milenial hidup di era informasi yang membuat mereka tumbuh cerdas. Banyak perusahaan yang mengalami peningkatan pendapatan akibat kerja milenial. Generasi Milenial mulai banyak melakukan transaksi tanpa uang tunai. Dengan kecanggihan teknologi yang semakin canggih ini, kaum Milenial mulai melakukan pembelian yang tidak lagi menggunakan uang tunai alias cashless. Generasi ini lebih suka membawa kartu, karena semua pembelian bisa dibayar menggunakan kartu, jadi lebih praktis, hanya perlu swipe atau tap. Dalam redaktur dan perspektif yang berbeda. Ivan Sudjana dan Anton Wirjono seperti dikutip Rahmawati10 menyatakan bahwa ada tujuh ciri Generasi Milenial Indonesia sebagai berikut: Literasi Digital Generasi milenial merupakan generasi yang sangat melek digital. Bahkan mereka adalah pengguna media sosial terbesar. Memang, literasi digitallah yang mendorong mereka begitu mudah untuk berekspresi di akun media sosial. Konsumtif Generasi Milenial tercatat sebagai kelompok konsumtif untuk berbelanja, terutama dalam hal bepergian, membeli tiket konser dan film sebagai prioritas. Kebiasaan yang sangat konsumtif ini tidak lepas dari kemudahan mereka dalam berbelanja, misalnya sistem kredit yang jauh lebih mudah dan menjamurnya belanja online. Perilaku konsumtif ini dipicu oleh media sosial yang mengharuskan mereka untuk selalu mengupdate dan memposting sesuatu yang telah mereka belanjakan di akun mereka. Terkadang tingkat konsumtif mereka melebihi pendapatan yang mereka peroleh setiap bulannya. Menabung untuk sesuatu yang diimpikan Meski tergolong kelompok konsumtif. Generasi Milenial juga tercatat sebagai pribadi yang gemar menabung. Jika generasi sebelumnya menabung di masa depan, maka generasi Milenial menabung untuk tujuan tertentu. Misalnya Rahmawati. Destiana. Kehidupan Milenial dan Generasi I: Pemahaman Lebih Dekat tentang Karakter dan Gaya Hidup Generasi Y dan Z. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 anggaran jalan-jalan di akhir tahun atau untuk membeli produk yang mereka inginkan setiap bulannya. Mereka cenderung tidak siap untuk tabungan masa Tetapi secara positif, mereka tahu apa yang mereka inginkan, dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi Generasi millennial merupakan generasi yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan kemudahan mencari informasi melalui internet, mereka tahu betul apa yang mereka inginkan. Mereka akan mencari tahu informasi sebelum melakukan pembelian. Digital sebagai media komunikasi Milenial suka berlama-lama di media sosial dan digital. Oleh karena itu, berkomunikasi dengan Milenial lebih efektif menggunakan media digital dan sosial. Dalam berkomunikasi di media digital dan sosial mereka menggunakan cara-cara yang kreatif dan interaktif. Itu sebabnya mereka menyukai konten kreatif yang kekinian, keren, dan autentik. Menjadi pengusaha yang cenderung tanpa persiapan Gaji tinggi dan menjadi karyawan di perusahaan yang mencolok, bukan lagi daya tarik generasi milenial. Karena kemudahan, terutama di dunia digital, dan dijejali dengan kisah sukses para start-up, membuat kaum Milenial semakin tertarik untuk menjadi pengusaha. Sayangnya, obsesi menjadi wirausahawan ini terkadang dilakukan tanpa persiapan yang berujung pada kegagalan, atau tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mengutamakan fasilitas dan apresiasi dalam dunia kerja Generasi Milenial lebih memilih fasilitas dan dihargai, serta tidak menempatkan gaji besar sebagai poin utama. Misalnya, karyawan Generasi Milenial menginginkan lingkungan kantor yang tidak terlalu serius seperti google playground play. Mereka juga ingin diperlakukan berbeda, misalnya dengan memberikan apresiasi berupa tiket perjalanan dinas luar negeri terbatas, padahal hanya dia sendiri yang mendapatkannya. Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Generasi Milenial merupakan komunitas yang tidak dapat melepaskan kehidupannya dari berinteraksi dengan teknologi, bahkan menjadikan teknologi sebagai media terdepan dalam membangun Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 komunikasi, memperoleh informasi, dan mempermudah segala penyelesaian aktivitas pekerjaan sehari-hari. Tanggung Jawab Pendidikan Islam Di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era milenial saat ini, pendidikan Islam diyakini mampu menghadapi peluang dan tantangan yang ada sebagai konsekuensi kemajuan zaman tersebut. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemberdayaan pendidikan Islam harus terjalin secara kokoh yang mengintegrasikan kolaborasi sinergi antara tanggung jawab keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Jika pemberdayaan secara terpadu bisa dilakukan, tentunya pendidikan Islam diharapkan mampu menghadapi berbagai tantangan di era milenial untuk berubah menjadi peluang. Dengan demikian, pemberdayaan potensi anak muda muslim yang menekuni berbagai literasi sains dan teknologi dapat diarahkan pada sikap hidup yang positif dan terhindar dari perilaku tercela. Pemberdayaan pendidikan Islam untuk dapat mewujudkan AuGenerasi yang unggulAy harus dimulai dengan pendidikan keluarga tempat anak didik dilahirkan dan Keluarga dikatakan sebagai lembaga pertama yang mengenalkan anak pada ajaran agama yang dianutnya dan normanorma sosial yang berlaku di masyarakat. Ketika anak memasuki usia sekolah dan mengikuti program pendidikan formal di sekolah, sekolah menjadi lembaga kedua yang memiliki peran penting dalam menanamkan nilai dan karakter yang baik. Dalam ajaran Islam, orang yang paling bertanggung jawab atas pendidikan dan perkembangan setiap anak didik adalah orang tuanya . yah dan ib. Tanggung jawab tersebut paling tidak disebabkan oleh dua hal. pertama karena kodrat, yaitu karena orang tua ditakdirkan menjadi orang tua bagi anak-anaknya, maka mereka juga ditakdirkan untuk bertanggung jawab mendidik anak-anaknya. kedua, karena kepentingan orang tua terhadap perkembangan anaknya, dalam hal ini keberhasilan anak adalah juga keberhasilan orang tuanya. Oleh karena itu dalam kajian pendidikan Islam, kedudukan orang tua adalah pendidik pertama dan utama. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan keterampilan serta kewajaran seorang anak memasuki usia sekolah, orang tua menyerahkan amanat pendidikan anaknya kepada guru di sekolah, karena pendidikan keluarga dipandang Tafsir. Ahmad. Pendidikan Dalam Perspektif Islam. (Bandung: Remaja Rosdakarya. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 memiliki keterbatasan untuk melanjutkan jenjang pendidikan formal yang efektif dan lembaga pendidikan formal, maka tanggung jawab pendidikan beralih dari orang tua kepada guru. Melalui interaksi pendidikan di sekolah, anak-anak dapat ilmunya untuk membekali keterampilannya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang menengah ke atas. Semua ini merupakan bekal untuk hidup di masa depan menuju lahirnya generasi yang Unggul, cerdas, dan berakhlak mulia. Selain keluarga dan guru, pendidikan Islam juga menjadi tanggung jawab Sebagai warga negara, setiap manusia pasti menginginkan lingkungan yang baik, ramah, peduli, santun, hormat dan aman, sehingga dapat melakukan aktivitas dengan baik dan tenang. Masyarakat yang ingin bertahan dalam menghadapi tantangan adalah masyarakat yang menganut nilai-nilai moral dan akhlak mulia, yaitu masyarakat yang tidak saling menyakiti, menyalahgunakan, mencelakai, mencurigai, dan Untuk mewujudkan kehidupan seperti ini, masyarakat berkewajiban untuk ikut serta dalam tanggung jawab pendidikan. Besarnya pengaruh masyarakat dalam memberikan arah terhadap pendidikan dan perkembangan anak, terutama tokoh masyarakat atau penguasa/pemerintah di dalamnya. 13 Dengan demikian masyarakat dan pemerintah memikul tanggung jawab untuk membimbing tumbuh kembang anak dan anggota masyarakat lainnya. Seluruh warga masyarakat bersama-sama dengan pemerintah memikul tanggung jawab membina, meningkatkan, mensejahterakan, mengajak kebaikan dan mencegah keburukan guna mewujudkan kemaslahatan umum melalui pemberdayaan pendidikan. Upaya Mewujudkan Generasi Unggul Seperti yang telah dipahami bahwa Generasi Milenial memiliki potensi besar dalam pemanfaatan teknologi yang berkembang dan mereka dapat menguasai informasi yang cukup luas karena penggunaan internet yang memungkinkan mereka mendapatkan banyak informasi dari berbagai belahan dunia. Teknologi merupakan bagian integral dari kehidupan mereka, sehingga mendorong mereka untuk terus mengeksplorasi penemuan-penemuan baru yang terkadang tidak hanya berdampak Nata. Abudin. Tafsir Ayat Pendidikan. (Jakarta: Pers Rajawali. Daradjat. Zakiah. Pendidikan Islam. (Jakarta: Bumi Literasi. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 positif tetapi juga berdampak negatif pada kepribadian dan perilaku mereka. Jika mereka tidak hati-hati dan selektif dalam menyaring setiap informasi yang didapat, maka mereka akan menjadi budak dari perkembangan teknologi itu sendiri. Kemampuan Milenial dalam menguasai teknologi dan informasi yang up to date dalam kehidupan sehari-hari merupakan potensi besar yang harus dijaga dan dibina, karena mereka akan berpeluang menjadi generasi emas dalam meningkatkan kualitas hidup dan pendapatan bagi mereka. kesejahteraan masa depan. Generasi milenial dengan penguasaan teknologi dan informasi akan berpeluang menjadi orang-orang sukses yang mampu memimpin dunia, seperti slogan yang meyakinkan dan populerAysiapa yang menguasai informasi, dia akan mampu menguasai duniaUntuk dapat mencapai keberhasilan tersebut. Generasi Milenial membutuhkan pendidikan spiritual berbasis nilai-nilai agama agar menjadi pengendali dan penyeimbang agar tetap berdiri kokoh dan stabil dalam menghadapi pengaruh negatif kemajuan teknologi dan informasi. dasar pendidikan Islam yang diyakini dapat mengantarkan kaum Milenial menjadi AuGenerasi Luar BiasaAu, karena penguasaan teknologi dan informasi mereka sekuat pengamalan nilai-nilai pendidikan Islam yang mereka pelajari. Di sisi lain. Abuddin Nata menyatakan bahwa ada sejumlah potensi pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan di era milenial. Potensi pendidikan Islam dalam menghadapi era milenial antara lain terkait dengan karakter pendidikan Islam yang holistik, komprehensif, progresif, dan responsif. Perhatian pendidikan Islam terhadap peningkatan karakter yang cukup besar, integralisme pendidikan Islam, misi pendidikan Islam dalam penyiapan generasi yang unggul, keteladanan dan keteladanan yang diberikan oleh Nabi. dalam berbagai situasi dan kondisi, pengalaman pendidikan Islam dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang unggul, pengalaman pendidikan Islam mempersiapkan lulusan dengan jiwa kewirausahaan, dan perhatian pendidikan Islam pada manajemen modern. Dalam konteks ini, generasi unggulan yang dimaksud adalah sekelompok orang terpelajar yang memiliki penguasaan yang seimbang antara wawasan dan pengamalan ajaran agama dengan penguasaan teknologi dan informasi yang berkembang, sehingga mampu memelihara keimanan, ibadah, dan akhlak mulia di tengah-tengah masyarakat. Handayani. Titik, dan Lailatis Saadah. Pesantren Sebagai Sarana Milenial Pendidikan Generasi. (Jurnal Tadris. Vol. Nomor 1. Nata. Abudin. Pendidikan Islam di Era Milenial. (Jurnal Islam Education Concencia. Vol. No. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 pengaruh negatif. disebabkan oleh kecanggihan teknologi dan informasi itu sendiri. Sehebat apapun prestasi di bidang penguasaan iptek, jika tidak dibarengi dengan kekuatan iman, ibadah, dan akhlak mulia, maka derajat untuk sampai pada taraf AuUnggulAy dalam arti yang sesungguhnya tidak akan terwujud. Adapun generasi unggul dalam al-qurAoan dijelaskan dalam beberapa surat, yaitu dalam surat Al-Alaq ayat 1-5. Ali-Imran ayat 190-191. An-NisaAo ayat 69. Dalam ayat-ayat tersebut dijelaskan bahwa manusia unggul yang sebenarnya adalah mereka yang memiliki wawasan IqraAo, berkarakter Ulul Albab, dan memiliki kepribadian yang Shaleh. Berikut ini akan diuraikan beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh lembaga, pendidik islam dalam menciptaan generasi yang unggul: Memperkuat Belajar (IqraA. dan Mengamalkan Tauhid Era millenial yang ditandai dengan ketergantungan generasi muda terhadap internet sangat mempengaruhi turunnya minat belajar siswa secara drastis pada dunia pendidikan khususnya di Indonesia, karena banyak kalangan terpelajar yang kecanduan teknologi digital sering menyalahgunakan penggunaan mencari informasi yang tidak berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Perilaku negatif dapat muncul karena pengaruh informasi yang diperoleh melalui berbagai media teknologi, jika kondisi iman dalam hati tidak cukup kuat untuk menyaring dan memberikan benteng yang kokoh. Di sinilah perlunya Generasi Milenial untuk memperkuat wawasan IqraiAo dan pengamalan Tauhid. Sebab, setinggi apapun prestasi dan kemampuannya dalam penguasaan teknologi jika tidak dikuatkan dengan tauhid. Dalam ajaran Islam, pemahaman dan pengamalan tauhid yang kuat dalam jiwa tidak hanya memberikan ketenteraman batin dan menyelamatkan manusia dari kesesatan dan kemusyrikan, tetapi juga berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku sehari-hari seseorang. 16 kokoh dalam jiwa akan menjadi kekuatan batin yang tangguh, melahirkan sikap positif dan optimisme yang dapat menghilangkan perasaan khawatir dan takut kepada selain Tuhan. Sikap dan perilaku positif tersebut memberikan manfaat bagi diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. Upaya mewujudkan pendidikan tauhid baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat dapat dilakukan melalui penyampaian Falah. Yasin Nur. Urgensi Pendidikan Tauhid dalam Keluarga. (Jurnal dari Pemikiran Islam Tribakti. Vol. No. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 materi tauhid. oleh orang tua, guru, dan pemuka agama/ustadz pada masyarakat tertentu dengan ungkapan tauhid, keteladanan, pembiasaan. Nilai-nilai tauhid yang telah terbentuk menjadi pandangan hidup seseorang akan mendorong munculnya perilaku-perilaku positif, baik saat sendiri maupun saat bersama orang lain, karena ada atau tidak ada yang melihat, ia merasa dirinya selalu dalam pandangan dan pengawasan Tuhan, agar setiap perilaku yang dilakukannya benar-benar dengan tujuan mencari keridhaan Allah SWT. Atas dasar itu, urgensi pendidikan tauhid kepada kaum Milenial bertujuan untuk mengenalkan kepada mereka kebesaran dan kekuasaan Tuhan, menanamkan rasa cinta kepada Tuhan, bersyukur kepada Tuhan, membangkitkan keikhlasan beribadah kepada Tuhan, memahami makna dan tujuan beribadah kepada Tuhan, menjauhi segala sesuatu yang dilarang Allah, mencintai Rasul sebagai utusan Allah, percaya adanya hal-hal gaib, dan sebagainya. Dengan memantapkan pemahaman dan pengamalan tauhid dalam kehidupan sehari-hari, kaum Milenial akan selalu mengingat perintah dan larangan Allah SWT dalam setiap aktivitasnya, dan diyakini dengan kekuatan tersebut dapat membentengi jiwanya untuk mampu mengendalikan diri dan terhindar dari perilaku menyimpang. akibat pengaruh negatif dari kecanggihan teknologi yang Pendidikan Islam tidak akan berhasil mewujudkan Generasi Milenial yang AuUnggulAy, jika pemahaman dan pengamalan tauhid dalam kehidupan seharihari lemah. Penguasaan teknologi yang hebat tanpa diisi dengan semangat tauhid bukanlah ciri generasi yang benar-benar Unggul, karena generasi yang benar-benar Unggul dalam perspektif pendidikan Islam adalah generasi yang memiliki pengamalan agama yang terintegrasi. monoteisme dan penguasaan teknologi secara Membangun Akhlak Mulia atau Karater Shaleh Pembinaan moral bagi generasi muda semakin dirasakan sangat diperlukan apalagi di saat tantangan dan godaan semakin banyak akibat era milenial yang ditandai dengan kemajuan teknologi. Saat ini orang dengan mudah berkomunikasi dan berinteraksi dengan siapa saja di dunia, baik yang baik maupun yang buruk karena kecanggihan teknologi. Peristiwa baik atau buruk dapat dengan mudah dipahami melalui pesawat televisi. Facebook. Twitter, internet, telepon genggam. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 dan sebagainya. Selain film, buku, poster, iklan, dan tempat hiburan juga menghadirkan berbagai kemaksiatan. Demikian juga narkoba, alkohol, dan sebagainya, juga gaya hidup materialistis dan hedonistik menjadi semakin marak. Semua itu jelas membutuhkan pendidikan akhlak. Menurut Ibnu Taimiyah, pendidikan akhlak dalam Islam merupakan upaya yang sangat penting, karena erat kaitannya dengan konsep tauhid. Hal ini karena keberadaan akhlak dalam Islam berdiri di atas unsur-unsur berikut: . Ketaatan kepada Allah Ta'ala sebagai satu-satunya pencipta alam semesta, penguasa, rizki, dan pemilik sifat rububid lainnya. Mengenal Allah Subhanahu wa Ta'ala ( ma'rifatulla. dan meyakini bahwa Dialah satu-satunya Dzat yang berhak . Mencintai Tuhan dengan cinta yang mendominasi semua perasaan manusia . uncak cint. sehingga tidak ada yang dicintai . dan keinginan . selain Allah swt. Cinta ini akan mengantarkan seorang hamba untuk memiliki orientasi pada satu tujuan, yaitu memusatkan seluruh aktivitas hidupnya pada satu tujuan itu, yaitu mencapai keridhaan Allah swt. Orientasi ini akan membuat seseorang meninggalkan sifat mementingkan diri sendiri, nafsu, dan keinginan-keinginan rendah lainnya. 18 yang bertentangan dengan cita-cita tersebut, yaitu segala perbuatan atau sifat yang dibenci oleh Allah. Karena itu, dia akan selalu menghiasi dirinya denganal-akhlaq al-karimah . khlak muli. Berkenaan dengan hal tersebut di atas, pendidikan akhlak yang perlu ditanamkan pada Generasi Milenial adalah dengan memupuk dan meningkatkan keyakinan mereka bahwa orientasi hidup tertinggi adalah menggapai keridhaan Allah. Untuk mendapatkan keridhaan Tuhan tentunya harus berperilaku mulia kapanpun dan dimanapun, karena keyakinan yang telah mendalam bahwa Tuhan mencintai dan memberkati akhlak mulia yang dijalankan. Sejalan dengan itu, dia akan secara konsisten pergial-akhlaq al-madzmumah . khlak tercel. , karena Allah ia percaya bahwa Allah membenci al-akhlaq almadzmumah. Jadi, dia melakukan sesuatu karena Allah dan meninggalkan sesuatu karena Allah. Ini tidak akan terasa sulit baginya, karena hatinya telah dikuasai oleh cinta yang sempurna kepada Nata. Abdudin. Tokoh Pendidikan Islam: Kajian Filsafat Pendidikan Islam Seri. (Jakarta: Raja Garafindo Persada. Humaid. Shalih bin Abdullah. Mausu'ah Nadhrah an-Na'im. (Jeddah: Dar Alwasila. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Tuhan. Akibat dari cinta itu adalah mencintai apa saja yang dicintai Allah dan membenci apa saja yang dibenci Allah. Dengan pendidikan moral yang dilandasi tauhid yang kokoh, kepribadian yang berkarakter terpuji pada Generasi Milenial dan tidak mudah terkontaminasi pengaruh negatif kecanggihan teknologi. Dengan akhlak yang mulia, mereka akan mampu mengendalikan diri dan menghindari perbuatan tercela, sehingga mampu memanfaatkan tantangan teknologi menjadi peluang untuk mengembangkan kreativitas dan inovasi guna meningkatkan kualitas, prestasi, dan kesejahteraan hidup di masa depan. Untuk memaksimalkan pendidikan akhlak ini sangat diperlukan peran guru dalam menyampaikan akhlak dan keteladanan Nabi. sosok yang mengemban misirahmatan lil 'alamin. Demikian juga guru harus mampu mengimplementasikan nilai-nilailil 'alamin terhadap Milenial yang berada dalam asuhannya, antara lain mengembangkan sikap humanis, berjejaring . , bersosial-profetik, toleransi dan pluralisme, keseimbangan, keteladanan, dialog dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Keberadaan pendidikan moral untuk membangun akhlak mulia pada siswa di era digital saat ini sangatlah penting, mengingat internet adalah belantara yang liar, dimana konten informasi positif dan negatif bercampur menjadi satu. Hanya landasan iman dan karakter yang kuat dalam diri sendiri, dalam arti mampu membedakan baik dan buruk, dapat menjamin masa depan Generasi Milenial Indonesia tetap cerah. Oleh karena itu, seorang guru harus menjaga potensi karakter bangsa agar tidak tergerus oleh berbagai ideologi destruktif, mulai dari hedonisme hingga radikalisme yang tidak sesuai dengan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Seperti yang dikatakan Faisal, dalam hal ini generasi muda perlu dididik tentang budaya media sosial yang sehat. Contoh dan Kebiasaan Untuk memperkuat dukungan terhadap pengamalan tauhid dan akhlak mulia bagi Generasi Milenial, terlihat adanya pola penting pendidikan keteladanan dan pembiasaan dalam rutinitas sehari-hari, mulai dari pendidikan informal dalam keluarga, lingkungan pendidikan formal, hingga pendidikan nonformal di Bafadhol. Ibrahim. Pendidikan Moral dalam Perspektif Islam. (Jurnal Islam Pendidikan. Jil. No. Mucharomah. Miftah. Guru di Era Milenial dalam Bingkai Rahmatan lil 'Alami. (Jurnal Pendidikan Islam. Vol. 4, 2. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 lingkungan keluarga. Komunitas. Orang tua, guru, dosen, tokoh agama/ ustadz, tokoh masyarakat harus bahu membahu dan bahu membahu memikul tanggung jawab dalam mewujudkan kegiatan pendidikan khususnya dalam hal yang berkaitan dengan keteladanan dan pembiasaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa contoh dasarnya adalah AuteladanAy, yaitu suatu hal yang dapat diteladani atau diteladani. Oleh karena itu, keteladanan adalah hal-hal yang dapat diteladani. Dalam bahasa Arab keteladanan dinyatakan dengan kata AuUswaAy dan AuQudwaAy. Kata AuUswahAy dibentuk dari huruf hamzah, as-sin dan al-waw. Secara etimologis, setiap kata Arab yang terbentuk dari ketiga huruf tersebut memiliki arti yang sama, yaitu AuPengobatan dan PerbaikanAy. Pendidikan keteladanan adalah bagian dari sejumlah metode yang paling efektif dan efektif untuk mempersiapkan dan membentuk anak secara moral, spiritual, dan sosial. Sebab, seorang pendidik adalah teladan yang ideal dalam pandangan anak-anak, yang perilaku dan sopan santunnya akan ditiru, disadari atau tidak, bahkan semua keteladanan itu akan melekat pada diri dan perasaannya, baik berupa perkataan, perbuatan, benda. yang bersifat material, indrawi, dan 21 Peran seorang pendidik memiliki peran yang sangat penting, karena siswa di era milenial memiliki sikap ketergantungan terhadap media sosial, sedangkan mereka belum dapat memilah dan memilih informasi yang diterimanya. Oleh karena itu, guru di era milenial perlu mempersiapkan diri dengan meningkatkan sikap dan kompetensinya. Selain keteladanan, pembiasaan merupakan salah satu metode pendidikan yang penting bagi anak sebagai siswa. Mereka belum menyadari apa yang disebut baik dan buruk dalam arti moral. Mereka juga belum memiliki kewajiban yang harus dilakukan seperti pada orang dewasa, sehingga mereka perlu dibiasakan dengan perilaku, keterampilan, keterampilan, dan pola pikir tertentu. Anak-anak perlu dibiasakan dengan sesuatu yang baik. Kemudian mereka akan mengubah semua sifat baik menjadi kebiasaan, sehingga jiwa dapat memenuhi kebiasaan itu tanpa terlalu banyak usaha, tanpa kehilangan banyak tenaga, dan tanpa menemukan banyak kesulitan. Manan. Syaepul. Menumbuhkan Akhlak Mulia Melalui Keteladanan dan Pembiasaan. (Jurnal Pendidikan Islam - Ta'lim. Vol. No. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Menurut Arief,22 ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan dalam melakukan metode pembiasaan bagi anak, yaitu: . Pembiasaan dimulai sejak usia dini, yaitu sebelum anak memiliki kebiasaan lain yang bertentangan dengan hal-hal yang akan dibiasakan, . Kebiasaan yang harus dilakukan secara terus menerus . dan dilakukan secara tertib sehingga akhirnya menjadi kebiasaan yang otomatis, . Pendidikan harus konsisten, tegas, dan tetap. teguh pada pendirian yang telah ditetapkan. Jangan beri kesempatan kepada anak untuk mendobrak pembiasaan yang sudah mapan, dan . Pembiasaan yang awalnya mekanistik harus semakin dibiasakan dengan hati nurani anak itu sendiri. Pembentukan kebiasaan dapat dilakukan melalui pengulangan dan memperoleh bentuk yang permanen jika disertai dengan kepuasan. Menanamkan kebiasaan memang sulit dan terkadang membutuhkan waktu yang lama. Kesulitan disebabkan pada awalnya seseorang atau anak belum bisa dibilang akrab dengan sesuatu yang ingin Oleh karena itu, pembiasaan terhadap hal-hal yang baik perlu dilakukan sedini mungkin agar nantinya hal-hal yang baik menjadi kebiasaan. Berdasarkan paparan di atas dapat dipahami bahwa keteladanan dan pembiasaan merupakan dua hal yang erat kaitannya dan saling mendukung dalam membentuk kepribadian kaum Milenial yang terbentuk sejak mereka memasuki masa kanak-kanak, sehingga pada saat memasuki usia remaja dan dewasa mereka sudah memasuki usia remaja. terbiasa mengamalkan ajaran agama dan akhlak yang Generasi unggul yang memiliki kepribadian terpuji tidak akan dapat terbentuk secara optimal, tanpa terlebih dahulu diawali dengan keteladanan dan pembiasaan sejak dini, baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Motivasi dan Pengawasan Dalam dunia pendidikan Islam, motivasi dan pengawasan memegang peranan yang sangat penting peranannya dalam mencapai keberhasilan belajar Khusus bagi kaum Milenial, potensi yang ada dalam diri mereka perlu diberikan penguatan atau motivasi dari setiap pendidik agar dapat terarah pada sasaran yang tepat guna menyalurkan minat dan bakatnya, sehingga terwujud pengembangan kreativitas untuk menghadapi masa depan. dunia kerja dan tantangan masa depan. Motivasi juga berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Pers Ciputat. Manan. Syaepul. Menumbuhkan Akhlak Mulia Melalui Keteladanan dan Pembiasaan. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 spiritual dan akhlak mulia sehingga menjadi sikap hidup dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-hari agar menjadi benteng mereka untuk dapat mengendalikan diri dan terhindar dari berbagai perbuatan buruk akibat kemajuan teknologi dan informasi yang begitu pesat untuk memperkuat fungsi motivasi dan pengawasan. Motivasi adalah penggerak dan penggerak keinginan untuk berperilaku. Motivasi juga merupakan alasan seseorang ingin dan ingin mengulangi perilakunya. Berbagai penelitian di bidang psikologi menunjukkan bahwa setiap manusia dapat mempengaruhi dan mengendalikan motivasinya. Dalam teori psikologi, motivasi ada pada setiap individu meskipun lingkungan sosial dan budaya memiliki peran penting dalam mempengaruhi motivasi pada individu. Motivasi yang berasal dari dalam diri individu disebut motivasi intrinsik, sedangkan motivasi yang berasal dari luar individu disebut motivasi ekstrinsik. Dalam hal ini orang tua, guru, pemuka agama/ ustadz di masyarakat wajib memberikan motivasi kebaikan kepada setiap anak/siswa sebagai penguat untuk meneguhkan nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang telah diajarkan. Selain itu, pengawasan memiliki fungsi yang sangat penting dalam keberhasilan pelaksanaan program pendidikan Islam. Pengawasan adalah keseluruhan upaya untuk mengamati pelaksanaan kegiatan operasional untuk memastikan bahwa kegiatan tersebut sesuai dengan rencana yang telah ditentukan Dalam bahasa lain, pengawasan adalah proses pemantauan kegiatan tertentu untuk memastikan kegiatan tersebut selesai sesuai rencana dan mengoreksi setiap penyimpangan yang signifikan. 24 Apabila kegiatan tersebut tidak sesuai atau bertentangan dengan apa yang telah direncanakan dalam program pendidikan, maka diperlukan revisi atau perubahan perbaikan. Dalam dunia pendidikan Islam, pengawasan terhadap pelaksanaan program pendidikan yang direncanakan tidak hanya bertujuan untuk memantau pelaksanaan tugas guru dalam mengajar di kelas, tetapi juga mengawasi semua aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan, termasuk bagaimana sikap dalam pembelajaran, akhlak dalam pergaulan sehari-hari di sekolah, pelanggaran disiplin sekolah, dan lain-lain. Pengawasan di lingkungan sekolah juga bertujuan untuk menjaga kelangsungan pengamalan nilai-nilai keimanan, ibadah. Tunggal. Amin Widjaja. Manajemen Sebuah Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 dan akhlak mulia sehingga menjadi kebiasaan yang baik yang pada gilirannya akan menjadi kebutuhan dan kenikmatan khusus bagi siswa untuk mengamalkannya secara konsisten. Dapat juga dikatakan, bahwa program nilai yang baik pada suatu lembaga pendidikan Islam tidak akan dapat berjalan secara maksimal, jika tidak didukung oleh pengawasan yang melekat. Jika pendidik telah mengamalkan prinsip tauhid yang hakiki, maka mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengharap ridha Allah, karena mereka percaya bahwa meskipun tidak diawasi oleh pimpinan dalam melaksanakan tugas mendidik, tetapi Allah selalu mengawasi segala aktivitas yang ada. ada di seluruh penjuru alam semesta. Dengan demikian, motivasi dan supervisi merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk mewujudkan peserta didik yang memiliki keunggulan spiritual . yang dibiasakan dalam berupa pengamalan nilai tauhid, ibadah dan akhlak mulia di lingkungan sekolah. Mempraktikkan Program Kewirausahaan sebagai Wasilah Mencapai Generasi Ulul Albab Untuk menghadapi tantangan hidup di masa depan. Generasi Milenial tidak cukup hanya menguasai teknologi dan informasi, tetapi juga harus ditunjang Secara Enterpreneur berasal dari kata Perancis AupengusahaAy yang artinya bisnis pemberani, petualang, pencipta, dan pengelola bisnis, dan dalam bahasa Indonesia artinya kata AupengusahaAy. Kata wira berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti pemberani. Syarat pengusaha pertama kali diperkenalkan oleh Richard Cantillon . Dalam epistemologi, kewiraswastaan adalah nilai yang dibutuhkan untuk memulai bisnis . atau proses melakukan sesuatu yang baru . dan sesuatu yang berbeda . Dalam perspektif sejarah. Nabi Muhammad SAW, istrinya, dan sebagian besar sahabatnya adalah pedagang dan pengusaha internasional yang terampil. Beliau adalah praktisi ekonomi dan panutan bagi masyarakat. Oleh karena itu, sebenarnya tidak aneh jika dikatakan bahwa mental entrepreneurship sudah melekat pada jiwa umat Islam itu sendiri. Islam adalah agama para pedagang, disebarkan ke seluruh dunia setidaknya sampai abad ke-13 M, oleh para pedagang Santoso. Agus. Kunci Sukses Wirausahawan. (Jakarta: Bestari. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Muslim. Dari aktivitas jual beli yang dilakukan. Rasulullah dan sebagian besar para sahabatnya telah mengubah pandangan dunia bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada kebangsawanan darahnya, bukan pula pada kedudukannya yang tinggi, atau pada hartanya yang banyak, melainkan pada suatu pekerjaan. Karena itu. Nabi juga bersabda AuInnallaha yuhibbul muhtarifAy (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bekerja untuk mencari nafka. Umar bin Khattab malah berkata bahwa. AuAku benci salah satu dari kalian yang tidak mau bekerja yang menyangkut urusan duniaAy. Realitas di atas menunjukkan bahwa ajaran Islam telah memberikan motivasi untuk secara aktif berusaha dan membangun mentalitas umat agar mau mengembangkan kegiatan wirausaha dalam arti luas. Penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan dan keringat sendiri dalam Islam dipandang sebagai pekerjaan yang mulia daripada penghasilan yang diperoleh dari jabatan dan jabatan yang tinggi, tetapi memakan hasil keringat dan hak orang lain. Mentalitas wirausaha jujur yang mengharap ridha Ilahi inilah yang harus dibangun melalui pendidikan Islam, sehingga jiwa spiritualnya dapat memperkuat pondasi mentalitas Generasi Milenial yang dinamis, inisiatif, kreatif, inovatif, dan berani keluar dari kebiasaan lama. eluar dari kota. Berkaitan lembagalembaga pendidikan Islam yang memiliki kepedulian untuk membangun mentalitas mencoba dan mengamalkan kegiatan wirausaha secara langsung kepada para santrinya. Realitas ini direpresentasikan oleh pesantren, khususnya di Jawa. Pesantren Modern Gontor Ponorogo, kewirausahaan kepada santri dan lulusannya serta mendidik mereka untuk memiliki jiwa keikhlasan, persaudaraan, kesederhanaan, kemandirian dan kebebasan dalam mengembangkan kreativitas. Begitu pula dengan Pesantren di Sunan Drajat. Lamongan. Jawa Timur yang mendidik santrinya untuk mengelola aktivitasnya dalam mengelola kegiatan. pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan, bisnis makanan dan minuman, bahkan hingga pembuatan kapal yang berbobot 40 ton. Subur. Islam dan Mental Kewirausahaan: Kajian Konsep dan Pendidikan. (Jurnal Insania: Pemikiran Alternatif dalam Pendidikan. Vol. No. Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 Dengan melihat fakta di atas, dapat dikatakan bahwa pendidikan Islam memiliki peran besar dalam mempersiapkan generasi yang siap menghadapi dunia kerja dan berdaya saing tinggi di era milenial, jika lembaga pendidikan Islam turut serta membangun mentalitas wirausaha dan mempraktekkan kegiatan wirausaha kepada siswanya. Generasi terdepan yang siap menghadapi tantangan dan persaingan di era milenial akan muncul dari lembaga pendidikan Islam yang mengutamakan pendidikan kewirausahaan sebagai menu utama dalam pendidikan Hal ini sangat dimungkinkan, karena nilai-nilai yang terkandung dalam pendidikan kewirausahaan sejalan dengan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh para Generasi Milenial yang hidup di zaman berwirausaha, agar mereka dapat sejahtera sebagai Augenerasi yang bisa membuka lapangan pekerjaan,Ay bukan sebagai Augenerasi yang sedang mencari pekerjaanAy. Kesimpulan Pendidikan Islam di era milenial dihadapkan pada sejumlah tantangan yang cukup berat, namun harus disikapi dengan berbagai langkah dan strategi, agar berbagai tantangan tersebut dapat berubah menjadi peluang. pesat akhir-akhir ini, apalagi menutup diri dari keterlibatan untuk menyerap perkembangannya, namun harus selektif dalam pemanfaatan dan pemanfaatan informasi dan teknologi agar dapat secara maksimal diarahkan pada berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan pengembangan dan pemberdayaan potensi peserta didik agar menjadi kreatif, inovatif. SDM dan prestasi, sehingga memiliki keahlian dan daya saing yang tinggi dalam menghadapi perkembangan global. Meskipun demikian, betapapun hebatnya penguasaan siswa terhadap kecanggihan informasi dan teknologi di era milenial, jika tidak dilandasi dengan amalan tauhid, ibadah, dan akhlak mulia, maka segala bentuk kebesaran justru akan berubah menjadi bumerang yang dapat merusak tatanan kehidupan pribadi dan masyarakat. Oleh karena itu dunia pendidikan Islam harus mampu memberikan pembinaan dan pembekalan yang terintegrasi antara penanaman nilai tauhid, ibadah, dan akhlak mulia dengan penguasaan teknologi dibarengi dengan berbagai kecakapan hidup yang menunjang keberhasilan masa depan peserta didik. Keterpaduan antara iman, ilmu pengetahuan, keterampilan dan teknologi inilah yang mendorong mahasiswa menjadi Kabilah: Journal of Social Community Print-ISSN: 2502-9649 Online-ISSN: 2503-3603 Terakreditasi Nasional SK No. 14/E/KPT/2019 Vol. 6 No. 2 Desember 2021 generasi yang unggul yang tidak hanya akan dapat mencapai kesuksesan jasmani dan rohani, tetapi juga dapat menikmati kebahagiaan di dunia dan akhirat Referensi