Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni 2026 STRATEGI PENGEMBANGAN OBJEK WISATA MENARA KUJANG SAPASANG DAN MASJID AL KAMIL DI KAWASAN JATIGEDE DENGAN PENDEKATAN TERINTEGRASI Menanga Puteri Hatami*1 dan Pringgo Dwiyantoro2 Magister Perencanaan Wilayah dan Kota. Sekolah Arsitektur. Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Institut Teknologi Bandung. Jl. Ganesa No. Lb. Siliwangi. Kota Bandung. Jawa Barat, 40132 Kelompok Keahlian Sistem dan Pemodelan Ekonomi. Sekolah Arsitektur. Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK). Institut Teknologi Bandung. Jl. Ganesa No. Lb. Siliwangi. Kota Bandung. Jawa Barat, 40132 Naskah masuk 25 Desember 2025. Naskah direvisi 25 Maret 2026. Naskah diterima 16 April 2026 Key Words Jatigede Reservoir. PorterAos Five Forces Sentiment analysis SWOT analysis 6A tourism component analysis Abstract The Jatigede Reservoir area has become one of the tourist icons of Sumedang Regency. This area has a number of leading and supporting tourist attractions. This study will focus on the Kujang Sapasang Tower and Al Kamil Mosque as part of the Jatigede Reservoir tourist attractions. The purpose of this research is to explore the characteristics of the study objects in order to formulate a comprehensive approach to developing tourist attractions, considering the great tourism potential but also the competitive challenges. The analysis methods used include the 6A tourism component analysis, sentiment analysis. SWOT analysis, and Porter's Five Forces analysis. The analysis findings show that the Kujang Sapasang Tower and Al Kamil Mosque have advantages in terms of cultural and architectural uniqueness and institutional support, but on the other hand, they have weaknesses and threats that could shift their existence if no strategic steps are taken by the Sumedang Regency Government as the main manager. Based on the analysis results, it is evident that transformative efforts are needed to enhance the development of the Jatigede tourism destination, particularly the Kujang Sapasang Tower and Al Kamil Mosque Kata Kunci Analisis SWOT Analisis Komponen 6A Analisis Sentimen PorterAos Five Forces Waduk Jatigede Abstrak Kawasan Waduk Jatigede menjadi salah satu ikon wisata Kabupaten Sumedang. Kawasan ini memiliki sejumlah objek wisata unggulan dan pendukung. Dalam studi ini akan berfokus pada Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil sebagai bagian dari objek wisata Waduk Jatigede. Tujuan penelitian ini adalah mengeksplorasi karakteristik objek studi untuk merumuskan strategi pengembangan objek wisata dengan pendekatan yang komprehensif, mengingat potensi wisata yang besar tetapi diiringi dengan tantangan kompetitif. Metode analisis yang digunakan di antaranya analisis komponen wisata 6A, analisis sentimen, analisis SWOT, serta analisis PorterAos Five Forces. Temuan analisis menunjukkan bahwa Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil memiliki keunggulan dalam hal keunikan budaya dan arsitektur serta dukungan kelembagaan, tetapi di sisi lain menyimpan kelemahan dan ancaman yang dapat menggeser eksistensinya jika tidak ada langkah strategis yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang sebagai pengelola utamanya. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa perlu ada upaya transformatif yang dapat meningkatkan pengembangan destinasi wisata Jatigede, khususnya Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil PENDAHULUAN Pariwisata merupakan suatu kegiatan individu yang melibatkan perjalanan ke berbagai tujuan seperti rekreasi, pendidikan, bisnis, dan budaya. Pariwisata berperan sebagai penggerak perekonomian karena menyediakan memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal, mempromosikan pertukaran budaya dan melestarikan warisan alam dan budaya (Rojabi, 2. Pada dasarnya setiap wilayah memiliki sejumlah potensi alam maupun buatan yang dapat dijadikan sebagai lokasi pariwisata. Indonesia sebagai salah satu negara yang dikenal dengan melimpahnya destinasi wisata yang tersebar dari barat hingga timur, menjadi primadona bagi para wisatawan mancanegara maupun Nusantara. Berdasarkan data perkembangan pariwisata Indonesia diketahui bahwa provinsi tujuan utama perjalanan wisatawan Nusantara adalah Jawa Barat dengan 18,04 juta perjalanan per September 2025 (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2. Provinsi Jawa Barat dikenal memiliki berbagai jenis wisata yang menarik, terutama wisata Jenis wisata alam yang terdapat di Jawa Barat * corresponding author: menangaputeri@gmail. https://doi. org/10. 34147/crj. Hatami. Strategi Pengembangan Objek Wisata A Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 31-40 seperti pantai, gunung, curug, situ, dan waduk. Contoh destinasi wisatanya seperti Pantai Pangandaran di Kabupaten Pangandaran. Gunung Papandayan di Kabupaten Garut. Curug Malela di Kabupaten Bandung Barat. Situ Patenggang di Kabupaten Bandung, serta Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang. Masih banyak objek wisata lainnya yang tersebar di kabupaten/kota Provinsi Jawa Barat. Namun fokus utama dalam studi ini yaitu Waduk Jatigede di Kabupaten Sumedang. wisata Kawasan Waduk Jatigede. Kedua objek ini terletak dalam satu kawasan dengan jarak hanya sekitar 260 Secara spasial, kedua objek ini berdekatan dan umumnya dikunjungi secara bersamaan. Dalam penelitian ini kedua objek dianalisis sebagai satu kesatuan destinasi wisata. Pemilihan kedua objek ini didasari oleh posisinya sebagai ikon kawasan yang menawarkan daya tarik wisata buatan dengan ciri arsitektur dan budaya yang khas, di tengah dominasi objek wisata lain di kawasan ini yang umumnya homogen berupa wisata Adapun objek studi pembanding yaitu Situ Cilembang yang berada di Kabupaten Sumedang dan Situ Cipanten di Kabupaten Majalengka. Kedua objek pembanding ini bertujuan untuk melihat dinamika kompetisi hingga ancaman sebagai bentuk rekreasi Berdasarkan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Kabupaten Sumedang tahun 2021-2025 diketahui bahwa kawasan wisata Waduk Jatigede terdiri dari delapan objek unggulan dan lebih dari 90 objek pendukung lainnya. Waduk Jatigede merupakan waduk terbesar kedua di Indonesia setelah Waduk Jatiluhur. Pembangunan waduk ini merupakan salah satu proyek strategis nasional yang telah lama direncanakan sejak zaman Hindia Belanda, tetapi baru dibangun pada tahun 2008 serta secara resmi beroperasional mulai tahun 2015. Dengan demikian, penelitian ini hadir untuk menggabungkan perspektif pengunjung, kelengkapan komponen objek wisata, pemetaan faktor internal dan eksternal, serta dinamika persaingan industri pariwisata. Pendekatan ini belum ditemukan pada studi terdahulu (Alia. Turgarini, & Taufiq, 2018. Tonisa, 2. karena umumnya pendekatan dilakukan secara parsial dan belum mengintegrasikan secara simultan keempat hal Hasil studi ini diharapkan dapat merumuskan rekomendasi strategi yang komprehensif untuk meningkatkan daya saing dan keberlanjutan kawasan wisata Waduk Jatigede sebagai objek studi utama sekaligus menjadi masukan aplikatif bagi para pemangku kepentingan seperti Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang dan pelaku usaha. Kehadiran Waduk Jatigede diharapkan dapat menjadi game changer atau motor penggerak bagi kebangkitan ekonomi regional karena terdapat beberapa titik wisata di sekitar waduk (Tonisa, 2. Sebagaimana yang diketahui bahwa fungsi utama waduk sebagai infrastruktur pengendali banjir dan penyedia air baku, tetapi justru kawasan Jatigede yang meliputi 28 desa dan 4 kecamatan (Darmaraja. Wado. Jatigede, dan Jatinungga. dirancang sebagai kawasan terpadu yang mengintegrasikan berbagai sektor, seperti perikanan, pertanian, pariwisata. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan industri pengolahan. Menurut pendapat pengelola dan pedagang di sekitar Waduk Jatigede jumlah kunjungan wisatawan Kondisi ini memberikan kekhawatiran bagi penduduk sekitar terkait pendapatan yang diterima dari sejumlah objek wisata. Pada umumnya pihak pengelola objek wisata meliputi Pemerintah melalui Perhutani dan Pemerintah Daerah setempat, serta Lembaga Swadaya Masyarakat (Alia. Turgarini, & Taufiq. Namun pasca beroperasinya jalan tol Cisumdawu sejak awal tahun 2022 hingga awal 2023, keberadaan jalan tol tersebut mampu mengintegrasikan antar kawasan dan meningkatkan kunjungan wisatawan di Kabupaten Sumedang. Kendati demikian, jumlah kunjungan restoran dan hotel belum berpengaruh signifikan karena relatif singkatnya waktu perjalanan ke Sumedang sehingga wisatawan memilih untuk menginap di sekitar Bandung (Ruhyana & Ferdiansyah, 2. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi atau mix method. Tujuan penggunaan metode kombinasi adalah mengolaborasikan dan menjelaskan temuan Analisis menggunakan analisis Komponen 6A (Attraction. Accessibility. Amenity. Accommodation. Activity, dan Ancillary Servic. , analisis Sentimen, serta analisis PorterAos Five Forces. Sementara itu, analisis kuantitatif dilakukan melalui analisis Strengths. Weaknesses. Opportunities, dan Threats (SWOT) menggunakan matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan External Factor Evaluation (EFE). Pengumpulan data dilakukan secara sekunder yang bersumber dari hasil studi terdahulu dan ulasan Google Maps. Berikut penjelasan mengenai metode analisis yang Analisis Komponen 6A Komponen pariwisata terdiri dari 6A yaitu Attraction (Atraks. Accessibility (Aksesibilita. Amenity (Fasilitas pendukun. Accommodation (Akomodas. Activity (Aktivita. , dan Ancillary Service (Layanan Tambaha. Attraction atau atraksi wisata meliputi jenis wisata yang disajikan oleh obyek wisata seperti Sebagai ikon wisata Kabupaten Sumedang. Waduk Jatigede membutuhkan upaya pengembangan wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi karakteristik dan strategi pengembangan objek wisata. Pada analisis ini, objek studi utama adalah Menara Kujang dan Masjid Al Kamil sebagai bagian dari objek Hatami. Strategi Pengembangan Objek Wisata A Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 31-40 alam, seni budaya, eduwisata, sejarah, olahraga, dan lain-lain. Accessibility atau aksesibilitas merupakan tingkat kemudahan wisatawan untuk menjangkau destinasi wisata. Amenity atau amenitas merupakan fasilitas pendukung seperti penginapan, toilet, tempat parkir, swalayan, rumah makan, dan mushola. Accomodation atau akomodasi terbagi menjadi tiga jenis yaitu akomodasi komersil, semi komersil, dan non komersil. Akomodasi dapat diartikan sebagai penginapan dan beragam fasilitas di dalamnya. Activity atau aktivitas adalah kegiatan yang menjadi daya tarik wisata bagi wisatawan atau pengunjung. Ancillary atau layanan tambahan dapat berupa organisasi kepariwisataan yang ditugaskan untuk memberikan layanan tambahan seperti informasi yang dibutuhkan wisatawan, kehadiran toko cinderamata, serta biro perjalanan (Dianto et al, 2. persaingan dalam suatu industri sehingga dapat diketahui strategi pengembangan bisnis yang berkontribusi terhadap peningkatan daya saing dan keunggulan kompetitif (Chairunisa & Irawan, 2020 dalam Hintoro & Wijaya, 2. Adapun komponen dari model PorterAos Five Forces dapat dilihat pada Gambar 1. Analisis Sentimen Analisis sentimen atau dikenal dengan istilah lain yaitu opinion mining merupakan pengolahan bahasa dari suatu teks atau kata yang dapat dianalisis dari pendapat, sikap, atau penilaian dari seseorang terhadap suatu objek atau topik pembicaraan (Khofifah. Rahayu, & Yusuf, 2. Dalam penelitian ini, data diperoleh dari ulasan pengunjung Google Maps melalui beberapa tahap yaitu: scraping data menggunakan instant data scraper. menyimpan data ulasan pengunjung berbasis tabel atau Comma Separated Values (CSV). data yang berhasil diperoleh kemudian diolah menggunakan Google Colab yaitu sebuah layanan komputasi untuk menjalankan pemrograman Python secara daring. Hasil analisis menunjukkan jumlah opini netral, positif, atau negatif terhadap objek studi sehingga dapat menjadi informasi sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Daerah. Informasi ini memiliki keterkaitan langsung dengan strategi pembangunan sektoral daerah, khususnya untuk menyusun strategi pengelolaan tempat wisata yang lebih terarah dan responsif terhadap kebutuhan wisatawan (Khofifah. Rahayu, & Yusuf, 2. Gambar 1. Komponen Model PorterAos Five Forces Sumber: Hintoro & Wijaya, 2021 Berikut penjelasannya dari setiap komponen (Oki & Krisnawan, 2022 dalam Andriani, 2. Ancaman Pendatang Baru (Threat of New Entrant. Ancaman Pendatang Baru akan Kehadiran para pemain baru sebagai pesaing akan menyebabkan persaingan semakin ketat dan berdampak pada penurunan laba. Persaingan tersebut tentu semakin mengancam jika kompetitor lama melakukan strategi pemasaran. Hal ini berkaitan dengan seberapa mudah pendatang baru/kompetitor lama untuk ikut berkompetisi dalam persaingan usaha Daya Tawar Pembeli (Bargaining Power of Buyer. Kekuatan Tawar Menawar Pembeli merupakan daya tawar pembeli pada industri yang berperan dalam menekan harga untuk turun, serta menawarkan dengan kualitas atau layanan yang lebih baik sehingga membuat kompetitor semakin bersaing. Hal ini dapat menyebabkan harga jual suatu produk menjadi lebih Ancaman Produk Pengganti (Threat of Substitute. Ancaman Produk atau Jasa Pengganti merupakan barang atau jasa yang dapat menggantikan produk Adanya produk atau jasa pengganti akan mengurangi potensi jumlah keuntungan. Semakin menarik alternatif harga produk dari kompetitor, maka semakin ketat jumlah keuntungan yang dapat Hal ini berkaitan dengan alternatif yang dimiliki oleh konsumen terhadap produk yang Daya Tawar Pemasok (Bargaining Power of Supplier. Kekuatan Tawar Menawar Pemasok terhadap pembeli dapat dilakukan dengan cara menaikkan harga atau menurunkan kualitas produk atau jasa yang dibeli. Perusahaan berusaha mendapatkan harga terendah Analisis SWOT Analisis SWOT merupakan proses mengidentifikasi faktor kekuatan . , kelemahan . , peluang . , dan ancaman . yang bertujuan untuk memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan ancaman menggunakan metode yang sistematis (Freddy, 2. Lebih lanjut Alia. Turgarini, & Taufiq . menegaskan bahwa hasil identifikasi keempat faktor ini perlu dianalisis dengan matriks IFE (Internal Factor Evaluatio. serta EFE (External Factor Evaluatio. Analisis PorterAos Five Forces PorterAos Five Forces adalah model analisis yang dikembangkan oleh Michael E. Porter pada tahun Metode ini digunakan untuk memahami tingkat Hatami. Strategi Pengembangan Objek Wisata A Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 31-40 Analisis Komponen 6A dengan kualitas sebaik mungkin. Apabila perusahaan mendapatkan pemasok tersebut, maka perusahaan yang bersangkutan akan berada di posisi yang aman dalam dunia kompetisi. Persaingan dengan Kompetitor sejenis (Rivalry of Competitor. Persaingan dalam Industri Sejenis menjadi pusat kekuatan persaingan. Para pesaing dalam hal ini adalah sejumlah industri yang menghasilkan produk serupa sehingga bersaing dalam kondisi pasar yang Kompetisi yang terjadi dalam industri yang sama biasanya terjadi dalam konteks harga, kualitas produk, pelayanan sehingga menciptakan nilai tersendiri bagi konsumen. Semakin banyak pesaing, maka perusahaan akan semakin meningkatkan usahanya untuk memenangkan persaingan. Pada analisis ini akan dijelaskan hasil identifikasi komponen 6A terhadap tiga objek wisata yaitu Menara Kujang Sapasang sebagai objek utama serta objek pembanding yang berada di Kabupaten Sumedang yaitu Situ Cilembang dan Situ Cipanten di Kabupaten Majalengka. Ketiga objek wisata ini akan diidentifikasi komponen dari masing-masing 6A. Tujuannya adalah melihat kelebihan dan kekurangan berdasarkan kondisi yang ada di lapangan. Pemilihan ketiga objek wisata ini didasarkan pada kesamaan daya tarik utama berupa pemandangan air . aduk dan sit. , meskipun berbeda klasifikasi antara wisata buatan dan alami. Data yang diperoleh berasal dari sumber sekunder di website serta literatur lainnya yang menggambarkan informasi yang Berikut penjelasan kondisi 6A yang dapat dilihat pada Tabel 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Identifikasi Komponen 6A Menara Kujang Sapasang & Masjid Al Kamil Situ Cilembang Situ Cipanten Attraction (Atraks. Jenis wisata Wisata buatan Wisata alam Wisata alam Accessibility (Akse. Jarak Waktu tempuh Moda Kondisi jalan 32 km dari pusat kota 60 menit dari pusat kota Motor, mobil, bis Memadai 20 km dari pusat kota 45 menit dari pusat kota Motor, mobil Cukup memadai 16 km dari pusat kota 30 menit dari pusat kota Motor, mobil, bis Memadai Amenity (Fasilitas pendukun. Tempat parkir Tersedia baik Toilet Tersedia baik Mushola Tersedia baik Tersedia cukup baik Tersedia cukup baik Tersedia cukup baik Tersedia baik Tersedia baik Tersedia baik Accommodation (Akomodas. Penginapan Warung makan Tersedia 45 menit dari lokasi Tersedia Tersedia 48 menit dari lokasi Tersedia Tersedia di area kawasan Tersedia A Menikmati pemandangan A Retail A Relaxing A Menikmati pemandangan A Relaxing A Trekking A Menikmati pemandangan A Wahana bermain A Waterboom A Spot foto underwater Tersedia Dikelola oleh Pemerintah Daerah Tersedia Dikelola oleh BUMDes Komponen Activity (Aktivita. Kegiatan Ancillary Service (Layanan Tambaha. Pos informasi Tersedia Layanan iklan Dikelola oleh Pemerintah Daerah Sumber: Hasil Analisis, 2025 Berdasarkan hasil analisis komponen 6A di atas diketahui bahwa objek studi utama Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil memiliki beberapa karakteristik yang membedakan dengan dua objek wisata lainnya. Sebagai wisata buatan berupa pemadangan waduk, menara, serta masjid menawarkan nilai budaya dan arsitektur yang menarik sehingga menjadi pembeda dengan Situ Cilembang dan Cipanten yang pemandangannya lebih bersifat alami. Dari segi aksesibilitas, lokasi Menara Kujang dan Masjid Al Kamil berada pada jarak terjauh dan waktu tempuh terlama dari pusat kota, tetapi kondisi jalan dinilai lebih memadai dan dapat diakses oleh berbagai alternatif moda transportasi, termasuk bis. Terkait fasilitas pendukung atau amenity. Menara Kujang dan Masjid Al Kamil dan Situ Cipanten memiliki kondisi yang baik untuk tempat parkir, toilet, dan mushola jika dibandingkan Situ Cilembang yang fasilitasnya cukup Namun jika dilihat dari sisi akomodasi. Situ Cipanten dinilai lebih baik dibandingkan objek wisata lainnya karena penginapan berada di kawasan yang sama. Sementara untuk Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil serta Situ Cilembang membutuhkan waktu 45-48 menit untuk menjangkau penginapan. Aktivitas yang ditawarkan lebih menarik di Situ Cipanten karena memiliki berbagai jenis wahana bermain seperti waterboom, resto, permainan air, dan sejenisnya. Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil sebagai objek studi Hatami. Strategi Pengembangan Objek Wisata A Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 31-40 menawarkan pemadangan dan spot foto di pelataran menara maupun masjid, tetapi belum ada wahana bermain tambahan. Berdasarkan grafik yang diberikan dapat dilihat bahwa Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil memiliki respons evaluasi yang paling menonjol dibandingkan dengan dua objek wisata lainnya karena memiliki porsi yang cukup banyak pada kategori negatif, tetapi memiliki kategori positif dan netral juga yang banyak. Situ Cilembang lebih didominasi oleh tanggapan atau status yang netral. Artinya sebagian besar pengunjung menilai dengan persepsi yang umum dan tidak terlalu menonjol baik secara positif maupun negatif. Sementara itu. Situ Cipanten menunjukkan performa terbaik dengan tanggapan positif yang paling dominan dibandingkan dengan kedua lokasi lainnya. Hal ini menandakan bahwa objek wisata ini mendapatkan ulasan yang paling Situ Cilembang menawarkan aktivitas trekking, pemadangan, dan spot foto di atas perahu dengan keasrian yang memanjakan pengunjung. Namun aktivitas di situ ini terbatas karena di area situ tidak diperkenankan berenang secara bebas demi menjaga kejernihan air. Pada komponen layanan tambahan atau ancillary. Menara Kujang dan Masjid Al Kamil serta Situ Cipanten memiliki pos informasi dan layanan iklan yang lebih memadai dibandingkan Situ Cilembang. Secara keseluruhan, objek studi utama memiliki fondasi pelayanan dasar yang kuat, tetapi perlu ada pengembangan pada aspek akomodasi dan aktivitas untuk meningkatkan daya tarik dan kenyamanan wisatawan. Berdasarkan perbandingan ketiga objek wisata ini, terlihat sebuah perbedaan yang cukup signifikan. Situ Cipanten sebagai objek pembanding memiliki tanggapan positif paling banyak, sedangkan Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil justru menghadapi tantangan dengan adanya tanggapan negatif yang cukup banyak jika dibandingkan dengan objek wisata yang lainnya sehingga perlu ada upaya untuk meningkatkan citra wisata. Situ Cilembang cenderung berada di tengah-tengah karena tanggapan didominasi oleh kategori netral. Melalui analisis sentimen ini memberikan pemahaman terhadap persepsi publik sehingga dapat bermanfaat untuk berdasarkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman masing-masing. Analisis Sentimen Pada pembahasan ini akan diuraikan hasil analisis sentimen ketiga objek wisata. Hasil analisis didukung oleh scrapping data dari ulasan Google Maps, kemudian diolah menggunakan Google Colab. Sentimen terbagi menjadi tiga yaitu netral, positif, dan negatif. Berikut hasil olah data yang dapat dilihat pada Gambar 2. JUMLAH ULASAN Analisis SWOT Netral Positif Berdasarkan hasil analisis sebelumnya yaitu analisis komponen 6A dan analisis sentimen, maka dapat diidentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman setiap objek wisata. Pembobotan dan pemberian peringkat . dalam matriks ini mengacu pada pertimbangan peneliti berdasarkan hasil analisis dan interpretasi terhadap temuan analisis sebelumnya, serta didukung oleh studi literatur yang ada. Pembobotan diberikan berdasarkan tingkat pengaruh faktor sedangkan peringkat diberikan berdasarkan kondisi aktual objek studi. Berikut hasil analisis SWOT untuk objek studi Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil dibandingkan dengan Situ Cilembang dan Situ Cipanten, yang dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 3 di bawah Negatif KATEGORI SENTIMEN Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil Situ Cilembang Situ Cipanten Gambar 2. Analisis Sentimen Objek Studi Sumber: Hasil Analisis, 2025 Hatami. Strategi Pengembangan Objek Wisata A Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 31-40 Tabel 2. Analisis SWOT Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil Komponen SWOT Faktor Internal (IFE) Kekuatan (Strength. Nilai budaya dan arsitektur yang unik yang dicerminkan dari fasad Menara dan Masjid Fasilitas dasar . arkir, toilet, masji. terpenuhi dengan baik Aksesibilitas mendukung multimoda . otor, mobil, bi. Dukungan kelembagaan Pemda Jumlah Kelemahan (Weaknes. Jarak terjauh dari pusat kota yaitu 32 km dengan waktu tempuh 60 menit Tidak ada akomodasi penginapan di area kawasan Ragam aktivitas terbatas . ightseeing dan swafot. Citra negatif tertinggi berdasarkan analisis sentimen Jumlah X=Jumlah IFE (Kekuatan-Kelemaha. Faktor Eksternal (EFE) Peluang (Opportunitie. Pengembangan paket wisata terintegrasi dengan objek wisata lainnya Terdapat objek wisata lainnya di dalam kawasan Jatigede Pengelolaan dipegang oleh Pemerintah Daerah Terintegrasinya dengan akses jalan tol Cisumdawu Jumlah Ancaman (Threat. Persaingan yang cukup tinggi dengan objek wisata lainnya, terutama di kabupaten sekitar (Situ Cipanten di Kabupaten Majalengk. Persepsi negatif yang dibiarkan akan mengancam keberlanjutan objek Minimnya upaya pemasaran Masih terbatasnya aktivitas wisata yang disajikan Jumlah Y=Jumlah EFE (Peluang-Ancama. Sumber: Hasil Analisis, 2025 Bobot Rating Skor 0,15 0,30 0,15 0,15 0,10 0,45 0,60 0,30 1,65 0,10 0,10 0,15 0,10 0,20 0,20 0,45 0,30 1,15 0,15 0,18 0,12 0,15 0,60 0,30 0,54 0,36 0,30 0,18 0,24 0,10 0,15 0,67 0,83 0,18 0,12 0,05 0,05 pemasaran melalui iklan dengan memasang billboard di lokasi strategis, seperti pintu tol Cisumdawu. A Menggencarkan pemasaran digital melalui media sosial dan mengembangkan platform terintegrasi berupa website atau aplikasi khusus untuk menyediakan informasi lengkap dan aktual, sistem pemesanan tiket dan paket wisata, serta informasi mengenai akomodasi terdekat. A Melakukan diversifikasi aktivitas wisata seperti pertunjukan kuda renggong dan kegiatan membatik yang menonjolkan ciri khas Sumedang agar menambah daya tarik tersendiri sehingga tidak terkesan monoton. A Menerapkan dan mempromosikan konsep pariwisata berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat lokal dalam operasional, mengelola limbah secara bertanggung jawab, dan menjaga kelestarian lingkungan sekitar waduk sebagai aset utama. Gambar 3. Matriks SWOT Sumber: Hasil Analisis, 2025 Berdasarkan tabel dan matriks IFE EFE menunjukkan prospek pertumbuhan yang baik karena kekuatan internal dan eksternal yang saling mendukung. Adapun strategi yang perlu dilakukan yaitu berfokus pada pemanfaatan kekuatan internal yang secara simultan menangkap peluang eksternal yang paling layak dan berdampak. Berikut strategi progresif yang dapat dilakukan oleh pengelola Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil: A Menyediakan paket wisata yang tergabung dengan objek wisata lain di sekitar Waduk Jatigede. A Menyediakan pelayanan wisata yang terintegrasi antara penginapan, transportasi, dan jasa tour guide. A Memperkuat Analisis PorterAos Five Forces Analisis PorterAos Five Forces menjelaskan berbagai jenis ancaman persaingan yang ditimbulkan dari objek wisata Ancaman dilihat baik secara internal maupun Ancaman dari pesaing internal yaitu Situ Cilembang yang berada di Kecamatan Buahdua . i luar kawasan Jatiged. , sedangkan ancaman pesaing eksternal yaitu Situ Cipanten di Kabupaten Majalengka. Berikut hasil analisisnya, yang dapat dilihat pada Tabel 3 di bawah ini. Hatami. Strategi Pengembangan Objek Wisata A Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 31-40 Tabel 3. Analisis PorterAos Five Forces Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil Komponen PorterAos Five Force Tingkat Ancaman Analisis Potensi pengembangan wisata alam/buatan baru di wilayah Objek pesaing memiliki aktivitas dan amenitas wisata yang lebih Objek pesaing memiliki waktu tempuh yang lebih cepat Penyedia memberikan pelayanan jasa umum kebersihan dan Penyedia memberikan pengalaman kepada wisatawan Terdapat alternatif destinasi wisata lain yang memiliki aktivitas yang lebih menarik Sentimen negatif memengaruhi posisi tawar menawar wisatawan Terdapat substitusi destinasi wisata serupa secara langsung yang lebih unggul dari aktivitas (Situ Cipante. dan jarak (Situ Cilemban. Terdapat substitusi tidak langsung seperti wisata kuliner atau jenis wisata lainnya Keunggulan aktivitas dan manajemen Situ Cipanten Keunggulan jarak dan keasrian alam Situ Cilembang Keunikan budaya, tetapi aktivitas dan citranya masih minim. Sedang Ancaman pendatang baru (Threat of New Entrant. Tinggi Sedang Kekuatan Tawar Pemasok (Bargaining Power of Supplier. Rendah Kekuatan Tawar Pembeli (Bargaining Power of Buyer. Tinggi Ancaman Produk Substitusi (Threat of Subtitute Product. Sedang Tinggi Tinggi Sedang Persaingan Antar Perusahaan (Rivalry of Competitor. Tinggi Sedang Tinggi Sumber: Hasil Analisis, 2025 Berdasarkan analisis kelima komponen PorterAos Five Force dapat dikatakan bahwa objek studi utama Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil berada dalam lingkungan persaingan yang tinggi, tetapi masih memiliki ruang untuk bertahan dan berkembang. Daya tawar menawar pembeli yang tinggi dan ancaman substitusi yang kuat, menciptakan tekanan kompetitif yang signifikan. Di sisi lain, posisi Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil ini memiliki kondisi yang sulit direplikasi oleh pesaing lainnya yaitu memiliki keunikan budaya dan arsitektur yang memberikan pengalaman tersendiri. Cisumdawu turut memberikan kemudahan bagi wisatawan dari luar Kabupaten Sumedang untuk sampai ke pusat kota dan dilanjutkan ke lokasi wisata. Keunggulan utama yang tidak dimiliki oleh objek wisata lain yaitu nilai budaya dan arsitektur memberikan keunikan wisata buatan. Namun destinasi wisata ini juga menghadapi tantangan signifikan karena masih terbatasnya aktivitas wisata yang tersedia, bahkan pemandangan dan titik swafoto tanpa ada aktivitas wisata lainnya. Berbagai kondisi tersebut menjadi fokus mengeksplorasi karakteristik serta merumuskan strategi pengembangan objek wisata dengan pendekatan Kekuatan tawar pemasok yang cenderung rendah memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan operasional, tetapi tidak cukup mengimbangi tantangan utama dengan adanya persaingan yang cukup tinggi. Destinasi wisata ini tidak hanya bersaingan dengan objek wisata sejenis, tetapi ada berbagai alternatif hiburan lainnya yang lebih menarik dan terjangkau aksesibilitasnya. Oleh karena itu, keunggulan kompetitif Menara Kujang dan Masjid Al Kamil harus dibangun dengan memberikan sentuhan diferensiasi berbasis nilai budaya, sejarah, dan pengalaman spiritual yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain. Salah satu strategi yang dapat dilakukan yaitu membangun kemitraan strategis antara Pemerintah Kabupaten Sumedang dengan para pelaku usaha yang bergerak di bidang akomodasi, transportasi, dan kuliner. Kemitraan ini bertujuan untuk membentuk ekosistem wisata yang terpadu sehingga dapat menjadi nilai tambah tersendiri untuk meningkatkan posisi tawar destinasi wisata air. Analisis sentimen mengungkapkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan karena Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil memiliki tanggapan negatif tertinggi dibandingkan dua destinasi pesaing. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara potensi daya tarik dan pengalaman yang diterima oleh Sementara itu. Situ Cipanten di Kabupaten Majalengka lebih berhasil membangun citra positif melalui wahana dan aktivitas yang lengkap, serta Situ Cilembang di Kabupaten Sumedang dianggap lebih netral karena daya tarik wisata alamnya. Menimbang hal ini, maka Pemerintah Kabupaten Sumedang perlu segera melakukan perbaikan terhadap pelayanan dasar seperti kebersihan, fasilitas umum, dan kejelasan informasi sebagai langkah awal untuk meningkatkan sentimen positif wisatawan Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil. KESIMPULAN Menurut hasil analisis dapat disimpulkan bahwa Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil memiliki dasar pelayanan yang memadai seperti keberadaan parkir, toilet, masjid, serta aksesibilitas yang didukung multimoda termasuk bis. Selain itu, akses jalan tol Apabila dari perspektif SWOT dan PorterAos Five Force. Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil berada dalam posisi yang kompleks karena memiliki kekuatan internal berupa keunikan budaya dan arsitektur serta dukungan kelembagaan dari Pemerintah Kabupaten. Hatami. Strategi Pengembangan Objek Wisata A Creative Research Journal Vol. 12 No. 01 Juni . 31-40 tetapi di sisi lain dibebani kelemahan seperti minimnya aktivitas dan akomodasi yang berpotensi menurunkan citra wisata jika tidak ditangani segera. Kelemahan tersebut semakin diperburuk dengan kondisi ancaman yang serius dari objek wisata pesaing karena memiliki aktivitas dan akomodasi yang lebih baik. Analisis PorterAos Five Force mengonfirmasi bahwa daya tawar pembeli dan ancaman substitusi berada dalam posisi yang tinggi yang mengakibatkan Menara Kujang Sapasang dan Masjid Al Kamil berada dalam tekanan kompetitif yang mebutuhkan strategi diferensiasi yang jelas. perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Badung. Bali: Intelektual Manifes Media. Ruhyana. , & Ferdiansyah. Pengaruh Jalan Tol Cisumdawu pada Kunjungan Wisata di Kabupaten Sumedang. Prosiding Seminar Nasional WJES. Tonisa. Strategi Promosi Objek Wisata Waduk Jatigede Oleh Dinas Pariwisata. Kebudayaan. Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Sumedang Untuk Menarik Wisatawan. Bandung: Program Pasca Sarjana. Universitas Pasundan. DAFTAR PUSTAKA