Journal for Quality in Women's Health Vol. 4 No. 2 September 2021 | pp. 138 Ae 145 p-ISSN: 2615-6660 | e-ISSN: 2615-6644 DOI: 10. 30994/jqwh. Analisis Faktor yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Pada Ibu Bersalin Sectio Caesarea Pada Era Pandemi di Rumah Sakit Restu Kasih Jakarta Tahun 2021 Risky Rian Pratiwi. Anni Suciawati*. Rukmaini Universitas Nasional. Jakarta. Indonesia Corresponding author: Anni Suciawati . nnisuciawati@civitas. Received: May 17 2021. Accepted: June 23 2021. Published: September 1 2021 ABSTRAK Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi dalam kehamilan yang memiliki kriteria dimana usia kehamilan > 20 minggu, yang ditandai adanya bengkak pada kaki, serta nilai protein urine positif yang disebabkan oleh berbagai faktor. Hasil studi pendahuluan diketahui bahwa rata-rata ibu hamil yang mengalami preeklampsia memiliki pola makan yang kurang sehat dan tingkat stres yang tidak normal. Mengetahui hubungan pola makan dan tingkat stres dengan preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021. Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan case control. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 96 orang yang terdiri dari 48 sampel kelompok preeklampsia dan 48 sampel tidak mengalami preeklampsia dengan teknik accidental sampling. Analisis data bivariat menggunakan Uji statistik Chi Square untuk mengetahui hubungan variabel. Ibu hamil dengan pola makan yang sehat 53,1%, dan tingkat stres dengan kategori ringan 58,3%. Analisis bivariat diketahui bahwa terdapat hubungan antara pola makan . = 0,. dan tingkat stres . = 0,. dengan preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dan tingkat stress dengan preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 dengan nilai p-value < 0,05. Diharapkan dalam menjalankan program pelayanan antenatal care dapat langsung melaksanakan pembuatan jadwal penyuluhan cara menghitung zat makanan yang dikonsumsi oleh ibu dan jumlah kebutuhan zat gizi yang tepat ketika ibu hamil serta penanggulangan stres pada ibu hamil sebagai upaya mencegah terjadinya preeklampsia Kata Kunci: Pola Makan. Tingkat Stres. Preeklampsia This is an open-acces article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. International License. PENDAHULUAN Preeklampsia merupakan sindrom hipertensi kehamilan yang memiliki kriteria dimana usia kehamilan diatas 20 minggu, ibu mengalami bengkak pada kaki, serta nilai protein urine > positif 2 yang disebabkan oleh berbagai multifaktor pada ibu hamil, yang berhubungan secara signifikan terhadap angka kematian dan kesakitan maternal dan perinatal (Fitri Yuniarti. Wahyu Wijayati, 2. Berdasarkan data WHO (World Health Organizatio. pada tahun 2017 komplikasi utama penyebab hampir 75% dari semua kematian ibu adalah perdarahan hebat. Website: http://jqwh. org | Email: publikasistrada@gmail. Analisis Faktor yang Berhubungan DenganA. infeksi, hipertensi dalam kehamilan . re-eklampsia/eklampsi. , komplikasi pada persalinan, aborsi yang tidak aman dan infeksi. malaria atau terkait dengan kondisi kronis seperti penyakit jantung atau diabetes (World Health Organization (WHO). , 2. Terdapat faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko hipertensi antara lain karakterisitik individu . sia, jenis kelamin, riwayat penyakit hipertens. , pola makan . ebiasaan konsumsi lemak, natrium dan kaliu. , serta gaya hidup . ebiasaan merokok, konsumsi alkohol, stress, konsumsi kopi, dan juga aktivitas fisi. (Ismah Sistikawati et al. , 2. Preeklampsia bisa dicegah dengan melakukan perilaku hidup sehat, untuk menjaga nilai tekanan darah tetap dalam kondisi normal. merokok, dan manajemen stres. Pemenuhan peningkatan asupan makanan yang seimbang sangat berperan penting terhadap kesehatan ibu dan janin kebiasaan hidup tidak sehat dengan kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung tinggi lemak, tinggi garam dan sedikit protein dapat memicu terjadinya kenaikan tekanan darah yang menyebabkan preeklampsia (Sutiati Bardja, 2. Fenomena ini diperkuat dengan adanya penelitian yang dilakukan oleh (Nisa et al. , 2. yang berlokasi di Wilayah Kerja Puskesmas Indramayu, dimana pola makan tingkat kecukupan protein yang kurang merupakan faktor yang signifikan mempengaruhi preeklampsia pada ibu hamil. Tingkat kecukupan protein yang kurang memberikan presentasi preeklampsia pada ibu hamil yang lebih besar dibandingkan yang cukup dengan hasil statistik menunjukkan nilai p = 0,020 dan OR = 27,000 . % CI:1,1 positif 2 yang disebabkan oleh berbagai multifaktor pada ibu hamil, yang berhubungan secara signifikan terhadap angka kematian dan kesakitan maternal dan perinatal (Arti et al. , 2. Pola Makan Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Tabel. 2 Frekuensi Pola Makan Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Pola Makan Sehat Kurang sehat Jumlah Frekuensi Persentase Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil memiliki pola makan dengan kategori sehat yaitu sebanyak 51 orang . ,1%). Menurut (Saimin et al. , 2. Pola makan sehat merupakan pengaturan dalam mengonsumsi makanan yang selalu mempertimbangkan kandungan zat gizi nya. Diantaranya ibu hamil harus mengkonsumsi makanan yang mengandung protein minimal 70 gr/hari. Menurut (Putri, 2. Zat gizi adalah zat-zat makanan yang terkandung dalam suatu bahan makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Pola makan yang sehat selalu mengacu kepada gizi seimbang yaitu terpenuhinya semua zat gizi sesuai dengan kebutuhan dan seimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu hamil memiliki pola makan dengan kategori kurang sehat yaitu sebanyak 36 orang . ,0%) dan sisanya kategori sehat ada sebanyak 12 orang . ,0%). Peneliti berasumsi, banyaknya ibu hamil yang pola makannya kurang sehat akan membawa dampak negatif pada bayinya dimana akan membuat bayi lahir dengan berat badan yang rendah dan bayi akan mengalami tumbuh kembang yang sangat lambat. Terjadinya pola makan yang kurang sehat disebabkan karena ibu hamil mengkonsumsi makanan dengan asupan protein < 70 gr/hari, dimana dari hasil penelitian ditemukan ibu hamil yang mengkonsumsi makanan dengan asupan protein Ou 70 gr/hari sebagian besar pola makan ibu hamil kurang sehat. Asupan protein pada ibu hamil sangat penting karena berhubungan dengan kesehatan ibu dan janin dimana ibu dengan pola makan yang kurang sehat mudah terserang penyakit. Sementara ibu dengan mengkonsumsi asupan protein Ou 70 gr/hari dapat terhindar dari berbagai macam penyakit, hal ini berkaitan dengan pola makan ibu hamil. Biasanya ibu hamil dengan mengkonsumsi asupan protein > 70 gr/hari akan memiliki pola makan yang sehat karena selalu mengkonsumsi makanan dengan memperhatikan asupan zat gizinya yang terkandung didalamnya. Journal for Quality in Women's Health Analisis Faktor yang Berhubungan DenganA. Tingkat Stres Pada Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Tabel 3. Frekuensi Tingkat Stres Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Tingkat Stres Frekuensi Persentase Ringan Sedang Berat Jumlah Berdasakan hasil penelitian diketahui bahwa ibu hamil dalam penelitian ini mayoritas memiliki tingkat stres dengan kategori ringan yaitu ada sebanyak 56 orang . ,8%), kemudian ibu hamil dengan tingkat stres dengan kategori sedang ada sebanyak 30 orang . ,3%), dan ada 10 orang . ,4%) yang memiliki tingkat stres dengan kategori berat. Stres yang terjadi pada ibu hamil sangat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterlambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir jika stres ibu tidak tertangani dengan baik (Mandang. Gerce. , dan Marie, 2. Peneliti berasumsi, ibu hamil yang mengalami stres baik dengan kategori ringan, sedang maupun berat berhubungan dengan terjadinya preeklampsia, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian ibu hamil yang mengalami stres dengan kategori ringan sebagian besar tidak mengalami preeklampsia karena ibu mampu mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan baik dan tidak terlalu cemas terhadap kehamilan dan persalinannya. Sementara ibu hamil dengan stres kategori sedang dan berat sebagian besar mengalami preeklampsia karena ibu sangat cemas terhadap kehamilan dan persalinannya serta ibu kurang mampu mengatasi semua masalah yang dihadapinya. Hubungan Pola Makan dengan Preeklampsia pada Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Tabel 4. Hubungan Antara Pola Makan dengan Preeklampsia pada Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Preeklampsia Total Tidak Pola makan Preeklampsia p Value Preeklampsia Sehat Kurang sehat 0,000 Total Berdasarkan hasil tabel 4 di atas diketahui bahwa ibu hamil yang mengalami preeklampsia mayoritas memiliki pola makan kurang sehat yaitu sebanyak 36 orang . ,0%). Hasil penelitian dengan uji Chi Square menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,000 lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut berarti bahwa terdapat hubungan pola makan dengan preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021. Sehingga hipotesis pertama dalam penelitian ini diterima oleh penelitian empiris. Pola makan Sehat merupakan pengaturan dalam mengonsumsi makanan yang selalu mempertimbangkan kandungan zat gizi nya. Diantaranya ibu hamil harus mengkonsumsi makanan yang mengandung protein minimal 70 gr/hari (Saimin et al. , 2. Menurut (Putri, 2. Zat gizi adalah zat-zat makanan yang terkandung dalam suatu bahan makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Bagi ibu hamil memiliki pola makan yang sehat sangat Pola makan gizi seimbang selama masa daur kehidupan, akan tetap sehat selama hamil dan dapat mengoptimalkan potensi genetik anaknya. Bagi ibu hamil, pada dasarnya semua zat gizi memerlukan tambahan, namun yang sering kali menjadi kekurangan adalah Journal for Quality in Women's Health Analisis Faktor yang Berhubungan DenganA. energi protein dan beberapa moneral seperti zat besi dan kalsium. Kebutuhan energi untuk kehamilan yang normal dapat mencegah terjadinya resiko pada masa kehamilan. Solusi untuk makanan ibu hamil juga diperlukan agar kebutuhan gizi tetap terpenuhi dan bayi yang terlahir menjadi sehat (Festi, 2. (Fitri Yuniarti. Wahyu Wijayati, 2. menunjukkan ada hubungan kebiasaan pola makan dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Kendari tahun 2019 p value = 0,000 < = 0,05. Kebiasaan pola makan yang kurang baik memiliki risiko 5,4 kali lebih besar untuk menderita preeklampsia. Kebiasaan pola makan ibu hamil dengan konsumsi makan yaitu berdasarkan jenis bahan makanan yang terdiri dari makanan pokok, sumber protein, sayur, buah, dan berdasarkan frekuensi harian. Kebiasaan pola makan ibu hamil biasanya dapat dinilai dari jenis makanan yang dikonsumsinya. Salah satu kebiasaan hidup sehat adalah makan makanan yang mengandung sumber energi, karbohidrat, lemak, protein. Sedangkan kebiasaan hidup kurang sehat dengan kebiasaan mengonsumsi junk food yang dimana mengandung tinggi lemak, tinggi garam, dan sedikit protein yang merupakan faktor pemicu terjadinya preeklampsia. Peneliti berasumsi pola makan berhubungan dengan terjadinya preeklampsia, hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian ibu hamil dengan pola makan yang sehat sebagian besar tidak mengalami preeklampsia, sedangkan ibu hamil dengan pola makan yang kurang sehat mayoritas mengalami preeklampsia. Kondisi ini disebabkan ibu hamil yang pola makannya sehat akan dapat mencegah terjadinya preeklampsia karena ibu mengetahui manfaat dari pola makan dengan mengkonsumsi asupan protein Ou 70 gr/hari dan dampak yang terjadi jika ibu tidak mengatur pola makannya. Sementara ibu hamil dengan pola makan yang kurang sehat biasanya mengkonsumsi makanan dengan asupan protein < 70 gr/hari. Untuk itu perlu adanya intervensi atau penyuluhan pada ibu hamil dengan pola makan yang kurang sehat untuk mengubahnya ke pola makan yang sehat agar ibu bisa mencegah terjadinya Hubungan Tingkat Stres dengan Preeklampsia pada Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Tabel 4 Hubungan Antara Tingkat Stres dengan Terjadinya Preeklampsia pada Ibu Hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 Preeklampsia Total Tingkat Tidak Preeklampsia p Value Stres Preeklampsia Ringan Sedang 0,004 Berat Total Hasil pada tabel 5 di atas menunjukkan bahwa ibu hamil yang tidak mengalami preeklampsia mayoritas memiliki tingkat stres dengan kategori ringan yaitu sebanyak 35 orang . ,9%). Hasil penelitian dengan uji Chi Square menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,004 lebih kecil dari 0,05. Hal tersebut berarti bahwa terdapat hubungan antara tingkat stres dengan preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021. Dengan demikian hipotesis kedua dalam penelitian ini diterima oleh hasil penelitian empiris. Hasil penelitian (Basri et al. , 2. diperoleh hasil Chi-Square dengan probabilitas 0,000, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara kondisi stres dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil. Hal ini dapat disimpulkan karena kondisi Journal for Quality in Women's Health Analisis Faktor yang Berhubungan DenganA. stres meningkatkan saraf simpatis yang kemudian meningkatkan tekanan darah secara bertahap, artinya semakin berat kondisi stres semakin tinggi pula tekanan darahnya. Stres merupakan rasa takut dan cemas dari perasaan dan tubuh terhadap adanya perubahan dari Apabila ada sesuatu hal yang mengancam secara fisiologis kelenjar pituitary otak akan mengirimkan hormon kelenjar endokrin kedalam darah, hormon ini berfungsi untuk mengaktifkan hormon adrenalin dan hidrokosrtison, sehingga membuat tubuh dapat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi. Hasil penelitian selanjutnya dilakukan oleh (Astin et al. , 2. dalam penelitiannya ditemukan hasil pAevalue sebesar 0,000 artinya ada hubungan antara stres kehamilan dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil. Dengan hasil OR = 6,044 artinya ibu hamil yang mengalami stres kehamilan berpeluang 6,0 kali menderita hipertensi dibandingkan dengan ibu hamil yang tidak mengalami stres kehamilan. Hal ini disebabkan karena stres dapat meningkatkan tekanan darah untuk sementara waktu. Ketika takut, gugup, dan dikejar waktu tekanan darah biasanya meningkat. Tetapi dalam sebagian besar kasus mulai santai dan tekanan darah kembali turun lagi. Stres dapat terjadi apabila ibu hamil berada dalam kondisi tegang, perasaan tertekan, bersedih, ketakutan dan merasa bersalah. Kondisi ini akan merangsang ginjal untuk menghasilkan hormon adrenalin yang akan memacu jantung untuk memompa darah lebih cepat dan kuat sehingga tekanan darah menjadi meningkat. Peneliti berasumsi tingkat stres berhubungan dengan terjadinya preeklampsia hal ini dapat dilihat dari hasil ibu hamil yang mengalami stres dengan kategori ringan sebagian besar tidak mengalami preeklampsia, berbeda dengan ibu hamil yang mengalami stres dengan kategori sedang dan berat sebagian besar mengalami preeklampsia. Hal ini disebabkan oleh karena ibu hamil tidak merasa gugup, gelisah, cemas, dan ibu mampu mengatasi semua masalah yang dihadapinya. Ibu hamil yang mengalami stres dengan kategori ringan mampu mengatasi semua masalah yang dihadapi selama kehamilan maka ibu dapat mencegah terjadinya preeklampsia. KESIMPULAN Prevalensi ibu hamil dengan preeklampsia di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 yaitu sebanyak 16,1%. Sebagian besar ibu hamil yang memiliki pola makan dengan kategori kurang sehat sebesar 46,9%. Dan mayoritas ibu hamil yang memiliki tingkat stres dengan kategori ringan sebesar 58,3%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola makan dengan preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 dengan nilai p-value 0,000. Dan Terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres dengan preeklampsia pada ibu hamil di Puskesmas Cikampek Tahun 2021 dengan nilai p-value 0,004. DAFTAR PUSTAKA