Original Research Paper Tradisi Pembuidau Dan Kandeko Di Kampung Mambui Distrik Urifaisey. Kabupaten Waropen. Papua Dalam Pelaksanaan Etnokonservasi Tumbuhan Mangrove Pembuidau and Kandeko Traditions in Mambui Village. Urifaisey District. Waropen Regency. Papua in the Implementation of Ethnoconservation of Mangrove Plants Puguh Sujarta1, *. Euniche R. Ramandey1. Lisye I. Zebua1. Henderina J. Keiluhu1. Evie L. Warikar1. Maria N. Morin1 Jurusan Biologi. FMIPA Universitas Cenderawasih. Jayapura Papua, 99351. Indonesia. *Corresponding Author: puguh. sujarta@fmipa. Abstrak: Wilayah pesisir Papua seperti di Kabupaten Waropen memiliki keanekaragaman hayati dan kearifan lokal yang unik, terutama dalam pengelolaan sumber daya alam wilayah pesisir dan laut. Namun, tradisi lokal yang berkaitan dengan pemanfaatan dan pelestarian ekosistem mangrove belum banyak dieksplorasi secara Tujuan penelitian: pertama, mendeskripsikan secara detail mengenai tradisi Pembuidau dan Kandeko yang diterapkan oleh Masyarakat Mambui dalam pengelolaan ekosistem mangrove. kedua, mengidentifiksi aspek etnokonservasi jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan masyarakat. Penelitian dilaksanakan di Kampung Mambui. Distrik Urifaisey Kabupaten Waropen pada bulan Desember 2022. Metode penelitian ini menggunakan desain deskriptif kualitatif. Sampel dipilih secara purposive, yaitu 30 orang responden yang memiliki pengetahuan mendalam tentang tradisi Pembuidau dan Kandeko. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan pedoman wawancara, observasi lapangan dan dokumentasi berupa foto dan catatan lapangan. Prosedur analisis data dilakukan untuk mengidentifikasi pemanfaatan tumbuhan mangrove dan praktik tradisional yang mendukung pelestatrian ekosisitem tersebut. Hasil penelitian menunjukkan Tradisi Pembuidau dan Kandeko merupakan kearifan lokal masyarakat Mambui meliputi pengelolaan ekosistem mangrove berupa pembersihan tempat dan penanaman tumbuhan mangrove. Terdapat tujuh jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan masyarakat, mencakup bagian daun, batang, akar dan buah. Kesimpulan penelitian ini, tradisi Pembuidau dan Kandeko merupakan bentuk kearifan lokal Masyarakat dalam upaya etnokonservasi tumbuhan mangrove. Rekomendasinya perlu pelestarian tradisi ini untuk menjaga ekosistem tumbuhan mangrove. Kata kunci: Pembuidau. Kandeko. Papua. Etnokonservasi Abstract: Coastal areas of Papua such as in Waropen Regency have unique biodiversity and local wisdom, especially in the management of natural resources of coastal and marine areas. However, local traditions related to the utilization and conservation of mangrove ecosystems have not been widely explored scientifically. The research objectives: first, to describe in detail the Pembuidau and Kandeko traditions applied by the Mambui community in mangrove ecosystem management. second, to identify the ethnoconservation aspects of mangrove plant species utilized by the community. This research method uses a qualitative descriptive design. The research was conducted in Mambui Village. Urifaisey District. Waropen Regency in December 2022. The sample was purposively selected, namely 30 respondents who have in-depth knowledge of the Pembuidau and Kandeko Data were collected through interviews using interview guidelines, field observations and documentation in the form of photographs and field notes. Data analysis procedures were carried out to identify the utilization of mangrove plants and traditional practices that support the preservation of the ecosystem. The results showed that the Pembuidau and Kandeko Traditions are local wisdom of the Mambui community. A 2024 Sujarta . This article is open access Sujarta, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 128 Ae 134 DOI: 10. 22146/bib. including mangrove ecosystem management in the form of cleaning the place and planting mangrove plants. There are seven types of mangrove plants utilized by the community, including leaves, stems, roots and fruit. The conclusion of this research is that the Pembuidau and Kandeko traditions are a form of local wisdom in the ethnoconservation of mangrove plants. The recommendation is to preserve this tradition to maintain the mangrove plant ecosystem. Keywords: Pembuidau. Kandeko. Papua. Ethnoconservation Dikumpulkan: 15 Oktober 2024 Direvisi: 3 Desember 2024 Diterima: 10 Desember 2024 Dipublikasi:31 Desember 2024 Pendahuluan Papua salah satu bagian kepulauan Indonesia yang memiliki sumber daya alam, keanekaragaman hayati dan kearifan lokal . ntuk mengelola sumberdaya alam di wilayah pesisir dan lau. (Kartikasari et al, 2012. Indrawan et al. Beberapa contoh kearifan lokal Papua seperti Sasisen atau Sisen adalah istilah/kata dalam bahasa daerah suku Biak yang mengandung arti suatu larangan pengambilan flora dan fauna di daerah lindung . utan, kebun, dusun dan lau. pada periode tertentu. Penduduk di suku Biak Numfor dan Raja Ampat telah lama Sasisen melindungi zona-zona inti ekosistem pesisir dan Tujuan dilakukannya Sasisen adalah melestarikan laut, meningkatkan hasil tangkapan dan penghasilan ekonomi nelayan lokal. Tiyaitiki merupakan pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh Masyarakat Adat Suku Tepra. Defonsero Utara Teluk Tanah Merah Depapre Kabupaten Jayapura sebagai suatu Sistem Konservasi yang berbasis kearifan lokal (Sujarta. Sujarta et al. , 2020. Sujarta et al. , 2. Abanfan Matilon di Pulau Liki Kabupaten Sarmi, etnokonservasi biota laut berupa hewan bia (Gastropod. (Mailissa et al. , 2021. Sujarta et ,2022. Keiluhu et al. , 2. Ekosistem ekosistem yang berada di wilayah pesisir yang sering mendapatkan tekanan secara alami . asang suru. dan tekanan oleh berbagai aktifitas manusia (Alongi, 2022. Bhagarathi & DaSilva, 2. Ekosistem ini berperan penting terhadap lingkungan yaitu fungsi fisik, fungsi biologi, fungsi ekonomi dan fungsi kimiawi. Pentingnya fungsi ini sering tidak disadari oleh masyarakat sekitar pantai, pemanfaatan mangrove yang kurang memperhatikan aspek Pemanfaatan hutan mangrove yang berhubungan langsung dengan perekonomian masyarakat salah satunya adalah hasil tambak payau (Jayadi et al. , 2018. Poedjirahajoe, 2019. Purnawan et al. , 2. Kampung Mambui yang berada di Distrik Urifaisey. Kabupaten Waropen Provinsi Papua ini memiliki ekosistem mangrove yang cukup Masyarakat Kampung Mambui mempunyai tradisi pengelolaan ekosistem tumbuhan mangrove berupa kearifan lokal yaitu tradisi Pembuidau dan Kandeko. Namun masih minimnya kajian spesifik dan belum terdokumentasikan mengenai tradisi lokal Pembuidau dan Kandeko ini, merupakan salah satu hal menarik untuk diteliti. Penelitian ini memberikan pendekatan yang menitikberatkan pada etnokonservasi tumbuhan mangrove. Tujuan penelitian meliputi: . mendeskripsikan secara detail mengenai tradisi Pembuidau dan Kandeko yang diterapkan oleh Masyarakat Mambui dalam pengelolaan ekosistem mangrove. mengidentifiksi aspek etnokonservasi jenis tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan masyarakat. Bahan dan Metode Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kampung Mambui. Distrik Urifaisey Kabupaten Waropen pada bulan Desember 2022. Kampung Mambui secara geografis terletak pada koordinat 00A. 050AoLS dan 136A. 090Ao BT dengan ketinggian 76 m dpl (Gambar . Luas wilayah Kampung Mambui mencapai 0,08 Km2 serta memiliki topografi dataran rendah/pesisir. A 2024 Sujarta . This article is open access Sujarta, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 128 Ae 134 DOI: 10. 22146/bib. mangrove secara ilmiah . Mendokumentasi semua kegiatan penelitian yang dilakukan . Analisis data Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian di Kampung Mambui Distrik Urifaisey Kabupaten Waropen Alat dan Bahan penelitian Alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi parang, gunting tanaman, alat tulis, buku lapangan. GPS (Global Positioning Syste. , dan Bahan yang digunakan adalah formulir kuisioner dan tumbuhan Mangrove yang ada di Kawasan ekosistem mangrove Kampung Mambui Distrik Urifaisey Kabupaten Waropen. Metode penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang menggambarkan tradisi lokal Pembuidau dan Kandeko, serta keanekaragaman tumbuhan mangrove yang dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Mambui. Populasi: Seluruh masyarakat Kampung Mambui yang terlibat atau memahami praktik tradisi Pembuidau dan Kandeko. Sampel: Dipilih secara purposive sampling sebanyak 30 mendalam mengenai tradisi lokal dan pemanfaatan tumbuhan mangrove. Teknik pengumpulan data dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk menggali informasi tentang tradisi, pengelolaan, dan pemanfaatan Observasi digunakan untuk mendapat data jenis mangrove dan praktik pengelolaannya. Dokumentasi menggunakan Kamera dan buku catatan untuk mencatat visual dan data lapangan. Prosedur kerja yang dilakukan dalam penelitian: . Menentukan lokasi penelitian dan responden . Melakukan wawancara dengan para responden dan mencatat mengenai informasi pengelolaan dan pemanfaatan dari tumbuhan mangrove . Melakukan observasi ke lapangan untuk mengidentifikasi tumbuhan Hasil dan Pembahasan Gambaran umum Kampung Mambui Kampung Mambui merupakan salah satu kampung bagian dari 12 kampung (Definiti. yang ada di wilayah Distrik Urifasey Kabupaten Waropen. Secara topografi letak Kampung Mambui sebelah utara berbatasan dengan laut . erupakan Tanah Adat Sangge. sebelah timur Kampung Urifaisey i/Paradoi dan sebelah barat berbatasan dengan Kampung persiapan Sanoi . ilayah pemekaran dari Kampung Ronggaiw. Jumlah penduduk Kampung Mambui Distrik Urifasey Kabupaten Waropen Papua berjumlah 822 jiwa . erdiri dari 413 laki-laki dan 409 perempuan dengan jumlah keluarga (KK) adalah 232 keluarga. Sebagian besar penduduk di Kampung Mambui berpenghasilan dari usaha pertanian . oltikultura dan pertania. dan nelayan tangkap. Pengetahuan Tradisi Pembuidau dan Kandeko Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan: . perlindungan sistem penyangga kehidupan. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya (Republik Indonesia, 1. Kearifan lokal merupakan suatu bentuk kearifan lingkungan yang ada dalam kehidupan bermasyarakat di suatu tempat dan merupakan warisan nenek moyang dalam tata nilai kehidupan yang menyatu dalam bentuk religi, budaya, dan adat-istiadat. Secara naratif masyarakat lokal merupakan masyarakat yang menempati wilayah tertentu, masyarakat asli adalah suatu komunitas masyarakat yang turun temurun tinggal di suatu daerah dan memiliki ikatan sosio-kultural dengan lingkungannya. Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang lebih banyak dikuasai oleh adat istiadat yang A 2024 Sujarta . This article is open access Sujarta, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 128 Ae 134 DOI: 10. 22146/bib. lama, sedangkan pengetahuan tradisional adalah seluruh bentuk pengetahuan, inovasi dan kegiatan budaya dari masyarakat asli maupun masyarakat lokal yang meliputi cara hidup dan teknologi tradisional yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari secara turun temurun (Zebua, 2017. Zebua dan Waluyo, 2016. Yuliani & Aprilina, 2020. Keiluhu et al. , 2. Hasil wawancara kepada beberapa tokoh . Masyarakat Kampung Mambui menyatakan bahwa Masyarakat Kampung Mambui mempunyai kearifan lokal. Tradisi Masyarakat tersebut dikenal dengan istilah Tradisi Pembuidau dan Kandeko . ahasa lokal Masyarakat kampung Mambu. Selanjutnya, menurut tokoh Masyarakat mengatakan bahwa tujuan tradisi ini dilaksanakan untuk menjaga hutan mangrove untuk tetap lestari dan dapat bermanfaat bagi kehidupan Masyarakat sehariharinya. Menurut UU RI nomor 5 Tahun 1990 yang dilakukan Masyarakat dikategorikan dalam kegiatan konservasi sumberdaya alam dan Hubungan antara masyarakat dan ekosistem sekitarnya diekspresikan melalui pemanfataan berbagai produk hutan untuk berbagai alasan pemanfaatan. Tokoh Masyarakat juga menambahkan bahwa Tradisi Pembuidau dan Kandeko adalah kegiatan tradisi Masyarakat Mambui yang diawali dengan pembersihan tempat di wilayah perairan yang ditanami bibit tumbuhan mangrove . radisi Pembuida. , kemudian apabila sudah selesai kegiatan pembersihan lahan wilayah perairan yang siap untuk ditanami kegiatan selanjutnya adalah penanaman tanaman mangrove kembali . radisi Kandek. Jadi secara keseluruhan Tradisi Pembuidau dan Kandeko dapat diartikan sebagai kegiatan membersihkan tempat atau lokasi hutan mangrove dan menanam Menurut Poedjirahajoe et al. kegiatan yang dilakukan Masyarakat ini dapat dikategorikan merupakan kegiatan persemaian mangrove permanen, yaitu suatu persemaian yang dibuat menetap pada suatu lokasi dengan organisasi yang mapan dan personal pelaksana yang tetap. Tahapan tradisi Pembuidau dan Kandeko adalah sebagai berikut: Mengumpulkan Masyarakat yang dilakukan oleh kepala kampung untuk mengadakan musyawarah dalam pelaksanaan tradisi Pembuidau dan Kandeko. Pembentukan kelompok kecil dengan beranggotakan 5 orang dan memilih ketua Pembagian wilayah kerja berdasarkan kelompok-kelompok kecil yang sudah Setiap kelompok mulai menyiapkan tiang penyangga sebagai pelekat berdirinya bibit tumbuhan mangrove dan membuat pagar pelindung dari bambu. Dimulai dengan tradisi Pembuidau yaitu pembersihan tempat yang akan digunakan untuk menanam tumbuhan mangrove. Peletakkan tiang penyangga . inggi 1 mete. di tempat yang telah dibersihkan. Dilaksanakan tradisi Kandeko yaitu tradisi penanaman pohon tumbuhan mangrove dan diikat pada tiang penyangga. Kegiatan terakhir adalah pemasangan pagar pelindung dari bambu yang bertujuan untuk mengurangi tekanan gelombang dan arus serta agar tumbuhan mangrove yang diikat di tiang penyangga tidak mudah lepas. Rangkaian kegiatan tradisi Pembuidau dan Kandeko dilaksanakan dalam kurun waktu yang tidak ditentukan tergantung dari kondisi ekosistem hutan mangrove karena rusak atau digunakan untuk kebutuhan masyarakat sehariharinya. Menurut Asmuruf et al. kearifan lokal suatu suku merupakan bentuk kearifan lokal yang tidak berwujud seperti petuah yang disampaikan secara verbal dan turun temurun. Pengetahuan Etnokonservasi Tumbuhan Mangrove Konservasi sumber daya alam hayati menurut UU RI No. 5 1990 adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap keanekaragaman dan nilainya. Etnokonservasi dapat diterjemahkan sebagai konservasi berbasis masyarakat yang bersumber pada ide-ide masyarakat lokal dalam melindungi lingkungan hidup. Etnokonservasi laut yang berarti kegiatan konservasi berbasis kearifan lokal yang dilaksanakan di laut (Keiluhu et al. , 2. A 2024 Sujarta . This article is open access Sujarta, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 128 Ae 134 DOI: 10. 22146/bib. Berdasarkan hasil survei sebagian besar tumbuhan mangrove yang dijumpai di Kampung Mambui adalah dari famili Rhizophoraceae. Rhizophoraceae dijumpai dominan, hal ini diduga karena perairannya terdiri dari substrat berupa tanah berlumpur sehingga dapat menunjang keberadaan dari jenis-jenis dari Rhizophoraceae. Selain Rhizophoraceae, merupakan salah satu jenis tumbuhan mangrove yang dominan dalam suatu kawasan hutan mangrove karena mampu Berdasarkan Kusumadewi & Idrus . bahwa jenis mangrove dari famili Rhizophoraceae ini mempunyai sifat adaptasi yang kuat terhadap lingkungan, memiliki akar tunjang yang cocok dengan karakteristik perairan sekitarnya, tidak mudah terpengaruh perubahan iklim yang ekstrim. Hasil survei dan wawancara kepada Masyarakat Kampung Mambui pemanfaatan tumbuhan mangrove menunjukkan bahwa tumbuhan mangrove banyak digunakan sebagai bahan pangan, obat-obatan, pakan biota perairan, kebutuhan mendirikan rumah dan kayu Secara bagian-bagian tumbuhan mangrove yang digunakan oleh Masyarakat meliputi akar, batang, daun, bunga, dan buah. Bagian tumbuhan berupa biji tidak digunakan oleh Masyarakat karena mau digunakan sebagai bibit untuk tumbuhkan menjadi tumbuhan mangrove kembali. Pertanyaan menunjukkan sebagian besar masyarakat mampu menyebutkan jenis-jenis mangrove yang ada di Hutan mangrove. Jenis-jenis mangrove yang diketahui Masyarakat ada 6 jenis dengan sebutan lokal diantaranya Wipau (Sog. Tutufa . ayu minya. Mangrove Merah. Mange-mange (Apiap. Tancang. Bakau minyak . akau laki-lak. (Tabel . Hal ini membuktikan bahwa Masyarakat mempunyai pengetahuan tentang jenis-jenis tumbuhan mangrove. Selain itu Masyarakat mengatakan ada 4 manfaat tumbuhan mangrove yaitu bahan pangan, konstruksi bangunan, pakan biota laut, obatobatan, dan kayu bakar Djamaluddin . mengelompokkan Tumbuhan mangrove secara umum sebagai sumber pangan, bahan konstruksi bangunan, dan obat-obatan tradisional. Gambar 2. Tombelo/Bactronophorus sp. hidup pada batang tumbuhan Masyarakat Kampung Mambui memanfaatkan jenis tumbuhan mangrove sebagai bahan pangan yaitu jenis Ceriops tagal . si batang tumbuhan mangrove sebagai bahan makanan:tombelo/Bactronophorus sp. ) (Gambar Ada 2 jenis tumbuhan mangrove yang bermanfaat sebagai pengawet makan dan minuman yaitu Kandelia candel dan Bruguiera gymnorrhisa L. Pendapat Arobaya dan Pattiselanno Bruguiera gymnorhiza dimanfaatkan oleh suku Biak yang memanfaatkan patinya sebagai sumber karbohidrat, masyarakat pesisir Teluk Wondama mengkonsumsi buah matang Bruguiera sp. Jenis mangrove lainnya seperti Avicennia alba. Avicennia lanata. Nypa fruticans dan Sonneratia caseolaris yang dikonsumsi langsung atau direbus/dibakar dengan kelapa kemudian dikonsumsi oleh suku Inanwatan di Sorong. Masyarakat Kampung Mambui memanfaatkan jenis tumbuhan mangrove sebagai konstruksi bangunan yaitu jenis Rhizopora apiculate . ntuk tiang banguna. dan Rhizopora mangle L. embuatan lem perah. Beda halnya pendapat Arobaya dan Pattiselanno . menyebutkan batang kayu sebagai bahan konstruksi, dahan dan ranting untuk kayu bakar. Bagi kelompok etnik Biak, bagian batang, dahan dan ranting Rhizophora apiculata selain untuk kayu bakar juga digunakan sebagai bahan Hal yang sama juga berlaku bagi jenis Sonneratia alba dan Ceriops tagal, batang yang besar untuk membangun rumah, pagar atau A 2024 Sujarta . This article is open access Sujarta, dkk. Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 128 Ae 134 DOI: 10. 22146/bib. bangunan lainnya sedangkan dahan dan ranting dimanfaatkan sebagai sumber kayu bakar. Bagi suku Inanwatan di Sorong bahwa bagian batang Avicennia lanata digunakan untuk membuat badan perahu. Selanjutnya dijelaskan bahwa beberapa jenis mangrove digunakan sebagai bahan konstruksi antara lain batang Ceriops decandra. Ceriops tagal dan Rhizophora mucronata digunakan sebagai tiang pagar juga digunakan untuk membuat dinding rumah dan bahan pembuat perahu, sedangkan daun Nypa fruticans dianyam dan dibuat atap. Masyarakat Kampung Mambui memanfaatkan jenis tumbuhan mangrove sebagai obat-obatan tradisional yaitu jenis Avicenia geminans L. dalam bentuk sebagai obat penyembuh luka. Padahal menurut Arobaya dan Pattiselanno . menyebutkan Sonneratia alba digunakan sebagai obat, dimana kulitnya digerus dan direbus dan air rebusannya diminum untuk mengontrol kehamilan dan membantu dalam persalinan kelompok etnik. Jenis lain yang dimanfaatkan oleh suku Biak yaitu daun Rhizophora stylosa yang berada di atas permukaan air dipatahkan dan digunakan untuk membantu anak kecil pada saat mulai belajar. Sorong misalnya, kelompok etnik Inanwatan menggunakan dua jenis mangrove yaitu tiap-tiap sadapan buah Nypa fruticans dan akar muda Rhizophora apiculata dimanfaatkan sebagai bahan pencampur minuman dan buah Rhizophora mucronata sebagai obat diare. Tabel 1. Jenis Mangrove yang Ditemukan di Lokasi Penelitian No. Famili Kandelia Jenis Ceriops Rhizophoraceae Bruguiera Rhizopora Rhizopora mangle L. Verbenaceae Avicenia germinans L. Nama Lokal Wipau (Sog. Tutufa . ayu Tancang Bakau . akau laki-lak. Mangrove Merah Mangemange (Api-ap. Kesimpulan Tradisi Pembuidau dan Kandeko merupakan kearifan lokal masyarakat Mambui meliputi pengelolaan ekosistem mangrove berupa pembersihan tempat dan penanaman tumbuhan mangrove. Etnokonservasi tumbuhan mangrove dalam rangkaian pemanfaatan oleh masyarakat Ucapan terima kasih Terimakasih kepada tim peneliti dan kepala Kampung Mambui yang memberikan ijin Referensi