1515 JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Analisis Perbedaan Model Belajar Peserta Didik Asrama dan Non-Asrama di Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa Abd Gani1. Nur Immawati Amaliyah2 Universitas Muhammadiyah Makassar. Indonesia E-mail: abdgani@unismuh. Immaamaliyah@gmail. Article History: Received: 03 Agustus 2025 Revised: 20 Agustus 2025 Accepted: 23 Agustus 2025 Keywords: Learning Model. Learning Outcomes. Dormitory. Non-Dormitory. Islamic Boarding School Abstract: Students in Islamic boarding schools have different learning environments, either living in dormitories or outside, which can influence their learning models and outcomes. This study aims to examine the differences in learning models and learning outcomes between dormitory and nondormitory students at Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa. The research employed a qualitative method with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings indicate that both groups apply similar learning models to those in general schools. however, dormitory students receive additional lessons through extracurricular activities outside regular school hours. Overall, both groups achieve good and satisfactory learning outcomes, but dormitory students excel in memorization and additional religious subjects. These findings imply the need for equitable learning strategies for all students, as well as specific support for subjects perceived as difficult, such as mathematics. English, and memorization. PENDAHULUAN Belajar merupakan proses penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, bahkan berlangsung sejak lahir hingga akhir hayat. Dalam perspektif pendidikan Islam, aktivitas belajar memiliki kedudukan istimewa sebagaimana firman Allah dalam QS. Thaha ayat 114 yang mengajarkan doa AuRabbi zidni AoilmaAy (Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahua. (Kementerian Agama RI, 2. Proses belajar menjadi salah satu indikator keberhasilan pendidikan karena memengaruhi penguasaan pengetahuan, pembentukan karakter, serta keterampilan hidup peserta didik. Lingkungan belajar, baik faktor internal seperti motivasi dan kesehatan, maupun faktor eksternal seperti keluarga, sekolah, dan masyarakat, sangat memengaruhi capaian hasil belajar (Dalyono, 2. Salah satu bentuk lingkungan belajar yang khas di Indonesia adalah pondok pesantren, yang mengintegrasikan pendidikan formal dan pendidikan agama dengan pembinaan Dalam sistem ini, terdapat dua kelompok santri: santri yang tinggal di asrama dan santri yang tinggal di luar asrama . on-asram. Perbedaan tempat tinggal ini berpotensi memengaruhi model belajar dan hasil belajar, mengingat santri asrama umumnya mendapatkan pembelajaran tambahan di luar jam sekolah, sedangkan santri non-asrama mengikuti pembelajaran formal saja. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa memiliki karakteristik unik karena selain sebagai lembaga pendidikan Islam, juga berfungsi sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang memberikan fasilitas penuh kepada santri yatim, yatim piatu, dan dhuafa. Keunikan ini menjadikan pesantren tersebut sebagai lingkungan belajar yang menarik untuk diteliti, khususnya dalam melihat perbedaan model belajar antara santri asrama dan non-asrama. Penelitian terdahulu menunjukkan hasil yang beragam. Mukarromah . dan Caswa . menyimpulkan tidak ada perbedaan signifikan hasil belajar antara siswa asrama dan nonasrama. Namun, penelitian lain (Ratna Indriyani, 2. menemukan bahwa siswa asrama cenderung lebih unggul dalam hafalan dan materi agama tambahan. Perbedaan temuan ini menimbulkan pertanyaan: Bagaimana perbedaan model belajar peserta didik asrama dan non-asrama di Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa? Bagaimana perbedaan hasil belajar kedua kelompok tersebut? Faktor apa saja yang mendukung dan menghambat proses belajar mereka? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi (Syamsuddin & Damaianti, 2. Analisis data mengacu pada teori hasil belajar (Sudjana, 2009. Hamalik, 2. yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta teori lingkungan belajar yang menekankan pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap capaian belajar. Kesenjangan penelitian . esearch ga. terletak pada minimnya kajian yang membedah perbedaan model belajar di pesantren yang memiliki fungsi ganda, yaitu pendidikan formal dan pembinaan sosial. Oleh karena itu, penelitian ini menawarkan kebaruan dengan menganalisis perbedaan model belajar santri asrama dan non-asrama di pesantren khusus perempuan yang juga berperan sebagai LKSA. Tujuan penelitian ini adalah: . menganalisis perbedaan model belajar peserta didik asrama dan non-asrama di Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa. membandingkan hasil belajar kedua kelompok. mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat Secara teoritis, penelitian ini diharapkan memperkaya literatur tentang pengaruh lingkungan terhadap model belajar di pesantren. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi guru, pengelola pesantren, dan pembuat kebijakan pendidikan Islam untuk merancang strategi pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan santri dari berbagai latar belakang tempat METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, karena bertujuan menggambarkan secara mendalam perbedaan model belajar dan hasil belajar peserta didik yang tinggal di asrama dan di luar asrama (Moleong, 2. Lokasi penelitian adalah Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa. Sulawesi Selatan, yang dipilih karena memiliki karakteristik khusus sebagai pesantren perempuan yang juga berperan sebagai Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA), sehingga memiliki dua kelompok santri dengan latar belakang sosial ekonomi yang berbeda, yaitu santri asrama dan non-asrama. Subjek penelitian meliputi peserta didik asrama, peserta didik non-asrama, guru, dan pembina pesantren. Objek penelitian adalah model belajar dan hasil belajar kedua kelompok santri. Data dikumpulkan melalui observasi untuk mengamati kegiatan pembelajaran di kelas maupun pembelajaran tambahan di asrama. wawancara mendalam dengan guru, pembina, dan santri (Sugiyono, 2. serta dokumentasi berupa nilai rapor, jadwal kegiatan, arsip sekolah, dan foto a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Instrumen penelitian yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar pencatatan dokumentasi. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi metode Analisis data menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi di Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa, diperoleh data mengenai perbedaan model belajar dan capaian hasil belajar peserta didik asrama dan non-asrama sebagaimana pada Tabel 1. Tabel 1. Perbandingan Model Belajar Peserta Didik Asrama dan Non-Asrama Aspek Peserta Didik Asrama Jadwal terstruktur dari subuh hingga malam, mencakup sekolah formal, murojaAoah, pengajian kitab, dan kegiatan ibadah berjamaah. Diawasi langsung oleh pembina asrama dan ustadz/ustadzah. Ruang belajar malam, perpustakaan, bimbingan guru asrama, sarana ibadah. Peserta Didik Non-Asrama Mengikuti sekolah formal pada jam pagi hingga siang, setelah itu pulang ke rumah. kegiatan belajar tambahan bersifat mandiri. Pengawasan belajar bergantung pada orang intensitasnya bervariasi. Fasilitas belajar di rumah berbeda tiap siswa. sebagian terbatas. Waktu Belajar Tambahan Rata-rata 3Ae4 jam per hari di luar jam sekolah. Rata-rata 1Ae2 jam per hari di rumah. Fokus Mata Pelajaran Lebih intens pada pelajaran (Tahfidz. Fiqih. Bahasa Ara. Fokus pada pelajaran sekolah umum. pelajaran agama sesuai jam pelajaran Kegiatan Harian Pengawasan Belajar Fasilitas Belajar Tabel diatas menggambarkan perbedaan mendasar pada aspek kegiatan belajar, pengawasan, fasilitas, alokasi waktu, dan fokus mata pelajaran antara peserta didik yang tinggal di asrama dan yang tinggal di luar asrama. Kegiatan Harian Ae Peserta didik asrama menjalani jadwal terstruktur dari subuh hingga malam hari, mencakup kegiatan akademik formal, penguatan hafalan . urojaAoa. , pengajian kitab, dan kegiatan ibadah berjamaah. Santri non-asrama hanya mengikuti pembelajaran formal pada pagi hingga siang hari, kemudian pulang ke rumah dan melakukan kegiatan belajar tambahan secara mandiri. Pengawasan Belajar Ae Peserta didik asrama selalu berada dalam pengawasan pembina dan ustadz/ustadzah, sehingga perilaku belajar dapat terkontrol. Sebaliknya, pengawasan pada peserta didik non-asrama bergantung pada orang tua yang tingkat intensitasnya bervariasi. Fasilitas Belajar Ae Fasilitas belajar santri asrama lebih lengkap, meliputi ruang belajar malam, perpustakaan, bimbingan guru asrama, dan sarana ibadah. Peserta didik non-asrama mengandalkan fasilitas yang tersedia di rumah, yang berbeda-beda kualitasnya. Waktu Belajar Tambahan Ae Peserta didik asrama mengalokasikan waktu tambahan 3Ae4 jam per hari untuk belajar di luar jam sekolah. Santri non-asrama rata-rata belajar tambahan 1Ae 2 jam per hari di rumah. Fokus Mata Pelajaran Ae Santri asrama memiliki fokus pembelajaran yang lebih besar pada bidang keagamaan (Tahfidz. Fiqih. Bahasa Ara. , sedangkan santri non-asrama cenderung memfokuskan diri pada mata pelajaran umum sesuai kurikulum sekolah. Secara keseluruhan, maka table di atas menegaskan bahwa sistem asrama membentuk lingkungan belajar yang lebih terstruktur, terawasi, dan berfasilitas lengkap, yang secara potensial a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Tabel 2. Nilai Rata-Rata Peserta Didik Asrama dan Non-Asrama Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Matematika Bahasa Inggris Tahfidz Fiqih Bahasa Arab Asrama Non-Asrama Sedangkan Tabel 2 menunjukkan perbandingan capaian nilai rata-rata mata pelajaran antara peserta didik asrama dan non-asrama. Mata Pelajaran Umum Ae Pada Bahasa Indonesia. Matematika, dan Bahasa Inggris, perbedaan nilai relatif kecil . urang dari 1 poi. Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran formal di kelas mampu mengimbangi kesenjangan model belajar kedua kelompok untuk mata pelajaran umum. Mata Pelajaran Keagamaan Ae Perbedaan signifikan terlihat pada Tahfidz . elisih 7,2 poi. Fiqih . elisih 5,8 poi. , dan Bahasa Arab . elisih 5,8 poi. Santri asrama memperoleh nilai lebih tinggi karena mendapatkan waktu belajar lebih banyak dan pembelajaran agama intensif setiap hari. Pola Umum Ae Perbedaan terbesar terjadi pada mata pelajaran yang membutuhkan hafalan dan penguatan rutin, yang sesuai dengan intensitas pembelajaran di asrama. Sementara itu, untuk mata pelajaran yang sifatnya kognitif umum, kedua kelompok relatif setara karena mendapatkan porsi yang sama dalam pembelajaran formal. Berdasarkan Tabel 2 bahwa sistem asrama memberikan dampak positif yang lebih kuat pada penguasaan materi keagamaan dibandingkan pada mata pelajaran umum. Perbedaan model belajar antara peserta didik asrama dan non-asrama secara langsung memengaruhi capaian pembelajaran, khususnya pada pelajaran keagamaan. Peserta didik asrama memiliki jadwal belajar yang padat dan terstruktur, dengan tambahan waktu belajar hingga 3Ae4 jam per hari di luar jam sekolah. Hal ini sesuai dengan teori time on task (Carroll, 1. yang menyatakan bahwa semakin banyak waktu efektif digunakan untuk belajar, semakin tinggi kemungkinan keberhasilan pembelajaran. Pengawasan langsung dari pembina asrama juga menjadi faktor penting. Menurut Syah . , pengawasan intensif dapat meningkatkan disiplin belajar, meminimalkan distraksi, dan memperkuat motivasi intrinsik siswa. Hal ini terlihat pada santri asrama yang lebih konsisten dalam mengulang materi, khususnya hafalan. Sementara itu, peserta didik non-asrama memiliki fleksibilitas waktu yang lebih tinggi, tetapi sering menghadapi kendala seperti gangguan lingkungan, pekerjaan rumah tangga, dan minimnya pengawasan. Kondisi ini sesuai dengan temuan Ali . yang menyatakan bahwa siswa tanpa kontrol lingkungan belajar yang ketat cenderung kurang konsisten dalam belajar. Perbedaan nilai pada mata pelajaran umum seperti Bahasa Indonesia. Matematika, dan Bahasa Inggris relatif kecil. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran formal di sekolah mampu menjembatani kesenjangan antara kedua kelompok. Namun, pada pelajaran keagamaan, keunggulan peserta didik asrama cukup mencolok . elisih 5Ae8 poi. karena mereka mendapatkan pembelajaran intensif setiap hari, termasuk pada malam hari. Berdasarkan teori belajar sosial Bandura . , perilaku belajar dipengaruhi oleh interaksi a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 antara faktor personal, perilaku, dan lingkungan. Lingkungan asrama memberikan stimulus positif dan mendukung pembentukan kebiasaan belajar terstruktur. Lingkungan non-asrama memiliki variabilitas yang tinggi, sehingga hasil belajar lebih bergantung pada motivasi pribadi dan dukungan keluarga. Dengan demikian, meskipun perbedaan hasil belajar umum tidak terlalu signifikan, lingkungan belajar di asrama memberikan keunggulan pada pembelajaran berbasis agama. Untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik non-asrama, sekolah dapat mengadakan kelas tambahan sore atau malam, serta melibatkan orang tua dalam pengawasan belajar di rumah. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa model belajar peserta didik asrama dan non-asrama di Pondok Pesantren Putri Yatama Mandiri Gowa pada dasarnya memiliki kesamaan dalam pembelajaran formal di kelas. Namun, santri asrama mendapatkan pembelajaran tambahan di luar jam sekolah seperti hafalan Al-QurAoan, kajian kitab, dan pembinaan akhlak yang terstruktur, sedangkan santri non-asrama tidak mengikutinya secara rutin. Hasil belajar akademik kedua kelompok tergolong baik dan memuaskan, namun santri asrama unggul dalam hafalan dan penguasaan materi agama tambahan, sementara capaian pada mata pelajaran umum relatif setara antara keduanya. Faktor pendukung pembelajaran mencakup metode mengajar guru yang bervariasi, lingkungan belajar kondusif, dan motivasi belajar, sedangkan faktor penghambatnya antara lain kesulitan memahami mata pelajaran tertentu serta keterbatasan waktu belajar bagi santri non-asrama. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan asrama memberikan kontribusi signifikan dalam memperdalam materi keagamaan santri tanpa mengurangi capaian akademik pada mata pelajaran umum. Oleh karena itu, pihak pesantren dapat mempertahankan dan mengembangkan program pembelajaran tambahan yang terstruktur, serta memberikan dukungan khusus bagi santri non-asrama agar mendapatkan kesempatan belajar yang setara. Penelitian mendatang disarankan untuk memperluas cakupan lokasi dan menggunakan pendekatan kuantitatif atau campuran agar dapat mengukur pengaruh model belajar secara lebih objektif dan DAFTAR REFERENSI Ali. Pengaruh lingkungan belajar terhadap prestasi akademik siswa SMP di Kota Makassar. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 15. , 45Ae54. Bandura. Social foundations of thought and action: A social cognitive theory. Englewood Cliffs. NJ: Prentice Hall. Carroll. A model of school learning. Teachers College Record, 64. , 723Ae733. Caswa. Perbandingan prestasi belajar siswa berasrama dengan siswa non-asrama pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 2. , 33Ae45. Dalyono. Psikologi pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Hamalik. Proses belajar mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. Indriyani. Analisis perbedaan hasil belajar santri berasrama dan tidak berasrama pada pelajaran PAI. Jurnal Pendidikan Agama Islam, 11. , 77Ae85. Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-QurAoan dan terjemahannya. Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-QurAoan. Moleong. Metodologi penelitian kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. Mukarromah. Perbandingan hasil belajar siswa berasrama dan non-asrama di MTsN X a. ISSN : 2828-5700 . JOONG-KI : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. No. Agustus 2025 Kota Yogyakarta. Jurnal Pendidikan Madrasah, 4. , 112Ae120. Sudjana. Penilaian hasil proses belajar mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sugiyono. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Syah. Psikologi pendidikan dengan pendekatan baru. Bandung: Remaja Rosdakarya. Syamsuddin. , & Damaianti. Metode penelitian pendidikan bahasa. Bandung: Remaja Rosdakarya. ISSN : 2828-5700 .