Journal Genta Mulia Volume 16. Number 1, 2024 pp. P-ISSN 23553790 E-ISSN: 25794655 Open Access: https://ejournal. id/index. php/gm IMPLEMENTASI KEGIATAN OUTBOND TRAINING TERHADAP KETERAMPILAN SOSIAL SISWA TK ORBIT SURAKARTA Dhian Riskiana Putri1. Anniez Rachmawati Musslifah2. Faqih Purnomosidi3. Sri Ernawati4 1234Prodi Psikologi. Universitas Sahid. Surakarta * Corresponding Author: dhianrp@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kegiatan outbound training terhadap keterampilan sosial siswa TK Orbit Surakarta. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuasi eksprerimen dengan desain one group pretest-posttest. Adapun responden penelitian ini adalah seluruh guru TK Orbit Surakarta berjumlah 15 orang. Fokus penelitian pada permasalahan keterampilan siswa anak usia dini dilihat dari sebelum dan sesudah diberikan outbound training. Sasaran dan sekaligus peserta kegiatan outbound adalah siswa KB/TK Islam Orbit Surakarta berjumlah 147 orang. Perlakuan berupa kegiatan outbound training diberikan pada peserta yang sebelumnya dilakukan pengisian skala keterampilan sosial kepada guru untuk selanjutnya dilakukan hal yang sama setelah pemberian perlakuan. Pengaruh pemberian kegiatan outbound training terhadap keterampilan siswadiukur dengan uji paires sampel t-test. Hasilnya diperoleh bahwa nilai Sig. -taile. adalah sebesar 0,000 < 0,05 yang berarti ada perbedaan rata-rata antara hasil Pre Test dengan Post Test, artinya ada pengaruh pemberian outbound training untuk meningkatkan keterampilan sosial pada siswa TK Orbit Surakarta. Kata kunci: outbound training, keterampilan sosial, anak usia dini Abstract This research aims to determine the effect of outbound training activities on the social skills of Orbit Surakarta Kindergarten students. This research uses a quasi-experimental type of research with a one group pretest-posttest design. The respondents for this research were all 15 Orbit Surakarta Kindergarten teachers. The focus of the research is on the skills problems of early childhood students before and after being given outbound training. The targets and participants of the outbound activities were 147 Orbit Surakarta Islamic KB/TK students. Treatment in the form of outbound training activities was given to participants who had previously filled in the social skills scale with the teacher and then carried out the same thing after giving the treatment. The effect of providing outbound training activities on student skills was measured using the paired samples t-test. The results show that the Sig value. -taile. 000 < 0. 05, which means there is an average difference between the Pre Test and Post Test results, meaning there is an influence of providing outbound training to improve social skills in Orbit Surakarta Kindergarten students. Key words: outbound training, social skills, early childhood PENDAHULUAN Anak usia dini adalah anak yang berada dalam rentang usia 0-8 tahun. Tahapan perkembangan anak usia dini terbagi menjadi 4 . , yaitu masa bayi dari usia lahir sampai 12 . ua bela. bulan, masa kanak-kanak/batita dari usia 1 sampai 3 tahun, masa prasekolah dari usia 3 sampai 5 tahun dan masa sekolah dasar dari usia 6 sampai 8 tahun. Pada setiap tahapan usia yang dilaluinya anak akan menunjukkan karakteristiknya masing- Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training masing yang berbeda antara tahap yang satu dengan tahap yang lainnya. Oleh karenanya, proses pendidikan sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak usia dini haruslah memperhatikan karakteristik yang dimiliki setiap tahapan perkembangan (Wijana, 2021, p. Tingkah laku anak usia dini sedang dalam masa pembentukan, di samping sebab faktor genetik, lingkungan sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian. Anak usia dini bersifat peniru atau imitatif, apa yang dilihat dan dirasa dari lingkungannya akan ditiru, sebab dia belum mengetahui batasan antara pantas dan tidak pantas, baik dan buruk, serta benar dan salah. Anak masih belajar mencoba-coba bersikap yang bisa diterima oleh (Kurniawan, 2019, p. Anak pada usia 4-6 tahun . nak usia din. mengalami masa peka, mereka mulai sensitif untuk menerima berbagai upaya pengembangan seluruh potensi yang ada pada diri Masa dimana terjadinya pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikis yang siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan semua kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, disiplin, seni, moral, dan nilai-nilai agama. (Zubaida, 2016, p. Perkembangan otak di masa-masa dini sekitar usia 0 sampai 6 tahun, mengalami akselerasi sampai 80% dari total otak orang dewasa. Hal demikian memperlihatkan bahwa setiap dasar-dasar perilaku, kecerdasan, dan potensi seseorang sudah terbentuk pada usia Sedemikian urgennya usia tersebut sehingga usia dini acapkali dinamakan usia emas . he golden ag. Berdasarkan argumen itu, dapat difahami bahwa dalam rangka melahirkan generasi yang bermutu dan cerdas, pendidikan mesti dilaksanakan sedini Di antara cara untuk mengawalinya ialah dengan mewujudkan lembaga Pendidikan Anak Usia Dini,. (Kurniawan, 2019, p. Satuan pendidikan formal yang mengadakan program pendidikan pada anak usia 56 tahun yaitu Taman Kanak-kanak yang bertujuan membantu peserta didik mengembangkan potensi baik fisik dan psikis melalui aspek nilai agama, moral, bahasa, kognitif, sosial emosional serta kemandirian. Satuan pendidikan juga mempunyai tujuan dalam mengembangkan kecakapan atau keterampilan hidup . ife skill. Pembelajaran life skills merupakan dorongan bagi anak dalam belajar membantu diri sendiri, mandiri serta tanggung jawab. (Silranti, 2019, p. Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional sudah ditetapkan bahwa Pendidikan Anak Usia Dini ialah suatu program pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia enam tahun yang dilaksanakan dengan memberikan rangsangan pendidikan untuk membantu perkembangan dan pertumbuhan jasmani dan rohani agar anak mempunyai kesiapan yang baik dalam memasuki pendidikan selanjutnya. (Kurniawan, 2019, p. Pendidikan anak usia dini/TK pada hakikatnya adalah pendidikan yang diselenggarakan dengan tujuan untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh atau menekankan pada pengembangan seluruh aspek kepribadian anak. Pendidikan anak usia dini/TK memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan Oleh karena itu, pendidikan untuk anak usia dini khususnya TK perlu menyediakan berbagai kegiatan yang dapat mengembangkan berbagai aspek perkembangan yang meliputi kognitif, bahasa, sosial, emosi, fisik, dan motorik (Anderson, 1. (Masitoh, 2014, p. P-ISSN: 23553790: E-ISSN: 25794655 | 66 Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training Salah satu keterampilan yang perlu dimiliki anak usia dini adalah keterampilan sosial karena akan menjadi bekal saat anak memasuki dunia pergaulan yang lebih luas, di mana pergaulan dengan teman-teman dan lingkungan sosial akan mempengaruhi Kurangnya keterampilan sosial akan menyebabkan rendah diri, kenakalan, dan dijauhi dari pergaulan. Anak harus diajarkan keterampilan sosial yang bisa didapat dari lingkungan keluarga, masyarakat dan lingkungan sekolah yang pertama, seperti Taman Kanak-Kanak (TK). (NaAoim, 2015, p. Keterampilan sosial penting dimiliki anak usia dini karena untuk menjadikannya sebagai individu yang dapat berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungan sosial, mengatasi konflik, menentukan perilaku yang dapat diterima oleh teman, menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan lingkungan, selain itu pentingnya keterampilan sosial juga mendukung anak untuk dapat berkomunikasi, menjalin hubungan dengan orang lain, menghargai diri sendiri dan orang lain serta memberi dan menerima kritik yang diberikan orang lain. (Manalu & Munawar, 2015, p. Salah satu metode pembelajaran yang dapat dipakai untuk diterapkan dalam pendidikan anak usia dini adalah metode pembelajaran outbound. Melalui pelatihan outbound, diharapkan lahir Aypribadi-pribadi baru yang penuh motivasi, berani, percaya diri, berpikir kreatif, memiliki rasa kebersamaan, tanggung jawab, kerja sama, rasa saling percaya diri, dan lain-lainAy. Metode outbound dapat digunakan sebagai salah satu metode dalam mengembangkan kemampuan sosial dalam bekerja sama pada anak. (Fitriani et al. , 2022, p. Djamaludin Ancok . menjelaskan bahwa outbound training adalah suatu program pelatihan di alam terbuka yang mendasarkan pada prinsip Auexperiental learningAy belajar melalui pengalaman langsung yang disajikan dalam bentuk permainan, diskusi, simulasi, dan petualangan sebagai media penyampaian materi. (Fauzan . & Al Millah, 2018, p. Outbond merupakan salah satu metode pembelajaran dengan konsep interaksi antar siswa dan alam melalui kegiatan simulasi di alam terbuka. Hal tersebut diyakini dapat memberikan suasana yang kondusif untuk membentuk sikap, cara berfikir serta persepsi yang kreatif dan positif dari setiap siswa guna membentuk jiwa kepemimpinan, kebersamaan/ teamwork, keterbukaan, toleransi dan kepekaan yang mendalam, yang pada harapannya akan mampu memberikan semangat, inisiatif, dan pola pemberdayaan baru dalam suatu sekolah. (Yoga, 2015, p. Penelitian Fitriani dkk . pada anak kelompok TK B Anzib Lamnyong desa Rukoh Banda Aceh menunjukkan bahwa penerapan metode outbound dalam proses pembelajaran memberikan pengaruh terhadap pengembangan kemampuan sosial dalam bekerja sama. Pengaruh tersebut terlihat dari perubahan sikap yang ditunjukkan oleh anak ketika melakukan kegiatan. Adapun beberapa perubahan sikap tersebut meliputi sikap anak yang sangat antusias untuk berpartisipasi dalam melakukan kegiatan yang disediakan, anak mau bergabung dengan semua teman, mampu membina hubungan baik dengan teman, memiliki rasa tanggungjawab yang sama untuk melakukan tugas dalam kelompok permainan, terlibat aktif dengan teman dalam permainan secara berkelompok, menunjukkan sikap membantu teman yang kesulitan melakukan permainan secara berkelompok, dan mulai menghargai teman dalam permainan secara berkelompok. Selain itu, anak juga P-ISSN: 23553790: E-ISSN: 25794655 | 67 Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training menunjukkan sikap yang cenderung lebih suka dan senang melakukan sesuatu secara bersama-sama. (Fitriani et al. , 2022, p. TK Orbit Surakarta merupakan salah satu lembaga pendidikan usia dini yang telah menerapkan kegiatan outbond sebagai salah satu metode pembelajarannya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektivitas kegiatan outbond training terhadap perkembangan keterampilan sosial siswa TK Orbit Surakarta. Penelitian ini penting dilakukan karena peningkatan keterampilan sosial akan sangat membantu siswa dalam interaksi pergaulan bersama teman dan masyarakat. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuasi eksprerimen dengan desain one group pretest-posttest. Model penelitian ini dilakukan terhadap seluruh subjek dalam satu kelompok/kelas . ntact grou. untuk diberi perlakuan . (Siyoto & Sodik, 2015, p. Perlakuan berupa outbond training diberikan kepada seluruh siswa TK Orbit Surakarta sejumlah 147 orang. Adapun data pretest dan posttest diambil dari responden, yaitu seluruh guru TK Orbit Surakarta berjumlah 15 orang. Sebelum siswa diberi perlakuan berupa outbond training, responden diberi pretest untuk mengetahui tingkat keterampilan sosial yang dimiliki siswa. Kemudian, perlakuan berupa kegiatan outbond training yang diberikan kepada siswa TK Orbit Surakarta dengan metode yang disesuaikan untuk meningkatkan keterampilan siswa. Selanjutnya, responden diberi posttest untuk mengukur peningkatan keterampilan sosial yang dialami (Hartono, 2019, p. Desain one group pretest-posttest dapat digambarkan sebagaimana tabel 1 berikut. Tabel 1 Desain one group pretest-posttest Pretest Perlakuan (X) Posttest Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan memberikan skala keterampilan sosial kepada responden, observasi yang dilakukan bersamaan dengan proses perlakuan dan pengambilan data, serta wawancara terhadap guru, siswa, dan wali murid TK Orbit Surakarta untuk mempertajam pembahasan. Adapun analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik uji-t. Teknik uji-t digunakan untuk mengetahui perbedaan efek dari perlakuan yang diberikan kepada kelompok subjek (Darmawan, 2016, p. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil statistik deskriptif dari nilai Pre Test dan Post Test dapat dilihat pada tabel Paired Samples Statistics Mean P-ISSN: 23553790: E-ISSN: 25794655 Std. Deviation Std. Error Mean | 68 Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training Pair 1 pre Test post Test Nilai Pre Test diperoleh rata-rata atau Mean sebesar 62,33. Sedangkan untuk nilai Post Test diperolah nilai rata-rata sebesar 69,93. Untuk nilai Std. Deviation . tandar devias. pada Pre Test sebesar 7,898 dan Post Test sebesar 6,902. Terakhir adalah nilai Std. Error Mean untuk Pre Test sebesar 2,039 dan untuk Post Test sebesar 1,782. Karena nilai rata-rata pada Pre Test 62,33 < Post Test 69,93, maka artinya secara deskriptif ada perbedaan rata-rata antara nilai Pre Test dengan nilai Pos Test. Adapun hasil uji paired sample t test dapat dilihat pada tabel berikut. Paired Samples Test Pai pre Test r 1 post Test Paired Differences 95% Confidence Interval of the Std. Std. Difference Mea Deviati Error Mean Lower Upper Sig. df Hasil uji "Paired Samples Test" di atas menunjukkan nilai Sig. -taile. sebesar 0,000 < 0,05, berarti terdapat perbedaan signifikan antara hasil Pre Test dengan Post Test. Dengan demikian dapat disimpulkan ada pengaruh signifikan pemberian training outbound untuk meningkatkan keterampilan sosial pada anak. Hasil analisis data pada penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian training outbound mampu untuk meningkatkan keterampilan sosial pada anak. Hal ini sejalan dengan penelitian Dewi Fitriani. Aisyah Idris. Siti Maryam Lembong berdasarkan hasil analisis sebelum tindakan dan sesudah tindakan terhadap pengembangan kemampuan sosial dalam bekerja sama melalui penerapan metode outbound dengan skor nilai rata-rata sebelum tindakan sebesar 43,25% dan skor nilai rata-rata setelah tindakan sebesar 90,17. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penerapan metode outbound dalam proses pembelajaran dapat mengembangkan kemampuan sosial dalam bekerja sama pada anak kelompok TK B Anzib Lamnyong desa Rukoh Banda Aceh dengan tingkat pencapaian keberhasilan sebesar 90,17% yang berada pada kategori pencapaian berkembang sangat baik (BSB). Hasil penelitian lain milik Luthfi Aji Ramdani & Nur Azizah . menunjukkan bahwa terdapat peningkatan signifikan antara hasil kemampuan motorik kasar sebelum diberikan perlakuan menggunakan permainan outbound dan sesudah menggunakan permainan outbound. Permainan mini outbound yang dilaksanakan dalam penelitian ini terdapat lima kegiatan bermain, yaitu permainan lempar tangkap bantal, permainan melompat kedalam simpai, permainan meniti papan titian berantai, permainan lari bolak balik dan permainan lari cepat. Pembelajaran yang dilaksanakan melalui permainan outbound dilaksanakan diluar ruangan yang memungkinkan anak untuk bebas mengekspresikan diri mereka dan anak dapat bergerak bebas. Anak akan merasa senang dan tertarik ketika pembelajaran dilaksanakan di luar kelas. P-ISSN: 23553790: E-ISSN: 25794655 | 69 Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training Piaget . eVries, 2. mengemukakan bahwa bermain merupakan wahana yang penting yang dibutuhkan untuk perkembangan berpikir anak. Pembelajaran yang paling efektif untuk anak usia dini/TK adalah melalui suatu kegiatan yang berorientasi bermain. Menurut Froebel, bermain sebagai bentuk kegiatan belajar di TK adalah bermain yang kreatif dan menyenangkan. Melalui bermain kreatif, anak dapat mengembangkan serta mengintegrasikan semua kemampuannya. Anak lebih banyak belajar melalui bermain dan melakukan eksplorasi terhadap objek-objek dan pengalaman. Anak dapat membangun pengetahuannya sendiri melalui interaksi sosial dengan orang dewasa pada saat mereka memahaminya dengan bahasa dan gerakan sehingga tumbuh secara kognitif ke arah berpikir verbal. Salah satu fungsi penting dari bermain menurut Piaget adalah memberi kesempatan pada anak untuk mengasimilasi kenyataan terhadap dirinya dan dirinya terhadap kenyataan. (Masitoh, 2014, p. Outbound merupakan sebuah metode pengembangan diri melalui pengalaman . earning by experienc. sebagai salah satu bentuk aktifitas luar ruang . utdoor activitie. yang penuh dengan kegembiraan dan tantangan. Efektifitas pelatihan dicapai melalui lima tahapan proses, yaitu aksi, diskusi, refleksi, perencanaan perbaikan dan implementasi. (Solkhan, 2019, p. Pendekatan outbond training dirancang khusus untuk dapat mempersiapkan individu-individu dalam suatu organisasi agar memiliki ketahanan dan kekuatan dalam berjuang mencapai kesuksesan, baik kesuksesan individu, kelompok, maupun organisasi. Dengan demikian, diharapkan tercipta sebuah organisasi dengan iklim kerja yang kondusif dengan mengedepankan prestasi. (Puspita, 2007, p. Tujuan dari pelatihan Outbound adalah untuk membantu peserta memperoleh karakter, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi baik secara pribadi maupun sebagai anggota dari satu tim kerja. Outbound Management Training mempunyai sasaran untuk menjadikan pembangunan sumber daya manusia yang tangguh, bermartabat dan sikap yang kokoh dengan berlandaskan pada empat nilai utama, yaitu profesionalisme, inovasi, patriotisme dan cinta alam dengan sasaran utama Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia. Manfaat OMT bagi peserta/partisipan akan memberikan peningkatan/pengembangan potensi diri . ikap, wawasan, daya inovasi, kepemimpinan, kerjasama tim dan kepercayaan dir. (Sudjijono, 2003, p. Konsep outbound dikondisikan dalam suatu tantangan yang menarik dengan kegiatan alam terbuka sebagai media belajar. Tantangan fisik dan mental didesain secara khusus untuk memberikan pengalaman belajar tanpa melampaui kapasitas fisik seseorang. Secara umum, pelatihan outbound bertujuan untuk: meningkatkan kemampuan kerjasama, rasa percaya diri, kepekaan terhadap tanggung jawab dan kebutuhan orang lain. menanamkan rasa cinta, solidaritas dan loyalitas terhadap kelompok. kepekaan terhadap kelestarian lingkungan hidup menumbuhkan dan meningkatkan motivasi dan keyakinan diri anggauta akan kemampuan diri untuk siap berperan mencapai visi dan tujuan kelompok secara kreatif. memberikan suasana penyegaran dan memecahkan kekakuan birokrasi. (Solkhan, 2019, p. Di dalam pelatihan ini peserta akan dibekali dengan pengetahuan dan strategi yang berguna khususnya dalam hal-hal berikut. Memahami perbedaan dalam kelompok, sehingga dapat bersamasama mencapai tujuan. Keterbukaan sikap . terhadap segala perubahan. Memberi dan menerima umpan-balik . dengan baik P-ISSN: 23553790: E-ISSN: 25794655 | 70 Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training dan pikiran yang positif. Memahami lebih jauh manfaat dan pentingnya bekerja sama dalam tim dalam menghadapi permasalahan dan perubahan. Mengetahui prinsip kerja team work yang sinergis, saling menguntungkan dan membangun. (Puspita, 2007, p. Metode outbound dirancang sebagai pendekatan pelatihan melalui sebuah simulasi kehidupan komplek menjadi sederhana dengan menggunakan alam sebagai sarana dan media belajar . outbound membangun gaya belajar reflektif sehingga orang dewasa yang penuh dengan pengalaman-pengalaman dalam hidupnya akan belajar melalui pengalaman nyata, partisipatif, kesediaan berbagi dengan sesama temanya dengan menggunakan metode belajar melalui pengalaman (Experiential Learning Cycl. dan dalam suasana Aurekreatif dan demokratisAy penuh kegembiraan karena dilakukan dengan berbagai permainan/games. Peserta terlibat langsung dalam permainan, merasakanya dan akan mengambil pelajaran serta mencari cara untuk perbaikan. (Solkhan, 2019, p. Outbound adalah kegiatan pelatihan di alam terbuka yang memerlukan ketahanan dan sekaligus tantangan fisik yang besar. Bentuk kegiatan outbound, yakni berupa simulasi kehidupan melalui permainan-permainan . yang kreatif, rekreatif dan edukatif, baik secara individu maupun kelompok, dengan tujuan untuk pengembangan diri . ersonal developmen. maupun kelompok . eam developmen. Melalui Outbound diharapkan lahir pribadi yang tangguh (Adversity Quotien. Zaman dan helmi . 0: . menegaskan bahwa permainan yang disajikan dalam outbound memang telah disusun sedemikian rupa, sehingga bukan psikomotorik . peserta yang AutersentuhAy tapi juga afeksi . dan kognisi . emampuan berpiki. (Solkhan, 2019, p. Beaty . menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan prasekolah adalah membantu anak untuk mengembangkan dasar keterampilan-keterampilan sosial. Terdapat sejumlah keterampilan sosial yang perlu dikembangkan pada usia prasekolah, antara lain melakukan kontak dan bermain bersama anak yang lain, belajar berinteraksi dengan teman sebaya untuk saling memberi, belajar bergaul dengan anak lain untuk beinteraksi secara harmoni, belajar belajar melihat dari sudut pandang anak lain, menunggu giliran, belajar berbagi dengan yang lain, menghargai hak-hak orang lain dan menyelesaikan atau mengatasi konflik dengan orang lain. (Ningsih, 2014, p. Pentingnya keterampilan sosial dimiliki oleh anak menurut Nurlaela . yaitu untuk menjadikannya sebagai individu yang dapat berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungan sosialnya, sehingga anak dapat diterima dalam lingkungan atau kelompoknya. Kemudian Listiana . 1: . menjelaskan pentingnya keterampilan sosial anak, di antaranya mengatasi konflik, menentukan perilaku yang dapat diterima oleh teman, dan menampilkan berbagai variasi perilaku yang dapat diterima oleh teman. (Manalu & Munawar, 2015, p. Anak perlu memiliki keterampilan sosial untuk bergaul, membantu orang lain, bekerjasama, menghargai orang lain agar mampu menyesuaikan diri terhadap Keterampilan sosial yang dimiliki oleh seorang anak membantu dirinya untuk memudahkan dalam penyesuaian diri dengan lingkungan masyarakat dan mentaati norma-norma yang berlaku di tempat tersebut. Anak yang memiliki keterampilan sosial yang baik akan mampu menghargai orang lain, tidak bersifat individual, dan mudah berteman dengan orang lain. (Megawardani et al. , 2016, p. Keterampilan sosial adalah kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, berbagi, berpartisipasi, dan beradaptasi . impati, empati dan mampu memecahan masalah serta P-ISSN: 23553790: E-ISSN: 25794655 | 71 Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training disiplin sesuai dengan peraturan dan norma yang berlak. Keterampilan Sosial anak dalam menjalin hubungan sosial dengan temannya dapat dilihat dari sikap anak itu sendiri dalam membina hubungan interpersonal maupun hubungan intrapersonal (Beaty, 1. (Susanti et , 2019, p. Matson dan Ollendick (Budiarto, 2016: . menyatakan bahwa Auketerampilan sosial adalah kemampuan seseorang dalam beradaptasi secara baik dengan lingkungannya dan menghindari konflik saat berkomunikasi baik secara fisik maupun verbalAy. Dengan demikian, sebagai makhluk sosial manusia selalu melakukan interaksi baik interaksi dalam bentuk verbal maupun nonverbal, langsung maupun tidak langsung, secara lisan maupun Kaitanya dengan interaksi sosial, manusia memerlukan kemampuan keterampilan sosial untuk memperlancar interaksi dengan sesamanya. (Alpian & Mulyani, 2020, p. Walker (Rosenberg, 1992, hlm. menyatakan bahwa keterampilan sosial secara umum merupakan respon-respon dan keterampilan yang memberikan seorang individu untuk mempertahankan hubungan positif dengan orang lain. Penerimaan teman sebayanya, penguasaan ruang kelas yang baik dan memberikan individu untuk mengatasi masalah sosial secara efektif, dan bisa diadaptasi dengan lingkungan sosial. (Lestari et al. , 2018, p. Keterampilan sosial merupakan salah satu keterampilan yang amat penting untuk dimiliki anak mengingat mereka merupakan makhluk sosial, bagian dari masyarakat, bangsa, dan negara. Keterampilan sosial menjadi bekal bagi mereka untuk dapat berinteraksi, beradaptasi, dan berhubungan baik dengan lingkungannya. (Adawiyah, 2021. Keterampilan sosial merupakan kemampuan individu untuk berespon secara positif terhadap lingkungannya, baik dalam membangun, memelihara, dan meningkatkan dampakdampak positif dari relasi dengan individu lain. Bila mengacu pada makna kontinuitas dalam proses perkembangan manusia bahwa terdapat kesinambungan proses perkembangan dari satu periode perkembangan dengan periode berikutnya, maka kemampuan anak dalam membangun relasi sosial dengan teman sebayanya pada dasarnya tidak terlepas dengan apa yang terjadi dalam proses realsi sosial pada periode awal Oleh karena itu merupakan hal yang penting untuk mengembangkan sejumlah keterampilan sosial sejak usia dini karena perkembangan keterampilan sosial usia ini dapat menentukan keberhasilan individu dalam menjalin relasi sosial di kemudian (Ningsih, 2014, p. Patmonodewo . 0: . menjelaskan bahwa tahap keterampilan sosial anak adalah sebagai berikut: . Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam lingkungan bermain. Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada . Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain. Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain, atau teman sebaya . eer grou. (Manalu & Munawar, 2015. Faktor Aefaktor yang mempengaruhi keterampilan sosial anak antara lain faktor internal, faktor eksternal, faktor eksternal dan faktor internal. Natawidjaya . alam Setiasih, 2006:13-. menjelaskan bahwa faktor internal merupakan faktor yang dimiliki manusia sejak dilahirkan yang meliputi kecerdasan, bakat khusus, jenis kelamin, dan sifat-sifat Faktor luar yaitu yang dihadapi oleh individu pada waktu dan setelah anak dilahirkan serta terdapat pada lingkungan seperti keluarga, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan masyarakat. (NaAoim, 2015, p. P-ISSN: 23553790: E-ISSN: 25794655 | 72 Dhian Riskiana Putri1. Implementasi Kegiatan Outbond Training SIMPULAN DAN SARAN Simpulan pada penelitian ini adalah ada perbedaan rata-rata antara hasil pretest dan post test, yang artinya terdapat pengaruh pemberian kegiatan outbound training terhadap peningkatan keterampilan sosial siswa TK Orbit Surakarta. Beberapa saran untuk penelitian ini yaiut: trainer outbound untuk dapat lebih menangani anak usia dini, jenis permainan dipilih yang memfokuskan konsentrasi anak usia dini, strategi outbound untuk dapat lebih menarik, serta kemungkinan pemberian perlakuan berupa kegiatan outbound training pada siswa dapat dilakukan secara berkala lebih dari satu kali diakhiri dengan pengukuran follow up, agar hasil dari perlakuan dapat lebih efektif. DAFTAR PUSTAKA