ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Pertarungan Public Stigma Dan Defensive Symbolic Pada Denominasi Sosial Kyai Abu Tazid1. Mukari2 Kuswatul Masfufah ZainA Prodi Ilmu Sosiatri. Fisipol. Universitas Darul Ulum PKBM Khairunnas Madura sejati@yahoo. Abstract This research was conducted with the aim of finding out the views of the Madurese people who are known to be fanatical towards kyai and have a paternalistic attitude towards some kyai even though they are known to violate legal norms through corrupt behavior. The reason is because in the exploration it was found that a society gave a negative view . to kyai with kyai pesse. However, it turned out that there was a group that then defended the kyai excessively even though the kyai was known to be corrupt. Then the group is called the Kyai Social Denomination which consists of family . hlul bai. , santeri, santeri guardians and alumni. Therefore, further research was carried out to look at this phenomenon in Madurese society, especially outside the Kyai social denomination. This research uses a qualitative method with a phenomenological approach using in-depth interviews and participant observation as data collection techniques. Meanwhile, the technique for determining research subjects/informants uses purposive and qualitative-explanatory techniques as data analysis techniques and uses Triangulation and Persistent-observation as techniques for checking the validity of the data. Whereas, meanwhile, the conclusions from the results of this research are. The public's stigma against corrupt clerics is also stigmatized by social denominations. The public stigma against corrupt clerics is also stigmatized only by some social denominations, especially the family . The public's stigma against corrupt clerics is apparently not stigmatized by social Meanwhile, the conclusion of this research is that it turns out that the kyai received a negative view . from the community, namely kyai pesse . oney kya. , kyai sennok . rostitute kya. , blater/bastard mak kaeh . ake kya. and project kyai, and received resistance through strong carried out by social denominations in various ways, both verbally and through mass Keywords: Stigma. Symbol Defense. Social Denomination Abstrak Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pandangan masyarakat Madura yang dikenal fanatik terhadap kyai dan memiliki sikap paternalistik terhadap beberapa kyai meskipun sudah diketahui melanggar norma hukum melalui perilaku korupsi. Alasannya karena pada eksploratori ditemukan suatu masyarakat memberikan pandangan negatif . pada kyai dengan kyai pesse. Akan tetapi, ternyata ada kelompok yang kemudian membela kyai secara berlebihan meskipun sudah diketahui bersama kyainya tersebut korupsi. Kemudian kelompok tersebut disebut dengan istilah Denominasi Sosial Kyai yang terdiri dari keluarga . hlul bai. , santeri, wali santeri dan alumni. Oleh sebab itu, dilakukan penelitian lebih lanjut melihat fenomena tersebut terhadap masyarakat Madura terutama diluar denominasi sosial kyai. Penelitian ini menggunakan metode kualititatif dengan pendekatan Fenomenologi dengan menggunakan indepth interview dan observasi partisipan sebagai PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 teknik pengumpulan data. Sementara untuk teknik penentuan subjek/informan penelitian menggunakan purposif dan kualitatif-eksplanatif sebagai teknik analisis data serta menggunakan Triangulasi dan Persistent-observation sebagai teknik pemeriksaan keabsahan data. Sedangkan. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah. Stigma masyarakat terhadap kyai korupsi ternyata juga distigmatisasikan kepada denominasi sosial. Stigma masyarakat terhadap kyai korupsi ternyata juga distigmatisasikan hanya kepada sebagian denominasi sosial terutama keluarga . hlul-bai. Stigma masyarakat terhadap kyai korupsi ternyata tidak distigmatisasikan kepada denominasi sosial. Sedangkan, kesimpulan penelitian ini adalah ternyata kyai mendapatkan pandangan negatif . dari masyarakat yaitu kyai pesse . yai uan. , kyai sennok . yai pelacu. , blater/bajingan mak kaeh . yai pals. dan kyai proyek, dan mendapatkan resistensi melalui pembelaan yang dilakukan oleh denominasi sosial dengan berbagai cara baik secara verbal maupun melalui gerakan massa. Kata Kunci : Stigma. Pertahanan Simbol. Denominasi Sosial PENDAHULUAN Posisi kyai dalam persimpangan sosial dan budaya begitu penting perannya bagi masyarakat, karena kyai memiliki kedekatan dan ikatan emosional yang sangat kohesif dengan masyarakat akar rumput . rass-roo. terutama masyarakat pedesaan yang masih sangat bergantung dengan seorang figur yang mampu mengarahkan masyarakat pada nilainilai kebajikan, menjadi suri tauladan . serta memberikan pemahaman-pemahaman yang benar tentang agama dan tata cara keberagamaan, sehingga masyarakat sangat percaya dengan istilah barokah dan kekaromahan seorang kyai yang mampu menjadi perantara . antara alam dunia yang eksoteris ke alam esoteris yakni alam bunyan, zabarut, malakut (Syam, 2005:. Ketika berada pada masyarakat akar rumput khususnya masyarakat Madura, mayoritas penduduknya merupakan masyarakat pedesaan, kyai mengambil peran penting menanamkan beberapa nilai, yakni nilai-nilai keagamaan . eligious value. , nilai-nilai sosial . ocial value. , nilai-nilai kebudayaan . ulture value. dan yang terpenting dari segi moralitas . orality of value. melalui proses enkulturasi . nilai-nilai yang telah diperjuangkan dalam masa yang sangat panjang serta melalui proses yang cukup sulit. Kyai memiliki peran-peran yang sifatnya menyentuh masyarakat akar rumput inilah kepemimpinan kyai diterima secara masif, bahkan terkadang sifatnya taken for granted . iterima begitu saj. dan memiliki karakter paternalistik, karena masyarakat menganggap kyai merupakan salah satu sumber kebenaran yang ucapannya dan tindakannya berasal dari sumber utama hukum . dan refleksi dari sosio-kultural yang matang dengan sentuhan spiritual-inquiry. Dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan . eligious value. , kyai menditribusikannya melalui kegiatan masyarakat dalam sehari-hari, mulai dari ritual keagamaan, traksaksi dalam perdagangan, prosesi perkawinan . elalui peninggian makna disebut pernikaha. , elaborasi dari nilai selamatan (Jawa Arabi. , hingga hal yang paling sederhana namun dianggap sangat vital dalam perkembangan masyarakat seperti meminta nama anak yang baru lahir, hari yang baik untuk membangun rumah, hari baik bepergian, doa dan wirid penangkal hama pada waktu musim pertanian, hingga hal-hal lain yang terkadang dalam nalar normatif bisa dilakukan sendiri masyarakat. Hal ini diyakini sebagai nilai barakah yang tidak dapat dilakukan oleh siapapun dan karakter pemimpin yang lainnya kecuali kyai. Peran kyai sangat begitu penting bagi masyarakat Madura, baik sebagai figur sektoral maupun sebagai figur sentral dalam segala perspektif kehidupan. Nilai moralitas merupakan PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 daftar tugas yang paling pokok bagi masyarakat, karena melalui nilai-nilai keteladanan, semua nilai-nilai yang selama ini di transfer kyai akan mudah diterima pesannya, sebab hukum, aturan dan budaya yang paling mudah dalam retorika dan sulit pada tahap implementasinya adalah nilai keteladanan. Kyai harus menjadi teladan dalam kepemimpinannya yang kuat didalam masyarakat, melalui sifat adil dan amanah yang harus dipegang teguh. Kyai harus memberikan nilai keteladanan dalam ibadah dan ritual keagamaan, kyai harus menjadi teladan dalam berbicara, bersikap dan bertindak, kyai harus menjadi teladan dalam mengawal sikap yang tidak diskriminatif, kyai harus mampu menjadi teladan dalam memahami nilai-nilai kemanusiaan, kyai harus menjadi teladan dalam sikap menanggapi masalah, kyai harus menjadi teladan dalam aktifitas sosial, dan kembali kyai harus menjadi teladan sebagai tokoh sosio-kultural dan agen perubahan (Said Aqil, 2001:8-. Kyai merupakan kebanggaan bagi para santri, alumni dan partisipan, karena kyai memiliki pengaruh yang kuat dalam memobilisasi massa dalam segala bentuk kegiatan. Percampuran perasaan taat . amAoan wathaAoata. masyarakat Madura terhadap kyai telah menabiskan kyai secara tidak langsung sebagai raja-raja kecil dan pengaruhnya bisa jadi melebihi kepala daerah yang berada di Madura. Bahkan kyai juga sering dimintai petuahnya jika kepala daerah ingin memutuskan sesuatu yang urgen dalam sebuah kebijakan publik, serta Kyai juga diminta oleh kepala daerah menjadi mediator antara sang pemimpin dengan masyarakat untuk mencegah terjadinya konflik horizontal. Kharisma dan pengaruh kyai yang begitu besar . uper-powe. ini didapatkan bukan dengan jalan praktis, ada yang disebut dengan instrumental-history dan environmental-story. Bahkan. Syarifuddin Jurdi . , juga melanjutkan sebuah acuan untuk kepemimpinan kalangan islam . berdasarkan deversifikasi kepemimpinan, desentralisasi dan ploriferas artinya pemimpin dalam konteks islam . imana saj. tanpa terkecuali kyai tidak hanya pemimpin dalam bidang agama, politik, sosial, budaya, akan tetapi lebih luas lagi dalam upaya penguatan kepemimpinan. Seringkali. Pesantren sendiripun sering terlibat konflik yang masif (Farhan dan Syarifuddin 2005:75-. , sebab konflik pesantren yang melibatkan kyai dan kerabatnya sebagai aktor utama. Sehingga keduanya memetakan konflik antar kyai tersebut dalam dua kategori, . Konflik temporal, yang melibatkan konflik antar kyai pengasuh dalam satu pesantren, dan hal ini sering merimbas pada psikologi santri,wali dan masyarakat. Biasanya konflik ini terjadi karena perebutan otoritas, kekuasaan maupun pengaruh partisipan Dan . Konflik Permanen, konflik permanen merupakan konflik antar kyai baik keluarga maupun bukan keluarga yang tidak kunjung selesai. Biasanya penyebab utama berupa konflik politik, konflik keluarga serta memperebutkan kharisma ditingkat umat. Hal ini, bisa saja dimaknai sebagai hal wajar karena kyai juga merupakan manusia, akan tetapi, pada dimensi yang berbeda seharusnya konflik apapun yang terjadi antar pemimpin yang dianggap suci dan mulia oleh umat, kyai harus pintar dan pandai menutup diri supaya tidak menguncangkan psikologi masyarakat, terutama masyarakat akar bawah yang memiliki cadangan pengetahuan . tock of knowledg. Selain konflik internal maupun konflik eksternal yang dialami oleh Pesantren, justru masyarakat Madura pada khususnya dalam beberapa tahun ini dikejutkan dengan kasus korupsi FA pada akhir 2014 tokoh besar keturunan UlamaAo kharismatik Madura. Selain Bangkalan ada kasus korupsi di Sampang yaitu dengan tersangka FR pada tahun 2013 yang juga merupakan pengasuh salah satu Pondok Pesantren. Bahkan kembali publik . asyarakat PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Madur. dikejutkan dengan penagkapan oleh Lembaga Antirasuah Bupati Bangkalan AuLAy yang juga merupakan adik dari Almarhum FA, dan tentunya kasus yang baru ini berkaitan dengan penangkapan AQ yang juga merupakan putra UlamaAo Besar di Sumenep dalam dugaan kasus korupsi pengadaan Menara BTS 4G Kominfo, menambah daftar deniminasi sosial Kyai Madura yang terlibat kasus hukum. Akan tetapi dari kejadian kasus hukum tersebut, tidak sedikit masyarakat atau kelompok masyarakat yang membela, bahkan mulai dari kasus FA. FR. L, hingga AQ dari loyalis yang mengatakan kasus ini sebagai bentuk fitnah, bahkan khusus dari kasus FA, banyak sekali pada waktu itu kelompok pendukungnya yang berdemo dan menyampaikan bahwa kasus tersebut sebagai bentuk kriminalisasi dan permainan politik penguasa. Akan tetapi, di lain pihak ada kelompok masyarakat yang memberikan berbagai macam stigma terhadap tokoh yang terjerat korupsi dengan berbagai macam label sebagai bentuk sinisme. Oleh sebab itu, melihat berbagai fenomena tersebut tentunya ada beberapa hal yang menarik untuk dijadikan rumusan permasalahan yaitu mengenai stigma apa yang diberikan masyarakat terhadap kyai . ianggap krama. yang terjerat korupsi dan apa alasan para loyalis membela mati-matian tokoh tersebut yang terbukti dan terindikasi korupsi. METODE Metode penelitian ini menggunakan Kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi, menurut Moleong . , fenomenologi yaitu objek, makna, pengalaman, dan kesadaran dari individu dalam melihat suatu peristiwa sosial sebagai cara pandang serta pemaknaan terhadap objek tertentu sesuai pengalaman dan batas pengetahuan secara mendalam . tock of melalui epoche dan bracketing. Adapun Teknik Pengumpulan Data yang dilakukan yang dilakukan melalui observasi partisipan, dengan menggunakan teknik wawancara terbuka . pen intervie. dan mendalam . ndepth intervie. dengan menggunakan pedoman wawancara . nterview guid. Adapun Teknik penentuan informan dengan menggunakan purposif, yakni pemilihan informan berdasarkan penentuan dari peneliti dengan berdasarkan kriteria khusus yang proporsi dengan tema penelitian, serta snowball sampling untuk mendukung data primer. Sedangkan Teknik analisis data dalam penelitian ini, dilakukan setelah data-data diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dan observasi. Kemudian data-data tersebut, di analisis secara saling berhubungan untuk mendapatkan dugaan sementara, yang dipakai dasar untuk mengumpulkan data berikutnya, lalu dikonfirmasikan dengan informan secara terus menerus melalui intensionalitas data primer dan sekunder. Sedangkan. Pemeriksaan data dilakukan untuk membangun reliabilitas data yang diperoleh baik data primer maupun data Metode yang digunakan adalah Triangulasi dan Persistent-observation (Bungin. HASIL DAN PEMBAHASAN Stigmatisasi Masyarakat (Public Stigm. Stigma menurut Goffman . , pada dasarnya ada pada dunia medis dan berkaitan dengan penampilan fisik seperti stigma masyarakat pada aktor yang terkena Aids. Akan tetapi perkembangan selanjutnya stigma dianalisa sebagai sebuah perlakuan abnormal berupa tindakan-tindakan yang dilakukan audien pada aktor sosial dan berkaitan dengan beberapa hal bukan hanya spesifik untuk penyakit yang sifatnya fisik . Akhirnya Goffman membuat kategori tentang stigma menjadi dua, yakni . stigma yang berkaitan dengan aib PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 sifatnya fisik . tigma discredi. yang memiliki pengertian bahwa penilaian seseorang terhadap orang lain yang memiliki aib yang dapat dilihat oleh mata berupa cacat fisik atau berkaitan dengan label, streotype tertentu terhadap penyakit yang diderita aktor, dan . orang yang dapat direndahkan . iscreditable stigm. memiliki pengertian bahwa seseorang yang direndahkan ialah orang yang memiliki cacat atau kekurangan yang tidak tampak oleh mata, termasuk seseorang yang cacat mental, abnormal, anormatif dan seseorang yang melakukan prilaku menyimpang seperti kriminalitas, homoseksual dan lain-lain (Goffman,1986:. Stigma merupakan bagian dari hasil sosialisasi yang dilakukan melalui lembaga sosialisasinya, baik primer maupun sekunder. Sosialisasi kyai berdasarkan sosialisasi keagamaan, pendidikan pesantren dan budaya masyarakat Madura. Seperti yang dikatakan Ishomuddin . 5:234-. , bahwa sosialisasi memiliki peranan sosial yang terdiri dari lembaga yang diberi tugas khusus dalam sosialisasi yaitu lembaga keagamaan, pendidikan dan Menurut Soelaiman . , mengatakan bahwa aktor yang memperoleh stigma biasanya berkaitan dengan kebatinan dari sang aktor berdasarkan kategori-kategoti tertentu dalam sosialisasi yaitu seseorang/audien akan cenderung melakukan hal-hal tertentu: , merupakan cara dari audien memberikan cap, citra dan label-label tertentu dari aktor yang melakukan tindakan tertentu dan tidak sesuai dengan drajat kenormalan yang terjadi dalam lingkungan sosialnya. , merupakan hasil dari label-label tertentu yang membuat aktor dibicarakan dalam lingkungan sosialnya dari para audien sesuai dengan keyakinan dari audien terhadap tindakan tertentu yang dilakukan aktor dan biasanya mengarah pada pembicaraan yang bersifat penilaian negatif. , merupakan gambaran dari audien pada aktor, komunitas atau kelompok berdasarkan stigma . yang disosialisasikan dalam waktu yang relatif lama dan dikaitkan dengan tindakan tertentu yang belum tentu bersifat umum. Discrimination . , merupakan suatu tindakan dari para audien yang sudah memperlakukan aktor dengan berbeda dibandingkan aktor yang lain yang belum terstigma, sehingga hal ini sudah masuk pada aksi nyata dalam membaca makna-makna apa yang sudah disosialisasikan oleh masyarakat. Isolation (Veeger, 1986:. merupakan tindakan lanjutan dari diskriminasi sehingga seseorang yang mendapatkan stigma bukan hanya diperlakukan berbeda dalam masyarakat melainkan dijauhi dari akses-akses sosial tertentu dan menutup ruang geraknya untuk melakukan resosialisasi. Sehingga ini menurut Goffman . disebut Aucollective actionAy yang secara bersama-sama memberikan stigma tertentu pada aktor yang melanggar norma. Sedangkan, mengenai fenomena kyai yang tersangkut masalah hukum, prilaku amoral dan melanggar norma diharapkan dalam penelitian ini mampu mengungkap apakah stigma dengan beberapa tahapan tersebut bekerja dalam mengungkap fenomena tersebut, dan mampu melihat tipifikasi-tipifikasi tertentu pada tipe masyarakat, baik berdasarkan tipe pribadi . maupun kelompok (Grou. Sehingga mampu memberikan pemahaman-pemahaman baru terhadap kyai yang perlu diremajakan dalam konteks ilmu pengetahuan pada masyarakat, baik kyai sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari manusia sosial. Dalam situasi ini sikap Disclosure dan non-disclosure merupakan cara atau strategi yang dapat digunakan untuk mengungkapkan atau tidak mengungkapkan identitas personal (Goffman, 1986:. dari kategori kategori tertentu baik yang bersifat Descredited dan PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 Descreditable. Goffman . 6:42-. melanjutkan bagaimana mengenai aktor yang terkena stigma Descredited dan Descreditable akan melakukan beberapa hal yakni untuk melindungi dirinya, yakni Covering, merupakan strategi, cara yang ditempuh aktor untuk me-manajemen kesan (Ritzer, 2008:. oleh aktor terhadap tanggapan audien supaya perasaan apapun tidak tampak oleh orang lain karena tidak mau diungkapkan. Situasi dan kondisi merupakan lingkungan aktor mengontrol ekspresinya dari pemaknaan-pemaknaan apa yang nanti akan muncul di masyarakat. Information Control melalui Techniques Of Information Control merupakan upaya menutup-nutupi apa yang sebenarnya terjadi tentang kondisi kebatinan yang aktor Menurut Petronio (Hargie, 2006:. menyatakan bahwa individu-individu mengelola batas-batas komunikasi mereka untuk menyeimbangkan antara kebutuhan pengungkapan dengan kebutuhan untuk yang sifatnya sangat privasi dan berkaitan dengan diri pribadi. Adapun teknik dari pengontrolan tentang informasi diri Merahasiakan apapun yang dirasakan oleh individu terhadap audien, baik keluarga inti, tetangga dan masyarakat. Berbohong terhadap informasi yang dapat membuka identitas personal-nya berkaitan dengan kebatinan yang dirasakan aktor. Passing, cara mengisolasi diri sendiri dengan menjauhkan diri atau penghindaran dari relasi sosial dengan seseorang atau komunitas yang sebelumnya dikenal secara akrab yakni dengan cara berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain (Goffman,1986:. , baik berpindahnya tersebut dari komunitas satu ke komunitas yang lain, bahkan daerah daerah satu ke daerah yang lain, hal itu dilakukan supaya stigma yang dirasakan bisa segera tidak dirasakan. Berkaitan dengan penjelasan tersebut, berupaya mencari informasi kebatinan apa saja yang dirasakan kyai yang sudah terstigma oleh masyarakat melalui pelanggaran norma yang sesungguhnya diciptakan oleh aktor kyai itu sendiri. Stigma juga berupaya dijadikan landasan teoritik untuk melihat prilaku, sikap dan perubahan perlakuan apa saja yang dilakukan masyarakat terhadap denominasi yang selama ini ditransfer ke masyarakat. Dalam aksioma penulis terjadi yang namanya Aupenjara sosialAy . ocial guarantin. yang mempengaruhi terhadap reputasi, privelege, kepercayaan . , aktifitas nyabis . masyarakat, pengurangan santri, kurang begitu disukai, tidak dihargai pilihan politik dan penganggapan terhadap beberapa kyai yang di stigma Aukyai pesseAy . yai dengan orientasi duni. Secara akumulatif dalam penelitian ini, oknum kyai yang melanggar norma dengan terjerat kasus hukum . mendapatkan citra, labelisasi dan cap-cap tertentu yang mengarah pada pandangan negatif . dari masyarakat dengan label-label tertentu yang diberikan, mulai disebut kyai pesse . yai uan. , kyai gileh . yai gil. , kyai sennok . yai Sedangkan untuk perilaku yang dilakukan denominasi sosial kyai yang terdiri dari keluarga, santeri, wali murid dan alumni, para informan memberikan keterangan yang Ada yang menyebut prilaku pembelaan total dan matia-matian itu dianggap hal yang agak wajar, mengingat nominasi sosial, nominasi kapital dan kebaikan-kebaikan yang diberikan kyai dianggap besar dan membuat mereka merasa perlu untuk membela dan memproteksi dari berbagai hinaan, cacian dan celaan yang diberikan kepada kyai. Disisi yang lain, informan memberikan cap yang sama saja antara oknum kyai dengan keluarganya, yang dianggap memiliki peran vital juga dalam tersangkutnya kyai oknum kyia dengan masalah PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 hukum khususnya perilaku korupsi. Akan tetapi untuk santeri, wali santeri dan alumni dianggap wajar karena mereka tidak tahu dan cenderung subjektif dalam membela. Sedangkan pada keterangan informan yang lain, para denominasi sosial kyai yang membela kyai bermasalah hukum tersebut dikatakan AugilaAy. Mengapa demikian?, karena sudah tahu kyai itu bersalah, tapi masih dibela. Bukankah jika hal itu dilakukan, mereka malah mengingkari substansi ilmu mereka sendiri yang merujuk langsung pada alhadist. Aualinsan mahallul khathaAoI wannisyanAy . anusia itu tempatnya salah dan lup. , (Kitab Jamiusshahih. Jilid I Hal:. Manis dan Meltzer . 7:169 dalam Mulyana, 2009:. mengungkapkan beberapa hal mengenai citra dan stigma sebagai sebuah proses sosial yang berkaitan erat dengan sosialisasi dan perilaku yang terdeskripsi dengan memperhatikan beberapa hal berkaitan kuat dengan sebuah tindakan sebagai aksi personal, yakni: Aktor maupun audien sama-sama belajar dari pengalaman yang direfleksikan melalui persepsi tertentu dan diinterpretasi pada penyimbolan dan kegagalan simbol. Penyimbolan muncul karena ada gerakan kolektif dari kelompok sosial yang di aktualisasikan dalam bentuk pengidealan. Akan tetapi, kegagalan simbol lebih dirasakan pada gerakan psikologi personal pada masing-masing kejiwaan dari audien. Seluruh struktur dan institusi sosial dihadirkan dan diciptakan dengan adanya interaksi. Perilaku seseorang tidak bisa paten hanya dilatarbelakangi oleh kejadian masa lalu saja, melainkan proses sosial dan rangkaian peristiwa mempengaruhi citranya dimasa Proses interaksi sosial akan mampu membangun presentasi seorang aktor dalam kurun waktu tertentu selama aktor mampu menjaga kesan-kesan yang dibangunnya berdasarkan nominasi sosial tertentu, melalui pikiran-pikiran tertentu pula yang terdiri dari interaksi baik internal maupun eksternal. Berdasarkan pengalaman-pengalaman tertentu tersebut, semua kesan akan kembali pada aktor baik melalui label, cap dan citra-citra tertentu baik positif maupun negatif. Blumer . alam Miller, 2009:. juga menjelaskan cukup menarik mengenai konsep simbolik sebagai sebuah interaksi ini, dengan menunjukkan esensi dari sebuah interaksi sebagai sesuatu karakteristik, identitas komunikasi aktor sebagai sesuatu yang diberi makna. Hal tersebut Sama halnya seperti yang dikatakan Goffman presentasi komunikasi sebagai sebuah konsep drama yang eksponen sebagai warna dari proses dan interaksi sosial. Goffman . alam Bagong dan Amal, 2010170-. juga menafsirkan identitas atau citra diri seorang aktor sebuah Aukontribusi simbolAy yang juga membutuhkan ketertiban interaksi . nteraction orde. yang meliputi berbagai hal yakni proses, struktur dan produk interaksi sosial. Oleh sebab itu keutuhan diri atau Aupresentasi idealAy harus bisa dipertahankan oleh si aktor sendiri maupun kelompok simbol yang menciptakan dan menjaga simbol tersebut sebagai sebuah inti dari interaksinya . nteraction cor. Interaksi juga memiliki relasi dengan kegiatan partisipan tertentu sebagai sebuah penampilan . dari para aktor yang merupakan pola rutin . dari sebuah appreance dan manner melalui peranan interaksi . nteraction rol. yang dilakukan melalui sikap-sikap tertentu (Poloma, 2003:231-. Interaction role memperlakukan Ausocial establishmentAy sebagai sebuah sistem tertutup memperlihatkan pertunjukan yang harus diperankan dan ditunjukkan. Hal tersebut juga mengorientasikan perspektif yang bersifat PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 teknis . enganalisa lembaga dari sudut efisiens. , politis, struktural . ari sudut statu. , kultural . ari sudut nilai-nilai moral lembag. , dan dramaturgis (Goffman, 1986:. Goffman . alam Giddens, 2010:107-. begitu gamblang menjelaskan relasi antara subjek dan kesadaran dalam memandang sebuah rangkaian keseharian yang disebutnya dengan duree, rutinitas dan serialitas. Kesadaran memiliki dua cabang yakni kesadaran diskursif dan kesadaran praktis. Dari cabang dua kesadaran tersebut, terkadang mempertontonkan ketidaksadaran . dan menerima segala apa yang bersumber dari aktor sebagai sesuatu yang taken for granted. Prilaku tersebut bisa saja terjadi karena nominasi sosial kyai berkaitan dengan rutinitas dan serialitas yang selama ini diberikan pada setiap episode interaksi antara aktor dan audien, sehingga menjadi Auproduksi sosialAy yang menimbulkan rasa saling percaya. Rasa saling percaya tersebutlah yang membuat penilaian-penilaian subjektifitas mengemuka dan menampilkannya sebagai sebuah penyatuan sosial. Akan tetapi, pada perkembangan selanjutnya banyak tokoh di Madura yang mulai menjadikan simbolismenya tersebut sebagai sebuah Aukeuntungan sosialAy. Tentu yang paling drastis tertangkapnya sejumlah ustadz bahkan kyai dan ulamaAo besar sebagai pesakitan dengan tersangkutnya sejumlah oknum kyai dengan masalah korupsi. Melihat fenomena tersebut ada beberapa pandangan yang bervareatif, akan tetapi saat ini mulai bergeser bukan hanya citra positif, akan tetapi saat ini bergeser pada pandangan yang lebih stigmatik atau pandangan negatif. Dalam buku Stigma : Notes on the Management of Spoiled Identity . Goffman memperhatikan beberapa aspek penyajian diri yang problematik. Aib menunjuk pada orangorang yang memiliki cacat sehingga tidak memperoleh penerimaan sosial sepenuhnya. Menurut Goffman mereka merupakan orang yang direndahkan atau dapat direndahkan sebagai sebuah kategori sosial. Goffman . alam Poloma, 2003:243-. , mengungkapkan aib juga merupakan sesuatu yang abnormal sebab hal itu berasal dari berbagai situasi. Setiap orang dapat dan akan berhadapan dengan aib, dan ketika melanda dirinya, maka langkah tertentu segera diambil untuk mengatur identitas yang jelek itu. Goffman menegaskan bahwa aib tidak seperti individu konkrit yang dapat dibagi dalam dua bagian, yang punya aib dan yang normal, yang normal dan yang aib bukan manusia tetapi perspektifnya. Goffman . alam Ritzer, 2004: 303-. juga menjelaskan mengenai stigma juga mendikotomikan distensi sosial menjadi dua kategori, yakni Auidentitas sosial virtualAy dan apa yang seharusnya dilakukan oleh actor dengan Auidentitas sosial aktualAy. Setiap aktor yang memiliki jurang pemisah berupa aib dengan masyarakat akan memiliki sebuah identitas sosial yang distigmatisasikan. Stigma discredit . iscreditable stigm. memiliki pusat perhatiannya pada prilaku yang dianggap abnormal oleh audien atau masyarakat. Oleh sebab itu, keanehan tidak hanya bersifat jasmaniyah akan tetapi juga persoalan etika menjadi persoalan baru dalam pemberian makna dengan label, cap, citra dan stereotype tertentu. Soelaiman . , menjelaskan bahwa aktor yang kelak mendapatkan stigma dari audien atau aktor lain akan mengalami hal-hal yang terjelaskan sebelumnya, bahwa aktor akan mengalami labeling . uatu kondisi pencapa. , prejudicing . rasangka-prasangk. , stereotype . ambaran-gambaran prilak. , discriminaton . embedaan sikap dari masyaraka. , dan isolation . engasingan sosia. Perilaku korupsi yang dilakukan FA. FR. AQ dianggap sebagai sebuah tumpukan gunung es yang saat ini terjadi, artinya ini sebagai klimask dari serangkaian peristiwa yang seharusnya tergambar dari dulu. Bahkan menurut Goffman, tampaknya hampir tidak ada isyarat non-verbal yang kosong dari pemaknaan dan makna. Diantaranya berpaling ke kondisi yang berbeda, menjaga PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 jarak . ole distanc. dengan orang lain sebagai sebuah cara memproteksi privasinya dalam membentuk proses dihargai atau AukeramatAy . sebagai sebuah tindakan yang terbina dalam proses dan interaksi sosial. Hal ini berlangsung untuk menghindari kegagalan simbol sebagai sebuah ritual memobilisasi audien pada proses presentasi diri dari aktor. Artinya kontrol sosial menjadi hal yang vital dalam menampilkan wajah sosial diri pada audien atau masyarakat yang memberikan makna-makna tertentu pada aktor baik melalui citra maupun melalui stigma (Goffman, 1986:5-. Implikasi dari peristiwa inipun mulai terlihat dari berbagai Aupandangan miringAy terhadap oknum kyai yang bermasalah korupsi tersebut. Berbagai pandangan negatif atau stigma discreditable yang sudah dialamatkan pada tokoh tersebut karena perbuatan yang dilakukannya dengan stigma kyai pesse . yai uan. , kyai sennok . yai pelacu. , kyai proyek, mak kaeh . yai pals. , blater atau bajingan. Pertahanan Simbol (Defensive Symboli. Imam Suprayogo . 7:119-. dalam penelitiannya di kecamatan Tebon menemukan kesamaan visi antara empat kyai yang diteliti, mereka menyatakan berorientasi memperkuat cita-cita agama . aldatun thayyibatu warabbun ghafu. Sedangkan temuan penelitiannya . inding researc. menngenai tipologi kyai yang terurai sebagai berikut: Kyai Spiritual, yaitu pengasuh pondok pesantren yang lebih mendekatkan diri pada Alloh lewat ibadahnya dan lebih berorientasi pada urusan akhirat . Kyai Advokatif, yaitu pengasuh pondok pesantren aktif dalam mengajar santri, juga menjadi aktor dalam menghadapi persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat, baik agama, hukum, politik, ekonomi dan sosial. Kyai Adaptif (Politi. , kyai yang peduli pada urusan-urusan politik dan kekuasaan melalui aktifitasnya di organisasi-organisasi politik. Kyai Politik Mitra Kritis, merupakan perpaduan dari dari ketiganya namun lebih dinamis, taat beribadah, menangani persoalan masyarakat, sekaligus berpolitik serta menempatkannya secara proporsional, biasanya tipe kyai ini partai politiknya partai politik berbasis islam-nahdliyyin. Dalam penelitian ini tentunya dipaparkan mengenai kasus hukum yang dihadapi oleh kyai adaptif yang aktif dalam kelembagaan politik dengan berbagai aktifitas politik dalam konteks pejabat public. Secara dialektis. Imam Suprayogo, memberikan klasifikasi terhadap peran dari kyai secara khusus ke dalam beberapa bagian yang terdapat di berbagai wilayah, termasuk Madura yang merupakan basis dari pesantren yang juga di pimpin oleh seorang informal leader, yang diagungkan, dikramati yaitu kyai. Bahkan Tazid . , mengungkapkan tentang pemikiran Erving Goffman mengenai konsep Auperan sosialAy . ocial rol. sebagai pandangan sosial yang dimainkan seseorang pada situasi dan kondisi kehidupan untuk memberikan citra tertentu pada khalayak umum. Konsep citra diri merupakan suatu citra kyai yang terbangun pada denominasi sosialnya yang terdiri dari komunitas, kelompok atau lingkungan sekitar yang mengakui eksistensinya sebagai sebuah nominasi dengan pengagungan simbol luar biasa. Goffman secara spesifik juga memperkenalkan teknik yang digunakan aktor untuk mempertahankan kesan . tertentu dalam menghadapi masalah yang mungkin mereka hadapi menggunakan manajemen kesan . mpression of contro. Begitupun pada permasalahan yang di hadapi FA. FR. L, dan AQ, terdapat resistensi dari loyalis-nya yang merupakan bagian dari denominasi sosial kyai . eluarga, santri, alumni, simpatisan, loyalis. PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 konstitue. , hingga saat ditanyakan-pun figur bermasalah hukum tersebut diyakini bagian dari kriminalisasi dan fitnah-fitnah yang tidak beralasan. Analogi pertahanan tersebut secara sosiologis tentu bagian dari fenomena AyDivensive SymbolAy dengan menggunakan teatrikal front stage dan back stage. Front stage adalah bagian pertunjukan yang umumnya berfungsi secara pasti dan umum untuk mendefinisikan situasi bagi orang yang menyaksikan pertunjukan. Termasuk di dalam front stage adalah setting dan front personal. Setting adalah pemandangan fisik yang biasanya harus ada jika aktor memainkan perannya, sedangkan front personal berarti berbagai macam barang perlengkapan yang bersifat menyatukan perasaan yang memperkenalkan audiens dengan aktor dan perlengkapan itu diharapkan audiens dipunyai oleh aktor. Keberadaan status sosial . dari seseorang menjadi salah satu bagian penting dalam dilihat dari sejauh mana seseorang memerankan perannya dengan baik, sebab dalam kehidupan kyai di Madura, statusnya begitu dihargai, dihormati dan dimuliakan dengan segala bentuk dan upaya sehingga interaksi antara kyai dan masyarakat begitu kental berdasarkan nilai-nilai yang lebih mulia berdasarkan kriteria-kriteria tertentu, baik berdasarkan peran sosialnya, tindakan kyai sendiri, serta berdasarkan nominasi apa yang sudah diberikan kyai pada denominasi sosialnya, sehingga ketika ada sinisme masyarakat terhadap Aupusat simbolAy . aitu kyai bermasalah hukum tersebu. , yang terjadi semacam lingkaran yang diibaratkan cakraviyuha yang secara berlapis melakukan perlindungan dengan berbagai macam cara termasuk melakukan pembelaan verbal dalam berbagai kesempatan, klarifikasi media sosial hingga aksi turun ke jalan. Mengapa demikian? Karena dalam pandangan teori citra diri . elf-presentatio. , mempertahankan priveledge menjadi sangat penting dalam upaya menghalau stigma dengan bentuk sinisme dari masyarakat di luar denominasi yang mengancam terhadap eksistensi diri dari pusat simbol . yang mereka percaya sebagai pusat kebaikan tanpa cacat dengan kemuliaan yang agung dan tinggi, sehingga dengan cara apapun mereka harus melakukan pembelaan secara mati-matian supaya tetap mendapatkan kepercayaan dari khalayak umu. Hal tersebut juga dalam upaya menjaga eksistensi institusi sosial yang merupakan AufieldAo dari figure simbolik dan denominasi sosialnya, sehingga tetap memiliki peranan penting dalam lingkungan sosial dan tidak cacat akibat stigma non disclosure yang dialami tokoh tersebut. Presentasi simbolistis dalam pandangannya sangat memperhatikan pada status sosial tokoh/figur yang memilik previlege sosial untuk menentukan sebuah arah sosial dalam dimensi sosial tertentu, sebab melalui keistimewaan itulah masyarakat menganggap kyai sebagai ulamaAo dan pengganti para nabi. Teori ini akan digunakan untuk melihat empat hal dari citra kyai, yaitu peran sosial, sosialisasi, konsep keramat . sebagai pertahanan simbol dan status sosial yang melekat pada diri seorang kyai dan menjadi sebuah tabungan sosial di masyarakat Madura. Hal ini jelas, bahwa sebuah pembangunan citra menjadi hal yang penting dalam upaya Aumempertahankan simbolAy melalui berbagai jalan, baik peran, status dan kharisma merupakan bentuk rasionalisasi dan pertukaran interaksi berdasarkan tanda dan simbol simbol tertentu yang dinegosiasikan (Scott, 2012:. , baik antara kebaikan-kebaikan yang yang diberikan kyai melalui jasa-jasa yang selama ini disosialisasikan, maupun nilai timbal balik . yang menurut Field . berlanjut pada saling tukar menukar kepercayaan . Oleh sebab itu, sebagai bagian dari masyarakat, kyai dan orang Madura melakukan tukar-menukar nilai-nilai kebaikan yang mengakibatkan satu dengan yang lain, saling PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 menumpukkan harapan akan sebuah kebaikan bersama dan kepercayaan sebagai modal sosialnya membangun sebuah interaksi makna, interaksi nilai dan interaksi simbol. Divensive Symbolic merupakan suatu cara yang digunakan oleh para loyalis sebagai satu gerakan personal maupun sosial sebagai wujud kecintaan seorang denominasi simbolik terhadap pusat simbolik yang dilakukan dengan sadar maupun tanpa sadar sebagai upaya mereka dalam melepaskan diri dari stigma yang menjadi AupenjaraAy bagi mereka yang diberikan masyarakat, sehingga dalam upaya Aumelepaskan rasa maluAy. Aumelawan sinismeAy, loyalis mewujudkannya dalam berbagai expression sebagai bagian dari mempertahankan presentasi diri dan kelompoknya, sebab yang namanya Aupenjara sosialAy . ocial quarantin. sangat mempengaruhi terhadap reputasi, privelege, kepercayaan . , aktifitas nyabis . masyarakat, pengurangan santri, kurang begitu disukai, tidak dihargai pilihan politik dan penganggapan terhadap beberapa kyai yang di stigma Aukyai pesseAy . yai dengan orientasi Bahkan dalam beberapa wawancara yang dilakukan peneliti terhadap beberapa informan yang terdiri dari santri, alumni, simpatisan dan loyalis melihat itu sebagai AufitnahAy dan AukeapasenAy saja yang dialami kyai-nya sebagai resiko pekerjaan dalam aktifitas Mereka percaya bahwa kyai-nya adalah tokoh yang baik dan tidak akan pernah melakukan sesuatu yang melanggar aturan agama. Akan tetapi, dalam penjelasannya, informan kami juga menjelaskan dalam masa-masa kasus korupsi kyai-nya, terdapat hantaman psikologi yang menyerang termasuk gunjingan dari keluarga, teman, tetangga dan media yang membuat mereka terpukul, sehingga melakukan pembelaan secara kontinu dan tanpa kenal Lelah, sebab terdapat beban psikologis yang dirasakan oleh mereka berdasarkan framing negatif yang diberikan oleh masyarakat. Artinya, jika mengacu kembali pada pemikiran Goffman menegaskan pada beberapa elemen dasar dari pertunjukkan yang perlu diperhatikan dalam interaksi personal dan interpersonal yaitu : Suatu tim pertunjukkan sedang berjalan melalui tindakan yang menyimpang, setiap anggota tim memiliki kemampuan untuk merongrong atau menghentikan pertunjukkan itu. Setiap peserta tim harus mempercayai tindakan dan perilaku temannya, sedang temannya juga harus bersikap demikian kepadanya. Begitupun intensitas interaksi kyai dan masyarakat yang menjadi denominasi atau bukan. Akan tetapi dalam penjelasan ini, kyai biasanya akan mempertunjukkan idealitasnya pada denominasi sosialnya sebagai representasi harapan yang besar sebagai bagian dari kelompok sosialnya atau tim. Kedua, apabila dihadapan para penonton para anggota tim itu harus bekerja sama untuk mempertahankan suatu batasan situasi tertentu, akan tetapi di hadapan sesama anggota tim kesan yang demikian itu sulit untuk dipertahankan. Oleh karena itu peserta tim, sesuai dengan frekuensi dengan mana mereka bertindak sebagai suatu tim serta jumlah masalah yang berada di dalam perlindungan yang difahaminya, cenderung diarahkan oleh ketentuan-ketentuan yang disebut sebagai kebiasaan. (Poloma, 1994:. , yakni perilaku penyimbolan yang memperlakukan collective action . ksi bersam. sebagai sebuah makna mempertahankan kesan atau manajemen kesan. Sebab hal ini penting sebagai sebuah proses presentasi diri menjadikan kyai sebagai manusia agung yang jauh dari dunia dosa. Dramaturgi dalam pandangan Goffman merupakan tipe ideal sistem tertutup yang disebutnya sebagai institusi total. Institusi total merujuk pada suatu tindakan yang dilakukan bersama-sama untuk menegaskan atribut sosial yang biasanya berada pada level presentasi PUBLIC POWER JOURNAL ISSN : 28089774 E-ISSN : 28072782 Vol. 8 No. 1 Tahun 2024 sosial (Poloma, 2003:. Berkaitan setting panggung depan dan realita panggung belakang. Goffman mengakui bahwa panggung depan mengandung anasir struktural bahwa panggung depan cenderung terlembaga dan mewakili kepentingan kelompok dan organisasi. Seringkali ketika aktor melaksanakan perannya, merupakan ketetapan yang dilakukan lembaga tempat aktor bernaung dari proses pengidealisasikan dengan menyembunyikan hal-hal tertentu. Hal itu disebabkan beberapa hal, yaitu aktor mungkin menyembunyikan kesenangan-kesenangan yang dirasakannya dan aktor berusaha menyembunyikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan saat pertunjukan, sehingga orang-orang yang menjadi bagian dari emosionalitas dari kyai bermasalah hukum tersebut melakukan satu cara mistifikasi . enutupi kenyataa. dengan melakukan upaya psikologis untuk dipahami berbagai kondisi-kondisi tertentu dan menutupi kerja kotor untuk menunjukkan produk akhir kepada khalayak, sehingga muncullah aktoraktor fanatik yang melakukan pembelaan simbolik, karena upaya pertahanan simbol merupakan collective action dalam upaya menjaga presentasi diri bersama sebagai satu kesatuan yang organis, layaknya sebuah team. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian didapatkan suatu penjelasan mengenai adanya pertarungan makna yang terjadi antara masyarakat Madura berkaitan dengan fenomena kyai/gus/lora bermasalah hukum karena aktifitas kelembagaannya dalam bidang politik mendapatkan stigma atau justifikasi dari masyarakat karena masalah korupsi yang menimpanya dengan berbagai labelisasi negatif sebagai suatu deviant behaviour. Akan tetapi, di sisi yang lain terdapat orang atau sekelompok orang setia kepada aktor bermasalah hukum tersebut dengan melakukan pembelaan secara radikal yang merupakan bagian dari denominasi sosial tokoh tersebut dengan berbagai narasi dan argumentasi. Artinya jika mengacu pada apa yang digambarkan Goffman bahwa indikasi perilaku penyimbolan yang memperlakukan collective action . ksi bersam. sebagai sebuah makna bahwa mempertahankan orang atau sekelompok orang tersebut tengah melakukan pertahanan simbol. Sebab hal ini menjadi penting sebagai sebuah proses presentasi diri menjadikan kyai sebagai manusia agung yang jauh dari dunia Sedangkan, pada bagian yang lain orang atau sekelompok orang melakukan pemaknaan terhadap perilaku seorang aktor . eskipun dianggap terhormat sekalipu. dengan berbagai pandangan yang beragam melalui stigma-stigma tertentu yang berdasarkan pada ajaran moral bahwa setiap manusia tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Perdebatan tersebut akhirnya menyimpulkan bahwa sebaiknya kyai kembali pada fungsi sosialnya sebagai kawula agama . enuntun masyarakat dalam bidang sosial keagamaa. , akan tetapi, di sisi yang lain menolak pendapat tersebut yang menyebut bahwa kyai punya hak yang sama untuk berpolitik praktis menjadi bagian dari kawula nagara, sehingga bisa melakukan kontrol langsung dari potensi kerusakan birokrasi, sebab kyai dianggap memiliki ilmu pengetahuan terutama agama yang lebih besar dari yang lainnya sebagai self control atau memiliki iman politik yang lebih kuat. DAFTAR PUSTAKA