EJOIN Ae VOLUME 2 NOMOR 11 . : 1605 - 1611 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG DETEKSI DINI STUNTING DAN PEMANTAUAN TUMBUH KEMBANG BALITA PADA KADER KESEHATAN DAN IBU BALITA Khairunnisak1 . Anasril2 Poltekkes Kemenkes Aceh. Indonesia Article Information Article history: Received November 04. Approved November 19. Keywords: Pendidikan Kesehatan. Stunting. Tumbuh kembang ABSTRACT The number of stunted toddlers reached 199 children in the Johan Pahlawan district and is the district with the highest stunting rate in Aceh Barat. Meanwhile, the number of stunted children in Gampong Leuhan is 14. Health cadres and mothers of toddlers find it difficult to distinguish between stunted children and normal children because they do not understand how to identify them. The purpose of community service activities is to enhance knowledge about early detection of stunting and monitoring the growth and development of toddlers. The methods used are lectures, discussions, and question-and-answer sessions about early detection of stunting and monitoring the growth and development of toddlers. The number of targets involved is 30 people, consisting of 5 cadres and 25 mothers with toddlers. Health education conducted during community service activities has successfully increased the understanding of health cadres and mothers of toddlers about early detection of stunting and monitoring toddler growth and development, which initially had only 7% with good knowledge to 100%. The training provided to health cadres successfully improved their ability to measure height and then analyze the data using nutritional status graphs. Follow-up is needed on the ability of health cadres and mothers of toddlers in carrying out early detection of stunting. ABSTRAK Jumlah balita stunting mencapai 199 anak di kecamatan Johan Pahlawan dan merupakan kecamatan dengan angka stunting tertinggi di Aceh Barat. Sementara itu jumlah anak stunting di Gampong Leuhan sebanyak 14 Kader kesehatan dan juga ibu balita sulit membedakan antara anak stunting dengan anak normal karena tidak memahami cara mengetahuinya. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah meningkatkan pengetahaun tentang deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, dan tanya jawab tentang deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita. Jumlah sasaran yang terlibat adalah 30 orang yang terdiri dari 5 orang kader dan 25 ibu balita. Penyuluhan kesehatan yang dilakukan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah berhasil | 1605 Khairunnisak et al. - Volume 2 Nomor 11 . : 1605 - 1611 meningkatkan pemahaman kader kesehatan dan ibu balita tentang deteksi dini Stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita yang awalnya hanya 16,7% yang berpengetahuan baik menjadi 100%. Pelatihan yang diberikan kepada kader kesehatan berhasil meningkatkan kemampuan kader kesehatan untuk melakukan pengukuran tinggi badan lalu melakukan analisis dengan menggunakan grafik status Gizi. Perlu dilakukan tindak lanjut terhadap kemampuan kader kesehatan dan ibu balita dalam melaksanakan deteksi dini stunting A 2024 EJOIN( Jurnal Pengabdian Masyaraka. *Corresponding author email: syifaazzaliaazzahra@gmail. PENDAHULUAN Pemerintah sudah sejak lama mencanangkan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan dengan harapan masyarakat mampu memberdayakan dirinya dalam mengidentifikasi suatu masalah, memecahkan masalah kesehatan di tingkat komunitas terkecil. Pemberdayaan Masyarakat adalah proses untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan kemampuan individu, keluarga serta masyarakat untuk berperan aktif dalam upaya kesehatan yang dilaksanakan dengan cara fasilitasi proses pemecahan masalah melalui pendekatan edukatif dan partisipatif serta memperhatikan kebutuhan potensi dan sosial budaya setempat. Masa Balita atau bawah lima tahun terdiri dari usia 1 sampai 3 tahun yang disebut dengan batita dan anak usia 3 sampai 5 tahun yang disebut usia prasekolah. Perkembangan balita pada umumnya tergantung kepada orang tuanya, terutama dalam pemenuhan kebutuhan akan nutrisi atau makan. Pada masa-masa ini bisa dikatakan balita masuk dalam periode emas dalam siklus tumbuh kembang seorang manusia. Pertumbuhan serta perkembangan pada usia balita ini dikatakan sebagai penentu akan berhasil tidaknya tumbuh kembang seorang anak pada tahapan berikutnya. Periode ini merupakan masa keemasan bagi tumbuh kembang atau sering disebut dengan golden age dan waktunya cukup singkat serta tidak akan pernah terulang. Semua orang tua di dunia pastinya sangat menginginkan putra putrinya dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahapan-tahapannya. Pertumbuhan dan perkembangan secara teori mempunyai arti yang berbeda. Pertumbuhan lebih dikaitkan dengan perubahan suatu ukuran atau pertambahan jumlah yang dapat diukur seperti ukuran sel dimana pertumbuhan tidak dapat kembali kebentuk semula. Sedangkan perkembangan lebih mengarah pada tingkat kematangan sehingga tidak dapat diukur tetapi dapat diamati. Pertumbuhan dan perkembangan berjalan beriringan atau bersamaan dan sangat dipengaruhi atau bergantung kepada pemenuhan nutrisi. Usia di bawah lima tahun merupakan masa pertumbuhan yang cepat . rowth spur. baik fisik maupun otak. Sehingga memerlukan kebutuhan gizi yang paling banyak dibandingkan pada masa-masa berikutnya dan pada masa ini anak sering mengalami kesulitan makan, apabila kebutuhan gizi tidak ditangani dengan baik maka akan mudah mengalami gizi kurang. Kurang terpenuhinya gizi pada anak dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan baik fisik maupun psikomotor dan mental. Status gizi balita dipengaruhi banyak faktor diantaranya adalah penyakit infeksi, asupan makan, pengetahuan ibu, usia penyapihan, berat badan lahir, pemberian makan terlalu dini, pola asuh, kesehatan lingkungan dan pelayanan kesehatan. Pengetahuan gizi ibu mempengaruhi sikap dan perilaku ibu dalam memilih makanan yang dikonsumsi balita terkait jumlah, jenis dan frekuensi yang akan mempengaruhi asupan makan pada balita tersebut. Status gizi yang optimal terjadi ketika anak-anak mudah untuk mengakses makanan secara terjangkau, beragam, kaya zat gizi. 6 Pola hidup sehat dan bersih juga berpengaruh terhadap EJOIN : Jurnal Pengabdian Masyarakat | 1606 Khairunnisak et al. - Volume 2 Nomor 11 . : 1605 - 1611 kejadian penyakit infeksi pada balita. Balita yang sering menderita penyakit infeksi cenderung lebih berisiko mengalami stunting. Ibu memiliki peran sentral dalam mengelola makanan yang dikonsumsi oleh balita. Penelitian menunjukkan pengetahuan, sikap dan praktik ibu berpengaruh signifikan terhadap status gizi balita. 4 Ibu balita diharapkan mampu memberikan makanan yang aman dan bergizi seimbang guna mencukupi kebutuhan gizi balita dalam rangka mencegah masalah gizi pada Masalah gizi pada balita muncul diakibatkan kurangnya pengetahuan ibu terkait pemberian makan balita. Berbagai masalah gizi tersebut sebetulnya dapat dicegah melalui deteksi dini yang dilakukan di posyandu. Posyandu merupakan wadah peran serta masyarakat menyampaikan dan memperoleh pelayanan kesehatan dasarnya. Diharapkan posyandu dapat melaksanakan fungsi dasarnya sebagai unit pemantau tumbuh kembang anak serta menyampaikan pesan kepada ibu atau ibu hamil sebagai agen pembaharuan dan anggota keluarga yang memiliki bayi dan balita. Gampong Leuhan merupakan salah satu gampong yang berada di Kecamatan Johan Pahlawan. Saat ini masalah yang urgen di kecamatan Johan Pahlawan adalah stunting pada balita, yaitu mencapai 199 anak dan merupakan kecamatan dengan angka stunting tertinggi di Aceh Barat. 9 Sementara itu jumlah anak stunting di Gampong Leuhan sebanyak 14 orang. Hasil wawancara dengan kader kesehatan dan juga ibu balita, mereka sulit membedakan antara anak stunting dengan anak normal karena tidak memahami cara mengetahuinya. Sebagian menganggap pertumbuhan anaknya normal, tetapi ternyata tidak normal. Ibu balita juga tidak memahami jenis makanan dan cara pengolahan makanan yang sehat bagi balita. Sebagian ibu balita juga masih meyakini bahwa makanan tertentu bisa menyebabkan hal buruk pada anak misalnya kalau makan telur nanti bisulan, banyak makan ikan bisa cacingan. Masalah ini tentunya harus segera diatasi supaya Kesehatan ibu dan anak semakin meningkat dan tetap terpantau. METODE PELAKSANAAN Tahap pertama dari kegiatan adalah menyusun rencana. Proses perencanaan meliputi identifikasi masalah dan kebutuhan, identifikasi potensi dan kelemahan yang ada, menentukan jalan keluar dan kegiatan yang akan dilakukan, dan membuat pengorganisasian kegiatan. Perencanaan disusun bersama dengan mitra dari gampong Leuhan. Identifikasi masalah dan kebutuhan dilakukan dengan cara survey langsung kelokasi mitra, melakukan wawancara baik dengan kepala Puskesmas, tenaga kesehatan, juga kader kesehatan serta ibu balita kepala Puskesmas, tenaga kesehatan, juga kader kesehatan serta ibu balita. Penentuan jalan keluar dan kegiatan yang akan dilakukan disusun secara bersama dengan pihak mitra berupa meningkatkan kemampuan kader dan ibu balita dalam melakukan deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang pada balita. Tahap berikutnya pemberian penyuluhan kesehatan kepada kader kesehatan dan ibu balita mengenai deteksi dini stunting serta pemantauan tumbuh kembang pada anak selama 30 menit, dilanjutkan oleh sesi diskusi dan tanya jawab. Kegiatan selanjutnya adalah demonstrasi deteksi dini stunting serta pemantauan tumbuh kembang pada anak dengan menggunakan alat peraga yaitu alat pemeriksaan tinggi badan dan berat bdan selama 30 menit, kemudian para kader kesehatan dibagi ke dalam 5 kelompok kecil . kader dan 5 ibu balit. dan didampingi oleh fasilitator untuk melakukan re-demonstrasi cara deteksi dini stunting serta pemantauan tumbuh kembang pada anak, dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan psikomotor para kader kesehatan dan ibu balita. Selanjutnya dilakukan monitoring dan evaluasi kegiatan. Proses ini juga dilakukan bersama sama dengan tim pelaksana. Evaluasi kegiatan dilakukan untuk menilai setiap kegiatan EJOIN : Jurnal Pengabdian Masyarakat | 1607 Khairunnisak et al. - Volume 2 Nomor 11 . : 1605 - 1611 mulai persiapan-proses kegiatan-hasil kegiatan. Hasil evaluasi akan menjadi masukan terutama bagi tim pengabmas untuk meningkatkan pencapaian target yang telah ditetapkan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penyuluhan tentang deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita dapat dilihat dari peningkatan nilai yang diperoleh kader kesehatan dan ibu balita melalui pretes dan posttest seperti pada tabel dibawah ini: Tabel 1. Pengetahuan kader kesehatan dan ibu balita tentang deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita sebelum diberikan penyuluhan . Kategori Baik Cukup Kurang Total Jumlah (%) Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui kebanyakan kader kesehatan dan ibu balita memiliki pengetahuan yang kurang tentang stunting pada anak balita, yaitu sebanyak 43,3%. Tabel 2. Pengetahuan kader kesehatan dan ibu balita tentang deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita setelah diberikan penyuluhan . Kategori Baik Cukup Kurang Total Jumlah (%) Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui kebanyakan kader kesehatan dan ibu balita memiliki pengetahuan yang baik tentang stunting pada anak balita yaitu sebanyak 93,3%. Hasil evaluasi terhadap pengetahuan kader kesehatan dan ibu balita ini menunjukkan bahwa terlihat peningkatan yang signifikan dari hasil test yang dilakukan kepada kader kesehatan dan ibu balita yaitu dari awalnya hanya 16,7%, namun setelah diberikan penyuluhan tentang stunting pada anak usia balita maka kebanyakan kader kesehatan dan ibu balita memiliki pengetahuan yang baik yaitu meningkat sebanyak 76,6%. Kader kesehatan dan ibu balita memiliki peran yang sangat besar untuk menekan angka kejadian stunting di masyarakat. Untuk melakukan peran ini tentunya kader kesehatan dan ibu balita harus dibekali dengan pemahaman yang benar mengenai stunting. Demikian juga dengan mengenali atau mengidentifikasi tumbuh kembang pada anak balita. Peningkatan pemahaman dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan tentang masalah stunting yang sedang Penyuluhan yang dilakukan tentunya menyangkut dengan konsep stunting dan juga berbagai hal terkait dengan kejadian stunting. Sehingga kader kesehatan dan ibu balita mendapatkan pengetahuan yang memadai dari penyuluhan tersebut. Secara langsung masalah stunting disebabkan oleh rendahnya asupan gizi dan masalah kesehatan. Selain itu asupan gizi dan masalah kesehatan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Adapun pengaruh tidak langsung adalah ketersediaan makanan, pola asuh dan ketersediaan air minum . , sanitasi dan pelayanan kesehatan. EJOIN : Jurnal Pengabdian Masyarakat | 1608 Khairunnisak et al. - Volume 2 Nomor 11 . : 1605 - 1611 Berdasarkan hasil evaluasi terhadap pengabdian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa tujuan kegiatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan dan ibu balita tentang stunting melalui penyuluhan telah tercapai. Tercapainya tujuan yaitu adanya peningkatan pengetahuan kader kesehatan dan ibu balita mengindikasikan bahwa pemberian penyuluhan sangat efektif untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan dan ibu balita tentang stunting pada anak balita. Penyuluhan kesehatan penting dilakukan untuk perubahan Dalam hal pencegahan stunting. Hasil penelitian Salamah . tentang Pelatihan Peran Serta Kader Posyandu Dalam Pemberian Edukasi Kepada Masyarakat menunjukkan bahwa kegiatan penyuluhan dapat meningkatkan kemampuan kader dalam memberikan penyuluhan kepada masyarakat dengan metode yang lebih menarik sehingga meningkatkan kepercayaan diri kader untuk bisa berbagi kepada masyarakat tentang kesehatan. Sejalan dengan hal tersebut, pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Sitorus, dkk . tentang Pemberdayaan Kader Posyandu dan Ibu dalam Pencegahan Serta Deteksi Dini Stunting pada Baduta yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan kader kesehatan dalam melaksanakan deteksi dini stunting. Pelaksanaan kegiatan ini dengan cara memberikan pelatihan tentang stunting, dan cara mendeteksinya. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan pemahaman kader kesehatan tentang deteksi dini stunting dapat dilakukan dengan penyuluhan dan pelatihan. Notoatmodjo . menjelaskan bahwa faktor yang berhubungan dengan kurangnya pengetahuan antara lain adalah: minimnya dalam keterpaparan informasi, kurangnya hapalan/daya ingat, salah memberikan tafsiran terhadap suatu informasi, adanya keterbatasan informasi serta keterbatasan kognitif dalam mencerna informasi, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi. 11 Kader yang pendidikannya rendah akan lebih sulit untuk menerima arahan dalam pemenuhan gizi dan mereka sering tidak mau atau tidak meyakini pentingnya pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi atau pentingnya pelayanan kesehatan lain yang menunjang dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Kader dan keluarga dengan latar belakang pendidikan rendah juga seringkali tidak dapat, tidak mau, atau tidak meyakini pentingnya penggunaan fasilitas kesehatan yang dapat menunjang pertumbuhan dan perkembangan anaknya. Hasil analisa ini sejalan dengan kesimpulan penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al. , . , yang mengatakan bahwa tingkat pendidikan menentukan seseorang mudah atau tidaknya dalam menyerap dan memahami informasi tentang pengetahuan gizi yang mereka peroleh. Peserta kader yang hadir saat pelatihan sebagian besar berada pada rentang usia dewasa awal dan pertengahan. Semakin cukup umur seseorang, maka tingkat kematangan dan kekuatan orang tersebut akan lebih matang dalam menyerap informasi, berpikir dan bekerja, dan dari segi kepercayaan yang dipercayai oleh masyarakat, seseorang yang lebih dewasa lebih bisa dipercaya dari orang yang lebih tinggi kedewasaannya. Daya tangkap dan pola pikir akan semakin berkembang dan pengalaman hidup yang diperoleh semakin banyak. Faktor eksternal yang dapat mempengaruhi pengetahuan terkait stunting pada balita adalah salah satunya keterpaparan kader terhadap informasi terkait stunting pada balita. Informasi terkait stunting pada balita dapat diperoleh kader salah satunya dari kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Pelatihan kader akan meningkatkan terkait gizi khususnya stunting pada balita memberikan dampak yang positif terhadap kemampuan kader dalam melakukan deteksi dini terkait stunting. Notoatmojo . , mengemukakan bahwa pemberian informasi akan meningkatkan pengetahuan sehingga dapat menimbulkan kesadaran dan akhirnya mengahsilkan cara berpikir sesuai dengan pengetahuan tersebut sehingga terdapat perubahan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Selain hal tersebut kurangnya sarana dan prasarana menjadi faktor yang mempengaruhi tidak optimalnya penyempaian informasi terkait gizi khususnya kejadian stunting kepada EJOIN : Jurnal Pengabdian Masyarakat | 1609 Khairunnisak et al. - Volume 2 Nomor 11 . : 1605 - 1611 keluarga, seperti lokasi dan tempat yang digunakan untuk penyuluhan, media penyuluhan yang terbatas, lokasi yang tergolong sempit dan tidak representative untuk dilakukan penyuluhan atau diskusi terkait gizi bersama dengan keluarga. Menurut Notoatmojo . setelah seseorang mengalami stimulus atau objek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan dapat melaksanakan atau mempraktikan apa yang diketahui dan disikapi. Pendidikan kesehatan salah satunya dengan pelatihan merupakan proses perubahan, yang bertujuan untuk mengubah individu, kelompok dan masyarakat menuju hal-hal yang positif secara terencana melalui proses belajar. Perubahan tersebut mencakup pengetahuan, sikap dan keterampilan melalui proses belajar. Gambar 1. Kegiatan Pengabdian Masyarakat di Balai Desa Gampong Leuhan KESIMPULAN DAN SARAN Hasil kegiatan pengabmas menunjukkan bahwa terlihat peningkatan yang signifikan dari hasil evaluasi yang dilakukan kepada sasaran yaitu dari awalnya hanya 16,7%, namun setelah diberikan penyuluhan tentang deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita maka kebanyakan sasaran memiliki pengetahuan yang baik yaitu meningkat sebanyak 76,6%. Perlu dilakukan tindak lanjut terhadap kemampuan kader kesehatan dan ibu balita tentang deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Poltekkes Kemenkes Aceh yang telah mendukung sepenuhnya kegiatan pengabdian masyarakat ini baik secara moril dan juga materil. Selanjutnya kepada pihak Puskesmas Johan Pahlawan yang telah berperan besar dalam mendukung kegiatan deteksi dini stunting dan pemantauan tumbuh kembang balita, serta kepada rekan-rekan mahasiswa yang membantu dan memfasilitasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. EJOIN : Jurnal Pengabdian Masyarakat | 1610 Khairunnisak et al. - Volume 2 Nomor 11 . : 1605 - 1611 DAFTAR PUSTAKA