CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 ISSN : 2614-8900 E-ISSN : 2622-6545 AProgram Pascasarjana Universitas Papua, https://pasca. Strategi Pemasaran Pangan Pokok Potensial . bi-ubia. pada masyarakat Suku Arfak di Kampung Warmare. Marketing Strategy for Potential Staple Foods (Cucumber. in the Arfak Tribe Community in Warmare Village. Julin Christin Haurissa1. Kunto Wibowo2. Siti Halimatus SaAodiyah3* . Program Studi Agribisnis. Fakultas Pertanian. Universitas Papua. Jl. Gunung Salju Amban. Manokwari. Papua Barat *Email: s. sadiyah@unipa. Disubmit: 15 Januari 2026, direvisi: 30 Januari 2026, diterima: 31 Januari 2026 Doi : 10. 30862/casowary. ABSTRACT : This study aims to identify the factors that constitute strengths, weaknesses, opportunities, and threats in the marketing of tuber crops, as well as to determine effective strategies for marketing tuber commodities produced by the Arfak Tribe in Warmare Village. The main problems faced include farmersAo low understanding of marketing, limited market access, and price competition. This study employs a descriptive approach using a case study method with SWOT analysis. The results indicate that the strengths lie in more than 10 years of marketing experience, while the weaknesses are reflected in low production volumes. Opportunities are identified in the relatively high market prices of tubers, ranging from IDR 21,000 to IDR 30,000 per kilogram, whereas threats arise from intense competition from producers who cultivate three to four types of tubers. The study also found that chipprocessing industries purchase raw materials from Nenei Village. South Manokwari, due to the insufficient supply of tuber products in Manokwari Regency. The findings place this study in Quadrant I, which supports an aggressive strategy and emphasizes the SO (StrengthsAe Opportunitie. strategy, namely: . providing training in tuber cultivation, technological support for production facilities. establishing farmer groupAebased cooperatives to strengthen farmersAo price bargaining power and expand marketing distribution networks. Keywords: Marketing Strategy. Cassava. Arfak Tribe. SWOT. Warmare PENDAHULUAN Pangan adalah kebutuhan dan hak dasar bagi setiap individu. Sebagai kebutuhan dasar, pangan memiliki arti dan peran yang signifikan. Kekurangan pangan di suatu wilayah dapat memicu gejolak sosial dan ekonomi (Nugraha et al, 2. Hak merupakan salah satu hak asasi manusia. Mengingat pentingnya kebutuhan pangan, pemerintah terus berusaha meningkatkan ketahanan pangan, khususnya melalui peningkatan produksi dalam negeri. Ketahanan pangan di Indonesia merupakan isu kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pertumbuhan populasi, perubahan iklim, kebijakan Cakupan ketahanan pangan tidak hanya ketersediaan, tetapi juga CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 keberlanjutan produksi pangan (Badan Ketahanan Pangan, 2. Kondisi pangan dapat berpengaruh pada stabilitas ekonomi dan stabilitas nasional. Haddad dan Stifel . menjelaskan bahwa krisis pangan konsekuensi fiskal yang signifikan, di mana pemerintah dituntut untuk menyediakan alokasi anggaran yang besar guna mendanai subsidi pangan serta program bantuan sosial sebagai upaya menjaga ketahanan pangan dan stabilitas sosial ekonomi. Dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan masyarakat serta memperkuat ketahanan pangan pada suatu wilayah. Karsin . menyebutkan upaya yang dapat ditempuh meliputi peningkatan kapasitas produksi pangan, perluasan ketersediaan pangan, penetapan kebijakan harga yang stabil, penguatan sistem cadangan pangan, serta pelibatan aktif ketahanan pangan pada tingkat rumah Kabupaten Manokwari memiliki peran strategis sebagai salah satu pusat produksi pangan di Provinsi Papua Barat, khususnya untuk komoditas ubi-ubian. Data BPS Kabupaten Manokwari . menunjukkan bahwa produksi ubi jalar dan ubi kayu masing-masing mencapai 1. ton dan 934 ton, yang mencerminkan potensi lokal dalam mendukung ketahanan pangan daerah. Pengembangan komoditas pangan pokok seperti ubi kayu (Manihot esculent. , ubi jalar (Ipomoea batata. , dan talas (Colocasia esculent. tidak terlepas dari peran masyarakat Suku Arfak sebagai penduduk asli yang secara turun-temurun mengelola dan memanfaatkan sumber daya pangan berbasis kearifan lokal. Kampung Warmare di Distrik Warmare adalah salah satu Kampung di Kabupaten Manokwari dimana masyarakat Suku Arfak aktif melakukan kegiatan usahatani tanaman pangan. Ubi-ubian menjadi komoditi potensial karena didukung oleh ketersediaan lahan serta ketersediaan bibit dan benih secara kontinu serta memiliki hasil produksi yang cukup Pemasaran produksi pangan pokok memiliki prospek pasar yang terus Hal ini didorong beberapa alasan diantaranya kebutuhan pangan yang semakin meningkat seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, adanya program pemerintah untuk peningkatan pemberdayaan masyarakat lokal dan upaya mencapai tujuan program ketahanan pangan serta peningkatan ekonomi (Khairati Syahni. Pengembangan pemasaran komoditas pangan potensial daerah sangat diharapkan dapat meningkatkan pendapatan usahatani yang selanjutnya dapat meningkatkan Peningkatan pendapatan bagi petani akan memberikan motivasi dalam mengembangkan usahatani dan meningkatkan produksi pangan yang Strategi pemasaran merupakan upaya pengembangan pemasaran yang diperlukan dalam peningkatan pendapatan petani sebagai bagian penting dalam mendukung pengembangan komoditas pangan pokok masyarakat Suku Arfak. MATERI DAN METODE Tempat. Waktu. Subjek Penelitian Penelitian dilakukan di Kampung Warmare. Distrik Warmare. Kabupaten Manokwari. Penelitian berlangsung selama tiga minggu dimulai dari tanggal 10 Februari sampai 1 Maret 2025. Subjek penelitian adalah petani yang melakukan usahatani ubi-ubian. Dalam penelitian ini juga terdapat partisipan yaitu konsumen ubi-ubian. Sampel yang diambil sebanyak 30 dari 282 jiwa dan 15 konsumen sebagai Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan secara terstruktur, faktual dan akurat. Teknik CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yang menjadi kasus dalam penelitian ini adalah petani ubi-ubian Suku Arfak di kampung Warmare. Metode pengambilan contoh dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bagi petani Suku Arfak yang secara kontiniu aktif melakukan usahatani ubi-ubian di Kampung Warmare. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Metode analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis SWOT. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Sebaran Responden Menurut Tingkat Pendidikan Petani dan Konsumen Tahun 2025 Tingkat Pendidika Tidak Bersekola SMP SMA/SM Jumlah Oc Nisbah Oc Nisbah Petan (%) Konsume (%) 13,33 6,67 53,33 13,33 26,66 6,67 13,33 6,67 Identitas Responden Sumber: Data Primer Tahun 2025 Umur Umur responden dibedakan menjadi dua kelompok menurut BPS . , yaitu usia produktif . - 64 tahu. dan usia non produktif (< 15 tahun dan > 64 tahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia responden baik untuk kelompok petani dan kelompok konsumen berada pada kisaran usia 21 Ae 61 tahun atau berada pada rentang usia produktif. Bahwa petani ubi-ubian memiliki kemampuan fisik dan mental yang merupakan potensi tenaga kerja sekaligus sebagai penentu keberlanjutan kegiatan Pada konsumen ubi-ubian, kelompok produktif merupakan kelompok dengan daya beli yang relatif stabil dan dapat mempengaruhi permintaan ubi ubian. Konsumen dengan usia produktif ini umumnya sebagai penentu pola konsumsi dalam rumahtangga. Hasil wawancara diketahui bahwa ratarata konsumen memiliki tingkat pendidikan yang telatif lebih tinggi dibandingkan dengan petani. Tinggi rendahnya tingkat pendidikan petani dapat mempengaruhi mereka untuk aktif mendapatkan dan memilih informasi serta kecepatan mengadopsi inovasi dalam mengelola usahataninya mulai dari persiapan lahan hingga pemasaran. Bagi konsumen, dapat berpengaruh dalam pengambilan keputusan memilih dan menetapkan jenis bahan yang di konsumsi dalam rumah tangganya yang lebih berkualitas. Tingkat Pendidikan Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan formal yang responden dalam meningkatkan wawasan untuk dapat mengembangkan kemampuan Sebaran responden tertera pada tabel dibawah ini: Mata Pencaharian Mata pencaharian merupakan sumber pendapatan utama, pendapatan diperoleh dari kegiatan bekerja yang rutin dilakukan untuk memenuhi kebutuhan. Tabel 2 dan 3 menunjukkan bahwa sebagian besar petani memiliki pekerjaan utama sebagai petani. Hal ini menunjukan bahwa sektor pertanian sebagai penopang utama kehidupan mereka. Selain itu kegiatan bertani merupakan warisan leluhur, khususnya bagi masyarakat Suku Arfak untuk mendapatkan bahan pangan. Sementara untuk konsumen tersebar pada beberapa profesi. CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 Identifikasi Faktor Lingkungan Internal dan Eksternal Komoditas Potensial Pangan Pokok Masyarakat Suku Arfak Analisis SWOT menurut David . , adalah alat yang membantu manajer untuk mengevaluasi posisi kompetitif suatu perusahaan dengan megidentifikasi faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja organisasi. Tabel 2. Sebaran Responden Menurut Mata Pencaharian Petani di Kampung Warmare Tahun 2025 Mata Pencaharian Utama: Petani PNS Aparat Kampung Satpam Pegawai Honor Wiraswasta Jumlah Sampingan Petani Wirausaha Pembabat Jalan Tidak Ada Jumlah Jumlah Responden Nisbah (%) 3,33 3,33 3,33 6,67 3,33 3,33 66,67 Sumber: Data Primer Tahun 2025 Tabel 3. Sebaran Responden Konsumen Menurut Mata Pencaharian Tahun 2025 Mata Pencaharian Utama: Pensiunan PNS Ibu Rumah Tangga Wirausaha P3K Guru Wiraswasta Mahasiswa Jumlah Sampingan Wiraswasta Wirausaha Tidak Ada Jumlah Jumlah Responden Nisbah (%) 6,67 33,33 6,67 6,67 6,67 3,33 6,67 6,67 73,77 Sumber: Data Primer Tahun 2025 Analisis SWOT digunakan dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi bebagai faktor-faktor lingkungan internal dan eksternal dalam upaya merumuskan Analisis memaksimalkan kekuatan . dan peluang . , secara bersamaan . dan ancaman . Identifikasi Faktor Strategi Internal Pengalaman pemasaran Pengalaman pemasaran. Harjadi . menyatakan bahwa pengalaman pemasaran merupakan konsep strategis yang mencerminkan pergeseran pemasaran dari pendekatan fungsional menuju pendekatan berbasis pengalaman terhadap dikembangkan oleh Pine dan Gilmore serta Schmitt. Pengalaman pemasaran juga merujuk pada lamanya individu terlibat dalam aktivitas pemasaran. Sebaran responden petani berdasarkan pengalaman pemasaran di Kampung Warmare pada tabel berikut: Tabel Seberan Petani Ubi-Ubian Menurut Pengalaman Pemasaran Tahun 2025 Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Kriteria (T. O 3 Tahun 4 - 6 Tahun 7 - 9 Tahun Ou 10 Tahun Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Tabel 4 menunjukkan adanya variasi pengalaman pemasaran petani yang dipengaruhi oleh perbedaan usia. Sebagian pendidikan memilih kembali ke kampung untuk membantu keluarga, sementara pengalaman kerja sebelum kembali. Pengalaman pemasaran tersebut berperan penting dalam membantu petani memahami kebutuhan pasar, menyesuaikan produksi dengan permintaan, serta meningkatkan CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 pendapatan melalui penjualan hasil panen secara langsung kepada konsumen atau ke pasar yang lebih luas Jumlah Produksi Jumlah produksi. Produksi dapat dipahami sebagai suatu sistem kegiatan yang mengonversi input menjadi output melalui mekanisme terorganisasi yang mencakup aktivitas utama maupun aktivitas pendukung dalam penciptaan barang atau jasa (Assauri, 2008 dalam Setiasih et al . Dalam konteks perusahaan, proses keberhasilan penciptaan produk. Jumlah produksi menunjukkan banyaknya produk yang berhasil dihasilkan oleh suatu unit usaha, perusahaan, atau kegiatan usahatani faktor-faktor produksi yang tersedia, seperti tenaga kerja, modal, bahan baku, dan teknologi. Aspek penting dalam pemasaran hasil ubi-ubian adalah ketersediaan produk dalam jumlah yang cukup. Jumlah produksi memiliki peranan penting karena jika jumlah produksi banyak kemudian permintaan sedikit maka akan terjadi penurunan harga yang dapat merugikan petani, jika produksi sedikit namun permintaan meningkat maka harga produk juga meningkat dan dapat berdampak terhadap keuntungan yang diperoleh petani. Jumlah produksi ubi-ubian yang di hasilkan petani tertera dalam tabel 5 berikut: Tabel 5. Sebaran Petani Ubi-Ubian di Kampung Warmare Menurut Jumlah Produksi. Tahun 2025 Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Kriteria O 39 kg 40Ae69 kg 70Ae99 kg Ou 100 kg Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Tabel 5 menunjukkan jumlah produksi dari petani setiap musim tanam sebanyak 0 Ae 39 kg dengan presentase 60%. Artinya rata rata produksi dari 60% petani di Kampung Warmare setiap hari hanya mampu menghasilkan ubi ubian sebanyak 0,33 kg, dengan asumsi bahwa setiap kali musim panen memiliki durasi 4 bulan. Hal ini menunjukkan rendahnya jumlah produksi dibandingkan dengan jumlah yang diminta oleh pasar. Hasil wawancara diperoleh informasi bahwa setiap hari pasar membutuhkan rata-rata A 252 kg. Kualitas Ubi-ubian Kualitas produk menurut Kotler dan Amstrong . dalam Yusup dan Nurmahdi . , adalah kemampuan suatu barang untuk memberikan hasil/ kinerja yang sesuai atau melebihi dari apa yang diinginkan konsumen. Petani tentu berupaya untuk mengahasilkan produk dengan kualitas yang baik, karena kualitas merupakan aspek penting dalam setiap pemasaran produk. Demikian pula, setiap konsumen akan memilih kualitas yang baik sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh konsumen Berikut adalah kriteria ubi yang dipahami petani yang memiliki kualitas baik adalah: Tabel 6. Sebaran Pendapat Petani tentang Kualitas Ubi-Ubian. Tahun 2025 Kategori Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Kriteria 1 indikator 2 indikator 3 indikator 4 indikator Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Data pada tabel 6 sebaran petani menurut kualitas ubi-ubian di atas dapat dilihat, bahwa terdapat 70% responden tahu dan paham seperti apa kriteria pemilihan ubi yang memiliki kualitas baik serta diinginkan Sehingga petani juga paham ubi seperti apa yang harus diproduksi agar sesuai dengan kriteria pasar, seperti . Ubi yang kering tapi masih segar. Bentuk terlihat padat & berukuran besar. Ada sisa tanah/pasir. Tidak ada bintik atau CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 Biaya Operasional Usahatani Biaya operasional yang dikemukakan oleh Widearahim . , merupakan komponen biaya operasi yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kegiatan Biaya operasional adalah biaya yang habis dipakai dalam satu kali produksi Dalam kegiatan usahatani, biaya operasional meliputi biaya pupuk,obat-obatan, tenaga kerja, peralatan, pajak dan lain-lain. Pasaribu. C et all . Biaya operasional usahatani merupakan modal yang dikelurkan oleh petani dalam menghasilkan sebuah produk. Biaya operasional usahatani dikeluarkan sesuai operasional usahatani dibagi menjadi dua bagian yaitu biaya tetap dan biaya variabel. Harga sebuah produk yang dijual dipasar ditentukan oleh biaya operasional usahatani dan besaran yang ditetapkan untuk memperoleh keuntungan. Tabel. 7 Sebaran Petani Manurut Biaya Operasional. Tahun 2025 Kategori Tidak Efisian Impas Cukup Efisien Sangat Efisien Kriteria Penerimaan < Biaya Operasional Penerimaan = Biaya Operasional Keuntungan antara 1% Ae 10% dari biaya Keuntungan Ou 11% dari biaya operasional Oc Res Keragaman jenis ubi yang diusahakan menurut Wuryantoro dan Arifin . umbi-umbian merupakan bahan yang berasal dari dalam tanah, misalnya ubi kayu, ubi jalar, kentang, garut, gadung, kimpul, talas, gembili, ganyong, dan sebagainya, yang umumnya umbi-umbian tersebut merupakan sumber karbohidrat terutama Keragaman jenis ubi-ubian yang diusahakan, dapat memenuhi kebutuhan pasar sehingga memberikan pilihan yang lebih banyak pada konsumen untuk memilih dan membeli ubi sesuai dengan keinginan mereka. Berikut sebaran petani menurut ubi yang diproduksi: Tabel Sebaran Petani Menurut Keragaman Jenis Ubi yang Diusahakan. Tahun 2025 Kategori Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Kriteria 1 jenis ubi 2 jenis ubi 3 jenis ubi > 3 jenis ubi Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Petani di Kampung Warmare sebagian besar memproduksi tiga macam ubi-ubian yaitu singkong . , betatas . dan talas . Hanya 6,67% petani atau sebanyak 2 petani yang menanam dua macam ubi. Sumber: Data Primer Tahun 2025 Identifikasi Faktor Strategi Eksternal Pada Tabel 7 diperoleh dari hasil perhitungan jumlah biaya dari jumlah tanaman dalam satu lahan yang diproduksi. Hasil wawancara bahwa 96,67% responden petani memperoleh keuntungan yang besar dengan nilai rata-rata Rp. 790 per Kg, dengan biaya produksi yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp. 809 per Kg . Hal ini disebabkan karena dalam satu lahan tidak hanya menanam ubi-ubian saja tetapi juga terdapat lebih dari 3 tanaman, diantaranya rica dan sayuran atau padi ladang. Harga Pasar Harga pasar ubi-ubian didefinisikan oleh Dharmesta dan Irawan . 5: . dalam Manope . , harga adalah jumlah uang . an kemungkinan beberapa produk memperoleh kombinasi produk dan layanan Suatu barang/jasa pasti memiliki nilai yang harus dibayar, sesuai dengan besarnya pengorbanan yang telah dikeluarkan. Namun semakin besarnya nilai /harga dari barang/jasa maka akan mengurangi daya beli terhadap barang/jasa tersebut. Fluktuasi harga mempengaruhi jumlah Keragaman Diusahakan Jenis Ubi-Ubian CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 penerimaan yang diperoleh berdasarkan satuan produk tersebut. Adapun variasi nilai/harga ubi-ubian yang diterima oleh petani di Kampung Warmare berdasarkan satuan produk yang mereka tawarkan: Tabel 9. Sebaran Petani Menurut Variasi Harga Pasar. Tahun 2025 Kategori Sangat mahal Mahal Tidak mahal Sangat murah Kriteria Ou Rp 31. 000/kg Rp 21. 000 Ae Rp 000/kg Rp 11. 000 Ae Rp 000/kg O Rp 10. 000/kg Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Data Tabel 9 menunjukkan bahwa produknya pada kisaran harga Rp11. 000 Ae Rp20. 000/kg dengan harga rata-rata Rp 667/kg,. Sementara harga yang ditawarkan per tumpuknya bervariasi Rp10. Rp20. Rp30. 000 dan Rp50. 000 dengan rata-rata sebesar Rp47. Nilai/harga yang diterima petani sudah cukup baik sebagai penunjang untuk mengembangkan produk yang dipasarkan. Rata-rata produksi petani sebesar 52,8 kg yg dipasarkan setiap musim tanam. Aksesbilitas Transportasi Miro aksesibilitas transportasi adalah suatu kondisi di mana sistem transportasi dapat beroperasi secara efisien tanpa mengalami kemacetan yang signifikan, sehingga pergerakan menjadi lebih cepat dan Aksesbilitas transportasi menentukan aktivitas pemasaran produk barang/jasa dapat berjalan secara efektif dan efisien. Penilaian ketersediaan sarana transportasi yang menghubungkan Manokwari Ae Warmare dan sebaliknya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel Sebaran Petani Manurut Aksebilitas Transportasi Manokwari Tahun 2025 Kategori PP O 3 kali Hari 4 Ae 6 kali/Hari 7-9 kali/Hari Ou 10 kali/Hari Ae Warmare Kriteria Kurang Lancar Cukup Lancar Lancar Sangat Lancar Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Tabel 10 menunjukkan arus mobilitas dari Manokwari - Warmare cukup lancar dengan 4-6 kali PP/hari . ,33%). tujuan dari dan ke wilayah tersebut mudah untuk diakses. Jadwal keberangkatan dari Kampung Warmare biasanya di mulai subuh sekitar jam 4-5 pagi, untuk mengangkut petani yang akan berjualan ke pasar wosi Manokwari maupun kembali ke Kampung Warmare pada sore menjelang malam hari. Segmentasi Konsumen Segmentasi konsumen Schiffman & Kanuk . , membagi konsumen menjadi dua jenis utama: pertama konsumen pribadi (Personal Consume. Membeli barang dan jasa untuk konsumsi pribadi, rumah tangga, atau keluarga, (Organizational Consume. : Meliputi perusahaan, pemerintah, dan institusi lain yang membeli produk untuk kepentingan produksi atau operasional. Konsumen ubi-ubian beragam ada konsumen individu, rumah tangga, maupun industri, tergantung dari keperluan konsumen dalam mengonsumsi ubi-ubian. Konsumen mengonsumsi dalam jumlah yang sedikit, kosumen industri mengonsumsi untuk keperluan industri dalam jumlah yang Terdapat 50% petani yang menjaw mengatakan bahwa konsumen mereka adalah individu dengan jumlah pembelian 1 Ae 2 tumpuk. Kemudian produk ubi-ubian mereka harus di jual 2 Ae 3 hari hingga habis Sementara dari responden konsumen mengatakan bahwa ubi-ubian yang dipakai oleh beberapa industri keripik CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 di Manokwari dibeli Manokwari Selatan. Tabel Ransiki. Sebaran Petani Menurut Segmentasi Konsumen. Tahun 2025 Kategori Kurang Banyak Cukup Banyak Banyak Sangat Banyak Kriteria Oc Res Individu Rumah Tangga 7 Industri Individu Rumah Tangga 8 Industri Sumber: Data Primer Tahun 2025 Preferensi Konsumen (Selera Konsume. Shiffman dan Kanuk dalam Miro . , selera konsumen adalah suatu yang diperhatikan konsumen dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan mengabaikan produk, atau ide yang diharapkan konsumen untuk dapat mengkonsumsi produk yang ditawarkan. Preferensi konsumen yang dilihat yaitu selera terhadap ubi-ubian yaitu singkong . , batatas . dan talas . , selain itu peneliti juga ingin mengetahui apakah terdapat jenis ubi lain yang menjadi selera atau disukai konsumen namun tidak dijual atau diproduksi oleh petani. Tabel Berikut selera konsumen terhadap ubiubian: Tabel 12. Sebaran Konsumen Menurut Preferensi. Tahun 2025 Kategori Kurang Baik Cukup Baik Baik Sangat Baik Kriteria 1 Macam 2 Macam 3 Macam > 3 Macam Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Tabel 12 menggambarkan selera 15 responden konsumen sebanyak 53,33% yang hanya menyukai satu macam ubi. Dari 8 terdapat 6 orang menyukasi betatas. sini, peminat petatas relatif lebih banyak, dibandingkan dengan ubi lainnya. Jenis betatas menjadi pilihan pedagang gorengan yang banyak diminati oleh konsumen dibandingkan dengan jenis ubi lainnya. Namun selera konsumen bervariasi dan dapat berubah sesuai dengan kebutuhan individu, rumah tangga maupun industri. Diversifikasi Produk Konsumsi Suyastiri . dan Umanailo . menjelaskan bahwa diversifikasi pangan dalam perspektif ketersediaan tercermin dari keberagaman jenis bahan menekankan pada pengembangan variasi aktivitas produksi pangan guna memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Diversifikasi produk konsumsi adalah variasi dalam mengonsumsi sebuah produk barang/jasa. Diversifikasi ubi-ubian penganekaragaman produk yang dibuat ubi-ubian Diversifikasi produk konsumsi ubi-ubian juga dapat bermanfaat bagi petani karena dapat meningkatkan penerimaan dan pendapatan petani yang disebabkan oleh tingginya permintaan ubi-ubian. Berikut diversifikasi konsumsi. Pada tabel 13 dari 15 konsumen yang diwawancarai terdapat 53,33% yang mengolah ubi-ubian dengan cara diolah menjadi gorengan . Hal ini dikarenakan beberapa dari responden konsumen adalah penjual gorengan yang tergolong sebagai konsumen rumah tangga, selain ini dari 8 responden terdapat 1 responden yang menjual jajanan bolabola ubi namun jajan tersebut diolah juga dengan cara digoreng. Dari tabel tersebut digambarkan juga bahwa terdapat 2 konsumen yang merupakan pembuat keripik yang diangga sebagai konsumen industri dengan jumlah permintaan ubiubian yang banyak. Kemudian ada beberapa konsumen individu yang beberapa mengatakan diolah dengan cara digoreng dan direbus. CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 Tabel 13. Sebaran Konsumen Menurut Diversifikasi Produk Konsumsi. Tahun 2025 Kategori Sangat Mudah Diolah Mudah Diolah Cukup Mudah Diolah Tidak Mudah Diolah Kriteria Pengolahan tanpa tambahan bahan dan tanpa proses lanjutan dengan tambahan bahan sederhana dan satu tahap proses dengan kombinasi bahan dan teknik pemanasan berulang melibatkan proses penumbukan, atau pencetakan menjadi bentuk baru Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Motivasi Konsumsi (Persepsi Konsume. Motivasi Konsumsi . ersepsi konsume. menurut Lestari dan Fadila dalam Sangadji & Sopiah, . , persepsi adalah proses memilih, mengatur, dan diterima oleh seseorang melalui kelima penciuman, dan sentuhan. Motivasi Konsumsi yaitu pendangan konsumen dalam mengonsumsi ubi-ubian, atau dapat dikatakan konsumen melihat ubi-ubian sebagai non prioritas, pelengkap, alternatif pokok dan kebutuhan utama baik untuk kebutuhan pribadi, rumah tangga maupun industri. Tabel 14 menjelaskan bahwa dari 15 konsumen yang diwawancarai terdapat 66,66% mengatakan ubi-ubian sebagai kebutuhan untuk bahan baku usaha, baik usaha rumah tangga dan industri. Bagi para menggunakan ubi-ubian sebagai bahan baku, maka persediaan produk ubi-ubian harus ada setiap harinya. Kebijakan Pemerintah Dukungan pemerintah daerah Provinsi Papua Barat dengan memberikan himbauan oleh Pj Gubernur yaitu gerakan pangan lokal dimana pangan lokal dijadikan menu utama wajib dalam setiap kegiatan pemerintahan. Tujuan utama program Gerakan Pangan Lokal adalah upaya mendukung program ketahanan pangan dan membantu mengurangi ketergantungan akan beras. Himbauan tersebut diharapkan sekaligus dapat membantu dan memberikan dapak positif bagi petani yang mengusahakan pangan pokok dalam hal ini ubi-ubian. Tabel dibawah ini menggambarkan dampak himbauan pemerintah yang dirasakan oleh Tabel 14. Sebaran Konsumen Menurut Persepsi Konsumsi Tahun Kategori Kriteria Non Konsumsi sesekali/seremonial Konsumsi selingan/variasi Subtitusi/sebagai pengganti nasi Konsumsi harian sebagai makanan Pelengkap Alternatif Pokok Kebutuhan Utama Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Tabel 15. Dampak Dukungan Pemerintah yang Dirasakan oleh Petani di Kampung Warmare Tahun Kategori Kriteria Kurang Baik Cukup Baik Baik Tidak ada dampak yang dirasakan Kurang berdampak bagi petani Berdampak tapi belum optimal Sangat berdampak bagi petani Sangat Baik Oc Res Sumber: Data Primet Tahun 2025 Tabel 15 menunjukkan pendapat dari 100% petani tentang kebijakan yang dibuat oleh Pj Gubernur tidak berdampak bagi Hal ini dapat dipahami karena CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 frekuensi dan volume dalam kegiatan pemerintahan tidak banyak, sehingga tidak ada dampak yang dirasakan. Petani berharap bahwa kedepan ada program atau kebijakan pemerintah yang mampu memberikan dampak langsung bagi petani. Harapan ini sejalan dengan UndangUndang Nomor 19 Tahun 2013 mengamanatkan perlunya perlindungan dan pemberdayaan petani guna menunjang kebijakan pemerintah dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan pencapaian ketahanan pangan yang berkesinambungan Pesaing (Kompetito. Friadi, et al . dalam Ishak, et al . , kompetitor adalah perseorangan atau perusahaan yang menjual atau menghasilkan produk sama atau serupa dengan produk kita, berupa barang atau jasa, baik itu bentuk, manfaat, atau fungsi. Jenis pesaing dalam penelitian ini sesuai dengan pernyataan Tanuwidjaja . dalam Ishak et. Al . yaitu kompetitor langsung. Adanya pesaing membuat petani khawatir mempertahankan kelangsungan usaha mereka dalam memperoleh keuntungan. Perlu di tinjau bahwa petani Suku Arfak di Kampung Warmare menganggap memiliki pesaing dari sisi: . harga, . kuantitas, . jumlah usaha sejenis. Tabel 16. Sebaran Petani Menurut Pesaing (Kompetito. Tahun 2025 Kategori Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi Kriteria 1 dari 4 item 2 dari 4 item 3 dari 4 item 4 item Oc Res Sumber: Data Primer Tahun 2025 Tabel 16 diatas menggambarkan bahwa petani menganggap terdapat pesaing yang tinggi dapat masuk menembus pangsa pasar mereka dan menganggapnya sebagai Namun disisi lain adanya pesaing seharusnya dapat memotivasi petani untuk menghasilkan ubi-ubian yang berkualitas. Dalam perspektif perilaku produsen, rendahnya motivasi peningkatan kualitas produksi dipengaruhi oleh keterbatasan akses terhadap informasi pasar dan insentif ekonomi, serta preferensi produsen yang dibentuk oleh nilai budaya lokal yang lebih menekankan keseimbangan hidup daripada maksimalisasi keuntungan Hasil Analisis SWOT Hasil analisis SWOT . trenghts, weaknesses, opportunities, threar. dari penelitian ini dengan mempertimbangkan faktor internal dan eksternal pada kegiatan pemasaran komoditas ubi-ubian sebagai bahan pangan pokok potensial di Kampung Warmare adalah sebagai berikut: Kekuatan (Strength. Pengalaman Pemasaran Biaya Operasional Usahatani Keanekaragaman Ubi Diusahakna Kualitas Ubi-Ubian Kelemahan (Weaknes. Jumlah Produksi Peluang (Oppourtunitie. Harga Pasar Ubi-Ubian Aksebilitas Transportasi Diversifikasi Produk Konsumsi Motivasi Konsumsi (Persepsi Konsume. Kebijakan Pemerintah Ancaman Segmentasi Konsumen Preferensi (Seler. Konsumen Pesaing (Kompetito. Analisis Strategi Berdasarkan hasil identifikasi faktor internal dan eksternal, tahap selanjutnya adalah menyusun tabel matriks Internal Strategic Faktors Analysis Summary (IFAS) dan tabel matriks Eksternal Strategic Faktors Analysis Summary (EFAS). Tahap ini merupakan tahap awal dalam merumuskan alternatif strategi pemasaran ubi-ubian Suku Arfak di Kampung Warmare. CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 Analisis faktor internal dan eksternal menggunakan matriks IFAS dan matriks EFAS Faktor-faktor strategi internal dan eksternal diperoleh dari hasil wawancara dan pengisian kuesioner oleh responden adalah seperti berikut: Strategi pengembangan pemasaran petani Suku Arfak di Kampung Warmare Tabel 17. Matriks Internal Strategic Faktors Analysis Summary (IFAS) Faktor-Faktor Strategi Internal Kekuatan Bobo Ratin Sko 1 Pengalaman 0,25 0,75 Pemasaran 2 Biaya 0,18 0,72 Oprasional Usahatani 3 Keanekaragama 0,20 0,60 n Jensi Ubi yang Diusahakan 4 Kualitas Ubi- 0,17 0,68 Ubian Kelemahan 1 Jumlah Produksi 0,20 0,40 Total 3,15 Gambar 1. Diagram Analisis SWOT Pemasaran Ubi-Ubian Petani Suku Arfak Dari perpotongan keempat garis faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman, maka didapatkan koordinat . ,35 0,. yaitu: Skor Kekuatan - Skor Kelemahan . Skor Peluang - Skor Kelemahan 2,75-0,40 . 1,05-1,00 . 2,35 . 0,05 Tabel 18. Matriks Eksternal Strategic Faktors Analysis Summary (EFAS) Faktor-Faktor Strategi Eksternal Peluang Bobot Rating Skor Harga 0,15 0,47 Aksebilitas 0,15 0,30 Transportasi Diversifikasi 0,10 0,10 Produk konsumsi Motivasi 0,10 0,20 Konsumsi (Persepsi Konsumen Ancaman Segmentasi 0,10 0,20 Konsumen Preferensi/ 0,10 0,09 Selera Konsumen Kebijakan 0,10 0,25 Pemerintah (Dukungan Pemerinta. Pesaing 0,20 0,60 (Kompetito. Total 2,05 Gambar 2. Diagaram Analisis SWOT Pemasaran Ubi-Ubian Petani Suku Arfak di Kampung Warmare Hasil analisa pada mastriks SWOT diperoleh koordinat 2,35 . 0,05 yang mana titik koordinat ini berada pada kuadran I, yakni harus mengambil strategi agresif. Artinya, usaha tersebut memiliki kapasitas internal yang kuat dan lingkungan eksternal yang mendukung. Sehingga perlu bertindak proaktif dan ekspansif. Artinya petani harus memaksimalkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk merebut peluang pasar secara optimal, sehingga usaha dapat tumbuh lebih cepat dan CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 berkelanjutan bagi petani ubi-ubian Suku Arfak di Kampung Warmare. Strategi pengembangan pemasaran dari analisis Matriks SWOT penelitian ini adalah: Strategi SO (Strengths-Opportunitie. Pelatihan pembudidayaan ubiubian serta pengolahan pasca panen ubi-ubian. Selain itu, perlu diberikan baantuan teknologi sarana produksi Hal ini perlu dilakukan untuk meningkatkan jumlah produksi yang selama ini masih tergolong rendah. Strategi agresif dalam pemasaran ubi-ubian peningkatan jumlah produksi guna memperluas penguasaan pasar dan meningkatkan volume penjualan. Pendekatan ini sejalan dengan teori orientasi produksi . roduction orientatio. yang dikemukakan oleh Kotler & Keller . menyatakan bahwa konsumen cenderung menyukai produk yang mudah diperoleh dan memiliki Dengan meningkatkan kapasitas produksi, berkelanjutan di pasar, dan mampu memenuhi permintaan konsumen dalam skala besar. Membentuk koperasi kelompok tani untuk memperkuat posisi harga yang ditawarkan petani dan memperluas jaringan distribusi pemasaran ubi-ubian. tujuan memperkuat posisi tawar harga petani serta memperluas jaringan distribusi pemasaran. Strategi ini sejalan dengan teori kelembagaan . nstitutional theor. yang dikemukakan oleh North . , yang menyatakan bahwa lembaga ekonomi formal dibentuk untuk mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan efisiensi dalam interaksi ekonomi. koperasi juga didukung oleh teori aksi kolektif . ollective action theor. yang dikemukakan oleh Olson . , yang menjelaskan bahwa individu-individu dengan kepentingan ekonomi yang sama akan memperoleh manfaat yang lebih besar apabila bertindak secara Dari perspektif struktur pasar, strategi ini juga berkaitan dengan teori daya tawar pemasok . upplier bargaining powe. dalam kerangka Five Forces Model yang dikemukakan oleh Porter . Dengan adanya koperasi, petani tidak lagi bertindak sebagai pemasok individu yang lemah, kolektif dengan kapasitas pasokan yang besar, sehingga mampu persyaratan penjualan. Strategi (Strengths-Threat. David, . Strategi pemanfaatan kekuatan internal untuk menghadapi ancaman eksternal yang berasal dari persaingan pasar dan perubahan selera konsumen. Strategi ST pada pemasaran ubi ubian dapat dilakukan dengan : Meningkatkan kuantitas ubi-ubian agar mampu Ketersediaan lahan, adaptabilitas tanaman ubi-ubian merupakan kekuatan utama yang meningkatkan kapasitas dan mutu Peningkatan kualitas ubiubian juga didukung oleh teori keunggulan bersaing . ompetitive advantag. yang dikemukakan oleh Porter . , yang menyatakan bahwa daya saing suatu produk peningkatan kualitas dan efisiensi Ubi-ubian kualitas yang baik, seperti ukuran seragam, kadar air terkontrol, dan CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 bebas dari cacat, akan lebih mampu Menjalin kerja sama dengan pihakpihak (Dinas Perindustrian Koperasi, kelompok usaha dan lain-lai. guna memperluas pangsa pasar baik lokal maupun luar daerah. Hal ini perlu dilakukan karena pola kerjasama dengan berbagai pihak terkait masih sangat terbatas. Kerja sama relevan dengan teori . takeholder Freeman . , yang menyatakan bahwa keberhasilan suatu organisasi hubungan dengan pihak-pihak yang berkepentingan. strategi ini juga didukung oleh teori jaringan . etwork theor. dalam pemasaran, yang menekankan pentingnya hubungan antarorganisasi dalam (Johanson & Mattsson, 1. Melalui jaringan kerja sama, pelaku usaha ubi-ubian dapat memperluas saluran distribusi dan menjangkau pasar baru di luar mengurangi risiko keterbatasan pasar lokal dan tekanan harga akibat persaingan. Menjual produk ubi-ubian dengan harga yang kompetitif dengan menurut Kotler dan Keller . , harga merupakan salah satu elemen bauran pemasaran yang paling fleksibel dan sensitif terhadap perubahan pasar, terutama dalam pasar dengan tingkat persaingan tinggi. Penetapan harga pembelian konsumen dan menjaga daya tarik produk ubi-ubian di preferensi konsumen Strategi WO (Weaknesess-Opportunitie. Menjalin . ndividu, rumah tangga dan Strategi ini didukung oleh teori pemasaran hubungan . elationship marketin. , yang membangun hubungan jangka panjang dengan pelanggan untuk menciptakan nilai dan loyalitas (Morgan & Hunt, 1. Dalam ubi-ubian, terciptanya kepercayaan, kepastian permintaan, serta stabilitas harga, kelemahan posisi tawar petani. Dari perspektif teori saluran distribusi. Kotler dan Keller . menyatakan bahwa penguatan produsen dan konsumen dapat memperpendek saluran distribusi Dengan demikian, kerja konsumen merupakan strategi WO yang efektif karena memanfaatkan peluang permintaan pasar untuk mengatasi kelemahan struktural dalam pemasaran ubi-ubian. Mengoptimalkan pemasaran dan penditribusian produk dengan pengaturan pola Pendekatan ini didukung oleh teori manajemen rantai pasok, yang menekankan pentingnya produksi dan distribusi untuk responsivitas terhadap permintaan pasar (Chopra & Meindl, 2. Selain itu, menurut Kotler dan Keller . , kontinuitas pasokan merupakan salah satu faktor CASSOWARY volume 9. : Januari 2026: 67 - 82 hubungan jangka panjang dengan konsumen dan distributor. Pasokan ubi-ubian yang stabil akan meningkatkan kepercayaan pasar dan membuka peluang pemasaran yang lebih luas, termasuk kerja sama dengan konsumen industri. Strategi WT (Weaknesess-Threat. Strategi WO bertujuan meminimalkan kelemahan internal dengan memanfaatkan Dalam pemasaran hasil pertanian, kelemahan seperti keterbatasan akses pasar, informasi konsumen, dan ketergantungan pada perantara dapat diatasi melalui peluang berupa permintaan pasar dan kemitraan dengan konsumen akhir. Peningkatan pengetahuan pasca panen kepada petani melalui produk olahan ubi-ubian memperluas permintaan pasar. Peningkatan pengetahuan pascapanen juga berkaitan dengan teori nilai tambah, yang menekankan pentingnya pengolahan hasil pertanian untuk meningkatkan daya saing dan memperluas pasar (Porter, 1. Produk olahan ubi-ubian, seperti tepung, keripik, atau makanan setengah jadi, memiliki umur simpan lebih panjang dan segmen pasar yang lebih luas dibandingkan produk segar, sehingga mampu mengurangi Selain itu. FAO . menyebut, penerapan teknologi dan praktik pascapanen yang tepat dapat mengurangi kehilangan hasil serta meningkatkan kualitas produk pertanian. Hal ini menjadi penting dalam menghadapi ancaman fluktuasi harga dan persaingan dengan produk substitusi. Lebih lanjut, berdasarkan teori difusi inovasi yang dikemukakan oleh Rogers . , peningkatan pengetahuan dan adopsi inovasi pengolahan oleh petani akan mempercepat penerimaan teknologi baru yang dapat memperkuat ketahanan usaha tani terhadap tekanan pasar. KESIMPULAN Hasil analisis faktor internal dan faktor eksternal, yang menjadi kekuatan adalah pengalaman pemasaran yang cukup lama, biaya operasional usahatani relatif rendah, terdapat keragaman jenis ubi-ubian yang diusahakan dan kualitas ubi-ubian yang cukup baik. yang menjadi kelemahan adalah jumlah produksi yang terbatas. menjadi peluang adalah harga ubi-ubian yang cukup baik di pasar, aksesibilitas transportasi yang lancar, adanya kebijakan pemerintah mewajibkan menghidangkan pangan lokal sebagai menu wajib dalam kegiatan dan event, terdapat diversifikasi produk konsumsi dan motivasi konsumsi . ersepsi konsume. dan yang menjadi ancaman adalah segmentasi konsumen, preferensi konsumen . elera konsume. Posisi pada diagram SWOT ubi-ubian petani Suku Arfak di Kampung Warmare berada pada kuadran I, yakni mendukung strategi agresif. Prioritas strategi yang dapat direkomendasikan kepada petani adalah sebagai berikut: Pelatihan pembudidayaan ubi-ubian serta pengolahan pasca panen ubi-ubian dan bantuan teknologi sarana produksi maupun teknologi pengolahan pasca panen untuk menciptakan produk Membentuk koperasi tani berbasis kelompok tani untuk memperkuat posisi harga yang ditawarkan petani dan memperluas jaringan distribusi pemasaran ubi-ubian. DAFTAR PUSTAKA