Vol 2 No. 6 November 2025 P-ISSN : 3047-2792 E-ISSN : 3047-2032. Hal 200 - 207 JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jimat Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI: https://doi. org/10. 69714/s5c6e915 ANALISIS PENERAPAN AKUTANSI AKRESI PADA USAHA BUDIDAYA IKAN LELE DENGAN PERSYARATAN STANDAR AKUTANSI (PSAK) 241 DI KABUPATEN MOJOKERTOKO Irza Fajrul Falah a* a Fakultas Ekonomi dan Bisnis / Jurusan Akutansi, irzafalah7. if@gmail. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Jawa Timur Penulis Korespondensi: Irza Fajrul Falah ABSTRACT The purpose of this research is to analyze the application of accrual accounting in tilapia farming businesses in Mojokerto Regency and its alignment with the applicable Financial Accounting Standards (FAS), particularly FAS 241. Tilapia farming is one of the rapidly growing economic sectors in the region, but it has not fully adopted formal accounting principles, including accrual accounting related to the changes in biological asset values. The research used a qualitative approach with a case study method, focusing on 9 tilapia farming businesses in Mojokerto Regency, specifically in Mojoanyar and Puri Data was collected through interviews, questionnaires, and document analysis. The findings show that most of the business operators have not systematically applied accrual accounting in their financial This is due to a lack of understanding of accounting standards and the absence of support from relevant parties. The research recommends the need for awareness campaigns and training on accrual accounting and the comprehensive implementation of FAS 241 to improve the transparency and accountability of financial reports. As a result, tilapia farming businesses can be better prepared to face market challenges and obtain better access to financing. Keywords: accrual accounting, biological asset value. PSAK 241 Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penerapan akuntansi akresi dalam usaha budidaya ikan lele di Kabupaten Mojokerto serta kesesuaiannya dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang berlaku di Indonesia, khususnya PSAK 241. Usaha budidaya ikan lele merupakan salah satu sektor ekonomi yang berkembang pesat di daerah tersebut, namun belum sepenuhnya mengadopsi prinsip-prisip akuntansi secara formal, termasuk akuntansi akresi yang berkaitan dengan perubahan nilai aset biologis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan studi kasus pada 9 pelaku usaha budidaya lele di Kabupaten Mojokerto khususnya Kecamatan Mojoanyar dan Kecamatan Puri. Data yang dikumpulkan melalui wawancara, kuisioner dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pelaku usaha belum menerapkan akuntansi akresi secara sistematis dalam pencatatan keuangan mereka. Hal ini disebabkan oleh rendahnya pemahaman terhadap Standar Akuntansi dan belum adanya pendampingan dari pihak terkait. Penelitian ini merekomendasikan perlunya sosialisasi dan pelatihan mengenai akuntansi akresi serta penerapak PSAK 241 secara menyeluruh agar pelaku usaha dapat meningkatkan transparansi dan akuntabilitas laporan keuangan. Dengan demikian, usaha budidaya ikan lele dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan pasar dan memperoleh akses permodalan yang lebih baik. Kata kunci: akuntansi akresi, nilai aset biologis. PSAK 241 PENDAHULUAN Salah satu komponen yang memiliki andil besar dalam pengelolaan suatu usaha adalah laporan akuntansi Berdasarkan (Biduri et al. , 2. Samuelsson et al (Biduri dkk, 2. menyatakan bahwa laporan akuntansi yaitu laporan laba rugi, neraca dan arus kas menjadi bagian utama dalam laporan yang disusun oleh plekau UMKM. Naskah Masuk 20 Agustus, 2025. Revisi 22 Agustus, 2025. Diterima 20 September, 2025. Terbit 3 November, 2025 Irza Fajrul Falah / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 200 Ae 207 Budidaya ikan merupakan salah satu UMKM yang ada di Indonesia yang dilakukan dalam skala rumah Menurut Nitisusastro . alam Khairunnisa, 2. mendefinisikan bahwa yang dimaksud UMKM adalah kegiatan usaha dengan skala aktivitas yang tidak terlalu besar dengan manajemen yang sangat sederhana namun kebutuhan modal yang cukup serta pasar yang dijangkau juga belum luas. PSAK 241 memberikan pedoman menyeluruh terkait bagaimana aset biologis dan produk agrikultur harus diakui, diukur, dan diungkapkan. Dalam standar ini ditegaskan bahwa aset biologis diakui jika memenuhi kriteria pengakuan aset, yaitu ketika entitas memiliki kendali atas aset tersebut, terdapat kemungkinan akan diperolehnya manfaat ekonomi di masa depan, serta nilai aset tersebut dapat diukur secara andal (PSAK 241, 2. Berdasarkan tinjauan kasus di lapangan, menunjukkan bahwa pelaku usaha budidaya ikan lele di Kabupaten Mojokerto belum menerapkan pencatatan keuangannya sesuai dengan PSAK 241. Sehingga, perlu dilakukan kajian yang lebih komprehensif terkait penerapan PSAK 241 terhadap budidaya ikan lele untuk mengetahui penerapan akuntansi akresi, menganlisis kesesuaian pencatatan dan pelaporan akuntansi, memberikan gambaran kepada pelaku usaha tentang pentingnya penerapan akuntansi akresi, dan untuk mengevaluasi dampak penerapan akuntansi akresi terhadap penyajian laporan keuangan dalam usaha budidaya ikan lele. TINJAUAN PUSTAKA 1 Pengertian Akutansi Menurut Committee on Terminology of the American Institute of Accountants (AICPA) pada tahun 1941 mendefinisikan bahwa: AuAccounting is the art of recording, classifying, and summarizing in a significant manner and in terms of money, transactions and events whisch are, in part at least, of a financial character, and interpreting the result there of. Ay Menurut Accounting Principles Board (APB), definisi dari akuntansi seperti yang dikutip Belkaoui . : AuAccounting is a service activity. Its function is to provide quantitative information, primarily financial in nature about economic decisions, in making resolved choices among alternative courses of Ay Berdasarkan dua definisi akuntansi tersebut dapat disimpulkan suatu karakteristik akuntansi yaitu sebagai proses pengidentifikasian, pengukuran dan pengkomunikasian informasi keuangan mengenai kesatuan ekonomi dan memiliki tujuan untuk melayani pihak-pihak yang berkepentingan, terutama dalam pengambilan keputusan ekonomi. Konsep Akresi Menurut Suwardjono . , konsep akresi cocok digunakan pada perusahaan atau entitas yang bergerak di bidang usaha agrikultur, seperti perikanan, peternakan, pertanian, dan perkebunan. 3 Pengukuran Akresi Penerapan akuntansi terhadap akresi di sektor agrikultur mengakui komponen berupa asset dan pendapatan dan bukan hanya mengakui biaya saja. Contoh kasusnya seperti peternak ayam petelur, namun fase dari siklus ayam petelur ini dapat diamati dari mulai fase kehidupan awal . , fase tumbuh dan berkembang . dan yang terakhir adalah fase bertelur . Oleh karena itu, untuk mengatahui biaya-biaya ayam yang mati atau hilang ada dua rumus yang membedakan: Ayam . tarter dan growe. Ayam . Di dalam proses akuntansi akresi, pemeliharaan ayam membutuhkan biaya guna mendukung setiap fase pertumbuhan ayam di masa mendatang. Perhitungan ini diasumsikan sebagai berikut: Pembelian ayam starter sebanyak 1. 150 box, dengan catatan 1 box terdapat 50 ekor ayam Pembelian ayam fase kehidupan awal . , harga per box pada Rp. 000 dengan harga asumsi (Rp. 700 per ekor aya. Persediaan pakan ayam: Rp. Analisis Penerapan Akutansi Akresi pada Usaha Budidaya Ikan Lele dengan Persyaratan Standar Akutansi (PSAK) 241 Di Kabupaten Mojokerto (Irza Fajrul fala. Irza Fajrul Falah/ Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 200 Ae 207 Persediaan vitamin dan obat ayam: Rp. Alokasi upah tenaga kerja: - Starter: Rp. - Grower: Rp. - Layer: Rp. Total: Rp. Alokasi penggunaan pakan: - Starter: Rp. - Grower: Rp. - Layer: Rp. Total: Rp. Alokasi beban biaya vitamin dan obat ayam: - Starter: Rp. - Grower: Rp. - Layer: Rp. Total: Rp. Alokasi beban produksi tidak langsung: - Starter: Rp. - Grower: Rp. - Layer: Rp. Total: Rp. Ayam yang tercatat mati dan hilang: - Starter: 1. 000 ekor - Grower: 500 ekor Nilai wajar ayam layer: Rp. Jurnal yang dapat diterapkan pada sektor peternakan sebagai berikut: Alokasi biaya pakan, vitamin serta obat ayam starter, grower dan layer: Debit Kredit No. Keterangan (Rp. (Rp. Pakan Obat dan Vitamin Kas/Bank/Hutang Usaha Pembelian: No. Keterangan Ayam starter Kas/Bank/Hutang Usaha 000,8. Debit (Rp. Kredit (Rp. 000,270. Catatan: (Rp. 000 x 1. 150 box = Rp. 000,-) Alokasi pakan, obat dan vitamin ayam starter, grower, layer: No. Keterangan Debit (Rp. Alokasi pakan 000,2. Alokasi obat dan vitamin 000,3. Persediaan pakan Persediaan obat dan vitamin Kredit (Rp. 000,2. Perhitungan upah tenaga kerja ayam starter, grower, layer: JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 200 - 207 Irza Fajrul Falah / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 200 Ae 207 No. Keterangan Debit (Rp. Upah tenaga kerja Kas Rp. Kredit (Rp. Rp. Pencatatan biaya produksi tidak langsung untuk ayam starter, grower, layer: No. Keterangan Debit Kredit (Rp. (Rp. Produksi tidak langsung Kas Kapitalisasi biaya-biaya ke dalam akun ayam starter: No. Keterangan Debit (Rp. Ayam starter 000,2. Alokasi biaya pakan Alokasi biaya obat dan vitamin Upah tenaga kerja Alokasi biaya produksi tidak Kapitalisasi biaya-biaya ke dalam akun ayam grower: No. Keterangan Debit (Rp. Ayam grower 000,2. Alokasi biaya pakan Alokasi biaya obat dan vitamin Upah tenaga kerja Alokasi biaya produksi tidak Kapitalisasi biaya-biaya ke dalam akun ayam layer: No. Keterangan Debit (Rp. Ayam layer 000,2. Alokasi biaya pakan Alokasi biaya obat dan vitamin Upah tenaga kerja Alokasi biaya produksi tidak Kredit (Rp. 000,500. 000,500. 000,400. Kredit (Rp. 000,750. 000,800. 000,500. Kredit (Rp. 000,1. 000,1. 000,650. 4 PSAK 241 PSAK 69 adalah standar akuntansi yang digunakan untuk mengelola pencatatan keuangan di sektor agrikultur dan merupakan pengambilan langsung dari IAS 41. Standar ini ditetapkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan pada tanggal 16 Desember 2015 dan mulai berlaku efektif sejak 1 Januari 2018. Namun, pada tanggal 12 Desember 2022. PSAK 69 mengalami perubahan penomoran menjadi PSAK 241, yang akan mulai berlaku efektif pada 1 Januari 2024. Secara umum. PSAK 241 mengatur pengakuan aset biologis dan produk agrikultur yang memenuhi kriteria pengakuan aset. Namun, terdapat beberapa pengecualian, khususnya terkait aset produktif yang tidak termasuk dalam ruang lingkup standar ini, karena aset tersebut telah diatur secara terpisah dalam PSAK 16 mengenai aset tetap. Selain itu. PSAK 241 juga mengatur perlakuan terhadap hibah pemerintah yang berhubungan dengan aset biologis Analisis Penerapan Akutansi Akresi pada Usaha Budidaya Ikan Lele dengan Persyaratan Standar Akutansi (PSAK) 241 Di Kabupaten Mojokerto (Irza Fajrul fala. Irza Fajrul Falah/ Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 200 Ae 207 5 Aset Biologis Berdasarkan PSAK 69 . , aset biologis mencakup makhluk hidup berupa hewan maupun tanaman, seperti sapi perah, domba, tanaman tebu, kapas, dan tembakau. Aset biologis dikelompokkan menurut jenis makhluk hidup yang seragam, sementara produk agrikultur merujuk pada hasil panen yang diperoleh dari aset biologis yang dimiliki oleh suatu entitas. Karakteristik khas aset biologis terletak pada kemampuannya mengalami proses biologis seperti pertumbuhan, reproduksi, produksi, hingga degenerasi METODOLOGI PENELITIAN 1 Pendekatan Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekapan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Pendekatan ini dipilih agar dapat memahami secara mendalam tentang proses dan dampak dari penerapan akuntansi akresi berdasarkan PSAK 241 pada usaha budidaya ikan lele. 2 Objek Penelitian Sampel pada penelitian ini adalah 30 orang pembudidaya ikan lele. Adapun kriteria sampel untuk penelitian ini yang memungkinkan adalah 9 orang pembudidaya ikan lele yang ada di Kabupaten Mojokerto 3 Jenis dan Sumber Data Penelitian Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa informasi tentang gambaran umum terkait usaha budidaya ikan lele, perhitungan biaya-biaya yang dilakukan oleh pembudidaya. Data tersebut diperoleh secara langsung melalui wawancara dan dokumentasi. 4 Prosedur Pengumpulan Data Data diperoleh dengan cara wawancara dengan pembudidaya ikan lele dan dokumentasi dengan mengumpulkan data yang meliputi informasi pembelian dan penjualan berdasarkan pencatatan penjualan dan pembelian dalam satu tahun 5 Struktur Tahap Penelitian Tahap persiapan, yakni identifikasi masalah melalui pengamatan awal terhadap fenomena akuntansi dalam usaha budidaya ikan lele. Tahap pengumpulan data, yakni dengan cara wawancara dan dokumentasi. Tahap pengolahan dan analisis data, yakni penyajian data dengan menyusun hasil observasi, wawancara dan dokumentasi. Tahap penyimpulan, yakni proses penarikan kesimpulan dan evaluasi yang diberikan kepada pelaku usaha agar dapat diterapkan secara optimal. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebagian besar wilayah Kabupaten Mojokerto digunakan sebagai lahan pertanian dan peternakan oleh sebab itu mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani dan peternak. Dengan kondisi seperti demikian menjadi keuntungan bagi masyarakat setempat untuk beternak lele. Budidaya ikan lele selain menjadi sumber pendapatan tambahan, budidaya ikan lele juga membantu meningkatkan ketersediaan protein hewani, serta mendukung program penanggulangan stunting. Berdasarkan hasil wawancara, pembudidaya ikan lele di Kabupaten Mojokerto belum melakukan praktik pencatatan dan penilaian aset secara sempurna sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia atau PSAK 241, karena kurangnya pengetahuan dan tidak ada pihak eksternal yang mempunyai kepentingan secara signifikan dalam usaha tersebut. Dengan adanya PSAK 241 menekankan bahwa aset biologis termasuk ikan lele dalam kolam, harus diukur pada nilai wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual. Hasil di lapangan didapati populasi ikan lele 500 ekor dengan rata-rata bobot antara 10 gram hingga 50 gram. Berdasarkan harga pasar, nilai per ekor pada saat awal budidaya diperkirakan Rp. 000, sehingga total nilai wajar sebesar Rp. Setelah 3 hingga 4 bulan, ikan tumbuh dengan rata-rata bobot 100 gram hingga 200 gram dan nilai pasar meningkat menjadi Rp. 500 dengan populasi sebanyak 7. 000 ekor, maka nilai wajar aset biologis menjadi Rp. Sehingga kenaikan nilai wajar sebesar Rp. 000 dicatat sebagai pendapatan akresi Tabel 1. Pengelompokan Aset Biologis Awal Tahun 2024 No. Keterangan Bobot Rata-Rata . ram/eko. Benih Ukuran Kecil 10 Ae 50 Ukuran Sedang 100 Ae 200 Jumlah Ekor JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 200 - 207 Irza Fajrul Falah / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 200 Ae 207 Total Nilai Wajar Sumber: Hasil Wawancara Tabel 2. Pengelompokan Aset Biologis Akhir Tahun 2024 No. Keterangan Bobot Rata-Rata . ram/eko. Ukuran Sedang 150 Ae 200 Ukuran Besar 200 Ae 300 Ukuran Siap Panen 300 Ae 400 Ukuran Super > 400 Total Nilai Wajar Sumber: Hasil Wawancara Jumlah Ekor Tabel 3. Perhitungan Biaya Pemeliharaan Tahun 2024 No. Jenis Biaya Perawatan Pakan Harian Vitamin dan obat2. Listrik dan Pompa Air Tenaga Kerja Harian Lepas Perawatan Kolam Drainase Tambahan Total Biaya Perawatan Sumber: Hasil Wawancara 000 Kg x 4 siklus Harga Satuan (Rp. Total Biaya (Rp. Rp. 000 x 4 siklus Rp. 000 x 12 bulan Rp. 000 x 25 hari kerja 2 kali dalm setahun Rp. 000 x 4 siklus Frekuensi/Volume Dalam perlakuan akuntansi ini, jurnal yang dapat digunakan sebagai berikut: Pengakuan awal bibit ikan lele: Debit Kredit No. Keterangan (Rp. (Rp. Aset biologis ikan lele . Kas 000,1. Jurnal akresi: No. Keterangan Debit (Rp. Aset biologis ikan lele . Perolehan atas akresi Kredit (Rp. Alokasi pakan, obat dan vitamin: No. Keterangan Biaya pakan Biaya obat dan vitamin Persediaan pakan Persediaan obat dan vitamin Debit (Rp. 000,2. Kredit (Rp. 000,2. Analisis Penerapan Akutansi Akresi pada Usaha Budidaya Ikan Lele dengan Persyaratan Standar Akutansi (PSAK) 241 Di Kabupaten Mojokerto (Irza Fajrul fala. Irza Fajrul Falah/ Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 200 Ae 207 Pencatatan upah tenaga kerja: No. Keterangan Upah tenaga kerja Kas Debit (Rp. Kredit (Rp. 000,2. Alokasi biaya produksi tidak langsung: No. Keterangan Alokasi biaya produksi tidak langsung Kas Debit (Rp. Kredit (Rp. Kapitalisasi biaya-biaya ke dalam akun lele siap panen: Debit No. Keterangan (Rp. Lele . iap pane. 000,2. Alokasi biaya pakan Alokasi biaya obat dan vitamin Upah tenaga kerja Alokasi biaya produksi tidak langsung Kredit (Rp. 000,2. 000,2. 000,3. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil bahwa penerapan akuntansi akresi sesuai PSAK 241 memberikan dampak signifikan terhadap penyajian laporan keuangan budidaya ikan lele, adapun beberapa dampak yang dirasakan, yakni dengan pencatatan berbasis akresi, nilai ikan lele yang masih dalam kolam dapat ditampilkan dalam laporan keuangan. Hal ini meningkatkan transparansi dan mempermudah pembudidaya untuk mengukur nilai kekayaan usaha secara lebih tepat. Kemudian perbedaan utama antara pencatatan sederhana berbasis kas dan akresi adalah adanya pendapatan dari pertumbuhan aset biologis. Dalam pencatatan tradisional, laba hanya dihitung saat ikan dijual. Sementara itu, akresi memungkinkan keuntungan diakui secara periodik berdasarkan kenaikan nilai wajar Laporan keuangan yang disusun berdasarkan PSAK 241 memberikan informasi yang lebih relevan untuk pengambilan keputusan, baik terkait rencana produksi, pembiayaan, maupun ekspansi usaha. Penerapan akresi membantu pembudidaya dalam menilai kinerja dan potensi keuntungan usaha dengan lebih objektif. Meskipun memberikan manfaat, terdapat beberapa kendala, antara lain kesulitan dalam menilai nilai wajar ikan lele karena harga pasar sering berfluktuasi, kurangnya pemahaman akuntansi pada pembudidaya kecil sehingga membutuhkan pendampingan dalam implementasinya dan tidak adanya sistem pencatatan standar yang mudah diakses oleh pembudidaya tradisional. Kesimpulan. Keterbatasan dan Saran Dari hasil penelitian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penerapan akuntansi terkait usaha budidaya ikan lele di Kabupaten Mojokerto, dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa pencatatan keuangan sebelum akresi masih bersifat sederhana berbasis kas, sehingga laporan keuangan hanya menampilkan penerimaan dan pengeluaran tanpa mencerminkan nilai aset biologis yang sedang dibudidayakan. Maka, penerapan akuntansi akresi sesuai PSAK 241 mampu menampilkan nilai wajar aset biologis berupa ikan lele dalam laporan keuangan, sehingga lebih informatif dan menggambarkan kondisi keuangan yang Sehingga, pendapatan akresi yang diakui dari kenaikan nilai wajar ikan lele memberikan informasi yang lebih realistis mengenai potensi keuntungan usaha, tidak hanya pada saat panen tetapi juga sepanjang periode budidaya dan pada akhirnya penerapan akresi meningkatkan relevansi dan transparansi laporan keuangan, namun juga menghadapi kendala berupa fluktuasi harga pasar, keterbatasan pengetahuan akuntansi pembudidaya, serta minimnya sistem pencatatan standar yang mudah diterapkan pada usaha JURNAL ILMIAH MANAJEMEN DAN AKUNTANSI Vol. No. November 2025, pp. 200 - 207 Irza Fajrul Falah / Jurnal Ilmiah Manajemen dan Akuntansi Vol 2 No. 200 Ae 207 SARAN Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas, pembudidaya ikan lele diharapkan dapat memulai menerapkan pencatatan berbasis akresi dengan standar PSAK 241 supaya dapat memantau nilai aset biologis dan laba usaha secara lebih akurat dan perlunya pengembangan kapasitas terhadap pemahaman akuntansi sederhana, misalnya melalui pelatihan yang diadakan oleh pemerintah daerah atau lembaga DAFTAR PUSTAKA