ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 Uji Aktivitas Antibakteri Krim Ekstrak Etanol Daun Kitolod (Isotoma longiflor. (L). Presl Terhadap Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa Helen Anjelina Simanjuntak1*. Laura Yunita Nahampun2. Hermawan Purba3. Herlina Simanjuntak4. Suharni Pintamas Sinaga5. Mahral Effendi Sembiring6. Rahmiati7. Toberni S Situmorang8 1,2,3,6Program Studi Sarjana Farmasi. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKe. Senior Medan. Indonesia 4,5Program Studi Sarjana Kebidanan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKe. Senior Medan. Indonesia 7Program Studi Biologi. Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Medan Area. Indonesia 8Program Studi Analis Kesehatan. Fakultas Kesehatan. Universitas Efarina. Indonesia helenanjelinas@gmail. ABSTRACT Kitolod plants are used to treat various types of diseases, such as eye pain, wound healing, asthma, bronchitis, rheumatism and others. This study aims to determine the antibacterial activity test of kitolod leaf ethanol extract cream (Isotoma longiflor. (L). Presl against Staphylococcus epidermidis and Pseudomonas aeruginosa bacteria. This research stage includes determination, preparation of simplicia, extraction, phytochemical screening, cream formulation F0 . %). F1 . %). F2 . %) F3 . %), and antibacterial test. The results of the phytochemical screening showed that alkaloids, flavonoids, tannins, saponins and steroids were The results of the antibacterial activity test of the formula against Staphylococcus epidermidis in sequence F0 . %). F1 . %). F2 . %) and F3 . %) were 11. 315 mm. 205 mm. 843 mm. 698 mm. Meanwhile, against Pseudomonas aeruginosa bacteria, the measurements were 6. 04 mm, 8. 19 mm, 12. 46 mm, 24 mm, respectively. In conclusion, all variations of the cream formula showed antibacterial activity in inhibiting the growth of Staphylococcus epidermidis and Pseudomonas aeruginosa bacteria. The cream formulation was more sensitive to Staphylococcus epidermidis bacteria than Pseudomonas aeruginosa bacteria. Keywords: Antibacterial. Formula. Isotoma longiflora. Cream. Kitolod ABSTRAK Tumbuhan kitolod digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit, seperti sakit mata, penyembuhan luka, asma, bronkitis, rematik dan lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji aktivitas antibakteri krim ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflor. (L). Presl terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa. Tahap penelitian ini yang meliputi determinasi, pembuatan simplisia, ekstraksi, skrining fitokimika, formulasi krim F0 . %). F1. %). F2. %) F3. %), dan uji antibakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil skrining fitokimia didapatkan alkaloid, flavonoid, tanin, saponin dan steroid. Hasil uji aktivitas antibakteri formula terhadap Staphylococcus epidermidis secara berurutan F0. %),F1. %),F2. %) dan F3. %) adalah 11,315 15,205 mm. 18,843 mm. 23,698 mm. Sedangkan terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa secara berurutan adalah 6,04 mm, 8,19 mm, 12,46 mm, 17,24 mm. Kesimpulan semua variasi formula krim menunjukkan antibakteri dalam menghambat pertumbuhan pada bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa. Formulasi krim lebih sensitif terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dibandingkan Pseudomonas aeruginosa. Kata Kunci: Antibakteri. Formula. Isotoma longiflora. Krim. Kitolod Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 ISSN 2621-2625 Herbal Medicine Journal Volume 8 Nomor 2: Agustus 2025 PENDAHULUAN Infeksi kulit merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemukan Indonesia (Fitriani et al, 2. Penyakit infeksi kulit termasuk penyakit menular karena dapat menginfeksi dari satu individu ke individu Penyakit infeksi kulit dapat disebabkan oleh virus, bakteri, jamur ataupun parasite (Lidjaja, 2. Penyakit infeksi kulit biasanya disebabkan oleh bakteri seperti. Staphylococcus aureus. Propionibacterium acnes. Streptococcus pyogenes. Pseudomonas aeruginosa. Streptococcus hemoliticus (Permana dkk. , 2. Bakteri yang menyebabkan infeksi luka pada jaringan kulit, mukosa mulut, saluran kemih, saluran nafas, jerawat, luka bakar dan infeksi nosokomial adalah Pseudomonas aeruginosa yang merupakan bakteri Gram negatif dan Staphylococcus epidermidis yang merupakan bakteri Gram positif (Dhavesia. Staphylococcus epidermidis berbentuk bulat atau kokus tunggal berwarna ungu, dan merupakan bakteri Gram positif, koloni berwarna putih atau kuning, dan bersifat anaerob fakultatif. Bakteri ini merupakan penyebab infeksi kulit yang ringan yang disertai pembentukan abses (Datu et al. , 2. Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit pada manusia yaitu dengan menimbulkan infeksi pada luka dan luka bakar (Purba et al. , 2. Pengobatan menggunakan kloksasilin, amoksisilin, asam klavulanat, eritromisin, klindamisin dan Namun obat tersebut juga memiliki efek samping seperti resistensi terhadap antibiotik dan iritasi kulit. Oleh karena itu perlu dilakukan pencarian antibakteri dari bahan alam yang diketahui aman (Roslianiza. Salah satu sediaan farmasi yang dapat memudahkan dalam penggunaannya ialah sediaan krim (Naibaho dkk. , 2. Krim adalah sediaan setengah padat, berupa emulsi mengandung air tidak kurang dari 60% dan (Damogalad dkk. , 2. Keunggulan krim memiliki konsistensi yang kental dan mengandung minyak yang dapat mengunci kelembapan kulit sehingga penetrasi obat dalam kulit akan lebih optimal (Nurul, 2. Selain itu, krim mampu menyebar pada kulit dengan baik, pelepasan zat aktif baik, memberikan efek dingin, memberikan efek lembut pada kulit dan tidak menyebabkan penyumbatan pada kulit (Hidayat, 2. , mudah diaplikasikan, nyaman digunakan, tidak lengket dan mudah dicuci dengan air (Husni , 2. Tumbuhan berpotensi sebagai antibakteri Kitolod (Isotoma longiflor. (L). Presl (Aprillia dkk. , 2. Kitolod digunakan untuk mengobati berbagai jenis penyakit, sakit mata, penyembuhan luka, asma, bronkitis, rematik dan lainnya (Ghofroh, 2. Tumbuhan kitolod memiliki kandungan zat aktif antara lain alkaloid, isotomin, lobelamin serta Sedangkan pada daunnya kitolod mengandung zat aktif alkaloid, flavonoid, saponin, tannin dan polifenol (Anggyadinata et al. , 2. yang berpotensi sebagai antibakteri (Mareintika, 2. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengujian aktivitas antibakteri krim ekstrak daun kitolod (Isotoma longiflor. (L). Presl terhadap bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 METODOLOGI Pembuatan Ekstrak Tumbuhan (Isotoma longiflor. (L). Presl yang dikumpulkan sebanyak dikeringanginkan lalu dimasukkan kedalam lemari pengering. Setelah kering kemudian diblender serbuk yang diperoleh sebanyak 1kg dimaserasi dengan menggunakan etanol 96% 8,5 liter selama 5 hari pada suhu kamar dan sesekali di aduk setelah 5 hari disaring dan dipisahkan selanjutnya diremaserasi selama 2 hari dengan menggunakan etanol 96% 1,5 liter. Selanjutnya remaserasi disaring. Lalu filtrat hasil penyarian dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu tidak lebih dari 60oC hingga diperoleh ekstrak Skrining Fitokimia Menurut Putri, et al. , . , uji skrining fitokimia terdiri dari: Uji Flavonoid Uji Aktivitas Antibakteri Krim Ekstrak Etanol Daun Kitolod (Isotoma longiflor. (L). Presl Terhadap Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas aeruginosa Diambil serbuk /ekstrak bahan sebanyak 0,5 gram lalu di masukkan kedalam erlemeyer dan di tambahkan air panas kemudian di didihkan selama 5 menit, lalu di saring hingga memperoleh filtrat, filtrat sebanyak 5 ml di tambahkan serbuk Mg, 1ml HCL pekat, dan amil alkohol lalu di kocok dengan kuat kemudian di diamkan hingga terjadi pemisahan, hasil positifnya flavonoid di tandai kekuningan atau jingga. Uji Tanin Diambil serbuk/ekstrak 1 gram bahan di masukkan kedalam tabung reaksi di tambahkan 10 ml air lalu panas kan hingga mendididh kemudian di dinginkan dan di saring, filtrat yang dihasilkan di tambahkan FeCI3 3-4 tetes jika positif tanin ditandai dengan bentuknya warna biru kehitaman atau hijau Uji Alkaloid Sampel serbuk/ekstrak sebanyak 0,5 g kemudian di tambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air suling, dipanaskan di atas penangas air selama menit, kemudian didinginkan dan di saring filtrat digunakan dengan pereaksi pereaksi mayer, berwarna putih atau kuning, pereaksi Bouchardat akan terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam, pereaksi wagner, akan terbentuk edapan merah atau jingga. Positif jika terjadi endapan atau keruhan paling sedikit dua dari tiga percobaan. Uji Saponin Sebanyak serbuk/ekstrak dimasukkan ke dalam tabung reaksi ditambah 10 ml air panas, didinginkan kemudian dikocok dengan kuat selama 10 detik, hasil positif mengandung saponin ditandai dengan adanya buih yang terbentuk setinggi 1 sampai 10 cm dan tidak hilang jika di tambahkan dengan 1 tetes HCl. Uji Steroid/Triterpenoid Diambil serbuk /Ekstrak dilarutkan didalam 0,5 ml klorofom, ditambahkan 0,5 ml asam asetat anhidrida, selanjutnya dicampurkan dan ditetesi dengan 2 ml asam sulfat pekat melalui dinding tabung tersebut bila berbentuk warna hijau kebiruan menunjukkan adanya steroid. Bila cincin kecoklatan atau violet menunnjukan adanya triterpenoid. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 Pembuatan Sediaan Krim Fase minyak . sam stearat, setil alkoho. dilelehkan di atas penangas air . untuk menghasilkan krim. Penangas air . digunakan untuk memanaskan fase air, yang terdiri dari TEA, metil paraben, propil paraben, dan gliserin yang dilarutkan dalam Campurkan massa 1 dan 2 secara bertahap, lalu giling hingga mencapai massa krim. Ekstrak dimasukkan ke dalam proses penggilingan hingga homogen dan halus. Kemudian, ekstrak ditempatkan dalam wadah. Tabel 1 Modifikasi Formula Krim (Barus et al. Bahan Formulasi Kegunaan F0 F1 F2 F3 Ekstrak Daun Asam stearate Setil alcohol 0,5 0,5 TEA Metil paraben 0,1 0,1 Propil paraben 0,5 0,5 Gliserin Aquadest ad 8 Zat aktif 12 12 Pengemulsi 0,5 0,5 Pengental 1 Pengemulsi 0,1 0,1 Pengawet 0,5 0,5 Pengawet 2 Humektan 100 100 Pelarut Uji Aktivitas Antibakteri Metode Difusi Sumuran Disiapkan media MHA lalu dipanaskan hingga homogen. Media dimasukkan ke dalam cawan petri steril diamkan hingga memadat. Dicelupkan cotton bud steril ke dalam suspense bakteri, lalu disebarkan secara merata pada Selanjutnya setelah memadat buat lubang sumuran pada media agar dengan menggunakan corck borer. Diisi masing-masing formula krim ke dalam sumuran, kemudian diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam. Diamati zona hambat yang terbentuk pada sekitaran formula krim yang mengindikasikan bahwa krim berdifusi (Sitanggang et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Skrining Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Etanol Daun Kitolod Hasil pemeriksaan penentuan golongan senyawa kimia daun kitolod terdapat pada Tabel 2. Tanin Saponin 5 Steroid/Triterpenoid Alkaloid Flavonoid Ket :(-): Tidak mengandung senyawa metabolit sekunder ( ): Mengandung senyawa metabolit sekunder. Tabel 2. Hasil Skrining Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Daun Kitolod Hasil No Golongan Senyawa Simplisia Ekstrak Hasil Uji Aktivitas Antibakteri Krim Hasil uji aktivitas antibakteri ekstrak etanol daun kitolod dapat dilihat pada tabel 3. Tabel 3. Diameter Zona Hambat Terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas Diameter Zona Hambat . Formula Staphylococcus Kategori Pseudomonas Kategori 11,31 15,20 18,84 23,69 Kuat Kuat Kuat Sangat Kuat 6,04 8,19 12,46 17,24 Sedang Sedang Kuat Kuat Kontrol ( ) 33,12 Sangat Kuat 35,31 Sangat Kuat Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa setiap perlakuan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji. Setiap formula F0. F1. F2. F3 memiliki aktivitas antibakteri dengan diameter zona hambat yang Pada formula F0 . asis/ tanpa terhadap kedua bakteri uji. Hal ini terjadi karena pada F0 mengandung bahan formula yang memiliki kegunaan sebagai pengawet seperti metil paraben dan propil paraben. Metil paraben dan propil paraben merupakan ester dari asam p-hikroksi benzoat yang memiliki aktivitas antimikroba sehingga berfungsi sebagai pengawet dalam makanan, kosmetik dan sediaan farmasi (Cahyotomo et al. , 2. Pada formula F1. F2, dan F3 ditemukan adanya aktivitas antibakteri terhadap kedua bakteri uji dan seiring dengan peningkatan jumlah konsentrasi ekstrak dalam sediaan menghasilkan diameter zona hambat yang Hal ini terjadi karena adanya pengaruh atau kontribusi ekstrak daun kitolod yang memiliki aktivitas antibakteri. Daun kitolod ditemukan pada skrining fitokimia flavonoid, saponin, tanin dan steroid/ Senyawa tersebut berkontribusi dalam menghambat dan membunuh bakteri dengan berbagai mekanisme kerja (Anjelina. Menurut Hasanudin et al. , 2. senyawa saponin berfungsi sebagai antibakteri yang mekanisme nya menimbulkan kebocoran protein dan enzim yang terdapat dalam sel Sedangkan senyawa flavonoid ini sendiri berfungsi dalam meningkatkan pembentukan pembuluh darah yang berlebih pada fase poliferasi dan romodelling jaringan sehingga aliran oksigen dan nutrisi menuju jaringan dan sel yang luka serta meningkatkan sintesis kolagen yang dapat meningkatkan poliferasi sehingga mempercepat proses daripada penyembuhan luka. Herbal Medicine JournalCVolume 8CNomor 2CAgustus 2025 KESIMPULAN Formula krim ekstrak etanol daun kitolod (Isotoma longiflor. (L). Persl (F1. F2. memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis dan Pseudomonas DAFTAR PUSTAKA