Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 IDENTIFIKASI AREA RAWAN KEBAKARAN LAHAN DI KECAMATAN MUARA KAMAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA MENGGUNAKAN APLIKASI SISTIM INFORMASI GEOGRAFIS Fauzi Fakultas Pertanian Tropika Basah Universitas Mulawarman. Indonesia. Jl. Krayan Gn Kelua. Kampus C18 Samarinda 75119 Indonesia. E-Mail: ozi. xi@gmail. Submit: 06-10-2023 Revisi: 13-08-2024 Diterima: 22-08-2024 ABSTRAK Identifikasi area rawan kebakaran di Kecamatan Muara Kaman Kabupaten Kutai Kartanegara menggunakan aplikasi sistem informasi geografis. Kebakaran hutan dan lahan hingga saat ini masih menjadi permasalah setiap musim kemarau tiba. Penelitian ini bertujuan mendapatkan informasi yang jelas mengenai area memiliki tingkat potensi kemudahan terjadinya kebakaran selanjutnya dapat digunakan sebagai acuan langkah pengendalian kebakaran oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Penelitian ini memperkenalkan parameter baru sebagai penentu tingkat kerawanan suatu wilayah berupa pengelolaan lahan yaitu Aulahan terlantarAy dan Aulahan terkelolaAy sebagai faktor yang mempengaruhi kemudahan terjadinya Hasil identifikasi area rawan kebakaran lahan di Kecamatan Muara Kaman yaitu dengan tingkat kerawanan kebakaran AuSangat TinggiAy seluas 110,352 Ha, tingkat kerawanan AuTinggiAy seluas 34. 925 Ha, tingkat kerawanan AuMenengahAy seluas 19. 282 Ha, dan area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy seluas 426 Ha. Pada lahan terkelola, luas area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy adalah 165. 416 Ha, dan tidak ada area dengan tingkat kerawanan AuMenengahAy. AuTinggiAy dan AuSangat TinggiAy, pada Lahan Terlantar, area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy seluas 9 Ha, area dengan tingkat kerawanan AuMenengahAy seluas 19. pada area dengan tingkat kerawanan AuTinggiAy seluas 34. 926 Ha, dan pada area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy seluas 110. 353 Ha. Kata kunci : Area rawan kebakaran. Identifikasi. Muara Kaman. ABSTRACT Identification of fire-prone areas in Muara Kaman District. Kutai Kartanegara Regency using a geographic information system application. Forests and land fires remain a persistent problem every dry season. This study aims to obtain clear information about areas that have a potential level of ease of fire, which can then be used as a reference for fire control measures by stakeholders. This study introduces a new parameter to determine the vulnerability level of an area in the form of land management, namely "abandoned land" and "managed land" as factors that affect the ease of fire occurrence. The results of the identification of forest and land fire-prone areas in Muara Kaman District are with a fire vulnerability level of "Very High" covering an area of 110. 352 Ha, a "High" vulnerability level of 34,925 Ha, a "Moderate" vulnerability level of 19,282 Ha, and an area with a vulnerability level of "Low". Ay area of 165,426 Ha. On managed land, the area with AuLowAy vulnerability level is 165,416 Ha, and there are no areas with AuModerateAy. AuHighAy and AuVery HighAy On Abandoned Land, the area with AuLowAy vulnerability is 9 Ha, the area with AuModerateAy vulnerability is 19,283, the area with AuHighAy vulnerability is 34,926 Ha, and the area with AuVery HighAy vulnerability is 110,353 Ha. Keywords : Fire prone areas. Identification. Muara Kaman. This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Area Rawan Kebakaran A Fauzi PENDAHULUAN Kebakaran hutan dan lahan hingga saat ini masih menjadi perhatian utama pemerintah, data Kementerian LHK pada tahun 2005 sampai tahun 2020 kejadian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur mencapai 3,4 juta hektar. Dampak kebakaran tidak hanya meliputi kerugian ekologis dan ekonomis, asap kebakaran vegetasi yang mencapai negara tetangga dapat berdampak pada hubungan. Akibat kebakaran sudah memunculkan potensi kerugian yang tidak dapat dihitung secara keanekaragaman biologi, rusaknya habitat hidup binatang liar serta pergantian ekosistem kawasan (Endrawati dkk. Diantara faktor krusial yang menentukan kerentanan lahan gambut budidaya terhadap kebakaran yaitu ketersediaan dan jumlah bahan bakar biomassa yang gampang terbakar, misalnya pakis, rerumputan, serta semak berdaun lebar pada kondisi produktif maupun mati (Silviana dkk. , 2. Bila terjadi kemarau panjang lahan . rreversible dryin. dan gambut berubah sifat seperti arang sehingga tidak mampu lagi menyerap hara dan menahan air (Subagyo, et al. , 1996 dalam Yuleli. Kivell . , mendefinisikan lahan terlantar sebagai lahan yang menurut pemerintah daerah setempat belum dimanfaatkan sesuai dengan fungsinya, yaitu fungsi yang mengacu pada rencana wilayah. Lahan terlantar dapat berbentuk properti berupa tanah atau bangunan yang tidak dipergunakan. Lahan gambut yang terdegradasi pada perkembangannya menjadi lahan terlantar menjadi sangat rawan kebakaran pada musim kemarau (Harun 2. Komponen pengelolaan lahan dianggap sebagai faktor yang mempengaruhi dikaitkan dengan aktifitas manusia sebagai penyebab kebakaran. Kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Kalimantan Timur 99% disebabkan oleh aktifitas manusia (Hoffman dan Siegerd, 1. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi area rawan kebakaran lahan melalui analisis data tutupan lahan, data pemanfaatan lahan dan peta tanah dengan menggunakan sistem informasi geografis (SIG), sehingga bermanfaat untuk perencanaan langkah-langkah pengendalian kebakaran oleh pihak-pihak yang berkepentingan. METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan pada tanggal 8 Juni sampai dengan 19 Juli 2021 obyek lokasi penelitian yaitu Kecamatan Muara Kaman. Kabupaten Kutai Kartanegara. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. Bahan dan Alat Bahan penelitian terdiri dari: penutupan lahan KLHK tahun 2019. Peta Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara No 718/ Menhut-II/2014. Peta RTRW Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2016, peta sebaran gambut, peta pengelolaan lahan. Alat yang digunakan yaitu . alat tulis kantor, laptop, software ArcGIS 10,7 Tial. Pelaksanaan Penelitian diawali terlebih dahulu mengumpulkan berbagai data/informasi dan peta-peta . ata spasial dan nonspasia. dari berbagai pihak terkait. Data dan peta yang dikumpulkan adalah mengenai penutupan vegetasi, tanah, curah hujan, ketinggian tempat, sungai, jalan, desa/pemukiman dan penggunaan Tahapan analisis dengan SIG, data input harus dalam bentuk digital, proses pengolahan data meliputi georefersi, digitasi, editing, buffering, pemberian kode dan proyeksi. Langkah berikutnya ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 adalah klasifikasi faktor-faktor penyusun kerawanan kebakaran dalam beberapa kelas dan pemberian bobot masingmasing kelas dan sub-kelas, kemudian dilakukan geoprocessing terhadap layer faktor-faktor tersebut. Hasil analisis akan dikategorikan menjadi 4 yaitu . daerah dengan potensi rawan kebakaran lahan AuSangat TinggiAy, . daerah dengan potensi rawan kebakaran lahan AuTinggiAy, . daerah dengan potensi rawan kebakaran lahan AuMenengahAy, . dan daerah dengan potensi rawan lahan AuRendahAy. Daerahdaerah dengan tingkat kerawanan sangat tinggi dan tinggi direkomendasikan menjadi prioritas dalam kegiatan untuk Skoring Pemberian skor terhadap segmen-segmen yang mudah terbakar, segmen yang paling rentan terbakar mendapat skor dan bobot tertinggi seperti pada tabel berikut: Tabel 1. Kemudahan Kebakaran Berdasarkan Klasifikasi Tutupan Lahan. Tutupan Lahan Hutan Lahan Kering Primer Hutan Lahan Kering Sekunder Hutan Mangrove Primer Hutan Mangrove Sekunder Hutan Rawa Primer Hutan Rawa Sekunder Rawa Belukar Rawa Hutan Tanaman Semak Belukar Tanah Terbuka Pertanian Lahan Kering Pertanian Lahan Kering Campur Perkebunan Sawah Hotspot merupakan salah satu indicator adanya kejadian kebakaran Kemudahan kebakaran Tidak Mudah Mudah Tidak Mudah Tidak Mudah Tidak Mudah Tidak Mudah Tidak Mudah Mudah Tidak Mudah Mudah Mudah Mudah Mudah Tidak Mudah Tidak Mudah hutan dan lahan di suatu wilayah. Berdasarkan rekapit ulasi data hotspot This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Area Rawan Kebakaran A Fauzi hasil rekaman satelit Aqua/Terra MODIS tahun 2009 sampai dengan 2014 dapat diketahui pola sebaran hotspot di wilayah Kabupaten Rokan Hilir. Sebaran titik panas Pada setiap kecamatan di Kabupaten Rokan Hilir menunjukkan bahwa rata-rata jumlah titik panas tertinggi terdapat di Kecamatan Kubu, yaitu sebesar 3. 798 titik (Ikhwan, 2. Jumlah titik panas di Kabupaten Kubu Raya adalah 349 titik panas . Kubu Raya memang rentan kebakaran didominasi lahan gambut sehingga mudah terbakar (Jawad dkk. , 2. Tabel 2. Kemudahan Kebakaran Berdasarkan Jenis Tanah. Jenis Tanah Kemudahan kebakaran Mudah Sangat Mudah Mineral Gambut Perlunya identifikasi jenis tanah untuk memetakan kebakaran sangat Identifikasi daerah bahaya kebakaran hutan dan lahan dengan aplikasi Sistem Informasi Geografis di Kabupaten Kubu Raya dilakukan dengan tumpang susun. Sesuai dengan keadaan tersebut, maka upaya pencegahan kebakaran merupakan hal yang mutlak Pencegahan kebakaran hutan dan lahan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain melalui: pengembangan sistem peringatan dini pencegahan, pendidikan dan penyuluhan kepada seluruh lapisan masyarakat, penegakan hukum dan lain-lain (Jawad , 2015. Saputra dkk. , 2. Tabel 3. Kemudahan Kebakaran Berdasarkan Pengelolaan/ Hak Tanah. Pengelolaan Tanah Tanah Dikelola Tanah Terlantar Jenis tanah yang ada di Kota Banjarbaru ada 2 yaitu Gambut (Organoso. dan Podsolik Merah Kuning. Gambut atau istilahnya Organosol yaitu tanah yang memiliki horizon histik setebal 50 cm atau lebih dengan bulk density . erat volum. yang rendah (Fiantis. Berdasarkan katagori tersebut di daerah Muara Kaman termasuk di dalam tanah dikelola. Analisis Tumpang Susun . Tumpang susun atau overlay suatu data grafis adalah menggabungkan dua Kemudahan kebakaran Tidak Mudah Sangat Mudah atau lebih data grafis untuk memperoleh data grafis baru yang memiliki satuan pemetaan . nit pemetaa. Jadi, dalam proses tumpang susun akan diperoleh satuan pemetaan baru (Subardja dan Ario. Guvil dkk. , 2019. Suaib dan Qoshlim, 2016. Akbar dkk. , 2. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis data spasial Tata Ruang Wilayah Provinsi Tahun 2016. Kecamatan Muara Kaman memiliki luas 986 hektar. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Gambar 2. Peta Area Rawan Kebakaran Hasil Analisis. Tabel 4. Luas Area Rawan Kebakaran Lahan di Kecamatan Muara Kaman. Desa Rendah Menengah Benua Puhun Bukit Jering Bunga Jadi Kupang Baru Lebaho Ulak Liang Buaya Menamang Kanan Tinggi Sangat Tinggi Luas (H. Menamang Kiri Muara Kaman Ilir Muara Kaman Ulu Muara Siran Panca Jaya Puan Cepak Rantau Hempang Sabintulung Sedulang Sido Mukti Teratak Tunjungan Total Area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy seluas 110,352 Ha, tingkat kerawanan AuTinggiAy seluas 34. Ha, tingkat kerawanan AuMenengahAy seluas 282 Ha, dan area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy seluas 165. 426 Ha. Desa-desa yang memiliki area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy paling This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Area Rawan Kebakaran A Fauzi luas pertama desa Muara Siran seluas 202 Ha, kedua desa Menamang Kanan 396 Ha, ketiga desa Puan Cepak dengan luas 13,466 Ha. Tabel 5. Tingkat Rawan Kebakaran Berdasarkan Pengelolaan Lahan. Pengelolaan Lahan Rendah Menengah Tinggi Sangat Tinggi Luas (H. Lahan terkelola Lahan terlantar Luas (H. kerawanan AuMenengahAy seluas 19. pada tingkat kerawanan AuTinggiAy seluas 926 Ha, dan pada area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy seluas 353 Ha. Pada Lahan Terkelola, luas area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy 416 Ha, pada Lahan Terlantar, area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy seluas 8 Ha, area dengan tingkat Tabel 6. Tingkat Rawan Kebakaran Berdasarkan Penutupan Lahan. Tutupan Lahan Rendah Belukar Rawa Hutan Lahan Kering Sekunder Hutan Rawa Sekunder Hutan Tanaman Perkebunan Permukiman Pertambangan Pertanian Lahan Kering Campur Rawa Sawah Semak Belukar Tanah Terbuka Luas (H. Menengah Tinggi Sangat Tinggi Luas (H. Tabel 7. Tingkat Rawan Kebakaran Berdasarkan Jenis Tanah. Tanah Rendah Menengah Tinggi Sangat Tinggi Luas (H. Gambut Mineral Luas (H. Data area rawan kebakaran ditumpang susunkan dengan koordinat titik panas yang terdeteksi di Kecamatan Muara Kaman dari tahun 2016 sampai dengan tahun 2020. work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Jurnal AGRIFOR Volume 23 No. 2 (Oktober 2. Pp. https://doi. org/10. 31293/agrifor. https://doi. org/10. 31293/agrifor. ISSN P : 1412-6885 ISSN O : 2503-4960 Gambar 3. Analisis Tumpang Susun Data Area Rawan Kebakaran dengan Data Titik Panas. Tabel 8. Persebaran Titik Panas Pada Pengelolaan Lahan. Rendah Lahan Terkelola Menengah Sangat Tinggi Jumlah Lahan Terlantar Jumlah Tinggi Persebaran titik panas paling banyak terdapat pada Lahan Terlantar sebanyak 156 titik, 150 titik diantaranya berada pada area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy. Lahan terkelola terdapat 41 titik panas berada pada area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy Tabel 9. Persebaran Titik Panas Pada Jenis Tutupan Lahan. Tutupan Lahan Belukar Rawa Hutan Rawa Sekunder Hutan Tanaman Perkebunan Pertambangan Rendah Menengah Tinggi Sangat Tinggi Pertanian Lahan Kering Campur Semak Belukar Tanah Terbuka Jumlah Jumlah This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. Identifikasi Area Rawan Kebakaran A Fauzi Persebaran titik panas pada jenis tutupan lahan paling banyak terdapat pada Belukar Rasa sebanyak 148 titik berada pada area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy, 41 titik panas berada pada area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy pada jenis tutupan lahan Hutan Tanaman. Perkebunan. Pertambangan dan Pertanian Lahan Kering Campur. Tabel 10. Persebaran Titik Panas Pada Jenis Tanah. Jenis Tanah Rendah Gambut Mineral Jumlah Menengah Tinggi Tanah Gambut terdapat 163 titik panas tersebar pada area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy sebanyak 130 titik, tingkat kerawanan AuTinggiAy sebanyak 2 titik. AuMenengahAy 4 titik dan tingkat kerawanan AuRendahAy sebanyak 27 KESIMPULAN Area dengan tingkat kerawanan kerawanan AuSangat TinggiAy seluas 110,352 Ha, tingkat kerawanan AuTinggiAy 925 Ha, tingkat kerawanan AuMenengahAy seluas 19. 282 Ha, dan area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy 426 Ha. Desa-desa yang memiliki area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy paling luas pertama desa Muara Siran seluas 16. 202 Ha, kedua desa Menamang Kanan seluas 15. 396 Ha, ketiga desa Puan Cepak dengan luas 13,466 Ha. Pada Lahan Terkelola, luas area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy 416 Ha, pada Lahan Terkelola tidak ada area pada tingkat kerawanan AuMenengahAy. AuTinggiAy dan AuSangat TinggiAy, pada Lahan Terlantar, area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy seluas 9 Ha, area dengan tingkat kerawanan AuMenengahAy seluas 19. pada tingkat kerawanan AuTinggiAy seluas Sangat Tinggi Jumlah 926 Ha, dan pada area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy seluas 353 Ha. Persebaran titik panas terdapat pada Lahan Terlantar sebanyak 156 titik, 150 titik diantaranya berada pada area dengan tingkat kerawanan AuSangat TinggiAy, pada Lahan Terkelola terdapat 41 titik panas berada pada area dengan tingkat kerawanan AuRendahAy. Hal ini kejadian kebakaran dengan pengelolaan DAFTAR PUSTAKA