Jurnal Agrotek Lestari Vol. 12 No. April 2026 PP. 1 Ae 11 P-ISSN: 2477-4790 E-ISSN: 2721-8945 Pengaruh Inokulasi Bacillus subtilis Terhadap Dinamika Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Jagung Manis Pada Tanah Salin Dengan Aplikasi Pupuk NPK Dosis Seragam Di Kabupaten Merauke The Effect of Bacillus Subtilis Inoculation on Vegetative Growth Dynamics of Sweet Corn in Saline Soil with Same Doses of NPK Fertilizer in Merauke Regency Anwar1*. Mani Yusuf1. Jefri Sembiring1,Nurhening Yuni Ekowati1 Program Studi agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Musamus Email korespondensi: anwarsp92@unmus. ABSTRACT Sweet corn (Zea mays L. is an important food crop whose cultivation on saline soils faces challenges due to salinity stress, which triggers osmotic and ionic stress. These conditions inhibit water and nutrient uptake, thereby reducing the plantsAo vegetative growth. One approach to enhancing plant tolerance to salinity is the use of plant growth-promoting rhizobacteria, particularly Bacillus subtilis, combined with NPK fertilization. This study aims to determine the effect of Bacillus subtilis inoculation on the vegetative growth of sweet corn in saline soil with uniform NPK fertilizer The study employed a Randomized Block Design (RBD) with seven treatments: a control without Bacillus subtilis. Bacillus subtilis applications at doses of 5, 10, 15, 20, and 25 ml/plant, each combined with 10 g of NPK. and a single NPK treatment. The initial soil had a salinity level (NaC. 8%, which is considered high. Each treatment was replicated four times, resulting in 28 experimental units with a total of 56 plants. The observed variables included plant height, number of leaves, stem diameter, and leaf area at 2, 3, 4, 5, and 6 weeks after planting (WAP). Data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by DuncanAos test at a 5% significance level. The results indicated that Bacillus subtilis inoculation combined with NPK fertilizer had a significant effect on all vegetative growth parameters. The best treatment was obtained at a dose of 10 ml of Bacillus subtilis 10 g of NPK per plant, with a plant height of 228. 75 cm, 14. 50 leaves, a stem diameter of 2. 34 cm, and a leaf area of 861. 6 cmA at 6 WAP. In addition, there was a decrease in soil NaCl content from 0. 8% to 0. 30% in the best treatment, indicating an improvement in soil salinity Keywords: Bacillus subtilis, sweet corn, salinity, vegetative growth. NPK fertilizer ABSTRAK Jagung manis (Zea mays L. merupakan komoditas pangan penting yang pengembangannya di lahan salin menghadapi kendala cekaman salinitas yang memicu stres osmotik dan ionik. Kondisi ini menghambat penyerapan air dan unsur hara sehingga menurunkan pertumbuhan vegetatif tanaman. Salah satu pendekatan untuk meningkatkan toleransi tanaman terhadap salinitas adalah pemanfaatan rhizobakteri pemacu pertumbuhan tanaman, khususnya Bacillus subtilis, yang dikombinasikan dengan pemupukan NPK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inokulasi Bacillus subtilis terhadap pertumbuhan vegetatif jagung manis pada tanah salin dengan aplikasi pupuk NPK dosis seragam. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan tujuh perlakuan, yaitu kontrol tanpa Bacillus subtilis, pemberian Bacillus subtilis dosis 5, 10, 15, 20, dan 25 ml/tanaman yang masing-masing dikombinasikan dengan 10 g NPK, serta perlakuan NPK tunggal. Tanah awal memiliki kadar salinitas (NaC. sebesar 0,8% yang tergolong tinggi. Setiap perlakuan diulang empat kali sehingga diperoleh 28 unit percobaan dengan total 56 tanaman. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan Jurnal Agrotek Lestari Vol. 12 No. April 2026 PP. 1 Ae 11 P-ISSN: 2477-4790 E-ISSN: 2721-8945 luas daun pada umur 2, 3, 4 5, dan 6 minggu setelah tanam (MST). Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Duncan pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inokulasi Bacillus subtilis yang dikombinasikan dengan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan vegetatif. Perlakuan terbaik diperoleh pada dosis 10 ml Bacillus subtilis 10 g NPK per tanaman, dengan tinggi tanaman 228,75 cm, jumlah daun 14,50 helai, diameter batang 2,34 cm, dan luas daun 861,6 cmA pada 6 MST. Selain itu, terjadi penurunan kadar NaCl tanah dari 0,8% menjadi 0,30% pada perlakuan terbaik, yang menunjukkan perbaikan kondisi salinitas tanah. Kata kunci: Bacillus subtilis, jagung manis, salinitas, pertumbuhan vegetatif, pupuk NPK PENDAHULUAN Jagung manis (Zea mays L. merupakan salah satu komoditas hortikultura penting di Indonesia yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan segar dan bahan baku industri olahan. Keberhasilan budidaya jagung manis sangat ditentukan oleh fase pertumbuhan vegetatif awal, karena tahap ini berperan penting dalam pembentukan tajuk, sistem perakaran, dan kapasitas fotosintesis tanaman yang selanjutnya memengaruhi perkembangan fase generative (Anwar et al. , 2. Pertumbuhan vegetatif yang optimal ditandai oleh peningkatan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, serta akumulasi biomassa (Yuliana, 2024. Dolsenyawi, et al, 2. Pengembangan budidaya jagung manis di wilayah Papua Selatan. Kabupaten Merauke, menghadapi kendala keterbatasan lahan Sebagian wilayah ini didominasi oleh lahan marginal yang memiliki potensi salinitas cukup tinggi, terutama pada daerah pesisir dan lahan dengan pengaruh intrusi air laut (BPS Papua Selatan, 2. Pemanfaatan tanah salin menjadi salah satu alternatif dalam perluasan areal Namun, tanah salin memiliki kandungan garam terlarut tinggi yang dapat menghambat pertumbuhan vegetatif Salinitas terganggunya penyerapan air dan unsur hara oleh akar akibat meningkatnya tekanan osmotik larutan tanah, sehingga berdampak pada penurunan pertumbuhan batang dan daun (Arif, et al. , 2020. Awais, et al. , 2. Cekaman salinitas menyebabkan stres osmotik dan ionik yang berdampak negatif terhadap proses fisiologis tanaman, seperti penurunan aktivitas fotosintesis, pertumbuhan akar, dan Akumulasi ion NaA dan ClA yang berlebihan mengganggu keseimbangan hara esensial, terutama KA dan Ca, sehingga menghambat pertumbuhan organ vegetatif (Avianto, 2. Kondisi ini menuntut adanya strategi pengelolaan meningkatkan toleransi tanaman terhadap Salah satu pendekatan yang pemanfaatan Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), Bacillus subtilis. Bakteri ini dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif melalui produksi fitohormon, peningkatan ketersediaan unsur hara, serta perbaikan kondisi rizosfer yang mendukung perkembangan sistem perakaran (Harefa & Lase, 2. Pemupukan NPK tetap diperlukan sebagai sumber hara makro (Anwar et al. , 2. , namun pada tanah salin efisiensinya sering menurun akibat gangguan keseimbangan ion. Kombinasi pemupukan NPK dosis seragam dengan inokulasi Bacillus subtilis diduga meningkatkan pertumbuhan vegetatif jagung manis. Pupuk NPK berperan sebagai sumber utama unsur hara makro. Anwar et al. / J. Agari 12 . : 1 Ae 11 sedangkan Bacillus subtilis meningkatkan efisiensi ketersediaan dan penyerapan hara melalui pelarutan fosfat, produksi fitohormon, serta perbaikan kondisi rizosfer, terutama pada tanah salin yang mengalami ketidakseimbangan ion. Penelitian mengenai pemanfaatan Bacillus subtilis pada jagung manis di tanah salin Kabupaten Merauke yang berfokus pada dinamika pertumbuhan vegetatif masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh inokulasi Bacillus subtilis terhadap pertumbuhan vegetatif jagung manis pada tanah salin dengan aplikasi pupuk NPK dosis seragam sebagai dasar pengembangan teknologi hayati yang berkelanjutan. R2 = Bacillus subtilis 10 ml/tanaman 10 gram NPK/ tanaman R3 = Bacillus subtilis 15 ml/ tanaman 10 gram NPK / tanaman R4 = Bacillus subtilis 20 ml/tanaman 10 gram NPK / tanaman R5 = Bacillus subtilis 25 ml/tanaman 10 gram NPK / tanaman R6 = 10 gram NPK / tanaman Setiap perlakuan diulang 4 kali sebagai kelompok sehingga terdapat 28 unit perlakuan, dan masing-masing perlakuan menggunakan 2 tanaman, sehingga secara keseluruhan terdapat 56 Prosedur Penelitian Prosedur pelaksanaan penelitian ini dimulai dengan pemurnian isolat Bacillus subtilis yang ditumbuhkan pada media NA selama 48 jam, kemudian disuspensikan hingga mencapai kerapatan A10A CFU/ml (OD 0,5. 550 n. Media tanam yang digunakan berupa tanah salin yang dicampur dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1:4 . , kemudian dimasukkan ke dalam polybag dengan kapasitas A8 kg per polybag. Benih jagung disterilisasi menggunakan larutan NaCl 1% selama 1 menit, dibilas dengan aquades steril, selanjutnya direndam dalam suspensi Bacillus subtilis selama 12 jam sebelum ditanam sesuai dengan Pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, serta pengendalian hama. Aplikasi suspensi Bacillus subtilis dilakukan pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam (MST) sesuai dengan dosis perlakuan. Sementara itu, pupuk NPK diberikan sebagai pupuk dasar pada saat tanam sebanyak 5 g per tanaman dan pupuk susulan pada umur 4 MST sebanyak 5 g per tanaman dengan dosis yang seragam pada seluruh perlakuan. METODE Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Program Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Musmaus dan di Lahan sekitaran Kampus Universitas Musamus pada bulan Juni sampai dengan November Bahan dan Alat Bahan yang akan digunakan adalah pupuk kandang, tanah salin, polybag, isolat Bacillus subtilis koleksi Lab Agavi, aquades, media agar pupuk NPK, kapur dolomit. Alat yang akan digunakan adalah alat sterilisasi tanah, timbangan analitik. Erlenmeyer, shaker, alat tester sakinitas tanah, gembor, mistar, jangka sorong, dan alat tulis menulis. Rancangan Penelitian Variabel Pengamatan Variabel pengamatan tanaman yang diamati meliputi: Tinggi tanaman dilakukan dengan mengukur tinggi tanaman dari pangkal batang diatas permukaan tanah hingga pucuk tanaman pada umur 2, 3, 4,5 dan 6 MST Penelitian Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 7 perlakuan yang berbeda, yaitu : R0 = Kontrol . anpa Bacillus subtili. R1 = Bacillus subtilis 5 ml/tanaman 10 gram NPK/ tanaman Anwar et al. / J. Agari 12 . : 1 Ae 11 dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan pada tingkat kepercayaan 95%. Diameter batang diukur menggunakan jangka sorong pada batang bagian bawah . ekitar10 cm diatas permukaan tana. pada umur 2, 3, 4,5 dan 6 MST menghitung jumlah daun yang membuka sempurna pada umur 2, 3, 4,5 dan 6 MST Luas daun pada umur 2, 3, 4,5 dan 6 MST HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacillus NPK berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung manis pada semua waktu pengamatan . , 3, 4, 5, dan 6 MST). Secara umum. Bacillus menghasilkan pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan kontrol dan NPK tunggal. Dosis kecenderungan memberikan hasil tertinggi, yang mengindikasikan adanya efek sinergis dalam meningkatkan pertumbuhan vegetatif pada tanah salin. Analisis data Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan metode analisis varians (ANOVA). Apabila ditemukan perbedaan yang signifikan antar perlakuan, maka analisis Tabel 1. Rerata tinggi tanaman jagung manis pada 2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST dan 6 MST yang diberi perlakuan suspensi rizobakteri Bacillus subtilis di tanah salin Perlakuan R0=kontrol R1=5 ml B. subtilis 10 g NPK R2=10 ml B. subtilis 10 g NPK R3=15 ml B. subtilis 10 g NPK R4=20 ml B. subtilis 10 g NPK R5=25 ml B. subtilis 10 g NPK R6=10 gram NPK Duncan 5% Rerata Tinggi Tanaman . pada Pengamatan Ke 2 MST 3MST 4MST 5MST 6 MST 25,43 d 46,12 d 88,75 c 114,50 c 135,25 c 30,88 cd 66,88 c 130,75 b 172,25 a 175,75 bc 41,20 a 80,00 a 154,00 a 194,50 a 228,75 a 34,65 bc 72,62 b 136,75 ab 185,25 a 215,50 a 35,00 bc 76,75 ab 147,25 ab 194,00 a 221,00 a 37,35 b 75,25 ab 144,50 ab 192,50 a 224,75 a 38,35 ab 77,00 ab 129,75 b 164,75 b 192,00 b 17,71 18,61 33,31 19,07 34,17 19,45 34,81 19,76 35,35 19,99 35,97 Keterangan: Nilai rerata pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata berdasarkan uji lanjut Duncan pada taraf nyata 5% ( = 0,. Hasil Uji Duncan menunjukkan bahwa pemberian suspensi rizobakteri Bacillus subtilis yang dikombinasikan dengan pupuk NPK menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman jagung pada seluruh tahap pengamatan (Tabel . Perbedaan signifikan telah terlihat sejak 2 MST, di mana perlakuan R2 . ml Bacillus subtilis 10 g NPK) menghasilkan tinggi tanaman 41,20 cm, lebih tinggi dibanding kontrol . ,43 c. Pada 6 MST. R2 mencapai 228,75 cm dan berbeda nyata dibanding kontrol yang 135,25 peningkatan sekitar 69%. Perlakuan kombinasi lainnya (R3. R4, dan R. juga menunjukkan tinggi tanaman yang secara statistik setara dengan R2 pada fase 4Ae6 MST, namun tetap lebih tinggi dibanding perlakuan tunggal NPK (R6 = 192,00 cm pada 6 MST). Hal ini menegaskan adanya efek sinergis antara inokulasi bakteri dan pemupukan anorganik. Anwar et al. / J. Agari 12 . : 1 Ae 11 Hasil ini sejalan dengan penelitian oleh Song et al. , . , yang melaporkan bahwa inokulasi Bacillus subtilis HS5B5 mampu meningkatkan tinggi tanaman jagung secara signifikan di bawah kondisi stres salinitas. Bakteri Bacillus dapat meningkatkan penyerapan hara dan pertumbuhan seperti auksin dan giberelin yang berperan dalam pemanjangan batang (Anwar et al. , 2. Penelitian lain oleh Azeem et al. , . juga menunjukkan bahwa strain Bacillus sp mampu meningkatkan tinggi tanaman jagung melalui peningkatan aktivitas enzim antioksidan dan penyerapan nutrien makro di kondisi tanah salin. Hal serupa dilaporkan oleh Souza et al. , . bahwa aplikasi Bacillus subtilis pada jagung meningkatkan tinggi tanaman hingga 35% dibanding kontrol melalui perbaikan sistem perakaran dan efisiensi penyerapan nitrogen. Dengan demikian, peningkatan tinggi tanaman dalam penelitian ini mengindikasikan adanya efek sinergis antara Bacillus subtilis dan NPK ketersediaan nutrisi serta mengurangi dampak negatif salinitas terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman. Hasil Uji Duncan (Tabel . menunjukkan bahwa jumlah daun jagung yang diberi perlakuan kombinasi Bacillus subtilis dan NPK meningkat secara nyata dibanding kontrol. Pada fase awal . MST), perbedaan belum begitu signifikan, namun mulai 3 MST hingga 6 MST pertumbuhan daun tanaman meningkat signifikan pada semua perlakuan yang mengandung Bacillus subtilis, terutama pada dosis 10 ml (R. Tabel 2. Rerata jumlah daun tanaman jagung manis pada 2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST dan 6 MST yang diberi perlakuan suspensi Bacillus subtilis di tanah salin. Perlakuan R0=kontrol R1=5 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R2=10 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R3=15 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R4=20 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R5=25 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R6=10 gram NPK Duncan 5% 2 MST 00 ab 0,28 0,29 0,30 0,31 0,31 0,31 Rerata Jumlah daun (Hela. pada Pengamatan Ke 3MST 4MST 5MST 6 MST 5,25 b 8,25 e 10,00 e 11,50 e 6,00 ab 10,25 cd 11,25 cd 12,50 d 7,00 a 12,50 a 12,75 a 14,50 a 6,50 ab 11,25 b 12,00 b 13,25 bc 6,75 ab 10,75 bc 12,00 b 13,75ab 7,00 a 10,25 cd 11,75 bc 13,25 bc 6,25 ab 9,75 d 11,00 d 12,75 cd 0,97 0,86 0,54 0,84 1,01 0,90 0,57 0,88 1,05 0,92 0,58 0,91 1,07 0,94 0,59 0,92 1,09 0,95 0,60 0,94 1,10 0,97 0,61 0,95 Keterangan: Nilai rerata pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata berdasarkan uji lanjut Duncan pada taraf nyata 5% ( = 0,. Berdasarkan (Tabel . jumlah daun tertinggi diperoleh pada perlakuan R2=10 ml Bacillus subtilis 10 g NPK pada 3, 4, 5 dan 6 MST, di bandingkan dengan perlakuan lain. Peningkatan jumlah daun ini menunjukkan bahwa kombinasi Bacillus subtilis dan pupuk NPK mampu mempercepat pembentukan organ vegetatif serta meningkatkan aktivitas fotosintetik tanaman. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Song et al. , . yang melaporkan bahwa inokulasi Bacillus HS5B5 Anwar et al. / J. Agari 12 . : 1 Ae 11 pertumbuhan jumlah daun dan panjang pucuk tanaman jagung pada kondisi stres Mikroba ini menghasilkan senyawa fitohormon dan eksopolisakarida mempertahankan turgor daun serta merangsang pembentukan jaringan baru. Selain itu, (U. S et al. , 2. menyebutkan bahwa aplikasi Bacillus halotoleran meningkatkan pembentukan daun baru pada tanaman jagung karena aktivitasnya dalam memperbaiki keseimbangan ion dan meningkatkan serapan kalium (KA), unsur penting dalam pembentukan kloroplas dan proses fotosintesis. Penelitian oleh Putri et al. , . juga menemukan bahwa aplikasi rhizobakteri halotoleran, termasuk Bacillus subtilis, meningkatkan jumlah daun dan luas permukaan daun pada jagung manis di lahan salin karena peranannya dalam memperbaiki efisiensi penggunaan air. Dengan demikian, peningkatan jumlah daun pada penelitian ini menunjukkan bahwa inokulasi Bacillus subtilis memberikan efek fisiologis positif dalam tanaman jagung di tanah salin. Hasil Uji Duncan pada (Tabel . menunjukkan bahwa pemberian Bacillus subtilis yang dikombinasikan dengan pupuk NPK berpengaruh nyata terhadap diameter batang jagung manis. Secara umum, perlakuan dengan Bacillus subtilis menunjukkan diameter batang lebih besar dibandingkan kontrol dan NPK tunggal, dengan kecenderungan terbaik pada dosis 10 ml per tanaman. Tabel 3. Rerata diameter batang tanaman jagung manis pada 2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST dan 6 MST yang diberi perlakuan suspensi Bacillus subtilis di tanah salin Perlakuan R0=kontrol R1=5 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R2=10 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R3=15 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R4=20 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R5=25 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R6=10 g NPK Duncan 5% Rerata Diameter Batang . pada Pengamatan ke 2 MST 3MST 4MST 5MST 6 MST 0,37 0,71 c 1,10 d 1,51 d 1,56 d 0,50 1,25 ab 2,08 bc 2,24 b 2,18 b 0,55 1,49 a 2,46 a 2,60 a 2,34 a 0,50 1,12 b 2,10 bc 2,30 ab 2,36 b 0,50 1,30 ab 2,23 ab 2,35 ab 2,4 ab 0,63 1,26 ab 2,18 abc 2,38 ab 2,47 ab 0,54 1,15 b 1,89 c 04 c 2,72 c 0,23 0,24 0,24 0,25 0,24 0,25 0,25 0,27 0,25 0,26 0,26 0,27 0,25 0,26 0,26 0,28 0,26 0,27 0,27 0,28 0,26 0,27 0,27 0,29 Keterangan: Nilai rerata pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata berdasarkan uji lanjut Duncan pada taraf nyata 5% ( = 0,. Pemberian kombinasi Bacillus subtilis dan pupuk NPK juga berpengaruh nyata terhadap peningkatan diameter batang jagung. Perbedaan antarperlakuan mulai terlihat signifikan sejak 3 MST, dengan perlakuan R2 . ml Bacillus subtilis 10 g NPK) menghasilkan diameter batang tertinggi pada hampir semua waktu pengamatan. Peningkatan diameter batang menunjukkan bahwa pertumbuhan jaringan mekanik dan vaskuler tanaman berlangsung optimal akibat perbaikan kondisi fisiologis tanaman oleh aktivitas mikroba. Hasil ini sejalan dengan temuan Mahapatra et al. , . menunjukkan Anwar et al. / J. Agari 12 . : 1 Ae 11 bahwa inokulasi Bacillus subtilis pada tanah masam yang diamendemen biochar meningkatkan diameter batang dan luas daun jagung secara signifikan melalui perbaikan aktivitas mikroba tanah serta peningkatan ketersediaan hara makro. Selain itu, (Wang et al. , 2. melaporkan bahwa Bacillus subtilis A3 tidak hanya terhadap penyakit batang, tetapi juga memperbesar diameter batang jagung akibat peningkatan pembentukan jaringan Hasil dilaporkan oleh (Wu et al. , 2. yang menemukan peningkatan diameter batang tanaman jagung di bawah stres salinitas akibat aktivitas Bacillus halotoleran dalam meningkatkan sintesis auksin dan Kombinasi Bacillus subtilis dan pupuk NPK dalam penelitian ini terbukti memperkuat pertumbuhan struktural tanaman, menjadikan batang lebih tebal dan kokoh dalam menghadapi stres Berdasarkan hasil uji Duncan pada Tabel 4, pemberian Bacillus subtilis yang dikombinasikan dengan pupuk NPK menunjukkan perbedaan nyata terhadap luas daun jagung manis. Perlakuan dosis 10 ml per tanaman memberikan hasil tertinggi dan berbeda nyata dibandingkan sebagian besar perlakuan lainnya. Tabel 4. Rerata luas daun tanaman jagung pada 2 MST, 3 MST, 4 MST, 5 MST dan 6 MST yang diberi perlakuan suspensi rizobakteri Bacillus subtilis di tanah salin Perlakuan R0=kontrol R1=5 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R2=10 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R3=15 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R4=20 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R5=25 ml Bacillus subtilis 10 g NPK R6=10 g NPK Duncan 5% Rerata Luas Daun . pada Pengamatan ke 2 MST 3MST 4MST 5MST 6 MST 21,04 c 108,19 d 285,09 d 383,28 d 423,39 d 28,53 c 192,02 c 579,00 bc 724,88 b 768,32 b 71,81 a 263,88 a 799,26 a 814,24 a 861,6 a 44,97 b 208,54 b 603,49 b 759,17 ab 786,75 ab 39,18 bc 226,35 b 638,44 b 731,53 b 761,14 b 46,95 b 210,91 b 631,93 b 772,31 ab 818,25 ab 41,93 bc 218,69 b 490,2 c 602,63 c 641,19 c 23,97 58,07 61,98 26,02 62,98 26,57 64,35 27,08 65,52 66,34 Keterangan: Nilai rerata pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukkan perbedaan yang tidak nyata berdasarkan uji lanjut Duncan pada taraf nyata 5% ( = 0,. Luas daun tanaman jagung juga mengalami peningkatan signifikan dengan kombinasi Bacillus subtilis dan pupuk NPK. Perlakuan 10 ml Bacillus subtilis 10 g NPK (R. menunjukkan hasil tertinggi pada seluruh tahap pengamatan, dengan luas daun mencapai 851,6 cmA pada 6 MST, diikuti oleh R5 . ,25 cmA) dan R3 . ,75 cmA). Sementara itu, perlakuan kontrol memiliki luas daun paling rendah . ,39 cmA). Peningkatan luas daun berhubungan erat dengan kemampuan Bacillus subtilis dalam meningkatkan status air tanaman, efisiensi fotosintesis, serta kandungan klorofil pada Penelitian Mendrofa & Lase, . melaporkan bahwa kombinasi Bacillus subtilis dengan bahan pembenah tanah meningkatkan luas daun dan efisiensi fotosintesis pada tanaman jagung Anwar et al. / J. Agari 12 . : 1 Ae 11 memperbaiki ketersediaan nitrogen. Kashyap et al. , . juga menemukan bahwa aplikasi rhizobakteri halotoleran, termasuk Bacillus subtilis, meningkatkan luas daun dan indeks luas daun (LAI) tanaman jagung manis di lahan salin melalui pengurangan akumulasi ion NaA di jaringan daun. Hasil penelitian oleh Souza et al. menegaskan bahwa Bacillus subtilis mampu meningkatkan kandungan klorofil dan area permukaan daun pada jagung, memperkuat kemampuan tanaman lingkungan dengan kadar garam tinggi. Peningkatan luas daun dalam penelitian ini menunjukkan bahwa Bacillus subtilis berperan penting dalam menjaga fungsi fisiologis daun serta memperbaiki efisiensi metabolisme tanaman pada kondisi cekaman salinitas. Hasil menunjukkan bahwa kondisi awal tanah memiliki tingkat salinitas yang tinggi dibandingkan setelah pengaplikasian rizobakteri Bacillus subtilis dan NPK yang disajikan pada table 5. Tabel 5. Hasil analis tanah salin sebelum dan sesudah pengaplikasian rizobakteri Bacillus subtilis dan pupuk NPK. Sebelum Perlakuan NaCl (%) Tanah awal Sesudah Perlakuan NaCl (%) R0 (Kontro. R1 . ml Bacillus subtilis 10 g NPK) R2 . ml Bacillus subtilis 10 g NPK) R3 . ml Bacillus subtilis 10 g NPK) R4 . ml Bacillus subtilis 10 g NPK) R5 . ml Bacillus subtilis 10 g NPK) R6 . g NPK) Data pada (Tabel . menunjukkan bahwa tanah awal memiliki tingkat salinitas tinggi dengan kadar NaCl sebesar 0,8%. Setelah penanaman dan pemberian perlakuan, terjadi penurunan kadar NaCl pada seluruh perlakuan, baik kontrol maupun perlakuan dengan pupuk dan Penurunan paling nyata terjadi pada perlakuan kombinasi Bacillus subtilis dan pupuk NPK, khususnya pada dosis 10 ml . ,30%) dan 15 ml . ,35%), dibandingkan dengan kontrol . ,60%) dan perlakuan NPK tunggal . ,55%). Hal ini menunjukkan bahwa Bacillus menurunkan kadar garam tanah melalui aktivitas biologisnya di daerah rizosfer, seperti meningkatkan keseimbangan ion dan membantu mengurangi akumulasi ion NaA. Selain itu, interaksi dengan pupuk NPK diduga meningkatkan efisiensi serapan hara sehingga memperbaiki kondisi kimia tanah. Penurunan salinitas ini berdampak positif terhadap lingkungan tumbuh tanaman, karena kondisi tanah pertumbuhan vegetative (Wayan et al. Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Husen et al. , . sebelumnya yang menyatakan bahwa aplikasi rhizobakteri halotoleran mampu menekan kadar garam tanah serta meningkatkan kualitas tanah pada kondisi salin, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman secara optimal Perlakuan kombinasi Bacillus subtilis dan pupuk NPK secara nyata pertumbuhan jagung di tanah salin, meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan luas daun. Dosis 10 ml Bacillus subtilis 10 g NPK (R. memberikan hasil terbaik, menunjukkan Anwar et al. / J. Agari 12 . : 1 Ae 11 efek sinergis antara mikroba dan pupuk dalam memperbaiki ketersediaan hara serta menekan stres salinitas. Bakteri Bacillus membantu meningkatkan penyerapan nutrisi, produksi hormon pertumbuhan, dan aktivitas antioksidan, sedangkan NPK berfungsi sebagai sumber unsur hara Kombinasi keduanya memperbaiki kondisi rizosfer, memperkuat sistem vegetatif, dan mendorong pertumbuhan jagung lebih optimal di tanah salin. VIABEL: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Pertanian, 20. , 56Ae64. Anwar. Yusuf. Rizal. , & Endrawati. Efektivitas Penggunaan Limbah Air Cucian Beras Dalam Mengurangi Penggunaan Pupuk Npk Mutiara Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays L. VIABEL: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Pertanian, 17. , 14Ae22. Arif. Singh. Siddiqui. Bajguz, , & Hayat. Salinity biochemical changes in plants: An omic approach towards salt stress Plant Physiology and Biochemistry, 156, 64Ae77. Avianto. The Impact of Calcium Supplementation Physiological Activity and Cherelle Wilt Reduction Cocoa (Theobroma cacao L. Jurnal Biologi Tropis, 25. , 179Ae189. Awais. Rasheed. , & Sadiq. Salinity stress effects on nutrient uptake in plants and its Trends in Animal and Plant Sciences, 1, 64Ae72. Azeem. Khan. Ali. Ahmad, . Rahim. Iftikhar. Iqbal, . Aljaloud. Mohammed. , & Chaudhary. Halotolerant Bacillus Aryabhattai Strain PM34 Mitigates Salinity Stress and Enhances the Physiology and Growth of Maize. Journal of Plant Growth Regulation, 1Ae19. https://doi. org/10. 1007/s00344024-11456-y BPS Papua Selatan. Papua selatan dalam angka. Badan Pusat Statitika Papua Selatan. Dolsenyawi. Polnaya. , & Lawalata, . Respon Pemberian Pupuk Phonska Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung Manis (Zea mays KESIMPULAN Inokulasi Bacillus dikombinasikan dengan pupuk NPK meningkatkan pertumbuhan vegetatif jagung manis pada tanah salin, ditunjukkan oleh tinggi tanaman 228,75 cm, jumlah daun 14,50 helai, diameter batang 2,34 cm, dan luas daun 861,6 cmA. Perlakuan terbaik diperoleh pada dosis 10 ml per tanaman, yang juga mampu menurunkan kadar NaCl tanah dari 0,8% menjadi 0,30%. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Musamus Merauke, khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Musamus, atas pendanaan melalui Hibah Penelitian Dosen Pemula. Penulis juga menyampaikan apresiasi Kepala Laboratorium Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Musamus serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. DAFTAR PUSTAKA