AGREGAT Vol. No. November 2017 ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] EFEKTIFITAS KOLOM DENGAN TULANGAN COLD-FORMED TYPE HOLLOW DALAM MEMIKUL BEBAN AKSIAL Budi Hastono Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas DR. Soetomo Surabaya. Jl. Semolowaru No. 84 Surabaya, 60111 budihastono@gmail. Abstract As part of the support component in the building structure, the column is a component that bears an external load and it will give rise to axial force, bending moment and shear force along its height. Pure concrete columns can support very small loads, but their load carrying capacity will increase considerably if added longitudinal bars. Larger strength enhancements can be made by providing lateral restraints in this longitudinal reinforcement. As a result of the compressive load, the column tends not only to shorten in the longitudinal direction but also expands in the lateral direction due to the poison's effect. This research will be carried out by testing the maximum axial load until the crack occurs in the reinforced concrete column with the planning of the two looks, the 20 x 20 x 60 cm column size with the dependent variable of longitudinal steel screw and Cold Formed . ild stee. type hollow steel. The results of this study The use of the column by using screw steel reinforcement is still more effective than by using cold-formed steel reinforcement. Columns with reinforced steel reinforcement have a lower strength of 4% of the column by using screw steel reinforcement. Keywords: Column, axial, cold-formed Abstrak Sebagai bagian dari komponen penyokong dalam struktur bangunan, kolom merupakan komponen yang memikul beban luar dan itu akan menimbulkan gaya aksial, momen lentur dan gaya geser disepanjang ketinggiannya. Kolom beton murni dapat mendukung beban sangat kecil, tetapi kapasitas daya dukung bebannya akan meningkat cukup besar jika ditambahkan tulangan Peningkatan kekuatan yang lebih besar dapat dibuat dengan memberikan kekangan lateral pada tulangan longitudinal ini. Akibat beban tekan, kolom cenderung tidak hanya memendek dalam arah memanjang tetapi juga mengembang dalam arah lateral karena pengaruh poison. Penelitian ini akan dilakukan pengujian beban aksial maximum sampai terjadi retak pada kolom beton bertulang dengan perencanaan tampang dua, ukuran kolom 20 x 20 x 60 cm dengan variabel dependen tulangan longitudinal baja ulir dan tulangan Cold Formed ( baja ringan ) type hollow. Hasil dalam penelitian ini Penggunaan kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir masih lebih efektif dari pada dengan menggunakan tulangan baja cold-formed. Kolom dengan tulangan baja col-formed mempunyai kekuatan lebih rendah 44, 4 % dari kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir. Kata Kunci: Kolom, axial, cold-formed PENDAHULUAN Kolom sebagai elemen yang berfungsi sebagai penyokong dan memikul beban aksial tekan maupun tarik dengan perbandingan dari tinggi terhadap ukuran sisi terkecil yang tidak kurang dari 3. Kolom beton bertulang pada prinsipnya terdiri dari dua macam, yang digolongkan menurut cara bangaimana batang tulangan longitudinal di tumpu dalam arah lateral. Kolom dengan pengikat, biasanya berbentuk bujur sangkar, persegi atau lingkaran, adalah jenis kolom dimana tulangan utama memanjang di pasang dalam kedudukannya oleh pengikat lateral terpisah yang umumnya ditempatkan dengan jarak 12 sampai 24 Unsur struktur yang dibebani aksial, dengan atau tanpa kombinasi dengan lentur sering memikul bagian yang lebih besar dari beban tetap, akibatnya pengalihan beban dari beton ke tulangan akibat deformasi yang tergantung pada waktu. Permasalahan yang terjadi pada penelitian ini - Seberapa besar kemampuan cold formed type hollow sebagai tulangan pada elemen kolom beton bertulang dalam menahan beban aksial. - Sampai berapa persen kekuatan tulangan cold formed type hollow dalam menahan beban aksial yang dapat dihasilkan terhadap tulangan baja konvensional pada elemen kolom beton Penelitian ini akan dilakukan pengujian beban aksial maximum sampai terjadi retak pada kolom beton bertulang dengan perencanaan tampang dua, ukuran kolom 20 x 20 x 60 cm dengan variabel dependen tulangan longitudinal baja ulir dan tulangan baja ringan type hollow. Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. AGREGAT Vol. No. November 2017 ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] Gambar 1. : Benda uji yang dibebani secara aksial Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah mendapatkan kekuatan penggunaan tulangan cold formed pada elemen kolom beton bertulang, dan nantinya memberikan konstribusi dalam dunia pendidikan dan praktisi yang berkecimpung dalam dunia kontruksi berupa penggunaan alternatif bahan cold formed sebagai tulangan yang dapat dipergunakan selain baja tulangan TINJAUAN PUSTAKA Beton dibentuk oleh pengerasan campuran semen, air, agregat halus, agregat kasar . atu pecah atau keriki. , udara, dan kadang Ae kadang adanya campuran tambahan Campuran yang masih plastis ini dicor kedalam acuan dan dirawat untuk mempercepat reaksi hidrasi campuran semen Ae air, yang menyebabkan pengerasan Bahan yang terbentuk ini mempunyai kekuatan tekan yang tinggi, dan ketahanan terhadap tarik yang rendah, atau kira Ae kira kekuatan tariknya 10 sampai 15 persen dari kekuatan terhadap tekan (Edward ,1. Maka penguatan terhadap tarik dan geser harus diberikan pada daerah tarik dari penampang untuk mengatasi kelemahan pada daerah tarik dari elemen beton bertulang. Kedua komponen ini, beton dan tulangan harus disusun komposisinya sehingga dapat dipakai sebagai material yang optimal. Pada saat pembuatan beton diharapkan akan menjadi benda padat yang kuat tetapi harus diperhatikan bahwa pada kenyataan dilapangan sering kali pembuatan beton tidak menjadi seperti yang diharapkan karena timbulnya keretakanAekeretakan yang terjadi akibat dari kondisiAekondisi yang mempengaruhi beton tersebut. Beton mengalami keretakan karena beberapa sebab, sebab yang sering terjadi adalah karena adanya beban yang berlebih pada struktur tersebut sehingga beton mengalami retak pada daerah tarik yang dapat membahayakan Sebab lain yang sering terjadi adalah karena pengaruh temperatur yang menyebabkan susut dan rangkak pada beton. Kerusakan Pada Beton Beton bertulang dalam pelaksanaannya selalu memperhatikan keawetan dari struktur beton bertulang Keawetan pada beton bertulang adalah sebagai kemampuan untuk menahan bekerjanya pengaruh kimia, fisika, dan mekanis. Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. Keawetan beton didasarkan atas dasar perencanaan, pelaksanaan dan pemakaian yang baik dan benar. Fase perencanaan terhadap beton bertulang adalah fase penting terhadap perencanaan kekakuan dan kekuatan serta menjadi acuan dari keawetan dari beton bertulang itu Pada struktur kolom sering terjadi retak yang diakibatkan oleh berlebihnya beban dari yang telah direncanakan, hal ini tentunya menyebabkan keawetan beton bertulang menjadi terganggu dan rusak. Penyebab beban berlebih ini diakibatkan oleh perubahan fungsi Masalah lain yang juga menjadi penyebab kerusakan pada beton biasanya diakibatkan oleh pelaksanaan dilapangan misalnya bentuk bekisting yang tidak kokoh, selimut beton yang tipis dan kurangnya perhatian pada sambungan pengecoran. Kerusakan yang sering terjadi pada suatu struktur adalah timbulnya retak Ae retak pada bangunan yang akan mempengaruhi kekuatan dari beton bertulang bahkan memicu beton bertulang menjadi patah. Retak adalah suatu indikasi bahwa suatu struktur telah dipaksa untuk menerima atau menyerap energi dari suatu bentuk tegangan (Chemco System,2. Jenis kerusakan pada beton bertulang dapat dibagi dalam 3 pengaruh (Sagel dkk. Gideon, 1. Akibat pengaruh mekanis. Akibat pengaruh fisika. Akibat pengaruh kimia. Perencanaan Campuran Adukan Beton Metode perencanaan campuran beton yang dipergunakan adalah berdasarkan Standart Nasional Indonesia (SNI). Dasar perencanaan metode ini harus memenuhi persyaratan, yaitu : Memenuhi ketentuan kuat tekan karakteristik Memenuhi keawetan terhadap pengaruh Ae pengaruh serangan agresif lingkungan. Memenuhi kemudahan dalam pengerjaan Memenuhi nilai ekonomis . Perencanaan tulangan kolom Resiko keruntuhan kolom lebih berbahaya di banding keruntuhan balok, karena kolom lebih banyak memikul bagian struktur di banding balok sehingga bila kolom runtuh akan lebih banyak bagian dari bangunan yang hancur di banding bila balok yang runtuh. Oleh karena itu dalam mendesain kolom harus mengandung dasar filosofi perencanaan kolom yaituAy strong column weak beamAy. AGREGAT Vol. No. November 2017 ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] Jenis kolom al : berdefleksi secara lateral, akibanya akan ada beban - Kolom tekan pendek, seperti pedestal, umumnya tambahan yaitu beban kolom dikalikan defleksi beban aksial yang besar dan momen yang kecil atau lateral, hal ini disebut momen sekunder, atau momen diabaikan, kolom tipe ini bisa di desain tanpa POI. tulangan walaupu penulangan hanya tulangan - Kolom sengkang persegi, kolom dimana tulangan longitudinal di ikat oleh tulangan sengkang berbentuk - Kolom pendek , struktur yang kokoh dengan persegi, tulangan sengkang mencegah tulangan fleksibilitas yang kecil. longitudinal bergerak saat konstruksi dan mencegah - Kolom langsing/panjang, dengan bertambahnya rasio tulangan longitudinal menekuk kearah luar pada saat kelangsingan deformasi lentur bertambah. Apabila menerima beban. kolom langsing menerima momen, sumbu akan - Kolom sengkang spiral, kolom dengan tulangan Kondisi Baja Ringan Tulangan Pada Strain dengan tulangan sengkang melingkar. Hardening ( Pengerasan Regangan ) - Kolom komposit, kolom yang diberi tulangan longitudinal dangan profil baja struktur. ycEycu = 0,85. ayci Oe yaycyc ) yceyc . yaycyc Dimana : : Luas kotor penampang kolom beton ( mm2 ) Ast : Luas total baja tulangan longitudinal kolom ( : Kuat leleh baja tulangan ( N/mm2 ) fcAo : Kuat tekan silinder beton ( N/mm2 ) Curva Beban Regangan beton Beb Curva Beban Regangan 0,85 fc' ( Ag - Ast ) Ast . Regangan Axial Gambar 2. Bentuk kurva hubungan beban Ae regangan untuk beton dan baja akibat beban axial kolom beton bertulang. Hubungan Tegangan Regangan Elastis Ae Plastis Ideal Tegangan Tarik Ultimate Tegangan Beban Axial Kolom Pendek Beban ultimate pada kolom tidak terlalu bervariasi terhadap sejarah pembebanannya. Pada saat beban bertambah, baja tulangan secara normal akan terjadi kekuatan lelehnya sebelum beton mencapai kehancuran. Bagaimanapun kondisi tersebut, kolom tidak dapat dikatakan terjadi beban ultimate. Beban axial ultimate yang terjadi pada kolom beton bertulang adalah gabungan dari kekuatan leleh baja tulangan dan kekuatan hancur beton. Kekuatan beton dengan beban axial pada kolom adalah sebesar 0,85 fcAo. Sehingga beban ultimate untuk beban axial pada kolom dapat di A Daerah Regangan tetap peningkatan titik leleh akibat Pengerasan Daerah Daerah pengerasan Regangan Gambar 2. Bentuk kurva ideal hubungan tegangan Ae regangan akibat adanya regangan yang melebihi pada daerah elastis. ( Charles G Salmon . Struktur Baja Desain dan Perilaku ) Pada gambar 2. memperlihatkan suatu sifat baja secara ideal, yang dapat dikatakan sebagai kurva perilaku mekanik tegangan Ae regangan baja. Pada saat batang baja diberikan pembebanan sampai suatu tegangan tertentu yang belum terjadi leleh, maka apabila pembebanan dilepaskan, batang baja akan kembali ke dalam keadaan semula, kembali ketitik 0, karena batang baja masih dalam daerah elastis. Apabila pembebanan dilakukan dan telah melampaui titik leleh ( yield point ) hingga ke titik A , kemudian pembebanan dilepaskan, maka akan terjadi suatu regangan yang tertinggal atau regangan sisa sebesar 0B. pada kondisi ini kapasitas daktilitasnya atau banyaknya regangan tetapnya berkurang menjadi sebesar BF. Pembebanan kembali memperlihatkan seperti perilaku tegangan Ae regangan semula, tetapi dengan permulaan pembebanan pada titik B, sehingga daerah plastis yang mendahului pengerasan regangan tersebut juga menjadi berkurang. Apabila Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. AGREGAT Vol. No. November 2017 batang baja diberikan pembebanan kembali yang dimulai dari titik B sampai pada titik C, pada saat pembebanan dilepaskan, maka kurva yang terjadi adalah titik CD. Titik C adalah menunjukkan suatu titik leleh sebagai akibat pengaruh pengerasan regangan ( strain hardening ), dengan tegangan yang lebih besar dari tegangan semula, dengan kata lain titik C dapat dikatakan sebagai peningkatan titik leleh akibat pengerasan regangan. Pada kondisi ini kapasitas daktilitasnya kembali berkurang tinggal sebesar DF. Dengan perilaku pembebanan berulang yang terjadi diluar daerah elastis akan dapat mengurangi tingkat daktilitas dari batang baja tulangan. METODE PENELITIAN Diagram Alir Penelitian Secara umum tahapan penelitian dapat dijelaskan dalam diagram alir sebagai berikut : Mulai Penelusuran Pustaka & Persiapan Bahan Studi Pemeriksaan perencanaan bahan : Pemeriksaan semen dan Perencanaan campuran beton Perencanaan beban teoritis Pegujian mutu beton & mutu Uji kuat tekan beton . ilinder A 15 Ae 30 c. Uji kuat leleh baja (A 12 mm Uji kuat leleh baja ringan Pembuatan benda uji : Benda uji kolom beton bertulang dengan mutu beton fcAo = 30 Mpa, mutu baja fy = 300 Mpa. Dan 550 Mpa. dengan tulangan baja ulir dengan tulangan baja ringan Pegujian kolom beton bertulang : Uji axial tekan kolom ( 20 x 20 x 60 cm Analisa Kesimpulan dan Saran Selesai Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] Bahan dan Peralatan Bahan dan peralatan yang digunakan dalam penelitian adalah : Benda uji silinder beton dimeter 15 cm, panjang 30 cm sebanyak 20 buah. Benda uji kolom beton bertulang dengan dimensi 20 x 20 x 60 cm sebanyak 3 buah kolom dengan tulangan longitudinal baja ulir 12 mm, dan sebanyak 3 buah kolom dengan tulangan longitudinal baja ringan. Cetakan beton ( begisting ) Mesin pengujian kuat tarik baja tulangan (Universal Testing Machine ) Mesin Pengujian kuat tekan silinder beton ( Universal Testing Machine ) Mesin pengujian kuat aksial ( Universal Testing Machine ) Perencanaan dan Analisa Bahan Perencanaan awal kuat aksial kolom beton bertulang Perencanaan kuat aksial digunakan baja tulangan yang direncanakan dengan perencanaan tulangan tampang dua dengan kondisi underreinforced. Data Ae data yang digunakan dalam perencanaan tulangan sbb : fcAo = 30 Mpa = 300 Mpa . 550 Mpa = 200 mm = 200 mm = 600 mm = 40 mm tul longitudinal = 4 - A12 mm . 4 Ae 40. 0,5 mm tul geser = A 6 mm Ae 60 mm Penyelidikan bahan semen dan agregat Penyelidikan atau pemeriksaan bahan pembentuk beton yaitu bahan semen dan agregat bertujuan untuk mengetahui kondisi masing-masing bahan sehingga dapat dipergunakan dalam merencanakan campuran adukan beton yang sesuai dengan kuat tekan beton yang Bahan semen menggunakan semen gresik type I, bahan agregat kasar berupa batu pecah dan agregat halus alami dari mojokerto. Perencanaan campuran adukan beton Campuran adukan beton direncanakan dengan menggunakan metode SNI ( Standart Nasional Indonesia ), yang direncanakan mempunyai kuat tekan beton 30 Mpa pada umur 28 hari dengan bagian cacat 5 %. Pengujian bahan Pengujian kuat tekan beton fcAo Pengujian kuat tekan dilakukan terhadap sample benda uji silinder diameter 15 cm dan tinggi 30 cm, sebanyak 4 buah untuk masing-masing umur 3, 7, 14, 21, 28 hari. Dari hasil pengujian ini akan didapatkan nilai kuat tekan AGREGAT Vol. No. November 2017 ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] beton fcAo untuk benda uji balok beton bertulang dan digunakan sebagai perencanaan kuat lentur yang dicapai oleh benda uji balok beton bertulang. Pembuatan benda uji Detail penampang kolom beton bertulang Manometer 20 cm 20 cm Benda uji silinder 4 A 10 mm A 6 Ae 60 mm 600 mm Gambar 3. Model Pengujian Kuat tekan beton Gambar 3. Detail Benda Uji kolom dengan tulangan baja ulir 20 cm 20 cm Pengujian kuat leleh baja tulangan fy Pengujian dilakukan terhadap sample benda uji baja tulangan produksi master steel yang mempunyai kuat leleh spesifikasi 400 Mpa dengan diameter 12 mm sebanyak 4 buah, baja ringan type hollow produksi smart truss yang mempunyai kuat leleh 550 Mpa dengan ukuran 40,20,1 mm sebanyak 4 buah. Pengujian kuat leleh baja tulangan dilakukan dengan menarik benda uji baja tulangan hingga putus, yang nantinya dapat diketahui nilai kuat leleh dan kuat tarik baja tulangan serta grafik tegangan Ae regangan dari baja tulangan. Dari hasil pengujian kuat leleh dan kuat tarik aktual ini nantinya digunakan sebagai perencanaan kuat lentur yang dicapai oleh benda uji balok beton bertulang. 4 hl 40,20,0. 5 mm A 6 Ae 60 mm Kertas grafik Manometer 600 mm Benda uji baja Gambar 3. Detail Benda Uji kolom dengan tulangan baja ringan Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. AGREGAT Vol. No. November 2017 ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] Detail Jenis Pengujian Pembebanan dilaksanakan dengan pemberian beban langsung dengan dua titik terpusat dari tengah bentang. Alat yang digunakan adalah Universal Testing Machine (UTM) dengan kapasitas 100 ton, dengan kecepatan pembebanan antara 862 sampai 1207 kPa/menit, sesuai standart ASTM. Kekuatan Aksial kolom dapat diketahui dengan ycEycu = 0,85. yceyca A . ayci Oe yaycyc ) yceyc . yaycyc : Kapasitas pembebanan nominal kolom ( N ) : Luas kotor kolom ( mm2 ) Ast : Luas tulangan longitudinal ( mm2 ) FcAo : Kuat tekan silinder beton ( N/mm2 ) : Kuat leleh Baja tulangan ( N/mm2 ) Tabel . Hasil pengujian material beton No. Jenis Pemeriksaan bahan Berat Jenis Semen Berat volume Semen Nilai yang dihasilkan 15 gr/cm3 Tanpa rojokan / lepas 16 gr/cm3 Dengan rojokan 28 gr/cm3 Berat Volume Agregat Halus Tanpa rojokan / lepas 55 gr/cm3 Dengan rojokan 63 gr/cm3 Berat Jenis Agregat Halus Basah / asli 79 gr/cm3 Kering Permukaan / SSD 55 gr/cm3 Kering Oven 32 gr/cm3 Manometer Penyerapan Air Agregat Halus Kadar Air Agregat Halus Kering Permukaan / SSD Kadar Lumpur Agregat Halus Kadar organik agregat halus Warna coklat muda Gradasi Agregat Halus Berat Volume Agregat Kasar Benda uji kolom Gambar 3. Model pengujian kuat aksial kolom beton bertulang HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam bab ini akan disajikan beberapa hasil dari pengujian Ae pengujian yang telah dilakukan terhadap material beton, baja tulangan dan uji axial kolom beton Berikut analisa dan pembahasannya. Hasil Pemeriksaan Material Beton ( Semen dan Agregat ) Semua material pembentuk beton, yaitu semen, agregat halus dan agregat kasar sebelum dipergunakan dalam pembuatan beton dilakukan pemeriksaan kondisi material di Labobratorium. Adapun setelah dilakukan pemeriksaan terhadap material pembentuk beton, maka beberapa hasil yang didapatkan adalah sebagai berikut : Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. Grade Zone 2 Tanpa rojokan / lepas 65 gr/cm3 Dengan rojokan 75 gr/cm3 Berat Jenis Agregat Kasar Basah / asli 7 gr/cm3 Kering Permukaan / SSD 67 gr/cm3 Kering Oven 61 gr/cm3 Penyerapan Air Agregat Kasar Kadar Air Agregat Kasar Kering Permukaan / SSD Kadar Lumpur Agregat Kasar Gradasi Agregat Kasar 3/16 in s/d 1 1/2 in Perencanan Campuran Beton ( Mix Desain ) Perencanaan campuran adukan beton dengan menggunakan metode SNI. Dalam perencanaan campuran ini berdasarkan dari hasil pemeriksaan material dan diharapkan dapat menghasilkan mutu beton yang diharapkan yaitu mutu 30 Mpa. Prosedur perencanaan campuran beton dapat ditabelkan sbb : AGREGAT Vol. No. November 2017 ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] Tabel 4. Rancangan Adukan Beton Kuat leleh & kuat tarik baja cold formed 0,5 mm DAFTAR ISIAN ( FORMULIR ) PERENCANAAN CAMPURAN BETON "STANDART NASIONAL INDONESIA" No. URAIAN Kuat tekan yang disyaratkan TABEL/GRAFIK/ PERHITUNGAN Ditetapkan pada umur 28 hari dengan bagian cacat 5 % NILAI 30 Mpa 357 Kg/cm2 882352941 Mpa 60 Kg/cm2 647058824 Mpa 4 Kg/cm2 64705882 Mpa 4 Kg/cm2 Semen Normal Type I S550 Batu Pecah Alami Deviasi Standart Diketahui atau tabel 2. Nilai Tambah . k = 1,64 x Sr Kekuatan rata - rata yang direncanakan Jenis semen Ditetapkan Jenis agregat kasar Jenis agregat halus Faktor air semen bebas Tabel 2. 2 dan grafik 2. Faktor air semen maximum Ditetapkan atau PBI atau tabel 2. Slump Ditetapkan atau PBI 80 Mm 10 Ukuran agregat maximum Ditetapkan atau PBI 30 Mm 11 Kadar air bebas Tabel 2. 12 Jumlah semen 11 : 7 atau 11 : 8 2272727 kg/m3 13 Jumlah semen maximum Ditetapkan 2272727 kg/m3 14 Jumlah semen minimum Ditetapkan atau PBI atau tabel 2. 15 Faktor air yang disesuaikan 325 kg/m3 16 Susunan besar butir agregat halus 17 Prosentase bahan lebih halus dari 4,8 mm 9 liter/m3 Zone 2 Grafik 2. 6 s/d 2. 18 Berat jenis riil agregat ( kering permukaan ) Lanjutan Tabel 4. 19 Berat Jenis Beaten TABEL/GRAFIK/ PERHITUNGAN Grafik 2. 20 Kadar agregat Gabungan 19 - 11 Ae 12 873 kg/m3 21 Kadar agregat halus 17 x 20 705 kg/m3 22 Kadar agregat kasar 20 Ae 21 167 kg/m3 No. URAIAN Kesimpulan kebutuhan campuran per m3 beton ( agregat kondisi SSD ) Semen NILAI 2370 kg/m3 227 kg Hasil Pengujian kuat leleh baja tulangan Kuat leleh & kuat tarik baja tulangan ulir dia 12 Kesimpulan hasil pengujian kuat tarik baja : Hasil dari pengujian baja tulangan ulir dia 12 mm menghasilkan kuat leleh rata-rata sebesar 283 N/mm2 dan kuat tarik sebesar 442 N/mm2. Hasil pengujian baja cold formed 40x20x0,5 menghasilkan kuat leleh rata-rata sebesar 135 N/mm2 dan kuat tarik sebesar 165 N/mm2 Berdasarkan dari hasil pengujian kuat tarik baja tulangan menunjukkan kekuatan aktual yang terjadi jauh lebih rendah dari nilai kekuatan teoritis perencanannya, sehingga dalam hal ini dapat berpengaruh pada nilai kekuatan axial pada kolom. Rencana kekuatan spesifikasi axial kolom Tulangan baja ulir dia 12 mm ycEycu = 0,85 ycu yceyca A ycu . ayci Oe yaycyc ) yceyc . yaycyc ycEycu = 0,85 ycu 30 ycu . 00 Oe . 300 ycu 452 ycEycu = 1. ycEycu = 1. 074 ycA Tulangan baja cold-formed 40x20x0,5 mm ycEycu = 0,85 ycu yceyca A ycu . ayci Oe yaycyc ) yceyc . yaycyc ycEycu = 0,85 ycu 30 ycu . 000 Oe . 550 ycu 156 ycEycu = 1. ycEycu = 1. 822 ycA Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. AGREGAT Vol. No. November 2017 ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] Berdasarkan perhitungan rencana kekuatan spesifikasi pada kolom yang menggunakan tulangan baja ulir 12 mm menunjukkan mempunyai kekuatan axial lebih tinggi 3,7 % dari kolom dengan menggunakan tulangan baja cold-form. Perbedaan kekuatan tersebut dipengaruhi oleh besarnya luas tulangan dan besarnya kuat leleh baja tulangan yang digunakan dalam kolom. Hasil uji kuat tekan beton dengan menggunakan Hammer test Hasil uji axial tekan kolom beton menggunakan Universal Testing Mesin Hasil uji axial kolom Kolom dengan mengunakan tulangan baja ulir No. Balok (N/mm. Ast (N/mm. Kekuatan Teoritis P0 Kekuatan Axial aktual P (N) (N) Hasil uji axial kolom Kolom dengan mengunakan tulangan cold-formed Data Hasil Pengujian Hammer Kolom dengan Tulangan Mutu 300 Mpa No. Nilai Lenting Hammer ( Rebound ) dengan sudut 00 Balok 1 Rata - rata Balok 2 Balok 3 Kuat Tekan Rata - rata Nilai Lenting Hammer ( Rebound ) dengan sudut 90 5 kg/cm2 Nilai Kuat Tekan Angka Kalibrasi Nilai Kuat Tekan setelah di Kalibrasi Standart Deviasi 22515 kg/cm2 Nilai Kuat Tekan Terkoreksi 35783 kg/cm2 240 kg/cm2 Nilai Kuat tekan yang bisa diterima Kolom dengan Tulangan cold-formed mutu 550Mpa No. Rata - rata Nilai Lenting Hammer ( Rebound ) dengan sudut 00 Rata - rata Kuat Tekan Nilai Lenting Hammer ( Rebound ) dengan sudut 900 Balok 1 Balok 2 Nilai Kuat Tekan Angka Kalibrasi Balok 3 218 kg/cm2 Nilai Kuat Tekan setelah di Kalibrasi Standart Deviasi 1554 kg/cm2 Nilai Kuat Tekan Terkoreksi 20895 kg/cm2 Nilai Kuat tekan yang bisa diterima 240 kg/cm2 Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan hammar test, kekuatan tekan beton untuk kolom dengan tulangan baja ulir sebesar 324,36 kg/cm2 , sedangkan kekuatan tekan beton . cold-formed menghasilkan lebih rendah dari kolom dengan tulangan baja ulir yaitu sebesar 217,21 kg/cm2. Efektivitas kolom. /K. Budi/hal. No. Balok (N/mm. Ast (N/mm. Kekuatan Teoritis P0 (N) Kekuatan Axial aktual P (N) Perbandingan kekuatan tulangan baja ulir Kekuatan Spesifikasi P0 (N) Kekuatan Teoritis P0 (N) Kekuatan Axial aktual P (N) Aktual terhadap teoritis (%) Perbandingan kekuatan untuk tulangan baja cold-formed Kekuatan Spesifikasi P0 (N) Kekuatan Teoritis P0 (N) 982,58 Kekuatan Axial aktual P (N) Aktual terhadap teoritis (%) 982,58 982,58 Setelah dilakukan pengujian axial menunjukkan pada kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir nilai kekuatan aktual axial kolom yang lebih rendah 23,14 % terhadap kekuatan teoritinya, sedangkan pada kolom dengan menggunakan tulangan baja cold-formed juga menghasilkan nilai kekuatan aktual axial kolom yang lebih rendah 31,30 % terhadap kekuatan Berdasarkan dari hasil pengujian axial kolom menunjukkan bahwa kolom mempunyai kecenderungan keruntuhan lebih besar, maka nilai faktor reduksi kekuatannya juga lebih rendah. Dari hasil pengujian kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir, untuk nilai faktor reduksi kekuatan (A) sebesar 0,7, sedangkan pada kolom dengan menggunakan tulangan baja cold-formed, untuk nilai faktor reduksi kekuatan (A) lebih tinggi yaitu sebesar 0,6. Penggunaan kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir dalam penelitian ini masih lebih efektif dari pada dengan menggunakan tulangan baja cold-formed. Kolom dengan tulangan baja col-formed mempunyai kekuatan lebih rendah 44, 4 % dari kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir. AGREGAT Vol. No. November 2017 KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan dalam penelitian ini antara lain : Hasil dari pengujian baja tulangan ulir dia 12 mm menghasilkan kuat leleh rata-rata sebesar 283 N/mm2 dan kuat tarik sebesar 442 N/mm2. Hasil pengujian baja cold formed 40x20x0,5 menghasilkan kuat leleh rata-rata sebesar 135 N/mm2 dan kuat tarik sebesar 165 N/mm2. Berdasarkan perhitungan rencana kekuatan spesifikasi pada kolom yang menggunakan tulangan baja ulir 12 mm menunjukkan mempunyai kekuatan axial lebih tinggi 3,7 % dari kolom dengan menggunakan tulangan baja cold-form Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan beton dengan menggunakan hammar test, kekuatan tekan beton untuk kolom dengan tulangan baja ulir sebesar 324,36 kg/cm2 , sedangkan kekuatan tekan beton . cold-formed menghasilkan lebih rendah dari kolom dengan tulangan baja ulir yaitu sebesar 217,21 kg/cm2. Penggunaan kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir dalam penelitian ini masih lebih efektif dari pada dengan menggunakan tulangan baja cold-formed. Kolom dengan tulangan baja col-formed mempunyai kekuatan lebih rendah 44, 4 % dari kolom dengan menggunakan tulangan baja ulir. ISSN : 2541 - 0318 [ Online ] ISSN : 2541 - 2884 [ Print ] - Nawy Edward G,2005. Au Reinforced Concrete A Fundamental Approach Au. Prentice hall Inc. - R. Park and T. Paulay, 1975. Au Reinforced Concrete Structures Au. University Canterbury,Christchurch,New Zealand. John Wiley & Sons. Inc. - Paul Nugraha. Antoni, 2007 Au Teknologi Beton Au. Universitas Kristen Petra - Wira et al, 2005. Au Struktur Baja Disain dan perilaku Au. Bandung Erlangga Saran dalam penelitian ini : Dalam konstruksi yang terus berkembang dan dituntut untuk penggunaan bahan yang ringan tetapi mempunyai kekuatan yang tinggi serta bahan yang ramah lingkungan, maka dengan hasil penelitian ini nantinya dapat digunakan sebagai penelitian lebih lanjut, yaitu tulangan cold-formed bentuk hollow yang yang diisi Penggunaan baja ringan dengan tipe yang lain sebagai tulangan pada elemen struktur beton bertulang. DAFTAR PUSTAKA