TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 Analisis Faktor Karakteristik Perawat yang Berhubungan dengan Respon Time: Uji Korelasi Fitri Suciana1*. Ana Rizkianti2. Esri Rusminingsih3. Agung Kristanto4 1,3,4Fakultas Kesehatan Dan Teknologi. Universitas Muhammadiyah Klaten 2RS Umum Islam Klatem Email: fitrisuciana@umkla. id1*, rizkiantiana@gmail. com2, esrirusminingsih@yahoo. agungkristanto@umkla. Abstract Emergency response time . esponse tim. is very important in the emergency room to determine the next step. Response time is the response of medical personnel in handling patients from the time the patient arrives to get service and is completed within 5 minutes. The purpose of this study was to determine whether there was a correlation between the characteristics of nurses and response time so that the research design used analytic survey with a cross sectional approach. The sample in the study were emergency room nurses who were not on major leave and willing to be respondents using a total sampling technique of 30 respondents. Instruments using questionnaires and observation sheets. The results showed that the majority of respondents were male 1%, most of the last education was Diploma of Nursing by 65. 5%, the majority of respondents had a work period of more than 3 years by 96. 6%, workload with a percentage of 51. 7%, response time with a fast category of 75. The results of the correlation test obtained from several characteristics that have a relationship are skills with workload with a P value of 0. 00 and age with workload with a P value of 0. The conclusion is that there is a relationship between nurse characteristic factors with skill and age factors, and there is no relationship between nurse characteristic factors with response time including, gender, workload, tenure, education. Keyword: Nurse Characteristics. Response Time. Emergency Department Abstrak Waktu tanggap dalam penanganan gawat darurat . esponse tim. merupakan aspek krusial di ruang IGD karena menentukan langkah penanganan selanjutnya. Response time merujuk pada kecepatan tenaga medis dalam merespons, yang dihitung sejak pasien tiba hingga menerima pelayanan dalam kurun waktu maksimal 5 menit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara karakteristik perawat dengan waktu tanggap tersebut. Desain penelitian yang digunakan adalah survei analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 30 perawat IGD yang tidak sedang cuti panjang dan bersedia menjadi responden, menggunakan teknik total sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner dan lembar Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah laki-laki . ,1%), dengan latar belakang pendidikan Di Keperawatan . ,5%), masa kerja lebih dari 3 tahun . ,6%), beban kerja tergolong tinggi . ,7%), dan sebagian besar memiliki waktu tanggap cepat . ,9%). Uji korelasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara keterampilan dengan beban kerja . ilai p = 0,. dan usia dengan beban kerja . ilai p = 0,. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat hubungan antara karakteristik perawat berupa keterampilan dan usia dengan beban kerja, namun tidak ditemukan hubungan antara karakteristik perawat . eperti jenis kelamin, beban kerja, masa kerja, dan pendidika. dengan waktu tanggap . esponse tim. Kata Kunci: Karakteristik Perawat. Respon time. IGD Pendahuluan Instalasi Gawat Darurat (IGD) berperan sebagai pintu utama masuknya pasien ke ruang rawat inap, sehingga kecepatan penanganan sangat memengaruhi keselamatan pasien. Dalam situasi darurat, gejala pasien umumnya belum diketahui secara pasti hingga dilakukan proses triase dan diagnosis akhir setelah serangkaian pemeriksaan . Penanganan yang lambat atau tidak tepat dapat berakibat fatal, seperti kematian atau kecacatan, sehingga intervensi cepat dan akurat sangat penting . Pelayanan di IGD terbagi dalam dua tahap, yakni tahap primer yang dilakukan tanpa bantuan alat diagnostik, dan tahap sekunder yang menggunakan alat bantu Saat menangani pasien di IGD, tenaga medis wajib melakukan penilaian berdasarkan urutan: jalan napas . , pernapasan . , sirkulasi . , pemberian obat . , dan defibrilasi . Waktu respons dihitung dalam satuan menit dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk jumlah tenaga medis yang tersedia, fasilitas dan TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 infrastruktur, tingkat pendidikan tenaga kesehatan, serta faktor pendukung lainnya . Salah satu indikator mutu layanan untuk menilai kinerja IGD adalah waktu tanggap . esponse tim. dalam memberikan pelayanan kepada pasien, yang diukur dari saat pasien tiba hingga menerima penanganan awal dalam waktu kurang dari 5 menit. Dalam sistem waktu nyata . , waktu tanggap didefinisikan sebagai durasi antara terjadinya suatu peristiwa hingga instruksi layanan pertama dijalankan, yang dikenal sebagai event response time. Tujuan dari sistem penjadwalan ini adalah untuk meminimalkan waktu tanggap dan mengurangi tingkat keterlambatan dalam penanganan pertama pada kasus gawat darurat, yang dikenal sebagai emergency response time rate . Waktu yang diperlukan oleh petugas kesehatan dalam memberikan respon time dapat berpengaruh terhadap kepuasan keluarga pasien dan pasien sehingga berdampak pada rasa kepuasan pasien terhadap kinerja perawat. Kepuasan pasien dapat dipengaruhi oleh pelayanan kesehatan secara umum dari berbagai profesi dan pelayanan perawat IGD yang cepat, sopan, ramah, dengan pelayanan yang terbaik . Respon time dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik internal maupun eksternal. Faktor internal mencakup usia, tingkat pendidikan, masa kerja, serta keterampilan tenaga medis. Sementara itu, faktor eksternal meliputi sistem pengawasan dan beban kerja yang berlebihan . Menurut sumber lain . , waktu tanggap perawat di IGD juga dapat dipengaruhi oleh karakteristik pasien, penempatan staf, ketersediaan brankar, rostur, dan alat-alat yang digunakan untuk memindahkan pasien ke ambulans atau tempat tidur, keberadaan petugas kesehatan, waktu kedatangan pasien, pelaksanaan manajemen, strategi pemeriksaan, jenis penanganan, masa kerja, tingkat pendidikan, serta beban kerja. Penelitian dari sumber lain . menunjukkan bahwa ketepatan respon waktu di IGD, baik pada kasus bedah maupun non-bedah, dipengaruhi oleh ketersediaan tandu . , tenaga triase, pola penempatan staf, karakteristik pasien, serta tingkat pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman tenaga kesehatan yang menangani kondisi darurat. Selain itu, penelitian . mengelompokkan faktor-faktor yang memengaruhi waktu tanggap perawat ke dalam dua kategori: faktor internal yang mencakup pengetahuan, usia, pendidikan, lama kerja, motivasi, dan jenis kelamin. serta faktor eksternal yang mencakup imbalan dan fasilitas pendukung. Menurut hasil penelitian . , sebagian besar waktu tanggap berada dalam kategori sesuai, dengan persentase sebesar 69,8%. Namun, tingkat kecemasan pasien masih tergolong sedang, yaitu sebesar 43,8%. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh intervensi keperawatan di ruang IGD yang berfokus pada penyelamatan nyawa, terutama saat kondisi fisiologis pasien dalam Tindakan medis yang bersifat menyelamatkan jiwa dapat menimbulkan kecemasan karena melibatkan ancaman terhadap integritas tubuh pasien. Temuan ini juga diperkuat oleh fakta bahwa dalam situasi kegawatdaruratan, prioritas utama adalah keselamatan pasien, sehingga perawat harus bertindak dengan cepat, yang sering kali membuat aspek emosional pasien dan keluarganya, termasuk rasa cemas, kurang mendapat perhatian. Sebanyak 51 perawat . ,8%) menunjukkan respon time terlambat, dan sebagian besar pasien tidak puas dengan pelayanan. Hasil penelitian Karame & Husain . menunjukkan bahwa 21 responden . ,3%) menanggapi waktu perawat terlambat, 18 responden . ,4%) menanggapi kurang puas dan 3 responden . ,9%) menanggapi puas. Selanjutnya, dari 17 responden . ,7%) yang menanggapi waktu perawat cepat, 4 responden . ,5%) menanggapi kurang puas dengan pelayanan yang diberikan di IGD. Dengan menggunakan uji chi square untuk menganalisis hasil analisis, ditemukan nilai signifikan 0,000 atau nilai yang kurang dari 0,05. Dengan demikian, ada hubungan yang signifikan antara respons waktu perawat dengan kepuasan . Metode Desain penelitian menggunakan survey analitik dengan pendekatan yang digunakan yaitu cross sectional, populasi pada penelitian ini adalah semua perawat IGD RSU Islam Klaten, jumlah perawat IGD RSU Islam Klaten 30 perawat sebagai responden dengan teknik pengambilan sampel adalah Total Sampling dengan kriteria eksklusi perawat sedang cuti, sedang mengikuti pelatihan dan perawat magang. Berdasarkan kriteria tersebut jumlah responden menjadi 29. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner data demografi perawat dan beban kerja perawat (Nursalam. TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 serta lembar observasi untuk menilai respon time perawat dengan indicator penilaian waktu pasien masuk dan waktu penanganan pertama dari perawat serta selisih dari waktu Analisa uji korelasi dengan menggunakan KendalAos Tau untuk mengetahui korelasi dari masing masing karakteristik perawat dengan respon time. Hasil dan Pembahasan Hasil Katakteristik Respon. Berikut hasil berdasarkan karakteristik responden pada Tabel 1 serta berdasarkan usia dan keterampilan pada Tabel 2 dibawah. Tabel 1. Karakteristik responden . Variabel Jenis Kelamin Laki Ae laki Perempuan Pendidikan Di Keperawatan Profesi Ners Ketrampilan Tinggi Sedang Tidak Kompeten Masa Kerja <1 tahun 1-3 tahun >3 tahun Beban Kerja Berat Sedang Ringan Respon time perawat Cepat Lambat Sangat Lambat Total Frekuensi Persentase (%) 62,1% 37,9% 65,5% 3,4% 51,7% 17,2% 75,9% 24,1% Berdasarkan Tabel 1. sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 18 orang atau 62,1%. Sebagian besar memiliki latar belakang pendidikan Di Keperawatan, sebanyak 19 orang atau 65,5%. Seluruh responden . %) memiliki tingkat keterampilan yang Mayoritas responden telah bekerja lebih dari 3 tahun, yakni 28 orang atau 96,6%. Selain itu, lebih dari separuh responden . ,7%) memiliki beban kerja yang tinggi, dan mayoritas menunjukkan waktu tanggap yang cepat, sebesar 75,9%. Tabel 2. Karakteristik responden berdasarkan Usia dan keterampilan . Karakteristik Usia Keterampilan Mean Min Max Std. Deviation Berdasarkan Tabel 2. menunjukkan hasil bahwa rata-rata usia perawat adalah 36,31 dengan standar deviasi 9,127 Dan ketrampilan yang dimiliki dalam kategori memiliki ketrampilan yang tinggi skor nilai 3 dan standar deviasi 0,00. Analisa Bivariat. Analisa Keterampilan pada Tabel 3. Analisa Usia pada Tabel 4. Analisa Masa Kerja pada Tabel 5. Analisa Jenis Kelamin pada Tabel 6. Analisa Pendidikan pada Tabel 7. Analisa Beban Kerja pada Tabel 8, yang berhubungan dengan Respon Time. Tabel 3. Analisa keterampilan berhubungan dengan response time . TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Variabel Hubungan keterampilan berhubungan dengan respon time Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 Korelasi . 0,000 0,000 Berdasarkan Tabel 3 diketahui nilai nilai signifikasi antara keterampilan dengan respon time. Ada hubungan yang signifikan . antara keterampilan dan response time dengan nilai P value 0,000 dan nilai koefisien korelasi antara keterampilan dengan respon time adalah sebesar 0,000. Tabel 4. Hasil analisa usia berhubungan dengan response time . Variabel Hubungan usia berhubungan dengan respon time Korelasi . 0,000 Berdasarkan Tabel 4. diketahui ada hubungan yang signifikan . antara usia dan respon time, dengan nilai P value 0,000 dan korelasi sebesar 0,644. Tabel 5. Hasil analisa masa kerja berhubungan dengan response time . Variabel Hubungan masa kerja berhubungan dengan respon time Korelasi . 0,076 Berdasarkan Tabel 5 diketahui nilai korelasi antara masa kerja dengan response time adalah dengan nilai 0,076 lebih besar dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak ada korelasi yang signifikan . antara masa kerja dan response time. Tabel 6. Analisa jenis kelamin berhubungan dengan response time Variabel Hubungan jenis kelamin berhubungan dengan respon time Korelasi . 0,146 Berdasarkan Tabel 6 diketahui nilai nilai signifikasi antara jenis kelamin dengan respon time adalah sebesar 0,146 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan . antara jenis kelamin dengan respon time. Tabel 7. Hasil analisa pendidikan berhubungan dengan response time . Variabel Hubungan pendidikan berhubungan dengan respon time Korelasi . 0,205 Berdasarkan Tabel 7 diketahui nilai nilai signifikasi antara pendidikan dengan respon time adalah sebesar 0,205 > 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan . antara pendidikan dengan respon time. Tabel 8. Hasil analisa beban kerja berhubungan dengan response time . Variabel Hubungan pendidikan berhubungan dengan respon time Korelasi . 0,205 Berdasarkan Tabel 8, dapat disimpulkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan atau nyata antara beban kerja dan response time, dengan nilai nilai signifikasi sebesar 0,737 lebih besar dari 0,05. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan dari beberapa karakteristik perawat yang memiliki korelasi dengan respon time, usia dan keterampilan yang memiliki korelasi yang kuat dengan respon time. Kinerja perawat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti keterampilan, persepsi, peran, sikap, kepribadian, beban kerja, motivasi kerja, kepuasan kerja, struktur organisasi, desain pekerjaan pengembangan karir, kepempimpinan, serta sistem penghargaan . eward syste. Dalam memberikan bantuan pelayanan gawat darurat petugas harus mempunyai 3 unsur kesiapan, antara lain adalah kesiapan pengetahuan dan keterampilan karena erat kaitannya dengan upaya penyelamatan langsung terhadap pasien . Keterampilan perlu dimiliki oleh perawat karena perawat mampu mengidentifikasi masalah secara cepat sehingga mampu mengambil keputusan secara efisien. Jika perawat mampu mengambil keputusan dengan efisien maka koordinasi dalam tim dapat berjalan dengan baik karena terjadinya komuniasi yang efektif dalam berkoordinasi. Penguasaan prosedur klinis perawat tidak membutuhkan waktu yang lama sehingga pasien dan keluarga merasa puas karena dapat terlayani dengan baik, sehingga menurunkan tingkat stres perawat maupun pasien . Usia merupakan salah satu karakteristik perawat yang memiliki hubungan dengan respon Hasil penelitian menunjukan rata-rata usia karyawan RSU Islam Klaten adalah 36,31. Usia TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 terendah dari responden adalah 25tahun dan usia paling tinggi karyawan adalah 52 tahun. Usia responden juga mempengaruhi respons time. Menurut . 5% remaja akhir . -25 tahu. dalam penelitian ini memiliki respons time yang cukup tanggap, sedangkan 14. 3% dewasa akhir . -45 tahu. memiliki respons time yang sangat tanggap atau . urang dari 5 meni. Usia memengaruhi daya tangkap dan pola pikir seseorang, daya tangkap dan pola pikir seseorang menjadi lebih baik seiring bertambahnya usia, sehingga pengetahuan yang mereka peroleh menjadi lebih baik. Kematangan seseorang dan usianya, karena berbagai proses pegalaman, pengetahuan, keterampilan, dan kemandirian seiring bertambahnya usia. Individu yang lebih tua cenderung memiliki pengalaman yang lebih dalam dengan menghadapi masalah. Pengalaman sehari-hari mempengaruhi tingkat kematangan dalam berpikir dan berperilaku, yang menunjukkan bahwa semakin lama seseorang bekerja, semakin matang mereka dalam berpikir, yang berarti mereka memiliki lebih banyak pengetahuan . Penelitian yang dilakukan oleh . mengetahui bahwa IGD seringkali menjadi tempat yang menuntut keahlian tinggi dalam menangani kasus emergensi dan tekanan waktu yang tinggi, yang menjadi daya tarik bagi perawat dewasa awal yang ingin meningkatkan keterampilan sedangkan penelitian oleh . menunjukkan bahwa perawat dewasa awal cenderung mencari kesempatan untuk pengembangan profesional dan meningkatkan kompetensi. IGD seringkali menjadi lingkungan yang menawarkan pelatihan dan pengalaman yang berharga dalam aspek-aspek ini. Selanjutnya, penelitian yang telah dilakukan oleh . mengetahui tantangan yang dihadapi oleh perawat di IGD, seperti beban kerja yang tinggi dan tuntutan fisik serta emosional yang besar. Hal ini bisa menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam pemahaman mengapa perawat dewasa awal memilih atau mendominasi pekerjaan di IGD. Adanya korelasi antara usia dengan respon time karena adanya factor kematangan seseorang dapat menentukan kecepatan berpikir dan bertindak sehingga dapat memberikan layanan yang cepat kepada pasien. Perawat yang telah cukup umur, akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja. Tingkat kedewasaan seseorang terkait erat dengan usia, yang berarti kedewasaan psikologis dan teknis, yaitu kemampuan untuk menyelesaikan tugas. Aspek fisik dan psikologis . seseorang akan berubah saat mereka bertambah tua. Informasi dapat mempercepat seseorang memperoleh pengetahuan baru . Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 18 orang atau 62,1%. Umumnya, tenaga keperawatan laki-laki lebih dominan di unit gawat darurat. Penelitian . mengungkapkan bahwa laki-laki cenderung memiliki kondisi fisik yang lebih kuat dibanding perempuan, serta seringkali diberikan lebih banyak tugas, tanggung jawab, dan kewajiban. Tenaga laki-laki di IGD juga dianggap lebih mampu menghadapi situasi darurat yang menantang. Perawat laki-laki cenderung memiliki kekuatan fisik yang lebih besar dibanding perempuan, tidak ditemukan perbedaan dalam cara mereka merawat pasien. Peneliti juga berpendapat bahwa laki-laki cenderung memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi, sementara perempuan meskipun secara fisik lebih lemah, tetap mampu memberikan pelayanan dengan tingkat keamanan yang setara. secara fisik laki-laki lebih unggul, lebih termotivasi dalam menyelesaikan tugas, dan memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan perawat Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden berpendidikan Di Keperawatan sebanyak 19 karyawan atau sebesar 65,5%. Hal ini mencerminkan sejumlah dinamika yang memengaruhi komposisi pendidikan perawat di lingkungan IGD. Alasan dominasi lulusan D3 Keperawatan disebabkan oleh jumlah lulusan D3 yang lebih besar dibandingkan dengan lulusan S1 Keperawatan di berbagai institusi pendidikan keperawatan. Ketersediaan lulusan D3 yang lebih besar membuatnya lebih mudah ditemukan dan dipekerjakan di IGD . Kebutuhan praktis dalam lingkungan IGD dapat memainkan peran penting dalam preferensi untuk lulusan D3. IGD sering kali menuntut perawat untuk memiliki keterampilan klinis yang kuat dan cepat dalam mengambil keputusan. Lulusan D3, yang sering menerima pelatihan yang lebih langsung dalam aspek klinis, dianggap lebih cocok untuk tuntutan pekerjaan ini. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden memiliki masa kerja lebih dari 3 tahun sebanyak 28 karyawan atau sebesar 96,6% dan dengan waktu tanggap respon time dengan waktu cepat kurang dari 5 menit sebanyak 75,9%. Pengalaman kerja yang lebih lama dapat memungkinkan perawat untuk mengembangkan keterampilan klinis yang lebih kuat sehingga perawat dengan pengalaman yang lebih lama dianggap lebih siap untuk menghadapi tantangan TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 Faktor pengembangan karier juga dapat memainkan peran. Beberapa perawat memilih untuk menghabiskan beberapa tahun di berbagai unit perawatan sebelum beralih ke IGD. Ini dapat memberi landasan pengalaman yang kuat dan pemahaman yang lebih baik tentang berbagai aspek perawatan pasien sebelum memutuskan untuk berfokus pada IGD. Tidak ada teori yang menjelaskan karyawan dengan senioritas yang lebih rendah akan lebih bermotivasi dan produktif daripada karyawan dengan senioritas yang lebih rendah. Waktu bekerja yang lebih lama akan meniadikan perawat memiliki lebih banyak pengalaman dan akan membantu mereka membuat keputusan berdasarkan pengalaman mereka dengan prosedur operasi standar (SOP) yang berlaku. Semakin lama perawat bekerja maka akan lebih berpengalaman dalam menangani Masa kerja petugas sangat penting untuk tingkat pelaksanaan triase oleh perawat. Perawat yang memiliki tingkat kerja yang tinggi mampu memberikan respons cepat terhadap penanganan di IGD. Pengalaman yang lebih lama membuat perawat lebih tahu tentang kasus pasien yang ditemui selama bertahun-tahun dan peningkatan kualitas . Hasil penelitian di RSU Islam Klaten menunjukan beban kerja mayoritas besar dengan persentase 51,7%. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Waryantini dan Maya . , 93,4 persen perawat memiliki beban kerja sedang. Salah satu masalah paling penting bagi sistem kesehatan adalah dampak kondisi kerja perawat terhadap perawatan pasien. Beban kerja dan tekanan yang ditimbulkannya di tempat kerja membatasi jumlah waktu yang dapat dicurahkan perawat untuk memberikan perawatan kepada pasien terhadap keselamatan pasien. Selain itu, kebebasan kerja berdampak negatif pada kesehatan perawat, kepuasan kerja, kesalahan pengobatan, dan efek samping lainnya . Berdasarkan hasil survei mengenai beban kerja, perawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dinilai memiliki beban kerja yang tergolong wajar, yang memungkinkan mereka menjalankan tugas dengan efektif. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa aspek paling menekan dalam beban kerja perawat adalah tingkat upaya yang harus dikeluarkan, dengan persentase tertinggi sebesar Faktor-faktor stres lainnya meliputi tuntutan kinerja dan beban fisik masing-masing sebesar 17%, serta waktu, usaha, dan rasa frustrasi, yang masing-masing tercatat sebesar 16%. Lingkungan kerja di ruang gawat darurat yang dinamis dan penuh tekanan berkontribusi pada tingginya beban kerja perawat, karena mereka harus menangani berbagai kondisi medis, memberikan perawatan menyeluruh, serta menghadapi pasien dan keluarga yang sering kali cemas dan membutuhkan informasi secara cepat . Dalam kesehariannya, perawat harus berinteraksi dengan pasien, keluarga, rekan kerja, serta menyesuaikan diri dengan budaya kerja, yang keseluruhannya dapat berdampak pada kesehatan fisik, mental, dan emosional mereka . Peneliti menyimpulkan bahwa beban kerja perawat IGD berada pada tingkat sedang, namun lebih dipengaruhi oleh dimensi upaya perawat yang dinilai paling tinggi dibanding aspek lainnya, yang mencerminkan kompetensi mereka dalam menghadapi tuntutan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden respon time cepat sebanyak 22 . ,9%). Hasil tersebut mengindikasikan bahwa sebagian besar perawat di IGD memiliki keterampilan dan komitmen yang kuat untuk merespons pasien dengan cepat. Hal ini dapat meningkatkan keselamatan dan kepuasan pasien, serta menciptakan citra positif bagi unit IGD tersebut. Mayoritas perawat IGD yang merespons waktu dengan baik melibatkan faktor pelatihan khusus. Perawat yang telah mendapatkan pelatihan dalam penanganan pasien darurat cenderung memiliki kesiapan yang lebih tinggi dalam mengatasi situasi krisis. Selain itu, sistem pemantauan yang efektif juga berperan penting dalam merespons waktu dengan baik. Unit IGD yang dilengkapi dengan sistem pemanggilan darurat atau komunikasi yang efisien dapat mempercepat respons perawat terhadap situasi yang memerlukan perhatian segera . Komitmen perawat terhadap pasien juga menjadi faktor kunci. Mayoritas perawat memiliki dedikasi tinggi untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien. Kesadaran akan dampak waktu respon yang cepat terhadap prognosis pasien dan kepuasan pasien dapat memotivasi perawat untuk merespons dengan baik. Penelitian sebelumnya tentang waktu respon perawat IGD dapat menunjukkan konsistensi dalam hasil atau perubahan seiring berjalannya waktu. Ini dapat memberikan wawasan tambahan tentang faktor- faktor yang memengaruhi waktu respon perawat dan memberikan konteks lebih lanjut untuk hasil penelitian ini . TRIAGE: Jurnal Ilmu Keperawatan Vol. No. 1 Juni 2025. Hal. P-ISSN 2089-1466 | E-ISSN 2685-1660 Kesimpulan Teori menunjukkan bahwa karakteristik perawat yang berhubungan dengan respon time antara lain adalah usia, jenis kelamin, keterampilan, pendidikan terakhir, masa kerja, beban kerja. Dari beberapa karakteristik tersebut, kemudian dilakukan uji korelasi dengan tujuan untuk mengetahui faktor karakteristik perawat yang berhubungan dengan respon time. Hasil riset menunjukkan karakteristik perawat yang berhubungan dengan respon time adalah usia dan keterampilan, sedangkan karakteristik lainnya tidak ada korelasi dengan respon Dan hasil riset telah menjawab tujuan riset. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada Direktur RSUI Klaten yang telah memberikan ijin penelitian, kepada responden atas kerjasamanya dalam pengisian kuesioner, kepada mahasiswa atas bantuannya menjadi asisten peneliti. Daftar Pustaka