E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. HUBUNGAN ANTARA LINGKUNGAN KERJA DAN BEBAN KERJA DENGAN BURNOUT PADA KARYAWAN DI PT . KREDIT UTAMA FINTECH INDONESIA Anisa Fadilasari 1. Selviana 2 Universitas Persada Indonesia Y. Email: fadilasarianisa786@gmail. com1, selviana@upi-yai. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara lingkungan kerja dan beban kerja dengan burnout. Metode pengambilan sampel menggunakan Convenience Sampling. Responden penelitian ini adalah 91 orang di PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Metode pengumpulan data menggunakan Skala Likert yang telah dimodifikasi. Hasil uji hipotesis lingkungan kerja dengan burnout diperoleh r = - 0,582 dan signifikan. = 0,000 < 0,05 hal ini membuktikan bahwa ada hubungan yang negatif dan signifikan. Hasil uji hipotesis beban kerja dengan burnout diperolehr = 0,467 dan signifikan. = 0,000 < 0,05 hal ini membuktikan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan. Pada uji analisis hipotesis lingkungan kerja dan beban kerja dengan brnout diperoleh nilai koefisien korelasi R sebesar 0,596 dan R Square sebesar 0,355 dan signifikan. = 0,000. < 0,05 hal ini membuktikan bahwa ada hubungan yang positif dan signifikan. Hasil uji stepwise kontribusi lingkungan kerja dengan burnout sebesar 16,5%. Sedangkan, kontribusi beban kerja dengan burnout sebesar 58,2%. Kata Kunci : Burnout. Lingkungan Kerja, dan Beban Kerja. Abstract This study aims to determine the relationship between work environment and workload with Sampling method using Convenience Sampling. Respondents of this study were 91 people at PT. Indonesian Fintech Main Credit. The data collection method uses a modified Likert Scale. The results of the work environment hypothesis test with burnout obtained r = -0. 582 and significant . = 0. 000 <0. 05, this proves that there is a negative and significant relationship. The results of the workload hypothesis test with burnout obtained r = 0. 467 and significant . = 0. <0. 05, this proves that there is a positive and significant relationship. In the work environment and workload hypothesis analysis test with burnout, the correlation coefficient value R was 0. and R Square was 0. 355 and significant . = 0. < 0. 05 this proves that there is a positive and significant relationship. The results of the stepwise test contribute to the work environment with a burnout of 16. Meanwhile, the contribution of workload to burnout is 58. Keywords: Burnout. Work Environment, and Workload Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Latar Belakang Masalah Dalam bekerja, karyawan tidak bisa lepas dari kondisi lingkungan kerjanya. Lingkungan kerja yang kondusif berpotensi membuat karyawan merasa nyaman dalambekerja, namun lingkungan kerja yang kurang kondusif berpotensi membuat karyawan mengalami Kondisi ini membuat karyawan mengalami ketidaksesuaian apa yang diharapkan karyawan dengan yang diberikan oleh perusahaan, seperti persaingan antara rekan kerja, kurangnya dukungan dari atasan, merupakan suatu kondisi lingkungan kerja psikologis yang dapat mempengaruhi munculnya burnout. Pada dasarnya burnout dapat terjadi pada semua individu ( Sari, 2014 ). Hal tersebut terjadi karena setiap individu tentu mengalami tekanan-tekanan yang diperoleh dalam kehidupan, khususnya dalam menjalani pekerjaan. Kondisi psikologis individu yang mengalami burnout merasa bahwa kehidupan dan pekerjaannya telah kehilangan Apa yang dahulunya menggairahkan dan menantang sekarang menjadi membosankan. Hari kerja seakan urusan yang menyakitkan dan Terlalu banyak pekerjaan yang harus dilakukan, terlalu banyak gangguan, terlalu banyak masalah sepele yang harus diperhatikan dan tidak ada penghargaan yang dapat dibanggakan pada akhir hari kerja. Data internasional penelitian yang dilakukan oleh institusi pembuat rujukan kebijakan perusahaan terkait dengan keselamatan dan kesehatan karyawan di tempat kerja. National Institute for Occupational Safety and Health ( NIOSH, 2014 )Ay, dimana rujukan tersebut kemudian dijadikan acuan pemberlaku kebijakan buruh yaitu departemen AuOccupational Safety and Health Administration (OSHA)Ay, penelitian menunjukkan bahwa 40% dari 100% pekerja mengatakan mengalami stressfull yang sangat tinggi pada saat bekerja (Northwestern National Life Surve. , sementara lembaga survei lainnya menyebutkan bahwa pekerja mengatakan pernah mengalami stres dengan level yang berbeda-beda di antaranya pekerjayang sering mengalami stres, mulai stres, bahkan sangat stres dengan beban kerjanya sebanyak 26% dari 100% karyawan. Salah satu masalah yang muncul berkaitan dengan diri individu dalam menghadapi tuntutan pekerjaan yang semakin tinggi dan persaingan yang keras antar karyawan, maka dengan masalah yang muncul timbulah burnout. Burnout yang berlebihan akan berakibat buruk dan mengakibatkan kemampuan individu dalam berhubungan dengan yang lainnya akanmenjadi Bukan hanya itu , menurut hasil penelitian yang dilakukan Resa ( 2021 ), peneliti menyebutkan bahwa burnout berasaldari tuntutan psikologis serta emosi yang berlebih. Kebanyakan penelitian mengenai burnout difokuskan pada profesi yang mengarah pada profesi seperti dokter,guru, perawat, namun burnout bukan hanya terjadipada profesi tersebut saja, burnout juga banyak dijumpai pada berbagai pekerjaan lain yaitu dalam bidang organisasi maupun industri ( Rizka, 2013 ). Menurut Greenberg ( 2015 ) burnout merupakan reaksi dari stress kerja secara psikologis dan perilaku yang bersifat merugikan. Burnout merupakan hal yang kompleks yang dapat dilihat dari reaksi Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. secara psikologis, pikiran, fisik dan tingkah laku atas pekerjaan. Berdasarkan hasil penelitian Rizka ( 2013 ) yang dilakukan pada karyawan perusahaan PT. Multi Gemilang Indonesia yang berada di Kabupaten Sumbawa Barat ditemukan bahwa, karyawan di perusahaan tersebut mengalami burnout. Disebabkan karena kurangnya upah atau gaji dan jam kerja yang ditambah, sehingga prestasi kerja para karyawan tersebut berkurang. Hasil fenomena tersebut sesuai dengan hasil penelitian Bertien dan Wognum ( 2013 ) ditemukan memang tuntutan dari perusahaan , sehingga karyawan merasa jenuh dengan Gold ( 2015 ) memberikan ilustrasi tentang apa yang dirasakan karyawan yang mengalami burnout. Suatu Gedung yang pada mulanya berdiri megah dengan berbagaiaktivitas di dalamnya, namun setelah terbakar hanya tampak kerangka luarnya saja, begitupun dengan individu yang mengalami burnout, dari luar nampak utuh, namun di dalamnnya penuh Fenomena yang terjadi di PT. Kredit Utama Fintech Indonesia menggambarkan karyawan mengalami burnout yang disebabkan tuntutan dari perusahaan, membuat karyawan merasa jenuh sehingga karyawan rentan mengalami kelelahan kerja atau burnout. Burnout menjadi pembahasan yang penting untuk diteliti lebih lanjut. Badan kesehatan dunia ( WHO ) secara resmi memasukan burnout sebagai fenomena, yang artinya burnout dapat mengurangi energi dalam Apabila dibiarkan terus- menerus akan berdampak buruk terhadap organisasi atau Penelitian awal tentang burnout banyak ditemukan di bidangperawatan kesehatan sebagai karyawan yangmendominasi mengalami, namun dengan berjalannya waktu penelitian mengenai burnout tidak hanya di perawat saja namun dapat berada di pekerjaan lain ( Avionela. Fauziah 2. Lebih lanjut, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi burnout yaitu faktor internal dan eksternal, faktor internal ialah jenis kelamin, usia, status perkawinan serta kepribadian. Dan faktor eksternal ialah beban kerja, masa kerja, peran konflik dan peran ambiguitas serta lingkungan kerja ( Santoso, 2021 ). Berdasarkan faktor-faktor mempengaruhi burnout seperti uraian di atas, dalam penelitian ini faktor-faktor yang dipilih dalam penelitian ini adalah lingkungan kerja dan beban kerja. Lingkungan kerja merupakan keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapilingkungan sekitarnya dimana seseorang bekerja, metode kerjanya serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun kelompok (Mangkunegara, 2. Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yangmenyangkut segi fisik dan segi psikis yang secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pegawai (Wursanto, 2. Variabel berikutnya sekaligus faktor eksternal dari burnout ialah beban kerja. Menurut Hard & Staveland ( 2015 ) beban kerja ialah sebagai perbedaan antara kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan yang diterima. Beban kerja merupakan tuntutan pekerjaan yang membutuhkan aktivitas fisik dan psikis dengan waktu menyelesaikan secara efektif (Resa, 2021 Dari hasil penelitian terdahulu ditemukan masalah yang terjadi di Rumours Restaurant. Seminyak Bali, seperti karyawan merasa takut untuk kembali bekerja karena Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. beban kerja yang berat, sehingga karyawan pun merasa ketakutan untuk kembali bekerja karena beban kerja yang berat, dan menciptakan rasa mudah marah dan tersinggung, karyawan sering merasa deprerikarena merasa gagal dalam bekerja ( Atmaja,Suana 2019 ). Tingginya beban kerja karyawan berdampak timbulnya burnout. Arie ( 2019 ) mengatakan bahwa beban kerja merupakan sekumpulan pekerjaan yang harus diselesaikan dalam batas waktu tertentu. Beban kerja yang berlebih bisa seperti jam kerja, tanggung jawab pekerjaan dan pekerjaan yang melampaui kapasitas serta kemampuan individu. Masalah beban kerja memiliki tingkat burnout pada karyawan, permasalahan ini dapat menjadi penyebab terjadinya burnout pada karyawan, karena tidak sesuai harapan dengan ketentuan yang ditetapkan oleh perusahaan. Beban kerja kuantitatif menunjukan adanya jumlah pekerjaan yang besar yang harus dilakukan misal, jam kerja yang tinggi , tanggung jawab yang besar, tekanan kerja sehari-hari ( Marquish. Huston 2014 ). Merujuk pada paparan penulis mengenai hubungan burnout, lingkungan kerja, dan beban kerja di PT. Kredit Utama Fintech Indonesia pada karyawan, terkait dengan berbagai argumen teoritis maupun hasil-hasil penelitian, maka semua itu melatarbelakangipenulis untuk mengangkat suatu penelitian mengenai hubungan antara lingkungan kerja dan beban kerja dengan burnout pada karyawan di PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Burnout merupakan terminologi yang cukup lama, yang memang banyak terjadi pada pekerja yang mengalami stress. Definisi selanjutnya mengenai burnout dikemukakan oleh Maslach, & Scahaufeli ( 2016 ), yang menyatakan bahwa burnout adalah kelelahanfisik dan mental seseorang yang menyebabkan kurangnya konsentrasi dansikap kerja yang buruk. Dengan kata lain seorang pekerja yang mengalami burnout adalah seorang yang lelah secara fisik dan mental dan berpengaruh terhadap kinerjanya. Selanjutnya Greenberg ( 2015 ) juga menjelaskan bahwa burnout merupakan respon terhadap stress kerja psikologis dan perilaku berbahaya. Hal ini menunjukan bahwa, jika burnout dibiarkan dalam situasi kerja akan membuat karyawan menjadi tidak produktif dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya. Hal lain mengenai burnout dikemukakan oleh Masclach & Pines ( 1991 ), mereka menyatakan burnout adalah keadaan kompleks dari kelelahan emosional fisik dan mental yang disebabkan oleh stres kronis yang terjadi ketika orang mengalami kerja sama jangka panjang dengan orang lain dalam situasi yang menekan secara emosional. Pengertian ini merujuk bahwa kelelahan secara fisik dan mental yang dialami pekerja berkaitan saat pekerja tersebut mengalami kerja sama dengan pihaklain yang berpengaruh terhadap kondisi psikologis Menurut Maslach ( 2016 ) Burnout memiliki tiga aspek utama : TINJAUAN PUSTAKA Kejenuhan 1 BURNOUT Depersonalisasi (Depersonalizatio. Pencapaian Personal (Personal Emosional (Emotional Exhaustio. Accomplishmen. Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Menurut Minner ( Rasip. Kurniawan, dan Syahrina, 2. mengemukakan bahwa terdapat tiga aspek dari burnout yaitu: Kualitas Kuantitas Waktu Kerja Kerjasama Faktor Aefaktor yang mempengaruhi Burnout terdiri dari lima faktor (Schaufeli &Buunk, 2. Sebagai berikut : Banyaknya Tuntutan Pekerjaan (Quantitative Job Demand. Permasalahan Peran (Role Problem. Kurangnya Dukungan Sosial (LackOf Social Suppor. Kurangnya Aktivitas Regulasi Diri ( Lack Of Self-Regulatory Activit. Berhubungan dengan tuntutan klien . lient-related demand. Adapun faktor yang mempengaruhi burnout disebabkan oleh berbagai faktor internal ialah, jenis kelamin, usia, status perkawinan serta kepribadian dan faktor eksternal ialah beban kerja dan lingkungan kerja ( Santoso, 2021 ) : Faktor Internal . Jenis Kelamin . Usia . Status Perkawinan . Kepribadian Faktor Eksternal . Beban Kerja . Lingkungan Kerja 2 Lingkungan Kerja Lingkungan kerja yang baik dan sehat akan berpengaruh terhadap kenyamanan kerja Karyawan akan merasanyaman dalam bekerja dan bisa dipastikan kinerja akan semakin Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yangada di sekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang dibebankan ( Tulhusnah & Santoso, 2017 ). Lingkungan kerja sangat berpengaruh terhadap pekerjaan yang dilakukan karyawan, sehingga setiap tempat kerja haruslah sedemikian rupa agar memberikan pengaruh positif terhadap pekerjaan yang dilakukan Menurut Sedarmayanti ( 2017 ) lingkungan kerja secara fisik dalam arti semua keadaan yang terdapat di sekitar tempat kerja, akan mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun secara tidaklangsung. Pendapat lain juga mengungkapkan bahwa lingkungan kerja adalah keseluruhan sarana dan prasarana kerja yang ada di sekitar karyawan, yang dapat mempengaruhi pelaksanaan pekerjaan( Sutrisno, 2015 ). Menurut Sedarmayanti . lingkungan kerja terbagi dalam dua dimensi,yaitu lingkungan fisik dan nonfisik/sosial. Dimensi lingkungan fisik berupa : Ruangan Kerja Penerangan Suara Bising Keadaan Udara Warna Kebersihan Musik Ditempat Kerja Hubungan Karyawan Keterjaminan Kerja Perasaan Karyawan Jenjang Karir Menurut Budianto & Katini, . ada beberapa dimensi lingkungan kerja adalah : Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Hubungan Tingkat Kebisingan Lingkungan mempunyai indicator Peraturan kerja mempunyai indicator Sirkulasi Udara mempunyai indicator Keamanan mempunyai indicator 3 Beban Kerja Menurut Menpan . , pengertian beban kerja adalah sekumpulan atau sejumlah kegiatan yang harus diselesaikanoleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu Pendapat lain dikemukakan oleh Komarudin . yang menyatakan bahwa beban kerja adalah suatu proses untuk menentukan jumlah jam kerja individu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dalam waktu tertentu, pengertian ini mengacu pada lamanya waktu jam kerja. Menurut Utomo ( 2019 ) ia mendefinisikan beban kerja adalah sejumlah kegiatan yang harus diselesaikan oleh suatu unit organisasi atau pemegang jabatan dalam jangka waktu tertentu. Menurut Ambar . terdapat beberapa aspek beban kerja yaitu : Aspek kesesuaian tugas Aspek lingkungan dan fasilitas Aspek waktu Aspek Kondisi Menurut Tarwaka. Bakri, & Sudiajeng, . ada beberapa aspek beban kerja yaitu: Beban waktu Beban usaha mental Beban psikologis Dimensi-dimensi lingkungan kerja meliputi fisik atau non, fisik terdiri dari ruangan kerja, penerangan, suara bising, keadaan udara, warna, kebersihan, musik ditempat kerja. Sedangkan non fisik berupa, hubungan karyawan , keterjaminan kerja, perasaan karyawan, jenjang karir. Ruang kerja mengacu pada hubungan kondisi lingkungan kerja. Penerangan mengacu pada produktivitas dalam bekerja. Suara bising mengacu pada kenyamanan dalam bekerja. Keadaan udara mengacu pada kesehatan dalam Warna mengacu pada produktivitas dalam bekerja, karena warna sangat berpengaruh terhadap suasana hati, pikiran dalam bekerja. Kebersihan mengacu pada kenyamanan saat Musik ditempat kerja mengacu pada meningkatkan suasana hati dalam bekerja. Hubungan karyawan mengacu pada solidaritas dalam bekerja. Keterjaminan kerjamengacu pada ketenangan dalam bekerja. Perasaan karyawan mengacu pada berperilakudalam bekerja. Jenjang karir mengacu pada tujuan pada pekerjaan. Hubungan Beban Kerja Burnout Kesesuaian kemampuan karyawan. Lingkungan dan fasilitas mengacu pada dukungan lingkungandan fasilitas untuk menyelesaikan tugasnya, maka hasil pekerjaannya juga akan maksimal. Waktu mengacu pada bobot pekerjaan yang diterima Kondisi mengacu pada tugas yang dibebankan dikerjakan dengan baik dan sesuai dengan prosedurnya. Hubungan Lingkungan Kerja danBeban Kerja dengan Burnout 4 Kerangka Berpikir Hubungan Lingkungan Kerja dengan Burnout Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. Terdapat mempengaruhi burnout, yaitu permasalahan peran, banyaknya tuntutan pekerjaan, kurangnya dukungan sosial, kurangnyaaktivitas regulasi diri, berhubungan dengan tuntutan klien. Berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi burnout, yang dipilihsebagai faktor-faktor yang mempengaruhi dalam penelitian ini adalah lingkungan kerja dan beban kerja. Kedua faktor ini dipilih olehpenulis karena dianggap lebih relevan dengan fenomena Berdasarkan uraian hasil penelitian sebelumnya terkait dengan burnout, lingkungan kerja, dan beban kerja, dapat dihipotesiskan bahwa ada hubungan lingkungan kerja, dan beban kerja terhadap burnout. 5 Hipotesis Berdasarkan pembahasan diatas, dihipotesiskan bahwa : Ha1 : Ada hubungan lingkungankerja dengan burnout pada karyawan di PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Ha2 : Ada hubungan beban kerja dengan burnout pada karyawan di PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Ha3 : Ada hubungan lingkungankerja dan beban kerja dengan burnout pada karyawan di PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. METODE PENELITIAN Menurut Sugiyono ( 2019:80 ) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitasdan karakterisitk tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik Pada penelitian inipopulasi yang digunakan adalah seluruh karyawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia berjumlah 121 karyawan yang masih aktif Menurut sugiyono ( 2019 : 81 ) sampel adalah sebagian jumlah atau karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Untuk menentukan sampel digunakan metode Teknik ConvenienceSampling. Menurut Sugiyono . Convenience sampling adalah teknik bedasarkan siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila individu yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data dengan kriteria utamanya adalah karyawan PT. Kredit Utama Fintech yang mengalami burnout kerja. Berdasarkan jumlah populasi yang ada, maka sampel yang dipergunakan adalah 91 karyawan mengacu statistics sampling software g*power yaitu sample size calculator, dengan tingkat confidence level sebesar 95% dan precision rate sebesar 0,05. Pada penelitian ini digunakan Skala Likert yang berisikan pernyataan-pernyataan. Aitem-aitem dibuat dalam bentuk pernyataan favorable . ernyataan yang mendukung atauyang unfavorable . ernyataan yang tidak mendukung atau menunjang hipotesi. dengan menggunakan empat alternatif jawaban ( Sugiyono, 2019 : 9396 ). Responden yang diteliti diminta untuk memilih salah satu dari empat alternatif jawaban yang telah disediakan untuk menggambarkan keadaan tentang diri responden. Model Skala Likert ini memuat empat katagori jawaban yang disediakan dengan jenjang kontinum yang sama, yaitu: Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Sistem pemberian nilai pada setiap item Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. pernyataan baik yang favorable maupun unfavorable yang diberikan kepada responden memiliki bobot seperti yang tertera pada tabel HASIL PENELITIAN Penelitian ini terdiri dari tiga variable yaitu. Burnout. Lingkungan Kerja, dan Beban Kerja. Variabel Burnout diwakilkan dengan 24 Lingkungan Kerja diwakilkan dengan 19 pernyataan, dan variabel Beban Kerja diwakilkan dengan8 pernyataan. 1 Pengujian Hipotesis Pada hasil perhitungan pertama dengan menggunakan metode analisis data bivariate correlation diperoleh nilai koefisien korelasi mengenai lingkungan kerja dengan burnout yaitu r = - 0,582 dan signifikan. = 0,000 < 0,05. Hal ini mengindikasikan adanya hubungan arah negatif yang signifikan antara lingkungan kerja dengan burnout pada karayawan PT. Kredit Utama FintechIndonesia. Artinya semakin rendah lingkungan kerja maka semakin tinggi burnout, begitu pula sebaliknya. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Lubis dkk, . memiliki arti bahwa ada hubungan lingkungan kerja dengan burnout anggota Brimob menunjukkan arah negatif, artinya semakin rendah lingkungan kerja maka semakin tinggi burnout anggota Brimob. Hasil perhitungan kedua menggunakan metode analisis data bivariate correlation diperoleh nilai koefisien korelasi mengenai beban kerja dengan burnout yaitu r = 0,467 dan signifikan. = 0,000 < 0,05. Hal ini mengindikasikan ada hubungan arah positif yang signifikan antara beban kerja dengan burnout pada karyawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Artinya semakin tinggibeban kerja maka semakin tinggi juga burnout, begitu pula sebaliknya. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Sari . , ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan burnout ke arah positif. Selain itu, sebagian besar responden mengalami beban kerja yang tinggi yaitu 38 orang . ,7%) dan 15 orang . ,3%) mengalami beban kerja sedang. Hasil cross tabulation menunjukkan 5 orang . ,5%) responden dengan beban kerja tinggi mengalami burnout. Maka semakin tinggi beban kerja maka semakin tinggi juga burnout, begitu pula sebaliknya. Selanjutnya, pada hasil perhitungan ketiga menggunakan multivariate correlation dengan metode enter diperoleh nilai koefisienkorelasi R sebesar 0,596 dan R Square sebesar 0,355 dan signifikan. = 0,000. < 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan arah positif yang signifikan lingkungan kerja dan beban kerja dengan burnout pada karyawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Artinya secara bersama- sama . lingkungan kerja dan beban kerja berpengaruh terhadap burnout kerja. Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Stinjak, dan Nastiti . adanya hubungan lingkungan kerja dan beban kerja secara bersama-sama . memiliki pengaruh signifikan terhadap burnout pada karyawan PT Nipsea Paint and Chemicals Banjarmasin. 2 Pengujian Normalitas. KategorisasiUji Normalitas, dan stepwise. UJI NORMALITAS Pada penelitian ini, pengujian normalitas dilakukan pada program aplikasi Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. SPSS versi 25. 0 for windows dengan menggunakan metode Shapiro Wilk karena jumlah responden dibawah dari 100. Selanjutnya apabila taraf signifikan pada Shapiro Wilk kurang dari 0,05 maka dapat dinyatakan distribusi data tidak normal. Variabel burnout memiliki taraf = 0,082 > p = 0,05 sehingga memiliki data berdistribusi normal, variabel lingkungan kerja memiliki taraf signifikasi p = 0,004 > p = 0,05 sehingga memiliki data berdistribusi tidak normal, dan variabel beban kerja memiliki taraf signifikasi p = 0,366 > p = 0,05sehingga memiliki data berdistribusi normal. UJI KATEGORISASI Variabel skala burnout memiliki tiga penggolongan kategorisasi yaitu X < 56 merupakan kategori rendah. 88 Ou X Ou 56kategori sedang, dan X > 88 merupakan kategori tinggi. Dalam variabel skala burnoutmendapatkan hasil 81,41 mengindikasikan dalam kategori sedang. Artinya meningkatnya burnout kerja pada kayawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia yang di sebabkan kejenuhan emosipada saat bekerja. Variabel skala lingkungan kerja memiliki tiga penggolongan kategorisasi yaitu X < 55,12 merupakan kategori rendah. 58,87 Ou X Ou 55,12 merupakan kategori sedang, dan X > 58,87 merupakan kategori tinggi. Dalam variabel skala lingkungan kerjamendapatkan hasil mean temuan sebesar 56,03 yang mengindikasikan dalam kategori rendah. Artinya rendahnya lingkungan kerja yang produktif pada karyawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia yang disebabkanruang kerja tidak nyaman dan hubungan karyawan yang kurang baik. 18,7 merupakan kategori rendah. 29,3 Ou X Ou 18,7 merupakan kategori sedang, dan X > 29,3 merupakan kategori tinggi. Dalam variabel skala beban kerja mendapatkan hasil mean temuan sebesar 29,02 yang mengindikasikan dalam kategori sedang. Artinya meningkatnya beban kerja padakarayawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia yang disebabkan kondisi dalam tugas kerja dan waktu kerja yang tidak normal. STEPWISE Berdasarkan hasil analisis data reggresion dengan metode stepwise diperoleh kontribusi lingkungan kerja denganburnout sebesar 16,5%. Sedangkan, kontribusi beban kerja dengan burnout sebesar 58,2%. Dapat dikatakan bahwa kontribusi beban kerja lebih dominandampaknya dibandingkan dengan lingkungankerja. PENUTUP Kesimpulan Ada hubungan yang signifikan dengan arah negatif antara lingkungan kerja dengan burnout pada karyawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Hal ini menyatakan bahwa semakin rendah lingkungan kerja maka semakin tinggi burnout. Begitu pula sebaliknya,semakin tinggi lingkungan kerja maka semakin rendah burnout pada Ada hubungan yang signifikan dengan arah positif antara beban kerja dengan burnout pada karyawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Hal ini menyatakan semakin tinggi beban kerja maka semakin tinggi juga Begitu pula sebaliknya semakin Variabel skala beban kerja memiliki tiga penggolongan kategorisasi yaitu X < Jurnal Psikologi Kreatif Inovatif Vol 3 No 3 November 2023 E-ISSN:2808-3849 P-ISSN:2808-4411 https://doi. org/10. 37817/psikologikreatifinovatif. beban kerja maka semakin burnout pada karyawan. Selanjutnya, untuk meningkatkan suasana lingkungan kerja yang baik dan kondusif membantu meningkatkan produktivitas karyawan dalam hal suhu udara di tempat kerja, penerangan dan kenyamanan agar karyawan merasa aman dan nyaman tanpa merasa terganggu dalam Ada hubungan yang signifikan dengan arah positif antara lingkungan kerja dan beban kerja dengan burnout pada karyawan PT. Kredit Utama Fintech Indonesia. Artinya secara bersama-sama lingkungan kerja dan beban kerja memiliki hubungan terhadap burnout pada karyawan. Saran Saran Teoritis Bagi peneliti selanjutnya yang tertarikuntuk membahas burnout, diharapkan untuk dapat menggunakan variabel lainnya yang diduga menjadi faktor- faktor yang mempengaruhi burnout, tuntutan pekerjaan, kurangnya dukungansosial , kepribadian. Peneliti selanjutnya disarankan untuk menggunakan subyek dan mengadakan penelitian di tempat yang berbeda sehingga mendapatkan hasil yang lebih baik. Untuk penafsiran ganda pada kriteria responden, hendaknya peneliti selanjutnya membuat option atau pilihan yang spesifik pada kuesioner, sehingga kriteria yang diisi oleh responden lebih teratur. Saran Praktis Untuk meminimalisasi terjadinya burnout pada pekerja, disarankan untuk tidak membiarkan stres dalam jangka waktu lama. Selesaikan tugas dan masalah satu per satu agar tidak terjadi penumpukan. Penulis merekomendasikan perusahaan lebih diberikan,sesuaikan waktu penyelesaian dengan pekerjaan yang diberikan sesuai dengan jobdesk DAFTAR PUSTAKA