E-ISSN: 2809-8544 DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN THE IMPACT OF TOURISM ON THE ECONOMIC STRUCTURE OF NTB: OPPORTUNITIES AND CHALLENGES Eka Agustiani1*. Lalu M. Rifki2. I Made Dwi Pradana3. Nursalwah Juliana4 Universitas Mataram. Indonesia Email: ekaagustiani27@gmail. com1*, lalurifki23@gmail. com2, madedwi@gmail. salwahjuliana6@gmail. Abstract This study examines the impact of tourism sector growth on the economic structure of West Nusa Tenggara (NTB) Province. Over the past decade. NTB has experienced a significant surge in tourism driven by national strategic projects such as the Mandalika Special Economic Zone (SEZ) and the MotoGP. This study aims to analyze the extent to which tourism has shifted the economic structure from primary to tertiary sector dominance, as well as to identify emerging opportunities and The methods used include analysis of secondary data from the Statistics Indonesia (BPS) and the NTB Tourism Office (Dispa. , using the Location Quotient (LQ). Shift-share, and multiplier effects approaches. The results indicate that service sectors such as accommodation, food and beverage, and transportation have increased their contribution to NTB's GRDP. Tourism also provides significant opportunities for MSMEs and job creation, but this distribution is not yet fully equitable across regions. Inequality in infrastructure between regions, human resource quality, and environmental degradation are key challenges. Regional governments need to develop inclusive and sustainable governance so that the benefits of tourism are not limited to certain regions. This research contributes to the literature on regional economic transformation and the strengthening of data-driven policies in the tourism sector. Keywords: Tourism. Economic Structure. NTB. Multiplier Effect. Regional Development. Abstrak Penelitian ini membahas dampak pertumbuhan sektor pariwisata terhadap struktur ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam satu dekade terakhir. NTB mengalami lonjakan signifikan dalam sektor pariwisata yang dipicu oleh proyek-proyek strategis nasional seperti KEK Mandalika dan MotoGP. Penelitian ini bertujuan menganalisis sejauh mana pariwisata menggeser struktur ekonomi dari dominasi sektor primer ke sektor tersier, serta mengidentifikasi peluang dan tantangan yang muncul. Metode yang digunakan meliputi analisis data sekunder dari BPS dan Dispar NTB, dengan pendekatan Location Quotient (LQ). Shift-share, serta efek pengganda . ultiplier Hasil menunjukkan bahwa sektor jasa seperti akomodasi, makanan-minuman, dan transportasi mengalami peningkatan kontribusi terhadap PDRB NTB. Pariwisata juga memberikan peluang besar bagi UMKM dan penciptaan lapangan kerja, namun belum sepenuhnya merata secara Ketimpangan infrastruktur antarwilayah, kualitas SDM, serta degradasi lingkungan menjadi tantangan utama. Pemerintah daerah perlu mengembangkan tata kelola yang inklusif dan berkelanjutan agar manfaat pariwisata tidak hanya dinikmati oleh wilayah tertentu. Penelitian ini memberikan kontribusi pada literatur transformasi ekonomi daerah serta penguatan kebijakan berbasis data dalam sektor pariwisata. Kata kunci: Pariwisata. Struktur Ekonomi. NTB. Multiplier Effect. Pembangunan Daerah. PENDAHULUAN Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah mengalami transformasi yang cukup signifikan dalam satu dekade terakhir, terutama dalam hal pertumbuhan sektor pariwisata. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Wilayah ini dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah, budaya yang khas, serta destinasi wisata unggulan seperti Gili Trawangan. Rinjani, dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika. Perhatian nasional terhadap NTB meningkat sejak penetapan Mandalika sebagai KEK, yang kemudian diperkuat dengan kehadiran event internasional seperti MotoGP dan World Superbike yang secara langsung mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan investasi. Peningkatan tersebut berdampak tidak hanya pada pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga pada struktur perekonomian yang sebelumnya didominasi oleh sektor primer, khususnya pertanian dan perikanan. Saat ini, sektor jasaAiterutama yang berkaitan dengan pariwisataAimenunjukkan pertumbuhan yang konsisten dan mendominasi komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting mengenai arah dan kualitas transformasi ekonomi yang sedang berlangsung: apakah pertumbuhan sektor pariwisata memberikan kontribusi nyata terhadap pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat secara luas? Transformasi struktural dalam ekonomi suatu daerah idealnya disertai dengan perbaikan kualitas tenaga kerja, peningkatan produktivitas, serta diversifikasi ekonomi yang Namun, dalam konteks NTB, tantangan seperti rendahnya kualitas SDM, ketimpangan infrastruktur antarwilayah, serta risiko kerusakan lingkungan menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan. Sementara sektor pariwisata memberikan peluang besar, potensi dampaknya terhadap eksklusi sosial dan konsentrasi manfaat ekonomi di wilayah tertentu tetap menjadi tantangan tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pertumbuhan pariwisata terhadap struktur ekonomi NTB dengan fokus pada pergeseran kontribusi sektor-sektor ekonomi, identifikasi sektor basis baru, serta tantangan pembangunan berkelanjutan. Kajian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi perumusan kebijakan ekonomi daerah yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada keadilan spasial dan keberlanjutan sosial-lingkungan. TINJAUAN PUSTAKA Teori Struktur Ekonomi Struktur ekonomi mencerminkan komposisi sektor-sektor dalam perekonomian suatu wilayah yang berkontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Firmansyah et al. menunjukkan bahwa struktur ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengalami pergeseran signifikan selama satu dekade terakhir, dari dominasi sektor primer seperti pertanian menuju sektor sekunder dan tersier seperti industri pengolahan dan Pergeseran ini menandakan adanya proses transformasi ekonomi yang sering kali dikaitkan dengan teori perubahan struktural klasik. Lewis . , dalam kerangka Teori Perubahan Struktural, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi dicapai melalui alokasi ulang tenaga kerja dari sektor dengan produktivitas rendah . isalnya pertania. ke sektor dengan produktivitas tinggi seperti industri dan jasa. Dalam konteks NTB, fenomena ini tercermin dari meningkatnya kontribusi SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. sektor pariwisata dan pengolahan terhadap PDRB regional, meskipun sektor pertanian masih cukup dominan. Lebih lanjut, indeks Herfindahl-Hirschman (HHI) menunjukkan bahwa konsentrasi ekonomi NTB mulai menyempit pada sektor-sektor unggulan. Artinya, meskipun terjadi diversifikasi, terjadi pula penguatan sektor tertentu, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan ketimpangan antarwilayah atau sektor. Oleh sebab itu, pemahaman terhadap struktur ekonomi menjadi penting sebagai dasar perencanaan pembangunan jangka Teori dan Konsep Pariwisata sebagai Sektor Ekonomi Pariwisata dalam teori pembangunan ekonomi digambarkan sebagai sektor dinamis yang memiliki keterkaitan erat dengan sektor lain seperti perdagangan, jasa, dan transportasi. Menurut Dwyer et al. dalam Purnamasari et al. , aktivitas pariwisata dapat meningkatkan kapasitas ekonomi wilayah melalui peningkatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan penerimaan daerah. Dalam konteks NTB, sektor ini telah mengalami perkembangan signifikan pascapenunjukan NTB sebagai gerbang pariwisata Menurut Yoeti . yang dikutip oleh Islamy . , pariwisata harus dipandang sebagai sektor basis yang mampu menggerakkan sektor-sektor ekonomi lainnya melalui efek Ini karena pariwisata memerlukan keterlibatan berbagai sektor seperti transportasi, akomodasi, makanan-minuman, hingga ekonomi kreatif. Maka dari itu, keterpaduan antar sektor menjadi syarat utama optimalisasi sektor pariwisata dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, kontribusi sektor ini masih perlu ditingkatkan. Putri dan Vidriza . menunjukkan bahwa meskipun investasi di sektor pariwisata meningkat, kontribusinya terhadap PDRB NTB masih berada di bawah rata-rata nasional. Oleh karena itu, penguatan fondasi kelembagaan, promosi, serta integrasi lintas sektor perlu dilakukan secara sistematis untuk menjadikan pariwisata sebagai kekuatan ekonomi baru yang Teori Pertumbuhan dan Ketimpangan Regional Pertumbuhan ekonomi regional tidak hanya berfokus pada kenaikan output agregat, melainkan juga pada distribusi hasil pembangunan antarwilayah. Menurut teori pertumbuhan Solow . yang dikutip dalam Putri dan Vidriza . , akumulasi modal dan efisiensi investasi merupakan faktor kunci dalam mendorong pertumbuhan jangka Dalam konteks NTB, investasi pada sektor pariwisata menjadi salah satu bentuk intervensi untuk menggeser struktur ekonomi yang semula stagnan. Namun, seperti dijelaskan oleh McMillan et al. dalam Firmansyah et al. perubahan struktural dapat menghasilkan ketimpangan jika tidak diiringi dengan kebijakan Dalam studi tersebut, ditemukan bahwa konsentrasi pembangunan ekonomi NTB cenderung terkonsentrasi di wilayah-wilayah dengan infrastruktur memadai seperti Mandalika, sementara wilayah lain belum sepenuhnya berkembang. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Ketimpangan ini juga diamati oleh Kuswandi . dalam kajiannya mengenai strategi pembangunan pariwisata NTB. Ia menekankan pentingnya pengembangan desa wisata dan pemerataan sarana infrastruktur antarwilayah untuk menghindari disparitas Oleh sebab itu, teori pertumbuhan harus dikombinasikan dengan strategi ketimpangan regional agar pembangunan pariwisata tidak hanya menciptakan pertumbuhan tetapi juga keadilan sosial. Model Multiplier dalam Ekonomi Pariwisata Efek pengganda . ultiplier effec. adalah konsep penting dalam ekonomi pariwisata yang menjelaskan bagaimana belanja wisatawan dapat menghasilkan dampak berantai terhadap pendapatan dan output sektor lain. Islamy . dan Taufikurrahman & Suwandana . menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki kemampuan menciptakan dampak ekonomi langsung dan tidak langsung yang luas. Contoh konkret adalah penyelenggaraan MotoGP Mandalika yang menghasilkan output ekonomi sebesar Rp606,92 miliar dan nilai tambah Rp315,94 miliar di NTB. Model inter-regional input-output (IRIO) digunakan untuk mengukur efek pengganda lintas sektor dan wilayah. Dalam kasus MotoGP, meskipun spillover ke provinsi lain relatif kecil, efek lokal terhadap NTB cukup besar, terutama dalam sektor transportasi, penginapan, makanan-minuman, dan UMKM sekitar. Ini mengonfirmasi bahwa event berskala internasional dapat menjadi pemicu pertumbuhan regional jika dikelola secara tepat. Namun, untuk memaksimalkan efek multiplier ini, dibutuhkan strategi berkelanjutan yang mencakup perencanaan spasial, pelatihan SDM, dan insentif investasi. Sebab tanpa integrasi lintas sektor dan lintas level pemerintahan, efek jangka panjang dari sektor pariwisata akan sulit diwujudkan secara optimal. Penelitian Terdahulu Banyak studi telah membahas keterkaitan antara pariwisata dan pertumbuhan ekonomi di NTB. Putri dan Vidriza . menggunakan data panel 10 tahun dan menemukan bahwa penanaman modal dalam negeri (PMDN), jumlah hotel, dan wisatawan memiliki pengaruh signifikan terhadap PDRB pariwisata. Temuan ini berbeda dengan studi Purnamasari . yang menyatakan bahwa tiga indikator pariwisata tidak signifikan secara statistik terhadap pertumbuhan ekonomi daerah secara agregat. Penelitian Islamy . dengan metode Location Quotient dan Tipologi Klassen mengidentifikasi sektor-sektor unggulan seperti akomodasi, makanan-minuman, transportasi, dan real estate yang merupakan penopang pariwisata. Ini menegaskan bahwa sektor pariwisata memiliki efek luas terhadap berbagai sektor lain dalam struktur ekonomi NTB. Taufikurrahman dan Suwandana . menambahkan dimensi baru dalam analisis dampak event internasional melalui pendekatan IRIO, yang relevan dalam pengukuran kebijakan berbasis wilayah. Kombinasi berbagai metode ini memperkaya literatur mengenai potensi pariwisata sebagai penggerak ekonomi regional dan nasional. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif sekunder. Tujuan pendekatan ini adalah untuk memahami fenomena transformasi struktural ekonomi NTB secara mendalam dan menyeluruh, dengan tetap memberikan bobot pada analisis data statistik. Data diperoleh dari berbagai sumber resmi seperti Badan Pusat Statistik (BPS). Dinas Pariwisata Provinsi NTB. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta dokumen perencanaan pembangunan daerah (RPJMD NTB). Jenis data yang digunakan mencakup: . data PDRB berdasarkan lapangan usaha . 3Ae2. data jumlah wisatawan domestik dan mancanegara. data sektor-sektor unggulan berdasarkan nilai Location Quotient (LQ). data pendukung lainnya seperti jumlah tenaga kerja di sektor formal dan informal serta pertumbuhan UMKM pariwisata. Penggunaan rentang waktu 2013Ae2023 bertujuan untuk menangkap dinamika ekonomi sebelum dan sesudah pengembangan kawasan Mandalika. Metode analisis utama dalam penelitian ini terdiri dari tiga pendekatan. Pertama, analisis Location Quotient (LQ) digunakan untuk mengidentifikasi sektor basis ekonomi di NTB, yakni sektor-sektor yang memiliki potensi keunggulan komparatif. Sektor dengan nilai LQ > 1 diinterpretasikan sebagai sektor yang lebih dominan dibandingkan rata-rata nasional. Kedua, analisis shift-share digunakan untuk melihat pergeseran struktur kontribusi antar sektor dari waktu ke waktu, sekaligus menilai apakah perubahan tersebut bersifat positif secara absolut dan relatif. Ketiga, pendekatan multiplier effect digunakan secara kualitatif untuk memahami efek berantai dari pertumbuhan pariwisata terhadap sektor-sektor ekonomi lain yang terhubung secara langsung maupun tidak langsung. Penelitian ini juga mempertimbangkan perspektif geografis dan spasial, yaitu dengan membandingkan perkembangan antarwilayah di NTB, khususnya antara Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Dengan demikian, hasil analisis tidak hanya menjelaskan perubahan makro ekonomi, tetapi juga memberikan gambaran ketimpangan atau konsentrasi manfaat HASIL DAN PEMBAHASAN Profil Wilayah NTB dan Perkembangan Sektor Pariwisata Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari dua pulau utama, yaitu Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa. Provinsi ini memiliki luas wilayah sekitar 20. 153,15 kmA dan secara geografis terletak di antara Provinsi Bali dan Nusa Tenggara Timur. Letak strategis ini menjadikan NTB sebagai jalur transit sekaligus destinasi wisata yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, terutama dengan keunggulan alamnya seperti pantai, pegunungan, dan kekayaan budaya lokal. Keanekaragaman potensi inilah yang menjadi dasar pengembangan sektor pariwisata sebagai penggerak ekonomi alternatif selain pertanian. Dalam satu dekade terakhir, pariwisata NTB berkembang pesat terutama setelah ditetapkannya KEK Mandalika sebagai destinasi super prioritas oleh pemerintah pusat. Kawasan ini tidak hanya menawarkan keindahan pantai dan laut, tetapi juga didukung dengan pembangunan infrastruktur berskala nasional seperti sirkuit MotoGP Mandalika. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. jalan bypass, dan penambahan runway Bandara Zainuddin Abdul Madjid. Pemerintah daerah NTB secara aktif mendorong berbagai program pengembangan pariwisata, termasuk pelatihan SDM, promosi destinasi, serta penguatan daya tarik wisata berbasis budaya dan Berdasarkan data dari BPS dan Dinas Pariwisata NTB, jumlah kunjungan wisatawan baik domestik maupun mancanegara mengalami tren pertumbuhan yang cukup signifikan sebelum pandemi COVID-19. Meskipun pada 2020Ae2021 jumlah kunjungan menurun tajam akibat pembatasan perjalanan, sektor ini kembali bangkit pada 2022 seiring dengan pelonggaran mobilitas dan pelaksanaan MotoGP Mandalika. Menurut Taufikurrahman dan Suwandana . , event MotoGP tersebut bahkan berhasil menarik lebih dari 100. pengunjung dalam waktu singkat, memberikan suntikan besar pada ekonomi lokal. Gambar 1. Tren Jumlah Kunjungan Wisatawan ke NTB Tahun 2013-2023 Namun, di balik pertumbuhan tersebut masih terdapat tantangan serius dalam pembangunan sektor pariwisata NTB. Ketimpangan wilayah antara pusat dan daerah, keterbatasan fasilitas di luar kawasan unggulan, serta kurangnya integrasi promosi antar destinasi menjadi masalah yang perlu diselesaikan secara sistematis. Oleh karena itu, perlu adanya strategi pembangunan yang merata, kolaboratif, dan berbasis komunitas agar manfaat pariwisata tidak hanya dirasakan oleh daerah tertentu saja, melainkan tersebar secara inklusif di seluruh NTB. Kontribusi Pariwisata terhadap PDRB dan Struktur Ekonomi NTB Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB dalam dekade terakhir menunjukkan kecenderungan meningkat, terutama setelah diluncurkannya program pengembangan destinasi super prioritas. Sektor pariwisata tidak berdiri sendiri dalam struktur PDRB, tetapi tercermin melalui kontribusi dari sektor-sektor terkait seperti penyediaan akomodasi, makanan dan minuman, transportasi, serta jasa Berdasarkan data BPS NTB, sektor penyediaan akomodasi dan makan-minum pada SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. tahun 2022 mencatat pertumbuhan yang menonjol, mencapai lebih dari 9% dibandingkan tahun sebelumnya, meskipun masih dalam fase pemulihan pasca-pandemi. Dalam struktur ekonomi NTB, sektor primer seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mendominasi, namun kontribusinya terus menurun dari tahun ke tahun. Data Firmansyah et al. menunjukkan bahwa pada tahun 2022, sektor primer masih menyumbang sekitar 23,91% terhadap PDRB, tetapi angka tersebut telah menurun dari hampir 30% pada awal dekade sebelumnya. Penurunan ini seiring dengan meningkatnya kontribusi sektor jasa, khususnya yang berkaitan dengan aktivitas pariwisata. Hal ini menjadi indikasi bahwa telah terjadi transformasi struktural dari sektor-sektor produktivitas rendah menuju sektor dengan produktivitas dan nilai tambah lebih tinggi. Gambar 2. Perubahan Kontribusi Sektor Ekonomi Terhadap PDRB NTB . Salah satu cara untuk melihat peran relatif pariwisata terhadap struktur ekonomi adalah melalui metode Location Quotient (LQ). Islamy . mencatat bahwa kategori usaha seperti akomodasi, transportasi, dan real estate memiliki nilai LQ di atas 1, yang berarti sektor-sektor tersebut merupakan basis atau unggulan dalam perekonomian NTB. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata dan turunannya memiliki keunggulan komparatif serta daya saing regional yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional. Oleh karena itu, keberadaan sektor ini menjadi sangat penting dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi jangka panjang daerah. Namun demikian, peningkatan kontribusi pariwisata terhadap PDRB belum sepenuhnya diiringi oleh pemerataan manfaat ekonomi antar wilayah dan pelaku usaha. Masih terdapat kesenjangan signifikan antara kawasan-kawasan yang telah berkembang seperti Mandalika. Gili Trawangan, dan Senggigi dengan kawasan lain yang memiliki potensi serupa namun belum mendapatkan perhatian infrastruktur dan promosi. Ini menunjukkan bahwa meskipun kontribusi pariwisata terhadap PDRB meningkat, masih diperlukan pendekatan holistik agar transformasi struktural berjalan lebih merata dan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Pergeseran Struktur Ekonomi NTB . 3Ae2. Pergeseran struktur ekonomi NTB selama kurun waktu 2013 hingga 2023 dapat digambarkan sebagai proses transformasi gradual dari ekonomi berbasis sumber daya alam . menuju ekonomi berbasis jasa dan industri. Proses ini terlihat dari menurunnya dominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dalam komposisi PDRB, seiring meningkatnya sektor-sektor jasa seperti pariwisata, transportasi, informasi, dan komunikasi. Transformasi ini memperlihatkan ciri khas perubahan struktural sebagaimana dijelaskan dalam teori Lewis dan diperkuat oleh temuan McMillan et al. , bahwa alokasi sumber daya berpindah dari sektor dengan produktivitas rendah ke sektor dengan nilai tambah lebih Firmansyah et al. mencatat bahwa indeks Herfindahl-Hirschman (HHI) untuk NTB menunjukkan konsentrasi yang semakin besar pada sektor-sektor jasa tertentu dalam satu dekade terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa terjadi spesialisasi sektoral yang lebih tajam, khususnya pada sektor yang didorong oleh pariwisata dan infrastruktur Meskipun spesialisasi ini dapat meningkatkan efisiensi ekonomi, tetapi juga mengandung risiko ketergantungan pada sektor tertentu, terutama dalam menghadapi guncangan seperti pandemi, bencana alam, atau krisis ekonomi global. KEK Mandalika menjadi contoh nyata dari transformasi ekonomi regional berbasis Pengembangan kawasan ini telah menarik investasi besar-besaran, menciptakan lapangan kerja baru, dan menghidupkan kembali UMKM lokal. Namun, dampaknya cenderung terpusat di Lombok Tengah dan belum menyebar merata ke wilayah lainnya. Hal ini menandakan bahwa pergeseran struktur ekonomi di NTB cenderung terjadi secara spasial terbatas, bukan menyeluruh, sehingga memerlukan strategi penyebaran manfaat yang lebih adil dan inklusif antar kabupaten dan kota di NTB. Pergeseran ini juga tercermin dalam dinamika ketenagakerjaan. Tenaga kerja NTB yang sebelumnya banyak terserap di sektor pertanian kini mulai beralih ke sektor jasa dan informal yang mendukung pariwisata. Walaupun ini menjadi indikasi positif terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja, masih terdapat tantangan dalam hal kesenjangan keterampilan . kill mismatc. , perlindungan tenaga kerja informal, serta rendahnya tingkat pendidikan pelaku usaha kecil. Oleh karena itu, transformasi struktur ekonomi harus dibarengi dengan pembangunan kapasitas sumber daya manusia agar dampaknya tidak hanya besar secara angka, tetapi juga berkualitas secara sosial. Analisis Multiplier Effect Sektor Pariwisata Salah satu kekuatan utama sektor pariwisata dalam mendorong pembangunan ekonomi daerah adalah kemampuannya menghasilkan efek pengganda atau multiplier effect. Efek ini terjadi ketika pengeluaran wisatawan tidak hanya memberikan dampak langsung kepada penyedia jasa pariwisata seperti hotel dan restoran, tetapi juga merembet ke sektor-sektor lain seperti perdagangan, transportasi, pertanian, dan bahkan industri kreatif lokal. Dalam konteks NTB, efek pengganda ini menjadi salah satu indikator penting dalam menilai sejauh mana pariwisata telah menjadi lokomotif ekonomi yang mampu menggerakkan sektor lain. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Studi Taufikurrahman dan Suwandana . menggunakan pendekatan InterRegional Input Output (IRIO) untuk mengukur dampak ekonomi dari event MotoGP Mandalika. Hasilnya menunjukkan bahwa event tersebut mampu mendorong output ekonomi sebesar Rp606,92 miliar, nilai tambah sebesar Rp315,94 miliar, upah tenaga kerja sebesar Rp137,67 miliar, dan potensi penerimaan pajak sebesar Rp14,25 miliar. Ini merupakan capaian yang signifikan dalam konteks daerah yang sebelumnya masih didominasi oleh sektor primer. Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh sektor utama seperti akomodasi dan makanan-minuman, tetapi juga berdampak pada UMKM penyedia suvenir, pengrajin lokal, serta jasa informal seperti pemandu wisata dan transportasi daring. Efek pengganda pariwisata juga dapat dilihat dari peningkatan permintaan terhadap produk-produk lokal. Misalnya, meningkatnya kunjungan wisatawan menyebabkan permintaan terhadap makanan khas NTB, kerajinan tangan, dan kain tenun lokal ikut Ini menciptakan peluang ekonomi baru di tingkat desa, terutama pada wilayahwilayah yang berada di sekitar destinasi wisata utama. Namun, untuk memastikan multiplier effect ini terus berjalan dan meluas, dibutuhkan sistem distribusi ekonomi yang inklusif, termasuk pelatihan kewirausahaan, akses terhadap modal usaha, dan keterlibatan UMKM dalam rantai pasok pariwisata. Walaupun multiplier effect menunjukkan hasil yang menjanjikan, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Pertama, sebagian besar belanja wisatawan masih terkonsentrasi di kawasan tertentu seperti Mandalika dan Senggigi, sehingga dampaknya belum menyebar secara merata ke wilayah NTB lainnya. Kedua, belum semua pelaku usaha lokal memiliki kapasitas dan daya saing untuk mengambil peluang tersebut. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan pariwisata harus diarahkan untuk memperluas jangkauan efek pengganda ini, dengan pendekatan spasial dan sektoral yang terpadu. Peluang Ekonomi: UMKM. Investasi, dan Ketenagakerjaan Perkembangan sektor pariwisata di NTB tidak hanya memberikan kontribusi terhadap PDRB, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang luas, terutama bagi Usaha Mikro. Kecil, dan Menengah (UMKM), serta dalam menciptakan lapangan kerja baru. Kehadiran wisatawan menciptakan permintaan terhadap berbagai produk dan jasa yang mampu diisi oleh pelaku UMKM, mulai dari kuliner khas daerah, kerajinan tangan, hingga layanan wisata berbasis komunitas. Peluang ini memperkuat basis ekonomi lokal dan memperluas inklusi ekonomi di tingkat masyarakat bawah. Menurut Putri dan Vidriza . , investasi sektor pariwisata di NTB dalam bentuk Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mengalami peningkatan signifikan dalam lima tahun terakhir, meskipun sempat mengalami penurunan pada masa pandemi. Investasi ini sebagian besar mengalir ke sektor perhotelan, restoran, transportasi, dan infrastruktur pendukung lainnya. Peningkatan investasi mencerminkan keyakinan investor terhadap prospek sektor pariwisata NTB, khususnya setelah ditetapkannya KEK Mandalika dan ditopang oleh keberhasilan event-event berskala internasional seperti MotoGP. Selain itu, sektor pariwisata juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja yang cukup besar, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tenaga kerja di sektor ini tersebar di SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. berbagai bidang seperti pemandu wisata, jasa transportasi, penyedia akomodasi, hingga pekerja informal seperti pedagang kaki lima di sekitar objek wisata. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa sebagian besar tenaga kerja di sektor ini masih berada pada kategori informal dan memiliki keterbatasan dalam aspek perlindungan sosial dan akses pelatihan Maka dari itu, intervensi kebijakan untuk peningkatan kualitas dan perlindungan tenaga kerja sektor pariwisata menjadi sangat penting. Potensi ekonomi yang diciptakan pariwisata akan terus tumbuh apabila pemerintah daerah mampu menjaga stabilitas iklim investasi dan meningkatkan kapasitas pelaku usaha Dukungan terhadap UMKM dalam bentuk pelatihan, pembiayaan, pemasaran digital, dan kemitraan dengan pelaku usaha besar dapat menjadi strategi efektif agar pelaku lokal tidak hanya menjadi pelengkap, melainkan menjadi aktor utama dalam ekosistem pariwisata NTB. Tantangan Pembangunan Ekonomi Berbasis Pariwisata Meskipun sektor pariwisata memiliki potensi besar untuk mendorong pembangunan ekonomi NTB, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar pertumbuhan tersebut berkelanjutan dan inklusif. Salah satu tantangan utama adalah ketimpangan infrastruktur Pembangunan infrastruktur pariwisata masih terkonsentrasi di beberapa lokasi utama seperti Mandalika, sedangkan daerah lain yang memiliki potensi wisata serupa masih kekurangan akses jalan, transportasi publik, dan fasilitas dasar seperti air bersih dan sanitasi. Tantangan kedua adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih rendah dalam banyak aspek, terutama di daerah pedesaan yang baru mulai berkembang sebagai destinasi wisata. Banyak pelaku usaha dan tenaga kerja belum memiliki keterampilan yang memadai dalam pelayanan wisata, manajemen usaha, serta penggunaan teknologi digital. Akibatnya, pelayanan wisata menjadi kurang optimal dan daya saing destinasi menjadi lemah, terutama dalam menghadapi kompetisi dari daerah lain yang lebih siap dari segi kualitas SDM. Selain itu, permasalahan koordinasi antarinstansi pemerintah, serta antara pemerintah daerah dan pusat, juga sering menjadi penghambat dalam pengembangan pariwisata. Inkonsistensi regulasi, keterlambatan dalam pencairan anggaran pembangunan, serta kurangnya sinergi dalam promosi dan pemasaran membuat banyak program pariwisata tidak berjalan secara efektif. Pemerintah daerah perlu membangun kerangka kerja yang lebih terintegrasi dan responsif agar pembangunan pariwisata tidak terhambat oleh persoalan Tak kalah penting, tantangan sosial dan budaya juga menjadi perhatian dalam pembangunan pariwisata. Masuknya wisatawan dalam jumlah besar tanpa pengelolaan yang baik dapat menimbulkan gesekan budaya, perubahan nilai-nilai sosial, serta konflik kepentingan antara masyarakat lokal dan investor. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi berbasis pariwisata di NTB perlu diarahkan dengan pendekatan partisipatif yang mengedepankan kearifan lokal, perlindungan lingkungan, dan keadilan sosial. Implikasi Sosial. Ekonomi, dan Lingkungan SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Pembangunan pariwisata di NTB tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi, tetapi juga membawa perubahan yang signifikan dalam struktur sosial dan kondisi lingkungan Secara sosial, peningkatan jumlah kunjungan wisatawan telah mengubah pola interaksi masyarakat lokal. Budaya gotong royong dan nilai-nilai tradisional di beberapa wilayah mulai tergeser oleh orientasi ekonomi, konsumsi, dan individualisme. Di sisi lain, interaksi dengan wisatawan juga memunculkan peluang baru seperti pertukaran budaya, meningkatnya kesadaran akan pelestarian budaya lokal, serta terbentuknya komunitas sadar Dari sisi ekonomi, pariwisata mendorong pertumbuhan pendapatan masyarakat, memperluas peluang kerja, dan menciptakan sumber pendapatan baru di luar sektor Namun, tanpa pemerataan yang adil, pertumbuhan ekonomi ini juga dapat memperlebar kesenjangan antara kawasan yang maju dengan daerah yang belum Oleh karena itu, pembangunan pariwisata yang berkeadilan menjadi prinsip penting yang harus dipegang dalam setiap perencanaan pembangunan daerah. Lingkungan menjadi aspek yang paling rentan terdampak oleh pariwisata. Lonjakan jumlah wisatawan yang tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik dapat menyebabkan kerusakan alam, polusi, dan eksploitasi sumber daya secara berlebihan. Beberapa kawasan pesisir di NTB sudah mengalami degradasi karena tekanan wisata yang tinggi, termasuk pencemaran laut akibat limbah hotel dan perusakan terumbu karang oleh aktivitas wisata bahari yang tidak terkontrol. Implikasi-implikasi tersebut menunjukkan bahwa pariwisata harus dikembangkan dalam kerangka sustainable development. Pembangunan destinasi wisata harus memperhatikan daya dukung lingkungan, kapasitas sosial masyarakat, dan ketahanan ekonomi lokal. Integrasi antara aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan harus menjadi dasar utama dalam pembangunan pariwisata agar dampaknya tidak hanya besar dalam jangka pendek, tetapi juga berkelanjutan bagi generasi mendatang. PENUTUP Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa sektor pariwisata telah memainkan peran penting dalam mendorong perubahan struktur ekonomi di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya dalam satu dekade terakhir. Indikator empiris menunjukkan bahwa kontribusi sektor tersierAiterutama akomodasi, makanan-minuman, dan transportasiAiterus meningkat, menggantikan dominasi sektor primer seperti pertanian dan perikanan. Peningkatan nilai LQ dan hasil analisis shift-share memperkuat fakta bahwa sektor pariwisata telah menjadi sektor basis baru dalam perekonomian NTB. Pariwisata juga membawa efek pengganda yang nyata, ditunjukkan melalui peningkatan jumlah UMKM, pertumbuhan lapangan kerja di sektor jasa, dan aliran investasi ke infrastruktur dan properti di kawasan wisata. Namun, manfaat ekonomi ini masih terkonsentrasi di beberapa wilayah, khususnya Pulau Lombok bagian selatan. Wilayah lain, seperti Pulau Sumbawa dan kawasan pesisir utara, belum mendapatkan manfaat yang setara. SIBATIK JOURNAL | VOLUME 4 NO. https://publish. ojs-indonesia. com/index. php/SIBATIK DAMPAK PARIWISATA TERHADAP STRUKTUR EKONOMI NTB: PELUANG DAN TANTANGAN Eka Agustiani et al DOI: https://doi. org/10. 54443/sibatik. Selain ketimpangan spasial, tantangan lain yang mengemuka adalah rendahnya kualitas sumber daya manusia lokal, dominasi tenaga kerja informal, serta tekanan terhadap lingkungan hidup akibat masifnya pembangunan di kawasan wisata unggulan. Jika tidak ditangani secara strategis, kondisi ini dapat menghambat keberlanjutan ekonomi dan sosial jangka panjang. Saran Berdasarkan temuan tersebut, maka rekomendasi kebijakan yang dapat diajukan antara . Pemerintah daerah perlu memperluas pembangunan destinasi wisata berbasis potensi lokal di luar kawasan Mandalika, agar manfaat ekonomi pariwisata lebih merata secara . Diperlukan peningkatan kapasitas SDM lokal melalui pelatihan vokasional dan pendampingan UMKM, khususnya di sektor-sektor jasa penunjang pariwisata. Pembangunan infrastruktur harus berbasis daya dukung lingkungan, disertai dengan sistem zonasi dan audit lingkungan yang ketat untuk menjaga keberlanjutan sumber daya . Pemerintah daerah didorong untuk mengintegrasikan kebijakan lintas sektor . konomi, sosial, pendidikan, lingkunga. dengan memanfaatkan data spasial dan teknologi digital untuk perencanaan berbasis bukti. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengeksplorasi dampak mikro pariwisata terhadap rumah tangga, peran gender dalam sektor wisata, dan potensi ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Dengan memperhatikan aspek keberlanjutan, inklusivitas, dan pemerataan, pariwisata dapat menjadi lokomotif pembangunan ekonomi daerah yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga pada keadilan sosial dan ketahanan lingkungan. DAFTAR PUSTAKA