TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober TELEKONTRAN, VOL. NO. APRIL 20xx DOI : 10. 34010/telekontran. p-ISSN : 2303 Ae 2901. e-ISSN : 2654 Ae 7384 Evaluasi Kinerja CWDM 8 Channel dengan Variasi Panjang Gelombang: Fokus Power Link Budget. SNR dan BER Performance Evaluation of 8 Channel CWDM Fiber Optic Network with Variation of Wavelength: Focus on Power Link Budget. SNR and BER Alpiyan Arif Rojabi. Ahmad Fauzi*. Dewi Indriati Hadi Putri Sistem Telekomunikasi. Universitas Pendidikan Indonesia. Purwakarta Email* : ahmad. fauzi@upi. Abstrak - Kebutuhan koneksi internet terus bertambah dan prioritas utama penduduk Indonesia. Penggunaan serat fiber optik sebagai sistem transmisi bertujuan meningkatkan kecepatan transfer data dan tahan terhadap Penggunaan teknologi CWDM dapat mengatasi jumlah trafik tinggi dengan cara membagi panjang PT. Surya Citra Media memiliki jaringan yang menghubungkan kantor SCTV tower dengan kantor IVM di Daan Mogot. Penelitian ini meneliti performansi jaringan fiber optik CWDM link SCTV Tower Ae IVM Daan Mogot. CWDM yang digunakan berkapasitas 8 channel dengan panjang gelombang 1310 nm-1450 nm dengan channel spacing 20nm. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi jaringan fiber optik CWDM 8 channel melalui pengukuran performansi. Performansi jaringan fiber optik difokuskan pada parameter power link budget. SNR dan BER. Hasil penelitian menunjukkan power link budget sebesar -9,407 dB dan nilai SNR dengan nilai terkecil sebesar 37,0864 dan terbesar sebesar 37,6150 dB. Sedangkan besaran nilai BER dengan rentang 10-10 hingga 10-11. Berdasarkan hasil evaluasi jaringan tersebut dinyatakan layak. Kata kunci : Power Link Budget. Signal to Noise Ratio. Bit Error Rate. Performansi. Panjang Gelombang Abstract - The need for internet connection continues to grow and is the main priority of the Indonesian The use of fiber optic as a transmission system aims to increase data transfer speed and is resistant to interference. The use of CWDM technology can overcome high traffic volumes by dividing the wavelength. PT. Surya Citra Media has a network that connects the SCTV tower office with the IVM office in Daan Mogot. This study examines the performance of the CWDM fiber optic network link SCTV Tower - IVM Daan Mogot. The CWDM used has a capacity of 8 channels with a wavelength of 1310 nm-1450 nm with a channel spacing of 20nm. This study was conducted to evaluate the 8-channel CWDM fiber optic network through performance The performance of the fiber optic network is focused on the parameters of the power link budget. SNR and BER. The results showed a power link budget of -9. 407 dB and an SNR value with the smallest value of 37. 0864 and the largest of 37. 6150 dB. While the BER value ranges from 10-10 to 10-11. Based on the results of the evaluation, the network is declared feasible. Keywords : Power Link Budget. Signal to Noise Ratio. Bit Error Rate. Performance. Wavelength PENDAHULUAN Peradaban manusia sudah semakin canggih, hal tersebut terlihat dari transformasi digital yang semakin banyak digunakan pada aspek kehidupan . Kebutuhan koneksi internet terus bertambah dan kini menjadi prioritas utama bagi penduduk Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta periode 2022-2023 . Jumlah tersebut membuktikan bahwa masyarakat menerima perkembangan teknologi. Akan tetapi beberapa teknologi telekomunikasi yang digunakan saat ini kecepatan akses data yang masih rendah dan rentan terhadap gangguan . Penggunaan kabel serat fiber optik sebagai kecepatan transfer data dan tahan terhadap gangguan dengan menyediakan bandwidth besar dan minim redaman . Akan tetapi keterbatasan sistem trasmisi serat optik akibat tingginya trafik TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 kebutuhan pengguna. Tingginya jumlah trafik dapat diatasi menggunakan teknologi Wavelength Division Multiplexing (WDM) memanfaatkan cahaya serat optik yang memiliki berbeda-beda digabungkan dalam satu fiber tunggal . Proses penggabungan paket disebut Multiplexing dan dengan alat penggabungnya yang disebut Penggabungan tersebut dapat menghemat perangkat dan saluran yang Sehingga membuat fleksibilitas yang tinggi sehingga memungkinkan proses transmisi secara bersamaan tanpa menambah jumlah fiber optik . WDM bekerja dengan cara menggabungkan sinyal informasi yang berbeda pada satu serat optik dengan menggunakan panjang gelombang . cahaya laser yang berbeda. Oleh karena itu dapat meningkatkan kapasitas dan memungkinkan dua arah pada satu serat optik. Jakarta merupakan salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia gedung tinggi pencakar langit di setiap sudut kota. Sistem transmisi yang dapat digunakan pada kondisi geografis tersebut ialah komunikasi optik dengan fiber optik sebagai media PT. Surya Citra Media suatu perusahaan televisi nasional yang memiliki beberapa kantor di Jakarta membutuhkan jaringan fiber optik untuk menghubungkan kantor yang berada di SCTV tower Senanyan City dengan kantor IVM di Daan Mogot. Berdasarkan kebutuhan tersebut, dibuatlah jaringan fiber optik menggunakan teknologi CWDM 8 channel pada link SCTV tower- IVM Daan Mogot. Penelitian mengenai fiber optik yang menggunakan teknologi CWDM sebelumnya telah dilakukan penelitian oleh Kumar & Reddy mengenai pengaruh teknologi CWDM pada jaringan fiber optik tanpa EDFA menggunakan simulasi perangkat lunak Optisystem. Hasil penelitian menyatakan bahwa empat saluran CWDM menunjukkan potensi teknologi dengan kecepatan tinggi dan biaya rendah serta bandwidth Selain itu penelitian tersebut menyimpulkan bahwa panjang gelombang mempengaruhi nilai Qfaktor. BER, dan Eye diagram yang dihasilkan dari sebuah jaringan fiber optik. Semakin panjang serat gelombang yang digunakan semakin menurun hasil nilai yang dihasilkan . Berdasarkan penelitian sebelumnya, pada penelitian ini akan dilakukan evaluasi dan performansi panjang gelombang terhadap menggunakan teknologi CWDM 8 channel. Analisis performansi penggunaan teknologi CWDM pada jaringan fiber optik yang dilakukan dilihat dari nilai power link budget, signal noise to rasio dan bit error rate. II. METODOLOGI Penelitian ini menggunakan metode analisis Analisis eksperimen adalah penelitian yang menentukan hubungan kausal atau sebab akibat variabel tertentu terhadap variabel lain secara akurat. Penelitian tersebut dilakukan secara sistematis, terencana, dan dilihat dari alur penelitian, design, dan fungsional . , . , . Berikut ini tahapan penelitian yang dilakukan: Gambar 1 Tahapan Penelitian Deskripsi digunakan pada jaringan fiber optik CWDM. Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui parameter apa yang digunakan. Hasil deskripsi parameter akan digunakan dalam melakukan pengukuran dan mengevaluasi performansi jaringan fiber optik. Pengukuran performansi dilakukan untuk mengetahui performansi jaringan fiber optik CWDM. Pengukuran performansi dilakukan dengan menggunakan instrumen alat ukur. Pengukuran dilakukan pada pemodelan jaringan fiber optik CWDM menggunakan software Optisytem. Pengukuran tersebut dilakukan untuk mengetahui performansi jaringan CWDM agar dapat dievaluasi. Analisis data dilakukan untuk mengetahui menggunakan teknologi CWDM. Data hasil analisis akan dibandingkan dengan dokumentasi kelayakan dari regulasi ITU-T untuk menentukan kelayakan jaringan fiber optik CWDM terhadap performansi jaringan fiber optik CWDM. Penelitian ini menggunakan jaringan fiber optik berkapasitas 8 channel di tingkat metro. Panjang gelombang yang digunakan ialah 1310nm, 1350 nm, 1370 nm, 1390 nm, 1410 nm, 1430nm, dan 1450nm. Sistem jaringan fiber optik terdiri dari beberapa blok seperti pada gambar di bawah TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 Gambar 2 Blok Sistem Jaringan CWDM Sistem tersebut terdiri dari blok transmitter, transmission dan receiver. Berikut ini penjelasan dari setiap blok: Blok Transmitter Blok transmitter merupakan sisi pengirim yang mengatur besaran frekuensi, daya, jenis pengkodean kanal, dan bitrate yang digunakan. Pada jaringan fiber optik CWDM yang digunakan berjumlah 8 transmitter . TX) dengan masingmasing transmitter terdapat tiga komponen. Komponen tersebut terdiri dari sumber informasi, sumber optik, generator penghasil gelombang, dan Komponen yang digunakan pada blok tersebut ialah Continuous wave laser (CW lase. Mach-Zehder Modulator. Pseudo-Random Binary Squence (PRBS) dan NRZ Pulse Generator . Blok transmitter bekerja dengan mengirimkan bit-bit informasi dalam bentuk sinyal elektrik menuju NRZ pulse generator. Kemudian NRZ pulse generator mengkodekan bit-bit tersebut menjadi sinyal yang akan dikirimkan ke MachZehnder Modulator. Sedangkan dilain sisi. CW laser yang berperan sebagai sumber optik mengirimkan sinyal optik dengan besaran frekuensi dan daya yang berbeda-beda setiap Besar frekuensi yang digunakan dihasilkan dan frekuensi yang digunakan setiap kanal berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan. Panjang gelombang yang dihasilkan dan sinyal dari PRBS akan diteruskan ke Mach Zehnder Modulator kemudian digabungkan ke dalam WDM multiplexing yang tersambung dengan konektor sebelum ditransmisikan . , . Blok Transmission Blok transmisi merupakan blok penghubung antara blok transmitter dengan blok receiver. Blok transmisi terdiri dari serat optik dan amplifier yang dihubungkan oleh konektor. Serat optik digunakan sebagai media transmisi yang menghubungkan pengirim dan penerima. Sedangkan amplifier berfungsi sebagai penguat daya sinyal optik karena selama prosesnya mengalami pelemahan. Pada jaringan fiber optik CWDM yang dibuat menggunakan kabel fiber optik jenis single-mode dan penguat Erbium Doped Fiber Amplifier (EDFA) . , . Panjang gelombang yang telah digabungkan menjadi satu oleh WDM Multiplexer akan ditransmisikan melalu serat optik menuju ke sisi Sebelum ditransmisikan menuju WDM Demultiplexer, ditransmisikan akan dikuatkan oleh amplifier EDFA dengan cara mengatur besaran gain pada amplifier . , . Blok Receiver Sisi penerima atau blok receiver merupakan tujuan akhir dari gelombang yang ditransmisikan. Blok penerima terdiri dari WDM demultiplexer, perangkat receiver, dan perangkat pengukuran. Pada jaringan yang dibuat menggunakan WDM demultiplexer 8 channel, photodetector PIN, filter Low Pass Bessel, 3R regenerator dan BER analyzer . WDM demultiplexer akan memisahkan panjang gelombang yang ditransmisikan melalui serat optik untuk diteruskan ke setiap channel pada blok receiver. Sehingga satu panjang gelombang akan menempati satu channel. Gelombang yang telah dipisahkan oleh WDM demultiplexer akan diterima oleh photodetector PIN dan diubah Selanjutnya gelombang tersebut diterima oleh low pass bessel filter untuk menyaring noise yang dihasilkan dari berkas cahaya ketika proses transmisi berlangsung. 3R Generator digunakan sebagai penghubung antara low pass bessel dengan alat ukur BER Alat tersebut digunakan untuk mengukur besaran nilai Q-factor. Bit Error Rate, dan Eye diagram pada sebuah jaringan fiber optik . Berikut ini parameter yang digunakan pada pemodelan, seperti pada Tabel I: TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 Tabel I. Parameter yang digunakan Parameter Nilai Length 9,80 Trasmitter Power -2,8730 Modulation Type NRZ Bit Rate Bandwidth Channel Spacing Wavelength 1310, 1330, 1350, 1370, 1390, 1410, 1430, 1450 9 Wavelength References Connector Loss Optical Attenuator 0,25 12 Redaman Sambungan Jumlah Konektor Jumlah Sambungan Jumlah Attenuator Satuan Type Gbps GHz Buah Buah Buah Data hasil penelitian diperoleh dan dikumpulkan melalui analisis eksperimen menggunakan software Optisystem. Data yang didapatkan berupa nilai parameter power link budget, signal to noise ratio dan bit error rate untuk mengukur performansi. Analisis data hasil dilakukan menggunakan model matematis dan simulasi menggunakan software optisystem. Data utama yang diukur dalam penelitian ini adalah data hasil perhitungan dan pengukuran parameter power link budget, signal to noise ratio, dan bit error rate. Analisis dilakukan dengan menggunakan software Optisystem untuk mengolah data pendukung analisis performansi. (P. lebih besar dari -28 dB. Berikut ini persamaan untuk menghitung Power Link Budget: Power Link budget Power link budget adalah sebuah metode perhitungan yang digunakan untuk menghitung daya dan level daya yang diterima melebihi level daya minimum agar dapat dideteksi oleh penerima . Perhitungan power link budget bertujuan untuk mengetahui besaran daya yang diperlukan receiver dengan harapan level daya yang diterima tidak berkurang dari sensitivitas minimal yang telah ditentukan. Power link budget menghitung semua parameter transmisi sinyal seperti gain, losses dan daya. Redaman total saluran yang ada sepanjang serat optik seperti redaman pada serat, konektor dan sambungan perlu dihitung untuk mengukur kinerja transmisi fiber optik. Total losses maksimumnya ialah 28 dB, sehingga lebih dari itu dapat dikatakan jaringan tersebut kurang baik . Perhitungan power link budget dilakukan berdasarkan standarisasi ITU-T G. 984 dengan tidak melebihi jarak sebesar 20 km serta redaman total tidak lebih dari 28 dB dan level daya terima Keterangan: =Redaman Total . B) = Panjang kabel serat optik . yuycyceycycayc = Redaman kabel serat optik . B/k. ycAyca =Jumlah connector =Redaman connector . B) ycAyc =Jumlah sambungan yuyc =Redaman sambungan . B) yuycIycy =Redaman splitter . B) ycyc = ycyc Oe yuyc yc Keterangan: ycEycI = Power Receiver . ycEycN = Power Transmit . yuycN = Redaman atau Loss total . B) ya = Gain . B) Redaman persamaan berikut: yuyeiyeayei = yc. yuyeiyeIyeeyeCyei ycAyeE . yuyeE ycAyei . yuyei yuycyec Signal Noise to Rasio (SNR) Signal Noise to Rasio adalah perbandingan antara kekuatan sinyal dengan kekuatan derau pada suatu titik dalam waktu yang sama. SNR digunakan untuk mengindikasikan seberapa besar gangguan derau terhadap sinyal yang sedang ditransmisikan . Menurut standar ITU-T 984. SNR minimal yang diperlukan adalah sekitar 21,5dB. SNR melakukan perbandingan antara kekuatan sinyal dengan tingkat kebisingan. Semakin tinggi nilai SNR maka kualitas SNR akan TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 semakin baik, dan sebaliknya semakin rendah nilai SNR maka kualitas SNR akan semakin buruk . , . SNR dihitung menggunakan persamaan ycI/ycA = 10 ycoycuyci( ycEycycnyciycuycayco ycEycuycuycnycyce . Keterangan: S/N =Signal to Noise Ratio . B) ycEycycnyciycuycayco =Kekuatan sinyal . ycEycuycuycnycyce =Kebisingan sinyal . gelombang bervariasi dilihat dari parameter power link budget, signal to noise ratio dan bit error rate. Power Link Budget Besaran power link budget didapatkan melalui perhitungan dan pengukuran. Hal tersebut dilakukan sebagai perbandingan dan validasi data Pengukuran power link budget dilakukan menggunakan power meter pada software Optisystem. Berikut ini hasil pengukuran dan perhitungan power link budget pada link SCTV tower Ae IVM Daan Mogot: Bit Error Rate (BER) Bit Error Rate adalah laju dari kesalahan pada bit melalui transmisi sinyal secara digital. Batas minimum dari BER untuk sistem komunikasi optik yang direkomendasikan sebesar 10 -9 . Sedangkan untuk komunikasi data batas minimum BER sebesar 10-12 dan untuk komunikasi suara sebesar 10-10. Besaran tersebut dapat disesuaikan dengan penerapannya agar kualitas link tersebut baik kualitasnya . Analisis BER dapat dilakukan dengan menggunakan alat seperti BER analyzer pada aplikasi Optisystem . Adapun secara matematis bit error rate dapat dihitung dengan Persamaan berikut: yaAyaycI = yce ycAyc Keterangan: ycAyce = Jumlah Bit Error ycAyc = Bit total terkirim Rekomendasi Kelayakan Rekomendasi memerlukan data acuan agar standar kelayakan yang sesuai. Standar yang digunakan berdasarkan standar ITU-T. Rekomendasi kelayakan digunakan untuk mengevaluasi jaringan Fiber Optik. Berikut ini standar yang digunakan, seperti pada Tabel II: Tabel II. Rekomendasi Kelayakan Parameter Q-factor Power Link Budget BER SNR Nilai Ou6 >-28 O 10-9 > 21,5 dB HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian diperoleh melalui analisis eksperimen menggunakan software optisystem. Hasil analisis untuk mengevaluasi jaringan fiber optik CWDM 8 channel dengan panjang Gambar 3. Hasil Pengukuran Power Link Budget Berdasarkan Gambar 3 besaran power link budget pada jaringan fiber optik link SCTV Tower Ae IVM Daan Mogot sebesar -10,364 dBm atau 91,963 y 10-6 W. Parameter yang digunakan dalam perhitungan power link budget disajikan pada tabel berikut ini: Tabel i. Parameter Power Link Budget Parameter Fiber Length (K. Redaman Serat Optik Nilai Konektor Jumlah Konektor Nilai Sambungan Jumlah Sambungan Insert loss Demux Output Demux Power Transmit (TX) Gain Nilai 9,8 Km 0,35 dB/Km 0,5 dB 8 buah 0,1 dB 8 buah 3,5 dB 8 Output -2,873 dBm 5 dB Berikut ini perhitungan power link bidget pada jaringan fiber optik link SCTV Tower Ae IVM Daan Mogot : Berikut menggunakan persamaan . yuycN = L. yuycyceycycayc ycAya . yuya ycAycI . yuyc ycAycIycy . ,8 y 0,. y 0,. y yuycN 0,. y 0,4. = 3,43 4 0,8 3,5 = 11,73 dB Perhitungan power link budget menggunakan persamaan . seperti berikut ini: TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 = ycEycN Oe T G = (Oe2,. Oe 11,73 5 = -9,603 dBm Berdasarkan hasil pengukuran, power link budget yang dihasilkan pada jaringan fiber optik CWDM link SCTV tower Ae IVM Daan mogot sebesar -9,407 dBm atau 114,641 y 10 -6 W. Sedangkan hasil perhitungan power link budget pada jaringan tersebut sebesar -9,603 dBm. Hasil pengukuran dan perhitungan power link budget berada diatas nilai minimum standar power link budget yaitu, -28 dB. Sehingga dapat diketahui bahwa link tersebut memenuhi standar rekomendasi kelayakan yang telah ditetapkan. Hasil perhitungan power link budget merupakan nilai estimasi redaman total dari hasil daya keluaran pada jaringan yang diukur. Berdasarkan hasil pengukuran, besaran nilai power link budget yang terukur pada suatu jaringan fiber optik dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: kekuatan sumber cahaya, total redaman, komponen aktif dan pasif dan penguat Besaran power link budget dipengaruhi oleh redaman dan daya yang diberikan dari sisi Pada penelitian menggunakan CW laser sebagai sumber cahaya. Laser tersebut berjenis laser dioda yang bersifat stabil, efisiensi dan kontinu pancarannya. Pancaran CW laser stabil untuk memancarkan panjang gelombang tertentu sehingga terhindar dari pergeseran panjang gelombang yang dapat menghasilkan gangguan transmisi sinyal. Daya keluaran yang dihasilkan dari sumber cahaya sebesar -2,873 dbm dapat mempengaruhi besaran power link budget karena daya keluarannya akan berbanding lurus dengan besaran power link budget. Semakin tinggi daya dari sumber cahaya maka akan semakin meningkat nilai power link budget pada suatu jaringan. Daya pada sisi penerima dipengaruhi oleh besaran daya pada sisi pengirim. Semakin besar daya dari sisi pengirim yang digunakan maka akan semakin baik daya yang dapat diterima pada sisi penerima. Semakin kecil daya yang diberikan dari sisi pengirim maka daya yang dapat diterima oleh sisi penerima akan kurang baik. Redaman total yang dihasilkan pada jaringan fiber optik mempengaruhi nilai power link budget. Pada penelitian ini total redaman yang dihasilkan sebesar 11,73 dBm. Total redaman tersebut mengurangi daya yang dihasilkan dari sumber Sehingga semakin besar nilai total redaman pada suatu jaringan maka akan semakin besar daya yang hilang dan daya yang dapat diterima di sisi penerima akan semakin kecil. Gain EDFA sebesar 5 dB pada sisi transmisi mengganti kerugian yang disebabkan oleh redaman yang berasal dari redaman serat, redaman konektor dan redaman sambungan yang terjadi karena jarak yang harus ditempuh cukup panjang. Selain itu, gain meningkatkan daya sinyal yang melemah akibat redaman untuk mencapai jarak yang lebih jauh sesuai dengan kebutuhan tanpa kehilangan Sehingga dapat disimpulkan kualitas daya yang digunakan pada sisi pengirim dan besaran redaman total serta besaran gain pada suatu jaringan fiber optik akan mempengaruhi besaran nilai power link budget pada jaringan fiber optik Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jaringan fiber optik CWDM link SCTV Tower Ae IVM Daan Mogot memenuhi standar kelayakan jaringan fiber optik dengan nilai power link budget pada jaringan tersebut berada pada batas minimum antara 28 dB hingga -28 dB. Signal Noise to Rasio (SNR) Besaran signal noise to rasio pada jaringan fiber optik CWDM didapat melalui pengukuran. menggunakan alat ukur WDM Analyzer pada software Optisystem. Berikut hasil pengukuran signal noise to rasio: Gambar 4. Hasil Pengukuran Signal to Noise Ratio Hasil pengukuran menunjukkan besaran SNR pada setiap panjang gelombang jaringan tersebut Hal tersebut dikarenakan perbandingan kekuatan sinyal yang dihasilkan dengan noise pada jaringan tersebut. Setiap panjang gelombang menerima kekuatan sinyal dan noise yang berbedabeda. Berdasarkan data hasil pengukuran dan perhitungan daya paling tinggi terjadi pada panjang gelombang 1370 nm dengan daya sebesar 18,666226 dBm. Sedangkan daya paling rendah terjadi pada panjang gelombang 1350 nm dengan daya sebesar -18,838852 dBm. Sedangkan besaran noise paling tinggi sebesar -55,841193 dBm yang terjadi pada panjang gelombang 1310 nm dan noise paling rendah sebesar -56,284614 dBm pada panjang gelombang 1450 nm. Rasio noise yang TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 dihasilkan pada jaringan fiber optik CWDM link SCTV tower - IVM Daan Mogot sebesar 0,44342062 dBm dan rasio power sebesar 0,17262636 dBm. Berikut ini besaran SNR didapatkan melalui perhitungan matematis menggunakan persamaan . Berdasarkan gelombang yang digunakan pada jaringan fiber optik CWDM link SCTV tower Ae IVM Daan Mogot menghasilkan signal noise to rasio di atas standar ITU-T G. 984 dengan nilai minimal sekitar 21,5 dB. Tabel IV. Hasil Perhitungan SNR Pengukuran Bit Error Rate (BER) Pengukuran BER dilakukan agar dapat mengetahui seberapa besar kesalahan bit ketika melakukan satu kali pengiriman. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat ukur BER Analayzer yang tersedia pada software Optisystem. Berikut ini hasil pengukuran bit erorr rate: Panjang Gelombang 1310 nm 1330 nm 1350 nm 1370 nm 1390 nm 1410 nm 1430 nm 1450 nm Signal to Noise Ratio . B) 37,08648773 37,15580792 37,1335323 37,37005163 37,38855988 37,41261115 37,46981808 37,6149443 Setiap bertambahnya panjang gelombang noise yang dihasilkan juga semakin berkurang. Sehingga semakin panjang gelombang yang digunakan maka noise pada daya yang dihasilkan akan semakin Seperti pada Gambar 4 noise pada panjang gelombang 1310 nm sebesar -55,84 dBm, begitu pun pada panjang gelombang 1330 nm dan panjang gelombang 1350 nm sebesar -55,90 dBm dan 55,97 dBm. Begitu juga pada panjang gelombang 1370 nm, 1390 nm, 1410 nm, 1430 nm dan 1450 nm berkurang berturut-turut sebesar -56,03 dBm, 56,10 dBm, -56,16 dBm, -56,22 dBm dan -56,28 dBm. Besaran daya pada setiap panjang gelombang bervariasi cenderung naik turun, karena besaran dispersi pada setiap gelombang yang berbedabeda. Selain itu daya yang diterima dipengaruhi oleh penguat optik yang memiliki spektrum gain yang dapat berubah berdasarkan panjang gelombang yang digunakan. Semakin besar noise, kekuatan daya relatif akan semakin berkurang pada suatu panjang gelombang. Besaran noise mempengaruhi kualitas SNR pada sebuah jaringan, semakin tinggi nilai SNR maka kualitas SNR akan semakin baik, dan sebaliknya semakin rendah nilai SNR maka kualitas SNR akan semakin buruk. Panjang gelombang yang digunakan mempengaruhi besaran SNR yang dihasilkan. Semakin bertambah panjang gelombang yang digunakan maka semakin naik nilai SNR yang dihasilkan. Kenaikan tersebut dikarenakan besaran noise yang cenderung mengalami penurunan setiap bertambahnya panjang gelombang. Sehingga semakin panjang gelombang yang digunakan maka akan semakin tahan suatu jaringan terhadap gangguan. Tabel V. Hasil Pengukuran BER No. Panjang Gelombang 1310 nm 1330 nm 1350 nm 1370 nm 1390 nm 1410 nm 1430 nm 1450 nm Bit Error Rate 6,22606 y 10-10 3,35937 y 10-11 9,80795 y 10-11 6,42417 y 10-10 7,87297 y 10-10 2,78373 y 10-11 9,82202 y 10-11 6,22606 y 10-10 Nilai bit error rate merupakan nilai yang menunjukkan kesalahan bit yang terjadi ketika proses transmisi sinyal pada sebuah jaringan fiber Berdasarkan hasil pengukuran, panjang gelombang yang menghasilkan BER paling tinggi ialah panjang gelombang 1390 nm sebesar 7,87297 y 10-10 atau 0,787297y 10-9. Artinya setiap 109 bit data yang terkirim terjadi error data sejumlah 0,79 Sedangkan nilai bit error rate paling rendah dihasilkan oleh panjang gelombang 1410 nm sebesar 2,78373 y 10-11 atau 0,0278373 y 10-9. Terjadi kesalahan pengiriman data sebesar 0,02 bit setiap 109 bit data yang terkirim. Besaran BER dipengaruhi oleh noise, dispersi, dan daya. Noise memiliki pengaruh yang signifikan terhadap BER karena semakin besar noise daya, besaran bit error rate semakin meningkat. Noise yang terjadi dihasilkan dari Thermal Noise. Shot Noise dan Amplifier Noise. Penggunaan amlifier sebagai penguat optik dapat menghasilkan noise pada komunikasi optik. Besaran noise yang terjadi sangat berpengaruh sama halnya terhadap SNR. Hal tersebut dikarenakan besaran SNR memiliki hubungan langsung dengan BER pada suatu komunikasi SNR yang tinggi akan menghasilkan BER rendah yang artinya lebih sedikit kesalahan dalam proses transmisi. Jika nilai SNR lebih tinggi artinya daya panjang gelombang lebih besar dibandingkan TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 noise, sehingga menghasilkan BER yang lebih Sebaliknya, jika nilai SNR rendah dan lebih tinggi noise maka nilai BER yang dihasilkan akan tinggi. Dispersi pada setiap panjang gelombang menyebabkan pelebaran pulsa optik saat merambat pada serat optik. Pulsa yang lebar dapat saling tumpang tindih menyebabkan distorsi ketika bit rate yang digunakan tinggi. Distorsi dapat menyebabkan peningkatan kesalahan bit yang mengakibatkan meningkatnya nilai BER. Panjang gelombang dengan daya rendah juga dapat meningkatkan besaran BER karena panjang gelombang dengan daya rendah lebih rentan terhadap noise. Peningkatan daya pada SNR dapat meningkatkan SNR dan BER yang terukur menjadi Namun ketika daya terlalu tinggi, distorsi dapat terjadi sehingga meningkatkan BER. Selain mempengaruhi SNR. BER juga mempengaruhi besaran nilai q-factor yang dihasilkan pada setiap panjang gelombang. Berikut ini hasil pengukuran q-factor pada setiap panjang Taabel VI. Hasil Pengukuran Q-Factor No. Panjang Gelombang 1310 nm 1330 nm 1350 nm 1370 nm 1390 nm 1410 nm 1430 nm 1450 nm Q-Factor 6,07421 6,52472 6,36421 6,0692 6,03651 6,55488 6,36295 6,24158 Tabel VI merupakan tabel hasil pengukuran qfactor yang menunjukkan hubungan antara panjang gelombang terhadap q-factor. Q-factor merupakan representasi kualitas sinyal optik dan berhubungan dengan BER. Q-factor memberikan perbedaan gambaran rasio antara bit 1 dan bit 0. Q factor yang tinggi dapat menghasilkan BER yang rendah dan sebaliknya q-factor yang rendah menghasilkan BER yang tinggi. Sehingga dapat dikatakan semakin besar nilai q-factor maka kualitas suatu jaringan semakin baik dan sebaliknya. Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa setiap panjang gelombang menghasilkan nilai qfactor yang berhubungan satu sama lain dengan nilai BER. Panjang gelombang 1410 nm menghasilkan q-factor paling besar dengan nilai 6,55488. Sedangkan q factor paling rendah dihasilkan oleh panjang gelombang 1390 nm sebesar 6,03651. Kedua panjang gelombang tersebut merupakan panjang gelombang yang menghasilkan nilai BER paling tinggi dan paling rendah berdasarkan. Hal tersebut sesuai dengan teori bahwa semakin tinggi nilai q-factor maka akan menghasilkan BER yang semakin rendah dan Keduanya dapat menentukan kualitas suatu panjang gelombang, karena keduanya memiliki pengaruh secara langsung atau sebab Hal tersebut dikarenakan Q-factor merupakan ukuran suatu kualitas sinyal dalam komunikasi digital. Sedangkan BER merupakan ukuran suatu kesalahan bit dalam sebuah sistem dari sebuah frekuensi. Bit tersebut dibandingkan antara bit yang diterima dengan total bit yang dikirim. Hubungan antara panjang gelombang terhadap q-factor. dapat diketahui bahwa q-factor yang terukur pada link tersebut naik turun dengan. Nilai yang dihasilkan pada setiap panjang gelombang pada link tersebut berada di atas nilai minimum standar fiber optik yaitu 6. Q-factor paling tinggi sebesar 6,55 yang dihasilkan oleh panjang gelombang 1410 nm dan paling rendah sebesar 6,03 pada panjang gelombang 1390 nm. Sehingga dengan rentang tersebut dapat diketahui panjang gelombang yang digunakan pada jaringan fiber optik link SCTV Tower Ae IVM Daan Mogot memenuhi standar. Selain q-factor. BER juga mempengaruhi eye diagram. Berikut ini salah satu eye diagram yang terukur pada BER Analyzer: Eye diagram merupakan metode visual untuk menganalisis kualitas sinyal digital dengan cara menumpuk segmen-segmen gelombang yang berulang secara berkala. Penumpukan tersebut membentuk pola seperti mata atau disebut eye Eye diagram dapat diukur menggunakan BER Analyzer. Gambar 5 merupakan eye diagram panjang gelombang 1410 nm yang terukur pada BER Analyzer. Gambar hubungan antara eye diagram dengan q-factor dan BER. Semakin rendah BER yang terjadi maka semakin lebar eye diagram yang dihasilkan. Eye diagram yang terbuka lebar menunjukkan gelombang dengan kualitas tinggi dan BER rendah dan q-factor tinggi. Hal tersebut menandakan sinyal bit 1 dan bit 0 mudah dibedakan oleh penerima karena jitter dan noise margin optimal. Sedangkan eye diagram tertutup menandakan gelombang yang digunakan memiliki kualitas yang buruk dengan BER yang tinggi dan q-factor Hal tersebut menandakan bit 1 dan bit 0 sulit dibedakan oleh penerima sehingga meningkatkan kemungkinan kesalahan bit karena jitter dan noise yang buruk. TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 Gambar 5. Eye diagram panjang gelombang 1410nm Berdasarkan Gambar 5 besaran eye height yang terukur sebesar 9,1245y10-6 dengan eye yang terbuku lebar. Sedangkan BER yang terjadi pada panjang gelombang 1410 nm sebesar 2,78373 y 1011 nilai tersebut merupakan nilai BER paling rendah diantara panjang gelombang lainnya. IV. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah dipaparkan mengenai Evaluasi Kinerja CWDM 8 Channel dengan Variasi Panjang Gelombang Fokus: Power Link Budget. SNR dan BER, dapat disimpulkan jaringan tersebut memenuhi standar kelayakan. Hal tersebut berdasarkan parameter power link budget menunjukkan daya sinyal yang diterima efisien. Sementara signal to noise ratio yang dihasilkan berada pada batas optimal dengan gangguan Sedangkan bit error rate yang dihasilkan rendah sehingga dapat dipastikan performansi transmisi data yang dimiliki handal. Performansi jaringan fiber optik CWDM tidak lepas dari pengaruh panjang gelombang yang digunakan. Panjang gelombang 1310 nm hingga 1450 nm dengan channel sapcing 20 nm dapat dinyatakan baik untuk digunakan pada jaringan fiber optik yang menggunakan teknologi CWDM. Hal tersebut berdasarkan tabel kelayakan, seperti pada Tabel VII dan Tabel Vi berikut: Tabel VII. Standar Kelayakan 1 Power Link Budget Oo Standar Kelayakan Layak Tabel Vi. Standar Kelayakan 2 Panjang Gelombang 1310 nm 1330 nm 1350 nm 1370 nm 1390 nm 1410 nm 1430 nm 1450 nm SNR BER Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Oo Standar Kelayakan Layak Layak Layak Layak Layak Layak Layak Layak Berdasarkan gelombang yang digunakan pada jaringan fiber optik 8 channel menghasilkan nilai power link budget, signal to noise ratio dan bit error rate yang memenuhi standar rekomendasi kelayakan jaringan fiber optik. Sehingga panjang gelombang tersebut dapat dinyatakan layak berdasarkan parameter power link budget, signal to noise ratio, dan Bit Error Rate. Performansi suatu jaringan dipengaruhi oleh panjang gelombang yang digunakan pada suatu jaringan fiber optik. Performansi tersebut dilihat dari komparasi panjang gelombang terhadap parameter Power Link Budget. Signal noise to rasio, dan Bit error Semakin bertambah panjang gelombang yang digunakan maka akan semakin besar nilai signal noise to rasio yang dihasilkan. Semakin besar nilai signal noise to rasio yang dihasilkan maka akan semakin rendah bit error rate yang terjadi. Sehingga semakin besar nilai signal noise to rasio TELEKONTRAN: Jurnal Ilmiah Telekomunikasi. Kendali dan Elektronika Terapan Vol. No. Oktober 2024 dan semakin rendah nilai bit error rate maka semakin baik performansi yang dimiliki oleh suatu Oleh karena itu pemilihan panjang gelombang yang akan digunakan pada jaringan fiber optik CWDM merupakan aspek penting. Hal tersebut dikarenakan panjang gelombang yang digunakan mempengaruhi performansi jaringan fiber optik Sehingga pemilihan panjang gelombang yang sesuai merupakan indikator untuk menghasilkan performansi maksimal pada jaringan fiber optik CWDM. DAFTAR PUSTAKA