Journal of Nursing Science Research E-ISSN : 3062-8865 Volume 1 Nomor 2 Desember 2024 Hal : 83-94 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAWATAN KELUARGA TERHADAP ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA (ODGJ) Aprilia Sapitri1*. Nurwijaya Fitri2. Nova Mardiana3. Indah Permata Sari4 1,2,3 Program Studi Ilmu Keperawatan. Institut Citra Internasional *Email: Sapitri2904@gmail. ABSTRAK Perawatan keluarga sangat penting bagi orang dengan gangguan jiwa, karena keluarga adalah orang yang paling utama untuk mengoptimalkan ketenangan jiwa terhadap orang dengan gangguan jiwa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah keluarga orang dengan gangguan jiwa yang tercatat dan terdaftar berkunjung di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 89 orang. Analisa data menggunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menyimpulkan faktor-faktor yang berhubungan dengan perawatan keluarga adalah tingkat pendidikan . =0,. , tingkat ekonomi . =0,. , genetik . =0,. dan faktor yang lebih dominan pengetahuan . =0. 000 dan POR=11,. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah bahwa tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, genetik dan pengetahuan memiliki hubungan dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Saran dari penelitian ini adalah diharapkan hasil peneltian ini digunakan sebagai literatur dan acuan untuk meningkatkan penyuluhan dan pendidikan pada masyarakat tentang pentingnya perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa, karena ODGJ sangat membutuhkan uluran tangan dan perawatan. Kata Kunci : Keluarga. Orang dengan gangguan Jiwa. Perawatan Keluarga ABSTRACT Family care is very important for people with mental disorders, because the family is the most important person to optimize mental peace for people with mental disorders. The aim of this research is to find out what factors are related to family care for people with mental disorders at the Regional Mental Hospital Polyclinic. Dr. Samsi Jacobalis Bangka Belitung Islands Province This research is a quantitative study with a cross-sectional. The samples in this study were families of people with mental disorders who were recorded and registered as visiting the Polyclinic at the Regional Mental Hospital, dr. Samsi Jacobalis of Bangka Belitung Islands Province as many as 89 people. Data analysis used the chi square test with a confidence level of The results of this study concluded that the factors related to family care were education level . =0. , economic level . =0. , genetics . =0. and the more dominant factor was knowledge . =0. 000 and POR=11. The conclusion in this study is that educational level, economic level, genetics and knowledge have a relationship with family care for people with mental disorders at the Regional Mental Hospital Polyclinic. Dr. Samsi Jacobalis Bangka Belitung Islands Province in 2024. The suggestion from this research is that it is hoped that the results of this research will be used as literature and reference to improve outreach and education in the community about the importance of family care for people with mental disorders, because ODGJ really need a helping hand and care. Keywords : Family. People With Mental Disorders. Family Care Page | 83 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 PENDAHULUAN Gangguan gangguan dalam aspek berpikir . , kemauan . , emosi . , atau tindakan . Dalam kehidupan seorang individu yang mengalami gangguan jiwa, dapat memengaruhi aktivitas, kehidupan sosial, pola kerja, terganggunya oleh gejala kecemasan, depresi dan psikosis. Penting bagi seseorang yang mengalami gangguan mental untuk segera mencari pengobatan atau bantuan. Menunda pengobatan dapat mengakibatkan dampak negatif yang lebih besar pada pasien, keluarga dan (Nurjannah et al, 2. Masalah gangguan jiwa merupakan isu global yang jika tidak ditangani, peningkatan prevalensi setiap tahunnya. Menurut World Health Organization (WHO), prevalensi gangguan jiwa secara global diperkirakan mencapai sekitar 478,5 juta, di mana 264 juta di antaranya mengalami depresi, 45 juta mengalami bipolar, 20 juta skizofrenia dan 50 juta mengalami demensia (WHO, 2. Prevalensi gangguan jiwa di seluruh dunia menurut data World Health Organization (WHO) pada tahun 2022, terdapat 300 juta individu di berbagai belahan dunia yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, bipolar, demensia, termasuk 24 juta orang yang Meskipun prevalensi skizofrenia tercatat dalam jumlah yang relative lebih rendah dibandingkan prevalensi jenis gangguan jiwa lainnya berdasarkan National Institute of Mental Health (NIMH), skizofrenia merupakan salah satu dari 15 penyebab besar kecacatan di seluruh dunia, orang dengan skizofrenia memiliki kecendrungan lebih besar peningkatan resiko bunuh diri (NIMH, 2. Di Indonesia, terjadi peningkatan signifikan dalam prevalensi gangguan jiwa, mencapai 7 per mil rumah tangga, yang berarti setiap 1. 000 rumah tangga memiliki 7 rumah tangga dengan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Diperkirakan jumlah individu yang terkena mencapai sekitar 450 ribu orang Kemenkes Kesehatan RI, . Upaya untuk mengatasi masalah gangguan jiwa bertujuan untuk mencapai derajat kesehatan jiwa yang optimal bagi individu, keluarga, dan masyarakat melalui pendekatan yang komprehensif, melibatkan aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Upaya ini perlu dilakukan secara menyeluruh oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat itu sendiri (Yusuf et al. Prevalensi masalah kesehatan jiwa di Indonesia mencapai tingkat yang peningkatan yang disebabkan oleh Data menunjukkan bahwa sekitar 20 persen penduduk berisiko mengalami gangguan kesehatan jiwa. Masalah kesehatan yang disebabkan oleh depresi dan kecemasan juga mengalami peningkatan, dengan angka sekitar 6-9 persen menurut penelitian. Hal ini peningkatan depresi terkait dengan risiko bunuh diri (Kementerian Kesehatan. Hasil Data Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa sekitar 6,1% dari populasi Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental emosional, yang ditandai dengan gejala depresi dan kecemasan. Sementara itu, prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, mencapai sekitar 400. orang, setara dengan 1,7 per 1. Data Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2019 Page | 84 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 871 Orang, tahun 2020 terdapat 8968 orang, tahun 2021 terdapat 9737 orang, sedangkan pada tahun 2022 143 orang. Klasifikasi Gangguan Jiwa pada tahun 2022 antara lain: Skizofrenia Paranoid dengan kasus 5202 orang. General Anxiety Disorder dengan kasus 816 orang. Gangguan Bahasa Expesif dengan kasus 529 orang. Gangguan Bipolar dengan kasus sebanyak 462 orang. Skizofrenia Unspesifik dengan kasus sebanyak 459 orang. Depresi dengan kasus sebanyak 430 orang. Retardasi Mental dengan kasus sebanyak 403 orang. Gangguan Psikotik Akut dengan kasus sebanyak 387 orang. Skizoafektif dengan kasus sebanyak 327 orang dan Autisme dengan kasus sebanyak 160 orang. Data kunjungan Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan ditahun 2020 karena adanya Pandemi Covid-19. Keluarga mempunyai tanggung jawab untuk melakukan perawatan pada orang dengan gangguan jiwa, karena keluarga yang paling sering berhubungan ataupun kontak langsung dengan orang dengan gangguan jiwa, keluarga juga di anggap paling paham mengenai kondisi anggota keluarganya dan keluarga adalah pemberi perawatan yang paling utama untuk mencapai pemenuhan kebutuhan dasar dan mengoptimalkan ketenangan jiwa bagi orang dengan gangguan jiwa yang membutuhkan waktu yang sangat lama dalam terapi penyembuhan orang dengan gangguan jiwa menurut penelitian (Daulay, 2. Peran keluarga memiliki signifikan yang besar dalam mendukung individu yang mengalami masalah kesehatan jiwa atau gangguan jiwa. Dukungan yang diberikan oleh keluarga terhadap individu dengan gangguan jiwa memiliki dampak positif terhadap tingkat kekambuhan Dukungan ini tidak hanya membantu mereka mengarahkan hidup menuju lingkungan sosial yang lebih kepercayaan diri sehingga mereka mampu menjalani aktivitas sehari-hari baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat, serta dapat menjadi individu yang produktif . ine E, 2. Menurut penelitian Tineke, . menunjukkan bahwa hasil uji statistik chi-square menghasilkan nilai p= 0,044. Nilai ini lebih kecil dari a= 0,05, menunjukkan bahwa faktor persepsi memainkan peran signifikan. Dalam hal ini, 63,4% keluarga memiliki persepsi yang negatif, sedangkan 36,6% memiliki persepsi yang positif terhadap individu dengan gangguan jiwa. Persepsi ini paling sering dilakukan oleh keluarga dan orang terdekat klien. Berdasarkan penelitian Karmina, . mengungkapkan analisis terhadap enam faktor, melibatkan pendidikan . value = 0,. , ekonomi . -value = 0,. , faktor genetika . -value = 0,. , adat istiadat . -value = 0,. , pengetahuan . -value = 0,. dan kekambuhan . -value = 0,. Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa faktor-faktor ini memiliki pengaruh atau korelasi terhadap perawatan keluarga terhadap individu dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Rumah Sakit Depok - Jawa Barat pada tahun 2023. Menurut hasil survei awal peneliti pada tanggal 4 Desember 2023 yang dilakukan di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, diketahui 7 dari 10 keluarga klien belum mengetahui cara merawat orang dengan gangguan jiwa yang baik dan benar di rumah. 7 dari 10 keluarga tersebut pun belum mengetahui pengetahuan tentang orang dengan gangguan jiwa. Dari beberapa keluarga yang di wawancarai, mereka mengatakan tidak tahu bagaimana cara membujuk klien ketika tidak mau minum obat, tidak mau mandi dan keluarga Page | 85 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 bingung apa yang harus dilakukan jika klien mengalami kekambuhan. Beberapa dari keluarga klien juga jarang mendapatkan pendidikan kesehatan terkait cara merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Berdasarkan uraian di atas, dengan banyaknya keluarga yang belum mengetahui cara merawat orang dengan gangguan jiwa yang baik dan benar di rumah maka peneliti tertarik untuk meneliti Faktor Ae Faktor yang Berhubungan Dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor Ae Faktor yang Berhubungan Dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. METODE Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi hubungan antara variabel. Peneliti melakukan pemantauan atau pengukuran data variabel dependen . erawatan keluarg. dan variabel independen . ingkat pendidikan, tingkat ekonomi, genetik dan pengetahua. pada satu waktu yang bersamaan, tanpa melakukan tindak lanjut. Populasi dalam penelitian ini adalah orang dengan gangguan jiwa yang melakukan rawat jalan di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama bulan Desember tahun 2022 dengan jumlah kunjungan rawat jalan 832 orang. Adapun sampel pada penelitian ini adalah keluarga orang dengan gangguan jiwa yang tercatat dan terdaftar berkunjung di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung yang dihitung dengan menggunakan rumus slovin berjumlah 89 Data ini dianalisis menggunakan uji chi square. Teknik penarikan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah non probability sampling. Jenis non probability sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling. HASIL Analisa Univariat Tabel 1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Frekuensi . Persentase (%) 43,8% 56,2% 100,0% Berdasarkan tabel 1 diatas diperoleh hasil dari 89 responden ditemukan bahwa sebagian besar keluarga pasien berjenis kelamin perempuan sebanyak 50 orang . ,2%). Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan kategori jenis kelamin laki-laki. Tabel 2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Hubungan Dengan ODGJ Hubungan Dengan ODGJ Ayah Ibu Suami Istri Anak Kakak Adik Nenek Kakek Paman Bibi Total Frekuensi Persentase (%) 6,7% 13,5% 7,9% 7,9% 10,1% 21,3% 11,2% 4,5% 3,4% 5,6% 7,9% 100,0% Page | 86 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 Berdasarkan tabel 2 diatas diperoleh hasil dari 89 responden ditemukan bahwa sebagian besar hubungan keluarga dengan pasien paling banyak sebagai kakak yaitu dengan jumlah 19 orang . ,3%). Tabel 3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tingkat Pendidikan Rendah Tinggi Frekuensi Persentase (%) 55,1% 44,9% Total 100,0% Berdasarkan tabel 3 diatas diperoleh hasil dari 89 responden ditemukan bahwa sebagian besar mayoritas tingkat pendidikan keluarga pasien yaitu rendah (Tidak sekolah. SD, dan SMP) dengan jumlah 49 orang . ,1%). Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan kategori tingkat pendidikan tinggi. Tabel 4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Ekonomi Tingkat Ekonomi Rendah <3. Tinggi >3. Frekuensi Persentase (%) 53,9% 46,1% Total 100,0% Berdasarkan tabel 4 diatas diperoleh hasil dari 89 responden ditemukan bahwa sebagian besar tingkat ekonomi keluarga pasien setiap bulan paling dominan <3. 000 yaitu sebanyak 48 orang . ,9%). Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan kategori tingkat ekonomi tinggi. Tabel 5 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Genetik Genetik Tidak Frekuensi Persentase (%) 61,8% 38,2% Total 100,0% Berdasarkan tabel 5 diatas diperoleh hasil dari 89 responden ditemukan bahwa genetik sebanyak 55 orang . ,8%). Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan kategori tidak Tabel 6 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Pengetahuan <5 Kurang Baik >5 Baik Total Frekuensi . Persentase (%) 41,6% 58,4% 100,0% Berdasarkan tabel 6 diatas diperoleh hasil dari 89 responden ditemukan bahwa sebagian besar pengetahuan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa yaitu >5 . dengan jumlah 52 orang . ,4%). Jumlah tersebut lebih banyak jika dibandingkan dengan kategori pengetahuan keluarga kurang baik. Tabel 7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Perawatan Keluarga Perawatan Keluarga <36 Kurang Baik >36 Baik Total Frekuensi . Persentase (%) 41,6% 58,4% 100,0% Berdasarkan tabel 7 diatas diperoleh hasil dari 89 responden ditemukan bahwa sebagian besar perawatan keluarga pasien yaitu >36 . dengan jumlah 52 orang . ,4%). Jumlah tersebut lebih banyak Page | 87 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 jika dibandingkan dengan kategori perawatan keluarga kurang baik. Analisa Bivariat Tabel 8 Hubungan Antara Tingkat Pendidikan dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa Rendah Tinggi Perawatan Keluarga Kurang Baik Total Baik >36 <36 % n % n 29 59,2 20 40,8 49 100,0 8 20,0 32 80,0 40 100,0 Total Tingkat Pendidikan P-Value 0,000 POR . % CI) 5,800 . ,217-15,. 41,6 52 58,4 89 100,0 Berdasarkan tabel 8 diatas, hasil analisa hubungan tingkat pendidikan dengan perawatan keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk keluarga dengan perawatan yang kurang baik (<. lebih banyak pada keluarga yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah sebanyak 29 orang . ,2%) dibandingkan dengan keluarga yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, sedangkan keluarga dengan perawatan yang baik (>. lebih banyak pada keluarga dengan kategori tingkat pendidikan yang tinggi sebanyak 32 orang . ,0%). Hasil uji ststistik diperoleh nilai . =0,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepualaun Bangka Belitung Tahun 2024. Hasil analisa lebih lanjut didapatkan nilai Prevalence Odd Ratio (POR) = 5,800 . %CI = 2,217 - 15,. artinya keluarga dengan tingkat pendidikan yang rendah memiliki kecenderungan perawatan keluarga yang kurang baik 5,8 kali lebih besar dibandingkan keluarga dengan tingkat pendidikan yang tinggi. Tabel 9 Hubungan Antara Tingkat Ekonomi dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa Tingkat Ekonomi Rendah Tinggi Total Perawatan Keluarga Kurang Baik Total Baik <36 >36 % n 28 58,3 20 41,7 48 100,0 9 22,0 32 78,0 41 100,0 37 41,6 52 58,4 89 100,0 P-Value 0,001 POR . % CI) 4,978 . ,952- 12,. Berdasarkan tabel 9 diatas, hasil analisa hubungan tingkat ekonomi dengan perawatan keluarga orang dengan gangguan jiwa di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa (ODGJ) Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk keluarga dengan perawatan yang kurang baik (<. lebih banyak pada keluarga yang memiliki tingkat Page | 88 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 ekonomi yang rendah sebanyak 28 orang . ,3%) dibandingkan dengan keluarga yang memiliki tingkat ekonomi yang tinggi, sedangkan keluarga dengan perawatan yang baik (>. lebih banyak pada keluarga dengan kategori tingkat ekonomi yang tinggi sebanyak 32 orang . ,0%). Hasil uji ststistik diperoleh nilai . =0,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat ekonomi dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepualaun Bangka Belitung Tahun 2024. Hasil analisa lebih lanjut didapatkan nilai Prevalence Odd Ratio (POR) = 4,978 . %CI = 1,952 Ae 12,. artinya keluarga dengan tingkat ekonomi yang rendah memiliki kecenderungan perawatan keluarga yang kurang baik 4,9 kali lebih besar dibandingkan keluarga dengan tingkat ekonomi yang tinggi. Tabel 10 Hubungan Antara Genetik dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa Tidak Perawatan Keluarga Kuran Baik Total g Baik >36 <36 n % n % 14 25,5 41 74,5 55 100,0 23 67,6 11 32,4 34 100,0 Total Genetik P-Value POR . % CI) 0,000 0,163 . ,064-0,. 52 58,4 89 100,0 Berdasarkan tabel 10 diatas, hasil analisa hubungan genetik dengan perawatan keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk keluarga dengan perawatan yang kurang baik (<. lebih banyak pada keluarga yang tidak mempunyai riwayat genetik sebanyak 23 orang . ,6%) dibandingkan dengan keluarga yang memiliki riwayat genetik, sedangkan keluarga dengan perawatan yang baik (>. lebih banyak pada keluarga dengan kategori genetik sebanyak 41 orang . ,5%). Hasil uji ststistik diperoleh nilai . =0,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara genetik dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepualaun Bangka Belitung Tahun 2024. Hasil analisa lebih lanjut didapatkan nilai Prevalence Odd Ratio (POR) = 0,163 . %CI = 0,064 Ae 0,. artinya keluarga yang tidak mempunyai riwayat genetik . engalami penyakit yang sama dengan pasie. memiliki kecenderungan perawatan keluarga yang kurang baik 0,1 kali lebih kecil dibandingkan keluarga yang mempunyai riwayat genetik. Page | 89 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 Tabel 11 Hubungan Antara Pengetahuan dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa Pengetah Kurang Baik (<. Perawatan Keluarga Kurang Baik Total Baik >36 <36 27 73,0 10 27,0 37 100,0 P-Value POR . % CI) 11,340 . ,168-30,. 0,000 Baik (>. 19,2 42 80,8 52 100,0 Total 41,6 52 58,4 89 100,0 Berdasarkan tabel 11 diatas, hasil analisa hubungan pengetahuan dengan perawatan keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk keluarga dengan perawatan yang kurang baik (<. lebih banyak pada keluarga yang memiliki pengetahuan yang kurang baik (<. sebanyak 27 orang . ,0%) dibandingkan dengan keluarga yang memiliki pengetahuan yang baik (>. , sedangkan keluarga dengan perawatan yang baik (>. lebih banyak pada keluarga dengan kategori pengetahuan yang baik (>. sebanyak 42 orang . ,8%). Hasil uji ststistik diperoleh nilai . =0,. , maka dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepualaun Bangka Belitung Tahun 2024. Hasil analisa lebih lanjut didapatkan nilai Prevalence Odd Ratio (POR) = 11,340 . %CI = 4,168 Ae 30,. artinya keluarga dengan pengetahuan yang kurang baik memiliki kecenderungan melakukan perawatan keluarga yang kurang baik 11,3 kali lebih besar dibandingkan keluarga dengan pengetahuan yang baik. PEMBAHASAN Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Secara konseptual, pendidikan diartikan sebagai bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa untuk mengembangkan anak menuju kedewasaan, dengan tujuan agar anak dapat mandiri tanpa bantuan orang Pendidikan melibatkan usaha kepribadiannya, baik secara rohani . ikiran, perasaan, kreativitas, pemikiran . ancaindera dan keterampila. Pendidikan juga merupakan upaya kehidupan yang bermakna, sehingga mencapai kebahagiaan hidup baik secara individu maupun kelompok. Sebagai suatu proses, pendidikan memerlukan sistem yang terprogram dan mantap, dengan tujuan yang jelas untuk memudahkan pencapaian hasil yang diinginkan (Suparyanto, 2. Berdasarkan uji statistik dengan uji chi square dalam penelitian ini diperoleh nilai p=0,000 < . , ini menunjukan ada hubungan antara tingkat penddikan dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Page | 90 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karmina, . dengan responden 77 keluarga pasien, tentang hubungan tingkat pendidikan dengan perawatan keluarga dengan klien ODGJ di RSUD Depok tahun 2023 yang menyimpulkan ada hubungan tingkat pendidikan dengan perawatan keluarga dengan nilai p=0,001. Temuan Rustam, . juga menunjukkan hubungan signifikan antara pendidikan dan perawatan keluarga pada pasien dengan gangguan jiwa. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Putri, . yang menunjukkan bahwa pendidikan berpengaruh pada perawatan pasien dengan gangguan jiwa karena mendapatkan p-value sebesar 0,000 . <0,. Berdasarkan paparan di atas peneliti berpendapat bahwa terdapat korelasi antara tingkat pendidikan dengan perawatan keluarga, mengingat bahwa kontribusi dalam upaya keluarga memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa. Hubungan antara Tingkat Ekonomi dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Tingkat ekonomi keluarga merujuk pada kondisi keuangan dan kemampuan ekonomi suatu keluarga. Ekonomi merupakan salah satu cabang ilmu sosial yang memfokuskan pada prinsip-prinsip produksi, distribusi dan konsumsi. Secara sederhana, ekonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku dan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya (Karmina, 2. Penghasilan memengaruhi kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup anggota Individu penghasilan tinggi memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari anggota keluarga, termasuk kebutuhan pasien skizofrenia untuk pengobatan guna mencegah kekambuhan. Pendapatan yang tinggi juga memudahkan keluarga instrumental untuk memenuhi sarana dan prasarana dalam proses pengobatan. Ini menunjukkan bahwa kemiskinan dan jarak yang jauh dari pelayanan kesehatan dapat menyebabkan keluarga kesulitan dalam membiayai transportasi menuju tempat pelayanan kesehatan (Yuhani. Friedman, . menekankan bahwa individu dengan sumber ekonomi rendah mungkin kesulitan memenuhi kebutuhan dasar keluarganya, dan tingkat ekonomi yang memadai dapat membantu menjaga kesejahteraan keluarga dan mencegah masalah gangguan kejiwaan. Berdasarkan uji statistik dengan uji chi square dalam penelitian ini diperoleh nilai p=0,001 < . , ini menunjukan ada hubungan antara tingkat ekonomi dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karmina, . dengan responden 77 keluarga pasien, tentang hubungan tingkat ekonomi dengan perawatan keluarga dengan klien ODGJ di RSUD Depok tahun 2023 yang menyimpulkan ada hubungan tingkat ekonomi dengan perawatan keluarga dengan nilai p=0,000. Temuan ini sejalan dengan penelitian Siti, . yang mendapatkan p-value sebesar 0,007, menunjukkan hubungan signifikan antara tingkat ekonomi dan frekuensi perawatan. Penelitian Ela, . juga sejalan mendapatkan p-value sebesar 0,000 . <0,. yang artinya menemukan Page | 91 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 hubungan signifikan antara pendapatan keluarga ODGJ dengan tindakan pencarian pengobatan dan perawatan bagi individu dengan gangguan jiwa. Berdasarkan paparan di atas peneliti berasumsi bahwa keluarga dengan tingkat ekonomi UMR lebih cenderung melakukan perawatan dengan baik dibandingkan keluarga dengan tingkat ekonomi di bawah UMR. Hubungan antara Genetik dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa Genetika merupakan ilmu yang . Hereditas merujuk pada proses biologis di mana gen-gen tertentu ditransmisikan dari orang tua kepada anak-anak atau keturunan mereka. Setiap anak menerima warisan genetik dari kedua orang tua biologisnya, dan gen-gen ini kemudian mengekspresikan sifat-sifat khusus. Genetika merupakan cabang dalam ilmu biologi yang memahami kesamaan dan perbedaan karakteristik yang diwarisi oleh makhluk hidup. Genetika ini juga menjelaskan hubungan keturunan antara orang tua dan anak, serta keturunan oleh materi genetik (Sudrajad et al. , 2. Berdasarkan uji statistik dengan uji chi square dalam penelitian ini diperoleh nilai p=0,000 < . , ini menunjukan ada hubungan antara genetik dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karmina, . dengan responden 77 keluarga pasien, tentang hubungan genetik dengan perawatan keluarga dengan klien ODGJ di RSUD Depok tahun 2023 yang menyimpulkan ada hubungan antara genetik dengan perawatan keluarga dengan nilai p=0,000. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Syahputra, . yang keluarga dengan gangguan jiwa, dengan nilai p = 0,000. Teori mendukung hal ini kecenderungan yang kuat terhadap skizofrenia, terutama pada individu dengan hubungan kekerabatan langsung dengan riwayat skizofrenia atau penyakit psikiatri lainnya. Berdasarkan paparan di atas peneliti berpendapat bahwa timbulnya gangguan jiwa pada keluarga dapat menjadi faktor pendorong bagi mereka untuk memberikan perawatan yang lebih mendalam kepada anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa (ODGJ) secara Hubungan Pengetahuan dengan Perawatan Keluarga Terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa Pengetahuan keluarga terhadap gangguan jiwa merupakan langkah awal lingkungan yang mendukung bagi anggota keluarganya. Keluarga tidak hanya dapat meningkatkan dan menjaga kesehatan mental anggota keluarga, tetapi juga dapat menjadi sumber masalah bagi mereka yang menghadapi tantangan kejiwaan di dalam keluarga (Kasim. Berdasarkan uji statistik dengan uji chi square dalam penelitian ini diperoleh nilai p=0,000 < . , ini menunjukan ada hubungan antara pengetahuan dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. Pada penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Karmina, . dengan responden 77 keluarga pasien, tentang hubungan pengetahuan Page | 92 Journal of Nursing Science Research Vol. 1 No. 2 Deseember 2024 dengan perawatan keluarga dengan klien ODGJ di RSUD Depok tahun 2023 yang menyimpulkan ada hubungan antara pengetahuan dengan perawatan keluarga dengan nilai p=0,001. Penelitian Wahyu, . yang menunjukkan bahwa hubungan antara pengetahuan keluarga dan dukungan keluarga dalam merawat pasien dengan gangguan jiwa adalah signifikan, dengan p-value sebesar 0,009 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hasil serupa juga ditemukan dalam Avelina, . menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan keluarga tentang gangguan jiwa dan kemampuan keluarga dalam merawat individu dengan gangguan jiwa di wilayah kerja Puskesmas Bola Kecamatan Bola Kabupaten Sikka, dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi yang ditetapkan. Berdasarkan paparan di atas peneliti berpendapat bahwa pengetahuan keluarga memiliki potensi untuk keluarga, sehingga apabila keluarga mampu memahami dengan baik, hal ini dapat memberikan dampak positif terhadap upaya perawatan yang diberikan mengalami gangguan jiwa (ODGJ). Pengetahuan yang memadai di kalangan keluarga diyakini dapat menjadi pendorong yang signifikan dalam meningkatkan kualitas perawatan yang diberikan, memberikan dukungan yang lingkungan yang kondusif untuk pemulihan individu yang terkena gangguan jiwa. Dengan kata lain, pemahaman yang lebih baik tentang kondisi ODGJ diharapkan dapat memberikan landasan yang kuat bagi keluarga untuk melibatkan diri secara lebih efektif dalam upaya perawatan dan mendukung proses penyembuhan. SIMPULAN Ada hubungan antara tingkat pendidikan, tingkat ekonomi, genetik dan pengetahuan dengan perawatan keluarga terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Poliklinik Rumah Sakit Jiwa Daerah dr. Samsi Jacobalis Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Tahun 2024. DAFTAR PUSTAKA