Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia (JPPI) p-ISSN: 2797-2879, e-ISSN: 2797-2860 Volume 5, nomor 3, 2025, hal. Doi: https://doi. org/10. 53299/jppi. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan Lingkungan Berbasis PjBL dalam Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif dan Kritis Siswa Ida Fitriani1*. Saleh Hidayat2. Marlina Ummas Genisa3 SMA Negeri 3 Tanjung Raja. Indonesia Universitas Muhammadiyah Palembang. Indonesia *Coresponding Author: idafitrianighifa@gmail. Dikirim: 22-05-2025. Direvisi: 15-07-2025. Diterima: 18-07-2025 Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan modul ajar elektronik tentang perubahan lingkungan menggunakan model Project-Based Learning (PjBL) terintegrasi etnoekologi yang valid, praktis, dan efektif guna meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan keterampilan berpikir kritis siswa pada fase E. Pengembangan menggunakan model 4D dari Thiagarajan, yang mencakup empat langkah yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan Validasi produk oleh 10 orang validator dari lima bidang keahlian, yaitu: ahli bahasa, media, materi, perangkat ajar, dan evaluasi. Subjek penelitian siswa kelas X SMA Negeri 3 Tanjung Raja dengan desain uji menggunakan kuasi eksperimen nonequivalent control group. Berdasarkan hasil validasi, produk dinyatakan memiliki tingkat validitas sangat tinggi yaitu 88,09%. Kepraktisan produk dapat dilihat dari persentase angket keterbacaan peserta didik sebesar 82,44% dengan kualifikasi sangat kuat dan persentase kepraktisan guru sebesar 86,90% dengan kualifikasi sangat praktis. Produk ini terbukti mampu mengembangkan keterampilan berpikir kreatif dan kritis secara signifikan. Berdasarkan hasil tes, terlihat bahwa siswa pada kelas eksperimen yang menggunakan produk menunjukkan pencapaian hasil belajar yang lebih unggul daripada siswa di kelas kontrol yang tidak menggunakan produk tersebut. Kelas eksperimen menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kreatif sebesar 0,78, dan kritis sebesar 0,77 keduanya masuk dalam kategori tinggi. Sebaliknya, kelas kontrol mengalami peningkatan masingmasing sebesar 0,46 untuk berpikir kreatif . ategori sedan. dan 0,70 untuk berpikir kritis . ategori sedan. Kata Kunci: Keterampilan Berpikir Kritis. Kreatif. Modul Ajar Elektronik. Etnoekologi. Project- Based Learning Abstract: The purpose of this study was to produce an electronic teaching module on environmental change using a Project-Based Learning (PjBL) model integrated with ethnoecology that is valid, practical, and effective to improve students' creative thinking skills and critical thinking skills in phase E. The development used the 4D model from Thiagarajan, which includes four steps, namely defining, designing, developing, and Product validation by 10 validators from five areas of expertise, namely language experts, media, materials, teaching tools, and evaluation. The research subjects were grade X students of SMA Negeri 3 Tanjung Raja, with a test design using a quasiexperimental non-equivalent control group. Based on the validation results, the product was declared to have a very high level of validity, namely 88. The practicality of the product can be seen from the percentage of student readability questionnaires of 82. 44% with very strong qualifications and the percentage of teacher practicality of 86. 90% with very practical This product has been proven to be able to develop creative and critical thinking skills significantly. Based on the test results, it can be seen that students in the experimental class who used the product showed superior learning outcomes compared to students in the control class who did not use the product. The experimental class showed an @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA increase in creative thinking skills of 0. 78 and critical thinking of 0. 77, both of which are in the high category. In contrast, the control class experienced an increase of 0. 46 for creative thinking . oderate categor. 70 for critical thinking . oderate categor. , respectively. Key words: Critical Thinking Skills. Creative. Electronic Teaching Module. Ethnoecology. Project-Based Learning. PENDAHULUAN Kurikulum Merdeka di Indonesia diluncurkan dengan tujuan untuk meningkatkan otonomi satuan pendidikan. Situasi ini membuka peluang bagi pendidik untuk menyusun kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik, termasuk memberikan keleluasaan dalam merancang modul pembelajaran. Keleluasaan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan mutu pendidikan yang mandiri, inklusif, memperhatikan keberagaman, serta selaras dengan kebutuhan konteks lokal. Selain itu kurikulum ini dirancang untuk mencetak lulusan yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki karakter yang tangguh dan sejalan dengan nilai-nilai dalam profil pelajar Pancasila. Kurikulum Merdeka selaras dengan tuntutan keterampilan abad ke-21, dengan menekankan pentingnya penguasaan literasi, pengetahuan, sikap, dan kecakapan dalam memanfaatkan teknologi, termasuk kemampuan berpikir inovatif serta melakukan analisis secara Kurikulum Merdeka dengan karakter Pancasila dan keterampilan abad ke-21 diyakini dapat menawarkan solusi untuk masalah yang dihadapi oleh pendidikan di era Society 5. 0, yaitu era di mana kehidupan sehari-hari difokuskan pada pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan, serta meningkatkan kemampuan untuk berpikir kritis, inovasi, dan kreatif untuk menghadapi tantangan masa depan. Keterampilan berpikir kritis adalah keterampilan yang memungkinkan seseorang untuk mengkaji fakta, asumsi, dan logika yang mendasari pendapat orang lain, sehingga dapat menilai kebenarannya (Nasution, 2. Keterampilan ini mencakup identifikasi masalah, analisis penyebab, penalaran logis, penilaian dampak, penyelesaian masalah, dan penarikan kesimpulan. Berpikir kritis juga mencakup kemampuan untuk mengevaluasi, mengaitkan, serta merancang berbagai elemen yang terdapat dalam suatu situasi atau persoalan (Anugraheni, 2. Individu dengan kemampuan berpikir kritis cenderung mampu menelaah dan menilai informasi secara mendalam, sehingga dapat merumuskan solusi atas berbagai Sementara itu. McGroger . mendefinisikan berpikir kreatif adalah berpikir yang mengarah pada cara memperoleh wawasan baru, pendekatan baru, perspektif baru, atau cara baru pada saat memahami sesuatu. kemampuan berpikir kreatif merujuk pada kapasitas seseorang yang ditandai dengan fleksibilitas, keaslian ide, serta kemampuan beradaptasi, yang semuanya berperan penting dalam proses penyelesaian masalah (MZ et al. , 2. Penelitian mengenai kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya dalam aspek kreatif dan kritis, terus dilakukan karena keduanya saling berkaitan erat. sebagaimana ditunjukkan oleh Wati . , yang menemukan tingkat keterkaitan keterampilan berpikir kreatif dan kritis hingga 99%, sementara Wulandari et al. melaporkan bahwa hasil penelitian terhadap siswa di sekolah berakreditasi A dan B menunjukkan keterampilan berpikir kritis siswa hanya mencapai 44,30%. Bahkan, keterampilan berpikir kreatif siswa lebih rendah lagi, dengan rata-rata @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA 28,66% di sekolah akreditasi A dan 13,71% di sekolah akreditasi B. Mengingat pentingnya kedua keterampilan ini dalam pembelajaran, hal ini menjadi perhatian serius (Ahmar, 2016. Sugiyanto et al. , 2. Temuan ini sejalan dengan penelitian pendahuluan di SMA Negeri 3 Tanjung Raja yang menunjukkan persentase keterampilan berpikir kritis peserta didik hanya 36,69% (Fitriani et al. , 2. , dan keterampilan berpikir kreatif 25,82%. Hasil ini menunjukkan perlunya upaya lebih lanjut untuk menghadapi tantangan abad ke-21 dan era Society 5. Namun, kenyataannya, keterampilan ini masih tergolong rendah dan menjadi masalah utama yang perlu diatasi dalam proses pembelajaran. Berdasarkan penyebaran angket analisis kebutuhan di SMAN 3 Tanjung Raja, guru di sana menghadapi tantangan dalam pembuatan modul ajar sementara para siswa berharap modul tersebut tersedia dalam format elektronik (Fitriani, et al. Hal ini menunjukkan adanya kebutuhan nyata akan bahan ajar digital yang mendukung pembelajaran efektif. Salah satu solusi yang relevan adalah modul elektronik, yaitu bahan ajar digital untuk pembelajaran mandiri yang berisi unit materi spesifik dan dapat diakses melalui perangkat digital. Modul ini tidak hanya menampilkan teks dan gambar, tetapi juga dilengkapi fitur interaktif seperti animasi, audio, dan video untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik. Salah satu bentuk penyajian modul elektronik yang kini menjadi tren adalah dalam format buku digital atau flipbook. Flipbook memungkinkan tampilan halaman yang dapat dibuka secara interaktif seperti buku fisik, namun disajikan dalam layar monitor. Teknologi ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa karena tampilannya yang lebih menarik dan mendorong keterlibatan aktif peserta didik (Riyanto et al. , 2. Dengan demikian, pengembangan modul pembelajaran elektronik yang inovatif dan sesuai kebutuhan dapat menjadi solusi efektif untuk mengatasi masalah Modul ajar yang dirancang dengan baik dapat memfasilitasi pembelajaran yang lebih interaktif, menarik, dan bermakna bagi siswa. Namun, modul ajar saja tidak cukup untuk mengembangkan keterampilan ini secara optimal. Diperlukan sebuah model pembelajaran yang tepat agar siswa dapat aktif berpartisipasi dan diberdayakan selama kegiatan belajar berlangsung. Salah satu pendekatan yang sangat cocok dan efektif untuk tujuan ini adalah PjBL. Model pembelajaran ini mengajak siswa untuk berkolaborasi dalam menyelesaikan proyek yang menantang dan relevan dengan kondisi dunia nyata. Selain itu. PjBL juga menuntut siswa melakukan investigasi secara mendalam, berpikir kritis, bekerja sama, serta menjalin komunikasi yang baik dengan guru. Selain itu untuk memperkaya pengalaman belajar siswa dan meningkatkan relevansi pembelajaran, pengembangan modul ajar berbasis PjBL ini perlu diintegrasikan dengan etnoekologi. Etnoekologi adalah kajian ilmiah mengenai hubungan antara kelompok etnis, suku, atau masyarakat dengan lingkungan tempat mereka tinggal. Tujuan utama dari pendekatan ini adalah untuk menggali pemahaman tentang bagaimana budaya yang ada dalam suatu komunitas membentuk cara mereka berinteraksi dengan lingkungan alam di sekitarnya (Makitan, 2. Etnoekologi menjadi pendekatan yang relevan dalam proses pembelajaran karena mengacu pada pengetahuan ekologis tradisional yang tumbuh di tengah kehidupan peserta didik (Iskandar & Iskandar, 2. Melalui pembelajaran berbasis etnoekologi, siswa dapat mengasah kemampuan berpikir kreatif dan kritis. Mereka @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA terdorong untuk meninjau isu-isu lingkungan dari beragam sudut pandang dan merumuskan solusi yang inovatif serta berkelanjutan. Di SMAN 3 Tanjung Raja, hasil angket kebutuhan menunjukkan bahwa pembelajaran belum mengintegrasikan pemecahan masalah dengan kearifan budaya lokal melalui pendekatan etnoekologi. Padahal, wawancara dengan masyarakat desa Ulak Kerbau Lama menunjukkan bahwa praktik etnoekologis masih hidup dan berkembang, misalnya tradisi membuat orang-orangan sawah atau wang-wangan Tradisi ini digunakan untuk menjaga tanaman padi dari hama dan merupakan contoh nyata kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan pertanian. Orang-orangan sawah tidak hanya mencerminkan upaya perlindungan hasil tani, tetapi juga menunjukkan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitarnya secara Pemanfaatan unsur budaya lokal seperti ini dapat menjadi sumber belajar yang autentik dan kontekstual, serta memperkuat keterhubungan siswa dengan lingkungan sosial-ekologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar elektronik bertema perubahan lingkungan berbasis PjBL dan terintegrasi dengan pendekatan Modul ini dirancang tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan pembelajaran yang kontekstual dan relevan, tetapi juga menghasilkan produk pembelajaran yang valid, praktis, dan efektif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus tahun ajaran 2024/2025 di kelas X fase E semester ganjil. Metode yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (R&D) yang diadaptasi dari model 4D oleh Thiagarajan . , yang terdiri dari empat tahap utama: pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Tahap pendefinisian mencakup analisis kebutuhan, analisis karakteristik peserta didik, analisis tugas, analisis konsep, serta penetapan tujuan pembelajaran. Selanjutnya, tahap perancangan mencakup penyusunan soal evaluasi, pemilihan bahan ajar, penentuan format, dan rancangan awal. Tahap pengembangan meliputi proses pembuatan serta uji coba modul pembelajaran. Terakhir, tahap penyebaran dilakukan setelah modul direvisi berdasarkan masukan dari ahli dan hasil uji coba Instrumen penilaian validasi berupa lembar validasi oleh ahli . ahasa, materi, media, perangkat ajar dan evaluas. dengan berpedomani pada skala likert. Kategori penilaian tersaji pada Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Penilaian Instrumen dan Skor yang Ditetapkan Pilihan Nilai Skor Sangat Memuaskan Memuaskan Cukup Memuaskan Kurang memuaskan Sangat Memuaskan Persentase rata-rata skor dihitung menggunakan Persamaan 1. Jumlah persentase Persentase Rata Oe rata = Jumlah item pada angket X 100% . Persentase dari proses validasi diartikan lebih lanjut mengacu pada Tabel 2. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA Tabel 2. Rentang Skor dan Kategori Validitas Produk Kategori Sangat valid Valid Cukup valid Kurang valid Sangat tidak valid Rentang Skor (%) 81- 100 61- 80 41- 60 21 - 40 >20 (Diadaptasi dari Kumar, 2. Data mengenai kepraktisan diperoleh melalui lembar penilaian yang diisi oleh guru mata pelajaran serta melalui penilaian keterbacaan oleh peserta didik. Adapun pedoman yang digunakan untuk menghitung skor rata-rata pada setiap aspek penilaian disajikan pada Persamaan 2 berikut ini. Jumlah Skor yang diperoleh Persentase Skor Rata Oe rata = Banyaknya Butir Pertanyaan x100% . Interpretasi nilai persentase kepraktisan dilakukan dengan menggunakan kategori yang disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Indikator Kepraktisan Produk Persentase 0% - 20% 21% - 40% 41% - 60% 61% -80% 81% - 100% Kriteria Sangat Tidak Praktis Kurang Praktis Cukup Praktis Praktis Sangat Praktis Keterangan Perlu Perbaikan menyeluruh Membutuhkan revisi Diperlukan beberapa revisi Revisi ringan Tidak memerlukan revisi (Diadaptasi dari Ridwan, 2. Persentase respon siswa menggunakan rumus Persamaan 3 berikut ini: Persentase Nilai Respon Siswa Total respon siswa = Respon Peserta Didik Maksimum x100% . Nilai kepraktisan modul ajar elektronik yang diperoleh melalui tanggapan dari peserta didik disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Pedoman untuk Menentukan Tingkat Kepraktisan Produk Skor (%) 81- 100 61 - 80 41 - 60 21 - 40 >21 Kategori Sangat valid Valid Cukup valid Kurang valid Sangat tidak valid (Sumber: Wicaksono, et al. , 2. Penilaian efektivitas produk dilakukan dengan membandingkan hasil tes kemampuan berpikir kreatif dan kemampuan berpikir kritis siswa antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, siswa menggunakan produk yang telah dikembangkmodul ajar elektronik berbasis PjBL terintegrasi etnoekologi, sementara pada kelas kontrol siswa menggunkaan modul ajar PjBL non elketronik tapa pendekatan etnoekologi. Selanjutnya, dilakukan analisis menggunakan metode N-Gain untuk mengukur perbedaan efektivitas produk antara kedua kelompok tersebut menggunakan Persamaan 4. @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA Skor post testOeS pre test N-Gain = Skor maksimumOeS pre test . Pengukuran N-Gain digunakan untuk mengetahui tingkat peningkatan hasil belajar siswa. Perolehan skor N-Gain, baik yang termasuk kategori tinggi maupun rendah, selanjutnya dianalisis dan dikategorikan mengacu pada kriteria yang ditampilkan dalam Tabel 5. Tabel 5. Klasifikasi Nilai N-Gain No. Rentang Nilai N-Gain N-Gain Ou 0,7 0,3 O N-Gain O 0,7 N-Gain O 0,3 Klasifikasi Tinggi Sedang Rendah (Hake, 1. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengembangan modul ini mengikuti model 4D yang dikemukakan Thiagarajan . , meliputi empat tahapan yaitu pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan Pada tahap pendefinisian menghasilkan rumusan yang jelas mengenai kebutuhan guru dan siswa, karakteristik siswa, model pembelajaran yang diinginkan, apa yang dapat dipelajari, dan apa yang ingin dicapai dari pembelajaran tersebut. Tahap pertama merupakan fondasi penting dalam pengembangan produk. Proses ini melibatkan beberapa tahapan yang saling berkaitan, dimulai dengan front-end Pada tahapan ini, diketahui bahwa pengajar Biologi dari SMAN 3 Tanjung Raja dan SMAN 1 Indralaya Selatan menghadapi tantangan dalam penyusunan modul ajar khususnya di kurikulum merdeka. Perubahan paradigma pembelajaran yang menuntut pendekatan student-centered serta fleksibilitas kurikulum menjadi Guru memiliki preferensi terhadap model pembelajaran PjBL dan pendekatan etnoekologi, namun mengakui kesulitan dalam memahami materi perubahan lingkungan. Selanjutnya, dilakukan learner analysis untuk memahami karakteristik peserta didik. Temuan penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar pendidik masih memanfaatkan buku ajar standar sebagai sumber utama dalam proses mengajar. Proses pembelajaran yang berlangsung cenderung berorientasi pada pengajar, sehingga perkembangan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas siswa belum optimal. Meski demikian, terdapat minat yang besar dari siswa terhadap pembelajaran berbasis proyek. Berdasarkan analisis tersebut, dirancanglah task analysis, yaitu struktur tugas dalam modul ajar. Modul ini disusun dengan sintaks PjBL, meliputi aktivitas membaca wacana, merancang proyek, menyusun jadwal, melakukan monitoring, presentasi, dan refleksi. Concept analysis dilakukan untuk memperdalam pemahaman tentang materi yang akan diajarkan, yaitu perubahan Analisis ini mencakup capaian pembelajaran, tujuan pembelajaran, dan sumber belajar yang relevan. Sebagai langkah akhir dari analisis, ditentukanlah specifying instructional objectives, yaitu capaian pembelajaran yang diharapkan melalui penggunaan modul yang telah dikembangkan. Sasaran ini digunakan sebagai rujukan dalam pengembangan serta evaluasi modul ajar. Tahap perancangan dalam pengembangan modul ajar ini berfokus pada perancangan produk. Diawali dengan penyusunan tes kriteria berdasarkan indikator pencapaian kompetensi, yang kemudian diuji validitas dan kepraktisannya. Kisi-kisi soal keterampilan berpikir kreatif dan kritis materi perubahan lingkungan juga @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA disusun dalam bentuk tes uraian. Selanjutnya, pemilihan media didasarkan pada analisis kebutuhan. Modul ajar elektronik dipilih karena materi perubahan lingkungan dianggap sulit oleh sebagian besar guru, dan format ini sesuai dengan preferensi siswa. Modul elektronik yang disukai siswa berisi kumpulan tugas, penjelasan singkat, dan mudah dipahami. Pemilihan format modul ajar elektronik berbasis PjBL terintegrasi etnoekologi mengadopsi format yang terdiri dari sampul depan, lembar francis, identitas modul, kata pengantar, daftar isi dan gambar, identitas siswa, petunjuk penggunaan, kisi-kisi PjBL. CP dan TP, uraian materi, langkah pembelajaran, kegiatan modul, daftar pustaka, dan biografi penulis. Modul ajar ini dikembangkan melalui proses validasi oleh pakar dan serangkaian uji coba. Hasil validasi ahli menunjukkan bahwa modul ajar ini mendapatkan nilai rata-rata 88,09% dengan kualifikasi sangat baik dan layak untuk diuji cobakan, seperti yang tercantum pada Tabel 6. Tabel 6. Hasil Penilaian Seluruh Validator Penilaian Ahli Bahasa Materi Media Perangkat Pembelajaran Evaluasi Rata-Rata Capaian (%) 89,58 94,12 82,86 93,13 80,77 Kualifikasi Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Sangat Baik Baik Sangat Baik Namun, perlu beberapa perbaikan sesuai komentar dan saran ahli seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1 dan 2. Gambar 1. Sebelum Perbaikan Tujuan Pembelajaran oleh Ahli Perangkat Pembelajaran Gambar 2. Setelah Perbaikan Tujuan Pembelajaran oleh Ahli Perangkat Pembelajaran Modul ajar elektronik etnoekologi model PjBL pada materi perubahan lingkungan, setelah melalui validasi ahli, dinilai layak untuk diuji coba. Menurut Safitri . , fleksibilitas guru dalam menyesuaikan modul ajar dengan kebutuhan siswa menuntut adanya contoh modul yang selaras dengan panduan pembelajaran dan asesmen dalam pengembangannya. Oleh karena itu, validator diperlukan untuk memastikan kelayakan modul pembelajaran yang dirancang guru, yang tercermin dari nilai kevalidannya. Pada tahap pengujian pengembangan modul ajar ini, prosesnya dibagi menjadi dua bagian utama, yakni: pengujian keterbacaan dan pengujian kuantitatif. Uji coba @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA keterbacaan modul ajar elektronik dilakukan pada 9 siswa kelas X SMA Negeri 3 Tanjung Raja, sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 7. Tabel 7. Hasil Ujicoba Keterbacaan Modul Ajar Tahap Pengujian Uji coba keterbacaan modul ajar OcNRP Oc Maks Oc Maks Respon Sangat Kuat Berdasarkan hasil keterbacaan modul ajar elektronik berbasis PjBL terintegrasi etnoekologi memperoleh sejumlah 82,44% menunjukkan kualifikasi sangat kuat. Hal ini berdasarkan lembar keterbacaan bahwa materi dan tugas proyek yang disajikan menarik, mengasah keterampilan berpikir kritis, membantu mengembangkan kerjasama antar kelompok, kalimat dan perintah yang digunakan mudah dipahami, langkah- langkah kerja tersusun dengan baik dan buku ataupun sumber yang disajiakan beragam semua ada dalam modul ajar. Tujuan pembelajaran dapat dicapai melalui bahan ajar yang mampu memotivasi, menarik perhatian, dan memfasilitasi keterlibatan aktif siswa (Dani et al. , 2. Hasil uji kepraktisan modul ajar oleh guru dapat dilihat pada Tabel 8. Tabel 8. Hasil Kepraktisan Modul Ajar Elektronik Guru Aspek yang dinilai Tampilan sampul menarik serta relevan dengan isi Desain setiap halaman menarik Gambar pada setiap halaman menarik Ukuran dan jenis font sesuai Tata bahasa mudah dipahami Kalimat terbaca dengan jelas Instruksi/perintah jelas Bahasa efektif dan efisien Komponen modul lengkap Penyajian sistematis dengan PBL Kesesuaian materi dengan TP Materi sesuai Kurikulum Merdeka Materi sesuai tujuan pembelajaran Mempermudah pemahaman materi Proyek menggunakan masalah kontekstual Mendukung identifikasi masalah kelompok Membagi tugas dalam kelompok Menyelesaikan proyek dengan sumber Proyek membuat peserta didik aktif Mendukung diskusi dan presentasi Mendukung refleksi diri peserta didik Rata-rata semua indikator Capaian (%) 86,90 Kualifikasi Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Praktis Praktis Praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Praktis Sangat praktis Sangat praktis Praktis Sangat praktis Sangat praktis Sangat praktis Rata-rata nilai kepraktisan sebesar 86,90% menunjukkan bahwa modul ini termasuk dalam kategori sangat praktis. Menurut Siloto . , analisis kepraktisan berfungsi untuk menilai sejauh mana media pembelajaran modul ajar yang dikembangkan dapat beroperasi secara efektif. Selanjutnya, validasi dan pengujian reliabilitas soal berpikir kritis dilakukan pada siswa kelas X. Hasil validasi menunjukkan bahwa dari 9 soal esai yang diuji, nilai signifikansinya di bawah 0,05, sehingga soal tersebut layak dipakai untuk pretest dan posttest. Uji reliabilitas soal menunjukkan nilai Cronbach's alpha sebesar 0,745, yang masuk dalam kategori @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA Tahap penyebarluasan dalam pengembangan modul ajar ini melibatkan uji validasi terhadap keterampilan berpikir kreatif dan kritis. Modul ajar diujicobakan pada kelas X2 dan X4 . serta kelas X3 dan X4 . Perhitungan Ngain dilakukan setelah nilai pretest dan posttest untuk kedua kelas, diperoleh. Hasilnya menunjukkan pada kontrol nilai N-gain adalah 0,47 . riteria sedan. , sedangkan pada eksperimen mencapai 0,77 . riteria tingg. Pada aspek kemampuan berpikir kreatif, kelas kontrol memperoleh nilai N-gain sebesar 0,46 yang termasuk dalam kategori sedang, sedangkan kelas eksperimen menunjukkan peningkatan signifikan dengan nilai N-gain 0,78, masuk dalam kategori tinggi hal ini ditunjukkan pada Gambar 1. Perbandingan N-Gain Eksperimen dan Kontrol N-Gain 0,78 0,77 0,47 0,46 Eksperimen Kontrol Berpikir Kritis Berpikir Kreatif Aspek Gambar 1. Perbandingan N-Gain Eksperimen dan Kontrol Hasil analisis N-gain ini mengindikasikan bahwa penggunaan modul ajar elektronik berbasis PjBL yang mengintegrasikan etnoekologi efektif dalam meningkatkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa. Pembelajaran dengan pendekatan PjBL merupakan inovasi pembelajaran abad ke-21 yang berfokus pada siswa serta mendorong kreativitas dan inovasi. Melalui pelaksanaan proyek, siswa diberi kesempatan untuk menemukan konsep secara mandiri, menyelesaikan permasalahan, dan mengembangkan gagasan kreatif (Surya et al. , 2. Dalam pelaksanaan proyek, siswa diberikan kesempatan untuk secara mandiri menggali konsep, menyelesaikan masalah, serta mengembangkan ide-ide kreatif (Surya et al. , 2. Model pembelajaran berbasis proyek membantu siswa memperoleh kemampuan investigasi yang mendalam, berpikir kritis, berkomunikasi secara efektif, dan bekerja sama dengan guru maupun teman. Melalui aktivitas proyek tersebut, peserta didik mampu memperluas wawasan dan memahami materi secara lebih mendalam melalui pengalaman langsung. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa modul pembelajaran elektronik yang mengintegrasikan etnoekologi tidak hanya efektif meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis siswa dalam mempelajari materi perubahan lingkungan, tetapi juga menunjukkan bahwa integrasi tersebut merupakan kunci agar PjBL menjadi lebih kontekstual dan Hasil ini sejalan dengan temuan Surya et al. dan Priyanto . yang menyatakan bahwa model PjBL efektif dalam mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS), termasuk berpikir kritis dan kreatif. Penelitian Rofiah et al. juga menegaskan bahwa pembelajaran kontekstual berbasis proyek dapat mengembangkan kemampuan analisis dan inovasi siswa. Namun, tanpa keterkaitan dengan konteks lokal. PjBL berisiko menjadi abstrak dan kurang relevan. Oleh @2025 JPPI . ttps://jurnal. com/index. php/jpp. Ciptaan disebarluaskan di bawah Lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Internasional Fitriani dkk. Pengembangan Modul Ajar Elektronik Etnoekologi Perubahan LingkunganA karena itu, integrasi etnoekologi menjadi penting untuk memperkuat keterhubungan siswa dengan realitas lingkungannya. Hal ini sesuai dengan pandangan Iskandar dan Iskandar . yang menegaskan bahwa kearifan lokal dapat memperkaya pemahaman lingkungan dan menumbuhkan nilai-nilai ekologis yang berkelanjutan. KESIMPULAN Kevalidan produk berdasarkan ahli dinyatakan sangat valid, pada aspek bahasa sebesar 89,58%, materi sebesar 94,12%, media sebesar 82,86%, perangkat pembelajaran sebesar 93,12%, dan evaluasi sebesar 80,77%. Aspek kepraktisan produk dievaluasi berdasarkan persentase angket yang dijawab oleh siswa dan guru. Hasil angket keterbacaan siswa menunjukkan persentase sebesar 82,44% dengan kualifikasi sangat kuat, sementara angket kepraktisan guru menunjukkan persentase sebesar 86,90% dengan kualifikasi sangat praktis. Efektivitas produk dianalisis melalui perbandingan nilai tes berpikir kreatif dan kritis antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Peningkatan yang signifikan pada eksperimen terlihat dari hasil N-gain keterampilan berpikir kritis sebesar 0,77 . riteria tingg. dibandingkan dengan kelas kontrol sebesar 0,70 . riteria sedan. Peningkatan serupa juga terjadi pada keterampilan berpikir kreatif, dengan N-gain pada kelas eksperimen mencapai 0,78 . riteria tingg. dan kontrol 0,46 . riteria sedan. DAFTAR PUSTAKA