Journal of Learning and Educational Technology Vol. 1 No. 1 September (2024) | 8-15 e-ISSN: xxx-xxxx p-ISSN: xxx-xxxx DOI: xxxxx Pendekatan Pembelajaran Individu untuk Anak Berkebutuhan Khusus dalam Implementasi Kurikulum Merdeka Ajeng Arief Darmawati1, Dian Kusumawati2, Lis Suaibatul Aslamiyah3 1,2,3 Magister Pendidikan Khusus, Universitas Negeri Malang, Indonesia Riwayat Artikel: Diterima : 29 Januari 2024 Disetujui : 3 Agustus 2024 Diterbitkan : 4 September 2024 Korespondensi: Nama : Ajeng Arief Darmawati Afiliasi : Universitas Negeri Malang Email : ajengarief@gnail.com Abstrak: Penelitian ini mengkaji tantangan dan potensi implementasi Kurikulum Merdeka dalam mendukung pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia. Menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR), studi ini menyoroti berbagai hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan Kurikulum Merdeka, termasuk keterbatasan fleksibilitas kurikulum, kurangnya sumber daya dan pelatihan bagi guru, serta stigma sosial yang masih melekat terhadap anak berkebutuhan khusus. Meskipun menghadapi banyak tantangan, Kurikulum Merdeka yang berbasis kompetensi memiliki potensi besar dalam memfasilitasi pembelajaran yang lebih inklusif dan efektif. Studi ini menekankan perlunya upaya kolaboratif dari pemerintah, sekolah, dan masyarakat untuk menyediakan sumber daya yang memadai dan pelatihan yang berkesinambungan bagi guru, guna mengoptimalkan potensi Kurikulum Merdeka dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan panduan bagi pengembangan kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih baik, sehingga semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, dapat memperoleh pendidikan berkualitas dan kesempatan untuk mencapai potensi terbaik mereka. Kata Kunci: Anak Berkebutuhan Khusus; Kurikulum Merdeka; Pendidikan Inklusi Abstract: This study examines the challenges and potential of implementing the Kurikulum Merdeka in supporting inclusive education for children with special needs in Indonesia. Using a Systematic Literature Review (SLR) approach, this study highlights various obstacles encountered in the implementation of the Kurikulum Merdeka, including the lack of curriculum flexibility, inadequate resources and teacher training, and the persistent social stigma towards children with special needs. Despite these challenges, the competencybased Kurikulum Merdeka offers significant potential to facilitate more inclusive and effective learning. This study emphasizes the need for collaborative efforts from the government, schools, and communities to provide adequate resources and ongoing training for teachers, to optimize the potential of the Kurikulum Merdeka in creating an inclusive educational environment. The results of this research are expected to provide guidance for the development of better educational policies and practices, ensuring that all children, including those with special needs, receive quality education and the opportunity to reach their full potential. Keywords: Children with Special Needs; Inclusive Education; Kurikulum Merdeka PENDAHULUAN Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam pembangunan bangsa yang berperan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia berkualitas. Selain berfungsi sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan dan keterampilan, pendidikan juga berperan dalam pembentukan karakter individu yang kreatif, kritis, dan inovatif. Pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan akademik, tetapi juga untuk membentuk kemampuan berpikir analitis dan solutif, yang diperlukan dalam memecahkan berbagai tantangan di masyarakat. Di Indonesia, reformasi pendidikan telah menjadi agenda utama dalam mencapai pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan. Hal ini penting mengingat kebutuhan untuk menciptakan individu yang mampu beradaptasi dengan perubahan global yang cepat, terutama dalam 8 Darmawati et al. - Pendekatan Pembelajaran … JLET | Vol. 1 – No. 1, September 2024 | Hal 8-15 menghadapi Revolusi Industri 4.0. Menurut Marta et al. (2023), pendidikan harus dirancang sedemikian rupa untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga mampu menghadapi tantangan dan peluang di era globalisasi yang dinamis. Reformasi pendidikan di Indonesia diwujudkan melalui implementasi Kurikulum Merdeka, yang dirancang untuk mengakomodasi kebutuhan pendidikan modern yang semakin kompleks. Kurikulum Merdeka menekankan pendekatan berbasis kompetensi yang bertujuan untuk mendorong siswa berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif, serta memastikan bahwa pembelajaran bersifat aktif dan partisipatif. Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan berbasis kompetensi ini efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, serta membantu mereka mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi yang dipelajari (Rudhiani & Wagiran, 2015). Selain itu, Kurikulum Merdeka juga memberikan fleksibilitas dalam proses pembelajaran, yang memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan kecepatan, gaya belajar, dan minat masing-masing. Fleksibilitas ini penting untuk menyesuaikan pembelajaran dengan kebutuhan individu siswa, sehingga setiap siswa dapat mencapai potensi maksimalnya dalam lingkungan pendidikan yang dinamis (Zuhr & Nasir, 2023). Dalam konteks Kurikulum Merdeka, pendidikan inklusi menjadi elemen kunci, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Pendidikan inklusi bertujuan untuk memberikan kesempatan yang setara kepada semua anak, tanpa memandang perbedaan fisik, mental, atau emosional mereka. Tidak hanya sekadar memasukkan anak-anak berkebutuhan khusus ke dalam kelas reguler, pendidikan inklusi menuntut penyesuaian metode pengajaran agar sesuai dengan kebutuhan individu setiap anak (Sobarna, 2018). Ini mencakup adaptasi kurikulum, metode evaluasi, dan penyediaan fasilitas pendukung yang memadai. Namun, implementasi pendidikan inklusi sering kali menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan sumber daya manusia yang terlatih, kurangnya fasilitas yang mendukung, dan kesadaran serta penerimaan masyarakat yang belum optimal (Utami & Putra, 2020). Tantangan ini perlu diatasi melalui upaya kolaboratif antara pemerintah, sekolah, dan komunitas untuk memastikan keberhasilan pendidikan inklusi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pendekatan pembelajaran individual yang dapat mendukung anak-anak berkebutuhan khusus dalam konteks Kurikulum Merdeka. Pendekatan pembelajaran individual adalah strategi pengajaran yang menyesuaikan metode dan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, kemampuan, dan potensi setiap siswa. Ini sangat penting dalam konteks pendidikan inklusi, di mana setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Menurut Hasibuan et al. (2020), pendekatan ini memungkinkan pengajaran yang lebih personal, yang dapat meminimalkan hambatan belajar dan memungkinkan partisipasi yang setara dalam proses pembelajaran. Dengan demikian, pendekatan pembelajaran individual diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pendidikan inklusi, membantu anak-anak berkebutuhan khusus untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dan memastikan bahwa mereka dapat berpartisipasi penuh dalam lingkungan pendidikan di bawah Kurikulum Merdeka. METODE Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah Systematic Literature Review (SLR), sebuah pendekatan penelitian yang bersifat sistematis dalam mengumpulkan, mengevaluasi, dan mensintesis penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dalam konteks topik yang relevan. SLR dipilih karena memberikan kerangka kerja yang kuat untuk mengevaluasi secara kritis dan menyeluruh berbagai penelitian yang ada, serta memastikan bahwa hanya studistudi berkualitas tinggi yang disertakan dalam analisis. Proses SLR dimulai dengan pencarian literatur melalui database akademik, kemudian dilakukan seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan sebelumnya (Dell’Anna et al., 2019). SLR memiliki beberapa keunggulan utama. Pertama, SLR memungkinkan pengumpulan bukti empiris dalam jumlah besar yang mencakup berbagai perspektif dan hasil penelitian 9 Darmawati et al. - Pendekatan Pembelajaran … JLET | Vol. 1 – No. 1, September 2024 | Hal 8-15 tentang topik ini. Kedua, pendekatan ini mengikuti proses sistematis dalam seleksi literatur dan evaluasi kualitasnya, yang memastikan bahwa penelitian yang dimasukkan dalam analisis adalah yang berkualitas tinggi (Nind & Wearmouth, 2006). Ketiga, SLR memungkinkan dilakukannya sintesis yang mendalam, mengidentifikasi pola-pola dan tren dalam literatur yang ada, serta menghasilkan pemahaman yang lebih luas tentang isu-isu terkait pendekatan pembelajaran individu untuk anak-anak berkebutuhan khusus di bawah Kurikulum Merdeka (Rashid & Wong, 2022). Hasil dari metode SLR ini diharapkan memberikan manfaat yang signifikan dalam memahami topik penelitian ini. Pemahaman yang mendalam mengenai pendekatan pembelajaran individu bagi anak-anak berkebutuhan khusus dalam konteks Kurikulum Merdeka akan memberikan pandangan yang lebih jelas tentang tantangan dan peluang yang ada. Hasil SLR ini juga akan menyediakan dasar yang kuat untuk merumuskan rekomendasi kebijakan dan praktik pendidikan yang lebih baik dalam mendukung anak-anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian, metode SLR bukan hanya menjadi alat penting dalam penelitian ini, tetapi juga berkontribusi secara signifikan dalam pengembangan pendidikan inklusi yang lebih efektif di Indonesia. HASIL DAN PEMBAHASAN Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Individu dalam Mendukung Anak Berkebutuhan Khusus Pendekatan pembelajaran individu menawarkan manfaat yang signifikan dalam mendukung perkembangan pendidikan anak berkebutuhan khusus. Salah satu manfaat utama adalah kemampuannya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Ketika pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan individu, siswa merasa lebih relevan dan tertarik terhadap materi yang diajarkan. Sebagai contoh, siswa dengan gangguan perhatian mungkin lebih mudah untuk fokus ketika materi disampaikan melalui metode yang menarik bagi mereka, seperti penggunaan media visual atau interaktif. Selain itu, karena pendekatan ini mengakui keunikan setiap siswa, mereka merasa dihargai dan diakui, yang secara tidak langsung meningkatkan motivasi internal mereka untuk belajar. Penelitian oleh Pertiwi & Dewi (2023) menunjukkan bahwa siswa yang terlibat dalam pembelajaran yang dipersonalisasi cenderung lebih bersemangat dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar. Dengan demikian, pendekatan ini tidak hanya membantu dalam pemahaman materi, tetapi juga mendorong perkembangan sikap positif terhadap pembelajaran secara keseluruhan. Selain meningkatkan motivasi belajar, pendekatan pembelajaran individu juga memungkinkan siswa untuk belajar dalam lingkungan yang lebih nyaman dan mendukung. Lingkungan yang disesuaikan dengan kebutuhan khusus siswa dapat mengurangi hambatan yang mungkin mengganggu proses belajar mereka. Misalnya, siswa dengan kesulitan sensorik mungkin memerlukan lingkungan yang tenang dan minim rangsangan agar dapat berkonsentrasi dengan baik. Dengan menyediakan lingkungan yang disesuaikan, siswa tidak perlu lagi menghadapi hambatan-hambatan yang tidak perlu yang dapat mengganggu fokus mereka. Mahmud et al. (2023) menyatakan bahwa lingkungan yang aman dan mendukung dapat membuat siswa merasa lebih nyaman dan termotivasi untuk belajar, karena mereka tahu bahwa kebutuhan khusus mereka dipahami dan dipenuhi. Dalam konteks ini, pembelajaran menjadi lebih efektif karena siswa dapat fokus sepenuhnya pada materi yang diajarkan tanpa terganggu oleh faktor eksternal yang biasanya menjadi penghalang. Pendekatan pembelajaran individu juga memungkinkan guru untuk memberikan umpan balik yang lebih konkret dan langsung kepada siswa. Hal ini sangat penting dalam konteks pendidikan anak berkebutuhan khusus, di mana setiap siswa mungkin memiliki cara belajar yang berbeda. Dengan umpan balik yang langsung, siswa dapat segera memahami apa yang mereka lakukan dengan baik dan di mana mereka perlu memperbaiki diri. Fannisa et al. (2023) menunjukkan bahwa umpan balik yang konkret membantu siswa dalam mengidentifikasi 10 Darmawati et al. - Pendekatan Pembelajaran … JLET | Vol. 1 – No. 1, September 2024 | Hal 8-15 kekuatan dan kelemahan mereka dengan lebih baik, sehingga mereka dapat bekerja lebih efektif untuk meningkatkan area yang memerlukan perhatian. Selain itu, umpan balik yang diberikan segera setelah kegiatan belajar juga dapat mencegah kesalahpahaman dan membantu siswa menginternalisasi pembelajaran dengan lebih cepat. Dengan demikian, umpan balik yang personal dan tepat waktu menjadi elemen kunci dalam memastikan keberhasilan pendekatan pembelajaran individu. Meskipun pendekatan pembelajaran individu menawarkan banyak manfaat, implementasinya sering kali dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya, baik dari segi jumlah guru maupun fasilitas yang tersedia untuk mendukung pembelajaran individu. Tanpa dukungan sumber daya yang memadai, sulit bagi sekolah untuk menyediakan program pembelajaran yang benar-benar terpersonalisasi. Reza et al. (2023) mencatat bahwa banyak sekolah di daerah terpencil atau dengan anggaran terbatas tidak mampu menyediakan guru yang cukup untuk memenuhi kebutuhan setiap siswa, apalagi menyediakan pelatihan khusus bagi guru. Selain itu, pelatihan guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran individu sangat penting, namun sering kali diabaikan. Guru yang tidak terlatih dengan baik mungkin kesulitan dalam menyesuaikan metode pengajaran mereka dengan kebutuhan individu siswa, yang pada akhirnya dapat mengurangi efektivitas pendekatan ini. Oleh karena itu, perlu ada upaya serius dalam mengatasi keterbatasan ini untuk memastikan bahwa semua siswa berkebutuhan khusus mendapatkan pendidikan yang mereka butuhkan. Salah satu tantangan lain yang penting dalam implementasi pendekatan pembelajaran individu adalah memastikan bahwa siswa berkebutuhan khusus tetap merasa termasuk dalam lingkungan pembelajaran secara keseluruhan. Meskipun pendekatan individu bertujuan untuk memenuhi kebutuhan khusus setiap siswa, ada risiko bahwa pendekatan ini dapat membuat siswa merasa terisolasi dari teman-teman sebayanya. Oleh karena itu, sangat penting bagi sekolah untuk mengembangkan strategi yang mempromosikan inklusi dan kolaborasi antara semua siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Herlina (2023) menggarisbawahi bahwa kolaborasi antar siswa dalam lingkungan yang inklusif dapat meningkatkan pemahaman dan empati, serta mengurangi stigma yang sering kali melekat pada anak berkebutuhan khusus. Dengan demikian, meskipun pendekatan pembelajaran individu sangat bermanfaat, penting untuk memastikan bahwa pendekatan ini tidak mengorbankan rasa inklusi dan kebersamaan di antara siswa. Dalam beberapa kasus, pendekatan pembelajaran individu telah terbukti sangat efektif dalam mendukung anak berkebutuhan khusus. Misalnya, di sebuah sekolah inklusi, guru-guru berhasil menerapkan pendekatan ini dengan merancang rencana pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan unik setiap siswa. Rencana ini mencakup modifikasi metode pengajaran, materi, dan lingkungan belajar yang dirancang khusus untuk membantu siswa yang memiliki gangguan perkembangan atau kesulitan belajar. Sacks & Haider (2017) melaporkan bahwa dalam konteks ini, hasil akademik siswa meningkat secara signifikan. Siswa tidak hanya meraih pencapaian akademik yang lebih baik, tetapi juga merasa lebih termotivasi dan terlibat dalam lingkungan sekolah mereka. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran individu, bila diterapkan dengan baik dan didukung oleh sumber daya yang memadai, dapat membawa dampak positif yang besar bagi perkembangan anak berkebutuhan khusus. Ini juga menegaskan pentingnya komitmen dan upaya berkelanjutan dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan individu. Secara keseluruhan, pendekatan pembelajaran individu memiliki potensi besar untuk mendukung anak berkebutuhan khusus dalam mencapai kemajuan pendidikan yang lebih baik. Manfaat utama dari pendekatan ini termasuk peningkatan motivasi belajar, lingkungan yang mendukung, serta umpan balik yang lebih konkret dan langsung. Namun, implementasi pendekatan ini tidak tanpa tantangan, termasuk keterbatasan sumber daya, kebutuhan akan pelatihan guru, dan risiko isolasi siswa berkebutuhan khusus. Studi kasus keberhasilan 11 Darmawati et al. - Pendekatan Pembelajaran … JLET | Vol. 1 – No. 1, September 2024 | Hal 8-15 menunjukkan bahwa dengan komitmen yang kuat dan dukungan yang memadai, tantangan ini dapat diatasi, dan pendekatan pembelajaran individu dapat memberikan manfaat nyata bagi siswa berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, penting bagi sekolah dan pemangku kepentingan untuk terus mengeksplorasi dan mendukung pengembangan pendekatan ini, dengan fokus pada penciptaan lingkungan pembelajaran yang inklusif dan responsif terhadap kebutuhan semua siswa. Hanya dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa setiap anak, tanpa terkecuali, memiliki kesempatan yang sama untuk mencapai potensi penuh mereka dalam pendidikan. Hambatan dalam Implementasi Kurikulum Merdeka bagi Anak Berkebutuhan Khusus Implementasi Kurikulum Merdeka untuk anak berkebutuhan khusus dihadapkan pada berbagai tantangan, salah satunya adalah kompleksitas kurikulum itu sendiri. Kurikulum Merdeka dirancang untuk mendorong pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran aktif, yang menuntut siswa untuk lebih mandiri dan proaktif dalam proses belajar mereka. Namun, anak berkebutuhan khusus sering kali memerlukan pendekatan yang lebih spesifik dan dukungan yang intensif untuk dapat mengikuti kurikulum ini dengan efektif. Kurikulum Merdeka, meskipun fleksibel dalam teori, dalam praktiknya sering kali tidak mampu sepenuhnya menyesuaikan dengan kebutuhan unik setiap anak berkebutuhan khusus. Mereka mungkin membutuhkan metode pembelajaran yang lebih individual, waktu yang lebih lama untuk memahami materi, atau pengaturan lingkungan belajar yang berbeda agar dapat berpartisipasi secara penuh. Tantangan ini menjadi semakin nyata di sekolah-sekolah inklusi, di mana penyesuaian kurikulum untuk anak berkebutuhan khusus sering kali terbentur oleh keterbatasan sumber daya, baik dari segi guru yang terlatih maupun fasilitas yang mendukung (Mahmud et al., 2023). Ketidakmampuan untuk menyesuaikan kurikulum ini dapat menyebabkan kesenjangan dalam pembelajaran, di mana anak-anak berkebutuhan khusus tertinggal dari teman-teman sebaya mereka. Tantangan lain yang dihadapi dalam implementasi Kurikulum Merdeka bagi anak berkebutuhan khusus adalah keterbatasan sumber daya dan kurangnya tenaga pendidik yang terlatih. Anak berkebutuhan khusus memerlukan perhatian dan dukungan yang lebih intensif, seperti kehadiran guru pendamping yang berperan penting dalam membantu mereka mengakses pembelajaran. Namun, kenyataannya, banyak sekolah, terutama di daerah terpencil atau dengan anggaran terbatas, tidak memiliki cukup guru atau fasilitas khusus yang dapat mendukung kebutuhan ini. Kondisi ini semakin diperparah oleh kurangnya pelatihan khusus bagi guru dalam merancang dan melaksanakan pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan individu anak berkebutuhan khusus. Nursaputri & Sabat (2023) menyoroti bahwa guru sering kali merasa tidak cukup dipersiapkan untuk menangani kompleksitas kebutuhan anak-anak ini dalam konteks Kurikulum Merdeka. Tanpa dukungan dan pelatihan yang memadai, guru mungkin kesulitan untuk menyesuaikan metode pengajaran mereka, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi efektivitas pembelajaran dan perkembangan akademik anak-anak berkebutuhan khusus. Oleh karena itu, peningkatan pelatihan guru dan alokasi sumber daya yang lebih baik sangat diperlukan untuk mengatasi tantangan ini. Selain tantangan internal dalam sistem pendidikan, stigma sosial dan sikap masyarakat terhadap anak berkebutuhan khusus juga menjadi hambatan signifikan dalam implementasi Kurikulum Merdeka. Masih ada persepsi yang kurang inklusif di kalangan masyarakat, yang dapat mengakibatkan isolasi sosial atau bahkan diskriminasi terhadap anak-anak berkebutuhan khusus. Sikap negatif ini tidak hanya menghalangi integrasi mereka ke dalam lingkungan pendidikan reguler, tetapi juga dapat berdampak pada kolaborasi antara orang tua, guru, dan sekolah dalam memberikan dukungan yang diperlukan. Penelitian oleh Anggraini et al. (2019) menunjukkan bahwa stigma sosial dapat memperburuk kondisi anak berkebutuhan khusus, membuat mereka merasa tidak diterima dan diabaikan dalam proses pendidikan. Sikap-sikap seperti ini dapat menciptakan lingkungan yang tidak mendukung dan membatasi anak-anak 12 Darmawati et al. - Pendekatan Pembelajaran … JLET | Vol. 1 – No. 1, September 2024 | Hal 8-15 tersebut dari berpartisipasi secara penuh dalam kegiatan belajar mengajar. Oleh karena itu, penting untuk mengedukasi masyarakat dan mendorong sikap inklusif yang menghargai keberagaman kemampuan dan kebutuhan setiap anak. Hanya dengan perubahan sikap sosial yang mendasar, anak-anak berkebutuhan khusus dapat benar-benar menikmati manfaat dari Kurikulum Merdeka. Implementasi Kurikulum Merdeka juga menghadirkan tantangan signifikan dalam hal evaluasi dan pengukuran prestasi anak berkebutuhan khusus. Pendekatan berbasis kompetensi yang diadopsi oleh Kurikulum Merdeka mengharuskan siswa menunjukkan penguasaan kompetensi tertentu melalui berbagai kegiatan pembelajaran. Namun, bagi anak berkebutuhan khusus, cara mereka menunjukkan kemajuan dan pencapaian mungkin berbeda dari anak-anak pada umumnya. Mereka mungkin memerlukan lebih banyak waktu atau pendekatan yang berbeda untuk mencapai kompetensi yang sama, dan metode evaluasi standar mungkin tidak mampu menangkap kemajuan mereka dengan akurat. Syarifuddin & Hz (2023) menekankan pentingnya alat evaluasi yang lebih adaptif dan sensitif untuk menilai prestasi anak berkebutuhan khusus. Tanpa alat evaluasi yang tepat, ada risiko bahwa pencapaian mereka tidak diakui sepenuhnya, yang dapat mengurangi motivasi mereka untuk terus belajar. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan dan penerapan alat evaluasi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu, agar penilaian prestasi anak berkebutuhan khusus lebih mencerminkan kemajuan yang sebenarnya dalam konteks Kurikulum Merdeka. Hambatan dalam implementasi Kurikulum Merdeka bagi anak berkebutuhan khusus merupakan isu yang kompleks dan memerlukan pendekatan yang menyeluruh untuk diatasi. Salah satu solusi utama adalah penyediaan sumber daya yang memadai, termasuk alokasi anggaran yang cukup untuk mendukung pendidikan inklusi. Ini mencakup pengadaan fasilitas yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus, perangkat pembelajaran khusus, serta pelatihan intensif bagi guru dan staf sekolah. Astuti et al. (2023) menunjukkan bahwa dengan sumber daya yang tepat, sekolah dapat menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung, di mana anak-anak berkebutuhan khusus dapat belajar dan berkembang bersama dengan teman-teman sebayanya. Selain itu, penting untuk memberikan pelatihan yang komprehensif kepada guru, tidak hanya dalam aspek teknis pembelajaran, tetapi juga dalam memahami dan merespons kebutuhan emosional serta sosial anak-anak ini. Dengan upaya kolaboratif antara sekolah, pemerintah, dan masyarakat, hambatan-hambatan dalam implementasi Kurikulum Merdeka dapat diatasi, sehingga setiap anak, tanpa kecuali, memiliki kesempatan yang adil untuk meraih pendidikan yang berkualitas dan inklusif. PENUTUP Implementasi Kurikulum Merdeka dalam mendukung pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang kompleks, mulai dari keterbatasan fleksibilitas kurikulum, sumber daya yang tidak memadai, hingga stigma sosial yang masih mengakar. Meskipun demikian, pendekatan berbasis kompetensi yang dianut oleh Kurikulum Merdeka menawarkan potensi besar dalam mengoptimalkan pembelajaran bagi semua siswa, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus. Untuk mengatasi hambatanhambatan tersebut, diperlukan upaya kolaboratif yang melibatkan sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam menyediakan sumber daya yang memadai serta pelatihan yang berkelanjutan bagi tenaga pendidik. Dengan komitmen yang kuat dan dukungan yang tepat, Kurikulum Merdeka dapat menjadi kerangka kerja yang efektif dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif, memungkinkan setiap anak, tanpa kecuali, untuk berkembang dan mencapai potensi terbaiknya. DAFTAR PUSTAKA 13 Darmawati et al. - Pendekatan Pembelajaran … JLET | Vol. 1 – No. 1, September 2024 | Hal 8-15 Anggraini, L., Syahrial, Z., & Situmorang, R. (2019). Learning Process in Inclusive Primary School. Proceedings of the First International Conference on Technology and Educational Science. Astuti, M., Marlina, L., Saprullah, S., Irvan, I. A., & Fitrianti, E. (2023). Implementasi K13 dan Penyesuaian Terhadap Kurikulum Merdeka di SLB-A PRPCN Palembang. IndoMathEdu Intellectuals Journal. Dell’Anna, S., Pellegrini, M., & Ianes, D. (2019). Experiences and learning outcomes of students without special educational needs in inclusive settings: A systematic review. International Journal of Inclusive Education, 25(7-8), 944-959. Fannisa, A. A., Anggraini, D., Romdani, K. N., & Dewi, M. T. (2023). Challenges of Learning Social Science in the "Merdeka" Curriculum in Elementary Schools. MANDALIKA: Journal of Social Science. Hasibuan, H. Y., Syamsuri, S., Santosa, C. A. H. F., & Pamungkas, A. (2020). Profil Pembelajaran Matematika pada Anak Berkebutuhan Khusus Ragam Slow Learner di Kelas Inklusif SMP Garuda Cendekia Jakarta. Journal of Medives: Journal of Mathematics Education IKIP Veteran Semarang. Herlina, H. (2023). Analysis of Differentiated Learning Needs in Mathematics Subjects in Class 5 of SDN 182 North Bengkulu. JENTIK: Jurnal Pendidikan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Mahmud, F. K., Mirnawati, M., & Kusumastuti, D. (2023). Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Khusus Kak Seto Kota Tangerang Selatan. Al-Falah: Jurnal Ilmiah Keislaman dan Kemasyarakatan. Marta, N., Djunaidi, & Martini, S. (2023). Mengembangkan Kompetensi Profesional Guru untuk Pembelajaran Inovatif Kurikulum Merdeka di SMP Pattimura. Sarwahita. Nind, M., & Wearmouth, J. (2006). Including children with special educational needs in mainstream classrooms: Implications for pedagogy from a systematic review. Journal of Research in Special Educational Needs, 6 (3), 116-124. Nursaputri, E. R., & Sabat, Y. (2023). Kindergarten Teachers’ Readiness in Implementing Kurikulum Merdeka. Academy of Education Journal. Pertiwi, R. P., & Dewi, S. E. K. (2023). Pengembangan Modul Pembelajaran Anak Berkebutuhan Khusus Implementasi Kurikulum Merdeka di SD Negeri Inklusi. Jurnal Elementaria Edukasia. Rashid, S. M., & Wong, M. T. (2022). Challenges of implementing the individualized education plan (IEP) for special needs children with learning disabilities: Systematic literature review (SLR). International Journal of Learning, Teaching and Educational Research, 22(1), 2-15. Reza, F., Rohmah, Z., & Abdullah, N. N. (2023). Challenges in Implementing Kurikulum Merdeka for EFL Teachers. JEELS (Journal of English Education and Linguistics Studies). Rudhiani, H., & Wagiran. (2015). Rekonstruksi Soal Penilaian Aspek Keterampilan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas X Kurikulum 2013. Journal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sacks, L., & Haider, S. (2017). Challenges in Implementation of Individualized Educational Plan (IEPs): Perspectives from India and the United States of America. Indian Journal of Health and Wellbeing, 8(12), 958-965. Sobarna, C. (2018). Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan bagi Siswa Berkebutuhan Khusus. Metahumaniora. Syarifuddin, S., & Hz, B. I. R. (2023). Adapting to Change: The Experiences of EFL Teachers with Curriculum Reform. Language Literacy: Journal of Linguistics, Literature, and Language Teaching. 14 Darmawati et al. - Pendekatan Pembelajaran … JLET | Vol. 1 – No. 1, September 2024 | Hal 8-15 Utami, M. N., & Putra, W. B. (2020). Fasilitas Ruang Khusus Pada Sekolah Inklusi Binar Indonesia (Bindo) di Bandung. TERRACOTTA. Zuhr, M. S., & Nasir, M. (2023). Analisis Kurikulum Merdeka Berbasis Pembelajaran Berdiferensiasi Jenjang Pendidikan Anak Usia Dini. Indonesian Journal of Early Childhood: Jurnal Dunia Anak Usia Dini. 15