Nursing Arts Vol 19. No 1. Juni 2025 ISSN: 1978-6298 (Prin. ISSN: 2686-133X . HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DAN PERGAULAN TEMAN SEBAYA DENGAN KENAKALAN REMAJA (JUVENILE DELINQUENCY) Dinda Alfiana1*. I Made Rio Dwijayanto2. Ahmil3 Universitas Widya Nusantara Email Korespondensi: dindaalfiana05@gmail. Artikel history Dikirim. Feb 22nd, 2025 Ditinjau. Feb 27th, 2025 Diterima. March 03rd, 2025 ABSTRACT Adolescence is a transitional phase characterized by vulnerability to delinquent behavior. Preliminary observations at SMPN 3 Banawa revealed various cases of smoking, bullying, truancy, verbal aggression, and physical altercations, while some parents tended to neglect these issues. This study examines the relationship between parenting styles and peer interactions with juvenile delinquency among students at SMPN 3 Banawa. This quantitative study employs a cross-sectional design, involving 145 eighth- and ninth-grade students selected using Stratified Proportional Random Sampling based on SlovinAos formula. The results indicate a significant relationship between parenting styles . = 0. and peer interactions . = . with juvenile delinquency. In conclusion, parenting styles and peer interactions significantly influence juvenile delinquency at SMPN 3 Banawa. It is recommended that students be more selective in their social interactions and improve communication with parents, family, and their environment to reduce delinquent behavior. Keywords: Parenting Styles. Peer Associations. Juvenile Delinquency ABSTRAK Masa remaja adalah fase peralihan yang rentan terhadap kenakalan. Hasil observasi awal di SMPN 3 Banawa menunjukkan berbagai kasus seperti merokok, bullying, membolos, berkata kasar, dan tawuran, sementara beberapa orang tua cenderung mengabaikannya. Penelitian ini menganalisis hubungan pola asuh orang tua dan pergaulan teman sebaya dengan kenakalan remaja di SMPN 3 Banawa. Metode penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 145 siswa kelas Vi dan IX yang dipilih menggunakan Stratified Proportional Random Sampling berdasarkan rumus Slovin. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan Uji Chi-Square. Hasil uji Chi-Square menunjukkan hubungan signifikan antara pola asuh orang tua . = 0,. dan pergaulan teman sebaya . = 0,. dengan kenakalan remaja. Kesimpulannya, pola asuh orang tua dan pergaulan teman sebaya berpengaruh terhadap kenakalan remaja di SMPN 3 Banawa. Disarankan siswa lebih selektif dalam pergaulan dan meningkatkan komunikasi dengan orang tua, keluarga, serta lingkungan untuk menekan angka kenakalan remaja. Kata Kunci: Pola Asuh Orang Tua. Pergaulan Teman Sebaya. Kenakalan Remaja Dinda Alfiana dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Pergaulan Teman Sebaya PENDAHULUAN Masa remaja adalah transisi dari anak-anak ke dewasa, di mana mereka mulai mencari jati diri dan tujuan hidup. Kedewasaan yang belum matang sering kali menimbulkan kesulitan kompleks, termasuk eksplorasi perilaku baru (Sardipan, 2. Pada tahap ini, remaja mengalami perubahan mental, isolasi dari keluarga, serta kesulitan sosial dan akademis. Kenakalan remaja yang dilaporkan di media terus meningkat, dengan banyak anak di bawah umur terlibat tawuran, narkoba, pencurian, dan kejahatan lainnya (Bangun & Wibawa, 2. Rasa ingin tahu yang besar dan emosi yang tidak stabil sering kali mendorong tindakan sembrono dan nekat (Ani, 2. Kegagalan remaja dalam menyelesaikan tugas perkembangannya dapat memicu perilaku menyimpang yang berujung pada pelanggaran Anjaswarni et al. , . menyatakan bahwa kenakalan remaja merupakan masalah kesehatan mental yang berdampak langsung maupun tidak langsung terhadap kesejahteraan Pada tahun 2022 di Amerika Serikat, remaja berusia 12 hingga 17 tahun terlibat dalam hampir 10% kasus kenakalan remaja, meningkat dari 8,7% pada tahun 2021. Kasus-kasus ini mencakup perampokan, pemerkosaan, serta penyerangan berat seperti tawuran dan perkelahian (Tapp et al. , 2. Di Indonesia, tingkat kenakalan remaja juga tinggi dan terus meningkat setiap tahun. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya tren peningkatan jumlah insiden kenakalan dan kejahatan remaja, termasuk tindakan kekerasan fisik, seksual, dan psikologis. Menurut Badan Pusat Statistik . , kasus kenakalan remaja di Indonesia mencapai 6. pada tahun 2021 dan melonjak menjadi 372. 965 pada tahun berikutnya. Kapolri Sigit Prabowo juga menyatakan bahwa pada tahun 2022 angka kriminalitas remaja meningkat sebesar 7,3% (Sadya, 2. Kasus kenakalan remaja di Sulawesi Tengah didominasi oleh narkoba, dengan peningkatan signifikan dari 217 kasus pada 2020 menjadi 566 kasus pada 2021, dan 648 kasus pada 2022. Data BPS . menunjukkan bahwa tingkat pelaporan ke polisi juga meningkat, dari 22,26% pada 2020 menjadi 31,96% pada 2021, dan 32,48% pada 2022 (Badan Pusat Statistik, 2. Selain narkoba, bullying juga menjadi masalah serius. Menurut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI), sepanjang 2023 terdapat 30 kasus bullying di sekolah, dengan 50% terjadi di jenjang SMP (Annur, 2. Kenakalan remaja terus meningkat seiring waktu, bahkan kini sering kali disertai perilaku kriminal yang lebih serius (Fifin Dwi Purwaningtyas, 2. Penyebabnya beragam dan melibatkan berbagai faktor, salah satunya adalah dinamika keluarga yang berpengaruh besar 21 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 19-28 dalam membentuk perilaku remaja. Menurut Asnani Susiana . , kenakalan remaja dipicu oleh kurangnya pengawasan orang tua, ketidakstabilan rumah tangga, dan konflik keluarga. Pola asuh yang tidak tepat juga berkontribusi terhadap perilaku menyimpang. Menurut Irawan . menyatakan bahwa pola asuh yang salah dan kurangnya kedekatan dengan orang tua membuat anak tertutup, enggan berkomunikasi, serta lebih mencari kedekatan dengan teman sebaya, sehingga rentan terjerumus dalam pergaulan bebas dan tindak pidana. Hal ini sejalan dengan penelitian Elisabeth et al. menunjukkan bahwa pola asuh yang menyimpang berpengaruh signifikan terhadap kenakalan remaja. Semakin buruk pola asuh, semakin besar kemungkinan remaja melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma dan aturan (Yusri. Lingkungan sosial, terutama teman sebaya, berperan penting dalam memengaruhi kenakalan remaja selain pola asuh orang tua. Tekanan kelompok dapat mendorong remaja melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma sosial (Wahyu Mulyadi. Umar. Ilham. AinunsaAobiah, 2. Tekanan untuk menyesuaikan diri dalam kelompok juga menjadi faktor utama kenakalan remaja (Ani, 2. Pola pikir remaja sangat dipengaruhi oleh teman sebaya, yang memiliki peran besar dalam membentuk perilaku. Menurut Alfarisi and Hasanah . , teman sebaya berperan besar dalam membentuk pola pikir dan perilaku, memperkenalkan ide, sikap, serta kebiasaan yang terkadang mengarah pada penyimpangan. Penelitian oleh Niken Agus Tianingrum dan Ulfa Nurjannah . di Samarinda menunjukkan bahwa 69,7% remaja terlibat dalam tindakan kriminal, dengan teman sebaya sebagai faktor utama dalam membentuk perilaku nakal. Tekanan dari teman sebaya juga meningkatkan risiko kenakalan remaja (Tianingrum & Nurjannah, 2. Hasil wawancara dan observasi awal di SMPN 3 Banawa menunjukkan bahwa kenakalan remaja masih marak terjadi. Guru BK mengungkapkan bahwa perilaku yang sering muncul meliputi merokok, bullying, bolos, berkata kasar, datang terlambat, mencoret tembok, melabrak teman, memalak, berkelahi, hingga tawuran. Beberapa orang tua cenderung mengabaikan masalah anak di sekolah, hanya memenuhi kebutuhan materi tanpa memberikan pengawasan dan bimbingan. Akibatnya, anak kurang menghormati orang yang lebih tua dan lebih bebas bergaul dengan teman sebaya yang berpengaruh buruk, meningkatkan risiko perilaku menyimpang (Fifin Dwi Purwaningtyas, 2. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara pola asuh orang tua dan Dinda Alfiana dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Pergaulan Teman Sebaya pergaulan teman sebaya dengan kenakalan remaja (Juvenile Delinquenc. pada siswa SMPN 3 Banawa. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain analitik Cross-Sectional yang bertujuan mengidentifikasi korelasi antara pola asuh orang tua dan pergaulan teman sebaya dengan kenakalan remaja (Juvenile Delinquenc. pada siswa SMPN 3 Banawa. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2024 di SMPN 3 Banawa. Populasi penelitian terdiri dari 227 siswa kelas Vi dan IX, dengan sampel sebanyak 145 siswa yang ditentukan menggunakan rumus Slovin dan teknik Stratified Proportional Random Sampling. Kriteria inklusi mencakup siswa aktif SMPN 3 Banawa yang hadir saat penelitian, memiliki kedua orang tua, tinggal atau berkomunikasi dengan mereka, serta bersedia menjadi responden. Kriteria eksklusi adalah siswa yang cuti atau tidak berada di lokasi penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang diadopsi dari penelitian Helen Ayu Prameswari . untuk pola asuh orang tua. Made Ayu Widyaningsih . untuk pergaulan teman sebaya, dan Amalia . untuk kenakalan Analisis data meliputi analisis univariat untuk distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji Chi-square dengan taraf signifikan 5% (=0,. untuk menguji hubungan pola asuh orang tua dan pergaulan teman sebaya dengan kenakalan remaja. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Karakteristik Responden Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin siswa di SMPN 3 Banawa . Karakteristik Umur 12 tahun 13 tahun 14 tahun 15 tahun 16 tahun Total Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Total Sumber: Data Primer 2024 Frekuensi . Persentase (%) 23 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 19-28 Berdasarkan Tabel 1, karakteristik responden berdasarkan usia menunjukkan bahwa sebanyak 4 responden . ,8%) berusia 12 tahun, 41 responden . ,3%) berusia 13 tahun, dan mayoritas responden berusia 14 tahun, yaitu 84 orang . ,9%). Sementara itu, sebanyak 14 responden . ,7%) berusia 15 tahun, dan 2 responden . ,4%) berusia 16 tahun. Berdasarkan jenis kelamin, responden laki-laki lebih dominan, yaitu 83 orang . ,2%), sedangkan responden perempuan berjumlah 62 orang . ,8%). Pola Asuh Orang Tua Siswa di SMPN 3 Banawa Tabel 2. Distribusi Frekuensi Pola Asuh Orang Tua Siswa di SMPN 3 Banawa . Pola Asuh Demokratis Otoriter Permisif Total Sumber: Data Primer 2024 Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa responden yang mendapatkan pola asuh demokratis sebanyak 33 orang responden . , kemudian sebagian besar responden dalam penelitian ini mendapatkan pola asuh otoriter yaitu sebanyak 89 orang responden . ,4%) dan responden yang memiliki pola asuh permisif sebanyak 23 orang responden . ,9%). Pergaulan Teman Sebaya Siswa di SMPN 3 Banawa Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pergaulan teman sebaya siswa di SMPN 3 Banawa . Pergaulan Teman Sebaya Buruk Cukup Baik Total Sumber: Data Primer 2024 Frekuensi . Persentase (%) Berdasarkan Tabel 3, sebanyak 14 responden . ,7%) memiliki pergaulan teman sebaya dalam kategori buruk. Mayoritas responden, yaitu 94 orang . ,8%), berada dalam kategori cukup, sementara 37 responden . ,5%) memiliki pergaulan teman sebaya dalam kategori baik. Kenakalan remaja siswa di SMPN 3 Banawa Tabel 4. Distribusi Frekuensi Kenakalan remaja siswa di SMPN 3 Banawa . Kenakalan Remaja Ada Kenakalan Tidak Ada Kenakalan Total Sumber: Data Primer 2024 Frekuensi . Persentase (%) Dinda Alfiana dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Pergaulan Teman Sebaya Berdasarkan Tabel 4, sebanyak 62 responden . ,8%) termasuk dalam kategori ada kenakalan remaja, sementara mayoritas responden, yaitu 83 orang . ,2%), berada dalam kategori tidak ada kenakalan remaja. Analisis Bivariat Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Kenakalan Remaja Pada Siswa SMPN 3 Banawa Tabel 5. Hasil Analisis Hubungan Pola Asuh Orang Tua Dengan Kenakalan remaja Pada Siswa SMPN 3 Banawa . Kenakalan Remaja Tidak Ada Pola Asuh Ada Kenakalan Kenakalan Demokratis Otoriter Permisif Total Sumber: Data Primer 2024 Total P-Value 0,007 Berdasarkan Tabel 5, dari 33 responden dengan pola asuh demokratis, 9 orang . ,2%) mengalami kenakalan remaja, sementara 24 orang . ,6%) tidak. Dari 89 responden dengan pola asuh otoriter, 37 orang . ,5%) mengalami kenakalan remaja, sedangkan 52 orang . ,9%) tidak. Sementara itu, dari 23 responden dengan pola asuh permisif, 16 orang . ,0%) mengalami kenakalan remaja, dan 7 orang . ,8%) tidak. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p-value 0,007 O 0,05, sehingga Ha diterima. Dengan demikian, terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dan kenakalan remaja pada siswa SMPN 3 Banawa. Pola asuh orang tua berpengaruh signifikan terhadap kenakalan remaja. Anak dengan pola asuh demokratis cenderung terhindar dari perilaku menyimpang karena mendapat dukungan positif dan penghargaan. Pola asuh ini membentuk mental yang lebih baik, sehingga anak lebih mampu menghindari perilaku merugikan. Hasil ini sejalan dengan Rosyidah . yang menemukan bahwa pola asuh demokratis, baik dari ibu maupun ayah, berkontribusi pada rendahnya tingkat kenakalan remaja, dengan korelasi negatif yang menunjukkan semakin baik pola asuh, semakin rendah kecenderungan kenakalan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pola asuh permisif berkontribusi terhadap kenakalan remaja karena kurangnya pengawasan orang tua, sehingga anak mencari perhatian di luar rumah melalui perilaku menyimpang. Akibatnya, mereka cenderung mengembangkan mentalitas yang mendukung tindakan negatif. Hasil ini sejalan dengan Anggraeni dan Rohmatun . yang menemukan hubungan bermakna antara pola asuh permisif dan kenakalan remaja. Wawancara 25 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 19-28 awal menunjukkan tingkat kenakalan tinggi, namun saat penelitian berlangsung, tingkatnya menurun ke kategori sedang karena tidak semua subjek diasuh dengan pola permisif. Penelitian ini menemukan bahwa sebagian besar anak dengan pola asuh otoriter tidak menunjukkan kenakalan remaja, kemungkinan karena aturan ketat yang menimbulkan rasa takut melanggar. Namun, dampaknya bervariasi tergantung intensitas pola asuh. Hasil ini sejalan dengan Rimawati . , yang menyatakan bahwa pola asuh otoriter dapat menumbuhkan kedisiplinan, kepatuhan, ketegasan, dan keberanian. Sebaliknya. Azizah . menemukan bahwa pola asuh ini lebih dominan pada remaja dengan tingkat kenakalan tinggi, karena kurangnya ruang berpendapat membuat mereka cenderung melanggar aturan, mudah marah, dan terpengaruh perilaku menyimpang. Berdasarkan hasil Uji chi-square menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh orang tua otoriter, demokratis, dan permisif dengan kenakalan remaja. Pola asuh berperan dalam membentuk perilaku remaja, di mana ketidaksesuaian pola asuh dengan kepribadian anak dapat memicu perilaku negatif, sementara dukungan dan keharmonisan dalam keluarga mendorong perilaku positif. Hasil ini sejalan dengan penelitian Rosyidah . yang menemukan bahwa pola asuh memengaruhi tingkat kenakalan remaja. Pola asuh yang buruk membentuk konsep diri negatif dan meningkatkan kerentanan terhadap kenakalan, sedangkan pola asuh yang baik mendukung konsep diri positif dan mengurangi perilaku menyimpang. Penelitian Moh. Sofa . juga menunjukkan bahwa pola asuh yang tepat dapat mengoptimalkan pola pikir dan kepribadian anak, membantu mereka beradaptasi dengan baik di lingkungan. Hubungan Pergaulan Teman Sebaya dengan Kenakalan Remaja pada siswa SMPN 3 Banawa Tabel 6. Hubungan Pergaulan Teman Sebaya Dengan Kenakalan remaja Pada Siswa SMPN 3 Banawa . Kenakalan Remaja Pergaulan Teman Tidak Ada Ada Kenakalan Sebaya Kenakalan Buruk Cukup Baik Total Sumber: Data Primer 2024 Total P Value 0,004 Dinda Alfiana dkk. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Pergaulan Teman Sebaya Berdasarkan tabel 6, dari 14 responden dengan pergaulan teman sebaya buruk, 11 orang . ,6%) terlibat kenakalan remaja, sementara 3 orang . ,1%) tidak terlibat. Dari 94 responden dengan pergaulan cukup, 41 orang . ,3%) mengalami kenakalan remaja, sedangkan 53 orang . ,6%) tidak terlibat. Sementara itu, dari 37 responden dengan pergaulan baik, 10 orang . ,9%) terlibat kenakalan, dan 27 orang . ,6%) tidak terlibat. Hasil uji chi-square menunjukkan nilai p = 0,004 O 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pergaulan teman sebaya dengan kenakalan remaja di SMPN 3 Banawa. Menurut peneliti, pergaulan teman sebaya yang buruk dapat memicu kenakalan remaja, karena pengaruh negatif lingkungan mendorong perilaku serupa. Kebiasaan seperti merokok dan bolos sekolah berisiko berkembang menjadi tindakan yang lebih serius, seperti tawuran. Hasil ini sejalan dengan penelitian Sofiatun . yang menemukan bahwa remaja dengan tingkat konformitas tinggi lebih rentan terhadap kenakalan. Ketidakmampuan mengontrol diri dan kecenderungan mengikuti teman sebaya meningkatkan risiko perilaku menyimpang. Penelitian ini menunjukkan bahwa pergaulan teman sebaya yang baik atau cukup dapat mencegah kenakalan remaja. Pengaruh positif dari teman sebaya membantu membentuk perilaku baik, meningkatkan motivasi belajar, serta mendorong partisipasi dalam kegiatan sekolah dan rumah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yusuf . , yang menyatakan bahwa remaja dengan pergaulan baik cenderung memiliki perilaku positif dan jarang terlibat dalam kenakalan karena saling mengingatkan dan menjaga sikap. Pergaulan teman sebaya yang positif berperan penting dalam membentuk karakter remaja. Dukungan antar teman dapat mencegah perilaku menyimpang serta menumbuhkan disiplin, tanggung jawab, dan empati. Relasi yang sehat menjadi upaya efektif dalam mencegah kenakalan remaja, termasuk bullying (Agustarika et al. , 2. Hasil analisis uji chi-square menunjukkan nilai p-value 0,004 O 0,05, sehingga Ha diterima. Dengan demikian, terdapat hubungan antara pergaulan teman sebaya dan kenakalan remaja pada siswa SMPN 3 Banawa. Menurut peneliti, pergaulan teman sebaya berpengaruh terhadap kenakalan remaja, karena lingkungan yang negatif dapat mendorong perilaku serupa. Pada masa remaja, interaksi dengan teman sebaya berperan penting dalam membentuk karakter dan menentukan arah perilaku. Hasil ini sejalan dengan penelitian Ailya . , yang menemukan bahwa 59,1% kenakalan remaja dipengaruhi oleh pergaulan teman sebaya, sementara sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Penelitian Widyasari . juga menunjukkan hubungan signifikan antara pergaulan teman sebaya dan perilaku bullying di SMA Negeri 2 Kuta . - 27 Nursing Arts. Vol. Nomor 1. Juni 2025 hlm: 19-28 value 0,. Semakin intens pergaulan, semakin tinggi kemungkinan bullying, karena individu cenderung saling memengaruhi dalam menghadapi masalah. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara pola asuh orang tua dengan kenakalan remaja pada siswa SMPN 3 Banawa dengan p-value 0,007 < 0,05 dan terdapat hubungan antara pergaulan teman sebaya dengan kenakalan remaja pada siswa SMPN 3 Banawa dengan p-value 0,004 < 0,05. Berdasarkan temuan ini, disarankan agar orang tua lebih memperhatikan pola asuh yang diterapkan guna mencegah perilaku kenakalan remaja. Selain itu, siswa diharapkan dapat memilih lingkungan pergaulan yang positif serta membangun komunikasi yang baik dengan keluarga dan masyarakat untuk meningkatkan keterampilan sosial dan mengurangi risiko perilaku menyimpang. UCAPAN TERIMA KASIH