AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. PENGARUH BUDAYA ORGANISASI. IKLIM KERJA DAN MOTIVASI KERJA TERHADAP KOMITMEN AFEKTIF Arayani SMP Negeri 2 Indra Makmu Email : yani80julok@gmail. Abstrak Kehadiran organisasi untuk mencapai tujuan-tujuan atau cita-cita sekumpulan masyarakat yang menginginkan perubahan atau keuntungan ditengah-tengah masyarakat dengan melihat peluang yang ada. Organisasi tidak akan berkembang dengan baik tanpa anggota-anggota yang mendukung dan mau berpartisipasi terhadap organisasi, akan tetapi anggota yang menaungi dalam organisasi tersebut harus memiliki sikap komitmen afektif. Komitmen afektif merupakan sikap rasa senang atau loyalitas diri anggota terhadap organisasi yang menaunginya. Sikap komitmen afektif dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu budaya yang ada di dalam organisasi, situasi atau iklim organisasi/iklim kerja dan motivasi yang di berikan pihak manajemen organisasi terhadap anggota organisasi. Ketiga hal tersebut sangat mempengaruhi komitmen afektif seorang Kata Kunci: Budaya Organisasi. Iklim Kerja. Motivasi Kerja dan Komitmen Afektif Pendahuluan Organisasi adalah kumpulan dari dua orang atau lebih yang mengikatkan diri dengan suatu tujuan untuk bersama-sama secara sadar serta dengan hubungan kerja yang rasional untuk mencapai Eksistensi kemunduran atau perkembangan, setiap anggota organisasi pasti mengharapkan organisasinya terus berkembang sesuai tujuan organisasi tersebut. Perkembangan organisasi yang diharapkan ARAYANI Al-Mabhats with CC BY-SA license. Copyright A 2020, the author. AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. bukan saja sekedar cita-cita tanpa adanya usaha dari stekholder dari Pengembangan meningkatkan efektivitas keorganisasian dengan mengintegrasikan keinginan bersama antar anggotanya pada pertumbuhan dan perkembangan dengan tujuan keorganisasian. Manfaat organisasi sebenarnya ada berbagai macam. Organisasi sendiri sebenarnya merupakan tempat bagi sekumpulan orang yang memiliki tujuan sama. Jadi ada banyak hal yang bisa kita lakukan dan dapatkan dari berorganisasi seperti kita dapat banyak hal yang menambah pengalaman dan ilmu yang pengetahuan. Beberapa manfaat organisasi diantaranya mencapai tujuan bersama, mendapatkan informasi, mendapatkan keuntungan pribadi, mengembangan sikap kerjasama antar anggota, dan memanajemenkan waktu yang kita miliki. Fenomena yang terjadi ialah organisasi ditengah masyarakat sangat banyak, akan tetapi satu persatu organisasi tersebut ditinggalkan anggotanya, redupnya eksistensi organisasi dapat menyebabnya organisasi tersebut punah. Banyaknya terpendam ideide masyarakat menjadikan lingkungan sosial kurang kondusib bagi perkembangan pola fikir masyarakat. Masyarakat yang memiliki banyak ide-ide harus memiliki tempat untuk diwujudkan, tidak jarang ide masyarakat dapat membantu perkembangan dan kemajuan pendidikan ataupun budaya masyarakat, untuk itu di perjalanannya sehingga dapat menjadi wadah mengekpresikan ide Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Organisasi yang kokoh yang tak lekang dimakan waktu adalah organisasi atau lembaga yang diharapkan masyarakat. Mempertahankan organisasi atau lembaga perlu beberapa unsur diantaranya SDM . umber daya manusi. SDA . umber daya ala. , pembiayaan dan komitmen dalam organisasi. Komitmen organisasi adalah sifat hubungan seseorang dengan organisasi dengan memperlihatkan ciri-ciri menerima nilai-nilai dan tujuan organisasi, mempunyai keinginan berbuat untuk organisasinya, dan mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap bersama dengan organisasinya Mowday. Porter dan Streers dalam (Munandar, 2004: . Menjaga eksistensi organisasi masyarakat, para anggota dalam organisasi tersebut harus memiliki komitmen afektif atau loyalitas terhadap Organisasi akan maju dengan adanya komitmen afektif Salah satu menumbuhkan komitmen afektif ialah budaya Organisasi harus mampu mengajak anggotanya terutama anggota baru untuk melakukan penyesuaian terhadap budaya organisasi yang menjadi pedoman dalam pencapaian komitmen organisasional yang tinggi (Sutrisno, 2011:. Budaya organisasi merupakan peraturan-peraturan atau kebiasaan-kebiasan yang harus dilaksanakan dalam menjalankan aktivitas organisasi baik dalam mengambil sikap atau mengatasi situasi sulit dalam organisasi. Adanya aturan ini menjadi rambu-rambu yang harus diikuti oleh masyarakat yang menjadi bagian organisasi tersebut, adakalanya seseorang tersebut menerima adanya tidak menerima, budaya ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. organisasi yang terbentuk juga mempengaruhi komitmen afektif seseorang yaitu rasa senang atau loyal terhadap organisasi. Iklim organisasi . klim kerj. yaitu situasi yang terjadi atau tercipta dalam organisasi, yang termasuk iklim kerja yaitu, manajemen yang dijalankan pemimpin organisasi atau pihak manajemen, kebijakan atau keputusan yang dijalankan, dan pola kepemimpinan didalam organisasi tersebut. Iklim kerja yang baik dan nyaman bagi seseorang tentunya membuat seseorang memiliki rasa senang berada dalam organisasi tersebut yang diharapkan meningkatnya komitmen afektif dalam diri anggotanya. Selanjutnya hal yang dapat mempengaruhi komitmen afektif anggota organisasi ialah motivasi kerja. Motivasi adalah dorongan yang membuat seseorang ingin melakukan sesuatu karena rasa senang dan cinta, rasa senang dan cinta ini mempengaruhi kemauan seseorang untuk melakukan aktivitas. Motivasi organisasi ialah motivasi yang berasalkan dari pemimpin, rekan kerja dan dari dalam diri seseorang. Berdasarkan uaraian latar belakang di atas perlunya memahami bagaimana pengaruh budaya organisasi, iklim kerja dan motivasi kerja terhadap komitmen afektif dalam berorganisasi agar setiap individu memahami dan menumbuhkan komitmen afektif dalam dirinya, sehingga dapat meningkatkan eksistensi organisasi atau lembaga dalam mempertahankan perkembagan organisasi Budaya Organisasi Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Budaya Koentjaraningrat mengemukakan bahwa. Aukebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik dari manusia dari hasil belajarAy. Sedangkan menurut E. Tylor dalam (Rajabar, 2. kebudayaan adalah hal yang mencangkup pengetahuan, kepercayaan, moral, hukum, kesenian, adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan yang Kemudian berkumpul yang memiliki visi, misi dan tujuan yang sama yang ingin Maka dalam berorganisasi timbulah yang dinamakan budaya organisasi. Budaya organisasi adalah serangkaian aturan atau normanorma yang diatur dalam organisasi tertentu yang harus diterima para anggota untuk diterapkan dalam menjalankan aktivitas organisasi baik mengambil kebijakan dalam organisasi ataupun mengatasi masalah-masalah yang dihadapi organisasi tersebut. Gusti Ayu dan Ida Bagus, . Budaya organisasi merupakan nilai-nilai sosial yang ada dalam suatu organisasi yang dijadikan pedoman atau petunjuk anggota organisasi dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi baik di dalam maupun diluar organisasi dengan melakukan penanaman nilai-nilai saat pertama bergabung menjadi anggota pada organisasi tersebut. Menurut Schein . , budaya organisasi adalah pola dasar yang harus diterima oleh anggota organisasi untuk bertindak dan memecahkan masalah, membentuk ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. anggota-anggota Mangkunegara . , menyimpulkan bahwa budaya organisasi adalah seperangkat asumsi atau keyakinan, nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan tingkah laku anggota-anggotanya eksternal dan integrasi internal. Penanaman nilai-nilai budaya organsasi berawal dari bagaimana pendiri organisasi atau lembaga membuat perilaku yang memuat budaya organisasi seperti apa tujuan dan yang akan dikembangkan pada organisasi tersebut. Budaya organisasi memiliki pengaruh yang begitu kuat pada anggotanya yaitu perilaku dan sikap. Budaya organisasi melibatkan standar dan norma-norma yang mengatur bagaimana para anggota harus berperilaku dalam organisasi sesuai dengan standar dan normanorma yang mengaturnya (Martins, 2. Adapun budaya organisasia memiliki karakteristik yang melingkupinya, menurut Robbins . karakteristik budaya organisasi adalah sebagai berikut: Inovasi dan keberanian mengambil resiko. Anggota organisasi diberikan stimulus atau dorongan untuk dapat Sejauhmana yang diberikan stimulus pada anggota organisasi tersebut menentukan besarnya inovasi dan keberanian tiap anggota sehingga menjadi ciri khas atau budaya dari suatu organisasi tersebut. Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Perhatian pada hal-hal rinci/detail. Anggota organisasi diharapkan menjalankan kecermatan atau precision, analisis dan perhatian pada hal - hal detail proses kegiatan atau kemungkinan hambatan yang terjadi yang mengganggu proses aktivitas organisasi. Stabilitas. Kegiatan-kegiatan secara kontinyu terencana dan terarah agar stabilitas kegiatan organisasi berjalan dengan lancar. Pentinggnya perhatian pada hal-hal yang menghambat stabilitas hal-hal organisasi secara rinci. Orientasi pada hasil atau tercapainya tujuan. Pihak manajemen lebih fokus pada hasil tercapainya tujuan dari pada teknik atau proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut. Proses dan tekhnik yang digunakan anggota organisasi dilaksanakan bebas sesuai inovasi anggota akan tetapi, masih dalam koridor batasan atauran pihak . Orientasi pada pribadi anggota. Orientasi ini berkaitan keputusan-keputusan mempertimbangkan efek dari hasil tersebut terhadap anggota-anggota yang ada didalam organisasi. Orientasi pada tim. Kegiatan-kegiatan atau aktivitas kerja pada organisasi lebih dominan dilaksanakan secara tim daripada individu-individu. ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Keagresifan Sikap kompetitif daripada santai dari anggota-anggota organisasi sangat diharapkan dalam organisasi sebab menentukan kemuajuan dan kesuksesan organisasi tersebut. Karakteristik budaya organisasi menunjukkan karakter organisasi itu sendiri sehingga segala karakteristik terkadang menjadi identitas atau nilai jual organisasi pada masyarakat, sehingga menentukan besar kecilnya kepercayaan masyarakat lain terhadap organisasi. Menurut Robbins . , menyatakan bahwa budaya menjalankan sejumlah fungsi di dalam sebuah organisasi . Budaya mempunyai suatu peran menetapkan batas, yang artinya budaya menciptakan perbedaan yang jelas antara satu organisasi dengan organisasi yang lain. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota . Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan pribadi seseorang. Budaya memantapkan sistem sosial, yang artinya merupakan organisasi dengan memberikan standarah -standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para . Budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para anggotanya. Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Budaya organisasi memiliki peranan yang begitu penting untuk organisasi, dimana budaya organisasi berfungsi sebagai anggotanya seperti identitas, organisasi bergerak dalam bidang apa, peraturan yang diterapkan, payung hukum yang menaunginya dan hak serta kewajibanya yang harus dijalankan anggotanya. Hal tersebut menjadikan setiap individu menentukan persepsinya akan organisasi apakah organisasi sesuai dengan apa yang menjadi harapannya untuk mengembangkan misi dan visi yang ingin dijalankan atau sebaliknya individu tersebut tidak sepemahaman dengan budaya organisasi yang diterapkan maka individu tersebut akan meninggalkan organisasi tersebut. Iklim Kerja Iklim kerja . klim kerja dalam organisas. adalah situasi lingkungan dimana para anggota suatu organisasi melakukan pekerjaan mereka (Davis dan Hewstrom, 1. Iklim organisasi adalah serangkaian keadaan lingkungan kerja yang dirasakan secara langsung atau tidak langsung oleh kanggota organisasi atau sifat lingkungan kerja atau lingkungan psikologis dalam organisasi yang dirasakan oleh para pekerja atau anggota organisasi dan dianggap pekerjaanya (Gibson, dkk 1992:. Iklim tersebut mengelilingi dan mempengaruhi segala hal yang bekerja dalam organisasi sehingga iklim dikatakan sebagai suatu konsep yang dinamis, peranannya menjadi penentu kecondongan aktivitas organisasi. Sedangkan menurut Higgins . , iklim organisasi terbentuk oleh kumpulan ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. persepsi dan harapan anggota organisasi terhadap sistem yang berlaku diorganisasi. Pelaksanaan tugas organisasi dalam menghadapi tantangan dibutuhkan iklim organisasi yang kondusif untuk menunjang pelaksanaan tugas, iklim yang kondusif merupakan modal dasar mabi organisasi unytuk menjadikan para anggotanya merasa nyaman, senang dan giat dalam melaksanakan aktivitas-aktivitas Menurut Dessler . iklim organisasi merupakan faktor yang penting dalam pengukuran kepuasan dan kenyamanan kerja sehingga nantinya dapat mempengaruhi tingkat tinggi rendahnya komitmen afektif anggotanya. Iklim organisasi mengacu pada aspek-aspek yang dirasakan oleh anggota organisasi (Armstrong, 2. Litwin dan Stringer . menyatakan dalam penelitiannya terdapat enam dimensi yang digunakan untuk mengukur iklim organisasi, meliputi Struktur. Tanggung Jawab. Identitas. Penghargaan. Kehangatan dan Konflik. Sedangkan Lussier . 5: . mengatakan bahwa ada 7 Tanggung Jawab (Responsibilit. Reward. Warmth. Support. Organizational identity and loyalty, dan Risk. Struktur, struktur yang terbentuk dalam organisasi, apakah terbentuk dan tersusun dengan sistematis dan terarah,yang bidang-bidang terdapat dalam struktur organisasi dan tokoh anggota yang menjabatnya. Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Tanggung Jawab (Responsibilit. , tanggung jawab pihak manajemen organisasi pada setiap kondisi dari anggota yang menyinggung dengan aktivitas organisasi sangatlah memberikan kontribusi iklim yang dinamis terhadap Reward, pemberian hadiah sebagai apresiasi pihak manajemen terhadap anggota yang memiliki kreatifitas dan inivasi dalam aktivitas organisasi. Besarnya Reward biasanya tidak mempengaruhi tetapi pemberian Reward sendiri menjadikan anggota merasa dihargai dan menambah rasa percaya diri. Warmth, hubungan yang hangat dan baik terjalin antar anggota organisasi menjadikan para anggota menjadi lebih mudah menyatukan persepsi atau tindakan yang persaudaraan dan rasa saling mendukung antar anggota. Support, pihak manajemen selalu memberikan motivasi yang baik pada anggotanya ketika menjalankan aktivitas organisasi, motivasi yang selalu menumbuhkan semangat membangun organisasi untuk mencapai tujuan. Organizational identity and loyalty, bagaimana identitas organisasi, seperti bergerak dalam bidang apa dibawah terhadap anggotanya menjadikan organisasi tersebut mendukung perkembangan organisasi tersebut. ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Risk, konflik atau resiko yang terdapat dalam organisasi apakah besar atau kecil menurut anggota memicu kenyaman anggota organisasi nyaman bekerja atau melaksanakan aktivitas organisasi. Berdasarkan uaraian dimensi iklim organisasi di atas dapat diambil kesimpulan bahawa iklim organisasi dapat diciptakan seperti struktur. Tanggung Jawab (Responsibilit. Reward. Warmth. Support, dan Organizational identity and loyalty, sedangkan dimensi Risk dapat diminimalisir dari pihak manajemen organisasi, sehingga akan tercipta iklim organisasi yang kondusib yang diterima oleh seluruh anggota organisasinya. Motivasi Kerja Motivasi merupakan dorongan atau keinginan seseorang dengan rasa suka cita terhadap sesuatu dan ada keinginan kuat untuk mencapai sesuatu itu. Setiap anggota atau karyawan dalam lembaga atau organisasi diharapkan memiliki motivasi kerja yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kualitas kerja yang baik. Motivasi kerja adalah dorongan dari dalam diri seseorang untuk melaksanakan tugas yang ingin dilakukannya (Khan dan Mufti. Menurut Hasibuan . motivasi adalah pemberian daya penggerak yang menciptakan rasa gairah kerja seseorang, agar mereka mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upayanya untuk mencapai kepuasan. Secara menggerakkan atau menggugah seseorang agar timbul keinginan dan kemauannya untuk melakukan sesuatu sehingga Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. memperoleh hasil atau mencapai tujuan tertentu (Purwanto, 2006:. Motivasi kerja bertujuan menggerakkan dengan memberi semangat dalam diri agar persepsi anggota ingin melaksanakan tugas organisasi dengan penuh semangat dan ikhlas, motivasi ini mempengaruhi alam bawah sadar individu untuk memiliki tenaga dan fikirannya untuk menjalankan setiap tugas-tugas organisasi. Pentingnya motivasi menuntut pihak manajemen untuk memberikan perhatian untuk para karyawan atau anggota organisasi dalam bekerja dan beraktivitas dengan cara melakukan usaha pemotivasian pada anggota organisasi atau lembaga, melalui serangkaian usaha tertentu sesuai dengan kebijaksanaan lembaga atau organisasi, sehingga motivasi dalam bekerja akan tetap terjaga. Motivasi tidak hanya berasal dari pimpinan saja . tapi juga pada antar anggota . yang digunakan untuk melancarkan aktivitas untuk mencapai tujuan organisasi yang ada. Kemudian motivasi dari diri sendiri maupun pihak manajemen maka tujuan yang diinginkan oleh perusahaan bisa tercapai dengan baik, sehingga kreaktivitas dan prestasi anggotanya menjadi lebih meningkat (Putri. Faktor yang menyebabkan besar kecilnya motivasi kerja. Menurut Herzberg dalam Siagian . 2: . , bahwaanggota organisasi termotivasi untuk bekerja dan beraktivitas didalam organisasi disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor yang timbul dari dalam diri masing-masing pribadi seseorang, berupa: ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. pekerjaan itu sendiri, apakah pekerjaan atau aktivitas yang ada di dalam organisasi sesuai dengan keahlian atau melaksanakannya sehingga menimbulkan motivasi pada diri seseorang tersebut untuk melaksanakan aktivitas . Prestasi, setiap anggota organisasi atau karyawan pada organisasi perusahaan memiliki impian untuk jenjang karir yang lebih baik. Ketika didalam organisasi walaupun bergerak dalam bidang sosial masyarakat memberikan peluang bagi para anggitanya untuk mengembangkan kemampuan dirinya, sehingga menjadikannya mendapat pengalaman dan peluang karir sebab mendapatkan Adanya peluang untuk mengembangkan karir bagi motivasi kerja yang kuat. Tanggung jawab, banyak atau sedikitnya tanggung jawab seorang karyawan tergantung pada jabatan masing Ae Semakin tinggi jabatan seseorang, maka semakin banyak pula tanggung jawabnya. Karena itu, semakin banyak tanggung jawab yang diberikan kepada seseorang maka semakin besar pula motivasi yang timbul dari dalam dirinya untuk mengerjakan tanggung jawab Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Penghargaan, pimpinan memberikan apresiasi kepada anggotanya, dengan tujuan motivasi para anggota dalam menjalankan aktivitasnya selalu semangat dan termotivasi untuk giat menjalankan aktivitas organisasi. Kesuksesan, keberhasilan atau kesuksesan anggota dalam menjalankan tugasnya dalam organisasi dalam mencapai targetnya akan membuatnya mencapai tingkat kepuasan organiasi yang didambakannya. Faktor ekstrinsik yaitu faktor yang timbul dari luar diri lingkungan sosial seseorang. Faktor ini meliputi yaitu: Manajemen organisasi, kesesuaian yang dirasakan anggota terhadap semua kebijakan dan peraturan yang berlaku dalam organisasi membuat anggotanya nyaman dalam melaksanakan tugasnya. Penyeliaan. Motivasi anggota organisasi tinggi bila memiliki pemimpin yang selalu mendukung dan dapat diandalkan sehingga bisa dijadikan sebagai panutan dalam berkarir atau bertindak. Keuntungan, keuntungan bisa jadi macam-macam disini tergantung organisasinya, keuntungan yang dimaksud ialah keuntungan untuk diri pribadi anggota organisasi bisa berupa uang, jabatan, kepercayaan masyarakat ARAYANI Dengan AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. keuntungan tersebut membuat anggota termotivasi untuk selalu giat beraktivitas karena sesuai harapan yang . Kondisi organisasi. Jika kondisi organisasi seperti suasana aktivitas, lingkungan, seragam, dan fasilitas kerja tersedia dengan baik maka akan berdampak pada motivasi bagi Motivasi mempersoalkan bagaimana caranya menggerakan daya dan potensi pada anggotanya, agar mau melaksanakan tugas kerja sama produktif, berhasil mencapai dan mewujudkan tujuan yang telah ditentukan. Akan tetapi motivasi memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya agar tetap hidup dan stabil, para pihak pengurus atau pemimpin organisasi harus mengetahui dan mencoba menghadirkan faktor-faktor tersebut agar jalannya organisasi tetap dinamis kerana memiliki angota-angota yang memiliki semagat yang tinggi dalam berorganisasi. Komitmen Afektif Mowday. Porter dan Streers menyebutkan bahwa komitmen organisasi adalah sifat hubungan seseorang dengan organisasi dengan memperlihatkan ciri-ciri menerima nilai-nilai dan tujuan organisasi, mempunyai keinginan berbuat untuk organisasinya, dan mempunyai keinginan yang kuat untuk tetap bersama dengan organisasinya (Munandar, 2004: . Komitmen organisasi memiliki 3 . oyalitas organisas. , komitmen normatif . asa tanggungjawab seseorang . asa Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. organisasi/kebermanfaatan seseoran. , namun dalam hal ini pembahasan mengerucut tentang komitmen afektif. Komitmen afektif berkaitan dengan emosional, identifikasi, dan keterlibatan seseorang di dalam suatu organisasi. dengan afektif tinggi masih bergabung dengan organisasi karena keinginan untuk tetap menjadi anggota organisasi (Allen dan Meyer. Hartmann dan Bambacas . menyatakan bahwa komitmen merupakan perasaan yang mengacu memiliki, merasa terikat kepada organisasi dan kepada perasaan telah memiliki hubungan dengan karakteristik pribadi, struktur organisasi, dalam perusahaan pengalaman bekerja misalnya gaji, pengawasan, kejelasan peran, serta berbagai keterampilan. Buchanan . alam Allen dan Meyer, 1. menjelaskan komitmen afektif sebagai partisipasi seseorang terhadap tujuan dan nilai organisasi dengan berdasarkan pada ikatan psikologis antara seseorang tersebut dengan organisasi Menurut Han et al. , . 2: . Komitmen afektif dapat dikatakan sebagai penentu yang penting atas dedikasi dan loyalitas seorang anggota organisasi. Beberapa contoh prilaku komitmen afektif anggota organisasi yaitu diantanya. Senang menghabiskan karir di perusahaan/organisasi. Senang membicara kanorganisasi besama rekan kerja saat sedang tidak bekerja atau beraktifitas. Merasa masalah yang dihadapi perusahaan adalah masalahnya juga. ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Merasa . Merasa bahwa perusahaan dan orang-orang di dalamnya seperti bagian dari keluarganya sendiri. Merasa sangat menyatu secara emosional dengan . Organisasi memiliki makna mendalam bagi dirinya. Merasa bagian dari organisasi. (Allen dan Meyer, 1. Komitmen afektif ini terbentuk sebagai hasil dari organisasi yang dapat membuat seseorang atau anggotanya keyakinan yang kuat untuk mengikuti segala nilai Aenilai organisasi, dan berusaha untuk mewujudkan tujuan organisasi sebagai prioritas keanggotaannya (Han et al. , 2012: . Indikator dari Komitmen Afektif (Meyer et al. , 1. adalah: . loyalitas, rasa bangga terhadap Ikut pengembangan organisasi. Menganggap organisasinya adalah yang terbaik, dan . Terikat secara emosional pada organisasi tempat Pengaruh Budaya Organisasi. Iklim Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Komitmen Afektif Komitmen afektif dalam Affective Event Theory yang dikemukakan oleh Robbins and Judge . menunjukkan bahwa seseorang . bereaksi secara emosional pada hal-hal yang terjadi di tempat organisasi atau tempat kerja, dan reaksi ini mempengaruhi kinerja dan kepuasan mereka. Teori ini dimulai Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dengan mengenali bahwa emosi adalah respon atas peristiwa di lingkungan organisasi/kerja. Lingkungan organisasi mencakup semua yang mengelilingi seluruh aktivitas organisasi tersebut, yang meliputi ragam tugas dan tingkat otonomi, tuntutan pekerjaan, serta tuntutan untuk mengekspresikan emosi anggotanya. Lingkungan ini menciptakan peristiwa-peristiwa aktivitas yang bisa saja berupa peristiwayang menjengkelkan, menyenangkan, atau keduanya. Contoh peristiwa yang menjengkelkan seperti rekan sesama anggota organisasi yang satu tim tidak mau bekerja sama sesuai dengan kesepakatan kerja atau perencanaan tugas organisasi, bentroknya arahan dari manajer yang berbeda, dan tekanan waktu yang berlebihan. Peristiwa yang menyenangkan meliputi mencapai sasaran, motivasi dari rekan organisasi atau dari pimpinan pihak manajemen, dan menerima apresiasi atas suatu pencapaian. Kesimpulannya Affective Event Theory menampilkann dua pesan Emosi memberikan pandangan yang berharga tentang bagaimana peristiwa yang menyedihkan dan menyenangkan di lingkungan organisasi mempengaruhi kinerja dan Anggota dan pimpinan seharusnya tidak mengabaikan emosi atau peristiwa yang menyebabkan perasaan itu muncul, walapun mereka tampaknya sepele, tetapi mereka akan Pentingnya komitmen afektif dalam berorganisasi, sehingga ARAYANI hal-hal AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Besarnya komitemen afektif anggota dalam organisasi dipengaruhi diantaranya, budaya organisasi, iklim kerja dan motivasi kerja para anggotanya. Budaya organisasi Budaya organisasi merupakan prilaku atau sikap yang ditetapkan berdasarkan norma-norma atau aturan yang berlaku ditengah masyarakat organisasi yang dijadikan identitas bagi organisasi dalam melaksanakan aktivitas organisasi demi mencapai tujuan organisasi. Budaya organisasi yang memiliki fungsi sebagai identitas atau aturan-aturan yang harus diikuti setiap anggota organisasi mempengaruhi komitmen afektif anggota dari organisasi. Budaya organisasi yang tercipta apakah sesuai atau bisa diterima oleh anggota tersebut, budaya organisasi yang dirasa mudah menimbulkan komitmen afektif yang baik pada organisasi tersebut. Hal tersebut dapat dibahami bagaimana peranan Ae peranan budaya dalam organisasi. Peranan budaya organisasi sebagai menetapkan batasan. Batasan disini berupa aturan tata tertib dan kelaziman yang dijalankan organisasi sejak awal organisasi didirikan. Akan tetapi ada juga batasan ini diubah oleh pemimpin ketika terjadi pergantian kepemimpinan, bisa jadi batasan yang diberi terasa lebih baik ataupun malah membuat anggotanya merasa tidak nyaman dengan pergantian aturan batasan ini. Ketika aturan yang menjadi batasan tidak bigitu diterima oleh anggota inilah yang menyebabkan anggota tidak lagi merasa senang terhadap organisasi. Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Peranan budaya organisasi sebagai suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi. Ketika seseorang bergabung dalam organisasi ia sudah melihat seluk beluk organisasi tersebut sehingga individu tersebut menginginkan bergabung dengan organisasi. Indentitas dikenal juga ciri khas suatu organisasi, ketika seseorang itu bergabung seseorang tersebut merasa bangga karena merasa bangga dirinya sudah memiliki identitas yang sama dengan organisasi, sehingga individu tersebut menganggap organisasi bagian dari dirinya atau organisasi ada dalam dirinya. Budaya organisasi menimbulkan komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari pada kepentingan pribadi seseorang. Dengan perasaan senang dan merupakan bagian organisasi seseorang tersebut akan mementingkan organisasi yang luas dari pada kepentingan dirinya sendiri. Organisasi lebih memiliki arti dalam hidup seseorang tersebut. Berdasarkan hal di atas, ketika seseorang merasa organisasi sangat memberi arti bagi dirinya akan menimbulkan rasa toleransi terhadap anggota organisasi menjadi lebih tinggi sebab individu tersebut menginginkan kekompakan dalam berorganisasi sehingga memantapkan sistem sosial. Terakhir budaya organisasi berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para anggotanya. Dengan adanya aturan yang tertulis dan tidak tertulis dalam lembaga akan secara tidak langsung memnuntun dan membentuk prilaku dan sikap anggotanya kearah loyalitas yang baik terhadap organisasi. ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Perasaan emosi individu menimbulkan loyalitas yang baik bagi organisasi, sebagaimana penelitian Sri Lasmawati . Budaya organisasi berpengaruh langsung terhadap komitmen afektif guru MTs Negeri di Kabupaten Langkat, artinya semakin baik budaya organisasi maka semakin baik juga komitmen afektif guru MTs Negeri di Kabupaten Langkat. Artinya pada organisasi lembaga pendidikan tersebut memiliki budaya organisasi yang baik sehingga yang menjadi anggotanya yaitu guru memiliki komitmen afektif yang baik pula. Contoh budaya organisasi yang membuat anggotanya merasa senang yaitu, organisasi memiliki visi, misi dan tujuan yang sesuai dengan hal yang ingin digeluti individu peraturan dan kebijakan yang konsisten dalam menghadapi seluruh aktivitas atau permasalahan yang terjadi dilingkungan organisasi. Dengan budaya organisasi dapat menimbulkan prilakuprilaku yang menggarah komitmen afektif seseorang dengan sikap dan prilaku seperti: . individu menganggap organisasi bagian dari dirinya atau organisasi ada dalam dirinya, . seseorang merasa organisasi sangat memberi arti bagi dirinya akan menimbulkan rasa toleransi terhadap anggota organisasi, . organisasi berfungsi sebagai mekanisme pembuat makna dan pemberi makna pabi dirinya, . budaya organisasi menimbulkan komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari pada kepentingan pribadi seseorang, . merasa organisasi sebagai komitmen pada sesuatu yang lebih luas dari pada kepentingan pribadi seseorang, dan . seseorang yang merasa organisasi merupakan bagian dari dirinya. Seluruh sikap-sikap Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. tersebut merupakan sikap komitmen afektif yang harus ada didalam Iklim kerja . Menurut Brown dan Leigh . mengatakan bahwa iklim organisasi menjadi sangat penting karena organisasi yang dapat menciptakan lingkungan dimana anggotanya merasa nyaman dapat mencapai potensi yang penuh dalam melihat kunci dari keunggulan Pentingnya menciptakan iklim organisasi disebabkan karena iklim organisasi ini merupakan persepsi anggota atau masyarakat tentang apa yang diberikan oleh organisasi dan dijadikan dasar sebagai penentuan tingkah laku anggota selanjutnya. Iklim organisasi ditentukan oleh seberapa baik anggota diarahkan. Iklim menunjukkan persepsi, perasaan dan sikap anggota organisasi yang mencerminkan norma-norma, nilai-nilai, sikap dan budaya dari organisasi (Castro dan Martins, 2. Dengan aturan-aturan, norma-norma organisasi yang ada pada organisasi tertentu melahirkan situasi atau iklim organisasi berupa persepsi, perasaan dan sikap terhadap Persepsi, menentukan seseorang merasa nyaman, memiliki persamaan visi dan misi didalam organisasi sehingga timbulnya kecintaan terhadap organisasi atau komitmen afektif. Iklim organisasi ini dapat dilihat sebagai variabel kunci kesuksesan organisasi. Iklim organisasi merujuk kepada berbagai pengaruh lingkungan seperti lingkungan psikologis, pengaruh sosial. ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. pengaruh organisasi dan pengaruh situasi terhadap perilaku anggotanya (Argyris, 2. Lingkungan seseorang yang berasal dari watak bawaan bercampur dengan kondisi lingkungan yang mempengaruhi psikologinya. Dalam hal ini didikan orang tua menjadi peran terbesar bagi seseorang memiliki lingkungan psikologi yang baik, kondisi kejiwaan yang matang dan percaya diri terhadap dirinya sehingga berani mengungkapkan gagasan atau ide demi kemajuan yang dia inginkan didalam Pengaruh sosial merupakan pengaruh tatanan kehidupan sosial seseorang ditengah-tengah masyarakat yang memiliki budaya masyarakat yang kental. Seseorang akan menjadi orang yang huble dalam pergaulan dan menarik perhatian orang ketika dia berbicara merupakan seseorang yang hidup dilingkungan sosial yang selalu melatihnya bergaul secara dan selalu dihargai kehadirannya ditengah-tengah masyarakat sehingga seseorang tersebut belajar sosial bagaimana menghargai orang lain dan menolong sesama dan bekerja sama. Sehingga sikap ini yang akan dibawa juga ditengahtengaah organisasi. Pengaruh organisasi yaitu pengaruh yang berasal dari budaya organisasi, aturan dan norma-norma serta kebijakan dari organisasi, serta sikap oraang-orang yang ada didalam organisasi. Pengaruh organisasi daapat mengalahkan pengaruh sosial seseorang, dimana karakter yang terbentuk dalam diri seseorang akan berubah ketika memiliki lingkungan organisasi yang bertentangan terhadap Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. dirinya akan tetapi individu tersebut merasa perlu tetap berada didalam organisasi tersebut walaupun bertentangan dengan karakter Iklim organisasi yang terbentuk individu merasa perlu dengan organisasi. Komitmen afektif juga ditunjukkaan dengan sikap seseorang yang merasa perlu terhadap organisasi tertentu yang diyakini seseorang tersebut, walaupun harus merubah persepsi hidup individu tersebut. Individu tersebut harus senang dengan iklim organisasi tersebut karena ia membutuhkan organisasi dalam Anggota yang merasa senang terhadap iklim organisasi akan menunjukan kinerja sesuai tujuan perusahaan, sebaliknya karyawan yang tidak merasa puas dengan iklim organisasi tempatnya bekerja maka akan berpengaruh pada turunnya produktifitas dan kinerja karyawan (Wirawan, 2. Beberapa bukti menunjukkan pengaruh iklim organisasi mempengaruhi komiten afektif dalam organisasi lembaga seperti yang diungkapkan beberapa peneliti dan para ahli berikut. Studi Clercq dan Rius . pada perusahaan kecil dan menengah di Mexico menunjukkan bahwa adanya pengaruh iklim organisasi yang positif dan signifikan terhadap komitmen afektif organisasional. Pati dan Reilly . menyatakan iklim organisasi memiliki hubungan positif terhadap komitmen afektif ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Ruth . menemukan dampak positif iklim organisasi dan komitmen organisasional secara signifikan pada karyawan di Southwest. Sanguansak . dalam penelitian yang dilakukan telekomunikasi di Thailand mengungkapkan iklim organisasi mempunyai hubungan yang positif terhadap komitmen afektif organisasional. Hanan et al. menyatakan adanya keterkaitan iklim organisasi dan komitmen afektif organisasional secara positif dan signifikan pada Universitas Mansoura di Mesir. Uraian diatas menunjukkan iklim organisasi atau iklim kerja menentukan situasi yang tercipta dilingkungan organisasi atau lembaga yang akan mempengaruhi komitmen afektif individu di lingkungan organisasi tersebut. Motivasi kerja . Motivasi kerja merupakan dorongan dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas kerja didalam organisasi. Motivasi sangat penting karena motivasi merupakan hal yang menyebabkan. Herzberg memperluas dan mengembangkan hasil karya Maslow menjadi suatu teori yang khusus dapat diterapkan untuk motivasi kerja. Menurut Herzberg . alam Soesanto, 2006:. menyatakan 2 faktor yaitu faktor motivator yaitu bentuk-bentuk kepuasan dalam melakukan aktivitas atau pekerjaan yang berkaitan dengan isi pekerjaan . ktivitas itu Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. , dan faktor heigienis merupakan perasaan ketidakpuasan dalam konteks dari pekerjaan. Motivator adalah orang yang memberikan motivasi, dalam organisasi motivator berasal dari pemimpin organisasi dan rekan Motivator ini memberikan motivasi baik secara lisan, tulisan ataupun tindakan yang berupa keteladanan bagi anggotanya. Contohnya rekan kerja atau sesama anggota organisasi yang memiliki semangat tinggi dan pekerja keras serta pantang semangat akan mempengaruhi anggota lainnya atau rekan kerjanya, sehingga menimbulkan motivasi dalam bekerja. heigienis atau perasaan ketidakpuasan dalam hal yang dikerjakan, atau perasaan yang tidak puas terhadap tugas yang diberikan bisa jadi karena tugas pekerjaan yang terlalu ringan sehingga tidak menantang kompetensi dalam diri yang mengerjakannya. Atau rasa ketidakpuasan dikarenakan tugas pekerja. , sehingga membuatnya merasa berat dan tidak termotivasi untuk mengejakan pekerjaannya. Kemudian Herzberg . alam Sanusi, 2012: . menjelaskan lebih lanjut, jika kebutuhan higinis tidak dipenuhi maka pekerja akan tidak puas, namun apabila kebutuhan tersebut dipenuhi maka para pekerja tidak akan kecewa. Namun, pemenuhan kebutuhan ini tidak menghasilkan tingkat motivasi yang tinggi, agar tingkat motivasi tinggi maka kebutuhan anggota harus dipenuhi sebagai amunisi Sri Lasmawati . Motivasi kerja berpengaruh langsung terhadap komitmen afektif guru MTs Negeri di Kabupaten Langkat. ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. artinya semakin baik motivasi kerja maka semakin baik juga komitmen afektif guru MTs Negeri di Kabupaten Langkat. Menurut sri Lasmawati menunjukkan bukti bahwa motivasi kerja atau motivasi dalam organisasi sangat mempengarhi komitmen afektif. Menumbuhkan motivasi organisasi dapat melalui faktor-faktor yang mempengaruhinya baik faktor dari dalam atau luar lingkungan organisasi, dengan menghadirkan atau memberikan didalam diri individu atau anggota organisasi. Motivasi organisasi yang tumbuh dalam diri individu menyebabkan individu tersebut akan merasa senang dan betah berkecipung di dalam organisasi, akan mempertaruhkan dirinya terhadap kepentingan organisasi baik secara materi ataupun non materi sebab individu tersebut merasa bagian dari organisasi, disinilah letak nilai kompetensi afektif yang baik dalam diri seseorang atau individu yang memberikan kontribusi terhadap perkembangan atau kelanggengan suatu organisasi atau lembaga. Kesimpulan Peran komitmen afektif menghadirkan suasana emosi yang menimbulkan rasa loyalitas seseorang terhadap organisasi. Adapun yang mempengaruhi komitmen afektif ini ialah budaya organisasi, iklim kerja atau iklim organisasi dan motivasi organisasi. Budaya organisasi yang merupakan peraturan yang telah tersistem oleh organisasi tertentu yang bisa diterima dengan baik oleh anggota organisasi tersebut, sehingga menimbulkan rasa cinta dan loyal kepada organisasi. Iklim kerja merupakan situasi atau kondisi yang telah diciptakan ataupun tercipta dengan sendirinya oleh pemimpin Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. organisasi yang mempengaruhi anggota didalamnya. Motivasi anggotanya untuk mengerahkan daya dan upaya anggota-anggota untuk memberikan kreatifitas atau kinerja yang baik dalam Ketiga unsur tersebut merupakan unsur yang sangat mempengaruhi komitmen afektif seorang anggota organisasi, keberlangsungan atau perkembangan organisasi dalam mencapai ARAYANI AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Kepustakaan Ayu. Gusti dan Bagus. Ida. Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Komitmen Organisasi dan Organizational Silence pada PT. PLN (Perser. Rayon Denpasar. Education Jurnal Manajemen, (Bali: Unud. Vol. 6 nomor 1. Anwar. Sanusi. Pengaruh Motivasi Kerja dan Iklim Komunikasi Organisasi terhadap Komitmen Organisasi Pegawai Arsip Nasional Republik Indonesia. Jurnal Tesis. (Jakarta: Program Studi Magister Komunikasi Fisip UI. Allen. and Meyer. AuThe Measurement and Antecedents of Affective, continuance and Normative CommitmentAy. Journal of Occupational Psychology . Brown. , & Leigh. A new look at psychological climate and its relationship to job involvement, effort, and performance. Journal of Applied Psychology, . Chen. , et al. AuEnzimatic hydrolisis of corncob and ethanol hydrolisateAy. International Biodeterioration & Biodegradation. Vol. Dessler. Gary. Manajemen Sumber Daya Manusia, (Jakarta :Edisi Kesepuluh Jilid Dua PT Indeks, 2. Gibson, dkk. Organisasi, perilaku, struktur, proses. (Jakarta: Bina Rupa Aksara, 1. Han. Nugroho. Kartika. Kaihatu. Komitmen afektif dalam organisasi yang dipengaruhi perceived organizational support dan kepuasan kerja. Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, edisi 14 volume 2. Hasibuan. Melayu. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bumi Aksara, 2. Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Kurniasari. Devi dan Abdul Halim. AuPengaruh Lingkungan Kerja dan Iklim Organisasi Terhadap Komitmen Organisasi Melalui Kepuasan Kerja Karyawan Pada Dinas Pasar Unit Pasar Tanjung Kabupaten Jember,Ay Jurnal Ilmu Ekonomi, . Vol. No. Khan. Mufti. Effect of compensation on motivating employees inpublic and private banks of peshawar (BOK and UBL). Journal of Basic and Applied J. Basic. Appl. Sci. Res. Vol. No. Lussier. Robert. Human Relations in Organization. Applications and Skill Building. (New York : Mc Graw Hill, 2. Munandar. Sjabadhyni. Wutun. Peran budaya organisasi dalam peningkatan kinerja perusahaan. ( Depok: PIO Fakultas Psikologi UI,2. Meyer. JP, dan Allen N. A Three Component Conceptualization of komitmen organisasional. Human Resource Management Review( Meyer. John. Natalie Allen dan Catherine A. Smith. Commitment to Organizational and Occupation : Extention and Test of a Three Component Conceptualizational. Journal Applied Psychology. edisi 78 volume 4. Purwanto. Psikologi Rosdakarya, 2. (Bandung PT. Remaja Putri. Hubungan motivasi dengan komitmen organisasi: kasus pada karyawan pada PT. Sucofindo cabang Dumai. Jom FISIP. Vol. No. Ranjabar. Sistem Sosial Budaya Indonesia, (Yogyakarta: Ghaila, 2. Robbins. Stephen P. Perilaku Organisasi Diterjemahkan oleh Tim Index Jilid II Edisi 9. (Gramedia: Jakarta, 2. Robbins. Stephen & Timothy (Jakarta:Salemba Empat, 2. ARAYANI Judge. Perilaku Organisasi. AlJurnalAePenelitian Mabhats Sosial Agama Vol. 5 No. Sutrisno. Edy. Manajemen Sumber Daya Manusia. (Jakarta: Kencana. Schein. Organizational culture and leadership, (San Francisco: JosseyBas, 2. Pengaruh Budaya Organsasi. Iklim Kerja dan Motivasi kerja terhadap Komitmen Afektif