Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 401-413 Available at: https://journal. id/index. php/jmdb EISSN: 2797-9555 Dampak pelatihan, pengalaman, dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja karyawan PT. X bagian produksi Plywood Afina Rosse Pawitri. Artha Febriana* Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Dian Nuswantoro. Indonesia *) Korespondensi . -mail: artha. febriana@dsn. Abstract Human resources (HR) plays a crucial role in driving the progress and success of an The abilities, knowledge, and skills of employees have a direct impact on To face increasingly fierce business competition, companies must improve employee productivity to compete quickly and efficiently. This study aims to analyze the impact of training, experience, and physical work environment on employee productivity in PT. Data was gathered from 102 respondents in the plywood production department using a purposive sampling method with a descriptive quantitative approach applied in the study. The impact of training, experience, and the physical work environment on productivity was assessed using multiple linear regression methods. The results of this study show that job training has a significant effect on employee productivity, while experience and physical work environment do not show a significant effect. This indicates that improving skills through training is more effective in driving productivity than work experience and physical working environment Therefore, companies are advised to prioritize training programs on an ongoing basis to improve employee capabilities and work efficiency. Keywords: Job Training. Work Experience. Physical Work Environment. Work Productivity Abstrak Sumber Daya Manusia (SDM) memiliki peran krusial dalam mendorong kemajuan dan keberhasilan organisasi. Kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan karyawan berpengaruh langsung terhadap produktivitas. Untuk menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat, perusahaan perlu meningkatkan produktivitas karyawan agar dapat bersaing secara cepat dan efisien. Tujuan dari kajian ini untuk menganalisis dampak pelatihan, pengalaman, dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas karyawan di PT. Sebanyak 102 responden yang bekerja pada bagian produksi plywood dikumpulkan menggunakan teknik purposive sampling dengan pendekatan kuantitatif deskriptif. Variabel pelatihan, pengalaman dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas diuji menggunakan metode regresi linear berganda guna mengetahui kontribusinya. Hasil dari penelitian ini yaitu pelatihan kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas karyawan, sedangkan pengalaman dan lingkungan kerja fisik tidak berpengaruh terhadap produktivitas. Hal ini mengindikasikan bahwa peningkatan keterampilan, melalui pelatihan lebih efektif dalam mendorong produktivitas dibandingkan dengan pengalaman kerja dan kondisi fisik lingkungan kerja. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk lebih memprioritaskan program pelatihan secara berkelanjutan guna meningkatkan kemampuan dan efisiensi kerja karyawan. Kata kunci: Pelatihan Kerja. Pengalaman Kerja. Lingkungan Kerja Fisik. Produktivitas Kerja How to cite: Pawitri. , & Febriana. Dampak pelatihan, pengalaman, dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas kerja karyawan PT. X bagian produksi Plywood. Journal of Management and Digital Business, 5. , 401-413. https://doi. org/10. 53088/jmdb. Copyright A 2025 by Authors. this is an open-access article under the CC BY-SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 402 Pendahuluan Peranan penting dalam mendorong kemajuan dan keberhasilan suatu organisasi dimainkan oleh Sumber Daya Manusia (SDM). Kemampuan, pengetahuan, serta keterampilan karyawan sangat berpengaruh terhadap tingkat produktivitas organisasi (Sajidin et al. , 2. Cara yang dapat perusahaan lakukan untuk mempertahankan dan menghadapi persaingan bisnis yang ketat adalah dengan meningkatkan produktivtitas mereka (Purwatiningsih et al. , 2. Dengan lebih banyak persaingan maka lebih sulit bagi bisnis untuk menjalankan operasi dengan cepat dan efisien. Pelaksanaan pelatihan kerja berperan penting dalam kemampuan serta pengetahuan karyawan. Semakin sering pelatihan kerja dilakukan, maka semakin baik pula tingkat produktivitas karyawan di perusahaan (Puspitaningrum & Sudarsi, 2. Selain itu, pengalaman kerja juga berperan dalam peningkatan dan perkembangan Karyawan yang memiliki lebih banyak pengalaman akan lebih mahir dalam pekerjaannya (Tamaka et al. , 2. Selanjutnya, lingkungan kerja fisik mencakup berbagai faktor yang berpengaruh pada efektivitas karyawan dalam menjalankan tugas Fitriah & Akbar . Produktivitas kerja sendiri merupakan indikator kemampuan karyawan dalam menghasilkan barang atau jasa dengan kualitas yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan Laksmiari . Produktivitas juga dapat diartikan sebagai perbandingan antara output dan input dalam proses produksi, yang menunjukkan seberapa efisien sumber daya diatur dan dimanfaatkan untuk mencapai hasil yang optimal (Hasibuan, 2. Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan relevansi faktor-faktor ini dalam meningkatkan produktivitas karyawan industri pengolahan kayu. Penelitian oleh Agustyaningrum & Isnowati, . di PT. Kayu Lapis Indonesia menunjukkan bahwa motivasi dan lingkungan kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, sementara beban kerja berdampak negatif. Penelitian lain oleh Hadromi, . di PT. Wahyu Daya Mulia juga mengungkapkan beban kerja dan kompensasi berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, sementara keselamatan kerja memiliki pengaruh Selain itu, penelitian oleh Padli et al. di PT. Wana Cahaya Nugraha, industri kayu lapis di Lumajang menunjukkan bahwa job burnout dan job insecurity berpengaruh signifikan terhadap turnover intention karyawan. Selaras dengan penelitian tersebut, penelitian oleh Widyakto et al. di PT. Artha Kayu mengungkapkan bahwa disiplin kerja dan lingkungan kerja memiliki pengaruh positif terhadap kinerja karyawan, sementara stress kerja tidak berpengaruh. Penelitian oleh Jannah & Damayanti, . di PT. Kayu Multiguna Indonesia Gresik menunjukkan bahwa motivasi kerja dan budaya organisasi memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan, sedangkan lingkungan kerja memiliki pengaruh negatif dan tidak signifikan. Temuan-temuan ini menegaskan bahwa faktor internal seperti disiplin, motivasi, serta faktor eksternal seperti lingkungan kerja dan beban kerja memiliki peran yang beragam dalam menentukan produktivitas dan kinerja karyawan di industri pengolahan kayu. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 403 Penelitian ini menjadi penting karena industri pengolahan kayu khususnya plywood memiliki kontribusi besar dalam perekonomian nasional melalui ekspor dan penyerapan tenaga kerja. Oleh karena itu, produktivitas karyawan menjadi aspek krusial yang perlu diperhatikan guna meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing perusahaan di pasar global. Namun, terdapat keterbatasan dalam penelitian sebelumnya yang lebih banyak menyoroti faktor-faktor lain seperti motivasi, beban kerja, kompensasi, dan keselamatan kerja. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada pengaruh pelatihan kerja, pengalaman kerja, dan lingkungan kerja fisik terhadap produktivitas karyawan yang masih perlu dikaji lebih lanjut dalam konteks industri Upaya peningkatan produktivitas juga berlaku pada PT. X di Kabupaten Kendal yang bergerak dalam bidang pengolahan kayu terutama produksi plywood dengan nilai ekspor tinggi. PT. X sebagai salah satu perusahaan besar industri ini, menghadapi tekanan serupa dalam mempertahankan produktivitas karyawannya untuk mendukung daya saing pasar domestik maupun internasional. 8,000 7,000 6,000 5,000 4,000 3,000 2,000 1,000 Jan Feb Mar Apr May Jun Rencana Jul Aug Sept Oct Nov Dec Realisasi Gambar 1. Data Realisasi Produksi pada PT. X bagian plywood tahun 2023 Sumber: PT. X tahun 2023 Gambar 1 menyajikan data produksi tahun 2023 yang memperlihatkan fluktuasi atau perbedaan antara rencana produksi dan realisasinya. Rencana produksi tersebut didapatkan dari permintaan customer. Pada bulan Januari. April, dan Oktober 2023 menunjukkan realisasi produk yang melampaui rencana, namun pada bulan lain seperti Mei. Juli, dan September 2023 realisasi produk justru tidak mencapai dari rencana yang ditetapkan. Fluktuasi ini dapat dikaitkan dengan berbagai faktor yang memengaruhi produktivitas karyawan, seperti pelatihan kerja yang memberikan pengetahuan dan keterampilan untuk mendukung pekerjaan, pengalaman kerja yang berpengaruh pada kemampuan menyelesaikan tugas secara efisien, serta lingkungan kerja fisik yang mendukung atau menghambat aktivitas produksi. Hasil pra-survei menunjukkan beberapa permasalahan yang dihadapi karyawan terkait pelatihan, pengalaman, dan lingkungan kerja fisik. Sebanyak 20% responden pada variabel pelatihan kerja menyatakan pelatihan tidak membantu mereka Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 404 beradaptasi dengan lingkungan kerja. Pada variabel pengalaman kerja, 13,3% mengaku kesulitan dalam pekerjaan karena kurang pengalaman. Selain itu, variabel lingkungan kerja fisik menunjukkan bahwa sirkulasi udara di area kerja masih kurang memadai sebesar 33,3% dan 6,7% pada variabel produktivitas menyatakan tidak berupaya meningkatkan kemampuan untuk menghadapi tuntutan pekerjaan. Penelitian sebelumnya oleh Parashakti & Noviyanti . mengindikasikan bahwa pelatihan kerja memberikan pengaruh positif dan signifikan pada produktivitas kerja. Hal yang sama dikaji oleh Suwanto et al. mengungkapkan bahwa produktivitas kerja berdampak signifikan pada pengalaman kerja. Namun, hasil ini tidak sama dengan riset yang dilakukan oleh Perkasa et al. yang menunjukkan bahwa produktivitas kerja tidak dipengaruhi oleh lingkungan kerja fisik. Menurut (Nurhasanah, 2. lingkungan kerja fisik dan non fisik yang kondusif akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan, sebaliknya jika lingkungan kerja fisik dan non fisik tidak kondusif akan menurunkan produktivitas kerja karyawan. Kondisi lingkungan kerja CV. Shahama Tasikmalaya saat ini belum bisa dikatakan baik karena berdasarkan hasil observasi, beberapa karyawan mengatakan bahwa lingkungan kerja mereka kurang nyaman, adanya konflik internal yang terjadi seperti kurang nya kerja sama dan perbedaan pendapat karyawan dapat berpengaruh terhadap pekerjaan para karyawan serta lingkungan kerja non fisik perusahaan. Tinjauan Pustaka Pelatihan Kerja Kajian menurut Pukan et al. pelatihan memiliki makna yaitu suatu proses yang dirancang untuk mengembangkan sumber daya manusia dengan fokus pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat memperbaiki kinerja kerja. Pricilla & Octaviani . mengemukakan jika proses untuk mengajarkan karyawan melakukan tugas sesuai standar perusahaan yang telah ditentukan disebut dengan Adapun indikator pelatihan kerja isi pelatihan, metode pelatihan, sikap dan keterampilan instruktur, lama waktu pelatihan, dan fasilitas pelatihan (Sofyandi, 2. Wilson . menguraikan meningkatkan keterampilan karyawan agar dapat melaksanakan tugas dengan efektif adalah tujuan dari proses pelatihan. Studi terdahulu mengindikasikan bahwa pelatihan kerja berdampak positif dan signifikan terhadap produktivitas karyawan (Parashakti & Noviyanti, 2. Hasil serupa juga dikemukakan oleh Arapenta et al. dan Natasya et al. dimana produktivitas karyawan mempengaruhi secara signigfikan terhadap pelatihan kerja. Sajidin et al. juga berpendapat hal yang serupa bahwa pelatihan kerja berpengaruh terhadap produktivitas kerja karyawan. H1: Pelatihan kerja berdampak pada produktivitas kerja karyawan. Pengalaman Kerja Hidaya et al. mengungkapkan bahwa pertumbuhan dan perkembangan suatu bisinis merupakan salah satu faktor yang mendorong pengalaman kerja. Munawarah et al. mengungkapkan bahwa jika semakin lama individu bekerja maka akan semakin bertambah pengalaman kerja yang dimiliki, hal ini dapat meningkatkan skill Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 405 individu tersebut. Indikator pada pengalaman kerja meliputi waktu, frekuensi, jenis tugas, penerapan, dan hasil (Nurrofi, 2. Setuju dengan temuan Khair & Astuti . bahwa pengalaman kerja meningkatkan produktivitas karyawan. Hasil serupa juga dikemukakan oleh Suwanto et al. bahwa pengalaman kerja berpengaruh terhadap produktivitas karyawan. H2: Pengalaman kerja berdampak pada produktivitas kerja karyawan. Lingkungan Kerja Fisik Jayusman et al. menjelaskan bahwa tempat dimana individu beraktivitas dan mengerjakan tugas yang berhubungan dengan perusahaan maka disebut dengan lingkungan kerja fisik. Nitisemito . menyatakan bahwa segala aspek di sekitar karyawan yang dapat berdampak pada pelaksanaan tugas mereka disebut lingkungan kerja fisik. Pidada et al. menyampaikan pandangan serupa bahwa indikator lingkungan kerja seperti kondisi fisik di tempat kerja, termasuk pencahayaan, kebisingan, suhu, dan penataan ruang merupakan bagian dari lingkungan kerja fisik. Elemen-elemen tersebut dapat mempengaruhi pelaksanaan kerja karyawan. Penelitian serupa oleh Andi & Karmila . juga menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas karyawan dipengaruhi oleh kondisi fisik di lingkungan kerja. H3: Lingkungan kerja fisik berdampak pada produktivitas kerja karyawan. Metode Penelitian Penelitian yang dilakukan bersifat kuantitatif deskriptif. Berdasarkan pendapat Sugiyono, . pendekatan analisis diterapkan untuk mengolah data dengan cara menjelaskan atau memaparkan data yang sudah terkumpul tanpa berusaha menarik Kesimpulan yang bersifat umum atau menyeluruh. Populasi dalam penelitian yaitu karyawan PT. X pada bagian produksi plywood dengan total 1. 300 individu dengan metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling agar data yang diperoleh lebih relevan. Sampel terdiri dari 102 responden yang dipilih berdasarkan kriteria telah bekerja minimal 1-2 tahun, merupakan karyawan di departemen produksi plywood dan bekerja shift 1. Data dikumpulkan melalui penyebaran angket, kemudian dianalisis dengan menggunakan metode regresi linear berganda. Adapun model penelitian sebagai berikut ycU = yca yu1ycU1 yu2ycU2 yu3ycU3 yce Produktivitas kerja (Y) dipengaruhi oleh pelatihan kerja (X. , pengalaman kerja (X. , dan lingkungan kerja fisik (X. , dengan a sebagai konstanta, 1 hingga 3 sebagai koefisien masing-masing variabel bebas, serta e sebagai faktor kesalahan . Definisi Operasional dari masing-masing variabel sebabagi berikut Produktivitas Kerja (Y) merupakan kemampuan karyawan dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai target dengan kualitas dan waktu yang telah ditentukan. Indikator yang digunakan melitputi ketepatan waktu, kuantitas hasil kerja, kualitas hasil kerja, dan upaya peningkatan kemampuan diri. Pelatihan Kerja (X. , merupakan proses pemberian pembelajaran atau pembekalan kepada karyawan agar mampu meningkatkan keterampilan dan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 406 pengetahuan kerja. Indikatornya mencakup isi pelatihan, metode pelatihan, sikap instruktur, durasi pelatihan, dan fasilitas pelatihan. Pengalaman Kerja (X. , merupakan lama waktu dan frekuensi karyawan dalam menjalankan tugas tertentu di perusahaan yang berdampak pada penguasaan keterampilan kerja. Indikator yang digunakan antara lain masa kerja, jenis tugas yang pernah dilakukan, serta penerapan hasil kerja. Lingkungan Kerja Fisik (X. , merupakan Kondisi fisik di sekitar tempat kerja yang dapat memengaruhi kenyamanan dan efektivitas kerja karyawan. Indikator meliputi pencahayaan, sirkulasi udara, suhu ruangan, kebisingan dan kebersihan area Hasil dan Pembahasan Hasil penelitian Total responden sesuai kriteria yang dilakukan dalam penelitian ini mencapai 102 Berdasarkan jenis kelamin, responden laki-laki sebanyak 56 orang . ,9%) dan responden perempuan sebanyak 46 orang . ,1%). Profil dan karakteristik responden ditampilkan secara detail pada Tabel 1. Tabel 1. Karakteristik responden Sub-Kategori Jumlah Presentase Laki-laki 54,9% Perempuan 45,1% Usia 20-29 Tahun 10,7% 30-39 Tahun 23,5% 40-49 Tahun 29,4% 50-59 Tahun 35,2% >60 Tahun 0,9% Tingkat Pendidikan SD 6,8% SMP 28,4% SMA SMK 14,7% 4,9% Lama Bekerja 1-4 Tahun 17,6% 5-9 Tahun 11,7% 10-19 Tahun 15,6% >20 Tahun 54,9% Jabatan/ posisi Area Head/ PJS Area Head 1,9% Supervisor 4,9% Kepala Shift 4,9% Pengawas 4,9% Mekanik 1,9% Operator 20,5% Anggota 60,7% Kategori Jenis Kelamin Berdasarkan Tabel 1, mayoritas responden berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 56 orang . ,9%), berusia 50-59 tahun sebanyak 36 orang . ,2%). Tingkat pendidikan mayoritas adalah SMA dengan jumlah 46 orang . %). Sebagian besar Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 407 telah berkerja lebih dari 20 tahun sebanyak 56 orang . ,9%) dan jabatan terbanyak adalah anggota sebanyak 62 orang . ,7%). Indikator Y1. Y1. Y1. Y1. Y1. Y1. r hitung 0,644 0,707 0,733 0,471 0,694 0,718 Tabel 2. Uji Validitas Indikator r hitung Indikator X1. 0,742 X2. X1. 0,647 X2. X1. 0,663 X2. X1. 0,650 X2. X1. 0,625 X2. r hitung 0,615 0,581 0,681 0,679 0,651 Indikator X3. X3. X3. X3. X3. r hitung 0,565 0,606 0,696 0,686 0,569 Merujuk pada Tabel 2 terkait uji validitas keempat variable dinyatakan valid karena nilai r-hitung melebihi dari r-tabel 0,194. Kondisi ini selaras seperti yang dipaparkan oleh Ghozali . mengungkapkan bahwa suatu variabel dianggap valid apabila rhitung melampaui r-tabel dan positif. Tabel 3. Uji Reliabilitas Variabel CrobanchAos Alpha Pelatihan Kerja 0,682 Pengalaman Kerja 0,634 Lingkungan Kerja Fisik 0,611 Produktivitas Kerja 0,743 Keterangan Reliabel Merujuk pada Tabel 3, seluruh variabel menunjukkan nilai CronbachAos Alpha yang melampaui 0,60. Dengan demikian, keempat variabel dinyatakan reliabel. Variabel dinyatakan andal apabila nilai CronbachAos Alpha melebihi 0,60 sedangkan nilai alpha di bawah 0,60 menunjukkan variabel tersebut tidak andal (Ghozali, 2. Tabel 4 Uji Normalitas Normalitas Nilai Asymp. Sig. -taile. 0,132 Tabel 4 menunjukkan bahwa uji normalitas dengan model menghasilkan nilai 0,132 > 0,05 yang berarti bahwa nilai residual data pada model regresi penelitian menunjukkan bahwa terdistribusi secara normal dan asumsi uji normalitas terpenuhi. Tujuan dari uji ini adalah untuk mengetahui apakah varian independent dan dependen dalam model regresi memiliki distribusi normal dengan menggunakan uji KolmogrovSmirnov. Tabel 5. Uji Multikolinearitas Model Tolerance Pelatihan Kerja 0,994 Pengalaman Kerja 0,970 Lingkungan Kerja Fisik 0,975 VIF 1,006 1,031 1,025 Multikolinearitas menurut Ghozali, . tidak terjadi jika nilai toleransi > 0,1 dan VIF < 10. Dapat di simpulkan bahwa tidak ada multikolinearitas pada variabel independent dalam penelitian ini. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 408 Tabel 6. Uji Heterokedastisitas Model Coefficients Std. Error (Constan. 2,625 1,642 Pelatihan Kerja -0,008 0,060 Pengalaman Kerja -0,030 0,048 Lingkungan Kerja Fisik -0,008 0,056 1,599 -0,137 -0,623 -0,139 Sig. 0,113 0,892 0,534 0,890 Uji Glejser digunakan dalam penelitian ini untuk mengetahui masalah Jika signifikansi <0,05 maka pada mode regresi terjadi masalah Berdasarkan Tabel 6 variabel pelatihan kerja, pengalaman kerja dan lingkungan kerja fisik menunjukan nilai >0,05 sehingga dapat disimpulkan tidak terjadi gejala heterokedastistas. Tabel 7. Hasil Analisis Linear Berganda Model Coefficients Std. Error (Constan. 18,572 2,689 6,905 Pelatihan Kerja 0,248 0,099 2,513 Pengalaman Kerja 0,069 0,079 0,872 Lingkungan Kerja Fisik -0,003 0,092 -0,035 Sig. 0,000 0,014 0,385 0,972 Berdasarkan data pada Tabel 7 maka persamaan empiris yang diperoleh sebagai ycU = 18,572 0,245 ycU1 0,086 ycU2 Ae 0,003 ycU3 Berdasarkan Tabel 7 Hasil uji parsial . , variabel pelatihan kerja memiliki nilai signifikansi 0,0014 < 0,05. Hal ini mengindikasikan bahwa pelatihan kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap produktivitas kerja. Sebaliknya, variabel pengalaman kerja memiliki nilai signifikansi sebesar 0,385 > 0,05 sehingga tidak berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Hal serupa juga terjadi pada variabel lingkungan kerja fisik dengan nilai signifikansi 0,972 > 0,05, yang menunjukkan tidak adanya pengaruh terhadap produktivitas kerja. Tabel 8. Hasil Uji Statistik F dan Koefisien Determinasi Model R Square Adj. R Square Regression 0,266 0,071 0,042 2,488 Sig. 0,065 Dependent Variable: Produktivitas Kerja Predictors: (Constan. Lingkungan Kerja Fisik. Pelatihan Kerja. Pengalaman Kerja Berdasarkan hasil uji F diperoleh nilai probabilitas sig sebesar 0,065 yang berarti nilai tersebut lebih besar dari 0,05. Dengan demikian, model regresi tidak signifikan secara simultan, sehingga dapat disimpulkan bahwa pelatihan kerja, pengalaman kerja, dan lingkungan kerja fisik secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas kerja. Sementara uji koefisien menghasilkan nilai R square sebesar 0,071 yang mengindikasikan bahwa pelatihan kerja, pengalaman kerja, dan lingkungan kerja fisik hanya mampu menjelaskan 7,1% variabilitas produktivitas kerja, sedangkan variabel lain menyumbang 92,9%. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 409 Pembahasan Dampak Pelatihan Kerja Terhadap Produktivitas kerja Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan kerja berpengaruh signifikan terhadap produktivitas karyawan karena memberikan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Natasya et al. pada karyawan di salah satu perusahaan Mojokerto yang menyatakan bahwa pelatihan kerja berpengaruh positif terhadap Dengan demikian apabila karyawan memberikan tanggan positif terhadap pelatihan kerja yang diberikan produktivitas mereka akan meningkat, sehingga tujuan dan sasaran perusahaan dapat tercapai. Karyawan yang mengikuti pelatihan secara rutin dapat menyelesaikan tugas dengan lebih cepat dan efisien. Pelatihan kerja yang dilaksanakan berupa seminar setiap satu bulan sekali, yang mencakup materi tentang produksi yang lebih efisien, standar kualitas produk, serta keselamatan dan Kesehatan kerja (K. Pelatihan juga membantu karyawan memahami prosedur kerja secara tepat, sehingga mampu meningkatkan kualitas hasil kerja dan mencapai target produksi yang ditentukan oleh perusahaan (Harahap, 2. Dampak Pengalaman Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman kerja tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas. Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lesmana & Kusasih . bahwa pengalaman kerja tidak berpengaruh terhadap produktivitas. Hal ini dikarenakan seorang karyawan yang berpengalaman mengerjakan suatu pekerjaan tertentu dalam rentang waktu yang cukup lama dan berulang dapat menimbulkan rasa bosan, kehilangan tantangan dan pada akhir nya mengalami penurunan produktivitas kerja. Perusahaan X memiliki banyak karyawan dengan pengalaman kerja lebih dari 10 tahun, namun pekerjaan yang dilakukan cenderung bersifat berulang tanpa adanya peningkatan keterampilan baru. Mayoritas karyawan mulai bekerja setelah menyelesaikan pendidikan menengah, sehingga pengalaman kerja yang dimiliki belum didukung oleh pemahaman tentang teknik atau metode kerja yang lebih efisien. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman kerja saja tidak cukup untuk mendorong peningkatan produktivitas tanpa adanya pembaruan keterampilan yang berkelanjutan. Dampak Lingkungan Kerja Fisik Terhadap Produktivitas Kerja Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik tidak berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Temuan ini mengindikasikan bahwa faktor-faktor fisik seperti pencahayaan, kebisingan, suhu ruangan, atau tata letak ruang kerja tidak selalu menjadi penentu utama dalam meningkatkan kinerja individu. Hal ini bisa terjadi karena karyawan telah mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang ada, atau karena terdapat faktor lain yang lebih dominan memengaruhi produktivitas. Penelitan ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Perkasa, et al. yang menyatakan bahwa lingkungan kerja fisik tidak berpengaruh terhadap produktivitas kerja. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 410 Berdasarkan studi lapangan, sejumlah karyawan menyampaikan keluhan terkait kondisi kerja, seperti pencahayaan yang kurang optimal di beberapa area, aroma tidak sedap dari proses produksi, serta sirkulasi udara yang terbatas. Namun demikian, kondisi tersebut tidak menyebabkan penurunan produktivitas secara signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan telah mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja yang ada, atau memiliki motivasi kerja internal yang cukup kuat untuk tetap menyelesaikan tugas secara optimal meskipun lingkungan fisiknya belum ideal. Oleh karena itu, meskipun faktor lingkungan kerja fisik tidak berpengaruh signifikan terhadap produktivitas, perusahaan tetap disarankan untuk melakukan perbaikan secara bertahap, guna menciptakan suasana kerja yang lebih nyaman dan mendukung kesejahteraan karyawan dalam jangka panjang. Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan jika variabel pelatihan mengarah pada hasil yang baik terhadap produktivitas karyawan, sementara pengalaman kerja serta lingkungan kerja fisik tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap produktivitas. Pada variabel pelatihan kerja, karyawan yang rutin mengikuti pelatihan cenderung lebih efisien dalam menyelesaikan tugas dan mampu mencapai target produksi. Sementara itu, meskipun banyak karyawan yang memiliki penglaman kerja lebih dari 10 tahun kurangnya pembaruan keterampilan membuat pengalaman tersebut tidak memberikan kontribusi yang signifikan terhadap produktivitas. Untuk variabel lingkungan kerja fisik meskipun terdapat keluhan mengenai pencahayaan, bau tidak sedap, dan sirkulasi udara faktor ini tidak secara langsung memengaruhi produktivitas karena karyawan tetap focus menyelesaikan sesuai target. Penelitian ini memiliki keterbatasan dalam jumlah variabel, indikator, dan responden, sehingga disarankan agar penelitain selanjutnya dapat menambahkan variabel relevan, memperluas indikator dan responden, serta menggunakan pendekatan kualitatif untuk memperdalam pemahaman terhadap fenomena yang diteliti. Referensi