Jurnal Riset Akuntansi dan Manajemen Website: ojs. itb-ad. id/index. php/LQ/ p-ISSN: 1829-5150, e-ISSN: 2615-4846. ANALISIS DAMPAK PEMAHAMAN KODE ETIK AKUNTAN, KEPEKAAN ETIS. LOCUS OF CONTROL. DAN RELIGIUSITAS TERHADAP PERILAKU ETIS MAHASISWA AKUNTANSI Khoirul Fatah1. Ferlinda Ainur Rachmani2 (*) 1Sarjana Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Pekalongan 2Diploma Tiga Akuntansi. Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan. Pekalongan Abstract The foundation of a market economy is sound corporate governance (GCG). This shows how closely related companies that practice good corporate governance and environmental trust are in a country. It is hoped that the government's efforts to promote good governance will be supported by the overall implementation of good corporate governance in Indonesia. The executive branch works to instill good governance in the bureaucracy to create a trustworthy and efficient government. Corporate scandals show how poorly corporate duties and responsibilities are performed. Many corporate scandals highlight the importance of corporate governance for companies to present themselves as organizations that contribute not only to economic prosperity but also to social well-being, including the environment. The purpose of this study is to obtain empirical bases on the effects of understanding the code of ethics for accountants, ethical sensitivity, locus of control, and religiosity on the ethical behavior of accountants. It is hoped that accounting education in Indonesia aims to produce ethical and moral graduates, and this study deepens the claims made in the form of interviews about the amount of ethical content in the accounting curriculum. A number of initiatives have been implemented to introduce students to the professional values and ethics of accounting. In order to develop ethics-based accounting education, it is necessary to provide feedback on the current situation, especially whether accounting education in Indonesia is sufficient to form students' ethical values. Kata Kunci: kode etik akuntan, kepekaan etis, locus of control, religiulitas, perilaku etis Juli Ae Desember 2023. Vol 12 . : hlm 158-167 A2023 Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan. All rights reserved. (*) Korespondensi: fatahirul@gmail. com (K. Fata. PENDAHULUAN Sejalan dengan semakin pentingnya tata kelola perusahaan yang baik, perkembangan kompleksitas perusahaan dan tuntutan dari berbagai pihak memaksa perusahaan untuk fokus pada isu yang lebih luas. Salah satu elemen dasar ekonomi pasar adalah tata kelola perusahaan yang baik (GCG) (Afriani. Mely. Askandar. Noor Shodiq. Mahsuni, 2. Yang menunjukkan bagaimana kepercayaan terhadap lingkungan suatu negara dan perusahaan yang menerapkan tata kelola perusahaan yang baik sangat erat kaitannya (Trianto, 2. Adopsi tata kelola perusahaan yang sehat akan mendukung pengembangan pasar yang kompetitif dan lingkungan bisnis yang kondusif. Berbagai skandal perusahaan yang signifikan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Masyarakat internasional lebih memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik untuk perusahaan asing seperti British Telecom. Lehman Brothers. Worldcom. Enron, dan Parmalat (Clements et al. , 2. Skandal-skandal korporasi ini menunjukkan betapa buruknya organ-organ korporasi menjalankan tugas, kewajiban, dan tanggung jawabnya (Prayogo & Afrizal, 2. Seperti pada tahun 1997 dan 2008. Indonesia saat ini sedang mengalami krisis multifaset, dan masih banyak kasus korupsi baik di organisasi publik maupun swasta(Gaffikin & Lindawati. Banyak skandal perusahaan menyoroti nilai tata kelola perusahaan yang baik, memungkinkan bisnis untuk menggambarkan diri mereka sebagai organisasi yang tidak hanya memprioritaskan kesejahteraan keuangan mereka sendiri tetapi juga kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, termasuk lingkungan (Merdekawati. Keserakahan individu dan perusahaan, menawarkan layanan yang mengorbankan independensi, terlalu lunak dengan klien, dan ikut serta dalam pelanggaran peraturan akuntansi adalah kelemahan akuntan. Untuk menghindari masalah ini, (S & Hidayat, 2. menambahkan bahwa pendidik akuntan harus lebih fokus pada dua topik dalam pengajaran akuntansi: apresiasi terhadap profesi akuntansi dan pemahaman tentang dilema etika. Menjadi sangat menarik untuk membahas etika akuntan (Claresta, 2. Masalah ini pertama kali muncul di Amerika Serikat setelah jatuhnya pasar saham tahun 1987, di antara kejadian-kejadian lainnya (Listyorini et al. , 2. Sementara itu, selain hal tersebut di atas, terdapat juga beberapa pelanggaran etika di Indonesia yang dilakukan oleh akuntan pemerintah, akuntan internal, dan akuntan publik (Merdekawati, 2. Perilaku siswa saat ini dapat digunakan untuk memprediksi perilaku pemimpin atau generasi yang akan datang. Pengujian sikap siswa diperlukan untuk menentukan seberapa besar perilaku etis yang akan ditampilkan di masa depan (Bela. Karena lingkungan pendidikan mempengaruhi bagaimana mahasiswa mengembangkan karakternya menjadi individu yang bertanggung jawab, maka masalah etika sendiri merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian, khususnya dalam bidang akuntansi di perguruan tinggi (Wiguna & Suryanawa. Pendidikan tinggi diharapkan mampu menghasilkan tenaga profesional dengan kualifikasi dan keterampilan atau kemampuan sesuai dengan bidang ilmunya serta beretika yang baik guna memenuhi kebutuhan yang ada. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan bukti empiris atas dampak pemahaman kode etik akuntan, kepekaan etis, locus of control, dan religiusitas terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi. Dengan harapan agar pendidikan akuntansi di Indonesia memiliki tujuan untuk menghasilkan lulusan yang beretika dan bermoral tinggi. METODE Populasi dan Sampel Populasi adalah jumlah total objek atau subjek yang telah dipilih peneliti untuk dipelajari dan kemudian diekstrapolasi untuk mencapai kesimpulan (Jogiyanto. Berdasarkan pengetahuan. Populasi yang termasuk dalam analisis data termasuk sampel yang digunakan. Dengan memilih sampel dari populasi berdasarkan kriteria tertentu, maka dilakukan purposif sampling. Standar yang diterapkan dapat didasarkan pada pendapat atau kuota (Jogiyanto, 2. Purposif sampling digunakan dalam proses pengambilan sampel penelitian ini karena waktu, sumber daya, dan tenaga peneliti dibatasi, sehingga tidak memungkinkan bagi mereka untuk mengumpulkan sampel yang luas dan tersebar. Berikut yang dipertimbangkan ketika memilih sampel untuk penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi S1 atau D3 akuntansi yang telah mengambil mata kuliah audit dan etika Penelitian ini menggunakan skala Likert enam poin untuk menilai pengaruh pemahaman kode etik akuntan, sensitivitas etika, locus of control, dan religiusitas terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi. Menurut (Jr et al. , 2. minimal jumlah sampel apabila menggunakan analisis regresi berganda adalah 15 sampai 20 kali jumlah variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini terdapat 4 variabel independent dan 1 variabel dependen sehingga sampel penelitian ini dapat dihitung sebanyak 4x20 = 80 responden. Maka minimal sampel pada penelitian ini berjumlah 80 responden. Teknik Pengumpulan Data Dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner adalah Teknik pengumpulan data dimana responden diminta untuk menjawab serangkaian pertanyaan tertulis. Survei ini merupakan survei dengan menyebarkan kuesioner, sehingga hipotesisnya sebagai berikut: H1: Pengaruh pemahaman kode etik akuntan terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi H2: Pengaruh kepekaan etis terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi H3: Pengaruh locus of control terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi H4: Pengaruh religiusitas terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi Teknik Analisis Data Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah dalam penelitian ini yang berjenjang memerlukan suatu analisis informasi statistik. Pengujian dilakukan dengan bantuan software SPSS 24. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini mengambil responden sebanyak 100 responden yang dijadikan sampel dengan pengumpulan data menggunakan angket atau kuesioner. Dari 90 kuesioner yang disebar terdapat 10 kuesioner yang tidak layak dikarenakan kuesioner diisi dengan berbagai alasan selain itu juga terdapat responden yang belum pernah menggunakan mendapatkan mata kuliah etika bisnis akan tetapi yang mengisi kuesioner belum sampai selesai, sehingga didapatkan jumlah responden yang layak sebesar 90 responden sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Hasil Uji Validitas Uji validitas digunakan untuk mengetahui apakah item-item kuesioner berhasil mendefinisikan suatu variabel (Jogiyanto, 2. Uji validitas digunakan buat mengukur legal ataupun tidaknya sesuatu kuesioner (Jogiyanto, 2. Sesuatu kuesioner dikatakan valid bila persoalan pada kuesioner sanggup mengatakan suatu yang hendak diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2. Buat mempermudah dalam melaksanakan uji validitas, hingga digunakan analisis aspek yang terdapat pada SPSS 24. Uji validitas instrumen riset ini memakai korelasi pearson. Besarnya r bisa dihitung dengan korelasi, dimana taraf signifikan = 5%. Sebaliknya r nya buat degree of freedom . = n-2, dimana n merupakan jumlah ilustrasi. Oleh sebab itu diperoleh nilai df= 22-2= 20. Dengan taraf signifikan = 5%, hingga didapat r sebesar 0, 422. Variabel-variabel dalam penelitian ini diukur dengan 15 item pertanyaan yang terdiri dari 4 item pernyataan untuk mengukur variabel pemahaman kode etik akuntan, 3 item pernyataan untuk mengukur variabel perilaku etis, 4 item pernyataan untuk mengukur variabel kepekaan etis, 1 item pernyataan untuk mengukur variabel locus of control, dan 3 item pernyataan untuk mengukur variabel religiusitas. Semua item pernyataan sebanyak 15 item pernyataan dinyatakan semuanya valid, hal tersebut dikarenakan semua r-hitung > r-tabel dengan signifikansi 0,05. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua item pernyataan yang digunakan untuk mengukur perilaku etis mahasiswa akuntansi. Hasil Uji Reliabilitas Uji reliabilitas merupakan cara untuk mengukur seberapa stabil dan reliabel responden ketika menjawab pertanyaan tentang dimensi pertanyaan yang disusun dalam bentuk kuesioner. Uji reliabilitas merupakan pengujian yang dicoba buat mengenali konsistensi serta stabilitas dari hasil pengukuran dari waktu kewaktu (Jogiyanto, 2. Suatu kuesioner dikatakan reliabel ataupun profesional bila jawaban seorang terhadap statment merupakan tidak berubah-ubah ataupun normal dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas dalam riset ini memakai tata cara cronbach alpha dengan SPSS 24, sesuatu konstruk ataupun variabel dikatakan reliabel bila nilai cronbach alpha () > 0,60 (Ghozali, 2. Tabel Uji Reliabilitas Variabel Nilai CronbachAos Alpha Pemahaman Kode Etik Akuntan 0,918 Kepekaan Etis 0,918 Perilaku Etis 0,918 Locus of Control 0,918 Religiusitas 0,918 Keterangan Sumber: data diolah Pengujian Hipotesis Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui apakah ada pengaruh pemahaman kode etik akuntan (X. , kepekaan etis (X. , locus of control (X. , dan religiusitas (X. terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi (Y). Tabel Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda Variabel Bebas Koefesien tSig Kesimpulan Regresi . Pemahaman Kode 4,318 0,000 Signifikan 0,672 Etik Akuntan (X. Kepekaan Etis (X. 0,293 4,097 0,000 Signifikan Locus of Control (X. -0,051 -0,227 0,821 Tidak Signifikan Religiusitas (X. 0,180 1,887 0,063 Signifikan Konstanta 2,150 Adjusted R Square 0,779 75,042 Sig f 0,000 Variabel dependen: perilaku etis mahasiswa akuntansi Sumber: data diolah Berdasarkan tabel diatas maka perumusan regresi linier berganda dapat ditulis sebagai berikut: Y = a b1X1 b2X2 b3X3 b4X4 Y = 2,150 0,672 X1 0,293 X2 - 0,051 X3 0,180 X4 Pengujian hipotesis pertama (H. Nilai koefisien regresi untuk variabel pemahaman kode etika akuntan (X. yaitu sebesar 0,672. Hal ini menunjukkan jika pemahaman kode etika akuntan mengalami kenaikan 1%, maka perilaku etis mahasiswa akuntansi akan naik sebesar 0,672 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Tanda positif artinya menunjukkan pengaruh yang searah antara variabel independen dan variabel Pengaruh positif antara variabel pemahaman kode etika akuntan terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi artinya semakin tinggi pemahaman mahasiswa akuntansi terhadap kode etika akuntan, maka semakin tinggi pula perilaku etis yang ditunjukkan oleh mahasiswa akuntansi tersebut. Ini bisa diartikan bahwa mahasiswa yang lebih memahami kode etika yang mengatur profesi akuntan akan lebih mungkin untuk mengadopsi perilaku yang lebih etis dalam pekerjaan mereka. Mereka mungkin lebih cenderung untuk menghindari tindakan yang melanggar kode etika, seperti manipulasi data, konflik kepentingan, atau pelanggaran etika lainnya dalam praktik akuntansi mereka (Claresta, 2. Pemahaman kode etika akuntan adalah pengetahuan dan pemahaman mahasiswa akuntansi tentang standar dan prinsipprinsip etika yang berlaku dalam profesi akuntansi. Kode etika akuntansi mengatur perilaku akuntan dalam menjalankan tugasnya, baik dalam hubungannya dengan klien, pemberi kerja, rekan sejawat, dan masyarakat. Perilaku etis adalah perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai dan norma moral yang berlaku. Perilaku etis seorang akuntan penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap profesi akuntansi. Berdasarkan hasil penelitian, pemahaman kode etika akuntan memiliki pengaruh positif terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi (Christina. Meilisa, 2. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman kode etika akuntan dapat membantu mahasiswa akuntansi untuk memahami perilaku yang diharapkan dari seorang akuntan. Dengan pemahaman kode etika akuntan yang tinggi, mahasiswa akuntansi akan lebih cenderung untuk berperilaku etis dalam menjalankan tugasnya. Pengujian hipotesis kedua (H. Nilai koefisien regresi untuk variabel kepekaan etis (X. yaitu sebesar 0,293. Hal ini menunjukkan jika kepekaan etis mengalami kenaikan 1%, maka perilaku etis mahasiswa akuntansi akan naik sebesar 0,293 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Tanda positif artinya menunjukkan pengaruh yang searah antara variabel independen dan variabel dependen. Pengaruh positif antara variabel kepekaan etis terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi artinya semakin tinggi kepekaan etis seorang mahasiswa akuntansi, maka semakin tinggi pula perilaku Kepekaan etis adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan memahami masalah etis. Perilaku etis adalah tindakan yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai moral yang berlaku. Mahasiswa akuntansi yang memiliki kepekaan etis yang tinggi akan lebih mampu mengidentifikasi dan memahami masalah etis yang dihadapinya. Dengan demikian, mereka akan lebih cenderung untuk mengambil tindakan yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai moral yang berlaku. Kepekaan etis dapat dikembangkan melalui berbagai cara, seperti pendidikan etika, pelatihan etika, dan pengalaman kerja (Claresta, 2. Pendidikan etika dapat membantu mahasiswa akuntansi untuk memahami konsep-konsep etika dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan etika dapat membantu mahasiswa akuntansi untuk mengembangkan keterampilan yang diperlukan untuk mengidentifikasi dan menangani masalah etis. Pengalaman kerja dapat membantu mahasiswa akuntansi untuk melihat bagaimana etika diterapkan dalam praktik. Penting bagi mahasiswa akuntansi untuk memiliki kepekaan etis yang tinggi. Hal ini karena profesi akuntansi memiliki tanggung jawab yang besar untuk menjaga integritas dan transparansi informasi keuangan. Mahasiswa akuntansi yang memiliki kepekaan etis yang tinggi akan lebih mampu untuk menjalankan profesinya dengan bertanggung jawab dan Pengaruh positif antara kepekaan etis dan perilaku etis mahasiswa akuntansi, maka hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa yang lebih sadar akan etika akuntansi cenderung mengambil keputusan dan bertindak dengan lebih etis dalam praktik akademik mereka dan nantinya dalam karir profesional mereka sebagai akuntan. Ini adalah hal yang positif karena etika akuntansi sangat penting dalam memastikan integritas dan kepercayaan dalam laporan keuangan dan praktik bisnis. Pengujian hipotesis ketiga (H. Nilai koefisien regresi untuk variabel Locus of Control (X. memiliki nilai negatif sebesar -0,051. Nilai tersebut menunjukkan pengaruh negatif . erlawanan ara. antara variabel Locus of Control dan perilaku etis mahasiswa akuntansi. Hal ini artinya jika variabel Locus of Control mengalami kenaikan 1%, maka sebaliknya variabel perilaku etis mahasiswa akuntansi akan mengalami penurunan sebesar -0,051. Dengan asumsi bahwa variabel lainnya dianggap konstan. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat locus of control seseorang, semakin rendah kemungkinan mereka akan menunjukkan perilaku etis dalam konteks mahasiswa akuntansi. Pengaruh negatif antara Locus of Control dan perilaku etis mahasiswa akuntansi, hal ini dapat diinterpretasikan bahwa Mahasiswa akuntansi dengan Locus of Control yang tinggi, yang cenderung merasa bahwa mereka memiliki kendali lebih besar atas kehidupan mereka, mungkin cenderung lebih mungkin untuk menyalahgunakan kekuasaan mereka dalam hal perilaku etis karena mereka mungkin merasa lebih mampu untuk menghindari konsekuensi negatif dan Mahasiswa akuntansi dengan Locus of Control yang rendah, yang mungkin merasa bahwa peristiwa-peristiwa dalam hidup mereka tergantung pada faktor eksternal, mungkin cenderung lebih mungkin untuk mematuhi norma-norma sosial dan perilaku etis karena mereka mungkin merasa bahwa tindakan mereka dapat memiliki dampak signifikan pada kehidupan mereka (Afriani. Mely. Askandar. Noor Shodiq. Mahsuni, 2. Pengujian hipotesis keempat (H. Nilai koefisien regresi untuk variabel religiusitas (X. memiliki nilai positif sebesar 0,180. Hal ini menunjukkan jika religiusitas mengalami kenaikan 1%, maka perilaku etis mahasiswa akuntansi akan naik sebesar 0,180 dengan asumsi variabel independen lainnya dianggap konstan. Tanda positif artinya menunjukkan pengaruh yang searah antara variabel independen dan variabel dependen. Pengaruh positif antara variabel religiusitas terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi artinya adalah semakin tinggi tingkat religiusitas mahasiswa akuntansi, maka semakin baik pula perilaku etisnya. Hal ini dikarenakan religiusitas dapat memberikan pedoman dan arahan dalam berperilaku, termasuk dalam hal etika. Religiusitas dapat diartikan sebagai komitmen seseorang terhadap nilai-nilai dan ajaran agamanya. Nilai-nilai dan ajaran agama yang diyakini oleh seseorang akan menjadi dasar dalam membentuk pola pikir dan perilakunya. Dalam hal ini, nilai-nilai dan ajaran agama dapat memberikan panduan tentang apa yang benar dan apa yang salah, serta apa yang baik dan apa yang buruk. Pada mahasiswa akuntansi, religiusitas dapat berperan sebagai landasan moral dan etika dalam menjalankan profesinya. Akuntansi merupakan profesi yang membutuhkan integritas dan kejujuran yang tinggi. Oleh karena itu, mahasiswa akuntansi yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi akan lebih cenderung untuk berperilaku etis dalam menjalankan profesinya (Ratnaningsih et al. Mahasiswa akuntansi yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi akan lebih termotivasi untuk melakukan perilaku-perilaku etis tersebut. Hal ini dikarenakan mereka yakin bahwa perilaku etis adalah hal yang penting dalam menjalankan profesi akuntansi, dan juga merupakan bentuk pengabdian kepada Tuhan. Dalam konteks mahasiswa akuntansi, religiusitas dapat mendorong mereka untuk berperilaku etis dalam menjalankan profesinya. Mahasiswa akuntansi yang memiliki tingkat religiusitas yang tinggi akan lebih memahami pentingnya nilai-nilai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab dalam profesi akuntansi. Mereka akan berusaha untuk menghindari perilaku-perilaku yang tidak etis, seperti manipulasi laporan keuangan, pemalsuan dokumen, dan korupsi (Wiguna & Suryanawa, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan di atas, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut ini: Hubungan Positif antara Pemahaman Kode Etik Akuntan dan Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi: Menyatakan bahwa pemahaman kode etik akuntan memiliki hubungan positif dengan perilaku etis mahasiswa akuntansi. Ini mengindikasikan bahwa mahasiswa yang lebih memahami kode etik dalam profesi akuntansi lebih mungkin untuk menunjukkan perilaku etis di tempat Pemahaman yang baik tentang standar moral dalam industri tersebut dapat menjadi landasan untuk tindakan etis. Pengaruh Positif Kepekaan Etika terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi: Mengungkapkan bahwa sensitivitas etika memiliki pengaruh positif terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi. Hal ini berarti bahwa mahasiswa yang lebih peka terhadap masalah etika dan mampu mengenali dilema moral cenderung bertindak lebih etis. Ini adalah hasil yang diharapkan karena pemahaman yang mendalam tentang etika dapat membantu seseorang dalam membuat keputusan etis. Hubungan Negatif antara Locus of Control dan Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi: Menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara locus of control . ingkat kendali internal atau eksternal seseorang atas kehidupanny. dan perilaku etis mahasiswa akuntansi. Artinya, semakin tinggi locus of control seseorang, semakin rendah kemungkinannya untuk bertindak etis. Ini bisa mengindikasikan bahwa mahasiswa yang merasa kurang memiliki kendali atas tindakan mereka mungkin lebih rentan terhadap perilaku yang kurang etis. Pengaruh Positif Religiusitas terhadap Perilaku Etis Mahasiswa Akuntansi: Menyatakan bahwa religiusitas memiliki pengaruh positif terhadap perilaku etis mahasiswa akuntansi. Ini berarti bahwa mahasiswa yang memiliki tingkat religiusitas yang lebih tinggi cenderung menunjukkan perilaku etis yang lebih Ini mungkin terkait dengan nilai-nilai moral dan etika yang diajarkan dalam keyakinan agama mereka. DAFTAR PUSTAKA