Jurnal Penelitian Anak Usia Dini ISSN 2828-6146 Vol. No. : 23-33 http://urj. uin-malang. id/index. php/jpaui METODE BERCERITA DALAM MEMBENTUK KARAKTER KEBERANIAN SISWA KELAS B DI RA AL MURTADHO KEDUNGWARU NGAWI InAoamu Dzakiyyatul Jamilah Jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini,Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. Indonesia Dzakiyyah388@gmail. ABSTRACT Courage is a character that can be formed by everyone. Good habits for character building in children are not enough to reach the family environment so that habits in the madrasa environment also need to be applied. One thing to note is in choosing the method given to children by using language that is easy to understand and the media used. This study uses a qualitative approach with the type of Classroom Action Research (CAR), which aims to find out how planning and the influence of the storytelling method in shaping the character of the courage of class B students at RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi. The number of subjects was 15 students who were students of class B RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi. Data obtained through observation, interviews, and evaluation. The result of this research shows that has reached indicators in being brave and appearing confident when telling stories, showing a persistent and diligent attitude in learning, showing an honest and responsible attitude in answering teacher questions, and being able to show enthusiasm and enthusiasm in learning and playing. Keywords: Storytelling Method. Character. Courage ABSTRAK Keberanian merupakan karakter yang dapat dibentuk oleh setiap orang. Pembiasaan baik untuk pembentukan karakter pada anak tidak cukup sampai pada lingkungan keluarga sehingga kebiasaan di lingkungan madrasah juga perlu diterapkan salah satu yang perlu diperhatikan adalah dalam memilih metode yang diberikan kepada anak dengan menggunakan bahasa yang mudah di pahami dan media yang digunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana perencanaan dan pengaruh metode bercerita dalam membentuk karakter keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan yang telah mencapai indikator dalam berani dan tampil percaya diri ketika bercerita, menunjukkan sikap gigih dan tekun dalam belajar, menunjukkan sikap jujur dan bertanggungjawab dalam menjawab pertanyaan guru, serta dapat menunjukkan sikap antusias dan semangat dalam belajar dan bermain. Kata-Kata Kunci: Metode bercerita. Karakter . Keberanian Jurnal Penelitian Anak Usia Dini Vol. No. PENDAHULUAN Keberanian merupakan karakter yang dapat dibentuk oleh setiap orang. Karakter terbentuk sebagai hasil pemahaman dari hubungan dengan diri sendiri, dengan lingkungan . osial dan sekita. , dan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa (Mudana, 2. Salah satu pembiasaan yang dapat diberikan untuk membentuk keberanian anak adalah melalui cerita, cerita untuk anak usia dini memiliki arti penting cerita bagi pendidikan anak usia dini, tidak dapat dilepaskan dari kemampuan guru dalam menstransmisikan nilai-nilai luhur kehidupan dalam bentuk cerita, kemampuan gurulah yang sebenarnya yang menjadi tolak ukur kebermaknaan bercerita (Musfiroh, 2. Bercerita merupakan bagaimana cara menceritakan sebuah kisah kepada orang-orang yang bersedia mendengarkan baik melalui buku dengan membacanya atatu menceritakan sebuah kisah tanpa buku (Ellis & Brewster, 2. Sesuai dengan Standart Tingkat Percapaian Perkembangan Anak Usia Dini 5-6 tahun anak sudah mampu menunjukkan pemahaman konsep-konsep dalam buku cerita (Permendikbud 137 Tahun 2014 Standart Nasional PAUD. Artinya siswa yang telah memasuki usia 5-6 tahun seharusnya sudah dapat menunjukkan pemahamannya dalam menerima cerita atau berani menceritakan ulang sesuatu yang ia dengar. Maka dari itu, pentingnya memperhatikan metode pembelajaran dalam memberikan cerita kepada anak dengan tetap memperhatikan usia anak. Peran seorang guru atau seorang pendidik dituntut untuk memiliki strategi-strategi yang kreatif dan inovatif dalam pembelajaran di lembaga pendidikan khususnya dalam pendidikan anak usia dini, baik jalur lembaga formal atau pun informal dalam memberikan pendidikan yang fundamental kepada anak (Asmawati, 2. Selain itu. Ditambah dengan adanya pandemi covid-19 yang meminta elemen pada lembaga pendidikan secara ketat meminta guru untuk memiliki metode pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan. Karakter sendiri dapat dikembangkan dengan berbagai metode, baik melalui budaya suatu daerah, bermain peran, pemberian tugas, kegiatan unjuk kerja, bercerita ataupun dialog yang dilakukan oleh orang tua kepada anak, guru kepada anak-anak ataupun antar lingkungan anak-anak. Manfaat dari pemberian treatment atau perlakuan metode bercerita dapat mengembangkan nilai karakter mandiri pada anak di kelas B TK Islam Terpadu Al Azhar Banda Aceh . usra & Yunisari, 2. selain itu melalui metode bercerita juga dapat mengembangkan nilai-nilai agama moral pada anak (Primawidia, 2. Fakta dan fenomena di lapangan yang ditunjukkan setelah peneliti melakukan observasi pada siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi bahwa masih terdapat siswa belum dapat menunjukkan kepercayaan dirinya dan atau keberaniannya ketika diperintah untuk bercerita atau menceritakan kembali cerita yang telah di dengar, siswa tidak antusias dalam belajar, siswa belum dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Hal tersebut di tandai dengan anak yang mudah mengeluh ketika di panggil gurunya untuk mengerjakan tugasnya sendiri Autidak bisa buAy, selain kalimat tersebut yang ditemui peneliti pada saat pra lapangan anak sering meminta ibunya atau wali murid ikut ke dalam kelas Auibu disini saja saya takutAy. Berdasarkan latar belakang diatas, fokus penelitian yang peneliti ambil yaitu Bagaimana perencanaan dan penerapan Metode Bercerita dalam membentuk Karakter Keberanian Siswa Kelas B di RA Al Murtado Kedungwaru Ngawi serta bagaimana peningkatan karakter keberanian pada siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi. Metode Bercerita dalam membentuk karakter keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi InAoamu Dzakiyyatul Jamilah KAJIAN LITERATUR Metode Bercerita Metode bercerita merupakan metode pembelajaran anak usia dini yang dapat memberikan manfaat positif bagi perkembangan anak, terutama perkembangan moral, bahasa, dan sosial-emosional (Fadillah, 2. Maka dari itu, bercerita memiliki peran yang banyak untuk aspek-aspek perkembangan pada anak usia dini, salah satunya ialah moral atau budi pekerti, hal tersebut dapat terlihat melalui nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dan nilai yang tersampaikan pada anak. Metode bercerita merupakan suatu cara menyampaikan atau menguraikan suatu peristiwa atau kejadian melalui kata, gambar, suara yang diberikan beberapa penambahan improvisasi dari pencerita sehingga dapat memperindah jalannya cerita (Yaumi, 2. Moeclihatoen dalam (Andriyani & Nurmalina, 2. menyatakan bahwa metode bercerita merupakan salah satu pemberian pengalaman belajar bagi anak usia dini dengan membawakan cerita kepada anak secara lisan. Cerita yang digunakan harus menarik, dan mengandung perhatian anak dan tidak terlepas dari tujuan pendidikan anak usia dini. Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode bercerita merupakan Cara yang digunakan seseorang dalam menyampaikan nilai-nilai pembelajaran atau nilainilai kehidupan melalui sebuah cerita baik dengan menggunakan alat peraga atau tidak menggunakan alat peraga yang dikemas dengan menarik untuk anak-anak. Bentuk-Bentuk Metode Bercerita Metode bercerita memiliki bentuk-bentuk yang dapat disajikan pada anak usia dini . Bentuk-bentuk tersebut dapat digunakan secara bergantian agar dapat menambah daya tarik cerita atau kisah yang disajikan. Bentuk-bentuk metode bercerita terbagi menjadi dua jenis, yaitu (Musfiroh, 2. Bercerita tanpa alat peraga Bercerita tanpa alat peraga atau biasa disebut dengan bercerita secara langsung, bercerita tanpa alat peraga ini mengedepankan suara , ekspresi, wajah, serta gerak tangan dan tubuh. Pencerita dapat mengambil posisi duduk atau berdiri dalam suasana santai. Teknik ini tidak terikat tempat, waktu, dan orang yang hadir. Metode bercerita tanpa alat peraga ini dapat digunakan bersama-sama dengan metode bercakap-cakap. Bercerita menggunakan alat peraga Dalam melaksanakan kegiatan bercerita dapat dilakukan menggunakan alat peraga, alat peraga yang dapat digunakan mulai dari yang sederhana seperti buku, kemudian gambar , papan flanel, dan film tanpa audio. Semua alat peraga membutuhkan keterampilan Manfaat Bercerita Adapun manfaat bercerita menurut (Fadillah, 2. ialah sebagai berikut : Membangun kontak batin, antara anak dengan orang tuanya atau anak dengan Media penyampai pesan kepada anak Pendidikan atau fantasi bagi anak Dapat melatih emosi atau perasaan anak Membantu proses identifikasi diri . Memperkaya pengalaman batin Sebagai hiburan atau menarik perhatian anak Dapat membentuk karakter anak Jurnal Penelitian Anak Usia Dini Vol. No. Kelebihan dan Kekurangan Metode Bercerita Setiap metode yang digunakan dalam pembelajaran tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan, berikut kelebihan dan kekurangan metode bercerita : Dapat menjangkau jumlah anak yang relatif lebih banyak Waktu yang tersedia dapat dimanfaatkan dengan efektif dan efisien Pengaturan kelas menjadi sederhana Guru dapat menguasai kelas dengan mudah Secara relatif tidak banyak memerlukan biaya (Fadlan, 2. Sedangkan untuk kekurangannya antara lain adalah : Anak didik atau siswa tidak pasif, karena lebih banyak mendengarkan atau menerima penjelasan dari guru. Kurang merangsang perkembangan kreativitas dan kemampuan anak untuk mengutarakan pendapatnya. Daya tangkap atau serapa anak didik berbeda dan masih lemah sehingga sukar memahami tujuan pokok isi cerita Karakter Teori Tabula rasa oleh John Lock yang menyatakan bahwa manusia dilahirkan dengan suatu keadaan dimana tidak ada bawaan yang akan di bangun pada saat lahir (Kertas koson. yang dapat ditulis, sehingga jiwa tersebut menjadi berwarna dan berisi (Santrock. Karakter merupakan watak, tabiat, akhlak atau kepribadian seseorang sebagai kualitas atau kekuatan mental, moral budi pekerti yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan . yang diyakini dan digunakan sebagai landasan dan penggerak dalam berpikir, bersikap, dan bertindak, serta membedakan satu individu dengan individu lainnya (Suwardani, 2. Karakter merupakan cara berpikir atau berperilaku seseorang yang membedakan dirinya dengan orang lain dalam kehidupan individunya maupun kehidupan sosialnya (Habsari, 2. Pendapat lain menyatakan bahwa karakter adalah ciri khas yang melekat pada diri seseorang yang terbentuk melalui proses belajar seumur hidup (Setiardi & Mubarok, 2. Dari pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa karakter merupakan ciri khas seseorang yang terbentuk dari proses dan pengalamannya yang diyakini dan digunakan sebagai landasan dalam bergerak, berfikir, bersikap, dan bertindak. Membangun Karakter Karakter mengacu pada serangkaian sikap, perilaku dan keterampilan. Karakter meliputi sikap seperti, keinginan untuk melakukan hal yang terbaik. kapasitas intelektual seperti kritis dan alasan moral dalam perilaku seperti jujur dan bertanggung jawab, mempertahankan prinsip-prinsip moral dalam suatu kondisi ketidakadilan, kecakapan interpersonal dan emosional yang memungkinkan seseorang berinteraksi secara komunitas dengan masyarakatnya (Musfiroh, 2. Karakter sendiri tidak terbentuk dengan sendirinya, karakter dapat terbentuk salah satunya ialah melalui pendidikan, di sini Pendidikan memiliki peran dalam pembentukan karakter, yang ditanamkan melalui nilainilai kekuatan karakter positif. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa Keberhasilan dalam pengembangan karakter pada pendidikan anak usia dini dapat diketahui dari perilaku sehari-hari diantaranya adalah sebagai berikut : kesadaran, kejujuran, keikhlasan, kemandirian, kepedulian, kebebasan dalam bertindak, ketelitian dan komitmen, selain itu karakter sendiri tidak hanya mempertimbankan karakter yang sementara saja, namun juga Metode Bercerita dalam membentuk karakter keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi InAoamu Dzakiyyatul Jamilah memperhatikan tingkat kekuatan karakter itu sendiri, karena kekuatan karakter pada anak juga dapat berpengaruh pada kehidupan anak yang akan datang (Rohmah, 2. Karakter Positif Keberanian Kekuatan karakter mendorong seseorang untuk dapat menemukan keahliannya dan dapat mengembangkan dirinya kearah yang lebih positif (Peterson & Martin, 2. , yang berarti karakter seseorang memiliki tingkat kekuatannya sendiri-sendiri, hal ini dapat ditunjukkan dengan beberapa nilai kebajikan yang terdapat di dalam diri seseorang (Arumasari, 2. Kebajikan atau karakter positif keteguhan hati seseorang memiliki empat value yang mana hal ini menjadi indikator yang diperhatikan keberanian anak yang dimaksud dalam penelitian ialah sebagai berikut Tabel 1. Indikator Tingkat Karakter Keberanian No. Variabel Keberanian Indikator Berani Tampil dan percaya diri Menunjukkan sikap gigih dan tekun Menunjukkan pertanyaan guru Menjunjukkan antusias dalam belajar dan METODE Metode penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk meningkatkan karakter keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho melalui metode bercerita. Subjek dalam penelitian ini ialah siswa kelas B di RA Al Murtadho yakni dengan jumlah 15 siswa, 8 siswa laki-laki dan 7 siswa perempuan pada pembelajaran bahasa melalui penggunaan media wayang gambar dan video. Teknik pengumpulan data yakni melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Perencanaan dalam penelitian ini adalah persiapan yang telah dilakukan peneliti dan mitra peneliti untuk melaksanakan PTK, peneliti melakukan penelitian di kelas B RA Al Murtadho Kedungwaru dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun jumlah siklus tindakan yang di rancang peneliti terdapat 2 siklus, yaitu siklus I berfokus pada upaya pemulihan bahan ajar atau modul dan skenario pembelajaran dalam kelas serta proses pembelajaran yang tepat, siklus ke II berfokus pada pembentukan atau peningkatan keberanian siswa kelas B dalam pelajaran bahasa. Untuk mengetahui peningkatan keberanian siswa peneliti menggunakan analisis data yaitu melalui reduksi data, penyajian data . dan penarikan kesimpulan. HASIL Penelitian ini terdiri dari dua siklus yang dilakukan di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi: Pra siklus Berdasarkan pra siklus atau sebelum diberikannya tindakan siklus pertama yang peneliti lakukan di kelas B RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi. Jurnal Penelitian Anak Usia Dini Vol. No. tingkat keberanian masih belum mencapai taraf berkembang sesuai harapan, hal ini dapat terlihat ketika siswa kelas B masih belum percaya diri, belum antusias dalam belajar, siswa rata-rata belum gigih menunjukkan minat dalam belajar terutama ketika pembiasaan dalam berdoAoa sebelum dan sesuai melakukan kegiatan inti. Upaya yang dilakukan guru dalam menstimulus keberanian salah satunya ialah melalui cerita, namun cerita yang digunakan guru dalam kelas ini hanya berpusat pada guru, tanpa melibatkan siswa untuk tampil di depan teman-temannya. Dari 15 siswa kelas B di RA Al Murtadho hanya 2 siswa saja yang sudah berkembang sangat baik keberaniannya, serta 3 siswa sudah berkembang sesuai harapan, selebihnya dari 10 siswa kelas B RA Al Murtadho belum berkembang dan masih berkembang. Ini berarti hanya 13 % siswa yang memiliki keberanian sangat baik, sedangkan 87 % siswa yang lain tingkat keberanian masih rendah dan masih perlu untuk di tinngkatkan lagi untuk menunjang persiapan ke jenjang pendidikan selanjutnya, peneliti sendiri memberikan perlakuan yakni dengan menggunakan metode bercerita dengan bantuan media wayang dan video. Siklus I Hasil pengamatan selama proses pembelajaran berlangsung pada siklus I yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi . atu tindaka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan dan pelakasanaan bercerita serta bagaimana peningkatan karakter keberanian melalui metode bercerita. Penelitian ini dilakukan dengan bantuan media wayang gambar. Pada tindakan yang diberikan di siklus I menunjukkan hasil, dapat di lihat melalui tabel sebagai berikut : Tabel 2. Hasil perkembangan tingkat keberanian Siklus I siswa kelas B di RA AL Murtadho Kedungwaru Nama Ahlam Hafidz Azzalia Dirga Clara Nasya Kezia Azzam Hakim Nayla Raka Zafran Zahra Mitsy Wiliam Indikator BSB BSB BSH BSB BSB BSH BSH BSB BSH BSB BSB BSB BSH Keterangan BSB BSB BSH BSH BSB BSB BSH BSB BSB BSH BSH BSH BSH BSH BSB BSB BSH BSB BSB BSH Sumber : Hasil olah data pengamatan di RA AL Murtadho Kedungwaru (Tahun : 2. Metode Bercerita dalam membentuk karakter keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi InAoamu Dzakiyyatul Jamilah Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil observasi awal perkembangan siswa yang berkembang sangat baik yaitu hanya terdapat 2 siswa saja atau 13,3 % setelah di lakukan tindakan pada siklus I jumlah anak yang berkembang sangat baik meningkat menjadi 4 siswa atau 27 % sedangkan siswa yang berkembang sesuai harapan tetap 2 siswa atau 13,3 %. Siswa yang mulai berkembang meningkat menjadi 7 siswa atau 47 % dan yang belum berkembang terdapat 2 siswa atau 13 % dari jumlah keseluruhan. Hasil pada siklus I tersebut belum menunjukkan ketercapaian indicator keberhasilan peneliti yang peneliti tetapkan dalam penelitian ini, yaitu 80 % keberhasilan yang harus dicapai atau 12 siswa yang mencapai indikator keberhasilan, maka peneliti melajutkan penelitian ini pada siklus II. Siklus II Kegiatan observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung yang terdiri dari 2-4 kali pertemuan. Kegiatan observasi dilakukan untuk melihat tentang bagaimana tingkat karakter keberanian siswa kelas B . kegiatan pada siklus II ini menggunakan media video . udio-visua. Pada tindakan yang diberikan di siklus II menunjukkan hasil, dapat di lihat melalui tabel sebagai berikut. Tabel 3. sil perkembangan tingkat keberanian Siklus II siswa kelas B di RA AL Murtadho Kedungwaru Nama Ahlam Hafidz Azzalia Dirga Clara Nasya Kezia Azzam Hakim Nayla Raka Zafran Zahra Mitsy Wiliam BSB BSB BSB BSH BSH BSB BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSH BSB BSH Indikator BSB BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSB BSH BSH BSB BSB BSB BSH BSH BSB BSH BSH BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSH BSB Keterangan BSB BSB BSB BSH BSH BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSH BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB BSB Sumber : Hasil olah data pengamatan di RA AL Murtadho Kedungwaru (Tahun : 2. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil perkembangan siswa yang berkembang sangat baik yaitu hanya terdapat 2 siswa saja setelah di lakukan tindakan pada siklus I jumlah anak yang berkembang sangat baik meningkat menjadi 4 siswa dan setelah dilakukan tindakan pada siklus II jumlah siswa berkembang sangat baik meningkat lagi menjadi 12 siswa. Apabila dipresentasikan perkembangan tingkat keberanian siswa yang terjadi di RA AL Murtadho Kedungwaru Ngawi meningkat menjadi 13 % jumlah keseluruhan siswa pada observasi awal yang memiliki tingkat keberanian berkembang sangat baik meningkat menjadi 27 % dan ketika di berikan metode bercerita menggunakna video audio visual meningkat lagi menjadi 86% dari jumlah keseluruhan. Hasil pada siklus II Jurnal Penelitian Anak Usia Dini Vol. No. ini telah menunjukkan ketercapaian indikator keberhasilan yang peneliti tetapkan yaitu 80% PEMBAHASAN Jenis penelitian yang dilakukan peneliti termasuk dalam jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan bantuan guru kelas. Penelitian dilaksanakan dalam dua siklus, masing-masing siklus terdiri dari 3 pertemuan. Setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Penggunaan data lapangan menggunakan lembar observasi dan dokumentasi. Pengambilan data tersebut dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keberanian siswa kelas B melalui metode bercerita. Proses pembelajaran dilakukan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan keberanian siswa dengan menggunakan video . udio-visua. mendapatkan hasil yang memuaskan, sehingga sesuai dengan yang diharapkan oleh guru. Data dalam perbandingan dua siklus ini dapat dicermati pada tabel sebagai berikut : Tabel 3 : Perbandingan tingkat keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi Hasil Standar Penilaian Jumlah siswa Prasiklus Belum Berkembang Persentase Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik Siklus I Belum Berkembang siklus II Masih Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik Siklus II Belum Berkembang Masih Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik di setiap pertemuannya. Siswa-siswa sangat antusias dalam mengikuti pembelajaran. Berdasarkan data hasil pengamatan, tingkat keberanian siswa pada siklus II mengalami Siswa yang masuk kriteria berkembang sangat baik sebanyak 13 siswa . %), sedangkan siswa yang masuk kriteria berkembang sesuai harapan sebanyak 1 siswa . %) dan siswa mulai berkembang sebanyak 1 siswa . %) dan tidak terdapat siswa yang belum Berdasarkan penjabaran di atas, maka standar penilaian yang ada yakni belum Metode Bercerita dalam membentuk karakter keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi InAoamu Dzakiyyatul Jamilah berkembang, mulai berkembang, berkemban sesuai harapan, berkembang sangat baik yang di dapatkan siswa selama pembelajaran berlangsung pada pra siklus atau observasi awal, siklus I dan siklus II menggunakan metode bercerita dapat di tunjukkan melalui grafik di bawah ini : Gambar 1. Perkembangan tingkat keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi pada pra siklus, siklus I dan siklus II Pra Siklus Siklus 1 Siklus 2 Belum Berkembang Mulai Berkembang Berkembang Sesuai Harapan Berkembang Sangat Baik Berdasarkan diagram di atas, dapat diketahui bahwa : Pra Siklus Sebelum menggunakan metode bercerita yang di bantu media wayang gambar dan video audio visual hanya terdapat 2 siswa . %) yang memiliki tingkat keberanian berkembang sangat baik (BSB), 3 siswa . %) yang memiliki tingkat keberanian berkmbang sesuai harapan (BSH), 10 siswa . %) yang memiliki tingkat keberanian mulai berkembang (MB) dan belum berkembang (BB) . Siklus I Sesudah menggunakan metode bercerita dengan media wayang gambar siswa dengan tingkat keberaniannya berkembang sangat baik (BSB) mengalami peningkatan menjadi 4 siswa . % ), sedangkan siswa dengan tingkat keberanian berkembang sesuai harapan (BSH) terdapat 2 siswa . %), siswa dengan tingkat keberanian mulai berkembang (MB) menjadi 7 siswa . %) dan siswa dengan tingkat keberanian belum berkembang terdapat 2 siswa . %). Karena di rasa pada siklus I metode bercerita yang diberikan kepada siswa kelas B dengan bantuan metode wayang gambar belum maksimal, kemudian peneliti melaksanakan metode bercerita menggunkan video audio visual yang diputar melalui youtube pada siklus II . Siklus II Setelah menggunakan metode bercerita dengan video audio visual yang di putar melalui youtube siswa yang mengalami peningkatan keberanian siswa yang menunjukkan tingkat keberanian masih berkembang (MB) terdapat 1 siswa atau . %) dan siswa yang menunjukkan tingkat keberanian berkembang sesuai harapan (BSH) terdapat 1 siswa atau . %) dan siswa dengan tingkat keberanian berkembang sangat baik (BSB) terdapat 12 siswa atau 86 %. Keberanian pada anak memiliki peran yang penting untuk anak dalam mempersiapkan pendidikan selanjutnya, berperan pula untuk anak ketika mengambil keputusan. Jurnal Penelitian Anak Usia Dini Vol. No. SIMPULAN Keberanian merupakan karakter yang dapat dibentuk oleh setiap orang. Pembiasaan baik untuk pembentukan karakter pada anak tidak cukup sampai pada lingkungan keluarga sehingga kebiasaan di lingkungan madrasah juga perlu diterapkan salah satu yang perlu diperhatikan adalah dalam memilih metode yang diberikan kepada anak dengan menggunakan bahasa yang mudah di pahami dan media yang digunakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana perencanaan dan pengaruh metode bercerita dalam membentuk karakter keberanian siswa kelas B di RA Al Murtadho Kedungwaru Ngawi. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan yang telah mencapai indikator dalam berani dan tampil percaya diri ketika bercerita, menunjukkan sikap gigih dan tekun dalam belajar, menunjukkan sikap jujur dan bertanggungjawab dalam menjawab pertanyaan guru, serta dapat menunjukkan sikap antusias dan semangat dalam belajar dan bermain REFERENSI