Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/v9i2. Kristus dalam Berbagai Budaya Jhon Daeng Maeja1* Rosalia Ina Kii2 Maria Felicitas Mali3 Eugene Mario Widiatmoko4 Lina Sriwahyuni5 Sekolah Tinggi Pastoral Yayasan IPI. Malang. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Jhon Daeng Maeja Surel : jhondaengmaeja@gmail. ManuscriptAos History Submit : Agustus 2024 Revisi : September 2024 Diterima : Oktober 2024 Terbit : November 2024 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Budaya Kata kunci 2 Teologi Kontekstual Kata kunci 3 Yesus Kristus Copyright A 2024 STP- IPI Malang Gereja dan budaya tidak bisa dipisahkan. Gereja dapat semakin mengakar dan bertumbuh dalam budaya. Dalam perjalanan sejarah, hubungan antara gereja dan budaya dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, gereja pada masa awal masih menyatu dengan budaya. Bagian kedua terjadi saat gereja memisahkan diri dari budaya. Gereja tidak bersentuhan dengan kebudayaan. Bagian ketiga merupakan masa dimana gereja kembali membangun hubungan dengan budaya. Akan tetapi dalam perjalanannya, gereja belum sepenuhnya menerima dan menggali makna dari budaya. Gereja seringkali mengabaikan dan bahkan mau menghilangkan suatu kebudayaan. Tujuan penulisan ini ialah menggali teologi kontekstual dalam berbagai budaya. Metode penelitian yang digunakan ialah kajian pustaka. Hasil penelitian ialah Kristus dapat ditemukan dalam budaya Jawa. Sumba. Timor dan Toraja. Masingmasing budaya mempunyai penyebutan untuk memperkenalkan Yesus Kristus. Menurut budaya Jawa. Kristus dihubungkan dengan tokoh Semar. Dalam budaya Sumba. Kristus dianalogikan sebagai Marapu Panggilan suku Timor untuk Yesus Kristus ialah Nai Maromak. Sedangkan dalam budaya Toraja Kristus disebut sebagai Tomanurun dan Kesimpulan penelitian ialah teologi kontekstual sudah dilaksanakan dalam beberapa budaya di Indonesia. Abstract Corresponding Author Name : Jhon Daeng Maeja E-mail : jhondaengmaeja@gmail. ManuscriptAos History Submit : August 2024 Revision : September 2024 Accepted : October 2024 Published : November 2024 Keywords: Keyword 1 Culture Keyword 2 Contextual Teology Keyword 3 Jesus Christ Copyright A 2024 STP- IPI Malang Church and culture are inseparable. The church can become more and more rooted and grow in culture. In the course of history, the relationship between church and culture is divided into three parts. The first part is that the church in the early days was still integrated with culture. The second part occurs when the church separates itself from culture. The Church is not in touch with culture. The third part is a time when the church re-establishes a relationship with culture. However, in its journey, the church has not fully accepted and explored the meaning of The Church often ignores and even wants to eliminate a culture. The purpose of this writing is to explore contextual theology in various The research method used is a literature review. The result of the research is that Christ can be found in the cultures of Java. Sumba. Timor and Toraja. Each culture has a mention to introduce Jesus Christ. According to Javanese culture. Christ is associated with the figure of Semar. In Sumbanese culture. Christ is analogous to the true Marapu. The Timorese call for Jesus Christ is Nai Maromak. While in Toraja culture Christ is referred to as Tomanurun and alang. The conclusion of the study is that contextual theology has been implemented in several cultures in Indonesia. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya Pendahuluan Setiap kebudayaan mengandung unsur religi. Dalam kebudayaan setiap bangsa ditemukan benih-benih religi. Benih religi itu memantulkan kebenaran. Dalam Dokumen Nostra Aetate 2 dikatakan bahwa walaupun kebudayaan berbeda dengan ajaran Kristus, budaya Autidak jarang memantulkan kebenaran, yang menerangi semua manusiaAy. Selain memantulkan kebenaran, budaya merupakan karya Roh Kudus . Kis 14: 15-17. Budaya disebut sebagai karya Roh Kudus karena budaya merupakan persiapan pemenuhan amanat Kristus (Tondowidjojo, 2. Rasul Paulus menunjukkan hubungan antara Gereja dan budaya. Ketika berhadapan dengan orang-orang Yunani, ia mengatakan: AuApa yang kamu sembah tanpa kamu mengenalnya, itulah yang kuwartakan kepadamuAy (Kis 17:. (Tondowidjojo, 2017:. Rasul Paulus mewartakan tentang Injil di tengah-tengah budaya Yunani. Patung-patung sembahan orang Yunani digunakan oleh Paulus untuk mewartakan tentang Allah yang tidak mereka kenal. Hal ini menunjukkan bahwa dari awal pewartaan. Gereja sudah berhadapan dengan budaya-budaya. Kristiyanto dan Chang . mengatakan bahwa Aukeselamatan yang berasal dari Allah melalui Yesus Kristus itu bersifat universalAy. Dengan kata lain, peristiwa penyelamatan melalui Yesus Kristus tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Keselamatan itu ditujukan kepada semua bangsa, golongan dan budaya. Acuan dari keselamatan universal ini ialah peristiwa Santo Petrus bermimpi di Yope . Kis 10: 12-. Dalam mimpi itu. Allah ingin menyatakan kepada Petrus agar ia tidak terikat para budaya tertentu. Allah menyelamatkan semua budaya tanpa terkecuali. Martasudjita . membagi perjalanan Gereja dalam hubungannya dengan budaya menjadi tiga bagian. Periode pertama ialah pengalaman iman jemaat perdana. Periode ini dikatakan sebagai periode iman Yahudi. Yesus Kristus dan hampir semua orang yang terlibat dalam jemaat perdana merupakan orang Yahudi. Jemaat perdana harus mempertanggungjawabkan iman mereka dengan latar belakang Yahudi. Tantangan yang dialami jemaat perdana ialah mereka harus menjelaskan iman mereka kepada orang-orang Yahudi. Bagian akhir dari periode ini ialah ketika para rasul mulai tersebar ke berbagai tempat untuk mewartakan Injil. Pertemuan budaya Yahudi dengan budaya lain juga menjadi Budaya sunat yang menjadi budaya Yahudi ditentang oleh orang-orang Kristen non Yahudi kala itu. Akhirnya masalah ini diselesaikan melalui konsili pertama, yaitu Konsili Yerusalem. Orang-orang non Yahudi yang mau menjadi Kristen tidak perlu disunat. Periode kedua dimulai ketika para rasul sudah menyebar ke berbagai tempat untuk mewartakan Injil. Gereja awal yang baru berkembang akhirnya sampai ke Eropa. Secara perlahan. Eropa menjadi pusat kekristenan. Budaya Eropa menjadi kiblat baru dalam penyebaran kekristenan. Periode kedua menjadi periode yang paling panjang. Salah satu tonggak dari periode ini ialah Edik Milan tahun 313 dimana Kekristenan menjadi agama negara di Kekaisaran Romawi. Dampak dari peristiwa ini ialah Kekristenan diindentikkan https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya dengan budaya Eropa. Pada bagian awal, beberapa tokoh mencoba untuk mempertemukan Kekristenan dengan budaya Yunani. Tokoh-tokoh seperti Santo Yustinus Martir . urang lebih . dan Santo Klemens dari Alexandria . urang lebih . mencoba menjelaskan iman Gereja dalam filsafat Yunani (Martasudjita, 2021:. Dalam periode kedua ini, budaya Latin dari kekaisaran Romawi menggantikan budaya Yahudi. Dalam periode waktu yang sangat panjang itu Gereja dikenal dengan budaya Latin. Budaya Latin mendominasi Gereja. Segala sesuatu berhubungan dengan budaya Latin. Gereja juga mempunyai pandangan extra ecclesiam nulla salus. Budaya-budaya yang ada di luar gereja harus dibersihkan karena berhubungan dengan kekafiran. Di luar gereja tidak ada Doktrin ini dianut Gereja selama periode kedua yang sangat panjang. Bevans . mengatakan bahwa Gereja seringkali berupaya meleyapkan budayabudaya yang dikaitkan dengan Aurupa-rupa keyakinan seperti sihir, penyembuhan gaib dan keberadaan roh-rohAy. Padahal semua itu merupakan bagian dari budaya dimana Gereja berkembang saat itu. Gereja yang ingin menyebarkan Injil ke berbagai tempat selalu berhadapan dengan budaya. Akan tetapi Gereja belum menyikapi dengan baik keberadaan budaya karena masih berpegang pada doktrin periode kedua ini. Beberapa jurnal menunjukkan sikap gereja terhadap adat dan budaya. Antonius . menceritakan tentang misionaris yang menghancurkan aitos, patung leluhur milik Suku BunaAo di Timor. Pater Ernestus Barth menghancurkan semua aitos dihadapan semua orang BunaAo yang saat itu sudah menganut agama katolik. Latar belakang dari penghancuran ini ialah Pater Barth menganggap semua ini sebagai bentuk kekafiran. Orang-orang BunaAo saat itu sudah dibaptis namun mereka masih terikat dengan adat. Peristiwa itu terjadi tahun 1957. Panda . mengatakan bahwa pendekatan awal penyebaran Injil terhadap penganut kepercayaan Marapu di Sumba juga mengalami hal yang sama. Para misionaris mempertobatkan orang Sumba dengan anggapan hanya agama Kristen yang benar. Kepercayaan Marapu dihubungkan dengan Aukekafiran dan diterjemahkan dengan kata setanAy. Semua penganut kepercayaan Marapu harus dipertobatkan dan harus masuk Kristen. Adon ddk. juga berbicara tentang gereja yang berbenturan dengan budaya. Pada awal masuknya misionaris ke dalam kebudayaan Ende Lio, gereja menempatkan diri lebih tinggi dari budaya Ende Lio. AuGereja membangun temboh yang kuat antara agama dan kebudayaan lokalAy. Agama lokal khususnya kebudayaan Ende Lio dipandang sebagai penghalang bagi perkembangan gereja. Gereja mengganggap penting untuk memurnikan kebudayaan Ende Lio kala itu. Akhirnya beberapa acara dan ritus budaya Ende Lio Audihapus ataupun dimodifikasi sedemikian rupa sehingga sejalan dengan inti ajaran iman kristianiAy. Pada periode itu. Gereja merasa lebih superior dari budaya. Oleh karena itu, gereja merasa mempunyai otoritas untuk mengubah budaya-budaya yang ada. Periode ketiga dalam perjumpaan Gereja dengan budaya dimulai ketika gereja mengadakan Konsili Vatikan II. Gereja mengadakan penbaharuan secara keseluruhan. Konsili Vatikan II merupakan karya Roh Kudus yang sungguh mengubah Gereja. Dokumen- https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya dokumen yang dihasilkan dalam KV II membuat Gereja mengakui kekayaan budaya setiap Gereja membuka diri dan menemukan Kristus dalam budaya-budaya. Dalam Konsili Vatikan II, kebudayaan dipandang sebagai Aupreparation evangelica atau persiapan kepenuhan InjilAy (Sunarko, 2016:. Hal inilah yang menjadi dasar dari penulisan artikel ini. Setiap kebudayaan mengandung makna yang mendalam khususnya bila dihubungkan dengan terang Injil. Kebudayaan Indonesia sangat kaya dan beragam. Hal ini perlu digali secara mendalam dan dilihat sebagai persiapan bagi kepenuhan Injil Yesus Kristus. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian pustaka atau library research. Kajian pustaka merupakan metode penelitian yang menggunakan sumber-sumber berupa buku dan jurnal. Buku dan jurnal yang digunakan dikumpulkan dari aplikasi publish or Aplikasi ini membantu peneliti untuk menemukan sumber yang sesuai dengan tema Setelah menemukan sumber-sumber, peneliti kemudian mengolah dan mengelompokkan sumber tersebut. Tahap akhir ialah menyusun sumber berdasarkan tematemanya. Hasil dan Pembahasan Dasar dokumen-dokumen Gereja Salah satu dokumen tertua tentang budaya ialah Instruksi Lembaga Gerejawi untuk Penginjilan Para Bangsa. Dokumen ini dikeluarkan pada tahun 1659. Isi dari dokumen ini ialah Gereja tidak diperbolehkan mengubah setiap kebudayaan dengan cara apapun. Selama kebudayaan tidak Ausecara mencolok sama sekali . bertentangan dengan agama atau moral KatolikAy. Gereja Katolik tidak boleh menghilangkan upacara atau ritus apapun dalam kebudayaan. Gereja seharusnya membiarkan kebudayaan utuh dan berlangsung terus (Tondowidjojo, 2017:. Dokumen ini dikeluarkan dalam periode kedua hubungan antara Gereja dan budaya. Walaupun doktin Katolik saat itu sangat kuat, sudah ada dokumen dan tokoh-tokoh gereja yang tidak menghilangkan unsur budaya. Paus Gregorius Agung pada tahun 601 juga menggunakan pendekatan budaya. Paus memerintahkan Santo Mellitus dan Santo Agustinus dari Canterbury agar tidak menghancurkan tempat-tempat ibadah di Inggris kala itu. Paus hanya meminta menghancurkan patung-patung berhala mereka. Tempat ibadah mereka bisa Tempat ibadah yang mempunyai ciri khas budaya dipertahankan oleh paus (Martasudjita, 2021:86-. Pada periode kedua ini. Paus Benediktus XV juga mengeluarkan surat apostolik Maximum Illud pada tahun 1919. Ada dua tekanan utama surat apostolik ini. Pertama, paus mendorong pendidikan para imam pribumi. Para imam pribumi akan bertanggung jawab terhadap misi gereja secara mandiri. Kedua, paus menyerukan agar para misionaris mempelajari dan menggunakan unsur budaya dalam pewartaan. Para misionaris tidak boleh https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya memaksakan budaya eropa dalam pewartaan mereka. Surat apostolik ini merupakan salah satu landasan keterbukaan Gereja terhadap budaya. Walaupun saat itu praktek ini belum seragam dilakukan (Martasudjita, 2021:. Paus Pius XI juga menulis surat ensiklik Rerum Ecclesiae. Melalui ensiklik ini, paus menghendaki adanya gerakan membumikan Injil. Injil harus menyatu dengan kebudayaan Usaha membumikan liturgi bisa dilakukan dengan cara memasukkan dalam liturgi dan dekorasi gereja. Paus Pius XII menulis ensiklik Evangelii Praecones. Ensiklik ini secara frontal menyuarakan pluralitas budaya dalam Gereja. Paus ingin budaya monocultural ditinggalkan karena sudah mandarah daging dalam Gereja selama berabad-abad (Martasudjita, 2021:95-. Setelah Konsili Vatikan II. Paus Paulus VI dalam Dokumen Evangelii Nuntiandi juga berbicara tentang hubungan Gereja dengan budaya. Dalam Dokumen Evangelii Nuntiandi 62 dikatakan bahwa gereja semesta dibagi atas gereja-gereja setempat. Gereja setempat tidak dapat dipisahkan dari bahasa tertentu dan mewarisi pusaka budaya. Gereja setempat harus mempunyai sikap terbuka terhadap kebudayaan setempat (Suharyo, 2009:. Selain itu pembahasan budaya dilanjutkan dalam artikel 63, yang berbunyi: Gereja-gereja itu, yang mencakup dalam dirinya bukan hanya orang-orang, melainkan juga aspirasi-aspirasi, kekayaan serta sifat terbatasnya, pelbagai cara berdoa, mengasihi, memandang kehidupan dan dunia, yang membedakan pelbagai kelompok manusia, bertugas mengolah hakikat Injil dan Ae tanpa sedikit pun mengkhianati kebenaran hakikinya Aemenejemahkanya ke dalam bahasa yang dimengerti oleh kelompok khusus itu, kemudia mewartakannya dalam bahasa itu (Evangelii Nuntiandi . Evangelii Nuntiandi artikel 63 ingin menekankan keterbukaan Gereja terhadap dunia. Gereja dapat menggunakan bahasa dari setiap kebudayaan untuk mewartakan Injil. Ini menunjukka bahwa Auhal-hal yang baik dalam setiap kebudayaan tidak dihilangkan melainkan disembuhkan, diangkat dan disempurnakanAy oleh Gereja (Ad Gentes 9. Lumen Gentium 17. Gaudium et Spes 44. Nostra Aetate . Gereja akan diperkaya oleh kebudayaan. Auhal-hal yang baik dalam budaya diterima, sehingga pengungkapan dan penghayatan iman diperkaya oleh kekayaan budaya setempatAy (Suharyo, 2009:. Dokumen Ad Gentes art. 22 juga berbicara tentang kebudayaan. Dalam dokumen ini, ada dua poin penting tentang hubungan gereja dengan budaya. Pertama, inkarnasi Yesus Kristus merupakan jembatan penghubung antara gereja dengan budaya. Yesus Kristus masuk ke dalam budaya manusia agar manusia mengenal Allah. Kedua. Yesus Kristus menggunakan budaya-budaya untuk mewartakan cinta kasih Allah. Manusia tidak akan mengenal Allah jika Yesus tidak masuk dalam budaya manusia. Allah yang Mahakuasa tidak akan terjangkau oleh akal budi manusia. Oleh karena itu. Kristus menggunakan budayabudaya untuk memperkenalkan Allah. Dua poin penting ini menunjukkan hubungan erat tantara gereja dan budaya. AuDokumen Konsili Vatikan II ini hendak menegaskan keterhubungan yang erat antara agama dan budaya sehingga tidak dapat dilepaspisahkan satu dengan yang lainnyaAy (Adon. Depa dan Masut, 2022:. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya Kristus dalam budaya jawa Dalam budaya Jawa dikenal istilah Aumanunggaling kawula GustiAy. Asal-usul dari istilah ini ialah cerita Dewaruci. Kisah Dewaruci menggunakan tokoh utama Bima. Ia adalah anak kedua dari lima bersaudara keluarga Pandawa. Bima berkenala untuk mencari air hidup. menghadapi banyak rintangan tetapi tidak menyerah. Dalam perjalanan, ketika Bima sudah merasa lelah, datanglah sosok misterius dalam wujud makhluk kecil. Wujud itu menyebut dirinya Dewaruci. Dewaruci mengajak Bima untuk masuk ke dalam batinnya. Walaupun sempat ragu. Bima akhirnya berhasil memasuki batin Dewaruci. Di sana Bima kemudian menemukan alam yang sangat luas. Bima akhirnya menyadari bahwa ia telah mencapai Aumanunggaling kawula GustiAy, kesatuan hamba Tuhan (Magnis-Suseno, 1993:195-. Dalam kebudayaan Jawa, untuk mencapai manunggaling kawula Gusti dapat ditempuh dengan cara masuk ke dalam diri sendiri. Batin merupakan tempat berdiamnya Yang Ilahi. Batin adalah Hyang Sukma. Orang dapat sampai ke dalam batin melalui keheningan. Laku tapa dan semadi merupakan cara untuk mencapai batin terdalam. Dari perilaku ini pula manusia dapat mengontrol hawa nafsu dan segala emosi (Magnis-Suseno, 1993:196-. Kebudayaan Jawa sangat lekat dengan dimensi kebatinan. Laku tapa dan semedi merupakan bagian dari dimensi ini. Dimensi inilah yang menghubugkan kebudayaan Jawa dengan Gereja. Gereja dikenal dengan doa-doa kebatinan. Gereja mengajak umatnya untuk berdoa dalam hatinya sendiri. Gereja juga menyediakan tempat-tempat yang sepi untuk Tempat-tempat ziarah menjadi salah satu contohnya. Orang bisa berdoa, menyatu dengan alam dan langsung bertemu dengan Tuhan dalam keheningan (Magnis-Suseno, 1993:. Praktek keagamaan dalam gereja Katolik sangat mendukung dimensi kebatinan kebudayaan Jawa. AuPelbagai upacara, doa, tanda-tanda keramat, gereja-gereja, tempat ziarah, tabernakel, air suci, lilin dan dupa, rosario, dan patung-patungAy merupakan praktek iman dalam Gereja yang mendukung manusia bertemu langsung dengan Tuhan (Supriyanto. Bahkan dalam perayaan Ekaristi, orang Jawa menemukan persatuan dengan Tuhan. Pertama, dalam perayaan ekaristi terdapat doa-doa batin yang kaya. Doa ini membutuhkan ketenangan dan keheningan. Orang Jawa sangat beradaptasi dengan ketenangan dan Ada saat tertentu umat tidak perlu terlibat dalam beberapa bagian misalnya Doa Syukur Agung. Mereka mengikuti dengan berdoa dalam batin. Kedua, perayaan ekaristi menunjuk pada selamatan . Setelah selamatan, orang yang hadir akan mendapat bagian dari tumpeng yang telah didoakan. Dalam perayaan ekaristi juga dibagikan Tubuh Kristus sendiri. Unsur-unsur ini semakin menguatkan hubungan Gereja dengan kebudayaan Jawa (Magnis-Suseno, 1993:. Manunggaling kawula Gusti, persatuan manusia dengan Tuhan juga terwujud dalam Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah Allah yang menjadi manusia. Dalam diri Yesus Kristus tercapai persatuan antara Allah dan manusia. Manusia dapat memohon kepada-Nya untuk bertemu dengan Allah. Yesus adalah Aujalan, kebenaran dan hidupAy. Manusia akan mencapai persatuan dengan Tuhan melalui Yesus Kristus (Supriyanto, 2002:. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya Salah satu sosok yang mengambil peran penting dalam wayang Jawa adalah Semar. Semar adalah panakawan yang menamani Arjuna dan para Pandawa. Semar digambarkan sebagai sosok yang aneh dan berbadan gemuk. Dalam wayang. Semar sering melucu dan membuat penonton tertawa. Akan tetapi sosok yang aneh dan lucu itu hanyalah gambaran dari luar. Semar dikenal sebagai penasehat Arjuna dan para Pandawa. Mereka akan mengalami kesulitan bila tidak mendengarkan nasehat Semar. Bahkan dengan Batara Guru, dewa tertinggi. Semar menggunakan bahasa ngoko. Bahasa ini dipakai oleh seorang atasan kepada bawahannya. Ketika Semar marah, para dewa pasti ketakutan. Semua ini menunjukkan bahwa Semar sebenarnya adalah dewa yang paling berkuasa (Magnis-Suseno, 1993:. Dalam diri tokoh Semar dalam budaya kejawen dikenal sebagai inkarnasi dari dewa Ismaya yang turun ke dunia untuk mendukung para kesatria, sedangkan untuk badannya meminjam badan seorang abdi dari wirata yaitu Babrayana (Randyo, 2. Bahkan dalam Susdarwono . jelas dituliskan bahwa pribadi Semar nyatanya adalah sesosok dewa tua, tetapi menjelama menjadi hamba dan dia sebenarnya berkuasa namun ia memilih untuk Pribadi ini sangat cocok dijadikan contoh agar masyarakat jawa dapat perlahan memahami pribadi Yesus yang adalah Allah yang menjelma menjadi seorang Hamba seperti manusia pada umunya, kecali dalam hal dosa. Dari penjelasan dingkat mengenai pribadi Semar, dapat dilihat kemiripan dengan pribadi Yesus. Pribadi Yesus yang adalah Allah, namun Ia memilih untuk mengosongkan diri dan mengambil rupa hamba tertulis jelas dalam Filipi 2:6-7 Auyang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan sama menjadi manusiaAy. Bila kita menyadari sifatsifat dari Yesus yang rendah hati, menyukai kesederhanaan, gemar melayani ketimbang dilayani orang lain, sifat-sifat itu pula dapat nampak dalam pribadi Semar. Sosok semar sebagai sosok sederhana dan hanya seorang rakyat biasa dihubungan dengan Yesus Kristus. Walaupun Semar adalah rakyat biasa, para dewa sangat takut Nasehatnya selalu didengarkan oleh Arjuna dan para Pandawa. Yesus Kristus sebagai Allah datang ke dunia dan menjadi sama dengan manusia. Yesus Kristus dekat dan bergaul dengan orang-orang miskin. Orang-orang menderita diperhatikan oleh-Nya. Orang yang sakit dan lemah disembuhkan. Kebudayaan Jawa kemudian menghubungan Yesus Kristus dengan Semar dalam wayang. Semar adalah manusia sederhana yang ditakuti oleh para dewa. Yesus Kristus adalah Allah sendiri yang datang dalam wujud manusia dan mencintai orang-orang sederhana (Supriyanto, 2002:. Kristus dalam budaya Toraja Kisah penciptaan ini berasal dari ritual pasomba tedong. Pasomba tedong merupakan salah satu ritual dalam upacara rambu tuka . pacara syuku. Pasomba tedong dibawakan dalam upacara merok, tingkatan upacara paling tinggi dalam mangrara tongkonan . emberkatan ruma. Dalam pasomba tedong dikisahkan bahwa pada awalnya Puang Matua menciptakan langit dan bumi. Hubungan manusia dengan Puang Matua terjalin erat https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya melalui Eran diLangiAo . angga menuju ke langi. Manusia bisa berhubungan secara langsung dengan pencipta. Puang Matua (Tulak, 2023:. Hubungan erat manusia dengan pencipta ternoda oleh kejahatan yang dibuat manusia. Manusia bernama Londong di Rura menikahkan anak kandungnya. Kejahatan ini membuat Puang Matua marah dan merobohkan Eran diLangiAo. Akhirnya manusia tidak bisa lagi berhubungan secara langsung dengan pencipta. Untuk memulihkan hubungan itu. Puang Matua mengutus Tomanurun yang bernama Puang Tombora LangiAo (Martasudjita, 2021:300-. Tomanurun yang diutus membawa syarat agar manusia bisa bersatu lagi dengan Tomanurun membawa aluk sanda saratu. Aluk ini tatacara paling tinggi dalam upacara kematian dimana manusia harus mengorbankan seratus kerbau, seratus babi dan seratus ayam. Orang yang mampu memenuhi aluk ini akan sampai kepada Puang Matua. Aluk ini juga hanya dikhususkan bagi kaum bangsawan. Kaum lainnya tidak boleh Permasalahan yang muncul ialah tidak semua orang mampu melaksanakan aluk ini. Bahkan kaum bangsawan sendiri banyak yang tidak mampu Kisah penciptaan di atas dipelihara dalam upacara kematian orang Toraja yang disebut rambu solo. Setelah runtuhnya Eran diLangiAo, orang yang meninggal akan menuju puya sebelum bertemu dengan Puang Matua. Perjalanan menuju puya membutuhkan bekal yang Bekal itu berupa darah hewan yang dikurbankan oleh keluarga yang masih hidup. Semakin banyak darah hewan yang dikurbankan, semakin cepat orang yang meninggal sampai ke puya. Demikian pula hewan yang dikurbankan mempunyai nilai. Semakin mahal kerbau yang dikurbankan, orang yang meninggal juga akan semakin cepat sampai ke puya (Tulak, 2023:. Kisah penciptaan dan upacara kematian merupakan jalan masuk untuk memperkenalkan Kristus dalam budaya Toraja. Menurut Mgr. John Liku-AdaAo, budaya Toraja merupakan preparation evangelica bagi Injil Yesus Kristus. Yesus Kristus dianalogikan sebagai Tomanurun yang baru. Dalam kisah penciptaan orang Toraja. Tomanurun hanya menyelamatkan kaumnya sendiri. Sedangkan karya keselamatan Yesus Kristus bersifat Semua orang diselamatkan oleh-Nya. Hal ini menjadikan Yesus Kristus sebagai manusia yang lebih agung dari Tomanurun (Martasudjita, 2021:. Selain itu. Yesus Kristus adalah Eran diLangiAo sejati. Eran diLangiAo menghubungkan manusia dengan Puang Matua. Yesus Kristus adalah jalan, kebenaran dan hidup (Yoh. Yesus Kristus adalah Allah sendiri. Orang Toraja tidak akan takut lagi Eran diLangiAo Dalam Kristus, mereka dapat bertemu dengan Allah. Yesus Kristus juga adalah Anak Allah. Analogi Yesus Kristus sebagai Eran diLangiAo sejati akan membuat Injil dekat dengan manusia Toraja (Tulak, 2023:120-. Pengurbanan hewan dalam jumlah besar-besaran sudah tidak perlu dilakukan lagi. Yesus Kristus sudah menjadi kurban keselamatan satu kali untuk selamanya (Ibrani 9:. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya Tidak ada lagi kurban keselamatan yang lain selain Kristus sendiri. Darah hewan tidak lagi menjadi bekal bagi mereka yang sudah meninggal. Yesus Kristus sudah menumpahkan darah-Nya di atas kayu salib untuk keselamatan umat manusia. Maka upacara rambu solo dalam tradisi orang Toraja tidak lagi berpuncak pada pengurbanan hewan. Rambu solo harus berpusat pada perayaan ekaristi dimana Yesus Kristus mempersembahkan tubuh-Nya sebagai kurban keselamatan (Tulak, 2023:. Michael dkk. menunjukkan salah satu upaya inkulturasi untuk memperkenalkan Kristus dalam budaya Toraja. Rumah adat orang Toraja disebut Tongkonan. Sedangkan lumbung tempat menyimpan padi disebut alang. Tongkonan dianalogikan sebagai ibu karena memberikan kelahiran. Alang dianalogikan sebagai ayah karena memberikan kehidupan berupa padi. Dalam salah satu Gereja Katolik di Toraja, tabernakel dibuat dalam bentuk alang. Hal ini merupakan salah satu upaya memperkenalkan Kristus bagi orang Toraja. Alang memberi kehidupan berupa padi bagi orang Toraja. Kristus juga memberikan kehidupan rohani bagi manusia berupa persembahan tubuh dan darah-Nya. Titik pertemuan inkulturasi terletak pada persamaan ini. Dengan menempatkan alang sebagai tabernakel, orang Toraja diajak untuk mengenal Kristus sebagai sumber kehidupan bagi mereka. Seperti alang yang menyediakan padi bagi orang Toraja. Kristus juga mempersembahkan tubuh dan darah-Nya sendiri bagi umat manusia (Michael dkk. , 2. Kristus dalam budaya Timor Masyarakat Dawan percaya bahwa ketika mereka meninggal, mereka akan menuju ke dunia para leluhur. Jalan yang harus mereka lalui sangatlah gelap. Untuk melalui jalan yang gelap itu, mereka membutuhkan tato . Lunat akan digunakan dengan cara ditukarkan dengan api untuk menerangi jalan orang yang sudah meninggal. Ketika orang yang meninggal tiba di dunia leluhur, mereka tetap membutuhkan tato untuk memasak dan menghangatkan badan. Oleh karena itu hampir semua orang Dawan mempunyai tato di badan mereka (Jacob, 2021:59-. Kepercayaan tentang keselamatan dalam tato tradisional juga diungkapkan oleh Gual. Setyaningsih dan Bolaer (Gual dkk. , 2. Mereka menjelaskan bahwa Orang Haulasi yang masih menganut kepercayaan asli akan menyalakan api di bawah tempat tidur orang yang meninggal selama empat hari. Setelah empat hari, orang yang meninggal akan menggunakan tato yang ada di tubuhnya untuk ditukarkan dengan api. Api yang ditukar itu akan menerangi orang yang meninggal di alam baka (Gual. Setyaningsih and Bolaer, 2019:. Dua hasil penelitian ini menunjukkan hubungan tato tradisional dengan kepercayaan suku Dawan. Kepercayaan itu perlahan mulai menghilang ketika orang Dawan mulai mengenal Kekristenan terutama Kekatolikan. Yesus Kristus diperkenalkan sebagai jalan keselamatan bagi mereka. Yesus Kristus sendiri yang akan menerangi jalan orang yang telah Secara perlahan kepercayaan lama tentang tato digantikan oleh kepercayaan https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya kepada Kristus sendiri. Yesus Kristus menjadi jalan keselamatan yang lebih besar daripada tato tradisional (Jacob, 2021:. Nai Maromak secara harafiah berarti raja terang. Sosok Nai Maromak dipercaya oleh manusia suku Tetun sebagai sosok transenden. Sosok ini melindungi manusia suku Tetun dengan terangnya. Dalam kepercayaan suku Tetun, orang yang meninggal akan diterangi oleh Nai Maromak (Mali, 2. Ketika imam Jesuit membuka paroki di Kerajaan Fia Laran pada tahun 1886, pewartaan mereka langsung diterima (Asa, 2017. dalam Mali, 2022:. Latar belakang dari penerimaan ini karena cerita turun-temurun masyarakat suku Tetun tentang imam Dominikan yang mengunjungi Kerajaan Fia Laran pada tahun 1555. Sosok imam Dominikan sama dengan imam Jesuit terutama dalam balutan jubah. Akhirnya pewartaan katolik mudah diterima oleh semua orang di tempat itu (Hello, 2020. dalam Mali, 2022:. Kedatangan imam Jesuit secara perlahan mengubah pandangan suku Tetun tentang Nai Maromak. AuNai Maromak atau Raja Terang adalah Yesus Kristus dalam konsep ketuhanan Gereja KatolikAy. Nai Maromak yang sebelumnya hanya menjadi cerita akhirnya menjadi wujud yang nyata dalam diri Yesus Kristus. Masyarakat suku Tetun yang melihat Nai Maromak sebagai raja terang akhirnya menggantinya dengan Yesus Kristus sebagai sumber terang (Mali, 2022:. Kristus dalam budaya Sumba Penyebutan Tuhan dalam kepercayaan Marapu bermacam-macam. Tuhan disebut sebagai AuMori (Tuha. Mawulu Majii (Pencipta dan Pembua. Mawulu tau-Majii tau (Pencipta dan Pembuat manusi. Ina Pakawurungu-Ama Pakawurungu (Ibu-Bapa alam semest. (Kapita, 1976: . (Natar, 2019:. Tuhan disebut sebagai AuIna Magholo Ae Ama Marawi (Ibu dan Bapak Pencipt. Ay (Panda, 2. Allah Pencipta disamakan dengan Wujud Tertinggi, yang dalam agama Marapu disebut: Magholo - Marawi (Sang Pencipt. Ndapa teki Tamo Ae Ndapa numa Ngara (Yang tak disebutkan namany. Pakategi baAoa Ae patangara wiwi (Yang didengar SabdaNya dan diperhatikan ucapanNy. dan A neena pada dazza Ae mata wee amma (Yang berdiam di padang nan Indah Ae Sumber air ema. (Panda, 2014:. Dikisahkan bahwa Mori menciptakan delapan lapisan langit dan delapan lapisan bumi. Mori berdiam di lapisan yang paling atas. Manusia pertama yang diciptakan ialah seorang laki-laki dan seorang perempuan. Manusia pertama ini memperanakkan delapan laki-laki dan delapan perempuan. Mereka lalu menjadi Marapu . eluhur, dew. (Natar, 2019:103-. Manusia yang hidup di bumi tidak bisa langsung menyampaikan permohonan kepada Mori. Mereka harus melalui perantaraan para Marapu. Marapu menjadi sosok yang dekat dengan manusia di bumi (Natar, 2019:. Kepercayaan lain dari penganut Marapu ialah orang yang meninggal akan pergi ke Paraingu Marapu. Perjalanan ke Paraingu Marapu ditentukan oleh keluarga yang masih tinggal di dunia. Keluarga akan memotong banyak hewan dan membungkus orang https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya meninggal dengan kain adat yang mahal. Hewan dan kain adat dipercaya akan menjadi bekal bagi orang yang meninggal. Oraang meninggal akan cepat sampai ke Paraingu Marapu saat keluarga memotong banyak hewan (Selan & Kadiwano, 2. Roh orang yang meninggal akan menderita selama di Paraingu Marapu ketika keluarga tidak mengadakan upacara Mereka akan mengalami kesulitan selama di alam orang yang telah meninggal. Kedudukan sosial orang yang telah meninggal juga dilihat dari upacara yang diadakan kelaurga (Selan & Kadiwano, 2. Ada kesulitan untuk menerjemahkan Yesus Kristus dalam budaya Sumba. Panda . mencoba menjelaskan Yesus Kristus sebagai sosok Marapu sejati. Persamaan dari Yesus Kristus dengan Marapu ialah sebagai perantara. Yesus Kristus sebagai perantara manusia dengan Allah. Masyarakat Sumba juga mengaturkan permohonan kepada Mori melalu perantaraan Marapu. Pandangan ini membutuhkan penjelasan yang lebih dalam. Yesus Kristus adalah perantara sekaligus Tuhan itu sendiri. Sedangkan Marapu hanya sebagai perantara kepada Mori. Yesus Kristus sebagai pribadi Allah dan pribadi yang Sedangkan para Marapu merupakan banyak sosok dalam diri para dewa dan leluhur. Persamaan lain ialah Yesus Kristus dapat dilihat sebagai pribadi. Allah yang jauh di atas dapat dilihat dalam diri Yesus Kristus. Mori yang transenden terwujud dalam diri para Marapu yang disembah oleh masyarakat Sumba (Natar, 2019:. Yesus Kristus juga digambarkan sebagai AuMarapu a dikita Ae a noneka (Marapu pengantara utama antara manusia dan Wujud tertingg. Ay(Panda, 2014:. Dalam jurnal yang lain, (Si dkk . mengatakan hal yang sama. Penyebutan Yesus dalam budaya Marapu Audisejajarkan dengan Marapu a dikita- a nonekaAy. Kata yang berbeda ialah kata digambarkan dan disejajarkan. Mungkin penyebutan inilah yang paling tepat untuk memperkenalkan Yesus Kristus dalam budaya Sumba. Selain penyebutan secara langsung di atas. Yesus Kristus dapat juga diwartakan sebagai pengganti dari hewan-hewan yang dikurbankan oleh masyarakat Sumba. Yesus Kristus menjadi jalan keselamatan. Keselamatan tidak lagi terletak pada banyaknya hewan yang Simpulan Gereja khususnya dalam budaya Sumba dan Toraja sudah mencoba mempraktekkan teologi kontekstual. Bentuk teologi kontekstual yang dilakukan ialah teologi inkulturasi dengan memperkenalkan Kristus dalam budaya masing-masing. Yesus Kristus diperkenalkan sesuai dengan budaya yang dianut. Yesus Kristus dipekerkenalkan sesuai dengan kepercayaan Marapu yaitu sebagai Marapu sejati. Dalam budaya Toraja. Yesus Kristus diperkenalkan sebagai Tomanurun dan alang. Ucapan Terima Kasih Terima kasih kepada lembaga STP-IPI Malang dan Prodi Magister Pastoral yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menempuh ilmu di lembaga ini. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Jhon Daeng Maeja, dk. Kristus dalam Berbagai Budaya Referensi