Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN : 2599-154X E-ISSN : 2745-6587 Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Rumput Laut ( Eucheuma cotton. di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar Feasibility Analysis of Seaweed (Eucheuma cotton. Farming in Takatidung Village. Polewali Subdistrict. Polewali Mandar Regency. Irma Yulia Madjid1*. Turjaun1. Chairul Rusyd Mahfud1 Program Studi Akuakultur Fakultas Peternakan dan Perikanan. Universitas Sulawesi Barat. Kabupaten Majene *koresponden: yuliamajid@unsulbar. Article Information Submitted Revised Accepted Published Keywords 22/05/2025 01/07/2025 01/07/2025 29/07/2025 Business analysis. Return cost ratio. Benefit cost ratio. Break event point. Abstract The cultivation of Eucheuma cottonii seaweed has experienced significant growth and has played an important role in driving the coastal communityAos economy, particularly among small-scale farming groups. However, due to the limited number of feasibility studies, farmers often rely on trial-and-error methods without proper economic planning. This can lead to financial risks, especially when market prices drop or production is This study aims to determine the feasibility of seaweed farming in Takatidung Village. Polewali Subdistrict. Polewali Mandar Regency, using interview methods. The population in this study consists of coastal communities who are permanent residents working as seaweed farmers. A purposive sampling method was used by taking a sample of 10% from a total of 50 seaweed farming groups. Therefore, 5 farmer groups were selected as respondents in this study. The business analysis methods used include Income Analysis. Return Cost Ratio (R/C) Analysis. Benefit Cost Ratio (B/C) Analysis, and Break-Even Point (BEP) Analysis. The total income of the selected groups was as follows: Harapan Baru Group IDR 8,544,000. Mawar Melati Group IDR 6,344,000. Marannu Group IDR 8,531,000. Tanjung Biru Group IDR 8,514,000, and Semua Jaya Group IDR 8,531,000. The average Return Cost Ratio (R/C) value was greater than 1, at 2. 32, indicating that for every IDR 1 spent, a return of 2. 32 times the cost was obtained. This means the business is profitable and feasible for further development. The average Benefit Cost Ratio (B/C) value was also greater than 1, at 32, meaning that for every IDR 1 spent, a net benefit of IDR 32 was obtained, indicating that the business is feasible and provides benefits. The Break-Even Point (BEP) analysis in terms of revenue, production, and price showed values at the break86 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 even point. The overall results of this study indicate that seaweed farming in Takatidung Village. Polewali Subdistrict. Polewali Mandar Regency, is profitable and feasible to continue as a business venture. Madjid. Turjaun. , & Mahfud. Analisis kelayakan usaha budidaya rumput laut (Eucheuma cotton. di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar. Jurnal Perikanan Terpadu 6. : 86-94 PENDAHULUAN Budidaya rumput laut Eucheuma cottonii mengalami perkembangan yang cukup pesat dan telah berperan sebagai penggerak perekonomian masyarakat pesisir, khususnya bagi kelompok pembudidaya berskala kecil. Tingginya minat masyarakat terhadap budidaya ini disebabkan oleh kemudahan teknis, biaya produksi yang relatif rendah, serta hasil yang menjanjikan secara ekonomi (Dinas Kelautan dan Perikanan 2. Di Kelurahan Takatidung. Kecamatan Polewali. Kabupaten Polewali Mandar, kegiatan budidaya rumput laut awalnya dilakukan secara Namun, keberhasilan sebagian pembudidaya mendorong masyarakat lain untuk ikut terlibat, sehingga jumlah pelaku usaha budidaya terus meningkat (Akbar 2. Meskipun budidaya rumput laut telah berkembang secara kuantitatif, namun belum banyak penelitian yang mengkaji secara mendalam aspek kelayakan usahanya, baik dari sisi pendapatan, efisiensi biaya, maupun tingkat keuntungan. Padahal, tanpa adanya kajian kelayakan, pembudidaya cenderung melakukan usaha secara coba-coba tanpa perencanaan ekonomi yang Hal ini dapat memicu risiko kerugian, terutama jika harga jual menurun atau terjadi gangguan produksi. Padahal menurut Akbar . , lokasi dan parameter kualitas air di Kecamatan Polewali sudah sangat mendukung untuk pengembangan budidaya secara Oleh karena itu, sangat penting dilakukan analisis kelayakan usaha budidaya rumput laut di daerah ini sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan usaha maupun kebijakan pendukung dari pemerintah. Permasalahan yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah: Bagaimana tingkat pendapatan usaha budidaya rumput laut (Eucheuma cottoni. di Kelurahan Takatidung. Kecamatan Polewali. Kabupaten Polewali Mandar? Bagaimana kelayakan usaha budidaya rumput laut (Eucheuma cottoni. di daerah tersebut jika ditinjau dari analisis Revenue-Cost Ratio (R/C) dan Break Even Point (BEP)? METODOLOGI PENELITIAN Metode pengambilan data yang dilakukan dalam penelitian ini ialah purposive sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu dengan menentukan kriteriakriteria tertentu (Sumargo 2. Populasi pada penelitian ini adalah pembudidaya rumput laut yang di pilih secara sengaja. dalam penelitian ini sampel yang di pilih sebesar 10% dari total populasi sebanyak 50 kelompok, sehingga di pilih sebanyak 5 kelompok pembudidaya rumput laut untuk di jadikan sebagai responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua jenis berdasarkan pada pengelompokannya yaitu : Data primer adalah data yang diperoleh melalui observasi secara langsung dengan melihat keadaan faktual di lapangan dan wawancara langsung kepada pembudiaya di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar. 87 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 Data sekunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung yang berkaitan dengan judul proposal penelitian berupa data yang diperoleh dari sumber bacaan atau instansi yang terkait. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Analisis Biaya Analisis biaya adalah semua pengorbanan yang perlu suatu usaha untuk satu proses produksi, biaya tetap . ixed cos. adalah biaya yang dikeluarkan secara tetap oleh perusahaan dalam jangka waktu tertentu, seperti gaji karyawan dan lainnya. Biaya variabel adalah biaya yang dikeluarkan secara berubah-ubah seiring dengan perubahan produksi. dinyatakan dalam uang dalam proses yang berlaku (Supriyono, 2. Analisis biaya dapat dihitung menggunakan rumus TC = FC VC Keterangan : : Total cost . iaya tota. : Fixed cost . iaya teta. : Variable cost . iaya variabe. Penerimaan Supriyono, . menyatakan bahwa penerimaan usaha tani adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Rumus penerimaan : TR = P. Keterangan : TR = Total revenue . iaya pendapata. P = Price (R. Q = Quantity (K. umlah produks. Pendapatan Pendapatan adalah selisih antara seluruh penerimaan dan seluruh pengeluaran . iaya produksi yang betul-betul dikeluarka. dari kegiatan usaha (Soekartawi, 1. Dalam bentuk matematis rumus pendapatan dapat dituliskan sebagai berikut NR = TR Ae TC Keterangan : NR = Net return . TR = Total revenue . otal penerimaa. TC = Total cost . iaya tota. Benefit Cost Ratio (B/C) Benefit cost ratio (B/C) merupakan metode yang dilakukan untuk melihat beberapa manfaat yang diterima oleh usaha budidaya rumput laut. Benefit cost ratio adalah perbandingan antara tingkat keuntungan yang diperoleh dengan total biaya yang dikeluarkan (Ibrahim 2. Kriteria yang digunakan dalam analisis Benefit cost rasio sebagai berikut 88 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 Jika nilai B/C rasio > 1 Usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat Jika nilai B/C rasio < 1 Usaha dikatakan tidak layak dan tidak memberikan manfaat. Jika nilai B/C rasio = 1 Usaha dikatakan impas . idak untung dan tidak rug. jumlah penjualan Net yaA/ya ycycaycycnycu = jumlah total biaya Keterangan : B/C ratio : (Rumput Lau. : Total pendapatan (Jumlah Penjuala. : Biaya total (Jumlah total biay. Return Cost Ratio (R/C) Shibata, et al, . menjelaskan bahwa analisis Return Cost Ratio (R/C Rasi. merupakan alat analisis untuk melihat keuntungan relatif suatu usaha dalam satu tahun terhadap biaya yang dipakai dalam kegiatan tersebut. Kriteria yang digunakan dalam analisis R/C rasio sebagai berikut: Jika nilai R/C rasio > 1 Usaha dikatakan layak dan menguntungkan. Jika nilai R/C rasio < 1 Usaha dikatakan tidak layak dan tidak menguntungkan. Jika nilai R/C rasio = 1 Usaha dikatakan impas . idak untung dan tidak rug. budidaya rumput laut layak diusahakan ditinjau dari R/C dan BEP, maka R/C dapat ditulis menggunakan rumus sebagai berikut: R/C = TR : TC Keterangan : R/C : Return cost : Total revenue atau total penerimaan (R. : Total cost atau total biaya (R. Break Event Points (BEP) Sedangkan untuk menguji kelayakan usaha ditinjau dari BEP, menurut Sigit . , mengartikan BEP adalah suatu keadaan yang apabila perhitungan rugi laba dari suatu periode kerja/ dari suatu kegiatan usaha tertentu, perusahaan tidak memperoleh laba dan tidak menderita BEP dapat dianalisis dengan rumus sebagai berikut : Break Event Point ( BEP) Penerimaan yaya Keterangan: FC : Biaya tetap : Harga penjualan VC : Biaya variabel TR : Total penerimaan ycOya 1 Oe ycNycI 89 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 Break Event Point (BEP) Produksi TC/P Keterangan: TC : Biaya total : Harga penjualan Break Event Point (BEP) harga TC/Q Keterangan : TC : Biaya total : Produk HASIL DAN PEMBAHASAN Pendataan di Pelabuhan Perikanan Cikidang Pangandaran Analisis Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu suatu usaha untuk satu proses produksi, dinyatakan dalam uang dalam proses yang berlaku (Supriyono 2. Biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya totalnya tetap, dalam kisaran voume dan kegiatan tertentu (Hakim 2. Analisis pendapatan Berikut merupakan tabel analisis pendapatan usaha budidaya rumput laut di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar. Table 1. Income analysis Num Group Name Harapan Baru Mawar Melati Marannu Tanjung Biru Semua Jaya Total Total Cost (R. 6,456,000 5,656,000 6,469,000 6,486,000 6,469,000 31,536,000 Quantity . 1,000 1,000 1,000 1,000 1,000 5,000 Price (Rp/k. 15,000 12,000 15,000 15,000 15,000 72,000 Revenue (R. 15,000,000 12,000,000 15,000,000 15,000,000 15,000,000 72,000,000 Net Income (R. 8,544,000 6,344,000 8,531,000 8,514,000 8,531,000 40,464,000 Percent Berdasarkan Tabel 1 diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan yang paling besar nilainya yaitu pada kelompok Tanjung Biru. Semua jaya. Marannu dan Harapan Jaya yaitu sebesar 21 % selama musim tanam. Sementara persentase net income yang paling rendah yaitu kelompok Mawar melati yaitu 16%. Dari lima kelompok tersebut mengalami nilai penyusutan alat yang meliputi harga jangkar, tali ris dan pelampung. Dalam hal ini nilai penyusutan didefinisikan oleh (Alam, 2. yaitu nilai harga beli dikurangi nilai sisa dibagi dengan umur ekonomis. Sedangkan biaya tetap yaitu biaya yang dalam periode waktu tertentu jumlahnya tetap dan tidak bergantung pada jumlah produk yang dihasilkan (Taufik et al, 2. Hasil perhitungan Biaya Variabel yang paling besar nilaimya yaitu pada kelompok Harapan Baru. Marannu. Tanjung Biru, dan Semua Jaya yaitu sebesar Rp. 000, dan yang paling rendah biaya variabelnya yaitu kelompok Mawar melati yaitu dengan nilai sebesar Rp. 000, nilai variabel itu meliputi biaya pembelian bibit, tenaga kerja, serta upah. Dalam hal ini Hakim . menyatakan bahwa semakin besar nilai variabel maka semakin besar pula jumlah produk yang dihasilkan. 90 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 Hasil perhitungan Total Biaya yang paling besar nilainya yaitu pada kelompok Tanjung Biru yaitu sebesar Rp. 000, lalu kelompok Marannu dan Semua Jaya sebesar Rp. lalu Kelompok Harapan Baru sebesar 6. 000, dan kelompok yang paling rendah total biayanya yaitu kelompok Mawar Melati sebesar 5. 000, biaya ini merupakan hasil biaya tetap ditambah biaya variabel lebih lanjut Syamsidar . menyatakan bahwa biaya total merupakan pengeluaran yang ditanggung oleh pembudidaya untuk membeli berbagai macam input atau faktor-faktor yang dibutuhkan untuk keperluan produksi. Hasil perhitungan penerimaan tertinggi yaitu pada kelompok Harapan Baru. Marannu. Tanjung Biru, dan Semua Jaya yaitu sebesar Rp 15. 000, dan penerimaan paling rendah yaitu pada kelompok Mawar Melati yaitu sebesar Rp 12. 000, nilai ini merupakan hasil perkalian antara harga jual dikali volume penjualan sehingga menhasilkan penerimaan ynag berbeda Aebeda. Hal ini didukung oleh penelitian Sialla . yang menyatakan semakin tinggi jumlah produksi dan harga satuan yang dihasilkan maka penerimaan usaha budidaya semakin besar, sebaliknya semakin rendah jumlah produksi harga satuan yang dihasilkan maka penerimaan usaha budidaya semakin kecil. Penerimaan adalah hasil jual produksi rumput laut yang diterima pembudidaya. Hasil perhitungan pendapatan tertinggi yaitu pada kelompok Harapan Baru sebesar Rp 000, lalu kelompok Marannu dan Semua Jaya yaitu sebesar Rp 8. 000, lalu kelompok Tanjung Biru sebesar Rp 8. 000, dan pendapatan paling rendah yaitu pada kelompok Mawar Melati yaitu sebesar Rp 6. 000, nilai pendapatan tersebut merupakan hasil total penerimaan dikurang dengan total biaya. Hal ini didukung oleh penelitian Mahsyura . yang menyatakan bahwa pendapatan pembudidaya rumput laut tergantung dari jumlah produksi yang diperoleh pembudidaya rumput laut. Semakin banyak produksi rumput laut maka semakin banyak pula pendapatan yang akan diperoleh pembudidaya. Analisis kelayakan dan manfaat Berikut merupakan analisis kelayakan dan manfaat pada usaha budidaya rumput laut di Kelurahan Takatidung dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini. Table 2. Feasibility and benefit analysis No. Group Name Harapan Baru Mawar Melati Marannu Tanjung Biru Semua Jaya Benefit Cost Ratio (B/C) 1,32 Return Cost Ratio (R/C) 2,32 2,12 2,32 2,32 2,32 Berdasarkan tabel 2 dapat disimpulkan bahwa Benefit Cost Ratio dari 5 kelompok tersebut dinyatakan layak dan memberikan manfaat karena rata Ae rata nilainya > 1 yaitu 1,30, nilai tersebut merupakan hasil bagi antara total pendapatan dengan total biaya, hal ini berarti perbandingan keuntungan dengan total biaya yang dikeluarkan memberikan manfaat kepada pembudidaya dikelurahan Takatidung karena nilainya lebih besar dari 0. Hal ini didukung dari pernyataan Kasmir & jakfar, . yang menyatakan bahwa semakin besar nilai (B/C) maka manfaat atau keuntungan semakin besar pula. Artinya setiap pengeluaraan Rp. akan memperoleh manfaat bersih sebesar Rp. 32, sehingga usaha dikatakan layak dan memberikan manfaat. Hasil perhitungan Return Cost Ratio usaha Budidaya Rumput Laut di Kelurahan Takatidung dari 5 kelompok tersebut dinyatakan Layak dan menguntungkan karena rata Ae rata nilainya > 1 yaitu 2 nilai tersebut merupakan hasil bagi antara total peneimaan dibagi total biaya. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Soekartawi . yang menyatakan jika nilai R/C > 1 maka usaha yang dijalankan adalah layak. Artinya bahwa setiap pengeluaran Rp. 1 akan menghasilkan 91 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 penerimaan cost R/C sebesar 2,32 maka usaha yang dijalankan mengalami keuntungan atau layak untuk dikembangkan. Hal ini juga didukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh (Ashari, 2. yang meneliti tentang Analisis Kelayakan Finansial Budidaya Ikan Bandeng di Kelurahan Wasalongka Kecamatan Parigi, dimana nilai R/C rasio > 1 maka usaha yang dijalankan mengalami keuntungan atau layak untuk dikembangkan. Analisis Break Event Point (BEP) BEP atau titik impas adalah kondisi di mana pendapatan yang diperoleh dari usaha sama besar dengan total biaya yang dikeluarkan, sehingga belum untung tapi juga tidak rugi. Berikut merupakan tabel analisis BEP pada usaha budidaya rumput laut di Kelurahan Takatidung. Table 3. Break Event Point (BEP) analysis No. Group Name Harapan Baru Mawar Melati Marannu Tanjung Biru Semua Jaya BEP Revenue BEP Production 430,4 kg 377,0 kg 431,2 kg 432,4 kg 431,2 kg BEP Price Berdasarkan tabel 3 diatas dapat disimpulkan bahwa BEP Revenue menunjukkan jumlah pendapatan minimal . alam rupia. yang harus diperoleh oleh kelompok agar biaya produksi Kelompok Tanjung Biru memiliki nilai BEP revenue tertinggi, yaitu Rp15. artinya mereka harus memperoleh pendapatan sebesar itu agar impas. Sebaliknya. Mawar Melati memiliki BEP revenue paling rendah, yaitu Rp12. 626, karena biaya produksinya lebih rendah dibanding kelompok lain. Seluruh kelompok berhasil mencapai pendapatan di atas nilai BEP revenue mereka, yang menunjukkan usaha layak dan menguntungkan. Hal ini diperkuat Usry et al. , menyatakan bahwa Titik impas atau Break-Even Point (BEP) adalah titik di mana total pendapatan sama dengan total biaya, sehingga tidak ada keuntungan atau kerugian yang dihasilkan pada titik tersebut. BEP Produksi, diperoleh hasil perhitungan untuk mengetahui jumlah minimal produksi rumput laut . alam kilogra. yang harus dihasilkan agar biaya total usaha bisa kembali . Dengan kata lain, petani rumput laut perlu tahu berapa banyak rumput laut yang harus mereka panen agar tidak mengalami kerugian. Jika produksi lebih dari jumlah ini, maka akan menghasilkan laba. BEP produksi menunjukkan jumlah minimum rumput laut . yang harus dipanen dan dijual agar biaya produksi tertutupi. Rata-rata kelompok perlu menghasilkan sekitar 430 kg hingga 432 kg untuk menutupi biaya produksi. Misalnya, kelompok harapan baru hanya perlu memproduksi 430,4 kg, jauh lebih rendah dari produksi aktual mereka sebesar 10. 000 kg, sehingga usaha mereka sangat menguntungkan. Hal ini juga berlaku pada kelompok lainnya, dimana produksi aktual jauh melebihi BEP produksi sehingga memperoleh margin keuntungan Hal ini serupa dengan penelitian (Zaini et al, 2. tentang analisis keuntungan dan titik impas (Break Event Poin. industri rumah tangga tahu di kecamatan tanggur yang menyatakan bahwa jika ingin memperoleh keuntungan maka produksi harus di atas produksi BEP). BEP harga menunjukkan harga jual minimal per kilogram rumput laut yang harus diperoleh agar seluruh biaya usaha bisa tertutupi. Jika harga jual di pasar berada di atas nilai ini, maka usaha sudah masuk kategori menguntungkan. Sebaliknya, jika harga pasar lebih rendah dari BEP harga, maka usaha akan merugi meskipun produksi tetap berjalan. BEP harga menunjukkan harga jual minimum per kilogram yang harus diterapkan agar usaha tidak merugi. Umumnya BEP harga kelompok adalah sekitar Rp 15. 000 Ae Rp 15. 002 per kg. Ini menunjukkan bahwa meskipun kelompok menjual dengan harga pasar Rp 15. 000/kg, mereka tetap mampu menutupi 92 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 86-94 semua biaya dan menghasilkan keuntungan. Namun, kelompok Mawar Melati meskipun memiliki BEP harga Rp 15. 002, mereka menjual dengan harga lebih rendah (Rp 12. 000/k. , sehingga sebenarnya secara teknis mereka berpotensi merugi jika hanya melihat BEP harga, namun karena biaya mereka sangat rendah, mereka tetap memperoleh keuntungan. Hal ini diperkuat Sartono . yang menyatakan bahwa suatu usaha akan menguntungkan jika harga suatu usaha diatas BEP dan jika harga dibawah BEP maka akan mengalami kerugian. Hasil analisis biaya yang dilakukan terhadap lima kelompok pembudidaya rumput laut di kelurahan takatidung maka dapat diketahui bahwa kelompok yang paling besar pendapatannya yaitu Kelompok Harapan Baru dengan jumlah pendapatan sebesar Rp. 000 dan Kelompok yang paling besar penerimaannya yaitu Kelompok Harapan Baru. Marannu. Tanjung Biru, dan Semua Jaya dengan penerimaan yang sama sebesar Rp 15. dan R/C Rasio dari lima Kelompok tersebut dinyatakan layak untuk diusahakan dan dilanjutkan. BEP penerimaan dari lima kelompok tersebut berada dalam titik impas. Total pendapatan sma dengan total biaya yang dikeluarkan sehingga tidak ada memperoleh laba atau keuntungan yang dihasilkan. KESIMPULAN Tingkat pendapatan yang paling tinggi yaitu kelompok harapan baru sebesar Rp. 000, lalu Kelompok Marannu dan Kelompok Semua Jaya sebesar Rp. 000, lalu Kelompok Tanjung Biru sebesar Rp. Tingkat Pendapatan yang paling rendah yaitu pada Kelompok Mawar Melati sebesar Rp. Analisis kelayakan usaha budidaya rumput laut (Eucheuma cottoni. di Kelurahan Takatidung Kecamatan Polewali Kabupaten Polewali Mandar di tinjau R/C dari 5 kelompok tersebut dinyatakan layak untuk dilanjutkan, kerena rata- rata nilainya sebesar 2,00 dimana jika nilai R/C > 1 maka usaha tersebut dilanjutkan jika ditinjau dari BEP Penerimaan dari 5 Kelompok tersebut semuanya berada dalam Titik Impas dimana Total Pendapatan sama dengan total biaya yang dikeluarkan sehingga tidak ada keuntungan atau kerugian yang dihasilkan. IMPLIKASI KEBIJAKAN Berdasarkan dari hasil penelitian, maka diharapkan kepada pemerintah sebaiknya memberikan perhatian lebih kepada para pembudidaya khususnya di Kelurahan Takatidung berupa bantuan modal sehingga pembudidaya dapat menambah jumlah produksinya dengan memperbanyak bibit. penggunaan bibit yang banyak akan membantu meningkatkan hasil produksi yang banyak pula, hal ini akan berdampak pada bertambahnya nilai pendapatan. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih dan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada semua yang terlibat dalam penulisan dan penyelesaian penelitian ini. Terima kasih pula kami haturkan kepada Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar khususnya Kelurahan Takatidung atas penerimaan dan izin yang diberikan untuk melakukan penelitian di wilayah tersebut. DAFTAR PUSTAKA