MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Ilmu dalam Perspektif Islam dan Barat: Tinjauan Ontologi dan Epistemologi Alviatul AoAzizah Miftahul Ulum Institut Agama Islam Negeri Ponorogo ulum@iainponorogo. Institut Agama Islam Negeri Ponorogo alviaazzl99@gmail. Latifah Kurnia Utami Institut Agama Islam Negeri Ponorogo latifahkunia03@gmail. Abstract: Islam and the West both place knowledge as something very important. In Islam there are many verses of the Qur'an and the hadiths of the Prophet that speak about the importance of knowledge. Likewise in western civilization which cannot be separated from the development of science. This research is a library research or library research. Data taken from various literature references. Then the results of the data are processed and analyzed critically and in depth. The results of this study indicate that in looking at the nature of Islamic and Western knowledge, they have different views. Islam has the view that knowledge belongs to Allah SWT. and sourced from Allah SWT. No matter how hard humans try to reach knowledge, if there is no power from Allah SWT. Then humans will not be able to reach it. While the west views that knowledge comes from the human mind and five senses, as long as humans want to try to use their reason and five senses, they will get knowledge. Keywords: Science, ontology, epistemology. Education Abstrak: Islam dan Barat sama-sama menempatkan ilmu sebagai sesuatu yang amat penting. Dalam islam terdapat banyak sekali ayat al-QurAoan dan hadits nabi yang berbicara tentang pentingnya ilmu. Begitu pula dalam peradaban barat yang tidak dapat terlepas dari pengembangan ilmu pengetahuan. Penelitian ini merupakan penelitian library research atau Data diambil dari berbagai referensi literatur. Yang kemudian hasil data tersebut diolah dan dianalisis secara kritis dan mendalam. Adapun hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam memandang hakikat ilmu islam dan barat memiliki pandangan yang berbeda. Islam memiliki pandangan bahwa ilmu adalah milik Allah Swt. dan bersumber Allah Swt. Sekuat apapun manusia berusaha untuk menggapai ilmu, jika tanpa adanya kuasa dari Allah Swt. Maka manusia tidak akan mampu untuk menggapainya. Sedangkan barat memandang bahwa ilmu itu bersumber dari akal dan panca indra manusia, selagi manusia mau berusaha menggunakan akal dan panca indranya maka mereka akan mendapatkan ilmu. Kata Kunci: Ilmu, ontologi, epistemology. Pendidikan MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 PENDAHULUAN Ilmu memiliki kedudukan yang sangat penting baik dalam pandangan Islam maupun Al-QurAoan dan hadits sebagai dasar Islam banyak membicarakan tentang pentingnya Kedudukan para penuntut ilmu juga dinilai sama dengan seorang mujahid yang sedang berjuang di jalan Allah Swt. Orang yang memiliki ilmu dipandang sebagai pawaris tahta kenabian setelah diutusnya nabi Muhammad Saw. sebagai nabi terakhir. Begitu pula dengan peran ilmu dalam peradaban barat yang tidak pernah terlepas dari upaya pengembangan ilmu Islam maupun barat memiliki pendangan yang berbeda terkait dengan hakikat ilmu. Islam mengakui bahwa pada hakikatnya ilmu adalah milik Allah Swt. Sehingga semua usaha manusia untuk menggapai ilmu tergantung pada kuasa Allah Swt sang pemilik ilmu. Akan tetapi, walaupun semua bergantung pada kehendak Allah Swt tidak lantas membuat manusia menjadi lepas tangan. Manusia tetap harus berusaha untuk mencari ilmu. Berbeda dengan hakikat ilmu dalam perspektif barat, bagi mereka para ilmuwan barat ilmu dapat diusahakan melalui akal dan panca indra. Ketika manusia mau berusaha menggunakan akalnya maka mereka akan mendapatkan ilmu. Namun, jika mereka berhenti menggunakan akalnya maka disitulah manusia dianggap tidak ada. Orang-orang barat tidak mengakui otoritas wahyu sebagai sumber ilmu. Bagi mereka akal lebih dominan dibandingkan dengan wahyu Upaya pengembangan keilmuan dalam Islam, menurut George Atiyeh . 3Ae2008 M), sejak awalnya telah menempuh dua jalan yang berbeda. Dalam upaya ini tidak jarang terjadi ketegangan atau bahkan benturan satu dengan yang lain. Pertama, jalan ortodoks . yang dianut kebanyakan kaum Muslim. Jalan ini menuju kepada pembangunan dan pengembangan ilmu-ilmu bayani, seperti filologi, sejarah, dan yurisprudensi . Kedua, jalan yang kurang ortodoks yang menggunakan metode burhani. Jalan ini menuju pada pengembangan ilmu-ilmu rasional dan eksak, seperti filsafat, matematika, astronomi, astrologi, fisika, dan geografi yang disebut sebagai Auilmu orang zaman dahuluAy. Orang kadang-kadang mencoba menyelidiki, menemukan, dan mengembangkan berbagai ilmu. Sejalan dengan pemikiran bahwa ilmu pengetahuan memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Penerapan pengetahuan, bagaimanapun, tidak serta merta menghasilkan kepuasan bagi orang-orang. Sepanjang et al Adian Husaini. Filsafat Ilmu Perspektif Barat Dan Islam (Depok: Gema Insani, 2. Khudori Soleh. Filsafat Islam Dari Klasik Hingga Kontemporer (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 35. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 permulaan waktu, ada orang-orang yang menggunakan ilmu untuk kebaikan manusia dan keburukan makhluk Tuhan. Banyak penemuan ilmiah telah digunakan oleh manusia, tetapi hanya sedikit yang berupaya memahami hakikat ilmu itu sendiri. Agar manusia dapat menggunakan pengetahuan dengan lebih akurat, filsafat ilmu mendorong manusia untuk menelaah pengetahuan secara lebih mendalam dalam konteks hakikatnya. Pemahaman ontologi, dan epistemologi ilmu pengetahuan memungkinkan manusia untuk setidaknya mengenali bahwa ada nilai-nilai sosial, seperti nilai agama, nilai budaya, nilai adat, nilai kebangsaan, dan lain-lain, yang membatasi penggunaan ilmu pengetahuan. METODE Jenis karya ilmiah ini adalah kajian pustaka atau library research. Penelitian . , baik berupa buku, catatan atau laporan-laporan hasil penelitian dari peneliti 4 Penelitian ini bersifat kualitatif karena uraian datanya bersifat deskriptif, lebih menekankan proses dari pada hasil, menganalisis data secara induktif dan rancangan yang bersifat sementara. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi. Dalam menganalisis data, penulis menggunakan teknik analisis data deskriptik analitik. Yaitu data-data yang berkaitan dengan tema yang diteliti yang dikumpulkan, dan diklasifikasi yang kemudian dilakukan deskripsi. HASIL DAN PEMBAHASAN Konsep Ilmu dalam Islam Ontologi Ilmu dalam Islam Dalam Islam seluruh ilmu pengetahuan bersumber pada Allah Swt. Yang diketahui melalui wahyunya yang tercantum dalam al-QurAoan. 6 Namun, berdasarkan penelusuran terhadap ayat-ayat yang bertemakan tentang ilmu, tidak ditemukan ayat yang menyebutkan tentang arti, makna, hakikat, ataupun ontologi dari kata Aoilm secara spesifik. Dengan kata lain, definisi dan pemaknaan tentang ilmu merupakan hasil interpretasi para pemikir Muslim dalam Tamsil Muis Soegiono. Filsafat Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 94-96. Iqbal Hasan. Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian Dan Aplikasinya (Bogor: Ghalia Indonesia, 2. , 11. Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 11. Darwis A. Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 2019. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 memaknai kata dimaksud berdasarkan perspektif masing-masing. Ketiadaan penyebutan secara spesifik tentang konsep, definisi, makna atau hakikat ilmu di dalam Al-QurAoan ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, bahwa kata ilmu sudah menjadi kata yang bisa dipahami oleh masyarakat Arab saat Al-QurAoan diturunkan hingga tidak perlu lagi disebut secara spesifik pemaknaannya di dalam Al-QurAoan. Artikulasi dari kata ini akan berkembang dengan sendirinya seiring dengan perkembangan pengetahuan umat manusia. Perkembangan pengetahuan umat manusia dimaksud tentu berkorelasi dengan sejauh mana manusia mampu menggunakan kemampuan yang ada di dalam dirinya untuk menyerap pengetahuan. Kedua, terdapat rahasia Ilahi di dalamnya terkait dengan keistimewaan al-QurAoan, hingga artikulasi dari kata Aoilm bisa mewakili, sesuai, dan tidak akan berkontradiksi dengan semua pengetahuan di alam semesta, baik itu pengetahuan yang berkembang di masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang. Menurut Quraish Shihab kata ilmu dalam Al-QurAoan memiliki berbagai bentuk dan terdapat 854 kali disebutkan. Kata ini digunakan dalam proses pencapaian tujuan. Ilmu dari segi bahasa berarti kejelasan. Jadi ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang jelas tentang Pengetahuan yang tidak jelas dari segi ontologi, epistemologi maupun aksiologi di dalam Islam tidak dianggap sebagai ilmu walaupun orang menyebutnya ilmu juga. Persoalan hakikat ilmu pengetahuan . telah menjadi perdebatan antara kaum materialis dan kaum idealis. Kaum materialis hanya mengenal pengetahuan yang bersifat empiris, dengan pengertian bahwa pengetahuan hanya diperoleh dengan menggunakan akal atau indra yang bersifat empiris dan terdapat di alam materi yang ada di dunia ini. Sedangkan menurut kaum idealis, termasuk Islam ilmu pengetahuan bukan hanya diperoleh dengan perantara akal dan indera yang bersifat empiris saja tetapi juga ada pengetahuan yang bersifat immateri yaitu ilmu pengetahuan yang berasal dari Allah sebagai Khaliq atau pencipta pengetahuan tersebut. Menurut para ahli filsafat Islam seperti al-Kindi, al-Farabi. Ibnu Sina. Al-Ghazali, dan Ibnu Khaldun, klasifikasi dan hierarki ilmu berpegang pada Al-QurAoan dan Hadis yakni dalam pemilihan antara ilmu yang pokok atau utama dengan ilmu yang tidak pokok atau tidak utama. Al-Kindi . -873 M) mengklasifikasi ilmu dalam dua jenis, yaitu ilmu teoritis dan ilmu Fadli Rahman and Mahyuddin Barni. AuMengurai Konsep Dan Sumber Ilmu Dalam Al- Qur Ao an Dan Hadis,Ay Nalar : Jurnal Peradaban Dan Pemikiran Islam Ilmu Dan Islam 5 . : 121Ae29, https://doi. org/10. 23971/njppi. Ramayulis. Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Filosofi Sistem Pendidikan Islam (Jakarta: Kalam Mulia, 2. , 103. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 praktis seperti pembagian Ariatoteles, yaitu: Ilmu Teoritis . lmu nazaria. : Fisika . lmu tabia. Matematika . lmu riyadia. Metafisika . lmu Ilahiya. Ilmu praktis . lmu amaliya. : Etika . Ekonomi . Politik . Ibnu Sina . -1036 M), juga membagi ilmu seperti klasifikasi Aristoteles: Ilmu Teoritis: Fisika. Matematika. Metafisika, dan ilmu universal. Ilmu praktis: Etika. Ekonomi. Politik. Syariah. Al-Farabi . -950 M) mengklasifikasi ilmu sebagai berikut: Ilmu Bahasa . lm al-lisa. Ilmu logika . lm al-manti. Ilmu Matematik . lum al-taAoali. Ilmu Fisika . l-ilm al-tabiAo. Ilmu Metafisika . l-ilm al-ilah. Ilmu Masyarakat . lm al-madan. Al-Ghazali . 8-1111 M) mengklasifikasikan ilmu sebagai berikut: Ilmu syarAoiyah dan ilmu aqliyah. Ilmu syarAoiyah terbagi atas ilmu usul . auhid, tafsir, hadis. dan ilmu furuAo (Ibadat, fiqh, akhla. , sedangkan Ilmu Aqliyah terdiri atas tiga tingkatan, yaitu: Tingkat pertama adalah matematika . ritmatika, geometri, astronomi, astrologi, musi. dan logika. Tingkat pertengahan adalah: ilmu pengetahuan alam . erubatan, metereologi, mineralogy, dan kimi. Tingkat tertinggi adalah tentang maujud . ang wajib dan mungki. , tentang pecipta . at-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Ny. , tentang tasawuf, tentang malaikat, syaitan, mukjizat, dan kiamat. Ilmu fardhu Aoain dan ilmu fardhu kifayah. Ilmu fardlu Aoain menurut Al-Ghazali adalah aqidah, ibadah, dan suluk/akhlaq, sedangkan yang termasuk fardlu kifayah adalah selebihnya. Ibnu Khaldun . 2-1382 M) mengklasifikasikan ilmu sebagai berikut: Ilmu SyarAoiyah . l-QurAoan, tafsir, hadist, nasikh dan mansukh, sanat hadist, usul fiqh, ilmu kalam dan ilmu tasawu. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Ilmu Aqliyah . ilangan, berhitung, hisab, algebra, muamalat dan faraid, ilmu ekonomi, ilmu bentuk, ilmu ruang dan kawasan, ilmu kegunaan seperti perubatan, pertukangan, kebidanan, dan lain-lai. Sifat ilmu pengetahuan perspektif Islam yaitu holistik atau Rabbani. Artinya sejalan dengan falsafah Islam mengenai persoalan alam dan manusia, khususnya mengenai persoalan ilmu pengetahuan alam serta pengetahuan sosial dan kemanusiaan. Ilmu pengetahuan bersifat menyeluruh dan terpadu dalam upaya menjelaskan persoalan antara alam natural dan supernatural yakni antara alam fisik dan metafisik, atau antara persoalan dunia dan akhirat . Sehingga dalam perspektif Islam, sifat ilmu memperhatikan peranan agama atau peranan Tuhan. Epistemologi Ilmu dalam Islam Sumber utama dari ilmu pengetahuan dalam Islam adalah Al-QurAoan. Al-QurAoan adalah kebenaran yang langsung disampaikan Tuhan kepada salah seorang hamba pilihan yang disebut Rasul atau nabi. Al-QurAoan di samping mengandung petunjuk-petunjuk dan tuntunan-tuntunan yang bersifat ubudiyah dan akhlakiyah atau moral. Al-QurAoan juga mengandung petunjukpetunjuk yang dapat dipedomi manusia untuk mengolah dan menyelidiki alam semesta atau untuk mengerti gejala-gejala dan hakikat hidup yang dihadapinya dari masa ke masa. Ilmu pengetahuan dapat digolongkan menjadi dua macam, yaitu: Ilmu aqli Ilmu yang diperoleh oleh manusia . cquired knowledg. , yaitu melalui akal dan pengalaman inderawi. Ilmu yang bersumber pada akal atau yang diperoleh melalui akal disebut juga conceptual knowledge, dan ilmu yang bersumber pada indera manusia disebut perceptual knowledge. Kedua macam ilmu yang diperoleh itu disebut juga dengan ilmu Ilmu naqli Ilmu wahyu . evealed knowledg. , atau ilmu naqli yaitu ilmu yang bersumber dari Allah , seperti ilmu ketauhidan, keimanan, dan kewahyuan, ilmu fikh, ilmu ushuluddin, dan Jika ilmu-ilmu aqli bertujuan untuk membantu manusia menjalankan peranannya sebagai khalifah, atau untuk menyempurnakan fardhu kifayah bagi Darwis A. Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam (Aceh: Bandar Publishing, 2. , 43-44. Ibid, 54. Ramayulis. Filsafat Pendidikan Islam: Analisis Filosofi Sistem Pendidikan Islam, 108. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 kesejahteraan umat, maka ilmu-ilmu naqli bertujuan menyempurnakan tugas manusia sebagai hamba Allah, atau untuk menyempurnakan fardhu Aoain. Sebagai sumber ilmu yang paling utama telah banyak memberi petunjuk mengenai cara memperoleh ilmu, seperti pada penggunaan kata yaAoqilun yang artinya memikirkan dan Yudabbirun yang memiliki arti memperhatikan. Berdasarkan petunjuk-petunjuk yang diperoleh dari al-QurAoan pada dasarnya terdapat 3 macam cara untuk memperoleh ilmu, yaitu melalui panca indra, akal dan wahyu. Melalui panca indra Pancaindera menjadi salah satu sumber utama manusia dalam memperoleh ilmu pengetahuan, panca indra merupakan sumber ilmu yang bersifat realiti dan Panca indra yang sehat terdiri dari dua bagian, yaitu panca indra eksternal dan internal. Panca indra eksternal terdiri dari peraba, perasa, pencium, pendengaran, dan penglihatan. Sedangkan panca indra internal adalah akal sehat indra representative, indra estimatif, indra retentif rekolektif, dan indra imajinatif. Data-data yang diperolehi melalui pancaindera terdiri dari data al-mahsusat al-zahirah di mana data tersebut bersifat saintifik ini beleh mencapai kepada maklumat yang bertaraf `ilm al-yaqin. Al-mahsusat al-zahirah ialah salah satu pengetahuan manusia yang dicapai melalui pancaindera manusia khususnya melalui indra penglihatan. Data-data ini bersifat sensori yaitu data yang diperolehi manusia melalui indra luaran yang dimiliki oleh manusia. Sehingga data inilah yang menjadi sumber menunjukan benar tentang alam sekeliling kita. Melalui akal Di atas panca indera masih ada pengetahuan yang lebih tinggi yaitu ilmu yang bersumber dari akal. Adanya ilmu itu dapat dipahami dari beberapa kata yang dipakai dalam al-QurAoan seperti: tafakkur yang berarti merenungkan, taAoaqqul yang berarti memikirkan, tafaqquh yang berarti memahami, dan lain sebagainya. Hal tersebut menunjukkan bahwa akal menjadi salah satu sumber bagi manusia untuk memperoleh Meskipun hampir semua ulama dan ahli filsafat Islam mengakui akal sebagai Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 65. Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 137. Basri Husin. AuBeberapa Aspek Epistemologi: Konsep. Tabiat Dan Sumber-Sumber Ilmu Dalam Tradisi Islam,Ay Jurnal Usuluddin 30, no. : 199. Achmad Reza Hutama Al-Faruqi. AuKonsep Ilmu Dalam Islam,Ay Kalimah 13, no. : 229, https://doi. org/10. 21111/klm. Basri Husin. AuBeberapa Aspek Epistemologi: Konsep. Tabiat Dan Sumber-Sumber Ilmu Dalam Tradisi Islam,Ay 200. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 sumber ilmu, namun pendapat mereka terhadap tingkat kepentingannya berbedabeda. Sebagian ahli filsafat seperti golongan Muktazilah sebagai ahli filsafat rasionalis dan para pengikut SyiAoah mengakui akan pentingnya akal sebagai sumber ilmu, mereka mengatakan bahwa dengan akal kita akan dapat menanggapi segala sesuatu termasuk wujud Allah, kebaikan, keburukan dan hal-hal yang ghaib. Namun, selain itu juga terdapat golongan dari ulama tasawuf, serta ahli fikh dan hadist yang lebih sederhana penilaiannya terhadap akal. Mereka menghargai akal sekedarnya saja dan tidak mengatakan bahwa akal itu dapat menjangkau segalanya, sebab walaupun akal itu lebih luas jangkauannya dari panca indra, namun ia terbatas terutama yang berkenaan dengan ketuhanan dan hal-hal yang ghaib. Al-Kindi berpendapat bahwa panca indra manusia merupakan sumber pengetahuan yang utama, dan akal merupakan sumber yang kedua. Menurutnya akal manusia mempunyai tiga tingkatan, yaitu: akal yang bersifat potensial akal yang bersifat aktual . elah keluar dari sifat potensialny. akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas. Hal tersebut berarti bahwa akal baru mempunyai makna apabila ia diaktualkan, bukan hanya sebagai potensi. Menurut Ghulsyani, sesungguhnya kebenaran akal lebih tinggi dari pada pengetahuan yang diperoleh panca indera, namun akal dapat juga jatuh pada kekeliruan-kekeliruan yang berbahaya. Ada beberapa faktor menurutnya yang menyebab-kan terjadi distorsi pada pengetahuan akal18, yaitu: Ketiadaan iman Mengikuti hawa nafsu, kecenderungan dan keinginan Cinta, benci buta, dan prasangka Takabur Taklit buta terhadap pendapat nenek moyang dan pemikiran jumud Tergesa-gesa dalam memutuskan Kebodohan sehingga menerima atau menolak sesuatu tanpa alas an Kedangkalan pengetahuan karena tidak mau berpikir secara mendalam Ketidakpedulian terhadap pentingnya kebenaran. Melalui wahyu Muh. Zainal Abidin. AuKonsep Ilmu Dalam Islam: Tinjauan Terhadap Makna. Hakikat. Dan Sumber Sumber Ilmu Dalam Islam,Ay Ilmu Ushuluddin 10, no. : 108. Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 137Ae38. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Sebagaimana penjelasan di atas bahwa sumber ilmu adalah akal dan pengalaman yang diperoleh dari panca indra, dimana masing-masing diantaranya saling menggangap sebagai sumber yang paling utama. Namun di samping itu juga terdapat wahyu yang menjadi sumber ilmu. Dalam islam terdapat kitab suci al-QurAoan sebagai wahyu yang memiliki fungsi informatif dan konfirmatif bagi akal manusia, sedangkan hadits atau as-Sunnah menjadi sumber hukum islam yang mempermudah dalam memahami isi al-QurAoan dan sebagai tradisi pelaksanaan perintah-perintah Allah Swt melalui keteladanan nabi Muhammad Saw. Wahyu memiliki dua fungsi yang sangat penting untuk membantu keterbatasan akal manusia. Fungsi wahyu yang pertama adalah sebagai informasi bagi akal dalam hal-hal yang bersifat fisikal dan metafisikal. Sedangkan fungsi wahyu yang kedua adalah sebagai konfirmasi bagi akal manusia. Wahyu dalam konteks ini justru melebihi fungsi akal. Kebenaran pada wahyu dapat diakui oleh akal secara keseluruhan, bahkan pengalaman manusia secara historis tergambarkan dengan jelas dalam wahyu. Masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang digambarkan dalam wahyu, sebagaimana al-QurAoan menggambarkan segala sesuatu yang berkaitan dengan alam semesta dan alam ghoib, di mana semua tersebut benar adanya. Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa dalam Islam proses keilmuan senantiasa melibatkan Allah sebagai sumber ilmu. Seluruh ilmu pengetahuan bersumber pada Allah Swt. Dengan melalui tiga cara memperolehnya yaitu melalui panca indra, melalui akal dan wahyu. Sekuat apapun manusia berusaha untuk menggapai ilmu, jika tanpa adanya kuasa dari Allah Swt Maka manusia tidak akan mampu untuk menggapainya. Kebenaran bersifat individual adalah cara memperoleh pengetahuan dengan intuisi yaitu suatu peristiwa seseorang dapat mengetahui sesuatu yang tidak jelas asalnya dan prosesnya akan tetapi tiba-tiba saja seseorang mendapatkan suatu kebenaran. Dalam hal ini di kenal dengan istilah ilham. Jika kebenaran ini diyakini berasal dari Tuhan maka proses mendapatkan pengetahuan ini disebut wahyu. Namun istilah Wahyu biasanya hanya berlaku untuk orang-orang tertentu seperti nabi atau manusia-manusia lain yang diberi Karomah oleh Tuhan. Saebani. Filsafat Ilmu. Kontemplasi Filosofis Tentang Seluk Beluk Sumber Dan Tujuan Ilmu Pengetahuan. Tamsil Muis Soegiono. Filsafat Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 92. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Kebenaran wahyu adalah kebenaran yang datangnya dari Allah dan bersifat Wahyu diturunkan oleh Allah kepada rasul-rasul-Nya untuk menjadi sumber ilmu pengetahuan dan petunjuk bagi semua umat manusia. Bagi seorang muslim tidak hanya diharuskan mengambil pengetahuan yang bersumber dari wahyu, tetapi juga diperintahkan supaya mengikuti ajaran yang terkandung didalamnya. Kebenaran wahyu sejalan dengan kebenaran logis . erdasarkan rasi. dan kebenaran empiris . erdasarkan pengalama. Kalau kebenaran logis dan kebenaran empiris bersifat relatif, maka kebenaran wahyu bersifat mutlak atau absolut. Konsep Ilmu menurut Barat Ontolgi Ilmu menurrut Barat Dalam konteks barat istilah ilmu disebut dengan Knowledge yang berarti ilmu Kata Knowledge berasal dari kata know yang memiliki arti pernyataan dari fikiran guna menghapus kebodohan dan menyempurnakan kemurnian akal fikiran. Kemudian, istilah Knowledge juga mengandung pengertian sebagai suatu kepakaran dan juga kemahiran yang diperoleh manusia melalui pengalaman dan pendidikan. Selaian itu Knowledge juga memiliki arti sebagai ilmu tentang manusia, suatu benda, atau memperoleh suatu pandangan melalui maklumat daripada fakta tentang sesuatu. Berdasarkan pengertian di atas terdapat tiga elemen utama dalam ilmu yaitu sebagai Kemahiran yang diperoleh manusia dalam proses menuntut ilmu melalui pembelajaran dan pengalaman yang dapat membentuk manusia menjadi seseorang yang mahir dalam suatu Ilmu adalah suau pengetahuan yang diperoleh melalui fakta-fakta dan maklumatmaklumat tertentu yang diketahui oleh manusia melalui buku dan pembelajaran. Ilmu juga diperoleh melalui kesadaran dan kebiasaan yaitu proses pemerolehan suatu ilmu berdasarkan pengalaman yang diteui oleh manusia secara realita melalui pengamatan (Observas. atau pengalaman sosial. Tokoh yang paling dominan dalam sejarah peradaban barat adalah kaum skeptis, yang mana mereka dianggap sering mengisyaratkan beberapa hal yang berkaitan dengan ilmu. Filsafat pada masa pre-socratic tidak memberi perhatian lebih pada cabang filsafat Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 72. Khairiah Mohd. Yassin. AuHubungan Budaya Dan Ilmu Dari Perspektif Barat Dan Islam KHAIRIAH BINTI MOHD. YASSIN,Ay Manu 20, no. August . : 25Ae51. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 epistimologi, namun lebih tertarik pada filsafat alam dan kemungkinan perubahannya. Mereka menganggap bahwa ilmu tentang alam itu mungkin, meskipun beberapa diantara mereka menganggap ilmu dapat diperoleh dari sumber yang lain. Plato, seorang filsuf Yunani yang menjadi pencetus epistimologi beranggapan bahwa ilmu merupakan kondisi yang paling tinggi dari sekedar kepercayaan yang benar. Sehingga dia mengatakan bahwa ilmu itu lebih berharga dan lebih sulit didapatkna dari kepercayaan. Segala sesuatu yang ditangkap oleh indra tidk layak disebut sebagai pengetahuan/ilmu. Bagi Plato ilmu yang sesungguhnya yaitu apabila hal-hal tersebut berkaitan dengan konsep-konsep. menurut Plato adalah episteme yaitu pengetahuan tunggal yang sesuai dengan ide-ide abadi. Ide di sini adalah sesuatu yang nyata dan apabila seseorang melihat bayangan maka dia akan langsung mengingat ide-ide abadi tersebut. 23 Sehingga dapat disimpulkan bahwa hakikat ilmu menurut Plato adalah kumpulan ingatan atau pengenalan ide abadi yang terpendam dalam akal Selain itu. Aristoteles yang merupakan murid dari Plato mengajarkan dua cara atau pengenalan terhadap ilmu, yaitu pengenalan indrawi . dan pengenalan melalui akal . Namun Aristoteles menolak epistimologi Platonisme dengan mengatakan bahwa pengetahuan seorang manusia harus berangkat dari hal-hal partikular yang terpersepsi oleh indra manusia yang kemudian diabstraksikan menjadi pengetahuan akal yang bersifat Dalam hal ini Aristoteles berpegang pada satu diktum yaitu AuNihil Est In Intellectu Nisi Prius In SensuAy yang artinya tidak ada satupun yang terdapat dalam akal yang tidak terlebih dahulu diperoleh oleh indra. Menurut Plato idea terlalu abstrak, sedangkan Aristoteles menganggap idea sebagai sesuatu yang lebih konkrit. Oleh sebab itu tugas logika yang utama menurut Aristoteles adalah mengakui hubungan antara yang umum dan khusus. Ilmu harus mampu menerangkan bagaimana datangnya hal-hal yang khusus dan kelihatan dari yang umum dan diketahui melalui Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa konsep ilmu dalam peradaban barat proses keilmuan diyakini sebagai murni upaya manusia, melalui proses berfikir . yang diperoleh dari pengalaman panca indra. Menurut Koento Wibisono, ilmu lahir semenjak Immanuel Kant . 4-1804 M) menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang menunjukkan batas-batas dan ruang Adian Husaini. Filsafat Ilmu Perspektif Barat Dan Islam, 2Ae4. Donny Gahral Adian. Pemikiran Aristoteles (Jakarta: Poliyama Widayapustaka, 2. Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 lingkup pengetahuan secara tepat. Ilmu mempunyai empat sarana untuk mengkaji pengetahuan manusia yaitu Bahasa, logika, matematika dan statistika. Menurut pandangan Syed Muhamad Naquib al-Attas, peradaban Barat modern membuat ilmu menjadi problematis. Ilmu barat modern tidak di bangun atas wahyu atau kepercayaan agama melainkan berdasarkan tradisi budaya yang diperkuat dengan spekulasi filosofis yang terkait dengan kehidupan sekuler yang memusatkan manusia sebagai makhluk rasional. Aristoteles . -322 SM) mengklasifikasikan ilmu sebagai alat dan ilmu sebagai tujuan. Ilmu sebagai alat ialah logika, sedangkan ilmu sebagai tujuan dibagi kedalam dua bagian besar. Ilmu teoritis yakni meliputi fisika, matematika, dan metafisika. Ilmu praktis yakni meliputi etika, ekonomi, dan politik. Klasifikasi Aritoteles ini juga dipakai oleh filosof Islam seperti al-Farabi, al-Kindi dan Ibnu Sina sebagai dasar klasifikasi ilmu yang dikembangkannya. Pada zaman pertengahan, klasifikasi ilmu yang diterima dan berkembang adalah apa yang disebut Trivium dan Quadrivium: Ilmu trivium meliputi: grammar, dialektika, dan retorika. Ilmu quadrivium meliputi: aritmetik, geometri, musik, dan astronomi. Wilhelm Dilthey . dan Wilhelm Windelband . mencetuskan teori dikotomi antara disiplin sains . lmu pengetahuan ala. dengan disiplin ilmu kemanusiaan dan Sejak itu ilmu pengetahuan dibagi atas dua kelompok besar, yaitu kelompok ilmu . , dan kelompok seni . Dalam hubungan ontologi ilmu dikenal 2 sifat dari ilmu pengetahuan perspektif barat yaitu: Santifik Sifat saintifik dari ilmu pengetahuan berkaitan dengan hukum kausalitas. Seperti dijelaskan oleh Windelband bahwa ada dua jenis ilmu, yaitu ilmu nomotetik dan ilmu Ilmu nomotetik merupakan ilmu pengetahuan kealaman yang dikatakan mempunyai pola hukum yang bersifat umum dan universal, yaitu hukum sebab dan akibat . ause and effec. yang tetap. Dengan sifat yang demikian maka dapat dibuat prediksi atau ramalan tentang kejadian yang akan datang, yang biasanya akan berlaku tepat seperti yang ditentukan . Sedangkan ilmu idiografik merupakan ilmu pengetahuan Toto Suharto. Filsafat Pendidikan Islam (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 12. Adian Husaini. Filsafat Ilmu Perspktif Barat Dan Islam (Jakarta: Gema Insani, 2. , 1. Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 40. Ibid, 41. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 kealaman yang dikatakan mempunyai pola hukum yang bersifat spesifik. Humanistik Sifat humanistik dari ilmu pengetahuan menjadi asas bagi ilmu pengetahuan sosial dan Sifat humanistik terbagi atas dua macam pendekatan, yaitu pendekatan fungsional dan pendekatan genetik. Epistemologi Ilmu menurut Barat Sumber ilmu pengetahuan berasal dari diri manusia itu sendiri merupakan pendapat pertama yang berasal dari para filosofis yang tergolong idealisme. Plato misalnya menganggap bahwa dunia yang dapat ditangkap dengan indra ini semuanya semu, maya, atau tegasnya tidak Yang nyata adalah yang ada pada ide manusia dan berada dalam jiwa manusia. Sedangkan apa yang dapat ditangkap dengan indra hanya merupakan pancaran dari apa yang ada dalam pikiran manusia. Sebaliknya para filosofi yang tergolong empirisme berpendapat bahwa pengetahuan itu berasal dari luar diri manusia dan seperti yang diuraikan di atas yakni dengan alat indranya dan dengan kemampuan berpikirnya manusia menangkap pengetahuan itu dari apa yang ada pada objek di luar manusia. Dengan demikian para ilmuwan dalam bidang ilmu yang digelutinya harus dapat menjelaskan teori atau pendapat mana yang digunakan dalam membahas tentang asal mula pengetahuan yang dipakai dalam ilmunya tersebut. Dalam hal ini akan terjadi jawaban yang berbeda-beda yang disebabkan oleh pemikiran ilmuwan yang bersangkutan atau mungkin karena sifat ilmu yang dikembangkan atau pun karena metode ilmiah yang dipakai. Ilmuwan dalam sebuah ilmu memiliki kebebasan untuk memilih pandangan filosofis yang ada dapat mendasarkan pada metode yang digunakan. Jika ilmu yang dikembangkan tentang hal yang bersifat kerohanian dan menggunakan metode kejiwaan juga maka pengetahuan itu akan dikatakan berasal dari dalam. Tetapi kalau yang dibahas tentang alam semesta di luar dirinya dan menggunakan metode observasi misalnya akan dikatakan pengetahuan itu berasal dari luar Mengenai sumber pengetahuan, tradisi filsafat Barat mewarisi dua aliran epistemologi yang terbesar, yaitu aliran rasionalisme dan empirisme. Aliran rasionalisme memberi tekanan pada akal . sebagai sumber pengetahuan. Ibid, 51. Tamsil Muis Soegiono. Filsafat Pendidikan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2. , 91. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 Aliran empirisme mengangap bahwa sumber pengetahuan yang utama adalah pengalaman inderawi manusia . ense experienc. Kedua macam sumber ilmu pengetahuan yaitu akal dan indera pada dasarnya bersumber pada manusia, karena akal dan indera itu dimiliki oleh manusia. Kebenaran Ilmu Di dalam perspektif Barat terdapat 3 macam teori kebenaran pengetahuan yaitu: Teori korespondensi Teori korespondensi menunjuk kepada adanya kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan atau dengan situasi yang sebenarnya. Teori kohersi Teori kohersi yaitu adanya kesesuaian antara suatu pernyataan dengan pernyataanpernyataan lain yang sudah diterima kebenarannya. Teori pragmatik Teori prakmatik menekankan pada nilai kegunaan sebagai ukuran kebenaran suatu pengetahuan atau kebenaran sesuatu hal. Ketiga macam teori kebenaran menurut perspektif Barat dapat digolongkan menjadi dua macam kebenaran yaitu: Kebenaran empiris Kebenaran empiris meliputi: mementingkan obyek, menghargai cara kerja induktif dan aposterioris, dan lebih mengutamakan pengamatan indera. Kebenaran logis Kebenaran logis meliputi: mementingkan subyek, menghargai cara kerja deduktif dan apriorism, dan lebih mengutamakan penalaran akal budi. Perbedaan tentang kebenaran juga terkait dengan dimana kebenaran itu berada. Ada yang berpendapat bahwa kebenaran berada pada objek di luar pikiran manusia tetapi ada yang berpendapat bahwa kebenaran ada pada pikiran manusia. Menurut pandangan ini kebenaran bersifat subjektif yakni tentang bagaimana manusia memperoleh kebenaran yang mengandung dua arti yaitu bagaimana orang itu sendiri memperoleh kebenaran dan bagaimana cara manusia Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 64. Teguh Wangsa GandhiHW. Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , 51. Soelaiman. Filsafat Ilmu Pengetahuan Pespektif Barat Dan Islam, 71. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 memperoleh kebenaran dari pihak luar dirinya. KESIMPULAN Konsep ilmu dalam Islam berbeda dengan konsep ilmu dalam peradaban Barat. Dalam perdaban barat yang dimaksud denngan ilmu adalah sains. Sementara dalam konsep Islam sains hanya merupakan salah satu bagian dari ilmu pengetahun. Dalam Islam proses keilmuan senantiasa melibatkan Allah sebagai sumber ilmu, sedangkan dalam peradaban Barat proses keilmuan diyakini sebagai murni upaya manusia. Konsep ilmu tersebut berimplikasi pada orientasi tujuan pendidikan, kurikulum, dan proses pembelajaran di kelas. Orientasi tujuan pendidikan yaitu untuk mewujudkan manusia-manusia yang beradab. Kurikulum pendidikan dalam berbagai tingkatan yang harus bersifat inegral, dan tidak dikotomis sebagaimana konsep Barat. Proses pembelajaran di kelas maupun di luar kelas harus mengimelmentasikan adab ilmu dan adab hubungan guru dan peserta. Islam memandang ilmu pengetahuan bersumber pada Tuhan, yang menciptakan segala Inilah hakikat ilmu. Dalam perspektif Islam, ilmu itu bersifat menyeluruh atau Sehingga dari sudut pandang Islam, hakekat ilmu memperhitungkan fungsi iman atau fungsi Tuhan. Dari perspektif Barat, akal dan panca indera manusia adalah sumber informasi, dan selama manusia menggunakan akal untuk membuat keputusan, mereka akan memperoleh ilmu Orang Barat memandang pengetahuan memiliki aspek ilmiah dan humanistik. Akibatnya, ilmu secara eksklusif terikat pada manusia dan hukum kausalitas . ebab akiba. Wahyu yang datang dari Tuhan dan sering disebut sebagai ilmu naqli merupakan sumber ilmu dalam perspektif Islam. Islam, bagaimanapun, sering disebut sebagai ilmu aqli dan mengakui akal dan pengalaman indrawi sebagai sumber pengetahuan. Karena semua kajian tersebut adalah ilmu-ilmu keislaman, maka tidak ada pembedaan yang tersirat antara ilmu agama dan ilmu umum di lembaga pendidikan Islam. Menurut pandangan Barat, akal dan indera khususnya pengetahuan yang berasal dari manusia itu sendiri merupakan sumber pengetahuan. Akibatnya, wahyu tidak diakui sebagai sumber informasi di lembaga pendidikan Barat karena Barat secara eksklusif menghargai akal dan indera sebagai sumber pengetahuan. Soegiono. Filsafat Pendidikan, 91. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 4. Nomor 1. Juni 2023 DATAR PUSTAKA