Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 22 Ae 29 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/385 Manajemen Fisioterapi pada Coronary Artery Disease 3 Vessel Disease (CAD 3 VD) NSTEMI Pre Operasi CABG Physiotherapy Management in Coronary Artery Disease 3 Vessel Disease (CAD 3 VD) NSTEMI Pre Operative CABG Fitra Anggreni Kusuma R. Dina Nur Muhtadina2. Irianto3. Ismail Muhammad4 1,2,3, Universitas Hasanuddin RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Email Korespondensi: *fitraanggrenikr@gmail. Dikirim: 15 Des 2024 Direvisi: 22 Des 2024 Disetujui: 24 Mei 2025 Publikasi Online: 20 Agu 2025 ABSTRAK Coronary Artery Disease (CAD) menjadi bentuk penyakit jantung yang paling umum, dimana kondisi ini disebabkan karena perubahan pembuluh darah arteri yang mensuplai jantung. Kondisi CAD juga digunakan untuk menggambarkan berbagai gangguan klinis, salah satunya yaitu Non-ST-Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI). Salah satu cara yang dinilai efektif dalam pengobatan CAD yaitu dengan melakukan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG). Fisioterapi sebagai bagian dari rehabilitasi jantung memiliki peran dalam penanganan pasien pre operasi serta post operasi. Tujuan dari penelitian ini untuk memberikan gambaran manajemen fisioterpai pre operasi CABG dengan kondisi CAD 3 VD NSTEMI. Studi ini merupakan laporan kasus yang diperoleh melalui autoanamnesis, alloanamnesis, dan pemeriksaan fisik. Pasien Perempuan usia 40 tahun melakukan tindakan fisioterapi. Hasil positif pada penurunan nyeri dada dan tingkat kecemasan. Laporan kasus ini menggambarkan presentasi klinis serta manajemen fisioterapi pre operasi dengan mempertimbangkan kondisi pasien seperti presentasi klinis pasien. Kata kunci : CAD 3 VD. NSTEMI. CABG, kardiovaskuler, fisioterapi. ABSTRACT Coronary Artery Disease (CAD) is the most common form of heart disease, which is caused by changes in the arteries that supply the heart. CAD is also used to describe various clinical disorders, one of which is Non-ST-Elevation Myocardial Infarction (NSTEMI). One way that is considered effective in the treatment of CAD is by performing Coronary Artery Bypass Grafting (CABG). Physiotherapy as part of cardiac rehabilitation has a role in the management of pre-operative and post-operative patients. The purpose of this study is to provide an overview of preoperative CABG physiotherapy management with CAD 3 VD NSTEMI condition. This study is a case report obtained through autoanamnesis, alloanamnesis, and physical examination. A 40-year-old female patient underwent physiotherapy treatment. Positive results in decreased chest pain and anxiety levels. This case report describes the clinical presentation and preoperative physiotherapy management considering the patient's condition such as the patient's clinical presentation. Keyword : CAD 3 VD. NSTEMI, preoperative CABG, cardiovascular, physiotherapy. PENDAHULUAN Penyakit kardiovaskular menjadi penyebab utama kematian dan kecatatan di seluruh dunia serta kontributor utama terhadap penurunan kualitas hidup. Kematian akibat penyakit kardovaskular lebih sering terjadi di negara-negara berpendapatan menengah dibandingkan dengan negara-negara berpendapatan tinggi dan rendah. Indonesia sendiri pada tahun 2018 menjadi negara dengan jumlah tahun hidup yang disesuaikan dengan disabilitas (DisabilityAdjusted Life Years/DALY. tertinggi kedua yang hilang akibat Penyakit Jantung Koroner . per 1000 oran. Coronary Artery Disease (CAD) menjadi bentuk penyakit jantung yang paling umum, dimana kondisi ini disebabkan karena perubahan pembuluh darah arteri yang mensuplai jantung. Stenosis CAD dapat dibedakan menjadi tiga tergantung tingkat keparahan stenosis yang dialami penderita, yaitu 1 VD (Vessel Diseas. , 2 VD, dan 3 VD dengan melihat penyempitan pada lumen pembuluh darah. CAD juga digunakan untuk menggambarkan berbagai gangguan klinis, mulai dari aterosklerosis tanpa gejala dan angina stabil hingga sindrom koroner akut . ngina tidak stabil. NSTEMI. STEMI). Pada NSTEMI, trombosis arteri koroner biasanya menyebabkan oklusi Manajemen Fisioterapi pada Coronary Artery Disease 3 Vessel. | Fitra Anggreni Kusuma R dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 22 Ae 29 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/385 parsial arteri koroner yang mengakibatkan iskemia dan nekrosis subendokard. Studi mengatakan bahwa NSTEMI merupakan penyumbang kematian yang lebih besar setelah keluar dari rumah sakit dibandingkan ST-Elevation Myocardial Infarction (STEMI). Salah satu cara yang dinilai efektif dalam pengobatan CAD yaitu dengan melakukan Coronary Artery Bypass Grafting (CABG). Tindakan tersebut secara signifikan dinilai mampu meringankan gejala iskemia miokard dan hipoksia serta peningkatan kualitas hidup pasien. Fisioterapi sebagai bagian dari rehabilitasi jantung memiliki peran membantu meningkatkan fungsi fisik pasien, dimana diketahui pelatihan olahraga yang tidak memadai untuk pasien dengan penyakit jantung dapat menyebabkan konsekuensi buruk dan meningkatkan komplikasi pasca bedah. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti bermaksud untuk memberikan gambaran manajemen fisioterapi pada kasus Coronary Artery Disease 3 Vessel Disease NSTEMI preoperative CABG yang diharapkan dapat menjadi bahan referensi serta penelitian lebih lanjut terkait kasus yang sama. PRESENTASI KASUS Studi ini merupakan laporan kasus yang diperoleh melalui autoanamnesis, alloanamnesis, dan pemeriksaan fisik. Penelitian ini dilakukan di Pusat Jantung Terpadu RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar. Informasi terkait pasien didapatkan dari pasien dan fisioterapis setempat. Pasien mendapatkan intervensi fisioterapi dalam 1 sesi per minggu selama 2 minggu. Evaluasi dilakukan setelah pemberian intervensi. Pemeriksaan Subjektif Pasien seorang perempuan berusia 40 tahun yang dipindahan ke ruang perawatan Pusat Jantung Terpadu RSUP Dr. Wahidin Sudirohusoda pada tanggal 13 oktober 2023 dengan kondisi pasien mengeluhkan nyeri dada. Kondisi pasien saat kunjungan pada anggal 24 oktober 2023 pasien sudah tidak mengeluhkan nyeri dada dan sesak, serta pasien sedang dalam tahap persiapan untuk pelaksanaan operasi Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) yang direncanakan di tanggal 26 oktober 2023. Adapun terkait riwayat penyakit, pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi dan diabetes melitus tipe 2 non obese. Pemeriksaan Objektif Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan berupa pemeriksaan fungsi gerak dasar pasien normal dan tidak terdapat nyeri pada semua gerakan regio. Adapun terkait pemeriksaan spesifik fisioterapi pada pasien diperoleh tekanan darah 110/80 mmHg. suhu 36,7 oC. 22x/menit. heart rate. 71x/menit. SPO2 98%. berat badan 59 kg. tinggi badan. 151,9 cm. Pasien dalam kondisi kesadaran yang baik sesuai dengan hasil penilaian menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) dengan interpretasi compos mentis. Tingkat nyeri dada yang dirasakan pasien dalam kategori nyeri ringan dengan pengukuran menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Tingkat kemandirian aktivitas sehari-hari pasien menunjukkan hasil kemandirian penuh yang dinilai menggunakan indeks barthel. Nilai New York Heart Association (NYHA) yaitu II dengan interpretasi pasien terbatas dalam melakukan aktivitas fisik terlebih aktivitas berat dikarenakan dapat menimbulkan nyeri dada sehingga pasien merasa lebih nyaman saat istirahat. Berdasarkan klasifikasi Killips menunjukkan derajat satu dengan interpretasi tanpa risiko gagal jantung. Adapun terkait tingkat kecemasan pasien dinilai dengan menggunakan Hamilton Rating ScaleAnxiety (HRS-A) yang menunjukkan kecemasan sedang. Scoring decubitus juga dilakukan untuk mengetahui risiko mengalami decubitus dan didapatkan hasil dengan interpretasi tidak beresiko. Berdasarkan hasil pemeriksaan echocardiogram menunjukkan Mildly abnormal LV systolic function. EF 49 % (TEICH). EF 47 % (BIPLANE), normal RV systolic function. TAPSE 1,9 cm SAo lateral 11 cm/s, mild pulmonary regurgitation, hypokinetic segmental, normal cardiac dimensions, dan grade I LV diastolic dysfunction. Hasil pemeriksaan radiologi x-ray tidak terlampir dan berdasarkan hasil diagnosa medis dari dokter, pasien mengalami CAD 3 VD dan sedang dalam persiapan pelaksanaan operasi CABG. Manajemen Fisioterapi pada Coronary Artery Disease 3 Vessel. | Fitra Anggreni Kusuma R dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 22 Ae 29 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/385 Manajemen Intervensi Fisioterapi Berdasarkan hasil pemeriksaan maka diagnosa fisioterapi berupa gangguan aktivitas fungsional kardiovaskuler berupa nyeri dada e. c coronary artery disease 3 vessel disease (CAD 3 VD) NSTEMI. Adapun terkait permasalahan fisioterapi yang dapat muncul yaitu nyeri dada yang hilang timbul, pencegahan stiffnes joint, penurunan mobilitas yang dapat muncul akibat tira baring selama rawat inap di rumah sakit, serta kecemasan mengingat pasien sedang dalam persiapan pelaksanaan operasi bypass. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan fisioterapi yaitu mengatasi nyeri dada, meberikan penanganan untuk pencegahan kekakuan sendi dan penurunan mobilitas, serta pemberian edukasi kepada pasien sebelum pelaksanaan operasi. Program intervensi fisioterapi yang diberikan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1. Program Fisioterapi No. Problem FT Modalitas Dosis Kecemasan Komunikasi Terapeutik Nyeri dada Exercise Therapy (Breathing Exercis. Mencegah stiffness Exercise Therapy Memperlancar sirkulasi darah Exercise Therapy F : Setiap fisioterapi I : Pasien Fokus T : Edukasi T : Selama terapi F : Setiap fisioterapi I : Inhale, hold 2 Ae 5s, exhale/ 10x repetisi T : Deep breathing T : 2 menit F : Setiap fisioterapi I : 5x repetisi/gerakan T : Active dan passive ROM Exercise T : 20 menit F : Setiap fisioterapi I : 8 hitungan/2 set T : Ankle Pump T : 1 menit Sumber: Data Primer, 2023 HASIL DAN PEMBAHASAN Penyakit arteri koroner (CAD) didefinisikan sebagai proses patologis yang ditandai dengan akumulasi plak aterosklerotik di arteri koroner yang memicu penyempitan arteri dan mengurangi aliran jantung . bstruktif atau tida. , dan merupakan masalah umum pada orang lanjut usia di negara maju yang mana memiliki dampak besar pada morbiditas mereka. Patofisiologi CAD ialah ketika terdapat perkembangan plak pada pembuluh darah . yang menyebabkan penyempitan pada lumen pembuluh darah sehingga menghambat aliran darah. Penyumbatan pembuluh darah disebabkan karena peningkatan kadar kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL) dan menumpuk pada dinding pembuluh darah arteri sehingga aliran darah terganggu. LDL dalam kadar yang tinggi memiliki kemampuan untuk menembus endotelium yang terganggu dengan mengalami oksidasi kemudian menarik leukosit ke dalam intima pembuluh darah koroner yang diambil oleh makrofag sehingga menyebabkan pembentukan foam cell atau sel busa. Sel busa ini dapat bereplikasi dan membentuk lesi yang disebut dengan garis lemak dan merupana bentuk awalan yang terlihat pada aterosklerosis. Pembentukan plak pada dinding arteri seiring waktu dapat berkembang dalam ukuran yang besar. Jika hal tersebut terjadi, fibrous akan terbentuk dan lesi akan terjadi dari waktu ke waktu. Lesi dapat meningkat secara signifikan sehingga aliran darah tidak mencapai pada jaringan miokard dan timbul gejala angina. Beberapa plak dapat pecah yang menyebabkan terbentuknya thrombosis dan akan menyebabkan oklusi pada Manajemen Fisioterapi pada Coronary Artery Disease 3 Vessel. | Fitra Anggreni Kusuma R dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 22 Ae 29 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/385 lumen secara subtotal atau total sehingga mengakibatkan perkembangan sindrom koroner akut dalam bentuk angina tidak stabil. Angina pektoris merupakan gejala utama CAD yang ditandai dengan keluhan nyeri dada atau adanya rasa tidak nyaman di dada. Pada umumnya nyeri dada yang dirasakan seperti tertekan, rasa terbakar, rasa tajam, dan nyeri sesak. Rasa sakit yang dirasakan dapat menyebar ke rahang, lengan, serta kedua sisi kiri dan kanan. Selain itu, beberapa pasien CAD juga melaporkan kesulitan dalam bernafas dan timbul gejala konstitusional seperti rasa mual, muntah, pusing, dan palpitasi. Angina tidak stabil terjadi ketika alirah darah mengalami hambat ke miokardium sehingga suplai darah dan oksigen tidak tercukupi. Protokol rehabilitasi perioperatif operasi jantung bertujuan untuk mempertahankan fungsi paru-paru yang memadai dan memungkinkan mobilisasi pasca operasi lebih cepat, dapat mengurangi komplikasi pasca operasi terkait imobilisasi dan oleh karena itu mengarah pada pemulihan yang lebih cepat setelah operasi jantung. Pada fase pre operasi, pasien diberitahu tentang pentingnya mobilisasi dini yang dilakukan dalam 24 jam berikutnya, menjaga posisi duduk di kursi, diikuti dengan berdiri dan berjalan, untuk mendukung perluasan kembali fisiologis otot dan paru-paru. Rehabilitasi meminimalkan kemungkinan komplikasi dan mengurangi lamanya ventilasi mekanis, kejadian komplikasi paru pasca operasi . telektasis dan pneumoni. , dan lama total rawat inap pada pasien yang menjalani operasi kardiovaskular. Selain itu, pada pasien yang menjalani rehabilitasi pernafasan sebelum operasi, kejadian Postoperative Pulmonary Complication (PPC) menurun sebesar 50% dibandingkan dengan pasien yang mendapatkan perawatan konvensional. Pasien dengan rencana operasi CABG dapat diberikan penanganan fisioterapi berupa edukasi terkait pengenalan lingkungan ICU. Pada kasus ini, pasien diberikan edukasi seperti pemberitahuan terkait mobilisasi dini serta manfaatnya setelah operasi dan terkait lingkungan ICU untuk mengurangi kecemasan pasien. Adapun penanganan selanjutnya disesuaikan dengan kondisi pasien. Pemberian latihan pernapasan yaitu deep breathing dapat didefinisikan sebagai metode yang paling sering digunakan dari intervensi non-farmakologis yang bertujuan untuk mengubah sepenuhnya pola pernapasan tertentu yang dikategorikan sebagai latihan pernapasan. Hasil berkisar dari rileks hingga tenang karena pengaruh pada sistem saraf parasimpatis, mengurangi dan mencegah penumpukan racun di paru-paru dengan mendorong pembersihan kantung udara kecil . , meningkatkan volume paru-paru, membersihkan sekret, dan meningkatkan pertukaran gas, mengendalikan sesak napas, meningkatkan kapasitas olahraga, menurunkan tekanan darah, menurunkan obesitas, respon relaksasi untuk mengurangi stres dan mengendalikan nyeri. Deep breathing memberikan pengaruh positif terhadap insomnia, fungsi otonom jantung, depresi, kecemasan, tekanan darah tinggi, dan penyakit paru-paru dan terbukti mengimbangi fungsi tubuh dan otak, kesadaranketidaksadaran, dan fungsi sistem parasimpatis simpatis, sehingga dianggap sebagai alat yang sangat baik untuk memfasilitasi relaksasi. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa deep breathing dapat memfasilitasi transfer oksigen ke sel dan mengurangi masalah paru-paru yang mungkin terjadi setelah operasi. Latihan mobilisasi yang dapat dilakukan di tempat tidur dan dalam posisi berdiri, termasuk mobilisasi berbantuan pasif dan aktif dari keempat anggota badan melawan berbagai resistensi. mobilisasi melawan resistensi dilakukan dengan beban rendah dan dibantu oleh fisioterapis, fleksi lutut ke dada disertai fleksi dengan tangan, menekuk kaki tanpa mengangkat tumit, dan punggung, menggerakan anggota tubuh ke belakang dengan lutut diluruskan dan menekuk kaki penyangga, ekstensi pinggul dengan lutut diluruskan, mengangkat tumit dari tanah, ekstensi lutut dengan kaki ditekuk ke arah punggung, dan ke belakang, mengangkat satu kaki, menekuk lutut dan menyilangkannya pada kaki lainnya, abduksi dan adduksi kaki, fleksi dan ekstensi anggota badan selama 1 menit, naik turun tangga kecil, merentangkan tangan ke atas dan ke belakang dengan tangan di bahu, delapan putaran kecil lengan selama dua menit ke depan dan ke belakang, rotasi badan dari satu sisi ke sisi lain. Manajemen Fisioterapi pada Coronary Artery Disease 3 Vessel. | Fitra Anggreni Kusuma R dkk Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 9 No. 1 Jan 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 22 Ae 29 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/385 Active Range of Motion (AROM) merupakan salah satu latihan dalam rehabilitasi jantung yang telah terbukti meningkatkan ventilasi dan perfusi sehingga akan meningkatkan fungsi paru dan meningkatkan aktivitas fisik. Selama di rumah sakit, olahraga bisa dimulai dari gerakan tangan dan kaki atau perubahan postur. Hal ini dapat dilakukan rutin dan bertahap. Selama berolahraga, paru-paru membawa oksigen ke dalam tubuh dan jantung memompa oksigen ke otot. Olahraga teratur dapat meningkatkan kekuatan dan fungsi otot. Ini juga meningkatkan sirkulasi dan memperkuat jantung. Manfaat lain dari fase ini adalah melatih pasien agar mampu melakukan aktivitas sehari-hari dan menghindari efek negatif fisiologis dan psikologis dari tirah baring. Adapun untuk latihan Passive Range of Motion (PROM) digambarkan sebagai manipulasi tubuh atau anggota tubuh dalam batas yang tersedia tanpa usaha sukarela atau kontraksi otot. Banyak literatur baru melaporkan bahwa latihan rentang gerak pasif dini (PROM) meningkatkan fungsi kardiopulmonal. , mencegah delirium, dan mengurangi lama rawat di ICU dan rumah sakit. Selain itu, ini dianggap sebagai teknik non-invasif untuk mengoordinasikan respons fisiologis dan mengurangi keparahan nyeri, dan mengurangi tingkat kecemasan. Ankle Pump Exercise (APE), latihan yang dilakukan melalui plantarfleksi dan dorsofleksi sendi pergelangan kaki, meningkatkan sirkulasi vena. Darah kembali ke ekstremitas bawah dengan mengkontraksikan dan mengendurkan otot betis, direkomendasikan sebagai metode yang efektif untuk mencegah Venous Thromboembolism (VTE). APE populer dalam praktik perawatan klinis pada pasien yang berbaring di tempat tidur untuk mencegah trombosis. Adapun keterbatasan dari laporan ini, terkait dengan program fisioterapi yang diberikan kepada pasien sangat singkat sehingga beberapa kondisi belum bisa dievaluasi dengan baik dan hanya menggambarkan program pre operatif. Meskipun demikian terdapat perubahan terkait nyeri dada dan kecemasan yang dirasakan pasien (Tabel . , dapat dilihat bahwa pemberian deep breathing dan edukasi baik untuk menurunan nyeri dada dan kecemasan yang dirasakan oleh pasien sama seperti penjelasan sebelumnya diatas. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian selanjutnya dengan pemberian sesi fisioterapi yang menampilkan program pre operatif dan post operatif untuk melihat kondisi serta intervensi fisioterapi yang dapat memberikan efek yang lebih menguntungkan pada pasien. Tabel 2. Evaluasi Fisioterapi Problem FT Nyeri Kecemasan Intervensi Parameter Keterangan Sebelum Sesudah NRS HRS-A Terdapat penurunan nyeri Terjadi Sumber: Data Primer, 2023 SIMPULAN DAN SARAN Laporan kasus ini menggambarkan presentasi klinis serta manajemen fisioterapi pre operatif CABG dengan kondisi CAD 3 VD NSTEMI. Pasien seorang perempuan dengan usia 40 tahun dengan keluhan nyeri dada. Program fisioterapi yang diberikan termasuk breathing exercise dengan teknik deep breathing, aktif dan pasif ROM exercise, ankle pump, serta pemberian edukasi kepada pasien sebelum menjalani operasi. Pemberian latihan atau dalam hal ini intervensi fisioterapi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasien seperti presentasi klinis pasien. DAFTAR PUSTAKA