The Last Fortress and The Role of Parents in Protecting Children from the Dangers of Oplosan Drinks (Case Study in Pakamban Laok Villag. Benteng Terakhir dan Peran Orang Tua dalam Melindungi Anak dari Bahaya Minuman Oplosan (Studi Kasus di Desa Pakamban Lao. MuruAoatul Afifah1 Universitas Al-Amien Prenduan muruatulafifah@gmail. Khafifah2 Universitas Al-Amien Prenduan khofifahkholid@gmail. Abstrak. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja akibat konsumsi minuman oplosan di Desa Pakamban Laok, serta mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat peran tersebut. Pendekatan kualitatif digunakan dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara terhadap orang tua korban dan remaja yang terlibat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua berperan sebagai pemimpin, pengawas, penasihat, dan teman bagi anakanaknya dalam upaya mengatasi masalah ini. Dukungan dari lingkungan desa melalui kegiatan positif seperti Shalawat Banjari, olahraga, dan kegiatan keagamaan lainnya menjadi faktor pendukung yang signifikan. Selain itu, kesadaran remaja akan dampak buruk konsumsi minuman oplosan setelah kejadian tragis juga menjadi faktor internal yang mendorong perubahan perilaku. Namun, pengaruh teman sebaya, pandangan negatif lingkungan, kurangnya perhatian orang tua, pengaruh media sosial, dan rasa ingin tahu remaja menjadi faktor penghambat yang perlu diperhatikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peran orang tua sangat krusial dalam pencegahan dan penanganan kasus konsumsi minuman oplosan pada remaja, namun upaya ini perlu didukung oleh lingkungan sekitar dan berbagai pihak terkait. Kata Kunci: Peran Orang Tua. Kenakalan Remaja. Minuman Oplosan Abstract. This study aims to describe the parental role in addressing adolescent delinquency caused by the consumption of adulterated beverages in Pakamban Laok Village, as well as to identify the supporting and inhibiting factors of this role. qualitative approach was used with data collection through observation and interviews with parents of victims and involved adolescents. The results showed that parents act as leaders, supervisors, advisors, and friends to their children in addressing this issue. Support from the village environment through positive activities such as Shalawat Banjari, sports, and other religious activities is a significant supporting factor. In addition, the adolescents' awareness of the negative impacts of consuming adulterated beverages after a tragic incident also becomes an internal factor that drives behavioral change. However, peer influence, negative environmental views, lack of parental attention, the influence of social media, and adolescents' curiosity become inhibiting factors that need IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan to be considered. This study concludes that the parental role is crucial in the prevention and handling of cases of adolescent consumption of adulterated beverages, but these efforts need to be supported by the surrounding environment and various related parties. Keywords. Parental role. Adolescent delinquency. Adulterated beverages PENDAHULUAN Masalah kenakalan remaja bukanlah hal baru yang muncul saat ini, melainkan telah ada sejak berabad-abad yang lalu dan menjadi isu aktual di hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Masalah ini tidak hanya terjadi di perkotaan, tetapi kini juga menyebar hingga ke wilayah pedesaan. Kenakalan remaja merupakan perilaku yang melanggar norma, aturan, atau hukum yang berlaku di masyarakat, yang dilakukan oleh individu dalam usia remaja atau masa transisi dari anak-anak menuju dewasa (Prasasti. Kenakalan remaja mencakup segala perilaku yang menyimpang dari norma hukum pidana dan dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut tidak hanya merugikan diri mereka sendiri tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Saat ini, banyak remaja yang menunjukkan perilaku kurang baik, seperti merokok, mencuri uang dari orang tua, hingga mengenal narkoba dan seks bebas (Losa et al. , 2. , (Unayah & Sabarisman, 2. , (Zulkhairi et , 2. Sangat disayangkan jika perilaku anak bangsa seperti ini dibiarkan, karena akan mengancam masa depan negara, khususnya generasi muda. Selain itu, kenakalan remaja semakin meningkat, baik dari segi jumlah maupun kualitas kejahatannya, yang semakin agresif dan kejam, terutama dalam tindakan yang dilakukan secara berkelompok. Fenomena ini terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, industrialisasi, dan Remaja yang terlibat dalam tindakan kriminal umumnya memiliki kontrol diri yang rendah atau justru menyalahgunakan kontrol diri tersebut, dan cenderung membuat aturan sendiri tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain (Mufidah, 2. Faktor lingkungan pergaulan juga turut mempengaruhi, terutama ketika mereka berinteraksi tanpa mempertimbangkan latar belakang teman-teman mereka. Secara umum, remaja yang terlibat dalam kenakalan cenderung bersikap egois dan sering kali menyalahgunakan atau bahkan melebih-lebihkan rasa harga diri mereka. Mereka melakukannya atas dasar kesenangan pribadi tanpa memikirkan dampak yang IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan mungkin timbul. Di pedesaan, bentuk kenakalan remaja sering kali berbeda dengan yang terjadi di perkotaan (Suryandari, 2. Salah satu bentuk kenakalan remaja di pedesaan adalah kebiasaan mengonsumsi minuman keras, seperti minuman beralkohol tinggi seperti Cap Tikus. Saledo, dan lainnya. Terjadi adanya peningkatan dalam jumlah dan kualitas kejahatan remaja. Tindakan kriminal yang semakin garang dan kejam ini lebih banyak dilakukan dalam kelompok daripada secara individu (Didik, 2. Salah satu faktor penyebab munculnya kenakalan remaja adalah kurang optimalnya peran orang tua sebagai teladan. Selain itu, suasana keluarga yang tidak nyaman, termasuk perceraian, turut memicu kenakalan remaja (Harsanti & Verasari, 2. Sering kali, mereka terlibat dalam tindakan kriminal karena merasa diabaikan oleh orang tua yang terlalu sibuk bekerja sehingga kurang memperhatikan perkembangan anak-anak mereka. Peningkatan perilaku kenakalan remaja saat ini tidak terlepas dari peran orang tua dan lingkungan dalam membimbing serta mengarahkan anak. Keluarga merupakan tempat pengasuhan utama yang sangat memengaruhi perkembangan anak (Jaujah & Qibtiyah, 2. Perilaku anak dapat berkembang secara optimal apabila keluarga mampu menciptakan lingkungan yang kondusif dan mendukung dengan menerapkan pola asuh yang sesuai dengan kebutuhan anak serta selaras dengan perubahan zaman. Faktor sosial ekonomi dalam masyarakat juga menjadi pemicu munculnya perilaku dan pengalaman yang tidak sehat, seperti ketidakstabilan rumah tangga, kekerasan terhadap anak, orang tua yang merokok atau minum alkohol, akses kesehatan yang terbatas, polusi lingkungan, serta penyalahgunaan minuman keras dan narkoba oleh Dampak dari modernisasi dalam aspek sosial ekonomi ini terlihat nyata di masyarakat, salah satunya adalah penyalahgunaan minuman keras di kalangan remaja. Jika situasi ini dibiarkan, remaja yang sudah terpengaruh alkohol atau minuman keras akan menjadi individu yang tidak efektif dalam kehidupan sosialnya (Faridah, 2. Pengawasan orang tua adalah upaya yang dilakukan oleh ayah, ibu, atau wali terhadap perkembangan anak, baik dalam aspek fisik maupun psikologis. Menurut Sherly dan Asna dalam Mandasari . , pola asuh dan pengawasan yang diberikan orang tua sangat memengaruhi perilaku anak. Kualitas hidup anak, baik atau buruk, sangat tergantung pada bagaimana orang tua merawat dan membesarkannya. Pengawasan di sini bukan berarti membatasi setiap aktivitas anak, tetapi lebih kepada menjaga dan mendidik IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan anak agar tidak terjerumus dalam perilaku yang tidak diinginkan. Banyak orang tua gagal dalam mendidik anak mereka karena kurangnya Kelalaian ini menyebabkan orang tua tidak dapat mengikuti perkembangan anak dengan baik. Pengawasan terhadap remaja tidak hanya berupa kedekatan fisik, karena pada usia ini, anak mulai mengembangkan otonomi. Namun, kualitas hubungan antara orang tua dan remaja lebih penting, yang dapat dilihat dari komunikasi dua arah, memberikan ruang bagi anak untuk mengembangkan kehidupan sosialnya, serta mengontrol aktivitas anak. Berdasarkan pandangan tersebut, pengawasan orang tua mencakup pemantauan terhadap semua aktivitas anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tujuan dari pengawasan ini adalah memperkuat disiplin anak agar tidak melakukan tindakan yang menyimpang, yang dapat merugikan diri sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar. Kasus kenakalan remaja di Desa Pakamban Laok. Pragaan. Sumenep. Madura, menjadi contoh nyata. Kejadian ini menyebabkan tiga pemuda meninggal setelah pesta minuman oplosan, sementara tiga lainnya selamat tetapi tidak sadarkan diri saat kejadian. Salah satu faktor penyebab kenakalan remaja di Desa Pakamban Laok. Pragaan. Sumenep, adalah keberadaan komunitas geng yang menciptakan pergaulan yang tidak sehat dan berdampak negatif bagi masyarakat setempat. Dalam hal ini, peran orang tua dan anggota keluarga sangat penting dalam memberikan pendidikan moral sejak dini. Menurut Sukarno ketidakseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya dan norma yang berlaku, atau ketika terdapat ketidaksesuaian antara aspirasi dengan jalur yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Ketidakseimbangan ini dapat memunculkan perilaku yang dianggap Penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan peran orang tua dalam megatasi kenakalan remaja telah banyak diteliti, di antaranya Adrian . memaparkan bahwa orang tua melakukan upaya preventif dengan menanamkan nilai keagamaan, seperti mengajak anak melaksanakan salat, dan memberi nasihat saat anak pulang larut malam untuk mencegah pergaulan buruk. Secara represif, orang tua menegur dan memberi hukuman jika anak terus pulang malam. Hal ini juga dijelaskan oleh Losa, dkk . bahwa upaya orang tua mengatasi kenakalan remaja akibat minuman keras meliputi: . Menanamkan kasih sayang, . Menjadi ayah dan ibu yang ideal, . Membangun IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan komunikasi intens, . Menciptakan keharmonisan keluarga, . Menanamkan moralitas sejak dini, dan . Tidak membedakan anak. Sedangkan penelitian ini bertujuan untuk memaparkan peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja akibat minum oplosan dan apa saja faktor pendukung dan penghambat peran orang tua untuk mengatasi kenakalan remaja akibat minum oplosan di Dusun Talon Desa Pakamban Laok Kecamatan Pragaan Kabupaten Sumenep METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (Sugiyono, 2. untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, dan sikap secara individu maupun kelompok. Penelitian ini juga menerapkan metode studi kasus untuk secara mendalam mempelajari kenakalan remaja di lingkungan masyarakat. Lokasi penelitian ini terletak di Desa Pakamban Laok, tempat terjadinya pesta minuman oplosan yang mengakibatkan tiga pemuda tewas. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melibatkan wawancara dan observasi (Abdussamad, 2. Sedangkan analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Miles dan Huberman (Sarosa, 2. yang meliputi reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Orang Tua dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Akibat Minum Oplosan di Dusun Talon Desa Pakamban Laok Kenakalan remaja merupakan masalah sosial yang kompleks dan memerlukan perhatian serius, terutama di daerah-daerah yang mengalami perubahan sosial dan ekonomi cepat. Salah satu bentuk kenakalan remaja yang mengkhawatirkan adalah konsumsi minuman keras oplosan, yang sering kali menyebabkan dampak negatif serius bagi individu dan komunitas. Di Dusun Talon. Desa Pakamban Laok, masalah ini menjadi sorotan karena baru-baru ini telah terjadi pesta minuman oplosan yang mengakibatkan tiga pemuda tewas, menandakan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kenakalan remaja akibat minum oplosan merupakan perbuatan yang menyimpang dan tidak baik untuk dilakukan. Karena bisa merusak tubuh hingga penyakit serius lainnya yang disebabkan kandungan alkohol didalamnya, dan juga bisa menyebabkan seseorang hilang kesadaran, kejang, hingga meninggal dunia, jika tidak segera dicegah akan IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan berdampak pada masa depan anak. Beberapa dampak negatif kenakalan remaja termasuk: dampak pada diri sendiri: kenakalan dapat membentuk karakter buruk pada remaja, . dikucilkan oleh lingkungan: remaja yang terlibat dalam kenakalan sering kali dikucilkan dan dianggap sebagai sampah masyarakat, . menanggung rasa malu: Kenakalan remaja dapat memalukan keluarga dan menimbulkan rasa sedih berkepanjangan pada keluarga, sementara remaja sering kali tidak menyadari dampak emosional tersebut (Bobyanti. Menurut ahli sosiologi Kartono . bahwa kenakalan remaja merupakan gejala patalogis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabdian sosial. Akhirnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang. bahwa kalangan muda selalu mempunyai sifat ingin tahu segala sesuatu yang belum, atau kurang diketahui dampak negatifnya. Seperti yang dikatakan oleh subyek pertama yang menyatakan bahwa awal mula remaja mengkonsumsi alkohol adalah ketika ia sekolah dasar dan penasaran ingin mencoba minuman. Rasa penasaran dan rasa ingin tahu yang dimiliki akan membuat seseorang yang pada akhirnya mudah untuk melakukan perilaku yang bisa berdampak Sehingga salah satu faktor resiko penggunaan minuman keras dikalangan muda karena rasa ingin tahu. Untuk itu diperlukan peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja akibat minum oplosan di desa Pakamban Laok di antaranya: Pertama, orang tua berperan sebagai pemimpin dalam kehidupan anak mereka. Keluarga adalah tempat awal pembentukan keterampilan, intelektual, dan kecerdasan spiritual anak. Kepemimpinan seorang ayah di rumah tangga mempengaruhi perkembangan anak secara signifikan, mencakup tanggung jawab seperti menyediakan nafkah, membimbing istri, dan memastikan pendidikan terbaik bagi anak. Begitu pula, kepemimpinan seorang ibu dalam mengelola urusan rumah tangga dan mendidik anak sangat penting, karena ibu adalah pendidik utama bagi anak (Hasrianti, 2. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Jhonson dalam Bahi, dkk . bahwa peran keluarga terbagi menjadi beberapa aspek. Ayah bertanggung jawab sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, serta pemberi rasa aman dalam keluarga, sekaligus menjalankan peran sebagai kepala keluarga. Sementara itu, ibu berperan dalam mengelola rumah tangga, melindungi, merawat, dan mendidik anak-anaknya. Di sisi lain, anak-anak memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan peran psikososial yang sesuai dengan IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan tahap perkembangan mereka masing-masing. Dalam konteks pendidikan, orang tua memegang peranan kunci dalam memotivasi anak untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Irfaniyah & Qibtiyah, 2. Kepemimpinan orang tua memiliki dampak besar terhadap perkembangan anak. Oleh karena itu, kepemimpinan yang baik dan benar sangat diperlukan, terutama dalam situasi seperti setelah kejadian pesta minuman oplosan yang menyebabkan kematian beberapa remaja di Desa Pakamban Laok. Orang tua harus mengambil langkah-langkah seperti mendorong anak untuk lebih rajin beribadah, mengingatkan tentang kewajiban agama, dan mengatur pertemanan anak. Sikap dan pandangan kepemimpinan orang tua sangat mempengaruhi perilaku anak. Kedua, orang tua sebagai pengawas. Ketika anak memasuki masa remaja dan mulai beranjak dewasa, orang tua di Pakamban Laok tidak lagi menerapkan kontrol ketat seperti yang dilakukan saat anak masih kecil, misalnya melarang bermain sepulang sekolah atau tidak memperbolehkan keluar hingga larut malam. Orang tua perlu memahami konsep kebebasan pada anak dengan tetap mengingatkan dan memantau setiap tindakan mereka. Meski begitu, pengawasan terhadap kegiatan anak dan pergaulannya tetap Orang tua sebaiknya memberikan arahan positif dan menjauhkan anak dari lingkungan yang berpotensi negatif, karena lingkungan sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak. Kehidupan seorang anak sangat dipengaruhi oleh faktorfaktor ini. Namun, orang tua tidak boleh sepenuhnya melepaskan tanggung jawab. Anak perlu diberi kebebasan dengan tetap dalam pengawasan. Pengawasan ini bisa dilakukan dengan memberi batasan waktu untuk bergaul dengan teman serta memantau aktivitas anak di rumah (Widyanti & Jatiningsih, 2. Langkah-langkah ini juga dilakukan oleh orang tua korban kenakalan remaja akibat minuman oplosan di Pakamban Laok. Ketiga, orang tua sebagai penasihat. Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi remaja, terutama saat mereka menghadapi kesulitan dalam mengambil keputusan (D. Sari & Rasyidah, 2. Orang tua dapat memberikan pandangan dan pertimbangan mengenai nilai-nilai positif dan negatif, sehingga anak belajar membuat IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan keputusan yang tepat. Di samping itu, orang tua perlu memiliki kesabaran dan kesiapan mental yang kuat untuk menghadapi berbagai perilaku anak, terutama jika remaja sudah terlibat dalam halhal yang tidak diinginkan. Dalam situasi seperti ini, orang tua, seperti yang dilakukan oleh orang tua korban di Pakamban Laok, sebaiknya tidak menghakimi, melainkan bersikap bijak dan merangkul remaja yang sedang bermasalah agar dapat kembali ke jalan yang Keempat, orang tua sebagai teman. Orang tua tidak hanya bertugas untuk menasihati, menegur, atau memarahi anak ketika mereka berbuat salah. Mereka juga harus siap mendengarkan keluhan atau cerita, sekecil apa pun itu, yang disampaikan oleh Oleh karena itu, orang tua remaja di Pakamban Laok perlu memahami pentingnya membangun komunikasi yang baik dengan anak. Ini bisa dilakukan dengan memposisikan diri sebagai sahabat sekaligus pendengar yang baik. Beberapa cara yang dapat dilakukan meliputi refleksi sebagai berikut: . memberikan waktu bagi anak untuk Tidak mudah bagi remaja untuk membuka diri dan berbagi masalahnya dengan orang lain. Orang tua bisa mulai dengan mengajukan pertanyaan yang dapat memancing anak untuk berbicara. mencari tempat yang aman dan nyaman. Ketika anak sudah merasa siap untuk bercerita, ajaklah ke tempat yang kondusif dan memiliki suasana yang nyaman untuk mendukung percakapan yang lebih terbuka (Wikansari, 2. Dari hasil pembahasan, dapat ditegaskan bahwa peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja akibat minuman oplosan di Dusun Talon. Desa Pakamban Laok, sangat signifikan dan multifungsi. Sebagai pemimpin dalam keluarga, orang tua berperan memberikan arahan yang tepat dan menjaga agar anak-anak tidak terjerumus dalam pergaulan yang buruk. Selain itu, sebagai pengawas, orang tua harus lebih proaktif dalam memantau kegiatan dan pergaulan anak, serta memberikan batasan yang jelas terkait apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dalam peran sebagai penasehat, orang tua perlu menyediakan waktu untuk mendengarkan dan berdialog dengan anak-anak mereka, membantu mereka memahami nilai-nilai agama dan moral yang seharusnya dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan Di sisi lain, sebagai teman, orang tua harus mampu menjalin hubungan yang erat dengan anak sehingga mereka merasa nyaman dan tidak segan untuk berbicara secara Dalam konteks ini, kehadiran orang tua yang bersikap mendukung dan memahami kebutuhan serta tantangan yang dihadapi anak-anak mereka sangatlah Dengan membangun komunikasi yang efektif, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang penuh kasih sayang dan kepercayaan, yang pada gilirannya dapat mencegah anak-anak dari perilaku menyimpang seperti mengonsumsi minuman oplosan. Dari sini dapat diketahui pentingnya peran orang tua dalam mencegah kenakalan remaja akibat konsumsi minuman oplosan. Namun, upaya ini tidak dapat dilakukan Dukungan dari lingkungan sekitar, sekolah, dan pemerintah sangat diperlukan. Dengan meningkatkan kesadaran remaja akan bahaya minuman oplosan dan menciptakan lingkungan yang kondusif, kita dapat memberikan harapan bagi generasi muda untuk hidup lebih sehat dan produktif. Faktor Pendukug dan Penghambat Peran Orang Tua dalam Mengatasi Kenakalan Remaja Akibat Minum Oplosan di Dusun Talon Desa Pakamban Laok Faktor pendukung peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja akibat minum oplosan di Pakamban Laok meliputi: Pertama, faktor eksternal. Pemerintah desa tidak hanya berfokus pada sistem pemerintahan sendiri, tetapi juga mengandalkan kemandirian dan keterlibatan jaringan desa dalam memutuskan dan mengawasi kegiatan yang relevan. Pemerintah desa memberikan ruang yang cukup bagi kegiatan desa dan mendukung jaringan desa dalam berpartisipasi aktif dalam berbagai dinamika desa, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan program pembangunan. Hal ini termasuk berbagai kegiatan yang bertujuan untuk memberikan dampak positif langsung bagi masyarakat desa (Hendri, 2. Pemerintah Desa Pakamban Laok telah berupaya membina pemuda melalui berbagai program, termasuk pembinaan moral, etika, dan edukasi mengenai bahaya minuman beralkohol. Upaya tersebut diwujudkan dengan menyediakan fasilitas seperti lapangan olahraga untuk sepak bola dan futsal, serta mendukung kegiatan keorganisasian seperti shalawat banjari dan kesenian ul-daul. Menurut Widjaja dalam Suhara, dkk . , penyelenggaraan pemerintah desa berperan penting dalam otonomi daerah. IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan karena desa adalah ujung tombak pelayanan masyarakat dan kunci keberhasilan berbagai Penguatan desa dan lembaga masyarakat merupakan langkah strategis untuk mempercepat tercapainya kesejahteraan masyarakat. Kedua, faktor internal. Beberapa remaja terjerumus dalam minuman keras karena pengaruh dari keinginan mencoba-coba dan tekanan teman sebaya (Prasasti, 2. Sarana hiburan yang menampilkan gaya hidup modern sering kali mendorong perilaku minum-minuman keras secara berkelompok. Seperti yang terjadi pada remaja di Pakamban Laok, awalnya mereka hanya ingin mencoba, namun akhirnya berujung pada insiden tragis yang menelan korban jiwa. Setelah kejadian tersebut, para remaja mulai menyadari bahwa perilaku tersebut tidak hanya dilarang oleh agama tetapi juga mencemarkan nama baik keluarga dan desa mereka. Menurut Kartini Kartono . , kenakalan remaja adalah gejala patologis sosial yang muncul sebagai bentuk kegagalan Hal ini mengakibatkan perilaku menyimpang di kalangan remaja. Sedangkan faktor penghambat peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja akibat minum oplosan di Pakamban Laok terdiri dari faktor eksternal dan internal. Untuk faktor eksternal mencakup, pertama, teman. Kecenderungan remaja untuk berperilaku nakal sering dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya. Ketika remaja berada dalam kelompok yang mendukung perilaku nakal, mereka merasa mendapatkan dukungan sosial dan status dari kelompok tersebut. Tekanan ini mendorong remaja untuk menyesuaikan perilaku mereka dengan norma kelompok, termasuk berperilaku nakal. Hal ini terlihat pada remaja di Desa Pakamban Laok, di mana mereka terdorong untuk mencoba minuman keras agar diterima dalam kelompok teman sebaya. Menurut Santrock dalam Saputro & Soeharto . , remaja cenderung melakukan tindakan antisosial jika mereka mengharapkan penghargaan dari perilaku tersebut. Tekanan dari kelompok sebaya menyebabkan remaja berusaha berperilaku sesuai dengan aturan kelompok, meskipun itu melanggar nilai-nilai yang baik. Kedua, pandangan negatif lingkungan sekitar. Pada usia remaja, individu sering kali belum sepenuhnya memahami hal baik dan buruk, dan lingkungan sekitar sangat mempengaruhi perilaku mereka (Azizah, 2. Kurangnya perhatian dari orang tua atau pengaruh lingkungan negatif dapat mengakibatkan kenakalan remaja. Jika tidak ditangani dengan baik, kenakalan ini bisa berkembang menjadi perilaku kriminal yang berpotensi IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan merusak masa depan remaja dan mengganggu kehidupan keluarga serta masyarakat. Ketiga, kurang perhatian orang tua. Kekurangan perhatian dari orang tua dapat mengakibatkan berbagai masalah emosional pada remaja, seperti krisis kepercayaan diri dan rasa kurang berharga. Kurangnya waktu yang diluangkan orang tua untuk anak, tidak memberikan apresiasi, atau kurang memahami pencapaian anak dapat membuat remaja merasa tidak diakui dan tidak dicintai (P. Sari et al. , 2. Hal ini dapat memengaruhi kemampuan remaja untuk menjalin hubungan sehat dengan orang lain di masa depan. Keempat, pengaruh media sosial. Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol dapat mempengaruhi pola kehidupan remaja (Aqiilah et al. , 2. , seperti kecanduan game online dan fitur menarik lainnya yang membuat mereka lupa waktu. Kurangnya sosialisasi mengenai nilai-nilai moral dari orang tua, disiplin yang kurang, dan pengaruh lingkungan negatif berkontribusi pada kenakalan remaja dalam menggunakan teknologi. Selanjutnya faktor penghambat peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja akibat minum oplosan di Pakamban Laok dari faktor internal. Faktor internal yang berkontribusi pada kenakalan remaja akibat minum oplosan di Pakamban Laok mencakup beberapa aspek. Pertama, rasa ingin coba-coba menjadi pendorong utama bagi banyak remaja untuk terjerumus dalam perilaku negatif, seperti mengonsumsi minuman keras, karena dorongan rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba sesuatu yang baru. Kedua, solidaritas terhadap teman sebaya seringkali membuat remaja merasa perlu mengikuti perilaku kelompok, termasuk minum minuman keras, untuk diterima dan menjaga hubungan sosial. Ketiga, beberapa remaja menggunakan minuman keras sebagai pelarian dari masalah pribadi atau emosional yang mereka hadapi. Keempat, kurangnya pengawasan orang tua juga berperan besar, karena minimnya perhatian dan pengawasan dapat memperbesar kemungkinan remaja terlibat dalam perilaku negatif. Penggunaan minuman keras sering dikaitkan dengan pencarian kenikmatan, kenyamanan, kesenangan, dan ketenangan. Noegroho Djajoesman dalam Maula & Yuniastuti . menjelaskan bahwa remaja sering memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap hal-hal yang belum mereka ketahui, termasuk dampak negatif dari minuman keras. Sebagai contoh, salah satu subyek penelitian mengungkapkan bahwa ia mulai mengonsumsi alkohol sejak sekolah dasar karena rasa penasaran. Rasa ingin tahu yang kuat ini dapat mendorong remaja untuk mencoba hal-hal baru, yang bisa berakibat positif atau negatif. Ini menjelaskan mengapa IDEALITA | Sekolah Tinggi Agama Islam Al Falah Pamekasan rasa ingin tahu menjadi salah satu faktor risiko utama dalam penggunaan minuman keras di kalangan generasi muda. KESIMPULAN Penelitian ini mengungkapkan bahwa orang tua memiliki peran multifungsi dalam mencegah remaja mengonsumsi minuman oplosan di Desa Pakamban Laok. Mereka bertindak sebagai pemimpin keluarga, pengawas perilaku anak, pemberi nasihat, dan teman yang dapat dipercaya. Secara keseluruhan, peran orang tua dalam mengatasi kenakalan remaja sangat krusial, namun perlu adanya sinergi yang baik antara orang tua, masyarakat, dan pihak desa agar upaya pencegahan kenakalan remaja dapat berjalan Namun, pengaruh negatif dari teman sebaya, pandangan negatif masyarakat, dan kurangnya perhatian orang tua menjadi hambatan yang signifikan. Selain itu, rasa ingin tahu dan mencoba hal baru pada remaja juga menjadi faktor internal yang mendorong perilaku tersebut. Penelitian ini membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut mengenai faktorfaktor lain yang mempengaruhi kenakalan remaja di Dusun Talon. Desa Pakamban Laok. Misalnya, perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai pengaruh media sosial, ketersediaan layanan kesehatan mental, atau kebijakan pemerintah terkait peredaran minuman keras. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan program-program pencegahan yang lebih efektif. DAFTAR PUSTAKA