Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 Analisis Pengetahuan Tugas Perkembangan Keluarga Dengan Perilaku Orang Tua Dalam Penggunaan Gawai Pada Anak Usia Pra Sekolah Tressia Febrianti1*. Masdiana1. Desi Afriyanti1. Gian Hawara2 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Raflesia Depok. Jl. Mahkota Raya No. Tugu. Cimanggis Depok. Jawa Barat. Indonesia 16451 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada. Jl. Pajajaran No. Pamulang. Kec Pamulang. Tangerang Selatan. Banten Indonesia 15417 Korepondensi email: tressiafebrianti24@gmail. ABSTRAK Kemajuan teknologi sudah dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan, termasuk pada anak usia pra sekolah atau pada rentang usia 3-6 tahun, teknologi informasi yang sangat akrab dengan anak adalah gawai. Perilaku orang tua akan menjadikan contoh nyata penggunaan gawai pada anak, selain itu penggunaan gawai pada anak dapat memengaruhi proses keluarga dan perkembangan keluarga. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak. Penelitian ini menggunakan desain croosectional study pada 106 anak usia pra sekolah di Kampung Rumbut Kecamatan Cimanggis Kota Depok. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square (=0,. didapatkan hubungan pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah, hasil menunjukkan perilaku orang tua pada sikap orang tua dalam penggunaan gawai pada anak p=0,000 (< 0,. , perilaku kontrol diri orang tua p=0,000 (< 0,. , pada perilaku orang tua dan anak dalam penggunaan gawai p=0,025 (< 0,. Orang tua harus mampu memahami penggunaan gawai yang baik dan tepat untuk anak-anaknya. Orang tua harus mampu mengontrol diri dalam penggunaan gawai, karena perilaku orang tua akan sangat mempengaruhi perilaku anak. Kata kunci: anak usia pra sekolah, gawai, pengetahuan, perilaku orang tua, tugas perkembangan keluarga. ANALYSIS KNOWLEDGE OF FAMILY DEVELOPMENT TASKS AND PARENTAL BEHAVIOR IN GADGETS USE BY PRESCHOOL CHILDREN ABSTRACT Technological advances can be utilized by all groups, including preschool children . , information technology that is very familiar to children is gadgets. Parental behavior will be a real example of gadget use in children, in addition, the use of gadgets in children can affect family processes and family development. The purpose of this study is to analyze knowledge of family development tasks with parental behavior in the use of gadgets in children. This study uses a cross-sectional study design on 106 preschool children in Kampung Rumbut. Cimanggis District. Depok City. The results of statistical tests using the chi square test ( = 0. obtained a relationship between knowledge of family development tasks and parental behavior in the use of gadgets in preschool children, the results showed parental behavior on parental attitudes in the use of gadgets in children p = 0. 000 (< 0. , parental self-control behavior p = 0. (< 0. , on the behavior of parents and children in the use of gadgets p = 0. 025 (< Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 Parents must be able to understand the proper and appropriate use of gadgets for their children. Parents must be able to control themselves in gadget use, as parental behavior will significantly influence their children's behavior. Keywords: family development tasks, gadgets, knowledge, parental behavior, preschool PENDAHULUAN Teknologi informasi saat ini berkembangan dengan sangat cepat. Kemajuan teknologi sudah dapat dimanfaatkan oleh semua kalangan, termasuk pada anak usia pra sekolah atau pada rentang usia 3-6 Salah satu teknologi informasi yang sangat akrab dengan anak-anak adalah gawai. Gawai merupakan perangkat elektronik yang memiliki tujuan dan fungsi yang praktis untuk membantu memudahkan pekerjaan manusia (Puji Lestari & Permata Sari, 2. Penggunaan gawai terus meningkat setiap tahunnya. Indonesia merupakan Negara yang menduduki peringkat keempat di dunia sebagai Negara pengguna gawai terbanyak setelah China. India dan Amerika Serikat. Penggunaan gawai tidak dapat lepas dari penggunaan akses internet. UNICEF melaporkan bahwa setiap setengah detik seorang anak di seluruh dunia mengakses internet sebagai pengalaman Di awal tahun 2025, ada 5,56 miliar pengguna internet di seluruh dunia, dengan total populasi mencapai 8,2 miliar. Jumlah orang yang menggunakan internet di Indonesia telah mencapai 221 juta, atau 79,5% dari total populasi. Menurut data yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024, 39,7% anak usia dini di Indonesia telah menggunakan gawai, sementara 35,57% lainnya telah mengakses internet. Dalam kelompok usia, 5,88% anak di bawah usia 1 tahun telah menggunakan gawai dan 4,33% telah mengakses internet pada tahun 2024. Selanjutnya, 37,02% anak di bawah usia 1 tahun telah menggunakan gawai. Kemudian, terdapat 37,02% anak usia 1-4 tahun dan 58,25% anak usia 5-6 tahun yang menggunakan gawai, sedangkan 33,80% anak usia 1-4 tahun dan 51,19% yang berusia 5-6 tahun tercatat telah mengakses internet. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia . , menyebutkan bahwa di Jawa Barat perilaku penggunaan gawai paling banyak digunakan di rumah. Distribusi durasi penggunaan gawai pada responden relatif merata. Penggunaan gawai 2-3 jam sehari sebanyak 30,9% responden, 29,7% responden menyatakan bahwa menggunakan gawai 4Ae5 jam sehari dan penggunaan gawai lebih dari 5 jam sehari sebanyak 31, 6% Penelitian yang dilakukan di Asia Tenggara terhadap 2. 714 responden yang merupakan orang tua yang memiliki anak berusia 3 hingga 8 tahun menunjukkan bahwa, orang tua mengizinkan anak menggunakan gawai sebagai bahan untuk edukasi tetapi hasil yang didapatkan sebagian besar anak menggunakan gawai untuk hiburan dan bermain game. Fitur dan aplikasi yang menarik pada gawai dimanfaatkan oleh para orang tua untuk menemani anak sehingga orang tua dapat melakukan aktifitas lain seperti membersihkan rumah tanpa khawatir anaknya akan mengganggu aktivitasnya (Modecki et al. , 2. Penelitian yang dilakukan Agustin et al. , . menyebutkan bahwa terdapat hubungan antara penggunaan gawai yang berlebihan dengan masalah mental dan emosional pada anak-anak usia pra sekolah, hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak sering menggunakan gawai dalam jangka waktu yang tidak normal Orang tua dengan anak usia pra sekolah cenderung memiliki alasan penggunaan gawai sebagai penerapan stimulasi pada anak. Sedangkan stimulasi yang diberikan dengan menggunakan gawai dapat berdampak pada proses tumbuh kembang anak dikarenakan komunikasi pada penggunaan gawai hanya satu arah, selain itu penggunaan gawai pada anak juga dapat menyebabkan terbatasnya kesempatan belajar pada anak. Anak tidak dapat belajar secara alami bagaimana berkomunikasi dan bersosialisasi, selain itu mengakibatkan ketidakmampuan anak dalam mengenali dan berbagi emosi, seperti rasa simpati, sedih atau senang sehingga kurangnya kemampuan merespon hal yang ada disekelilingnya baik secara emosi maupun verbal (Modecki et al. , 2. Matthes et al . pada penelitiannya menyebutkan bahwa penggunaan gawai pada orang tua akan sangat berhubungan Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 dengan penggunaan gawai pada anak. Ketika orang tua lebih banyak menggunakan gawai maka dapat berdampak pada perilaku orang tua terhadap anaknya, pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua tidak terjalin utuh, seperti kedekatan, dukungan, komunikasi maupun ikatan antar orang tua dan anak tidak optimal. Pengaruh penggunaan gawai dapat mengubah fungsi keluarga pada interaksi sosial dalam keluarga tersebut, sehingga pola asuh sangat penting terhadap hubungan antara kecanduan gawai kepada anak, karena anak-anak akan meniru perilaku keluarga mereka, kecanduan gawai secara negative akan mempengaruhi emosi anak, perkembangan mental, kognitif dan sosial (Kim et al. , 2. Penelitian yang dilakukan Johnson and Hertlein . menyebutkan bahwa penggunaan gawai akan mempengaruhi proses keluarga dan perkembangan keluarga, peran keluarga terutama pada orang tua dalam hal ini adalah harus mampu mengurangi efek negatif penggunaan gawai bagi anggota keluarganya dengan memberi batasan waktu untuk anak dalam menggunakan gawai. Keluarga menggunakan gawai sebagai media komunikasi atau interaksi dengan anak, akan tetapi kehadiran gawai dapat menggangu sosial emosional anak jika digunakan pada waktu bersama anak seperti pada saat makan, bermain dan tidur. Orang tua, selain memberikan bimbingan, memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak yaitu pada kemampuan verbal, sosial, psikologis dan keterampilan motori yang berhubungan dengan perkembangan anak. Perkembangan anak pada usia prasekolah juga bergantung pada interaksi antara orang tua dan anak, interaksi yang terjadi antara anak dan orang tua akan berlangsung mendalam apabila orang tua dapat memperhatikan lingkungan anak, dapat memberi pengarahan dalam menentukan pilihan, memberikan anak kebebasan berinsiatif serta dapat memberikan latihan tanggung jawab pada anak (Knitter & Zemp, 2. Perilaku orang tua dan lingkungan akan menjadikan contoh nyata penggunaan gawai pada anak, orang tua harus mampu menggunakan kontrol diri dan mekanismpe koping dengan baik. Tugas perkembangan keluarga merupakan hal utama yang menentukan kemampuan anak. Setiap keluarga akan memiliki fase perkembangan dan tugas perkembangan yang berbeda. Tugas perkembangan didefinisikan sebagai pemenuhan kebutuhan perkembangan keluarga sebagai unit yang utuh dalam perkembangan seluruh anggota keluarga sesuai dengan tahap perkembangannya. Tugas perkembangan keluarga dapat terpenuhi apabila suatu keluarga telah mampu memenuhi tugas pokoknya dengan optimal sehingga selanjutnya keluarga dapat melaksanakan tugas krisisnya dengan optimal pula. Untuk mencapai fungsi dasar keluarga maka diperlukan adanya harapan tugas atau peran spesifik yang berhubungan dengan tugas perkembangan. Tugas perkembangan yang telah terpenuhi dapat memberikan arah pada tugas perkembangan keluarga tahap selanjutnya dan merupakan petunjuk untuk kesejahteraan dan kebahagiaan keluarga. Pada keluarga dengan tahap perkembangan anak usia pra sekolah memiliki tugas perkembangan membantu anak untuk menggapai perkembangnnya melalui aktivitas yang dilakukan anak sebagai peningkatan keterampilan (Friedman, 2. Orang tua berperan sebagai manajerial utama pada anak usia Peran penting orang tua lainnya yaitu pada perkembangan sosioemosinal anak dan pemantauan efektif terhadap anak. Pengetahuan yang dimiliki keluarga akan sangat berpengaruh terhadap pemantauan aktivitas anak dalam penggunaan gawai, penelitian yang dilakukan Febrianti et al. , . bahwa 23,6% keluarga masih memiliki pengetahuan tugas perkembangan yang cukup dan 9,9% keluarga memiliki pengetahuan yang kurang. Tujuan penelitian ini adalah menganilisis pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah, perilaku orang tua yang dinilai meliputi sikap penggunaan gawai pada orang tua dan anak . ehavioral belief. , kontrol diri dari orang tua . ontrol belief. Aperilaku orang tua dan anak yang menggunakan gawai (Behavio. , karena anak pada usia pra sekolah belum mampu menentukan aktivitas yang dapat mengganggu kesehatan fisiknya secara mandiri, sehingga tetap bergantung pada keluarga dan lingkungan terdekatnya. |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 Jurnal Teras Kesehatan METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional study. Desain ini digunakan untuk menganalisis pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua. sikap penggunaan gawai pada orang tua dan anak . ehavioral belief. , kontrol diri dari orang tua . ontrol belief. Aperilaku orang tua dan anak yang menggunakan gawai (BehaviorI) dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah. Dalam penelitian memiliki populasi sebanyak 124 orang anak usia pra sekolah yang menempuh pendidikan di Pendidikan Anak Usia Dini TK Nurul Huda dan TPA Aisyaturiddho yang berada di Kampung Rumbut Kecamatan Cimanggis Kota Depok. Kampung Rumbut menjadi lokasi yang relevan untuk diteliti karena mencerminkan fenomena nyata mengenai aktivitas penggunaan gawai pada anak prasekolah, selain itu Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini di wilayah memiliki struktur pengelolaan yang tertib dan menjalin hubungan yang baik dengan orang tua peserta didik, sehingga memungkinkan peneliti memperoleh data yang akurat melalui kuesioner. Sedangkan pemilihan sampel digunakan dengan metode simple random sampling dan didapatkan 106 anak. Setelah itu peneliti menghitung sampel untuk masing-masing sekolah dengan proportionate stratified random sampling hasil didapatkan untuk TK Nurul Huda adalah 38 anak dan TPA Aisyaturiddho adalah 68 anak. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2025. Instrument dalam penelitian ini menggunakan kuesioner Pengetahuan tugas perkembangan keluarga yang terdiri dari 11 item pernyataan, isi pernyataan tersebut peneliti ambil dari teori Self et al. , . dan Friedman . Setelah dilakukan uji validitas 11 item pernyataan tersebut valid dibuktikan dengan nilai r hitung 0,614-0,848. Sedangkan pada variabel perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak dengan menggunakan kuesioner Tiara . , kuesioner behavioral beliefs terdiri dari 8 item pertanyaan dengan uji validitas 0,643-0,780, kuseioner control beliefs terdiri dari 8 item pertanyaan dengan uji validitas 0,519-0,958 dan kuesioner behavior terdiri dari 8 item pertanyaan dengan uji validitas 0,519-0,740. Pada penelitian ini analisa data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat. Analisis univariat disajikan dalam bentuk kategorik dengan analisa frekuensi dan presentasi pada karakteristik responden dan masing-masing variabel, sedangkan analisis bivariat menggunkaan uji statistik uji chi-square, dengan derajat kemaknaan =0,05. Untuk melihat hasil kemaknaan perhitungan statistik digunakan batas kemaknaan nilai sebesar 0,05 . %) sehingga jika nilai p<0,05 maka secara statistic disebut bermakna, jika nilai p>0, 05 maka hasil hitungan disebut tidak bermakna (Sastroasmoro & Ismael, 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Hasil identifikasi karakteristik responden meliputi usia, status bekerja dan pendidikan orang tua yang akan dijabarkan pada tabel dibawah ini Tabel 1. Identifikasi karakteristik responden . Variabel Usia Ibu 17-25 Tahun (Remaja Akhi. 26-35 Tahun (Dewasa Awa. 36-45 Tahun (Dewasa Akhi. 46-55 Tahun (Lansia Awa. Jumlah Pendidikan Ibu Lulus SD/MI Lulus SMP/MTS Lulus SMA/MA/SMK Frekuensi Persen (%) |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 Jurnal Teras Kesehatan Lulus Perguruan Tinggi Jumlah Pekerjaan Ibu Bekerja Tidak Bekerja Jumlah Tabel 1 menjelaskan bahwa pada penelitian ini hampir seluruh dari responden . ,2%) berusia 2635 tahun atau disebut dengan dewasa awal pada Juni 2025 dan diketahui sebagian besar responden . ,8%) memiliki pendidikan telah lulus dari SMA/MA/SMK. Sebagian besar responden . ,2%) juga merupakan ibu yang tidak bekerja. Tabel 2. Identifikasi Pengetahuan tugas perkembangan keluarga dan perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah . Variabel Pengetahuan Baik . -100%) Cukup . -75%) Kurang (<56%) Jumlah Perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah Behavioral beliefs Positif Negatif Control beliefs Positif Negatif Behavior Positif Negatif Jumlah Frekuensi Persen (%) Tabel 2 menjelaskan bahwa pada penelitian sebagian besar responden . ,3%) memiliki pengetahuan tugas perkembangan keluarga yang cukup dan perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak pra sekolah diketahui sebagian besar responden . ,2%) memiliki sikap negatif terhadap sikap penggunaan gawai pada anak, sebagian besar responden . ,5%) memiliki sikap positif terhadap kontrol diri terhadap peggunaan gawai pada anak, sebagian besar responden . ,8%) memiliki praktik perilaku positif terhadap penggunaan gawai pada anak. Tabel 3. Analisis Pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan sikap orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah . Pengetahuan Tugas Kembangangan Keluarga Baik . -100%) Cukup . -75%) Kurang (<56%) Total Behavioral Beliefs Positif Negatif Total Value 0,000 Dari hasil uji statistik yang digunakan yaitu dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil p=0,000 (< 0,. , secara statistic hasil tersebut bermakna, sehingga dapat diartikan terdapat |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 Jurnal Teras Kesehatan hubungan antara pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan sikap orang tua dalam penggunaan gawai pada anak. Keluarga yang memiliki pengetahuan tugas perkembangan yang cukup memiliki sikap negatif terhadap penggunaan gawai pada anak sebanyak 58 responden . ,8%). Tabel 4. Analisis Pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan kontrol diri orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah . Pengetahuan Tugas Kembangangan Keluarga Baik . -100%) Cukup . -75%) Kurang (<56%) Total Control Beliefs Positif Negatif Total Value 0,000 Dari hasil uji statistik yang digunakan yaitu dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil p=0,000 (< 0,. , secara statistic hasil tersebut bermakna, sehingga dapat diartikan terdapat hubungan antara pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan kontrol diri orang tua dalam penggunaan gawai pada anak. Keluarga yang memiliki pengetahuan tugas perkembangan yang cukup memiliki sikap positif terhadap kontrol penggunaan gawai pada anak sebanyak 52 responden . ,8%). Tabel 5. Analisis Pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua dan anak dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah . Pengetahuan Tugas Kembangangan Keluarga Baik . -100%) Cukup . -75%) Kurang (<56%) Total Behavior Positif Negatif Total Value 0,025 Dari hasil uji statistik yang digunakan yaitu dengan menggunakan uji chi square didapatkan hasil p=0,025 (< 0,. , secara statistic hasil tersebut bermakna, sehingga dapat diartikan terdapat hubungan antara pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua dan anak dalam penggunaan gawai. Keluarga yang memiliki pengetahuan tugas perkembangan yang cukup memiliki sikap positif terhadap praktik penggunaan gawai pada anak sebanyak 40 responden . ,6%). Pembahasan Anak-anak usia prasekolah melewati tahap perkembangan dalam mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi dunia luar. Tahap perkembangan usia prasekolah adalah masa awal yang produktif dan aktif untuk anak-anak. Anak-anak biasanya sangat aktif dan mulai menguasai tubuh mereka, anak akan sangat menyukai kegiatan seperti memanjat dan melompat. Perkembangan emosional yang dialami anak prasekolah, yaitu anak-anak, memiliki kecenderungan untuk mengungkapkan perasaan mereka secara bebas dan terbuka. Anak-anak pada usia ini sering menunjukkan sikap marah dan iri Dalam hal perkembangan bahasa, kebanyakan anak-anak akan senang berbicara dan bercerita, terutama dalam kelompok sebayanya (Yulinawati et al. , 2. Orang tua memiliki peran paling besar dalam perkembangan anak. Perkembangan tersebut meliputi kemampuan kognitif. Bahasa, psikososial dan psikomotor. Peningkatan keterampilan perkembangan pada anak dapat memanfaatkan perkembangan teknologi di era revolusi industri 4. 0, seperti penggunaan gawai. Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 Gawai merupakan bukti dari perkembangan teknologi yang berisi berbagai macam program dan aplikasi yang menyenangkan dan menjadi teman setia anak. Beberapa orang tua melibatkan gawai dalam pengasuhan anak, orang tua mengijinkan anak bermain game, menonton film atau belajar dari video yang ada di youtube. Youtube merupakan salah satu media alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam menunjang kegiatan belajar anak. Selain itu, kemampuan anak untuk belajar melalui media audiovisual seperti youtube akan membuat anak semakin tertarik untuk belajar (Kim Jiu et al. , 2. Perkembangan anak dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya yaitu faktor sosial. Faktor sosial merupakan faktor yang dapat menyebabkan kecanduan bagi penguna gawai. Penggunaan gawai biasa dimanfaatkan sebagai sarana berinteraksi dan berkomunikasi pada orang lain, tetapi penggunaan gawai menyebabkan komunikasi yang terjadi lebih banyak pada komunikasi satu arah, individu akan lebih sering memanfaatkan gawai untuk berinteraksi dan merasa malas untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Menurut penelitian yang dilakukan Setyarini et al . Anak-anak yang menggunakan gawai selama lebih dari satu jam memiliki kemungkinan 56,42 kali lebih besar untuk termasuk dalam kategori perkembangan suspect. Jika anak-anak dibiarkan menggunakan perangkat elektronik tanpa pengawasan atau bimbingan orang tua, anak dapat dengan mudah menjadi ketergantungan. Ini dapat terjadi karena anak tidak termotivasi untuk membaca atau menulis anak hanya terbiasa melihat gambar. Hal ini menyebabkan pertumbuhan intelektual dan emosional anak akan terhambat, termasuk kesulitan belajar, memperhatikan, mengamati, memvisualisasikan, memperkirakan, mengevaluasi, dan berpikir tentang dunia sekitar Faktor-faktor lain yang dapat berpengaruh seperti kelompok rolemodel, keluarga terutama orang tua. Pada faktor sosial, peran orang tua akan sangat berpengaruh, karena orang tua merupakan panutan dalam berperilaku khususnya pada anak. Hubungan antara orang tua dan anak, terutama ibu memiliki hubungan yang kuat, hubungan ini dapat memengaruhi perkembangan karakter anak. Apabila ibu tidak memberikan waktu yang cukup untuk anaknya, anak berisiko mengembangkan perilaku negatif atau lebih mudah terpengaruh oleh pergaulan yang buruk. Anak-anak juga dapat menjadi pemberontak dan mudah berdebat dengan keluarga termasuk hal-hal kecil. Penelitian yang dilakukan Febrianti et al. , . terdapat hubungan antara status ibu bekerja dengan perkembangan anak. Hal ini karena ibu yang bekerja diluar rumah kurang memiliki waktu luang untuk berinteraksi dengan Orang tua harus mengetahui cara menggunakan gawai yang baik dan tepat untuk anak karena ketika orang tua tahu maka orang tua akan menunjukkan perilaku yang sesuai, sehingga orang tua akan mampu mendampingi dan mengawasi penggunaan gawai pada anak. Perilaku orang tua akan sangat mempengaruhi perilaku anak, orang tua harus tahu bagaimana mengontrol diri saat menggunakan gawai didepan anak (Zahida et al. , 2. Dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari penggunaan gawai pada anak merupakan kesiapan orang tua dalam mengenalkan dan mengawasi anak dalam bermain gawai. Dalam penggunaanya orang tua harus menerapkan aturan kepada anak untuk menggunakan gawai sehingga anak dapat menggunakan gawai sesuai dengan fungsinya. Adapun peran perilaku orang tua terhadap penggunaan gawai pada anak adalah memberikan kesempatan pada anak untuk belajar menggunakan gawai untuk keperluan belajar dan berinteraksi, jelaskan manfaat dan tujuan penggunaan gawai serta bagaimana penggunaan gawai dengan benar, seperti posisi duduk atau jarak pandang mata, memilih aplikasi sesuai dengan usia, kebutuhan anak dan kemampuan anak. kemudian orang tua harus memberikan penjelasan setiap fungsi dari aplikasi yang ada pada gawai, tempatkan gawai diruang umum, hal ini berguna untuk memantau kegiatan anak pada saat menggunakan gawai, mengatur durasi dalam menggunakan gawai, orang tua harus memberikan penegasan batasan waktu dalam menggunakan gawai pada anak, bantu anak untuk dapat membuat keputusan sendiri, anak dapat menampilkan atau berkreasi melalui ide-ide yang ada dipikirannya melalui diskusi atau bercerita dengan orang tuanya, sehingga orang tua perlu lebih banyak meluangkan waktu untuk berkomunikasi dan berinterkasi secara langsung pada anak (Chusna, 2. Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 Anak usia prasekolah akan belajar banyak hal pada tahap perkembangan di usia ini. Anak harus mampu menghadapi dan menyelesaikan masalah mereka sendiri tanpa melibatkan orang lain ketika berada dalam berbagai situasi, sehingga anak harus mencapai kenadian dan otonomi yang cukup. Tugas utama keluarga terutama orang tua pada tahap perkembangan anak usia sekolah ini adalah mensosialisasikan anak karena anak pada usia ini anak mulai mengembangkan sikap diri yang kritis atau konsep diri dan anak pada tahap ini cepat belajar untuk mengekspresikan diri mereka. Tugas lain pada masa ini adalah berhadapan dengan cara bagaimana orang tua dapat mengintergrasikan anggota keluarga baru . ehadiran anak kedu. untuk dapat diterima dalam keluarga, sedangkan keluarga tersebut harus tetap memperhatikan kebutuhan anak pertama. Tugas lain adalah mempersiapkan perpisahan antara anak dan orang tua, perpisahan yang dimaksud adalah karena anak ditinggal orang tua pergi bekerja. Persiapan keluarga untuk perpisahan sangat penting bagi anak karena karena akan membantu anak menyesuaikan diri terhadap Perubahan, hal ini dapat dilakukan tanpa penggunaan gawai. Tugas perkembangan merupakan tugas bagi setiap orang yang harus Tugas perkembangan keluarga adalah untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi masing-masing anggota keluarga sehingga keluarga dapat memenuhi kebutuhan bilogis keluarga, nilai keluarga dan penekanan budaya dalam keluarga. Selain itu, tugas perkembangan keluarga lainnya meliputi peran spesifik atau harapan tugas pada setiap tahap yang inheren guna untuk mencapai fungsi dasar dalam keluarga. Keluarga dengan anak prasekolah merupakan keluarga yang kompleks yang teridiri dari lebih dari dua orang, yaitu tiga sampai lima orang anggota keluarga, dengan masing-masing peran. Kehidupan keluarga pada tahap ini menjadi lebih sibuk dan menuntut peran besar bagi orang tua, penting untuk setiap orang tua menguatkan hubungan mereka dan menjaga hubungan pernikahan tetap baik (Friedman, 2. Penelitian yang dilakukan Adii et ,. menyebutkan bahwa tugas perkembangan keluarga yang baik memiliki anak dengan perkembangan sosial positif. Tugas perkembangan keluarga dapat bernilai positif dan negatif. Tugas perkembangan keluarga bernilai dapat positif ketika tugas perkembangan yang diberikan orang tua kepada anak adalah dengan menumbuhkembangkan konsep dan pemikiran yang positif serta sikap menghargai diri Tugas perkembangan keluarga dapat bernilai negatif ketika sikap orang tua yang over protective dan tidak memberikan kepercayaan atau kebebasan pada anak, dimana orang tua tidak memberikan kesempatan pada anak untuk dapat mengungkapkan apa yang dirasakannya (HaavioMannila, 2. Tugas sebagai orang tua dalam menghadapi tugas perkembangan keluarga dengan anak pra sekolah adalah menghadapi a sense of separation dari anak, karena pada tahap ini anak akan mulai hilang hubungan yang intim antara anak dengan orang tua dan akan muncul perasan takut pada anak jika tidak berada dekat dengan orang tuanya, selanjutnya orang tua membantu anak untuk dapat mulai mengetahui kebutuhan orang lain, agar anak tidak merasa banyak hal yang dikorbankan dari dirinya maka perlu tetap mengembangkan self-esteem pada anak, selain itu orang tua mulai menetapkan berbagai aturan atas dasar usia anak dan secara bersamaan kedua orang tua mulai menanamkan prestasi dan nilai pada anak serta meregulasi perilaku anak (Maglaya, 2. Perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah dipengaruhi oleh faktor behavioral beliefs. Behavioral beliefs dalam penelitian ini merupakan sikap penggunaan gawai atau perasaan orang tua terhadap penggunaan gawai pada anak. Ketika individu memiliki evaluasi bahwa perilaku tersebut akan menghasilkan konsekuensi positif maka individu tersebut akan cenderung bersikap baik. Perilaku orang tua dapat menjadi contoh bagi anak seperti ketika orang tua menggunakan gawai dalam waktu yang lama, tanpa orang tua sadari bahwa perilaku tersebut merupakan contoh untuk anak (Tiara, 2. Hasil kuesioner menunjukkan 44 dari 106 orang tua menyatakan setuju bahwa anak usia pra sekolah dapat menghabiskan waktu lebih dari 2 jam dalam satu kali penggunaan gawai. 73 orang tua juga mengaku setuju bahwa menggunakan gawai merupakan cara keluarga untuk bersantai. Dalam hubungannya dengan tugas perkembangan keluarga bahwa tugas perkembangan keluarga bertujuan untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab bagi masing-masing anggota keluarga sehingga kebutuhan biologis keluarga, nilai keluarga dan penekanan budaya dalam keluarga dapat terpenuhi. Selain itu peran spesifik atau harapan tugas pada Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 setiap tahap yang inheren dapat mencapai fungsi dasar dalam keluarga. Salah satu bentuk tanggung jawab keluarga pada anak usia pra sekolah adalah mampu memenuhi tugas perkembangan mencapai kemandirian anak dengan rasa kesetiaan dan memiliki, membantu anak untuk dapat melakukan berbagai aktivitas mandiri dan aktivitas sosial yang dilakukan diluar rumah (Febrianti et al. , 2. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa pengetahuan orang tua tentang tugas perkembangan keluarga pada tahap keluarga dengan anak usia pra sekolah mempengaruhi control beliefs orang tua dalam penggunaan gawai pada anak. Control beliefs dalam penelitian ini merupakan faktor dari diri orang tua atau keadaan yang dapat mempengaruhi penggunaan gawai pada anak, hal ini didasarkan pada pengalaman, informasi dan faktor lain yang dapat mempengaruhi perasaan dari orang tua. Dalam penelitian ini 35 orang tua setuju bahwa mereka memilih memberikan gawai pada anak dari pada melihat anak menangis. Perilaku kontrol orang tua ini dapat dibentuk dari gaya pengasuhan orang tua. Penelitian yang dilakukan oleh Hasanah & Musayyadah . meyebutkan jika gaya pengasuhan permisif ditunjukkan dengan membiarkan anak menggunakan gawai tanpa membatasinya, maka kemungkinan besar anak akan menjadi kecanduan gawai. Sebaliknya, orang tua dengan gaya pengasuhan demokratis akan menetapkan aturan tentang kapan, di mana, dan berapa lama anak diizinkan menggunakan gawai. Sebanyak 52 orang responden . ,8%) yang berpartisipasi dalam penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang memahami tugas perkembangan dengan baik lebih suka mengontrol penggunaan gawai anak mereka. Faktor perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak pra sekolah selanjutnya adalah Dalam penelitian ini behavior merupakan suatu perbuatan atau aksi yang dilakukan orang tua terkait penggunaan gawai pada anak. Menurut theory of planned behavior bahwa perilaku yang ditampilkan seseorang karena adanya niat atau intensi untuk berperilaku (Nursalam, 2. Intensi tidak selalu menghasilkan perilaku yang diinginkan karena akan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang dapat mempengaruhi intensi lainnya. Suatu kejadian dapat mempengaruhi dan mengubah intensi seseorang, sehingga tingkah laku awal yang ditampilkan tidak sesuai dengan intensi awal. Dala penelitian ini orang tua setuju bahwa adanya peraturan penggunaan gawai saat berada dirumah, ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki keinginan berprilaku tentang adanya peraturan penggunaan gawai pada anak, namun perilaku yang dihasilkan orang tua akhirnya yaitu akan lebih sering memberikan gawai dari pada menemani anak bermain karena kesibukan lainnya. Sejalan dengan teori ekologi bahwa perkembangan sosial emosional dan perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungannya. Ini terjadi karena anak-anak mengembangkan kedekatan dan belajar menangani konflik, yang membantu mereka beradaptasi dengan lingkungannya (Khoshgoftar et al. , 2. Diperkuat dengan penelitian Warmansyah et al. , . yang menyatakan bahwa perilaku dan interaksi antara ibu dan anak sangat mempengaruhi perkembangan anak, terutama perkembangan KESIMPULAN Penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah merupakan dibawah kontrol perilaku orang tua, karena pada usia ini merupakan perkembangan awal kehidupan anak yang bersumber dari lingkungan terutama keluarga. Keluarga merupakan tempat pertama untuk anak yang sangat penting untuk membentuk perkembangan mental dan pribadi anak. Keluarga terutama orang tua harus mampu memodifikasi perilaku agar lebih sensitive terhadap anak, teori ini dikaitkan dengan theory planned of behavior dengan kompenan perilaku orang tua yang diteliti adalah behavioral beliefs, control beliefs dan perilaku orang tua dan anak dalam penggunaan gawai pada anak. Dalam perkembangan seorang anak, peran orang tua yang tidak optimal dapat memberikan dampak buruk terhadap kemampuan perkembangannya. Tugas tahap perkembangan keluarga muncul karena didalam keluarga terdapat tanggung jawab yang saling berikatan antar anggota keluarga. Keluarga yang memiliki pengetahuan tugas perkembagan keluarga yang baik cenderung akan menciptakan lingkungan yang sesuai untuk timbulnya kemampuan perkembangan anak yang sesuai dengan Dalam analisis penelitian ini didapatkan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan tugas Jurnal Teras Kesehatan |ISSN . : 2622-2396 | ISSN . : 2622-3805 | Vol. 9 | No. 1 | [Januar. [Halaman 9-. DOI: https://doi. org/10. 38215/prr4ez76 perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua dalam penggunaan gawai pada anak pra sekolah ditunjukkan pada hasil p=0,000 (< 0,. pada hubungan antara pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan sikap orang tua dalam penggunaan gawai pada anak, hasil p=0,000 (< 0,. pada hubungan antara pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan kontrol diri orang tua dalam penggunaan gawai pada anak, dan hasil p=0,025 (< 0,. terdapat hubungan antara pengetahuan tugas perkembangan keluarga dengan perilaku orang tua dan anak dalam penggunaan gawai pada anak usia pra sekolah. UCAPAN TERIMA KASIH