KIRANA : Social Science Journal Volume 2. Number 3, 2025 pp. E-ISSN : 3062-780X DOI https://doi. org/10. 61579/kirana. Open Access: https://ejournal. id/index. php/kirana Dakwah di Media Digital Sebuah Analisis Representasi Nilai-Nilai Islam Pada Film Merindu Cahaya De Amstel Muhammad Randicha Hamandia*1. Sri Hertimi2. Afriyanti Umariani3 1,2,3 Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Raden Fatah. Palembang. Indonesia Corresponding Email: mrandichahamandia_uin@radenfatah. ARTICLEINFO Article history: 30 April 2025 Received in revised form 10 May 2025 Accepted 19 May 2025 Available online 19 May ABSTRAK Film merupakan salah satu media dakwah yang sangat efektif dalam menyampaikan pesan moral dan agama, termasuk dalam konteks dakwah Islam. Dalam hal ini, film berperan sebagai sarana komunikasi yang mampu menjangkau audiens yang lebih luas. Salah satu contoh yang menarik adalah film "Merindu Cahaya de Amstel," yang menggabungkan kisah cinta dengan nilai-nilai Islam yang disampaikan melalui narasi dan karakter yang relevan dengan kehidupan Kata Kunci: sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pesan dakwah yang Pesan Dakwah. Nilai-Nilai terkandung dalam film "Merindu Cahaya de Amstel" dengan menggunakan Islam. Film Merindu analisis semiotika Roland Barthes. Dalam analisis ini, kami akan mengeksplorasi Cahaya De Amstel. pesan-pesan yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam yang terdapat dalam film Keywords: Penelitian ini mengacu pada teori analisis semiotika Roland Barthes yang Preaching Message. Islamic meliputi tiga makna: konotasi, denotasi, dan mitos. Metode yang digunakan dalam Values. Film Merindu penelitian ini adalah pendekatan kualitatif, di mana data sekunder dikumpulkan Cahaya De Amstel. untuk menganalisis pesan dakwah yang ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap adegan dan dialog antar karakter menyimpan tiga makna tersebut, yaitu konotasi, denotasi, dan mitos. Dalam analisis ini, dialog diolah melalui perumpamaan dan makna tersirat, sehingga dapat dihasilkan makna yang sesungguhnya. Selain itu, dalam representasi pesan nilai-nilai Islam, terdapat tiga kategori penting: pesan aqidah, syariat, dan akhlak. Penelitian ini diharapkan dapat membantu masyarakat dalam memilih tayangan film yang menyampaikan pesan positif. Selain itu, film yang mengandung pesan dakwah juga berpotensi memberikan dampak positif bagi kehidupan ABSTRACT Film is one of the most effective media for preaching in conveying moral and religious messages, including in the context of Islamic preaching. In this case, film acts as a means of communication that can reach a wider audience. One interesting example is the film "Merindu Cahaya de Amstel," which combines a love story with Islamic values conveyed through narratives and characters that are relevant to everyday life. This study aims to identify the preaching messages contained in the film "Merindu Cahaya de Amstel" using Roland Barthes' semiotic analysis. In this analysis, we will explore messages related to Islamic values contained in the film. This study refers to Roland Barthes' semiotic analysis theory, which includes three meanings: connotation, denotation, and myth. The method used in this study is a qualitative approach, where secondary data is collected to analyze the existing preaching messages. The results of the study show that each scene and dialogue between characters contains these three meanings, namely connotation, denotation, and myth. In this analysis, the dialogue is processed through metaphors and implied meanings, so that the real meaning can be produced. In addition, in the representation of Islamic values messages, there are three important categories: messages of faith, sharia, and morals. This research is expected to help the public in choosing films that convey positive messages. In addition, films that contain preaching messages also have the potential to provide a positive impact on the lives of their viewers. This is an open access article under the CC BY-SA license. * Corresponding Author: Muhammad Randicha Hamandia: mrandichahamandia_uin@radenfatah. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X INTRODUCTION Film adalah kumpulan gambar bergerak yang membentuk sebuah cerita (Prasetya, 2. Film berperan sebagai sarana hiburan, media menyampaikan informasi serta wadah untuk mengekspresikan dan menggambarkan tentang kehidupan sehari-hari. Film terkadang merupakan suatu ekspresi seseorang atau ungkapan dari sebuah perasaan serta mencerminkan sisi kehidupan yang terkadang kurang diperhatikan oleh masyarakat (Sabila, 2. Film merupakan bagian dari komunikasi massa yang dinilai memiliki pengaruh terhadap masyarakat. Oleh karena itu, film dianggap sebagai media yang sangat tepat dalam menuangkan sebuah ide, konsep, dan pemikiran dari seorang penulis film (Yuni & Bandjar, 2. Kemajuan dalam bidang teknologi informasi saat ini telah mengalami perkembangan yang pesat, begitu pula dengan media massa yang ditunjukkan melalui berbagai jenis media seperti radio, internet, televisi, tabloid, surat kabar, majalah, buku, dan film. Film merupakan salah satu jenis media massa yang digunakan sebagai sarana untuk hiburan serta kegiatan seni. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang perfilman pada Bab 1 Pasal 1 berbunyi: yang dimaksud dengan film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah senimatografi dengan atau tanpa suara serta dapat dipertunjukan (Nasirin & Pithaloka, 2. Perkembangan industri perfilman, dari segi konsumsi dan produksi, telah menjadikan film sebagai alat komunikasi media audio visual yang ampuh. Sebagai bentuk komunikasi kreatif, film menggabungkan berbagai unsur seperti alur, percakapan, konflik, karakter, dan lain-lain yang disampaikan melalui adegan cerita yang dikembangkan baik secara verbal maupun nonverbal. Selain itu, film juga memiliki tujuan beragam, termasuk memberikan hiburan, pendidikan, serta menyampaikan informasi kepada masyarakat luas (Wahyuningsih, 2. Seiring dengan kemajuan industri film Indonesia yang semakin baik, para pembuat film semakin termotivasi untuk menciptakan karya terbaik mereka. Karya-karya ini berfungsi sebagai sarana untuk menyebarluaskan pesan agama kepada masyarakat lewat berbagai narasi yang ringan dan menghibur. Cerita-cerita ini umumnya terkait dengan kehidupan sehari-hari, namun tetap menghormati prinsip-prinsip Islam. Film dianggap sebagai saluran yang sangat efisien untuk berinteraksi dengan khalayak. lebih dari itu, film juga dipandang sebagai alat penyampaian dakwah yang efektif karena mampu menyampaikan beragam cerita dalam rentang waktu yang singkat, berkat sifat audio visualnya yang mencakup gambar dan suara. Saat menonton film, penonton akan merasakan seolah-olah berada dalam dimensi ruang dan waktu yang mampu menggambarkan kehidupan dan bahkan dapat mempengaruhi perasaan audiens (Margina, 2. Penelitian ini dilakukan karena pengaruh besar yang dimiliki film sebagai sarana dakwah, mengingat pentingnya dakwah memasuki ruang publik. Dakwah tidak lagi terbatas pada seruan di mimbar melainkan harus beradaptasi dengan era kekinian agar tidak tertinggal. Pelaku dakwah perlu berinovasi dengan pendekatan yang efektif di tengah masyarakat yang terus berkembang. Melalui film diharapkan dakwah dapat lebih meresap dan relevan dalam masyarakat yang semakin melek media, ini bukan berarti KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X metode tradisional tidak baik, namun penyesuaian dibutuhkan untuk mencapai hasil yang sesuai harapan. Nilai-nilai Islam yang dibahas dalam penelitian ini mencakup aspek aqidah, ibadah, dan akhlak. Merindu Cahaya De Amstel mengangkat tema kehidupan yang mengandung elemen-elemen nilai Islam yang positif untuk masyarakat, di mana nilai-nilai tersebut sering kita jumpai dalam kegiatan sehari-hari, tetapi sering kali diabaikan atau ditinggalkan oleh masyarakat. Penelitian ini secara khusus berfokus pada konten serta representasi nilai-nilai Islam sebagai sarana untuk mengidentifikasi ajaran, karakteristik, dan praktik Islam. Dalam konteks yang berbeda, penelitian ini menunjukkan bagaimana media, terutama film, dapat dimanfaatkan sebagai platform dan strategi untuk menyebarluaskan serta mendidik masyarakat mengenai ajaran dan tradisi Islam, dengan tujuan menciptakan suasana baru dalam budaya dan praktik media. Film, seperti halnya media komunikasi lainnya, menyampaikan pesan kepada Pesan tersebut disampaikan melalui simbol-simbol yang ada dalam pikiran manusia, yang mencakup isi pesan, dialog, ucapan, suara, dan lain-lain. Mengingat film kaya akan simbol dan tanda, fokus penelitian ini adalah pada kajian semiotika, yang dapat membantu peneliti dalam menganalisis makna mendalam dari suatu bentuk komunikasi serta mengungkap makna tersirat di dalamnya. Sebagai salah satu bentuk media massa, film memiliki fungsi informatif, edukatif, dan hiburan bagi audiens, yang berarti setiap film yang diproduksi pasti mengandung pesan untuk masyarakat. Dalam dunia perfilman Indonesia. Merindu Cahaya De Amstel adalah salah satu film yang diciptakan dengan tujuan dakwah. Sebagai karya yang bergenre religi, film ini menampilkan berbagai jenis konflik yang cukup seimbang, seperti konflik dalam keluarga, agama, persahabatan, serta kisah cinta. Cerita ini berfokus pada kehidupan tokoh utama. Marien Veenhoven atau Khadijah (Amanda Rawle. , seorang wanita asal Belanda yang menjalani hidup yang cukup bebas. Dalam prosesnya untuk menemukan jati diri. Marien hampir kehilangan nyawanya akibat mencoba untuk bunuh diri. Namun, ia diselamatkan oleh seorang wanita muslim dan akhirnya memutuskan untuk menjalani Islam. Sebelum memeluk ajaran Islam, kehidupannya sangat kacau dan hancur (Prasetyo & Imanda, 2. Gambar 1. Poster Film Merindu Cahaya De Amstel Sumber : https://w. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X Film yang ceritanya kisah nyata diadaptasi dari novel best seller karya Arumi E, disutradarai oleh Hadrah Daeng Ratu. Unlimeted Production memperoduksi film ini dengan gendre drama, romantis, dan religi. Sejak dirilis di bioskop pada 20 Januari 2022 film ini telah disaksikan lebih dari 401. 419 orang. Jumlah tersebut terus meningkat saat film ini ditayangkan di Platform Maxtream. Film Merindu Cahaya de Amstel penting untuk diteliti karena menyajikan tema yang kompleks dan sangat relevan dengan dinamika kehidupan sosial masyarakat Indonesia saat ini karena menampilkan konflik-konflik yang sangat personal dan emosional. Dengan menganalisis tema-tema, visual, dan konteks sosial di sekitarnya, film ini membuka jalan untuk terlibat dalam diskusi-diskusi tentang isu-isu sosial yang signifikan, khususnya yang menyangkut agama, identitas, dan toleransi. Dengan berbagai elemen untuk diselidiki, termasuk pengembangan karakter, estetika, dan dampak sosial-budaya. Merindu Cahaya de Amstel menyajikan banyak peluang untuk penelitian yang mendalam dan menarik. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari masih belum banyak diketahui oleh karena itu penelitian ini dilakukan karena. Banyak nilai penting yang dapat diketahui dari film religi Islam di Indonesia, salah satunya ialah Merindu Cahaya De Amstel. Aspek-aspek tersebut lah yang menjadi alasan bagi peneliti untuk meneliti film Merindu Cahaya De Amstel ini, karena cerita film ini sangat berbeda dari film-film bertema Islami yang telah ada sebelumnya, yang umumnya mengeksplorasi tema sejarah Islam, toleransi antaragama, hijrah, dan sebagainya. Sementara itu, film ini mengandung berbagai elemen seperti gender, toleransi, dan kebiasaan Nabi. Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti menjabarkan rumusan masalahnya sebagai berikut, bagaimana nilai-nilai Islam direpresentasikan dalam film Merindu Cahaya De Amstel? METHOD Metode penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang berasal dari pengumpulan data sekunder, yang berarti penelitian yang menghasilkan data-data dari perilaku orang-orang yang diteliti. Dangan menggunakan metode penelitian kualitatif peneliti bisa mengetahui tanda tanda yang perlu dianalisis pada film tersebut. Untuk metode analisis yang digunakan dalam riset ini sendiri adalah pesan dakwah. kualitatif merupakan penelitian yang menganalisis suatu kasus atau masalah spesifik saat ini dengan mengandalkan kepercayaan pribadi berdasarkan fakta-fakta dan data historis yang ada, lalu fakta dan data tersebut ditanggapi, dikumpulkan, dianalisis, dan diinterpretasikan (Sugiyono, 2. Dengan pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis semiotika Roland Barthes yang menganalisis makna denotasi, konotasi dan mitos terkait struktur tanda dan makna dalam film Merindu Cahaya De Amstel. Adapun sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua pengelompokkan sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari dokumentasi video dalam film Merindu Cahaya de Amstel yang berupa potongan dialog, ekspresi, tindakan, serta narasi yang ada dalam film baik berupa audio maupun visual yang menunjukkan pesan dakwah tentang representasi nilai islam. Film Merindu Cahaya de Amstel, karya Arumi Ekowati, sutradara Hadrah Daeng Ratu yang menceritakan seorang gadis di Negeri Belanda bernama Marien Veenhoven yang memutuskan untuk memeluk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Khadija Veenhoven, serta menyoroti kisah cinta Khadija dan Nico karena perbedaan agama, sehingga KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X daya tarik film ini terletak pada pengambaran perjuangan cinta dan pesan toleransi. Di sisi lain kisah Nico yang memilih memeluk agama Islam. Sedangkan sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari bahan pustaka, referensi yang mendukung, studi dokumen berupa buku-buku dan artikel atau jurnal dari internet yang berkaitan dengan penelitian ini. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini ialah analisis semiotika Roland Barthes untuk mengolah data dengan menganalisis simbol-simbol menjadi suatu makna dalam film. Semiotika berasal dari bahasa Yunani, semion yang artinya AutandaAy sehingga semiotika dapat dipahami sebagai ilmu tentang tanda . Dengan demikian, pendekatan semiotika ini memberikan landasan untuk menggali makna lebih dalam dari unsur-unsur simbolis yang hadir dalam film, khususnya pada nilai nilai Islam. RESULT AND DISCUSSION Hasil Penelitian Sinopsis Tentang Film Merindu Cahaya De Amstel Film "Merindu Cahaya De Amstel" mengisahkan perjalanan seorang gadis Belanda bernama Marien Veenhoven yang terjebak dalam kehidupan yang bebas namun gelap. Dalam pencarian jati dirinya. Marien hampir kehilangan nyawanya akibat depresi yang Namun, kehidupan Marien berbalik arah ketika ia menemukan cahaya Islam dan memutuskan untuk memeluk agama tersebut, mengganti namanya menjadi Khadijah Veenhoven, serta memulai lembaran baru dalam hidupnya. Ia juga memilih untuk mengenakan hijab sebagai langkah untuk lebih mendalami ajaran Islam. Khadijah semakin mendalami islam setelah bertemu dengan Ustadzah Fatimah, terutama setelah ia diusir dari rumah orangtuanya akibat kesalahan yang pernah dilakukannya di masa lalu. Orangtuanya sangat malu sehingga tidak lagi menganggapnya sebagai anak. Khadijah dicintai oleh Seorang jurnalis foto bernama Nicholas, serta sahabatnya bernama Kamala. Namun, cinta Kamala kepada Nicholas tidak berbalas, karena hati Nicholas tertaut pada Khadijah. Ketertarikan Nicholas pada Khadijah bermula saat ia secara tak sengaja memotret sosok wanita berhijab di Museumplein. Sejak saat itu. Khadijah dengan pancaran cahaya dalam dirinya mencuri perhatian Nicholas. Seiring berjalannya waktu. Khadijah dan Nicholas menjadi sahabat sejati yang saling menyimpan rasa di dalam hati. Namun, kehadiran Kamala yang juga menyimpan cinta pada Nicholas menimbulkan perselisihan dalam pertemanan mereka. Ketika Khadijah mengetahui perasaan Kamala, ia memilih untuk menjauh dari Nicholas. Namun, hubungan mereka semakin rumit ketika Nicholas menyadari bahwa cinta tidak semudah itu terjalin, karena adanya perbedaan dalam prinsip hidup dan keyakinan. Dalam analisis Barthes, semiotika terbagi ke dalam beberapa makna yakni makna konotasi, denotasi, dan mitos. Hasil penelitinnya akan disajikan dalam table berikut ini : KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X Table 1. Hasil Penelitian Adegan 1 Gambar Denotasi Konotasi Mitos Gambar 2. Adegan potret Khodijah Seorang wanita berhijab yang tengah berjalan di tengah Dalam percakapan, atasan meminta timnya untuk memperhatikan gadis tersebut karena ia tampak 'bercahaya' dan ingin menggunakan fotonya untuk publikasi edisi minggu ini. Reaksi ini menunjukkan apresiasi terhadap visual dan simbol yang ditunjukkan oleh gadis itu. Dalam adegan film. Nicholas secara tidak sengaja memotret Khadijah yang sedang berjalan bersama orang yang lainnya. Ada sesuatu yang menarik dari foto tersebut, yaitu cahaya yang muncul di belakang Khadijah. Dalam gambar itu. Khadijah terlihat sebagai wanita muslimah yang cantik dengan hijab dan pakaian tertutup. Kecantikannya semakin menonjol dengan baju warna hijau tosca yang melainkan, cahaya tersebut hanya terlihat pada sosok Khadijah. Raut wajahnya yang menawan dan senyumnya yang indah membuat Khadijah semakin bersinar dan menarik perhatian orang di sekitarnya. Adegan ini memiliki makna konotasi, menggambarkan seorang perempuan berhijab yang memiliki aura positif, sesuatu yang istimewa di tengah keramaian, dan membuat orang merasa segan saat berada di dekatnya. Terdapat pula ungkapan bahwa 'AuMoslimah is angel in lightAy Muslimah adalah bidadari dalam cahaya', yang berarti seorang muslimah dipandang memiliki hati yang suci dan baik serta terkesan lebih sopan. Terlebih lagi, di negara dengan populasi muslim minoritas, seringkali ada ketertarikan terhadap wanita yang mengenakan hijab. Terdapat beberapa mitos yang menyatakan bahwa wanita berhijab itu lemah, berpikiran tertutup, tidak bergaul dengan lawan jenis, dan sangat religius. Namun, wanita berhijab sebenarnya memiliki kekuatan untuk menjaga dan melindungi diri dengan menutupi seluruh tubuhnya. Mereka bukanlah sosok yang lemah. banyak di antara KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X mereka yang berkeinginan untuk menuntut ilmu demi kehidupan yang lebih baik. Selain itu, wanita berhijab justru memiliki pemikiran yang terbuka, ramah terhadap lingkungan, dan tidak memilih-milih teman, meskipun dengan lawan jenis. Namun, memang. Setiap hal memiliki batasan yang sesuai dengan ketentuan agama yang berlaku. Tidak semua wanita yang mengenakan hijab adalah orang yang fanatik dan agamis. Table 2. Hasil Penelitian Adegan 2 Gambar Gambar 3. Adegan potret Khodijah dan Fatimah Denotasi Konotasi Mitos Dalam adegan tersebut. Fatimah membantu Khadijah mengenakan hijab sambil berkata, "you can do it. " Sejak saat itu. Khadijah memeluk agama Islam (Muala. dan bergabung dengan komunitas Muslimah. Makna denotasi dari film ini menunjukkan Fatimah yang dengan lembut memakaikan hijab kepada Khadijah. Sambil memberikan senyuman. Fatimah tampak memberikan kepercayaan kepada Khadijah yang sedang bersedih. Ekspresi bahagia Fatimah terlihat jelas, sementara Khadijah menerima hijab tersebut dengan penuh rasa syukur. Makna konotasi dalam film ini terletak pada ekspresi wajah dan dialog antara keduanya, di mana Fatimah mengucapkan kata-kata yang memotivasi Khadijah, yaitu "Anda bisa melakukannya. " Ungkapan ini berfungsi sebagai dorongan dan membantu Khadijah mengatasi keraguannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memeluk Islam. Pada saat itu. Khadijah merasa tidak akan diterima oleh orang lain, namun kenyataannya ia memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri dan melakukan hal-hal yang positif. Selain itu, ungkapan tersebut dapat membangun rasa percaya diri dan motivasi yang tinggi agar Khadijah dapat melanjutkan hidupnya yang lebih baik lagi. Mitos yang terkandung dalam ungkapan ini adalah bahwa tidak semua orang memiliki kemampuan dan keinginan untuk melakukannya. Dukungan dan dorongan tersebut harus didasari oleh kesiapan hati seseorang untuk Dalam mengambil tindakan, seseorang perlu mempertimbangkan KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X dengan matang agar tidak menyesal di kemudian hari. Selain itu, persiapan yang baik akan mempengaruhi usaha dan seberapa besar hasil yang akan Namun, terlepas dari itu, ungkapan tersebut diyakini dapat memberikan kekuatan dan motivasi bagi individu. Table 3. Hasil Penelitian Adegan 3 Gambar Gambar 4. Adegan Kemala sedang Ibadah Denotasi Konotasi Mitos Dalam adegan tersebut. Kemala sedang berdoa untuk mengenang ibunya yang telah tiada. Budenya memberikan nasihat bahwa untuk menjadi anak yang berbakti dan membahagiakan ibunya, ia cukup berdoa kepada Allah untuk almarhumah ibunya. Ia menyatakan, "Kamu dapat membahagiakan ibumu dengan berdoa dan memenuhi permintaannya semasa hidupnya. Selama berdoa. Kemala mengenakan mukena, yang merupakan alat sholat yang umum digunakan oleh wanita Muslim. Terlihat jelas bahwa ia berdoa sambil meneteskan air mata, ia menyesali apa yang sudah dilakukannya Konotasi dari ungkapan ini menunjukkan bahwa dalam Islam. Allah Swt. mendorong umat-Nya untuk beribadah dan berdoa. Doa merupakan salah satu cara seorang hamba untuk mengungkapkan harapan dan pengaduan kepada Tuhannya. Selain itu, doa juga menjadi jembatan antara hamba yang masih hidup dengan keluarga atau kerabat yang telah Pesan untuk tidak lupa dan lelah berdoa mengingatkan kita akan pentingnya mengingat segala peristiwa dalam hidup. Umat Muslim percaya bahwa doa adalah obat dan pintu menuju segala kebaikan, sehingga berdoa harus senantiasa dilakukan. Dalam konteks mitos, banyak orang percaya bahwa doa akan dikabulkan oleh makhluk Allah Swt. Contohnya, melihat bintang jatuh atau prasasti batu tulis, yang meskipun merupakan ciptaan Allah, dapat menjerumuskan manusia pada kesyirikan jika tidak percaya sepenuhnya kepada Allah Swt. Seharusnya, dalam berdoa, kita hanya bersandar kepada Sang Pencipta. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X Tabel 4. Hasil Penelitian Adegan 4 Gambar Gambar 5. Adegan Fatimah dan Nicholas Dalam adegan tersebut. Fatimah menjelaskan kepada Nicholas tentang perbedaan antara perempuan yang mengenakan hijab dan yang tidak. mengibaratkan pertanyaan ini dengan dua jenis permen, satu yang sudah dibuka dan satu lagi yang masih terbungkus rapi. Fatimah menekankan bahwa perempuan dalam Islam dipandang sebagai 'ratu' yang harus dihormati dan dilindungi, sehingga tidak sembarang orang dapat melihat atau menyentuhnya. Denotasi Makna denotasi dalam adegan tersebut adalah tangan Fatimah yang memegang dua permen, di mana satu permen terbungkus rapi dalam plastik dan yang satunya tidak terbungkus. Ini merupakan sebuah pilihan, di mana Nicholas diminta untuk memilih salah satu dari permen tersebut. Pilihannya jatuh pada permen yang terbungkus. Konotasi Permen yang terbungkus melambangkan perempuan Muslim yang mengenakan hijab. Bungkus permen tersebut melambangkan perlindungan, kesucian, dan penghormatan. Sebaliknya, permen yang tidak terbungkus dapat diartikan sebagai sesuatu yang lebih rentan terhadap gangguan atau dianggap 'tidak terlindungi. ' Pilihan Nicholas terhadap permen yang terbungkus menunjukkan preferensinya terhadap sesuatu yang terlihat lebih bersih dan terjaga, yang memperkuat pesan bahwa hijab adalah simbol perlindungan dan Fatimah juga menggunakan istilah 'ratu,' yang secara konotatif menyiratkan posisi istimewa, kehormatan, dan keanggunan perempuan dalam Islam. k orang yang salah memahami Mitos kewajiban menutup aurat. Menutup aurat sering kali dianggap sebagai tradisi dalam masyarakat atau menjadi simbol bagi lembaga berbasis Islam. Namun, di luar peraturan tersebut, mereka sering kali mengenakan pakaian yang memperlihatkan aurat. Faktanya, menutup aurat adalah kewajiban bagi wanita Muslimah di mana pun mereka berada, untuk melindungi mereka dari celaan atau hal-hal yang dapat membahayakan. Menutup aurat juga merupakan bentuk penghargaan bagi wanita agar tetap suci dan bersih, dan aturan agama ini tidak semata mata dibuat tanpa alasan yang jelas. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X Table 5. Hasil Penelitian Adegan 5 Gambar Gambar 6. Nicho dan Ustadz Denotasi Konotasi Mitos Dalam adegan film tersebut. Nicho telah meyakinkan dirinya untuk memeluk agama Islam. Selanjutnya. Nicho mengunjungi seorang Ustadz dan masjid untuk mendalami ajaran Islam. Ustadz memberikan nasihat kepada Nicho, yaitu "Nabi bersabda: Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat bentuk dan rupa serta asal usulmu, tetapi Allah SWT melihat hati dan perbuatanmu. " Keesokan harinya. Nicho secara resmi menjadi Mualaf. Makna denotasi dalam adegan ini menunjukkan bahwa Nicho mengenakan peci dan baju putih, didampingi oleh temannya. Ustadz, dan beberapa saksi lainnya untuk melaksanakan akad yang menandakan bahwa ia resmi masuk Islam dan menjadi Mualaf. Ia juga mengucapkan syahadatain di atas Alquran. Makna konotasi dari adegan ini adalah bahwa untuk menjadi Mualaf, seseorang memerlukan keyakinan dan keteguhan hati. Ia harus mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan agama baru, yaitu Islam. Ungkapan dari Ustadz bahwa Allah SWT melihat hamba-Nya berdasarkan hati dan perbuatan pribadi menunjukkan bahwa segala tindakan manusia akan kembali kepada diri mereka sendiri sesuai dengan apa yang telah mereka lakukan, termasuk keridhaan Allah SWT yang tidak ditentukan oleh penampilan fisik. Makna mitos dalam adegan ini adalah banyak orang yang beranggapan bahwa Allah tidak adil atau pilih kasih. Namun, sebenarnya Allah memberikan sesuatu berdasarkan kemampuan dan perbuatan manusia itu sendiri. Allah SWT adalah yang paling adil dan mampu menempatkan hamba-Nya sesuai dengan koridor masing-masing, bukan berdasarkan harta, rupa, atau hal lainnya, melainkan berdasarkan perbuatan yang telah dilakukan oleh manusia. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X Pembahasan Film ini menyampaikan pesan dakwah yang mengandung nilai-nilai Islam. Salah satu poin menarik ialah hadirnya dua karakter dengan latar belakang berbeda, yaitu Khadijah dan Nicholas. Khadijah masuk ke agama Islam setelah melalui pengalaman hidup yang sulit, sehingga ia diusir oleh keluarganya. Dia kemudian bertemu dengan Fatimah dan berusaha untuk memperbaiki diri dengan menjadi seorang Mualaf. Selain itu, dia juga sering pergi ke masjid dan aktif dalam berbagai kegiatan komunitas di sana. Situasinya berbeda bagi Nicholas, yang memeluk Islam karena ketertarikannya dengan Khadijah. Pertemuan mereka meyakinkannya untuk mengeksplorasi ajaran Islam lebih dalam. termasuk saat dia mengunjungi rumah Fatimah dan bertanya mengenai alasan di balik pemakaian hijab oleh wanita Muslimah. Penjelasan dari Fatimah sangat masuk akal dan menyentuh hati Nicholas untuk mendalami agama Islam. Pesan dakwah dan nilai-nilai Islam dalam film ini menunjukkan adanya berbagai cara orang-orang dalam mengambil keputusan untuk memeluk agama Islam. Selain itu, seorang muslimah memiliki ciri khas yang jelas, yaitu mengenakan hijab dan busana yang sopan. Hal ini dikarenakan dalam Islam, menutup aurat merupakan kewajiban bagi perempuan maupun laki-laki. Menariknya, dalam film ini, perempuan yang bertudung memiliki daya pikat yang unik bahkan mampu menarik orang lain untuk memeluk Islam. Di samping itu, karakter Fatimah menjadi suatu penengah terhadap pertanyaan yang mungkin mewakili masyarakat luar sana. Dia memberikan analogi dengan sesuatu yang sederhana dan logis bagi kita. Dalam film ini, penggambaran Nicho sangat kuat sebagai seorang mualaf yang jatuh cinta kepada Khadijah, seorang wanita muslim. Pesan dakwah lainnya yaitu banyak orang mualaf yang masuk ke dalam agama karena mengikuti pasangan mereka. Namun. Khadijah memutuskan untuk memeluk Islam sebagai langkah untuk melanjutkan hidup dan memperbaiki diri dari masalalunya. Di akhir cerita, mereka berdua menjadi pasangan yang saling mencintai dan telah memeluk Islam. Khadijah juga akhirnya diterima kembali oleh keluarganya. Pesan dakwah yang terkandung dalam film ini adalah betapa pentingnya ibadah dan menjaga kepercayaan yang diberikan orang tua. Ibu Kemala memainkan peran yang sangat baik dengan mengingatkan anaknya untuk melaksanakan sholat setiap waktu. Sayangnya. Kemala menghiraukan amanah yang diberikan ibunya. Hingga akhirnya, setelah ibunya meninggal, hanya rasa penyesalan yang ia rasakan hingga saat ini. Namun. Allah Swt. memiliki cara tersendiri dalam menguji hamba-Nya. Setelah kepergian ibunya. Kemala menjadi lebih rajin dalam beribadah bahkan mulai mengenakan hijab. Kemala mengikuti jejak Khadijah, apalagi karena dia adalah sahabat Khadijah. Film ini memang memiliki nuansa Islami yang dikemas dalam kisah cinta antara Nicho dan Khadijah. Namun, di balik kisah Islami tersebut, terdapat cerita yang sangat menyentuh, terutama dari peran utamanya yakni Khadijah. Pelajaran yang bisa diambil dari film ini adalah bahwa setiap individu memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri sesuai dengan versinya masing-masing. Menjadi mualaf bukanlah proses yang mudah, tetapi jika hati sudah mantap, maka "kun fayakun" tejadilah. Semuanya terjadi atas kekuasaan Allah Swt. Maha pemilik hati dan membolak-balikkan hati. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X Berikut adalah beberapa pesan dakwah dalam film ini sebagai berikut: Pesan Aqidah dalam film ini yaitu ketika seorang non Muslim yang memiliki keyakinan untuk menganut agama Islam, meskipun agama ini merupakan minoritas di Amsterdam, kotanya. menunjukkan keberanian dalam berpegang pada prinsip tauhid dan menetapkan keyakinan bahwa hanya Allah Swt sebagai Tuhan yang layak untuk disembah. Pesan Syariah dalam film ini terlihat ketika seorang wanita Muslim mematuhi aturan menutup aurat sesuai dengan ketentuan agama islam. Kewajiban ini telah dijelaskan dalam Alquran dan ditujukan untuk mencegah baik laki-laki maupun perempuan dari fitnah serta sesuatu hal yang tidak diinginkan. Pesan Akhlak yang ada dalam film ini menunjukkan sikap seseorang yang taat kepada agama memiliki toleransi yang tinggi, tanpa membedakan teman-temannya. bahkan, mampu untuk menjaga hubungan silaturahmi dengan baik serta menghindari konflik. Hal ini terlihat dari sikap Khadijah yang berusaha mempertahankan persahabatannya dengan Kemala. Ketiga pesan tersebut merepresentasikan nilai-nilai Islam yang tertuang dalam film Merindu Cahaya De Amstel. Semua kategori tersebut disajikan dalam bentuk film yang dapat dinikmati oleh seluruh kalangan. Oleh karena itu, karya ini dapat berfungsi sebagai sumber motivasi bagi penonton sekaligus memberikan hiburan yang penuh makna. CONCLUSION Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan berkaitan dengan fokus permasalahan, yaitu sebagai berikut: Analisis semiotika Roland Barthes mencakup makna denotasi, konotasi, dan mitos yang dapat ditemukan pada film Merindu Cahaya De Amstel. Makna-makna ini disampaikan melalui dialog dari setiap adegan yang ditampilkan. Setiap adegan mengandung makna yang diuraikan oleh Barthes dengan mengambil lima adegan, termasuk tentang perempuan Muslimah sebagai cahaya bagi dunia, aktivitas ibadah dan doa kepada Allah Swt. , mengenai takdir Allah Swt. , wanita berjilbab dan mualaf. Meskipun film ini sejatinya tidak tergolong dalam kategori film dakwah. Nilai nilai islam disampikan dengan jelas dalam film ini. Film tersebut menyajikan pesan-pesan dakwah mengenai akidah, syariah, dan akhlak secara rinci. tokoh Nicholas dan Khadijah, seorang mualaf, berperan penting dalam menyampaikan pesan ini. Selain itu. Ibu Kemala mendukung perspektif Islam dengan mengingatkan anaknya untuk beribadah, sedangkan Fatimah adalah seorang Muslimah yang setia dan memberikan nasihat agama. Film ini juga menyampaikan pesanpesan lain, seperti kewajiban wanita untuk mengenakan hijab, beribadah, dan bersabar. Oleh karena itu, film "Merindu Cahaya De Asmtel" memberikan dampak positif kepada penonton. Perspektif Islam disampaikan dengan baik melalui film ini sebagai sarana dakwah yang efektif. Saran Berdasarkan hasil penelitian, diimplementasikan, antara lain: saran yang Bagi industri kreatif, penting bagi para pembuat film untuk menghasilkan ide dan narasi yang sejalan dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, film dapat menyampaikan pesan dakwah yang tersirat dan mempengaruhi penonton ke arah yang lebih baik. Bagi penonton, penting bagi masyarakat untuk tetap aktif dan tidak bersikap pasif saat menyaksikan film. Mereka perlu memiliki sikap kritis dan meninjau kembali pesan yang disampaikan dalam film. Dengan begitu, mereka dapat menyaring informasi dan menghindari dampak negatif yang mungkin ditimbulkan oleh film tersebut. KIRANA : Social Science Journal. Vol. No. 3 September 2025, pp. eISSN 3062-780X Bagi Peneliti lainnya, diharapkan menjadikan penelitian ini sebagai referensi dengan metode pendekatan dan permasalahan yang berbeda, yang dapat mendukung hasil penelitian yang lebih maksimal REFERENCES