Pendayagunaan Teknologi Komunikasi Menunjang Pendidikan Nasional SUKANTO* PENGANTAR Seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ilmu komunikasi yang merupakan bagian dari ilmu sosial terapan juga mengalami Perkembangan ilmu komunikasi itu telah mempengaruhi proses komunikasi dalam masyarakat. Dengan ditemukannya instrumeninstrumen atau teknologi komunikasi baru, seperti satelit komunikasi dan komputer, proses komunikasi dalam masyarakat mengalami perubahan yang sangat pesat, sehingga dunia ini terasa kecil dan saling berhubungan. Seperti teknologi pada umumnya, teknologi komunikasi juga tidak mengeA nal batas wilayah, ideologi, agama, bangsa dan suku. Karena cakrawala tekA nologi komunikasi bersifat universal, kita tidak mampu menghindarkan diri dari pengaruhnya. Lagi pula, jika kita terlalu menutup diri, kita akan ditingA galkan oleh kemajuan jaman. Dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945 dinyataA kan bahwa usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu menelaah teknologi komunikasi baru secara mendalam untuk meA nemukan unsur-unsur yang bermanfaat bagi pembangunan nasional, khususA nya pembangunan pendidikan nasional. Pendidikan sebagai bagian dari kebudayaan merupakan sarana penerusan nilai-nilai ataupun gagasan-gagasan, sehingga setiap orang mampu berperanserta dalam tranformasi nilai-nilai demi perbaikan dan kemajuan kehidupanAoStaf CSIS. TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN nya sendiri, kehidupan sesama warga negara, serta kehidupan negara dan Ini berarti bahwa pendidikan dapat juga dipandang sebagai keseluA ruhan proses komunikasi pengetahuan dan pembentukan nilai-nilai. Karena proses pendidikan dan komunikasi saling berhimpitan, maka seluruh jenis teknologi komunikasi mungkin sekali dapat dimanfaatkan bagi pembangunan pendidikan nasional. DAMPAK KEMAJUAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI Secara umum komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari komunikator kepada komunikan agar terjadi perubahan pemikiran, sikap dan peri laku komunikan sesuai dengan keinginan komunikator. Sejalan dengan perkembangan masyarakat, terutama akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perkembangan proses komunikasi yang pesat juga membutuhkan sarana dan daya-upaya atau teknologi komunikasi agar tujuan yang diinginA kan dapat tercapai dengan baik. Ini berarti bahwa sarana yang diperlukan tidak terbatas pada alat perlengkapan atau perangkat keras, seperti mesin cetak, buku, surat kabar, radio, telepon, telegram, televisi atau komputer, melainkan juga perangkat lunak, seperti metode-metode untuk menggunakan perangkat keras, dan teknik-teknik untuk menciptakan perangkat lunak. Dengan demikian, teknologi komunikasi mencakup seluruh sarana dan dayaupaya, baik yang tradisional maupun yang maju. Dalam masyarakat yang masih sederhana, proses komunikasi dalam maA syarakat berlangsung secara sederhana dan lebih banyak menggunakan daya telepati atau daya ingatan manusia. Setelah tulisan dan mesin cetak ditemuA kan, proses komunikasi mengalami perubahan dan perkembangan. KemuA dian, penemuan radio, telepon, telegram, televisi dan peralatan komunikasi lainnya semakin mempercepat perkembangan proses komunikasi. Lebih-lebih dengan ditemukannya teknologi satelit komunikasi dan komputer, proses komunikasi berlangsung secara universal dan personal sekaligus. Menurut Alvin Toffler, mulai tahun 1970-an umat manusia memasuki peradaban geA lombang ketiga, yang merupakan sintesa dari peradaban gelombang pertama dan kedua. Gelombang peradaban ketiga terutama disebabkan oleh pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan proses data yang memungkinkan maA nusia melihat semua faktor saling berkaitan sebagai suatu kesatuan. Jika peradaban gelombang pertama masih tergantung pada energi yang disimpan oleh alam dan peradaban gelombang kedua lebih mengutamakan pelipatA gandaan kekuatan fisik manusia, maka peradaban gelombang ketiga lebih mengutamakan pelipatgandaan kekuatan otak manusia. AoLihat Alvin Toffler. The Third Wave (New York: William Morrow & Company, 1. ANALISA 1984 -5 Kemajuan teknologi komunikasi itu ternyata telah terjadi di negara kita Sejak dilancarkannya pembangunan nasional, beberapa jenis teknologi komunikasi yang telah menunjukkan manfaatnya di negara lain secara seA ngaja dimasukkan guna menunjang pembangunan nasional. Dalam dasawarsa terakhir ini, terutama setelah pengoperasian satelit Palapa dalam tahun 1976, teknologi komunikasi maju di negara kita mengalami perkembangan yang sangat pesat. Misalnya, jumlah stasiun pemancar televisi meningkat dari 82 buah dalam tahun 1978/1979, menjadi 186 buah dalam tahun 1982/1983. Jumlah pesawat televisi yang terdaftar meningkat dari 1,1 juta buah dalam tahun 1978/1979, menjadi 2,9 juta buah dalam tahun 1982/1983. Jumlah kanA tor pos meningkat dari 562 buah dalam tahun 1978/1979 menjadi 1. 076 buah dalam tahun 1982/1983. Dan jumlah kapasitas sambungan telepon baru meA ningkat dari sekitar 476 ribu dalam tahun 1978/1979 menjadi sekitar 632,6 ribu dalam tahun 1982/1983 . ihat Tabel . Tabel 1 JUMLAH PEMANCAR RADIO. TELEVISI. POS DAN TELEPON, 1978-1983 Jenis Stasiun pemancar RRI Stasiun pemancar TVRI Pesawat televisi terdaftar Televisi umum Kantor pos Kapasitas sambungan telepon Sumber: 1978/1979 1982/1983 Kenaikan (%) 19,04 96,45 32,88 RI. Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden 16 Agustus 1983. Namun perkembangan beberapa unsur teknologi komunikasi itu tampakA nya belum mendapat penghargaan masyarakat secara luas. Data Biro Pusat Statistik (BPS) menyebutkan bahwa persentase penduduk yang berumur 10 tahun ke atas yang mendengarkan siaran radio, menonton siaran televisi dan membaca surat kabar relatif sangat sedikit . ihat Tabel . Bahkan beberapa hasil penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Pers dan Pendapat Umum Pusat. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Lembaga Penelitian UniA versitas Hasanuddin dan PT Inscore Indonesia memberi kesan bahwa acaraacara pendidikan dan ilmu pengetahuan kurang mendapat perhatian bila diA bandingkan dengan acara-acara hiburan. 1 Keadaan ini mungkin karena jumA 1 Lihat Deppen. Himpunan Ringkasan Hasil Penelitian Penerangan 1978-1980, hal. TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN lah jam siaran untuk acara pendidikan lebih sedikit daripada siaran untuk hiburan, sehingga acara hiburan itu dimanfaatkan sepenuhnya sebagai Data dalam Lampiran Pidato Kenegaraan Presiden tanggal 16 Agustus 1983 menyebutkan bahwa sejak 1978 hingga 1983 jumlah jam siaran rata-rata per hari untuk acara kebudayaan dan hiburan dari seluruh pemancar RRI dan TVRI sekitar 45-50%, sedangkan untuk acara pendidikan dan agama hanya sekitar 20-23%. Di samping itu, tingkat pendidikan masyarakat InA donesia yang masih rendah mungkin menyebabkan mereka belum dapat meA nangkap dan memanfaatkan isi siaran dalam acara pendidikan . ihat Tabel . Tabel 2 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN DAN LEBIH YANG MENDENGARKAN RADIO. MENONTON TELEVISI SERTA MEMBACA SURAT KABAR DAN MAJALAH Jenis Kegiatan Mendengarkan radio Menonton televisi Membaca surat kabar/majalah Sumber: Kenaikan BPS. Indikator Kesejahteraan Rakyat 1982, hal. Tabel 3 PERSENTASE PENDUDUK BERUMUR 10 TAHUN KE ATAS MENURUT TINGKAT PENDIDIKAN YANG DITAMATKAN Pendidikan yang Ditamatkan Kenaikan Tidak sekolah Belum tamat SD SMTP SMTA Akademi Perguruan tinggi 40,39 33,25 19,59 4,39 2,04 0,18 0,16 28,56 40,85 21,64 5,61 3,05 0,29 27,56 40,99 20,64 5,98 4,35 0,26 0,22 -12,83 7,74 1,05 1,59 2,31 0,08 0,06 Sumber: BPS. Indikator Kesejahteraan Rakyat 1982, hal. ANALISA 1984 -5 Data dalam beberapa tabel tersebut juga memberi kesan bahwa kemajuan perkembangan teknologi komunikasi yang pesat itu ternyata belum sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia dan penyebarannya juga belum merata. Data BPS menunjukkan bahwa persentase rumah tangga yang memiliki radio kaset dan televisi di daerah pedesaan lebih kecil daripada di daerah perkotaan . ihat Tabel . Dari jumlah kapasitas sambungan telepon sebanyak 632,6 ribu dalam tahun 1982/1983, para pemakainya diperkirakan masih terbatas di daerah perkotaan. Dan, jika kemampuan memiliki pesawat radio dan televisi yang relatif murah masih kecil dan belum merata, maka dapat diperkirakan bahwa kemampuan masyarakat untuk memiliki pesawat video dan komputer yang relatif mahal juga sangat kecil dan tidak merata. Tabel 4 PERSENTASE RUMAH TANGGA YANG MEMILIKI RADIO KASET DAN TELEVISI DALAM TAHUN 1980 Daerah Kota Pedesaan Kota Pedesaan Perbedaan Kota dan Pedesaan Sumber: Radio Kaset Televisi 57,90 36,37 40,75 21,53 33,45 3,79 9,82 29,66 BPS. Indikator Kesejahteraan Rakyat 1982, hal. Dari uraian di depan terlihat bahwa teknologi komunikasi di Indonesia telah menjangkau seluruh pelosok tanah air, sehingga antara daerah yang satu dan lainnya cenderung saling berhubungan dan saling bergantungan. Namun, kesalingtergantungan itu tidak seimbang, yaitu ketimpangan dalam pemilikan dan pemakaian jenis-jenis teknologi komunikasi. Ketimpangan dalam pemiA likan ataupun pemakaian teknologi komunikasi itu dapat mengakibatkan keA timpangan pengetahuan, termasuk ketimpangan informasi. Sejarah telah meA nunjukkan bahwa penjajahan terhadap negara-negara lain diawali dengan penguasaan bidang pengetahuan dan informasi. Oleh karena itu, perlu diciptakan kebijaksanaan komunikasi yang terpadu untuk mewujudkan masyaA rakat informasi. 1 Dengan semakin meratanya pemilikan dan pemanfaatan teknologi komunikasi dalam masyarakat, diharapkan setiap warga masyaraA kat mampu mengambil sendiri keputusan yang pada suatu ketika harus diA AoLihat Rufinus Lahur. AoAoMasalah-masalah dan Perspektif Kebijaksanaan Komunikasi,Ay Analisa. Tahun XII. No. Januari 1983, hal. TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI UNTUK MEMACU PEMBANGUNAN PENDIDIKAN Beberapa dampak negatif sering menimbulkan kecurigaan orang, bahkan ada yang mengkambinghitamkan teknologi komunikasi sebagai penyebab merosotnya kebudayaan dan kepribadian bangsa. Kecurigaan seperti ini mungkin berdasarkan analisa yang kurang mendalam, dalam hal mana hal-hal negatif lebih ditonjolkan daripada hal-hal positif. Penerapan teknologi koA munikasi memang bisa menimbulkan efek negatif, seperti ketimpangan inforA masi, kejahatan yang meniru cara-cara dalam suatu cerita film, perbuatan asusila akibat rangsangan kaset video porno dan perjudian dengan mengA gunakan video-game. Seperti ilmu pengetahuan dan teknologi pada umumA nya, teknologi komunikasi juga dapat dipergunakan untuk kebaikan atau kehancuran manusia. Namun yang menentukan untuk apa dan ke arah mana kekuatan teknologi komunikasi bukannya teknologi komunikasi itu sendiri, melainkan manusia. Proses komunikasi jelas tidak menginginkan hal-hal yang negatif, melainA kan penggunaan teknologi komunikasi yang lebih maju diharapkan dapat mempercepat penerusan nilai-nilai'yang dapat memperkembangkan kebuA dayaan sendiri dan mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa. Dalam GBHN 1983 dinyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan meningkatkan ketakA waan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan dan ketrampilan, memA pertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian dan mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri, serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Dengan demikian, teknologi komunikasi dapat dimanfaatkan dan bahkan dapat digunakan untuk memA percepat perwujudan pencapaian tujuan pendidikan nasional. Sebagaimana diketahui, pendidikan nasional dilaksanakan melalui tiga jalur, yaitu jalur informal, non-formal, dan formal. Philip H. Combs dan Manzoor Ahmed berpendapat bahwa teknologi pendidikan mencakup hardA ware berupa kapur dan papan tulis, gunting dan lem, potlot dan kertas, barang cetakan, proyektor film, radio, televisi, satelit komunikasi dan komA puter, serta seluruh metode untuk mengatur dan mempergunakan segala benda tersebut sebagai komponen dari suatu sistem belajar-mengajar dan teknik untuk menciptakan software atau bahan pelajaran yang mengiringi 2 Berdasarkan ruang lingkup teknologi pendidikan itu, teknologi komunikasi dapat dipakai dalam jalur informal, non-formal dan formal. 'Lihat Daocd Jocsoef. AoAoPendidikan Nasional Membentuk Manusia Seutuhnya,Ay Sinar Harapan, 24 Januari 1984. 2Lihat Philip H. Combs & Manzoor Ahmed. Memerangi Kemiskinan di Pedesaan Melalui Pendidikan Non-Forma! (Jakarta: CV Rajawali, 1. , hal. ANALISA 1984 - 5 Melalui jalur informal, proses belajar-mengajar berlangsung dalam keA luarga, terutama antara orang tua dan anak. Dalam jalur ini, penerusan nilainilai dan gagasan-gagasan lebih banyak dilakukan dan ditentukan oleh seA mangat, sikap dan peri laku orang tua. Namun seirama dengan tuntutan perA kembangan masyarakat, sebagian besar waktu orang tua dipergunakan untuk bekerja di luar keluarga, sehingga waktu untuk mendidik anak sangat terA Dalam keterbatasan waktu ini, orang tua dapat mendayagunakan beA berapa jenis teknologi komunikasi sebagai teknologi pendidikan anak-anak, seperti buku, kaset radio, kaset video ataupun komputer yang mengandung nilai-nilai edukatif. Bagi masyarakat Indonesia saat ini, komputer barangkali masih dianggap sangat mahal. Namun, kepesatan perkembangan industri elektronika, seperti penemuan silikon chip dan robot, memungkinkan produksi komputer secara massal di masa mendatang, sehingga harganya akan menjadi relatif murah dan mungkin dapat dijangkau oleh daya beli masyarakat. Di samping itu, ketidaktahuan dalam menggunakan komputer saat ini diperkirakan juga akan teratasi dengan ditemukannya bahasa komputer baru AoAoLOGO,Ay yang meA mungkinkan anak-anak usia Taman Kanak-kanak belajar dengan baik tanpa melalui pendidikan formal. Ini semua menunjukkan bahwa komputer dapat dimanfaatkan oleh orang tua sebagai teknologi pendidikan anak-anak, terA utama untuk menggerakkan potensi daya pikirnya. Tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya berada di tangan orang tua. Namun, karena keluarga berada di tengah-tengah masyarakat, mereka tidak mungkin mengasingkan diri dari masyarakat. Di samping itu, keterbatasan orang tua tidak memungkinkan penanganan pendidikan anak-anak secara keA seluruhan, sehingga dengan kesadaran yang mendalam mereka menyerahkan sebagian tugas pendidikan anak-anak kepada lembaga-lembaga kemasyaraA Melalui jalur non-formal ini, baik melalui kursus-kursus ataupun latihan-latihan ketrampilan yang diselenggarakan oleh masyarakat, beberapa jenis teknologi komunikasi juga dapat dimanfaatkan sebagai teknologi penA Philip H. Combs dan Manzoor Ahmed berpendapat bahwa efektiA vitas biaya suatu program pendidikan non-formal ditentukan bukan oleh bahan pokok yang diajarkan, melainkan oleh sarana dan alat perlengkapan yang dipergunakannya. Bahkan dalam bidang yang lebih luas, kemampuan suatu negara yang sedang berkembang untuk memenuhi kebutuhan penduduk pedesaan akan pendidikan bukan ditentukan oleh sumber daya yang dapat disediakan, tetapi oleh tersedianya dan penggunaan teknologi pendidikan seA cara tepat guna. '/bid. TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN Beberapa hasil penelitian Philip H. Combs dan Manzoor Ahmed di RRC. Korea Selatan. India. Ghana. Senegal. Tanzania. Meksiko dan Ekuador menunjukkan bahwa penggabungan beberapa jenis teknologi komunikasi, seperti poster, radio, film dan kesenian tradisional, sebagai teknologi penA didikan non-formal untuk meningkatkan produksi pertanian di negara-negara tersebut ternyata berhasil baik. Keberhasilan itu memperkuat kesimpulan analisa Everett M. Rogers dan Floyd Shoemaker bahwa efek media komuniA kasi massa dalam masyarakat petani di negara-negara sedang membangun akan menjadi lebih besar jika penggunaan media massa itu dirangkaikan deA ngan media tradisional, seperti komunikasi interpersonal. 1 Jika peranan tekA nologi komunikasi bagi orang dewasa, khususnya masyarakat petani begitu besar, maka peranannya bagi pembaharuan pemikiran, sikap dan peri laku orang-orang yang lebih muda usianya, khususnya para siswa dari kursuskursus ataupun latihan-latihan ketrampilan, kiranya akan lebih besar. Ini berarti bahwa jalur pendidikan non-formal dapat menjadi perintis dalam penerapan teknologi komunikasi baru dan bahkan dapat dimanfaatkan seA bagai pusat penelitian dan pengembangan yang sangat berguna bagi penA didikan formal. Peranan pendidikan non-formal semakin penting bagi masyarakat karena pendidikan formal memiliki kemampuan yang terbatas. Dalam Tabel 3 terA lihat bahwa sebagian besar penduduk yang berumur 10 tahun ke atas hanya berpendidikan rendah. Ini menunjukkan bahwa mereka kurang dan bahkan mungkin sekali tidak memiliki ketrampilan yang siap pakai. Oleh karena itu mereka perlu mendapat pendidikan lanjutan dalam pendidikan non-formal. Namun semakin banyaknya minat pada pendidikan non-formal juga dapat menimbulkan masalah, seperti terbatasnya jumlah guru yang trampil, ruang dan alat perlengkapan belajar-mengajar lainnya. Masalah tersebut kiranya dapat diatasi dengan menerapkan teknologi komunikasi baru, seperti kaset radio ataupun kaset video mengenai pengetahuan ketrampilan. Penerapan beberapa jenis teknologi komunikasi baru itu, diperkirakan akan menciptakan mutu hasil pendidikan non-formal secara seragam. Bobot pendidikan nonA formal yang semakin luas dan dalam, diharapkan dapat menciptakan tenaga kerja yang siap pakai, sekurang-kurangnya mampu menolong dirinya sendiri. Seperti dalam jalur non-formal, pelaksanaan pendidikan melalui jalur forA mal, yakni dari Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi, juga menghaA dapi berbagai masalah, antara lain keterbatasan ruangan kelas, kekurangan guru dan buku-buku pelajaran yang bermutu. Untuk mengatasi masalah terA sebut, telah diadakan berbagai usaha, seperti pendirian gedung-gedung seA 'Lihat Everett M. Rogers & Floyd Shoemaker. Communication of Innovations (New York: The Free Press, 1. ANALISA 1984 - 5 kolah baru, penataran guru-guru dan pengadaan buku-buku pelajaran. samping itu, pemerintah juga telah merintis SMP Terbuka dan sistem pengaA jaran jarak jauh dengan pelaksanaan Universitas Terbuka mulai tahun ajaran 1984/1985. Dalam pelaksanaan sistem pengajaran jarak jauh ini, teknologi komunikasi maju, seperti radio, televisi, kaset tape recorder dan kaset video, serta pos dan telekomunikasi, mempunyai peranan yang sangat penting. Di samping berguna dalam sistem pengajaran jarak jauh, kaset tape recorder, kaset video dan komputer, baik yang berisi bahan pelajaran intrakurikuler maupun bahan pengayaan dan bahan pemerkayaan, juga bermanA faat untuk mengatasi ketimpangan mutu pendidikan akibat kekurangan guru yang trampil. Lagi pula teknologi komunikasi itu dapat dimanfaatkan untuk mendorong anak didik menjadi lebih sadar pengetahuan ilmiah, bukannya sekedar mengejar gelar akademis. Ini berarti bahwa penerapan beberapa tekA nologi komunikasi maju, khususnya komputer, tidak semata-mata dilihat seA bagai produk, melainkan juga sebagai alat untuk mengembangkan ilmu Prof. Andi Hakim Nasoetion menyatakan bahwa metode staA tistika dan kemampuan berkomunikasi dengan komputer untuk menangani data merupakan persyaratan untuk memahami bahasa pengantar metode 1 Dengan demikian, teknologi komunikasi dapat didayagunakan untuk mendorong pengembangan perguruan tinggi sebagai masyarakat ilA miah, yaitu sebagai pusat pemeliharaan, penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kebutuhan. PENUTUP Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi, telah melanda ke seluruh dunia, sehingga mustahil kita dapat menghindarkan diri dari pengaruhnya. Bahkan beberapa jenis teknologi komuA nikasi tersebut sengaja diundang guna mempercepat pencapaian tujuan pemA bangunan nasional. Namun kemajuan perkembangan teknologi komunikasi di negara kita ternyata belum merata, terutama karena kemampuan untuk membeli perangkat keras teknologi komunikasi dari masyarakat masih lemah dan tidak merata. Di samping itu, sebagian besar masyarakat masih berpenA didikan rendah, sehingga kemampuan memanfaatkan perangkat keras dan perangkat lunak teknologi komunikasi sangat rendah. Ketimpangan penguaA saan teknologi komunikasi dan ketimpangan pendidikan masyarakat itu dapat menimbulkan ketidakmerataan pengetahuan, termasuk ketimpangan inforA 'Lihat Andi Hakim Nasoetion. AoAoPendidikan Pascasarjana,Ay Kompas, 12 Maret 1984. TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN Keadaan itu menunjukkan tidak ethisnya penerapan teknologi komuniA kasi, karena sekelompok manusia negara maju menguasai atau memanipulasi manusia-manusia negara yang sedang membangun. Bahkan mungkin juga terA jadi kehidupan bangsa dikuasai oleh sekelompok warga bangsanya sendiri. Oleh sebab itu perlu diciptakan kebijaksanaan yang terpadu, terutama antara kebijaksanaan komunikasi dan pendidikan nasional, dalam mendayagunakan teknologi komunikasi maju sebagai teknologi pendidikan. Sehubungan deA ngan pelaksanaan sistem pengajaran jarak jauh, seperti universitas terbuka, program dan jam siaran radio dan televisi untuk acara pendidikan perlu diA tambah, antara lain dengan menambah saluran TVRI yang secara khusus unA tuk acara pendidikan. Sementara itu, untuk mengatasi ketimpangan pendiA dikan dan pemilikan teknologi komunikasi, perlu dipikirkan kemungkinan penggandaan dan penyebaran kaset pendidikan serta pengadaan perangkat keras bagi sekolah-sekolah. Perkembangan di bidang teknologi komunikasi sebagai teknologi pendiA dikan memungkinkan pemanfaatan dan penguasaan teknologi komunikasi oleh banyak warga masyarakat. Selanjutnya dengan semakin banyaknya mahasiswa ataupun magister yang mampu berkomunikasi dengan teknologi pendidikan, khususnya komputer, lambat-laun kita akan mampu membuat perangkat keras dan menyusun perangkat lunak untuk menggunakan perangA kat keras teknologi pada umumnya. Dengan demikian, pada suatu ketika kita tidak lagi hanya menjadi pasaran ilmu pengetahuan dan teknologi negaranegara maju, melainkan juga menjadi produsen dan sumber informasi yang menunjukkan identitas bangsa Indonesia sendiri.